What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
.
.
.
3 September
.
Saya tak sabar untuk segera memulai pemberkatan. Sedari tadi saya hanya bisa mondar-mandir gugup dekat meja resepsionis di mana Taehyung dan Jungkook stand by untuk memberikan wedding service bagi tamu-tamu yang datang. Selain saya, ada Ayah, Ibu, Jihyun, serta kakak ipar dan ibu mertua yang turut serta untuk menyambut. Yoongi? Tentu saja di ruang tunggu mempelai. Ayah Yoongi menemaninya di sana supaya dia tak sendirian.
Kapel mulai ramai menjelang jam empat sore. Saya makin tak sabar lagi karena acara akan dimulai tak lama lagi. Tapi gara-gara itu, perut saya melilit.
"Aduh, aku sakit perut," bisik saya pada Jihyun, ketika serombongan tamu sudah tinggalkan kami. Anak itu memandang saya dengan tampang horor. Rambutnya yang dibelah tengah membuat kerutan di dahinya jelas sekali terlihat.
"Sudah kubilang poop dulu sebelum kemari! Kalau sekarang kau pergi ke tolilet, kau akan mengacaukan semuanya." Jihyun bersungut.
"Aku bukannya ingin poop…"
Saya mendesah. Jelas-jelas ini bukan pertanda kalau saya ingin pup. Saya hanya gugup. Dan yang paling saya sesali, kenapa larinya harus ke perut? Rasanya di dalam sana seperti ada buldoser yang menggiling usus saya. Perih, sakit. Saya berpegangan pada Jihyun sambil berusaha menenangkan diri. Tak sangka, saat saya melakukan itu, ibu Yoongi melihat dan dia begitu saja mengamit tangan saya.
"Tanganmu dingin. Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?"
Karena tak mau membuatnya khawatir, saya memasang senyum.
"Dasar Jimin payah. Kau itu harusnya berdiri tegak! Berdiri dengan bangga! Masa' kalah sama gugup? Mana anak Ibu yang katanya jagoan itu?"
Mungkin ibu saya tak tahan dengan payahnya Park Jimin ini sehingga dia tiba-tiba berseru dengan lantangnya sampai orang-orang memerhatikan kami. Hampir semua yang ada di tempat itu tertawa. Dan saya sangat malu karenanya. Apalagi setelah Ayah menyingkirkan tangan saya dari lengan Jihyun. Saya merasa terusir dan terkucilkan oleh keluarga sendiri.
"Kau boleh saja merasa gugup, tapi benar kata ibumu. Laki-laki itu harus kuat, dengan punggung tegap dan dagu terangkat lurus. Kau harus memberikan senyum terbaikmu pada semua orang untuk membuat mereka tahu bahwa kaulah pria yang pantas untuk jadi seorang suami dari Min Yoongi."
"Benar, kau akan memperistri adikku, kan?"
Saya tak bisa mengelak kalau Ayah telah bersabda. Apalagi kalau sabda itu dibenarkan oleh kakaknya Yoongi. Bagaimanapun, saya tak boleh memberikan kesan buruk di hadapannya. Nanti dia sebut saya seperti jelly karena kenyal-kenyal. Lantas dengan setengah terpaksa karena menahan sakit, saya tengakkan punggung dan melebarkan senyum. Para ibu bertepuk tangan senang, sedang adik saya mencibir di belakang.
Saya tahu Taehyung dan Jungkook sedang menggosipkan saya diam-diam tapi karena ada pembatas (yaitu keluarga) di antara kami, mereka tak bisa komentar apa-apa.
"Park-ssaem!"
Dari kejauhan saya melihat tiga orang berjalan beriringan. Itu Kim-ssaem, Jin-ssaem dan Jung-ssaem. Mereka melambai-lambaikan tangannya. Sakit perut saya mendadak hilang. Beberapa waktu lalu mereka katakan kalau mungkin hanya akan menghadiri resepsi, tapi dengan kedatangan mereka sore ini, artinya mereka mau menghadiri pemberkatan. Senangnya!
"Ya ampun, Anda tampan sekali!" Kim-ssaem memuji.
Dia sendiri begitu tampannya dengan setelan jas, tanpa kacamata yang biasa bertengger di hidung. Rambutnya ditata rapi. Benar-benar penuh persiapan untuk seseorang yang mau menghadiri undangan pernikahan.
"Park-ssaem, Anda luar biasa. Serius, deh."
Saya lirik Jin-ssaem, dia juga sama saja. Gayanya, uh, seperti artis. Elegan. Wajahnya terlihat segar dan cantik dengan pulasan merah jambu di bibir.
"Park-ssaem," sebut Jung-ssaem.
Dia merentangkan tangannya, gestur mau memeluk. Saya dengan senang hati menerima pelukan itu. Rasanya mengharukan. Selama ini saya sering datang padanya ketika saya terbentur jalan buntu. Walau kadang dia bersikap menyebalkan, tapi dia adalah sahabat yang baik.
