"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I only own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Semi-incest BL

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines

.

.


.

.

Shun mau pun Takeru sama-sama setuju untuk tidak memberitahu teman-teman mereka mengenai Haru yang dirawat di rumah sakit. Lagipula, proses pemulihannya tidak lama, hanya butuh dua hari sampai akhirnya ibu mereka pun dipulangkan. Dan kini keduanya sudah menjalani hari seperti biasa, terutama untuk Shun.

Ingatan tentang kejadian saat dia baru datang menjenguk ibunya di rumah sakit masih membayangi pikiran Shun. Selama di rumah sakit, ia dan Takeru tidak membicarakan apapun tentang pernyataan cinta itu. Selesai berpelukan, selesai sudah semuanya. Tidak ada yang memulai untuk membahas.

Katakanlah bahwa ia brengsek karena ia hampir melupakan bahwa dirinya sendiri masih dimiliki seseorang. Shun tidak bisa berpikir jernih kala itu. Jangankan mengingat Akaba, merangkai kata untuk membela diri dan menjelaskan pikiran dan perasaannya saja ia tidak mampu. Kata-kata itu, bahkan ciuman itu, semuanya di luar kendalinya. Shun merasa sangat bersalah kepada kekasihnya. Dia sudah tidak mengabari Akaba selama berhari-hari, terakhir adalah ketika dia menyampaikan pesan untuk tidak mengkhawatirkannya selama pelariannya ke Tokyo. Dan kemarin, ia malah berciuman dengan kakaknya sendiri.

Shun merasa menjadi manusia paling jahat, meskipun ia kenal banyak manusia yang lebih kejam darinya, namun ini berbeda.

Ah, omong-omong tentang belum mengabari Akaba, Shun pun langsung meraih handphone yang tergeletak di atas meja. Terakhir kalinya ia menggunakan ponsel itu adalah saat Takeru menelponnya kemarin pagi ketika ia masih di Tokyo. Ponselnya malah agak berdebu sekarang. Sebenarnya, Takeru sudah mengabari Akaba bahwa Shun sudah pulang karena adiknya itu tidak ingin diganggu siapa-siapa kecuali keluarganya, bahkan pacarnya sendiri. Shun sendiri takjub karena mereka berdua menjadi dekat ketika ia kabur dari rumah.

Personifikasi langit ini pun tidak menunggu lebih lama untuk menelpon si Laba-Laba Merah itu. Ia menggigit bibir bawahnya, memagut dagunya sendiri sambil kakinya mengetuk-ngetuk lantai tidak sabar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Harus Shun akui bahwa dia merasa takut. Takut jika Akaba marah kepadanya dan dia tidak bisa melakukan apa-apa karena memang seratus persen salahnya membuat masalah.

KLIK

Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika suara Akaba terdengar dari seberang.

"Ya?"

Sial. Hayato marah. Benar dugaannya tadi. "Hayato, maaf baru menghubungimu seka—"

'Kemana saja kamu?' Akaba tidak biasanya memotong kalimat Shun. Bisa dipastikan bahwa pemuda itu pasti benar-benar marah sekarang.

"A-aku ke Tokyo, kemarin. Maaf aku baru mengabarimu sekarang. Sorry…"

Shun tidak sadar sedari tadi ia mondar-mandir di dalam kamarnya sendiri. Ia agak takut mendengar respon Eyeshield 21 Kanto itu selanjutnya.

'Nggak usah repot meneleponku sekarang. Kakak kesayanganmu sudah memberitahuku duluan. Aku nggak penting, kan?'

"Nggak begitu, Hayato!" Shun memejamkan matanya, lalu menghela napas frustasi. "Ya aku minta maaf… aku bisa jelaskan. Aku nggak pegang HP dari kemarin. I'm sorry, Hayato…."

'Ya sudahlah. Terserah kamu saja.'

