"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I only own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Semi-incest BL

Plot-bunnies(?)

And others

.

.

shunshines

.

.


.

.

Jam delapan malam.

Shun melirik ke arah jam tangan di tangan kirinya. Ia menghela napas lega. Sebentar lagi, shinkansen ini akan berhenti di Stasiun Tokyo, sehingga tidak terlalu larut baginya untuk pergi ke tempat tujuan.

Kereta pun berhenti. Para penumpang turun secara teratur setelah pintu terbuka, begitu pula dengan Shun. Ia berjalan cepat ke luar stasiun menuju halte bus terdekat. Sambil menunggu busnya datang, ia memilih untuk duduk di halte.

Shun menghela napas untuk kesekian kalinya. Iris azure-nya menerawang ke langit yang terang karena lampu. Seulas senyum kecil tampak di wajah stoic-nya. Matanya berpindah ke objek yang lain, yaitu jalanan yang cukup padat. Pemandangan yang biasa dijumpainya beberapa bulan ke belakang, sebelum kehidupannya yang baru dimulai. Sebelum hal tentang keluarga itu menjadi masalah besar baginya.

Anak laki-laki jangkung ini menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak boleh berlarut-larut dalam masalahnya. Tujuannya datang jauh-jauh ke Tokyo bukan untuk menambah beban pikiran dan perasaannya.

Bus pun datang mampir di halte. Shun langsung berjalan masuk, menduduki bangku yang biasa ditempatinya setiap naik bus bersama kawan-kawan Kyoshin-nya; pojok belakang. Tampak beberapa orang yang sudah ada di bus sebelum dia naik. Tidak begitu banyak, tapi tidak sedikit pula jumlahnya.

Selama perjalanan, Shun banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Tangannya merogoh saku, mengambil handphone yang sedari tadi dimatikannya. Ia menatap benda elektronik itu agak lama, menghembuskan napas, lalu kembali menyimpan benda tersebut ke saku celananya. Kakak tiri maupun kekasihnya itu pasti sudah siap menerjang kolom missed calls dan inbox berkali-kali jika Shun mengaktifkan handphone-nya lagi, dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Meskipun perbuatan anak laki-laki itu hanya akan membuatnya cukup brengsek—melarikan diri dari rumah ketika orang tuanya tidak ada dan membuat segelintir orang khawatir. Ia bisa menghadapi masalah itu nanti, setelah pikirannya jernih dan perasaanya tenang.

Memutuskan untuk menjalankan niatnya daripada melamun di pinggir jalan, Shun pun bangkit dari bangkunya dan berjalan ke halte bus. Ia akan ke Kyoshin, sudah fiksasi akan berangkat ke sana karena distrik itu adalah tempat dimana ia menghabiskan waktunya belasan tahun. Dan juga kenangan yang bersemayam di sana, ia ingin bernostalgia sebelum ia siap menghadapi masalahnya yang ia tinggalkan di Osaka.

Tanpa disadari karena sibuk melamun—demi Tuhan, kalau ia bisa ia sudah berhenti melamun dari tadi—bus yang ditumpanginya sudah berhenti di Kyoshin. Dengan sedikit suntikan semangat, mengetahui dirinya telah sampai di tempat kesayangannya, Shun melangkah menyusuri distrik Kyoshin yang masih ramai saat malam. Ia merasa perutnya berbunyi saat berjalan, lalu tempat makan yang terbersit di otaknya saat itu adalah kedai langganan Kyoshin Poseidon.

Merasakan ada panggilan jiwa yang tidak jelas bentuk, sifat, dan wujud lain yang abstrak, Shun melangkahkan kakinya menyusuri jalan, mendengar berbagai macam suara yang sangat familiar, yang setiap hari didengarnya saat dulu masih menetap di Kyoshin. Suara dan hiruk pikuk yang sama sebelum ia meninggalkan tempat ini. Macam-macam kedai dengan orang bagian sales promotion yang berteriak sana-sini dan hampir semuanya sudah ia singgahi bersama kawan Kyoshin Poseidonnya, toko film kecil yang biasa ia kunjungi bersama manajernya, Maki Shibuya—Shun masih ingat ketika ia pergi berdua dengan Maki yang berujung diuntit oleh Mizumachi beserta antek-anteknya karena curiga ada sesuatu di antara Maki dengannya, tidak lupa kios yang menjual buku dan majalah langganannya. Semua ini terasa sangat familiar, menimbulkan nostalgia yang membawa perasaan tentram dan nyaman. mengetahui bahwa Shun akhirnya pulang secara literal dan harfiah.