"Selamat ya."
"Ya. terima kasih, Jung-ssaem—mmwach."
"AAH!"
Jung-ssaem otomatis berteriak ketika saya cium pipi kanannya. Itu ciuman sayang. Saya hanya tertawa saja melihat dia yang terkejut, menahan jijik sekaligus menahan malu karena kami jadi tontonan banyak orang.
"Mempelainya bukan saya, kenapa saya yang dicium!" protesnya. Semua tertawa.
"Anda tidak jadi datang dengan kakak Anda, Jung-ssaem?"
"Tidak. Dia lagi-lagi mesti dinas keluar kota. Dan saya mau tak mau harus pergi sendiri."
"Sendiri dari mananya? Kita kan perginya bertiga?" Sungut Jin-ssaem tiba-tiba.
"Omong-omong, kami ingin melihat Min-ssaem," kata Kim-ssaem. Jin-ssaem dan Jung-ssaem mengangguk setuju. Mereka kemari tentu ingin bertemu dengan Yoongi juga. Dan saya rasa, itu baik untuk Yoongi sendiri. Karena Yoongi perlu dukungan, tentu saja.
Saya menunjuk pintu pintu pertama setelah belokan di sebelah kanan. "Dia ada di ruang tunggu. Kalian bisa bertemu dengannya kalau mau, sebelum acara dimulai."
Mereka tersenyum sumringah.
"Kalau begitu kami permisi." Dan mereka pun pergi menemui Yoongi.
Huft. Saya mengelus dada. Terakhir kali saya melihat Yoongi adalah tadi pagi, ketika kami berangkat ke venue ini. Setelah itu saya dan dia dipisahkan. Kami didandani di ruang yang berbeda. Sementara saya diminta untuk menyambut tamu, dia diminta untuk menunggu dalam ruangannya. Saya belum tahu seperti apa rupa Yoongi setelah itu.
Orangtua kami bilang sepasang pengantin tak boleh bertemu sebelum upacara pernikahan. Ada mitos yang mengatakan bahwa kami akan mendapat nasib buruk seandainya melanggar ini. Kalau ditilik dari sisi rasional, katanya bertemu saat upacara pernikahan akan meninggalkan kenangan yang indah dan mendalam bagi pengantin, karena masing-masing akan merasakan yang namanya rindu, gugup, tegang, dan semua terbayar saat mengucap janji di altar.
"Jin-ssaem cantik, ya, Hyung."
Saya senggol bahu Jihyun. "Kau sudah tahu dia punya pacar, jadi tak usah macam-macam."
"Iya aku tahu, aku tak bisa macam-macam. Mungkin lebih baik aku naksir Jungkook saja. Iya kan Kook-ie?"
Jungkook yang sedang melahap sepotong roti terbengong-bengong dengar panggilan sayang dari Jihyun. Di sebelahnya, ada macan sudah siap tempur kalau dipancing sekali lagi.
Sekitar sepuluh menit setelah itu, saya melihat sahabat-sahabat saya dan tamu yang tersisa di luar sudah masuk ke kapel.
"Maaf, sudah hampir jam empat. Pendeta sudah siap. Acara akan segera dimulai. Mempelai harap bersiap-siap juga." Seorang petugas kapel datang pada kami untuk memberitahu.
Ayah saya mengecek jam tangan, lalu berjalan duluan untuk menggiring kami ke pintu masuk kapel. Sebenarnya saya ingin membawa Taehyung dan Jungkook juga saat itu, tapi mereka kami tinggal, untuk menyambut tamu-tamu yang mungkin datang terlambat. Saya harap mereka bisa melihat pemberkatannya nanti. Saya mau mereka menyaksikannya juga.
"Seonsaengnim, fightiiing!"
Saya melirik ke belakang, dua anak murid saya yang jadi resepsionis itu sedang mengepalkan tangannya sebagai tanda untuk memberi saya semangat. Terimakasih. Saya senang melihat mereka tersenyum seperti itu.
Mudah-mudahan semua berjalan lancar.
"Aku deg-degan, ingin segera melihat Yoongi-hyung."
Hei, apalagi saya? Ucapan Jihyun membuat saya ingin mengumpat. Hanya saja di hari baik ini saya menahan diri untuk tidak berucap buruk atau melakukan hal bodoh apapun. Nanti rahmatnya hilang.
"Jimin, apa kau sudah siap?" tanya Ayah. Saya mengangguk. Ayah merapikan jas dan kemeja yang saya kenakan. Suasana mendadak melankolis. Saya ingat waktu kecil Ayah sering bertanya seperti ini setiap kali saya akan menghadapi sesuatu. Sekarang dia hadir untuk menyaksikan saya menikahi pendamping yang saya pilih dan itu adalah sebuah anugerah.
"Dipersilakan kepada kedua mempelai, untuk memasuki ruangan."
