"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I only own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Semi-incest BL

Plot-bunnies(?)

And others

.

.

shunshines

.

.


.

.

Shun cukup bersenang-senang dengan kawan lamanya di Kyoshin dua hari ini. Ia agak sedikit mengesampingkan rasa gundah gulana yang menyelimutinya sejak ia menapakkan kaki di Osaka begitu ia menghirup udara Tokyo, dan bahkan dipertemukan dengan teman-teman seperjuangannya di Kyoshin. Ia merindukan kegaduhan yang sering dibuat oleh Mizumachi, kebisingan yang berasal dari dua orang yang mengaku muridnya, Ohira dan Onishi, lalu kapten Kobanzame yang selalu berusaha menenangkan namun tidak pernah berhasil sampai detik ini, juga omelan Maki, sang manajer yang merangkap sahabat terbaiknya setelah Mizumachi.

Dan kini, masih di kediaman Kobanzame, mereka tengah menikmati kebersamaan yang hilang tiga bulan ke belakang. Pagi ini, duo Ohira dan Onishi tengah berlomba membuat masakan terenak untuk tamu spesial Shun Kakei, dengan Mizumachi sebagai supervisor yang tidak bisa disebut sebagai pengawas, lalu Kobanzame yang pasrah dapurnya diinvasi oleh tiga makhluk aneh tersebut.

"A-anu… jaga baik-baik piringnya ya. itu piring favoritku…"

"Akulah koki terhebat untuk Kakei sensei!"

"Tidak! Gelar koki terhebat dengan masakan terenak itu untuk aku, murid sejati Kakei!"

"Nhaa~ piring bunga-bunga ini kesukaan Kobanzame senpai? Wah, ayo bertengkar dan keluarkan pemenangnya!"

"Pancinya jangan dirusak aku belum selesai mencicil kredit pancinya—"

Shun hanya terkekeh kecil mendengar kegaduhan yang berasal dari dapur itu. Ia tengah duduk di kursi meja makan yang berbeda ruangan dari dapur, menuruti keinginan teman-temannya untuk menunggu hidangan yang akan disajikan untuknya. Ternyata, hal yang selalu membuat kepalanya pusing dulu adalah hal yang membuatnya rindu dan dapat melegakan hatinya sekarang.

"Ehem, Kakei-kun," panggil Maki sambil berdehem. "Aku jadi canggung memanggilmu dengan marga yang dulu."

"Lebih canggung mana jika kau memanggilku dengan nama yang sama seperti ace Teikoku itu?"

"Yang kedua hanya akan membuatku tertawa," gurau gadis berhelai cokelat tersebut. "Tidak, tidak. Baiklah, Kakei-kun, jadi bagaimana perasaanmu?"

Ah, ya. Setelah menceritakan apa yang telah terjadi selama tiga bulan kebelakang kepada manajernya, Shun merasa lebih baik. Setidaknya ada di dunia ini orang yang mengerti tentang perasaannya. Shun tidak menceritakan perasaan khusus yang ia simpan kepada Takeru. Tanpa harus menceritakan bagian terburuknya, Maki sudah mengerti bahwa ia kesusahan.

"Baik," balas Shun singkat. Ia menyilangkan tangannya di dada. "Setidaknya ada yang mengerti bahwa aku tengah kesulitan menjadi adik tiri seorang Eyeshield 21."

"Sampai kapan kau akan merahasiakan itu kepada anak Kyoshin lainnya?" Tanya Maki pelan. Meskipun dengan volume biasa pun orang-orang rusuh di dapur itu tidak akan mendengarnya. "Mizumachi?"

"Sampai identitas Eyeshield 21 dibongkar nanti," ujar anak laki-laki itu sambil menghela napas. "Mizumachi. Tanpa kujelaskan dia sudah tahu. Dia lebih tahu banyak daripada kau. Dia yang tahu benar hubunganku yang dulu dengan Takeru—maksudku, Eyeshield dan seberapa besar kemauanku untuk bertemu dengan Eyeshield."