"K-Kakei?"

Seseorang memanggil nama marganya dari belakang. Jantung Shun nyaris copot, perpaduan antara kaget dan rindu mendengar dirinya dipanggil oleh nama marga yang lama. Shun berbalik, mendapati sesosok lelaki yang lebih pendek darinya, dan ia membelalakkan mata begitu menyadari sosok familiar yang menyapanya itu. "Kobanzame senpai?"

"Nhaaa! Itu beneran Kakei!" suara melengking khas yang lagi-lagi Shun kenal baik memanggil namanya. Jangan lupa dua orang lain yang diingatnya selalu bertengkar ikut meneriakkan namanya. "GURU KAKEI!"

Shun masih belum kembali dari keterkejutannya meskipun Mizumachi—si pemilik suara melengking, Ohira, dan Onishi—yang tadi memanggilnya guru, sudah menerjang badannya dan mereka bertiga rebutan memeluknya. Mereka sama-sama memanggil namanya sambil menangis bombay.

"Ahaha... sudah sudah, lepaskan Kakei dulu. Kalian ini….," lerai Kobanzame sambil tertawa garing, antara serius melerai dan pasrah karena tidak akan didengar oleh tiga raksasa ini. Shun hanya tersenyum dan membalas pelukan ketiga bekas rekan setimnya dulu dengan susah payah.

Ketika Mizumachi, Ohira, dan Onishi melepas pelukan mereka, Shun baru menyadari kehadiran seorang gadis yang turut hadir bersama mereka. Maki Shibuya, anak perempuan berambut cokelat terang yang terkenal karena jarang masuk sekolah, yang juga merupakan manajer Kyoshin Poseidon. Anak perempuan itu langsung menerjang badannya, memberinya pelukan lagi. Shun cukup bangga ketika kembali ke Kyoshin, ia banyak mendapat pelukan dari orang.

"Kemana saja kau, Kakei-kun? Jarang memberi kami kabar," tanya Maki seraya melepas pelukannya. "Aku dan Kobanzame senpai kewalahan menangani tiga idiot ini. Aku berpikir untuk berhenti, malah."

"Nhaa, jangan begitu, Maki-chan!" sahut Mizumachi sambil mengorek telinganya dengan jari kelingking. Kebiasaan jorok yang bahkan Shun pun sudah menyerah mengingatkannya untuk berhenti. "Cukup Kakei saja yang keluar, jangan lagi yang lain!"

"Maaf, di Osaka sibuk," balas Shun seadanya. "Kalian baik-baik saja, kan? Poseidon?"

"Semuanya baik-baik saja, kok!" jawab Kobanzame sambil tertawa yang terpaksa lagi. "Tapi kita kalah melawan Deimon. Kita gagal ke Christmas Bowl."

Bahkan aku belum pernah diturunkan ke lapangan untuk bermain langsung, batin Shun sambil meringis. "Itu bukan masalah. Tahun depan masih ada kesempatan."

"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan kita di kedai seperti biasa?" Maki mengalihkan topik yang langsung disetujui semua orang termasuk Shun. Kebetulan sekali, ia lapar karena belum makan apapun sejak siang tadi.

Mereka pun berpindah tempat ke kedai ramen langganan mereka yang biasa didatangi setelah latihan di hari libur. Mereka juga sesekali makan di sana setelah latihan di hari biasa. Bersama anggota Kyoshin Poseidon yang lain, juga kadang kapten cheerleader mereka, Otohime, ikut berkumpul sambil makan, bertukar cerita dan saling bercanda satu sama lain. Bonding time antar rekan tim yang begitu dirindukan Shun. Jika di Teikoku sana, ia mungkin baru bisa melakukannya jika sudah berada di Tim Satu, yang mana masih jauh sekali perjalanannya.