Saya menarik napas panjang, menyiapkan hati. Saya tegakkan badan dengan percaya diri. Saya berjalan menuju altar, disambut oleh wajah-wajah bahagia dari keluarga, kerabat dan teman-teman. Saya bangga menjadi diri saya di hari ini.
Sampai di hadapan Pendeta, saya mengambil tempat untuk berdiri di sisi kiri dan menyisakan yang kanan untuk Yoongi. Saya membalik badan. Di ambang pintu saya lihat dirinya bersama sang ayah, bersiap untuk memasuki ruangan. Gelenyar hangat terasa menyebar ke seluruh badan. Saat dia mulai berjalan, dada saya bergemuruh. Semakin dekat dia, semakin saya bisa melihat bahwa hari ini, kecantikannya tiada tara.
"Yoongi," saya berbisik.
Ayah Yoongi menuntun tangan anaknya supaya menerima uluran tangan saya. Satu langkah, dia naik ke tempat saya berdiri untuk membuat kami sejajar berdampingan.
Pendeta memimpin doa. Upacara dilanjutkan dengan penyampaian wejangan. Kemudian ia mengucap titah Tuhan mengenai pernikahan.
Setelah itu, Pendeta mengajukan beberapa pertanyaan yang—sudah pasti—kami jawab dengan: ya, saya bersedia, dengantegas dan tanpa pengulangan. Saya bahagia ketika tidak ada keragu-raguan dalam setiap jawaban yang kami lontarkan. Semua penuh keyakinan.
"Apakah saudara-saudari mendukung dan mendoakan kedua mempelai ini dalam hidup nikah mereka? Jika para hadirin bersedia, mari menjawab Amin bersama-sama."
Amin.
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."
Pendeta membacakan sebuah ayat. Kemudian, tibalah saatnya bagi kami untuk mengucapkan janji nikah.
"Saudara Park Jimin, sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh."
Saya menatap Yoongi, dan kami sama-sama tersenyum.
.
.
"Saya, Park Jimin, mengambil engkau, Min Yoongi, menjadi istri saya, dan saya berjanji, untuk selalu setia memelihara dan mengasihi engkau, dalam suka maupun duka, dalam kemujuran ataupun kemalangan, dalam sehat maupun sakit; sejak hari ini dan seterusnya, sekarang sampai selama-lamanya, sampai maut memisahkan kita; sesuai dengan hukum Allah yang kudus, kepadamu, saya ucapkan janji setia yang tulus…"
.
.
"Saudara Min Yoongi, sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh."
"Saya, Min Yoongi—"
Dan dengan suara bergetar dia ucapkan janji itu.
Setelah kami selesai berjanji, kami dipersilakan untuk bertukar cincin. Saya tak bisa menahan rasa haru dan kelegaan. Mata saya terasa panas dan dada saya terasa sesak. Saya ingin menangis, tapi lucu kelihatannya kalau kedua mempelai sama-sama berurai air mata. Saya berusaha lebih tegar, dan saya memberikan senyum pada Yoongi agar dia tersenyum juga. Pipi dan hidungnya merah karena tangisan. Tapi bagaimanapun rupa dia, hari ini dia adalah malaikat saya yang paling cantik sedunia.
"Dengan demikian, dalam nama Tuhan, saya nyatakan bahwa Sdr. Park Jimin dan Sdr. Min Yoongi telah resmi dan sah sebagai suami-istri."
Kami menengok pada Pendeta. Dia tersenyum simpul. Dengan tangan yang terbuka lebar ia berkata, "…berikan ciuman untuk pasanganmu, dan terimalah ia dengan syukur."
Saya menatap mata Yoongi yang berbinar. Tangannya saya genggam dengan sungguh-sungguh. Ini akan jadi ciuman kesekian kami, tapi yang pertama setelah saya dan dia mengucap janji suci pernikahan. Dia memejamkan mata ketika kami sama-sama mendekatkan wajah. Yoongi selalu indah, selalu.
"Saranghae," bisiknya, sebelum bibir kami bertemu dalam sebuah ciuman yang sakral di atas altar.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Oh my, my, my, oh my, my, my
You got me high so fast
Ne jeonbureul hamkkehago sipeo
Oh my, my, my oh my, my, my
You got me fly so fast
Ije jogeumeun na algesseo
Taehyung dan Jungkook terlihat sangat lincah di atas panggung. Sebetulnya ada penyanyi dan band yang sudah disewa, tapi mereka menerima kalau-kalau ada tamu undangan yang ingin menyumbang lagu. Dan tak saya sangka, dua anak yang tadi siang bertindak sebagai resepsionis itu malam ini berubah jadi penyanyi handal. Suasana tampak ramai karena mereka mendendangkan lagu populer yang sering diputar di pusat perbelanjaan atau di radio.