Maki tertawa kecil. Ia mengangguk paham. "Dan betapa Tuhan menyayangimu sehingga kau mendapat lebih dari apa yang kauharapkan."

"Ah, ya, entah itu sebuah berkat atau sebuah musibah, aku masih belum tahu."

Shun mengatakannya dengan nada sedatar mungkin, namun Maki sudah tertawa akibatnya. Entah selera humornya yang rendah atau Shun mengatakan sarkasme tersebut dalam situasi dan kondisi yang sangat tepat, Shun tidak tahu.

"Tapi, serius, Kakei-kun." Ujar Maki setelah selesai tertawa. "Aku tahu ini sulit. Sangat sulit. Namun, kau harus bisa menerimanya. Entah itu berkat atau musibah katamu, itu adalah nasibmu. Yang perlu kaulakukan adalah menerima, menghadapi, dan menjalaninya."

Shun mengiyakan dalam hati dengan suara terkeras yang ia bisa. Ia mulai berlarut dalam pikirannya. Masalah yang ia tinggalkan di Osaka tidak bisa ia tinggalkan selamanya. Tempat berpulangnya adalah di Osaka. Rumahnya sekarang, ibunya, kakak dan ayah tirinya, dan tentu saja kehidupannya sekarang ada di Osaka. Cepat atau lambat, Shun pasti akan menemui mereka lagi.

Ia tidak sadar sudah melamun lagi ketika teman-temannya kembali dari dapur dan menghidangkan makanan—yang entah rasanya seperti apa—di meja. Setelah dipaksa untuk mencicipi dan menilai masakan siapa yang lebih enak, Shun akhirnya tersenyum lagi.

"Itadakimasu!"

Sesi lomba yang tidak ada pemenangnya pun selesai, lalu dilanjut dengan acara makan pagi bersama. Meskipun rasanya tidak ada yang bagus-bagus amat, setidaknya ada makanan yang bisa dimakan. Nanti siang atau sore mereka bersumpah akan membeli makanan yang lebih enak khusus untuk tamu special.

Di tengah makan yang heboh, Shun mendadak tidak berselera makan. Bukan karena rasanya yang hambar, tapi ada perasaan lain yang menusuk ke dadanya dan menyebabkan perutnya tidak ingin mencerna lagi. Ia susah payah menelan makanannya, tidak sadar sedang melamun karena perasaan aneh yang menggerogoti dadanya saat itu sangat mengganggunya.

Shun pun cepat-cepat meneguk air dari gelasnya, lalu bergegas mencari handphone-nya yang berada di tasnya. Firasat buruknya mengatakan bahwa ia harus segera mengaktifkan benda elektronik yang ia matikan dari sejak ia berangkat ke Tokyo.

Sambil menyalakan kembali handphone-nya, Shun menggigit bibirnya gelisah. Ketika handphone itu menyala, pemberitahuan panggilan masuk dan e-mail langsung datang sampai berjumlah ratusan. Dengan jari yang bergetar, Shun berusaha membuka satu e-mail terbaru. Namun, belum sempat ia melakukannya, layarnya berganti dan handphone-nya berdering menandakan ada panggilan masuk.

Takeru Yamato is calling

KLIK

"H-halo?"

"Kau dimana?"

Suara Takeru tidak seramah biasanya. Nada suaranya terkesan marah dan sedikit panik, membuat firasat Shun semakin tidak enak.

"Ada apa?"

"Cepat pulang. Sekarang. Ayahmu semalam menemui Kaa-san. Sekarang Kaa-san dirawat di rumah sakit. Kau harus pulang sekarang."

DEG

Shun merasa detak jantungnya absen satu ketukan. Hatinya mencelos dan mendadak seluruh badannya lemas. Ia jatuh terduduk dengan tangan masih menggenggam erat ponselnya. Ia tidak bisa berpikir jernih. Bahkan berpikir untuk bernapas pun tidak.