KLIK

"Aaargh," gerutu Shun sambil mengacak rambutnya. Ia melempar ponselnya ke kasur dengan kesal. Masalah yang kemarin sudah selesai dan sekarang masalah baru pun muncul, ia bertengkar dengan Akaba. Dan lebih parahnya, ini semua karena salahnya sendiri. Ia tahu benar bahwa kekasihnya itu sangat penyabar, lebih sabar dari kakaknya malah, dan ketika marah seperti ini maka level menakutkannya lebih parah. Shun tidak bisa membayangkan jika tidak dikabari berhari-hari saja Akaba bisa seperti ini, apalagi jika mengetahui tentang dirinya yang berciuman dengan Takeru. Hal ini membuat laki-laki bersurai indigo tersebut ingin membenturkan kepalanya sendiri sampai hilang ingatan dan semua masalah pun bisa kelar.

Daripada merasa kesal, Shun lebih merasa sangat bersalah. Ia berhasil membuat lelaki nyentrik itu marah paripurna. Ia benci mengecewakan orang, apalagi orang itu adalah pacarnya sendiri.

Mengetahui dengan berdiam diri di kamar tidak membawa ketenangan apapun baginya, Shun pun memutuskan untuk turun dan berjalan-jalan ke luar. Ibunya sedang beristirahat dan tidur siang di kamar bawah, ayahnya pergi ke kantor sebentar untuk rapat mendadak, sedangkan Takeru tadi sedang bermain bersama Mako. Entah sekarang kemana, Shun sedang tidak ingin tahu.

Baru saja mantan pemain Kyoshin ini mau melangkah meraih gagang pintu depan rumah, lengannya ditahan seketika dan membuatnya melonjak kaget.

"For God's damn sake, you scared me!"

"Mau kemana?" Takeru tidak memedulikan sentakan adiknya dan tetap menahan lengan itu. "Don't ever think to runaway again."

Shun memicingkan mata, menyiapkan dirinya yang akan meledak sesaat lagi. "Dasar sok tahu. Aku mau ke luar, ke taman. Nggak boleh? Lagipula, apa aku terlihat membawa tas atau barang lain untuk kabur? Lepaskan aku!"

Takeru pun melepaskan lengan Shun dari genggamannya. Tatapannya yang semula mengintimidasi kini berubah menjadi lebih lembut untuk meredam kemarahan adiknya itu. "Aku ikut kalau begitu."

"Nggak boleh!"

"Itu bukan minta izin, Shun. Itu pernyataan dan itu absolut!"

Harusnya Shun tahu bahwa seumur hidupnya, ia tidak akan pernah menang debat lawan si Mulut Manis Takeru Yamato. Lelaki itu pun hanya mendengus kesal dan berjalan duluan mendahului kakaknya, membuat Takeru terkekeh puas lalu menyusul adiknya di depan.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan dan berakhir di taman sesuai yang tadi dikatakan Shun. Di dalam hatinya, Shun merutuki Takeru yang ngotot ikut sehingga mengganggu dirinya yang butuh sendiri. Rencananya kesini adalah menenangkan diri karena pertengkarannya tadi dengan Akaba, namun si sulung Yamato itu merusak segalanya dengan sempurna. Shun tidak punya pilihan lain selain membiarkannya ikut dan akhirnya di sinilah mereka, duduk berdua dan bersebelahan di taman yang tidak jauh dari rumah mereka.

Memutuskan untuk mencoba melupakan kehadiran Takeru di sebelahnya, Shun pun menenggelamkan diri dalam pikirannya. Ia menatap lurus ke depan, ke arah air mancur kecil, dan membiarkan pikirannya melayang pergi dari sini. Merenung seperti ini adalah rutinitasnya setiap penat hadir. Ketika masih di Kyoshin, ia seperti membagi jadwal dengan Maki untuk berdiam diri di atap sekolahnya yang tinggi. Merenung sambil melihat kota Tokyo dari bangunan sekolahnya atau memandang horison sebagai batas langit dan bumi bisa mengusir pikiran yang mengusiknya.

Shun terlalu sibuk melupakan kehadiran Takeru sampai ia kembali ke dunia nyata karena menyadari bahwa si personifikasi musim gugur itu kini sedang menggenggam tangannya. Mengaitkan jemari mereka dalam genggaman tangan yang hangat. Shun memindahkan pandangannya ke arah tangan mereka berdua yang saling bertaut, tapi tidak berani menengadah untuk menatap ke arah Takeru.

"Aku dan Taka sudah selesai."

Takeru memecah keheningan dengan membuka topik yang paling membuat Shun sensitif sejak berhari-hari yang lalu. Sebagai respon, si bungsu Yamato itu hanya diam, menunggu sang kakak melanjutkan kalimatnya sendiri.