Saya lihat sahabat-sahabat saya—guru-guru yang budiman dan penuh wibawa—tengah menari-nari. Mereka paling dekat dengan panggung. Padahal belum lama mereka memberi selamat dan berbagi keharuan pada kami, tapi tahu-tahu mereka sudah melebur dengan riuh suasana pesta. Heran saja, umur sudah tak muda, tapi semangat sekali berdansa. Lucu sekali, mereka itu.
"Kau tidak mau ikut?" Yoongi menggedikkan dagu ke arah panggung. Tangannya tak lepas-lepas menggandeng saya dan itulah hal yang paling saya sukai.
"Tidak, aku mau di sini saja bersamamu. Lagipula urusan perut istriku lebih penting ketimbang dansa."
Yoongi terkekeh. Dia memang hanya makan sedikit sejak pagi, jadi wajar kalau dia kalap melihat kue dan makanan-makanan di atas meja. Saat itu dia tengah mengambil sepotongan kue dari loyang. Sayang ketika hendak menyuapkan sesendok, buah stroberi di sendoknya jatuh ke rumput. Saya tertawa, lantas mencomot stroberi lain dari kue yang masih utuh untuk dijejalkan ke mulutnya.
Resepsi pernikahan kami digelar di luar kapel. Garden party, namanya. Halaman belakang kapel sengaja ditata sedemikian rupa hingga terlihat homey. Banyak lampu kuning dan bunga tergantung sebagai dekorasi. Meja-meja bundar bertaplak putih ada di tiap-tiap titik, untuk tempat suguhan.
Semua orang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Maksud saya, dalam pesta ini, untuk menikmatinya. Ketika musik berhenti perlahan, saya melirik panggung. Duo bocah tengil itu masih betah mengganggu band dan penyanyi sewaan kami. Mereka mau menyanyi lagi, katanya. Uh, terserah saja, lah.
"Jimin! Jimiiiin!"
Dari kejauhan saya lihat seseorang melambai-lambaikan tangannya. Setelah dekat, barulah saya sadar kalau dia tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang temannya. Perempuan-perempuan itu berjalan tergesa untuk hampiri saya dan Yoongi, sembari memberi kami senyum lebar penuh antusiasme. Saya lirik Yoongi sekilas, raut wajahnya sedikit berubah.
Kenapa? Karena yang datang adalah mantan pacar saya, Kang Seulgi, beserta gadis-gadis yang pernah saya kenal semasa kuliah dulu. Kalau ditotal, dia dan teman-temannya itu berjumlah lima orang. Aduh, sialnya! Saya lupa kalau kemungkinan seperti ini bisa saja ada. Orang bebas mau bawa siapa, tapi saya tak sangka kalau mereka bisa terkumpul seperti satu geng yang hobi reuni selepas bubar kuliah.
Dan seperti bisa membaca pikiran saya, Yoongi bertanya, "Kau mengundang mereka?"
"Aku hanya mengundang satu, yang lain mungkin diajaknya datang kemari…"
Saya tertawa setengah meringis. Wajah Yoongi semakin dingin dan rangkulannya semakin erat. Caranya menatap gadis-gadis itu seperti seekor macan yang tak mau teritorinya ditembus.
"Jimin! Maaf aku terlambat! Tapi selamat atas pernikahan kalian!"
Seulgi tiba-tiba memeluk saya waktu saya maju sedikit untuk menyapanya. Karena takut diamuk Yoongi, buru-buru saya beringsut mundur lepaskan diri. Saya hanya mengekeh untuk sambut Seulgi dan teman-temannya yang lain—yang saya ingat betul wajahnya tapi saya lupa siapa nama mereka.
"Istrinya Jimin, selamat ya."
"Selamat atas pernikahannya."
Selagi Seulgi dan teman-temannya menyalami Yoongi, saya mencoba mengingat nama mereka satu persatu. Yang paling tinggi namanya Joy, yang rambut pirang namanya Wendy, yang paling mungil namanya Irene, dan yang sedang cengigisan namanya Yeri. Akhirnya saya menemukan kepingan-kepingan yang terkubur dalam ingatan. Dulu sempat saya ikut klub pecinta alam di kampus dan gadis-gadis ini tergabung di dalamnya, tapi tak lama mereka keluar satu-satu. Yang tersisa hanya Seulgi dan dialah paling dekat dengan saya.
"Aku membawa hadiah untuk kalian. Tolong diterima, ya."
Seulgi menyerahkan paper bag merah muda pada Yoongi. Dari tempat saya berdiri, saya masih bisa melihat kalau di dalam kantung itu ada sebuah kotak. Saya tak tahu isinya apa. Tapi saya curiga Seulgi yang dulu orangnya agak iseng itu memberi kami barang yang tidak-tidak. Mengingat saya pernah dihadiahinya rok tutu di hari ulangtahun saya yang ke dua puluh dua—dan roknya jelas saya berikan pada sepupu saya yang perempuan tanpa sepengetahuan dia.