"Shun? Kau disana? Halo?"

Shun mengambil napas pelan. Dadanya sangat sesak karena ia lupa bernapas beberapa detik yang lalu. Ia menggigit bibir bawahnya, memejamkan matanya erat.

Tou-san?

Suara Takeru yang terus-terusan memanggilnya dari seberang sana membuat Shun tersadar dari syoknya. Ia harus segera pulang. Detik ini juga ia harus segera ke Osaka. Tidak peduli perasaannya yang masih kacau, ia harus menemui ibunya sekarang juga.

"A-aku akan pulang sekarang," ujar Shun terbata-bata, masih dalam kondisi syoknya. Ia mematikan sambungan HP-nya lalu menyelipkan ponsel tersebut ke saku celananya. Ia mengambil semua barangnya yang ada disana dengan cepat lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah yakin tidak ada satupun yang tertinggal, Shun melesat dengan terburu-buru ke luar rumah sambil berpamitan.

"Kakei! Ada apa? Kenapa buru-buru seperti itu?" Tanya Mizumachi sambil menghampiri Shun yang tengah memakai sepatunya. "Kau bahkan belum beres makan!"

"Ada sesuatu yang penting terjadi. Aku harus segera pulang," balas Shun cepat dalam satu tarikan napas. "Terimakasih sudah mau menampungku. Maaf aku tidak bisa berlama-lama."

Belum sempat ia menarik napas lagi, ia sudah berlari menuju stasiun kereta yang tidak jauh dari rumah Kobanzame. Ia sempat mendengar teman-temannya yang lain memanggilnya dengan nada khawatir, tapi ia tidak usah repot memikirkannya karena ia sudah pamit. Sekarang, ada hal yang jauh lebih penting untuknya.

Sangat penting bagi Shun sampai ia melupakan kegundahan yang disebabkan oleh keluarga barunya.


.

.

Shun berlari secepat yang ia bisa. Berkali-kali ia menyenggol orang yang berjalan berlawanan arah, namun ia tidak peduli untuk berhenti sejenak dan meminta maaf. Seandainya step yang dilatihnya lebih keras, mungkin ia bisa menghindari semua orang tanpa menabraknya saat dia berlari tadi.

Akhirnya, rumah sakit yang dimaksud Takeru pun sudah ada di hadapannya. Shun mempercepat langkahnya dan pergi ke ruangan yang sudah diberitahu oleh kakaknya. Entah mana yang lebih mendominasi, detak jantung cepat akibat perasaan tidak enak yang bersarang di dadanya atau karena ia sudah berlari terus-terusan, Shun tidak tahu.

"Haahh… haahh…" Shun berusaha mengambil napas begitu ia sampai di kamar dimana ibunya dirawat. Di sana terlihat Takeru yang berdiri mondar-mandir dan ayah mereka yang baru keluar dari ruangan.

"Shun!" panggil ayah tirinya dengan nada lega. Takeru berhenti berjalan mondar-mandir dan menatapnya tajam. "Akhirnya, ibumu ingin segera bertemu denganmu. Ayo masuk."

"H-hai, Tou-san," balas Shun sambil mengangguk patuh. Ia menunduk, berusaha menghindari tatapan kakaknya yang terpaku pada dirinya sampai ia masuk kamar. Ia tidak berani menatap kakaknya jika Takeru sedang marah seperti itu.

"Kaa-san!" panggil Shun begitu ia melihat ibunya yang terbaring di kasur rumah sakit, lengkap dengan alat infus yang menusuk pembuluh darahnya. Ia terkesiap begitu menemukan beberapa bekas luka di kepala dan lengan ibunya. "Kaa-san! Apa yang terjadi?"

Shun memeluk Haru Kakei erat. Ia menggenggam tangan ibunya yang bebas dari infus lalu air matanya jatuh ke pipi seketika. "Apa yang dia lakukan, hah?"