Sambil menunggu pesanan datang, obrolan pun dilanjutkan. Kali ini, Mizumachi-lah yang membuka topik. "Nhaa Kakei-chan, di Deimon itu ada yang namanya Eyeshield 21. Katanya dia Eyeshield 21 asli. Sena namanya. Tapi dia palsu, karena katamu yang asli badannya tinggi, kan?!"

"Palsu juga tetap saja kita kalah," sahut Ohira sambil lagi-lagi menangis bombay. Onishi pun langsung menjitak kepala orang yang disebut-sebut sebagai kembarannya itu. "Dasar pesimis! Orang sepertimu mana pantas jadi murid Kakei!"

Mendengar nama Eyeshield 21 disebut membuat Shun merutuk dalam hati. Ia ingat selama di Kyoshin, ia begitu terobsesi mencari tahu Eyeshield 21 yang asli dan sangat ambisius menekuni american football demi bisa bertemu dengannya lagi. Topik Eyeshield 21 selalu menjadi topik sensitif baginya. Mizumachi adalah orang yang selalu maklum jika Shun tiba-tiba sewot jika ada yang mengaku Eyeshield 21. Shun begitu mendewakan sosok yang ditemuinya di Amerika itu sampai-sampai ia begitu tidak terima gelar tersebut diaku-aku oleh sembarang orang.

Sekarang, Eyeshield 21 yang didewakannya itu adalah penyebabnya kenapa ia bisa kabur kembali lagi ke Kyoshin. Nasib yang lucu sekali, bukan?

Tidak ada yang menyadari perubahan ekspresi wajahnya selain sang manajer. Maki, sebagai satu-satunya perempuan di antara mereka, lebih peka ketika menyadari bahwa Shun melamun dan agak murung. Ia terus menatap laki-laki itu sampai Shun tersadar karena merasa diperhatikan. Gadis itu melempar tatapan penuh arti.

Shun tersenyum kecil. Ia tidak punya pilihan lain. Daripada memendam semua masalah yang membuatnya kacau, membaginya dengan Maki bukanlah sebuah ide yang buruk.


.

.

Pertemuan Shun dengan rekan satu timnya dulu membawa dirinya terperangkap dalam rumah sang kapten Kyoshin Poseidon, Kobanzame. Setelah makan malam bersama tadi, Mizumachi memaksa Shun untuk tidak pulang—dan memang tidak akan pulang, tapi Shun menyimpannya dalam hati—dan mengusulkan untuk menginap di rumah Kobanzame yang kebetulan sedang kosong. Rencana tersebut langsung disetujui oleh Ohira dan Onishi yang ikut memohon kepada Kobanzame agar dibolehkan menginap. Menjadi dirinya sendiri, Kobanzame hanya tertawa pasrah dan mengiyakan karena tidak punya pilihan lain. Lagipula, dia juga sangat merindukan momen seperti ini, dimana formasi tim masih lengkap seperti dulu.

Jadi, di sinilah Shun berada. Ia sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sambil menunggu Mizumachi mandi sambil mendengarkan—lebih tepatnya, dipaksa mendengar dan memperhatikan—si Menara Kembar Ohira dan Onishi dan juga Kobanzame. Rencananya, anggota Poseidon lain pun akan datang menyusul. Bahkan sekarang Maki tengah menjemput sahabatnya, Otohime, agar dia tidak menjadi satu-satunya perempuan di rumah Kobanzame.

"Kakei-kun!" suara seorang gadis yang masih familiar di telinganya membuat Shun mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Ia agak lega juga karena ada seseorang yang menginterupsinya sehingga ia tidak perlu mendengarkan celotehan orang yang mengaku muridnya itu. Dia melihat seorang anak perempuan dengan rambut dikucir satu baru saja melepas sepatunya yang diikuti oleh Maki di belakangnya. "Ohisashiburidesune!"

Belum sempat Shun membalas sapaan anak itu, Mizumachi merebut gilirannya dan langsung menyapa dengan riang, "Otohime-chan! Nhaa akhirnya datang juga!"

"Mizumachi-chi!" seru anak yang bernama Otohime itu tak kalah riang. Tidak heran kenapa ia bisa menjadi kapten cheers Kyoshin Poseidon. Jadilah mereka pasangan paling periang dan sekarang malah asyik dengan dunia mereka sendiri yang tidak pernah bisa dimasuki oleh Shun.