"Jangan menatapku begitu, ah. Itu kuhadiahkan supaya kalian langgeng terus…" Dia mencoba mengelak. Tapi saja jadi makin curiga.
"Terimakasih untuk hadiahnya. Nikmati pestanya ya," ucap Yoongi dengan diplomatis.
Mereka lalu berpamitan untuk bergabung dengan tamu lain di pesta dan meninggalkan kami berdua. Saya menatap Yoongi dan dia memberi saya kedipan polos. Wow. Lain sekali dengan Yoongi yang defensif tadi.
"Daniel belum datang," katanya tiba-tiba.
Saya terkejut. Bisa-bisanya saya melupakan lelaki bernama Daniel ini.
Eh tunggu. Jangan-jangan dia menyebut Daniel dengan sengaja untuk membalas kecemburuannya pada mantan pacar saya?
"Ehem, ehem." Saya berdeham. Seperti Yoongi yang bisa menjauhkan saya dari Seulgi dan kawan-kawan, saya juga mesti cari cara untuk mengantisipasi kedatangan Kang Daniel.
"Jimin, aku tidak bisa membawa paper bag ini kemana-mana. Lebih baik aku titipkan saja pada Ibu, atau kakak, ya?"
"Iya."
"Kalau begitu aku akan temui mereka dulu. Kebetulan barusan aku melihat mereka di sebelah sana. Aku tak lama, sebentar ya."
"Apa perlu aku ikut?"
Yoongi mungkin tak dengar karena dia dengan cepat tertelan keramaian. Saya ditinggalkan sendiri di tempat itu. Niatnya mau menyusul, tapi ada beberapa tamu yang baru datang sehingga saya harus menyambut mereka.
Selang beberapa menit, dia kembali dengan senyum lebar. Tapi kembalinya tidak sendiri, melainkan membawa seorang lelaki yang sudah bisa kalian duga itu siapa. Ya siapa lagi? Itu Kang Daniel!
Uuh! Kenapa benang takdir kami begitu erat tersimpul? Padahal saya berharap dia tak muncul di pesta pernikahan saya.
"Jimin, ini Daniel."
Iya saya tahu. Ingin saya menjawab dengan sinis, tapi hanya saya tahan saja di ujung lidah.
"Selamat atas pernikahannya ya, Jimin-ssi." Daniel menyalami saya.
"Ya, terima kasih."
"Aku tadi menemukannya sedang mengobrol dengan kakakku. Dia benar-benar baru saja tiba di sini."
Aku tidak perlu tahu itu, Yoongi-ku, sayangku. Hiks. Ingin marah rasanya. Melihat wujud Daniel yang nyata saja sudah membuat saya ingin misuh-misuh.
"Aku membawa hadiah untukmu dan itu sudah kutitipkan pada Geumjae-hyung."
"Terimakasih banyak! Nikmatilah pestanya, ya."
"Ya, Yoongi. Aku senang melihatmu bahagia begini. Kau terlihat sangat menawan." Tangan Daniel mencolek sedikit dagu Yoongi, lalu dia mengarahkan tatapannya pada saya. "Benar, bukan, Jimin-ssi?"
"HU-UH," jawab saya setengah keki.
"Jagalah Yoongi karena dia adalah permata berharga."
"Siap."
"Terimakasih. Tolong pegang janji Anda."
"Baik."
Setelah memeluk saya, Daniel meraih Yoongi. Dia berkata, "Kalau begitu, Yoongi, aku mau ambil sampanye dulu ya."
"Nikmati waktumu, Daniel."
Mereka berpisah. Tapi sebelum berpisah, mereka sempat berpelukan eraat sekali. Dan lama. Saya yang terabaikan begitu saja di dekat meja pudding, terpaksa melihat kemesraan kawan lama yang bertegursapa. Yoongi baru kembali menaruh atensinya pada saya setelah Daniel menjauh. Masih ada batu di dada ini. Saya mengambil piring mini lalu meletakkan sepotong pudding untuk kemudian saya lahap sekali suap.
"Jimin. Kau cemburu?" tanyanya curiga.
"Tidak." Saya menaruh piring kosong itu lalu menyeka sudut bibir.
"Jimin, dengar." Yoongi menarik jas saya tiba-tiba hingga tanpa pertahanan saya terhuyung ke depan dan secara reflek tangan saya berpegangan ke bahunya. "Dia cuma memelukku sekali, sementara kau bisa memelukku berkali-kali, setiap hari, selama apapun yang kamu mau. Seperti ini misalnya."
Dia mengarahkan satu tangan saya ke pinggangnya dan satu melingkari bahunya. Kemudian dia mencondongkan badan untuk memerangkapkan diri. Dan seperti sudah naluri, ketika kau memeluk sesuatu yang kau tahu itu milikmu, kau akan mengeratkan pelukanmu karena kau takut dia akan hilang atau diambil orang lain.
"Jadi jangan cemburu," gumamnya di bahu saya.