"Ini hanya luka kecil, Shun," balas Haru dengan suara parau. Ia mengelus helai indigo milik anak laki-lakinya, persis dengan warna rambutnya. "Kaa-san hanya kaget dengan kedatangan ayahmu. Itu sebabnya Kaa-san pingsan dan dirawat di sini."

"Dia bukan ayahku lagi," balas Shun di sela tangisannya. Ketakutannya kini terjadi. Hal yang lebih ditakutkannya, ketika ayah kandungnya datang kembali dan memulai kekerasan seperti yang terjadi enam tahun silam kepada ibunya. Ia tidak mengira akan terjadi di situasi yang sangat sulit seperti ini. "Kaa-san, jangan khawatir karena aku sekarang sudah pulang. Aku akan menjaga Kaa-san. Kaa-san tidak boleh terluka lagi."

Shun menghabiskan lima belas menit memeluk erat ibunya, takut tiba-tiba ayah sialannya datang kembali untuk memukuli ibunya. Ia takut jika ia melepas pelukannya dan ia lengah, ibunya akan berhadapan lagi dengan ayahnya yang gemar bermain fisik. Ia takut jika ibunya harus melawan ayahnya sendirian, padahal Shun berjanji selama enam tahun setelah perceraian itu, ia akan berada di samping ibunya dan melindungi orang yang sudah mengantarnya ke dunia itu bagaimanapun caranya.

Shun menidurkan Haru kembali di kasurnya, lalu menyelimuti tubuh ibunya. Ia mengelus kepala cinta pertamanya di dunia itu, kemudian mengecup keningnya. Setelah itu, ia bangkit dan berjalan ke luar kamar untuk mencari udara segar.

Namun, niatnya untuk menenangkan diri ternyata tidak disetujui. Baru saja Shun menutup pintu kamarnya, Takeru menggenggam tangannya, membuatnya agak terlonjak dan menatap mata kakaknya dengan takut-takut.

"Ikut aku. Kita perlu bicara banyak."


.

.

Takeru duduk tegak sambil menyilangkan tangannya di dada. Ia menatap adiknya lurus dengan tatapan tertajam yang ia miliki. Sementara Shun duduk di seberangnya, cukup beruntung karena ada meja yang menjadi pemisah mereka berdua. Ia menunduk, hanya membiarkan kedua tangannya yang berada di atas paha menjadi satu-satunya objek yang bisa dia lihat.

Dan disinilah mereka, di ruang tunggu rumah sakit yang sepi, memungkinkan Takeru untuk berbicara empat mata dengan adiknya.

"Jadi, bisa kaujelaskan apa yang sudah kaulakukan dua hari ke belakang?" pertanyaan Takeru memecah sunyi di antara mereka. "Tiba-tiba pergi, mematikan HP sampai tidak ada yang bisa menghubungimu?"

Shun mengangkat kepalanya perlahan. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu mengepalkan tangannya yang berkeringat dingin. Ia berhasil menatap sepasang iris cokelat itu dengan susah payah. Rasa takut karena bersalah pun menggerayangi dadanya lebih banyak dari yang sebelumnya.

"T-Tokyo," jawab Shun tergagap. Ia meneguk liurnya dengan susah dan berat. Tidak kuat beradu tatap dengan kakaknya, anak laki-laki berhelai indigo ini pun mengalihkan pandangannya.

"Tch." Shun bisa mendengar Takeru berdecih, lalu terkekeh sangat pelan dengan nada mengejek. "Ah ya, aku tidak peduli apa saja yang kaulakukan di Tokyo. Yang aku pedulikan hanya, kenapa kau baru ingin pulang ketika ada masalah seperti ini?"

Shun tidak langsung menjawab. Ia ingin sekali berkata bahwa ia ingin bertemu ibunya, tentu saja. Tapi lidahnya kelu dan sisi lain otaknya mengatakan bahwa ia harus tutup mulut.