"Hei." Kali ini, Maki yang menepuk bahunya. Selain dirinya sendiri, Maki Shibuya adalah satu orang lagi yang tidak akan bisa masuk ke dalam dunia Mizumachi-Otohime-Ohira-Onishi-seluruh Poseidon. Maka ketika di situasi begini—geng huru-hara sedang merusuh, otomatis hanya tersisa Shun dan Maki yang terpojokkan. "Mungkin lebih baik kita keluar saja, Kakei-kun."

"Ya, benar," jawab Shun sambil mengangguk. Ia melempar handuknya ke kursi dan mengikuti Maki yang sudah melangkah menuju teras depan rumah Kobanzame.

Mereka berdua pun duduk berdampingan. Suara ricuh di dalam sudah mulai terdengar samar karena terbatasi oleh tembok rumah dan jarak yang memisahkan lebih jauh dari sebelumnya. Meskipun tidak sepenuhnya sunyi, suasana begini sudah cukup bagi keduanya.

Hening menyapa hanya sebentar karena anak perempuan berambut cokelat terang itu langsung membuka topik. "Kau sedang apa di Tokyo? Nggak biasanya seorang Shun Kakei bertamasya tanpa kepentingan di waktu seperti ini."

Shun tersenyum kecil mendengar pertanyaan berikut pernyataan dari mantan manajernya. Maki itu bagaikan dirinya dalam bentuk wanita. Dingin dan blak-blakan, to the point. "Kau tidak akan percaya jika aku mengatakan ini, Shibuya."

"Memangnya apa?" tanya Maki spontan. Anak perempuan yang gila dandan itu sudah menghadap ke arahnya, menatapnya dengan penuh rasa penasaran.

"Kau pasti ingat bahwa aku tidak pernah setuju Kaa-san menikah lagi. Tapi, apa boleh buat, makanya aku pindah." Shun mulai membuka ceritanya. Ia yakin malam ini adalah rekor terbanyaknya ia berbicara dengan seseorang. "Dan kau tahu, setelah pernikahan itu, aku bertemu dengan Eyeshield. Eyeshield 21 asli yang pernah kutemui di Amerika."

Maki tampak semakin tertarik dengan cerita ini. Lagi, ia bertanya langsung. "Eyeshield yang itu? Bagaimana?"

"Hal paling lucu yang pernah terjadi kepadaku yaitu mengetahui bahwa kakak tiriku adalah Eyeshield 21 yang selama ini aku cari." Shun menertawakan dirinya sendiri dalam hati, sementara ia bisa melihat ekspresi wajah gadis beriris zamrud itu kaget total. Semua orang yang melihat betapa gilanya dia mencari Eyeshield saat dulu pun pasti akan sama terkejutnya jika mengetahui fakta ini. "Iya, namanya Takeru Yamato. Dialah Eyeshield 21 asli asal Notre Dame yang selama ini kucari. Dan, ya, dia adalah kakak tiriku."

Tidak disangkanya bahwa Maki akan tertawa sangat puas sambil menggelengkan kepalanya. Masih dengan raut wajah tidak percaya yang berubah menjadi tertawa puas mendengar sesuatu yang lucu. "GILA! Yang benar saja?! Selama ini kau cari dia sampai ke ujung dunia dan ternyata dia adalah kakak tirimu? Shun Kakei, kau benar-benar orang yang beruntung!"

"Mungkin," jawab Shun, ragu oleh kalimatnya sendiri. Maki sudah berhenti tertawa begitu nada suara laki-laki jangkung itu berubah menjadi lebih serius. "Tidak selamanya mengetahui bahwa aku adalah adik dari Eyeshied 21 itu menyenangkan."

Anak perempuan di sampingnya itu kini tidak mengeluarkan kata-kata apapun, pertanda mempersilakan dirinya untuk bercerita lebih lengkap. Shun, untuk kesekian kalinya, menghela napas panjang.