Saya hanya bisa mendesah pasrah. Rasa cemburu memang satu yang paling tidak bisa hilang dengan mudah kecuali jika kita bersikap dewasa. Saya mungkin punya hak untuk cemburu, tapi saya juga tak ingin memeliharanya.
"Kau juga jangan cemburu ya pada mantan pacarku atau yang lainnya…"
Yoongi tidak menjawab apa-apa. Menjawab, mungkin, tapi saya tak dengar karena dia masih terus bersandar dengan bibir dan hidung yang menempel di leher saya.
.
.
.
My love, there's only you in my life
The only thing that's bright
My first love,
You're every breath that I take
You're every step I make…
.
.
.
"Lagunya jadi slow begini ya? Anak-anak itu pasti sudah capek bernyanyi," kata saya.
Sudah tak terdengar suara Taehyung dan Jungkook. Penyanyi utama kembali ke panggung membawakan lagu legendaris yang pasti selalu jadi pilihan untuk momen pernikahan. Kalian tahu mengapa lagu ini jadi favorit? Jika kalian dengarkan baik-baik, kalian akan mengerti.
.
.
.
And I, I want to share
All my love with you
No one else will do
.
.
.
Masih sambil berpelukan, kami menikmati lagu.
.
.
.
And your eyes, your eyes, your eyes
They tell me how much you care
Ooh yes,
You will always be
My endless love…
.
.
.
"Jimin."
"Ya?"
Yoongi mendongak, lalu memberi saya sebuah ciuman. Selang beberapa detik dia menyudahi ciuman itu dan menatap saya dengan matanya yang memantulkan titik-titik temaram dari lampu gantung.
"Aku mencintaimu," ucapnya, dengan penuh keyakinan.
Saya membungkuk untuk peluk lagi dirinya. Saat itu yang saya inginkan hanya merengkuhnya dengan erat. Seerat mungkin supaya dia bisa merasakan betapa besar cinta saya untuknya. Saya ciumi pipi dan keningnya, lalu pucuk hidungnya, dan terakhir bibir mungilnya.
"…oh dan lihat, betapa mesranya pengantin kita malam ini…"
Ketika sadar, orang-orang bertepuk tangan, dan MC mengacungkan jempolnya pada kami. Yoongi tertawa kecil seraya menyeruduk sembunyikan wajahnya di dada saya. Malu, tapi senang. Kami adalah Raja dan Ratu malam ini jadi tak apa bila orang tahu bahwa kami sedang bermesraan.
"Tuan Park Jimin, tidakkah Anda ingin naik ke atas panggung, mengucapkan sepatah-duapatah kata untuk semua yang sudah hadir di sini?"
Saya teringat akan sebuah rencana yang sudah dibicarakan dengan MC sebelum ini. Syukur saja diingatkan. Kalau tidak saya benar-benar lupa pada rencana itu. Saya giring Yoongi mendekat ke panggung. Lalu saya pinta dia berdiri di depan, di tengah-tengah.
"Tunggu di sini, ya."
Sementara saya naik ke panggung, sahabat-sahabat saya mendekatinya dan memberinya dukungan. Yoongi terlihat bahagia bercengkrama dengan mereka. Saya lihat Jin-ssaem memeluk pinggangnya, sedang Kim-ssaem dan Jung-ssaem terdengar sedang memuji Yoongi yang cantik jelita.
"Silakan."
Penyanyi mundur untuk memberi saya ruang. Musik tak berhenti, masih dengan instrumen dari lagu yang sama seperti tadi. MC memberikan saya sepucuk surat yang sebelumnya sudah saya titipkan padanya, dan dia berikan juga sebuah mikrofon yang sudah menyala. Saya menerimanya, lalu berjalan ke tengah panggung. Di titik itu saya memandang seluruh tamu yang hadir. Di antara mereka ada orangtua saya, orangtua Yoongi, Jihyun, kakak Yoongi, saudara dan kawan-kawan, murid-murid kesayangan saya, sahabat-sahabat saya, serta Yoongi, istri saya.
Oh, Yoongi. Seketika dada ini menghangat kala tahu binar itu hanya tertuju pada saya.
"Selamat malam, semua. Terimakasih karena telah hadir di acara pernikahan kami. Ada sedikit yang ingin saya sampaikan di sini, khusus untuk istri yang baru saja saya nikahi tadi sore, Min Yoongi—ah tidak, sekarang namanya adalah Park Yoongi."
Orang-orang tergelak. Yoongi menunduk tapi saya dapat melihat semburat merah dari pipi gembilnya. Setelah dia mengangkat kepala dan perhatiannya kembali pada saya, saya lanjut bicara. Kali ini dengan lebih serius. Karena, ya, apa yang tertulis di kertas yang saya pegang adalah kalimat-kalimat yang berharga.
"Yoongi."
Saya memanggil namanya, untuk menjaring mata itu supaya terus dan terus menatap saya. Saya ingin menenggelamkannya, sekali ini saja, pada afeksi yang sengaja saya berikan padanya.