"Oh, aku tahu," ujar Takeru, mengubah posisinya menjadi duduk tegak dan bertumpu tangan di meja. "Karena kau ingin bertemu Kaa-san. Kau takut karena ayahmu yang dulu datang lagi dan mengganggunya saat kau tidak ada. Benar, kan? Jangankan aku, orang paling tolol pun bisa menebak alasanmu."

Perlahan, Shun mengangguk sambil sesekali menggigit bibir bawahnya. Ia menundukkan pandangannya, menemukan tangannya masih terkepal dengan keringat dingin membanjiri. Tak beberapa lama, kakak tiri dengan julukan Eyeshield 21 itu kembali menyambung pertanyaannya tadi.
"Jadi, kau hanya akan kembali jika keluarga ini terkena masalah? Tidak—mungkin hanya keluarga sedarah karena aku dan Tou-san tidak punya hubungan darah sama sekali denganmu. Jika Tou-san yang ada di ranjang rumah sakit sekarang, kau pun tidak akan datang meskipun aku menelpon dan menyusulmu terus-terusan."

Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Takeru membuat Shun kembali mengangkat wajah dan menatap lurus ke arah mata kakaknya. Ia ingin sekali menolak mentah-mentah ucapan tersebut karena tuduhan kakak tirinya itu sangat tidak masuk akal. Namun, lagi-lagi ia tercekat dan tidak bisa mengeluarkan kata apapun.

"Kenapa? Kau tidak bisa menerima keluarga ini? Kau kabur dengan mudahnya sedangkan aku susah payah membangun ikatan keluarga ini denganmu. Kau tidak mau mendengarku. Kau egois, benar, kau sangat egois karena dengan mudah kau pergi dari rumah, lalu kembali setelah ibu kandungmu terluka." Takeru bisa melihat perubahan raut wajah Shun yang terkejut mendengar perkataannya. Ia tidak peduli. "Jika bukan karena ibu kandungmu yang sakit, apa kau akan kembali ke rumah? Tidak, tentu saja. Karena kau tidak pernah mendengarku. Kau tidak menuruti perintahku untuk pulang. Lantas kenapa? Kenapa kau sangat ingin menghindariku, menghindari keluarga kita, menghindari semua masalahmu di Osaka, dan bahkan kekasihmu—"

"Karena aku menyukaimu!"

Shun tak bisa menahan emosinya lagi. Air mata kembali jatuh dari sudut matanya. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri, agak puas sudah membuat kakaknya terdiam. Setelah sekian lama, dia memendam perasaan yang cukup menyakitkan ini dan akhirnya ia berhasil meluapkannya.

Sungguh, rasanya perasaan yang lama-lama membuatnya muak ini seperti melepas bendungannya sehingga kelegaan datang begitu cepatnya.

Keduanya sama-sama menciptakan hening. Takeru menatap Shun tidak percaya, benar-benar tidak memercayai suara yang masuk ke dalam telinganya. Suara Shun, menyatakan perasaannya dengan cepat dan singkat, membuat Takeru ingin mengunjungi dokter THT untuk memeriksakan telinganya barangkali memang bermasalah di sana.

"Kau menuduhku tapi kau sendiri tidak bisa memahami perasaanku. Aku pun tidak mau menjelaskannya karena ini rumit," lanjut Shun lalu mengambil napas. Ia hampir terisak, lalu segera menghapus air mata dengan lengannya, namun gagal karena air tersebut jatuh lagi. "Kali ini siapa yang egois? Kau bahkan tidak berpikir tentang perasaanku. Kau bahkan tidak mengerti aku kesusahan karena aku menyayangimu lebih dari perasaan seorang adik yang seharusnya."

Kali ini, Takeru baru mempercayai bahwa ia tidak salah dengar.