"Aku merasa hatiku sudah semakin bercabang, Shun. Dan aku nggak bisa terus melanjutkannya dengan Taka. Maka aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami." Takeru menghela napas pelan. Ia mengeratkan genggamannya, menatap Shun dari samping meskipun anak itu masih tidak mau melihat ke arahnya. "Aku nggak bisa menjalin hubungan dengannya di saat aku juga mencintai adikku sendiri. Memang nggak adil, tapi lebih nggak adil lagi jika aku memaksakan untuk lanjut bersama Taka dan malah berbohong kepadanya."

Sekelebat ingatan ketika beberapa hari yang lalu hadir. Ingatan ketika Takeru mengajak Taka sepulang sekolah untuk berbicara empat mata di taman SMU Teikoku. Sangat berat untuk mengakhiri hubungannya jika dihitung dari berapa lama mereka menghabiskan waktu bersama, namun dia tidak sampai hati membohongi semua orang termasuk hatinya sendiri. Takeru memang masih menyayangi laki-laki musim salju itu, namun hatinya memilih yang lain.

"Shun, look at me," panggil Takeru sambil mengangkat dagu adiknya agar tatapan mereka beradu. Ia melepas genggaman tangannya dan sekarang ia menangkup pipi Shun sambil sesekali mengelusnya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Shun beku di tempat. Matanya terpaku pada mata Takeru yang menatapnya dalam. Tatapan itu menghangatkan dadanya, namun juga memberikan rasa sesak.

"Someone said, hati itu dipilih, bukan memilih," lanjutnya lagi. Ia tersenyum kecil. "Dan sekarang, dia berhasil dipilih kamu."

Tidak ada yang berani mengeluarkan suara setelah ucapan Takeru, termasuk dirinya sendiri. Matanya beradu dengan Shun, saling mencari kejujuran dan isi hati masing-masing yang sebenarnya. Biru jernih itu berusaha menyembunyikan segalanya, tapi benar kata orang, mata adalah jendela manusia. Lewat mata, tidak akan pernah ada kebohongan yang direka. Lewat mata, tidak akan pernah ada kenyataan yang dipalsukan.

Dan Takeru cukup percaya diri membaca bahwa ada dirinya dalam tatapan Shun.

Lama terasa ia membeku di tempat, Shun perlahan-lahan menggenggam tangan Takeru yang masih setia bertengger di pipinya. Tangan besar itu benar-benar hangat. Ia mengelusnya dengan lembut, sesekali mengecupnya sekilas. Takeru menyadari perubahan ekspresi dan tatapan yang terpancar dari sepasang azzure itu. Tatapan yang berbeda dari sebelumnya, namun sangat sulit untuk diartikan.

"Tapi…." Shun akhirnya angkat bicara, menggantungkan kalimatnya. Mulutnya membuka lagi, kali ini sambil melepaskan tangan Takeru dari pipi dan berhenti menggenggamnya. "Aku … nggak bisa."

Seperti tersambar petir tiba-tiba, Takeru terhenyak, tidak bisa menahan ekspresi muka tidak percaya. "Kenapa?"

"Aku nggak bisa, Niisan." Shun kembali memalingkan wajahnya. Ia menunduk, sudah tidak tahu objek apa yang bisa dijadikan pelarian matanya untuk menghindari Takeru. Menghela napas dalam, ia melanjutkan, "Aku masih punya Akaba. Aku hanya… nggak seberani itu. Dan kita saudara, kakak-adik. Ini… sulit."

Petir kedua kembali menyambar Takeru. Dari sekian ekspektasi tingginya; dari mulai pengakuan cinta, pelukan, ciuman, dan bahkan gesturnya tadi yang sangat lembut, Shun berhasil meruntuhkannya sampai hancur lebur. Padahal, ia sudah yakin tidak salah melihat dan membaca tatapan adiknya tadi. Beberapa detik yang lalu, Takeru bisa melihat dirinya di dalam tatapan Shun. Tapi, kenapa sekarang dia tiba-tiba dibuang?

"Maaf…," bisik Shun, sangat pelan bagai angin. "Tapi… aku juga menyayanginya."