"Aku tahu bahwa perasaanku tak cukup diungkapkan hanya dengan kalimat aku mencintaimu dan ya, aku mencintaimu. Pada kesempatan ini aku ingin menyampaikan segenap perasaanku padamu, di hadapanmu. Kuharap kamu mau mendengarkannya sampai habis walau apa yang kubacakan mungkin tak lebih bagus dari karangan yang dibuat oleh anak sekolah dasar. Mudah-mudahan mau mengerti pula apa yang hendak aku sampaikan lewat surat ini," tutur saya. Lalu musik berhenti, dan saya mengambil napas sebelum mengeratkan pegangan pada mikrofon.
Kepada Yoongi, sayangku.
.
Surat ini kutulis di pagi buta, ketika kau masih lelap dalam tidurmu. Aku tak bisa menahan gejolak di dada ketika aku tahu bahwa hari ini kita berdua akan mengikat komitmen di atas altar. Ini adalah hari yang paling kunantikan seumur hidupku; hari dimana kamu menjadi istriku, di mana aku bisa melantangkan pada dunia bahwa kau telah resmi jadi milikku.
.
Ketika melihatmu yang meringkuk di atas kasur dengan damainya, aku teringat pada masa di mana kita baru berkenalan dulu. Dengan senyum lembut dan matamu yang teduh, kau mengenalkan namamu padaku, dan hari itu juga hatiku berkata bahwa aku ingin memilikimu.
.
Sayangku, Yoongi, kau adalah kabar gembira yang dibawa musim semi. Kau datang di saat aku mulai lupa apa yang namanya jatuh cinta. Kau menghujani dadaku yang kering dan memekarkan bunga-bunga di sana. Biarkan aku mengatakan bahwa aku sangat bersyukur telah dipertemukan denganmu.
.
Selama ini aku selalu menjadi seorang lelaki payah yang sama sekali tak bisa bersikap romantis. Tapi kali ini, aku berusaha bersahabat dengan kata manis demi memenangkan hatimu. Karena aku telah belajar, bahwa jika kamu mencintai seseorang, selain kau cium dia, katakanlah padanya bahwa kau menyukai tiap-tiap fitur yang ada pada dirinya. Katakan bahwa kau suka perhatiannya.
.
Dan kamu, aku menyukai apapun yang ada pada dirimu. Aku mencintai kamu seutuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari tutur kata sampai tingkahlakumu. Aku suka ketika kau memberiku perhatian-perhatian kecil, seperti mengingatkanku untuk menyisir, atau mengingatkanku ketika tali sepatuku tidak tersimpul dengan baik. Aku suka semuanya.
.
Terimakasih karena selalu peduli. Kau tahu aku membutuhkan itu.
.
Yoongi, jujur saja, aku tak pernah paham bagaimana cinta bekerja, tapi apa cinta yang besar bisa memengaruhi saraf-saraf otakmu? Mereka yang jumlahnya sangat banyak itu selalu berkata kalau aku merindukanmu. Aku selalu merindukanmu walau kau ada di sampingku dan sedang berbicara padaku. Aku menginginkan kecupan lembutmu atau juga pelukan hangatmu setiap aku hendak tidur atau juga bangun pagi. Aku menginginkan kamu berada di sampingku setiap saat, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Karena, setiap tempat yang kudatangi tak akan lebih nyaman dan tak akan lebih baik tanpamu di sisiku.
.
Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, bersama anak-anak kita, dalam sebuah keluarga yang kita bagun bersama. Aku ingin menua bersamamu untuk menikmati hari-hari senja dengan damai dan bahagia. Suatu hari kita mungkin akan menjadi lemah dan pikun, tapi jika saat itu tiba aku hanya ingin kita tetap saling mencintai.
.
Kau adalah hadiah terbaik dari Tuhan yang dapat kumiliki.
.
Kau adalah yang terindah.
.
.
Dengan segenap hati, dari kekasih hatimu.
Park Jimin.
.
.
.
.
Saya menurunkan tangan dan mikrofon. Piano didentingkan, memulai musik yang senada dengan riuh keharuan dan tepuk tangan tamu. Saya mengulum bibir, berusaha untuk tersenyum lebar padahal ingiin sekali menangis. Saya lihat Yoongi menunduk begitu dalam dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Sahabat-sahabat saya memeluknya dari samping dan belakang. Saya tahu dia sedang menangis, dan saya merasa bahwa saya harus menggapainya saat itu juga.
"Sayang." Saya memanggilnya, seraya mendekat ke tepi panggung dan berlutut.
Satu tangannya saya ambil sehingga wajahnya bisa saya lihat. Dia menatap saya dengan linangan air mata yang membanjiri pipinya. Bibirnya bergetar. Mungkin dia mau bicara, tapi tak mampu. Lantas saya pun menggandengnya pelan-pelan supaya dia mau turut naik ke panggung.