Untuk beberapa saat, Shun masih menangis dan Takeru baru selesai memproses apa yang telah dikatakan Shun di otaknya yang tidak berfungsi dengan baik mengenai masalah ini. Tanpa menunggu apa-apa lagi, ia berdiri lalu menghampiri adiknya yang sedang susah payah menghapus air matanya.

"Sudahlah, anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa," ujar Shun dengan suara parau. Ia menghindari tatapan kakaknya, lalu bangkit dengan memutar arah. Sudah saatnya ia bertingkah seperti seharusnya. Menghadapi kenyataan bahwa ia hanyalah adik seorang Takeru Yamato. Ia bukan seseorang yang bisa menggantikan Taka Honjo. Meskipun sebenarnya, ia memiliki posisi yang lebih berharga dari Taka, yaitu sebagai seorang adik.

"Anggap saja tidak ada pembicaraan ini di antara kita,okay?"

Shun sudah dua langkah menjauhi Takeru, namun langkahnya terhenti karena lengannya ditahan oleh sang kakak. Ia mau akan berbalik untuk menyentak anak laki-laki tersebut agar melepaskan lengannya, namun Shun kalah cepat karena Takeru langsung mencium bibirnya.

Takeru menempelkan bibirnya dengan bibir Shun lama. Ciumannya tidak lebih dari sekadar kecupan. Namun, ia mencium adiknya dengan perasaan paling tulus yang ia punya. Ia bahkan tidak peduli bahwa Shun tidak membalas ciumannya karena harapannya hanya satu; membuat Shun tahu bahwa dia juga mencintainya.

Setelah beberapa detik, Takeru baru mau membuka mata dan melepaskan ciumannya. Ia menatap adiknya, mendapati pemandangan pipi Shun yang memerah. Dia pun tersenyum lembut, lalu mengelus rambut indigo Shun. Betapa ia merindukan memainkannya seperti yang biasa ia lakukan.

"Tidak ada yang perlu dilupakan, pembicaraan kita," ujar Takeru, membuat Shun kembali menatap kedua irisnya. "Aku mendengar semuanya dan aku mengerti perasaanmu sekarang. Aku akan belajar memahaminya lebih dalam, Shun Kakei."

Shun merasa sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia merasa hatinya terbang setinggi yang ia bisa ketika mendengar Takeru memanggil namanya dengan marganya yang dulu. Ia mungkin membenci sikap ayah kandungnya dulu yang anarkis, namun ia tidak menyesal mendapat nama Kakei sebagai nama lahirnya. Ia menemukan kebanggaan sendiri menyandang marga Kakei daripada Yamato.

Untuk pertama kalinya, Shun merasa sangat tenang. Ia merasa aman karena ia mendapat seseorang yang bisa dijadikan sandaran. Hanya Takeru yang bisa membuatnya merasa seperti itu, setelah sekian lama dalam penantiannya. Jadi dia tidak menolak, malah membalas ketika Takeru menarik badannya ke dalam pelukannya, lalu bersandar di dada orang spesial di hidupnya itu.

Setidaknya, di dalam pelukan Takeru, Shun merasa bebannya hilang begitu saja. Dan juga, ia merasa sangat nyaman.

.

.

to be continued—

.

.


.

a/n

HAI KELYAAANNNNNNNN

Tenang, meskipun aku heeyatoz 3 taun sampai membuat kalian readers lupa pernah nungguin ff ini, aku gaakan discontinue ini. Janji. Janji banget huhuhuuh.

Ini adalah proyek fanfic yamakakei terbesarku sejak dulu. Gabakal aku lepas begitu aja. Huhu. Nyari idenya tuh sampai bertahun-tahun. Mencari jalan cerita dan ending yang cocok buat mereka.

Dan yes, disinilah aku memberi kalian asupan lagi (?) DENGAN SANGAT OOC-NYA OK MAAF SILAKAN HUJAT AKU

Yaudah sekian dulu. Sampai jumpa di chapter selanjoetnya :*