"Menjadi adik dari Eyeshield 21 asli berarti aku akan selalu berada di bawah bayang-bayangnya. Menjadi adik dari Eyeshield 21 asli berarti aku harus siap kecewa jika aku tidak bisa setidaknya menyamai kemampuannya. Menjadi adik dari Eyeshield 21 asli berarti aku harus merasakan rasanya tidak percaya diri setiap saat," lanjutnya lagi. Entah kenapa, perkataan yang barusan diucapnya membuat sebagian dari beban di dadanya perlahan hilang bagai tertiup angin. "Kautahu, Shibuya? Di Teikoku, ada banyak tingkatan tim. Ada tujuh. Dan yang biasa diturunkan ke lapangan adalah pemain Tim Satu. Untuk menjadi anggota Tim Satu, kau harus terus naik. Awal masuk, kau berada di Tim Tujuh. Jika kau tidak mampu mengembangkan diri, selamanya kau akan berada di bawah. Dan sampai saat ini, aku hanya bisa mencapai Tim Dia. Sedangkan kakakku naik ke Tim Satu pada hari yang sama dimana dia baru saja bergabung."

Kali ini, Maki memberanikan diri untuk menepuk-nepuk pelan bahu Shun. Anak perempuan beriris sejernih zamrud itu tersenyum menenangkan. "Aku tahu Kakei-kun memang ambisius. Tidak heran kenapa kau malah menjadi kacau ketika menjadi adik tiri dari Eyeshield 21. Tapi, kalian kan memang tidak sedarah. Jika kalian memiliki perbedaan fisik yang berbeda seharusnya wajar saja."

"Tidak ada yang tahu kami adalah adik-kakak selain Tim Satu. Aku sengaja memintanya untuk tutup mulut. Bahkan, aku masih memakai nama marga Kakei di sekolah," timpal Shun membuat gadis di sebelahnya kembali memasang ekspresi terkejut. "Aku juga tidak akan memberitahunya kepada yang lain. Cukup kau saja dulu."

"Ckckck." Maki berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Kau ini benar-benar, ya. Tidak mau mengakui kakakmu sendiri. Tapi, aku bisa paham, kok. Entah rasanya seperti tidak sudi berada di bawah bayang-bayang saudaramu sendiri. Itu wajar, apalagi kau memang ambisius dan keras kepala. Oh, ya, dan juga gengsimu yang mengalahkan tinggi bangunan sekolah kita."

Shun hanya terkekeh kecil mendengar ocehan mantan manajernya, dalam hati mengiyakan perkataan itu diam-diam.

"Kalau aku boleh memberimu masukan…." Maki menggantung kalimatnya, tampak berpikir untuk menemukan rangkaian kata yang cocok untuk diucapkannya. "Ada baiknya jika kau sedikit menurunkan ego dan gengsimu, Kakei-kun. Sedikiiit saja. Cobalah untuk menerima bahwa kau adalah adik dari Eyeshield 21. Aku tahu kau pasti sudah menerima Takeru Yamato sebagai kakak. Sekarang, cobalah untuk menerima Eyeshield 21 itu sendiri sebagai kakakmu. Tidak ada yang salah dengan memiliki kemampuan dan fisik yang berbeda. Lagipula, kalian tidak punya hubungan darah. Tidak mengherankan jika kalian memiliki kemampuan yang berbeda jauh."

Serangkaian kalimat yang dikatakan Maki memang benar. Shun merasa lega ketika akhirnya ada yang mau mendengarkan keluhannya. Dia terlalu takut kecewa. Takut kecewa karena tidak bisa seperti kakaknya. Takut dipandang sebelah mata. Dan segala ketakutan lainnya yang membuatnya tidak percaya diri. Dulu, dia adalah seorang Shun Kakei yang percaya diri akan kemampuannya. Tidak seharusnya kepercayaan itu luntur dan membuatnya minder dan lari dari kenyataan.

Shun mengangguk, menyetujui saran dari Maki. Ia seperti mendapat jawaban dari segala gundah gulananya selama ini. Tidak sia-sia ia kabur ke Tokyo, bertemu dengan mantan rekan satu timnya, dan menceritakan sebagian masalahnya kepada mantan manajernya.

Untuk pertama kalinya, dia bisa tersenyum. Sepuas ini. Selega ini.

.

.

to be continued—

.

.


.

a/n

Cuma mau bilang. Maaf ya setelah tiga tahun hilang, kembali dengan chapter yang memboshankan. Makanya double update biar ga makin mengecewakan. Cus ke next chap!