"Ingin mengatakan sesuatu?" tanya saya, pakai mikrofon, dengan maksud untuk sedikit bercanda.
Kami di tengah panggung, saling berhadap-hadapan. Pinggangnya di rangkulan saya. Dia menerima mikrofon dari MC dengan ragu-ragu. Matanya benar-benar masih basah dan merah. Saya sendiri tak yakin dia sudah cukup tenang untuk diajak bicara.
Tapi perlahan, bibirnya bergerak.
"A-aku…"
Suaranya tidak stabil, karena dikeluarkan sembari masih menahan tangis. Saya belai pipinya. Ketika Yoongi menutup mata, hujan itu turun lagi dengan derasnya. Dia menggigit bibir sebentar, sebelum mendekatkan mikrofon ke mulut.
"Mmm … terimakasih … aku sangat bahagia. Terimakasih atas suratmu yang betul-betul indah. Terimakasih karena telah membacakannya untukku. Terimakasih. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi aku akan mencintaimu untuk hari ini, besok, dan seterusnya. Terimakasih, Jimin, suamiku…"
Dia benar-benar tak lagi bisa menahan emosinya yang meledak di ujung kalimat. Yoongi menghambur pada saya, memeluk saya erat, dan menumpahkan tangisannya di bahu saya. Dan saya, juga tanpa bisa ditahan lagi, menangis dalam pelukannya.
"…berikan ciuman untuk pasanganmu, dan terimalah ia dengan syukur…"
Orang-orang bersorak saat MC menirukan ucapan Pendeta yang mempersilakan kami untuk berciuman. Ah, benar-benar. Saya jadi malu kalau sudah berdiri dalam posisi seperti ini, dan dalam momen sebagus ini tapi tak mencium bibir Yoongi. Akhirnya saya turuti apa yang mereka mau. Saya menunduk untuk adukan dahi dengan istri saya.
Lantas di depan bibirnya saya berbisik, "Saranghae, Yoongi."
.
.
Pernikahan ini adalah peristiwa terhebat yang pernah saya alami.
.
.
.
.
Oh, and love oh, love
I'll be that fool for you I'm sure,
You know I don't mind
Oh you know I don't mind
.
And, yes
You'll be the only one
'Cause no one can deny
This love I have inside
And I'll give it all to you
My love, my love, my love
My endless love
.
.
.
.
.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
END
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OMAKE
Oke. Selamat malam.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas ketika kami dan keluarga pulang ke penginapan. Di kamar saya dan Yoongi tertumpuk banyak kado dari kerabat dan teman-teman. Saya sebetulnya sangat ingin membongkar kado-kado itu satu per satu, tapi saya harus cari timing yang tepat supaya bongkarnya bisa berdua dengan Yoongi.
Kalau tanya dia di mana, dia sedang di kamar mandi. Saya yang sudah mandi duluan dimintanya beristirahat. Yaa, dan yang saya lakukan adalah berebahan di kasur, dengan rimot tivi di tangan. Mendengar bunyi-bunyi dari kamar mandi itu membuat saya gelisah. Ini malam pertama saya dan Yoongi sebagai suami-istri, omong-omong. Wajar kan, kalau saya tak tenang?
Cklek! Pintu kamar mandi terbuka. Saya melihat Yoongi berdiri sembari mengusak-usak rambut basahnya dengan handuk kecil. Badannya terbungkus piyama satin merah muda. Kira saya, ia akan keluar hanya dengan handuk, tapi ternyata ia sudah berpakaian di dalam kamar mandi.
"Sumpah, aku capek sekali."
Yoongi melempar handuknya asal, membanting diri ke kasur, menelungkup seperti kura-kura. Ranjang bergoyang, membuat rimot terlepas dari genggaman.
"Rasanya seluruh badanku remuk jadi remah biskuit."
Mendengar keluhnya, saya merasa kasihan. Mungkin Yoongi memang butuh istirahat yang cukup. Untuk saat ini, setidaknya dengan tidur, atau beberapa jam berleha.
"Kalau begitu beristirahatlah."
Saya usak rambutnya sebelum turun meninggalkan kasur. Yoongi membalik badannya perlahan. Dia merengut dan saya tak tahu kenapa.
"Jimin, kau mau ke mana?" tanyanya.
"Aku … eng … mau nonton tivi. Di depan tivi. Kalau di sini tidak kelihatan. Hehe," cengir saya sembari menunjukkan rimot di tangan.
"Kukira kau mau bergabung denganku di sini?" Tangannya menggosok bagian sprei bekas saya tiduran.
"A-aku…"
"Kau tidak melupakan sesuatu, memangnya?"
"Melupakan … apa?"
"Kau lupa ya? Aku sudah sah jadi istrimu."
"Ngg … ya…?"
"Dan ini malam pertama kita. Kau tak mau menggauliku, memangnya?"
CONTINUED TO OMAKE pt.2