Takeru mengaku kalah telak. Sejak SMP, absolute prediction-nya tidak pernah mendekati kesalahan. Semua yang dikatakannya, diyakininya, dan dijadikan doktrin kepada dirinya sendiri, selalu tepat dan benar. Ia bisa dengan mudahnya menebak strategi lawan dan menjadikan tebakannya menjelma jadi kenyataan.

Sekarang, ia malah terjebak dengan harapan dan jutaan seandainya yang senantiasa hadir menghantui pikirannya.

"Aku nggak bisa memaksamu, Shun." Sampai akhirnya, Takeru memaksakan dirinya untuk bersenyum. Ia merasa sangat pahit. "Tapi satu yang harus kauingat, aku juga menyayangimu, lebih daripada kamu menyayanginya. Dan itu absolut."

Takeru langsung bangkit dari kursi. Berada di sekitar Shun tidak baik saat ini untuk hatinya. Ia tidak bisa melihat adiknya, setidaknya untuk sekarang. Kehancuran yang baru saja melanda membuatnya ingin sendiri, larut dalam renungannya. Rasanya seperti sebuah kesalahan besar.

Takeru tidak mengucapkan sepatah kata apa pun lagi dan pergi begitu saja, meninggalkan Shun sendirian di taman.

Anak lelaki bersurai indigo itu menghela napas, memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya. Shun tidak bohong bahwa satu sisi dalam dirinya menyesal telah menolak Takeru mentah-mentah, tapi satu sisinya yang lain seakan terus memaksanya untuk waras dengan mengingatkan tentang Akaba. Shun tahu bahwa sangat tidak mungkin untuknya memilih dua orang itu dalam waktu yang bersamaan. Hatinya memang sudah bercabang, tapi ia tidak tahu harus ikut kemana. Dan ia tahu, lebih tidak mungkin lagi baginya untuk memilih Takeru.

Seberapa besar keinginannya untuk memilih Takeru, Shun tahu benar, Takeru ada tapi bukan untuknya.


.

.

Pagi ini, dua bersaudara Yamato berangkat dalam keheningan, lagi. Takeru yang menyetir mobil dan Shun yang duduk di sebelahnya, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Shun tidak kaget karena didiamkan kakaknya. Kejadian kemarin bahkan masih melekat di pikirannya, dan tidak mungkin baik untuk Takeru maupun Shun bisa menganggap tidak ada yang terjadi di antara mereka dan bersikap seperti biasa.

Bahkan, ketika mobil sudah diparkirkan pun tidak ada yang inisiatif membuka pembicaraan.

Shun tidak pernah ingin terlihat jalan berdua lagi dengan Takeru semenjak kejadian tempo hari. Terakhir kalinya ia berjalan dengan Takeru, hampir seisi sekolah melihatnya sebagai orang jahat. Mungkin, semua orang akan bisa berpikir lebih logis jika mereka tahu bahwa ia dan Takeru adalah kakak-beradik sekarang, tapi Shun masih tetap tidak ingin identitasnya sebagai adik tiri dari Eyeshield 21 asli terungkap.

Jadi, tanpa berniat untuk izin kepada kakaknya, Shun berjalan meninggalkan Takeru sendirian dan memutar ke taman belakang sekolah.

Tidak disadari olehnya Takeru yang menatap punggung sang adik dengan tatapan sedih dan kehilangan. Sang kaisar hanya menghela napas, memutuskan untuk berjalan langsung masuk koridor daripada menyusul adiknya.

Di lain sisi, Shun berjalan menyusuri taman dengan malas. Ia tiba-tiba teringat dengan Akaba. Si nyentrik itu biasanya datang masuk sekolah lewat taman ini.

Tampaknya Hayato Akaba panjang umur. Baru saja Shun memikirkannya dan bertanya-tanya ia ada dimana, sosok itu terlihat sedang duduk di taman sambil memetik gitarnya. Bel masuk masih setengah jam lagi. Mungkin dia bosan di kelas makanya ada di sini, pikir Shun.

Shun sebenarnya agak takut untuk menghampiri Akaba. Tadinya, ia malah mau berbalik arah dan masuk lewat koridor saja. Dia takut menghadapi Akaba yang sedang marah. Tapi, Shun juga merasa dia tidak seharusnya lari begitu saja. Biar bagaimana pun, Akaba marah karena kesalahannya sendiri.

"Selamat pagi, Hayato."

Akaba berhenti memainkan gitarnya untuk menengadah, menatap Shun agak sedikit terkejut. Jujur saja, dia sangat merindukan si personifikasi langit itu. Tapi, masih ada sedikit rasa kesal yang bersemayam di hatinya.

"Pagi juga, Shun."

Shun merasa sangat canggung dan lebih gugup karena Akaba menjawab sapaannya dengan singkat cenderung dingin. Ia menarik napas, lalu memutuskan untuk duduk di sebelah kekasihnya. Pemilik iris crimson itu sudah tidak menghiraukan keberadaannya, dia kembali sibuk dengan gitar tersayang.

"Hayato … yang kemarin, aku benar-benar minta maaf." Shun tidak mau mengulur waktu lagi. Ia butuh untuk dimaafkan Akaba, sekarang. "Ya, memang aku yang salah. Aku tahu. Nggak seharusnya seperti itu. Aku nggak akan berhenti minta maaf kalau kau belum juga memaafkanku."

Akaba pun lantas menghentikan permainan gitarnya. Ia tidak langsung menjawab. Ia menyimpan kembali alat musik itu ke dalam tas gitar hitam miliknya.

"Fuh, aku juga minta maaf, Shun," ujarnya sambil membenarkan kacamata. "Ritmeku kacau ketika kamu kabur begitu saja. Aku mencemaskanmu."

Shun menatap Akaba dengan lega. Ia menggigit bibir bawahnya, rasanya langsung tenang ketika tahu dia sudah dimaafkan. "Maaf sudah membuatmu khawatir. Nggak lagi-lagi kayak begitu. Aku janji."

Akaba tersenyum, lalu menarik Shun ke dalam pelukannya. Singkat, tapi cukup membuatnya hangat. Ia hampir mendekati gila saat mengetahui bahwa Shun kabur dari rumahnya dan ia tidak tahu harus mencari kemana. Ia begitu merindukan sang langit.

"Is everything okay?" tanyanya dengan lembut. Akaba mengelus pelan pipi Shun, senang melihat rona merah di pipi mulus itu tampak lagi.

Shun mengangguk. Ia menggenggam tangan Akaba yang ada di pipinya, tersenyum tipis. "I'm okay now. Kamu nggak perlu khawatir lagi, Hayato."

Akaba mengangguk ringan. Melihat suasana taman sekitar yang masih sepi, ia langsung mencuri ciuman dari bibir Shun. Ciuman manis yang selalu membuat dirinya ketagihan. Hanya menempelkan bibir, ia tidak berani melakukan yang lebih karena pertama, ingat tempat. Dan yang kedua, Akaba kelewat merindukan Shun dan bisa saja dia kelepasan dengan anak laki-laki itu saking rindunya.

Dia sendiri tidak mengerti kenapa Shun menjadi candu baginya.

Shun menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memerah setelah dicium Akaba. Ia perlu menenangkan degup jantungnya yang berdetak secara liar. Senang, berbunga-bunga, dan lega menjadi satu.

Setidaknya, bersama Akaba bisa membuatnya menyingkirkan Takeru dari pikirannya. Meskipun ia tahu, selama ini kehadiran Akaba hanya menjadi distraksi sementara. Tapi ia bertekad dengan sepenuh hati, mulai saat ini, Hayato Akaba sepenuhnya ada di otak dan hatinya.

Atau mungkin, tetap tidak.

.

.

to be continued—

.

.


.

a/n

HAIIIII

Wowie, ternyata masih ada yang baca yah huhu :") terharu gueee

Makasih loh buat dell'Artemisia yang tiba2 ngereview HUHUHU ganyangka masih ada yang nungguin! i keep on updating kok!

Iyah akhirnya ada update, akhirnya gais!

keep waiting ya guys, demi mengetahui endingnya siapa bakal sama siapa. muahahaha

Tebak-tebakan ah, jadi ini apakah sudah tertebak siapa bakal sama siapa? Apakah akan menjadi pairing favorit sejuta umat akakei? Atau ada yang tim yamakakei? Atau malah super crack pairing akataka? Atau lebih ekstrim lagi akayama? Atau dijadiin foursome aja biar ga pusing? /GAK