"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I only own this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Semi-incest BL
Plot-bunnies(?)
And others
—shunshines
.
.
.
.
Selama tujuh belas tahun hidupnya, Shun tidak pernah menginginkan ketidakdamaian terjadi mengusik hari-harinya. Ia bukan orang yang suka cari masalah dan memilih jalan terbaik agar tidak ada cekcok apapun yang harus dihadapinya. Ketenangan adalah alasan utamanya dan Shun memang tidak ingin peduli terhadap hal tidak penting seperti mencari keributan.
Maka dari itu, hidupnya baik-baik saja khususnya selama dia bersekolah di SMU Kyoshin. Mungkin ketika dia menjalani pertukaran pelajar ke Amerika di tahun-tahun SMP-nya, ia mengalami drama kehidupan yang membuatnya menjadi berandalan. Shun cukup takjub jika mengingat masa kelamnya saat ia menyerah terhadap american football, 180 derajat perubahan kehidupan itu dibandingkan dengan dirinya yang sebenarnya. Bergaul dengan sekelompok berandal, minum-minum, bahkan merusak paru-parunya sendiri dengan merokok. Tapi, tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali menjadi Shun Kakei yang waras setelah ia menyaksikan performa Eyeshield 21. Hanya dengan menonton pertandingan Eyeshield 21, entah seperti kerasukan arwah leluhurnya, Shun kembali ke tim dan bekerja keras seperti tidak ada hari esok.
Berkat kerja kerasnya, ia bisa memenuhi impiannya untuk melawan langsung sosok Eyeshield 21. Kemudian, perjanjian dengan sosok legendaris itu, untuk kembali bertanding entah di Amerika maupun di Jepang, adalah hal yang membuat Shun bersumpah kepada dirinya untuk serius yang dibawanya ke masa SMA. Eyeshield 21 adalah alasannya untuk hidup berfokus kepada tujuan kemenangan dan membuatnya menjadi kaku dan serius. Dia tidak pernah macam-macam dan tidak juga menghadapi roller coaster kehidupan yang terlalu berarti sehingga membuat kepalanya pusing.
Ironisnya, sosok Eyeshield 21 di kehidupan Shun sekarang malah membuat hidupnya jauh dari kata tenang.
"Woy, kok bengong?"
Shun memindahkan pandangannya setelah hampir terlonjak kaget karena teguran dari temannya. "Hah, nggak kok."
Sekarang jam istirahat. Saat bel berbunyi tadi, sekelompok anak-anak di kelasnya mengajak untuk pergi ke kantin bersama, malah agak memaksa. Karena merasa tidak enak dan takut namanya jelek karena dicap sebagai manusia tidak tahu diri (murid baru tapi sok-sok-an menolak menjalin pertemanan dengan teman sekelas), akhirnya Shun mau bergabung. Hitung-hitung makan di kantin untuk mengisi perut, tidak ada salahnya.
"Kakei-kun nggak bengong, tapi dari tadi ngeliatin si itu, tuh!" sahut seorang anak perempuan sambil tersenyum-senyum iseng. Yang lain ber-oh ria, dalam nada menyindir tentunya. Shun yang langsung tahu apa yang dimaksud teman-temannya itu hanya mengedikkan bahu dan lanjut menyantap bento-nya yang sedikit lagi habis dilahapnya. Mudah saja, ia tertangkap basah sedang melihat kakaknya yang baru saja masuk kantin, dan yang ia lakukan sekarang adalah untuk mengalihkan isu.
"Ternyataaa," lanjut anak laki-laki yang di awal menegurnya karena sedikit bengong. "Jadi, gosip Yamato sama Kakei itu benar?"
"UHUK!"
"WOW WOW, kalem!"
"Kalem darimana, Yuuto bodoh! To the point banget!"
Shun langsung tersedak ketika anak bernama Yuuto itu dengan entengnya mengatakan kalimat yang paling membuatnya sensitif beberapa hari ke belakang. Dan tadi, yang membentak Yuuto adalah Sora, anak perempuan yang duduk di sebelah Shun yang juga membantunya menepuk-nepuk punggung.
"Gosip apaan sih itu," gerutunya setelah meredakan batuknya dengan minum. "Ngaco."
"Kamu nggak tau sih, Kakei!" kali ini, pemuda bernama Touma yang sedari tadi hanya memperhatikan dan ikut tertawa itu angkat bicara. "Kemarin waktu kamu absen, kamu jadi bahan omongan fans-nya si Yamato itu."
Shun bisa merasa jantungnya kembali berdebar kencang, kaget tentu saja. Belum sempat ia bereaksi, Yuqi, perempuan yang tadi menjadi kompor paling pertama melanjutkan kalimat kawannya. "Biasa, Kakei-kun. Mereka yang putus, yang dibawa-bawa kamu, terus diomongin satu sekolah."
"Tapi sebenarnya ada apa denganmu dan Yamato?" kali ini Sora yang berbicara. Memang kodrat perempuan suka bergunjing atau bagaimana, Shun mulai menyesal mengiyakan ajakan anak-anak ini. "Tadi aja, kamu bengong memperhatikan orang itu."
Shun merasa terpojok. Empat pasang mata menatapnya menuntut jawaban. Seketika kepalanya pusing memikirkan jawaban apa yang tepat untuk diberikan kepada orang-orang ini agar tidak terus-menerus bertanya sesuatu yang ia sendiri tidak tahu jawabannya apa.
Sebenarnya ia tahu, tapi tentu saja bukan konsumsi umum begini.
"Yamato hanya seniorku di klub amefuto, nggak kurang nggak lebih. Kami dekat karena satu tim." Shun menghela napas, bangga sudah berhasil mengarang alasan dengan lancar. "That's it. Jadi, lebih baik nggak usah pedulikan gosip-gosip aneh itu."
Shun tahu teman-temannya itu masih ingin mengulik kebenaran yang ditutup-tutupinya. Tapi itu bisa dipikirkan nanti. Lagipula, ada Hayato Akaba yang mereka lewatkan.
Shun diam-diam kembali menatap Takeru dari jauh. Kakak laki-lakinya itu sedang menebar rayuan manis yang membuat gadis yang duduk di sampingnya tersipu mal dan gerombolan anak-anak di sekitar kakaknya menjadi riuh. Refleks merasa menyesal, ia mengerutkan kening, membuang muka dan memutuskan untuk tidak peduli serta buru-buru menghabiskan makanannya.
Dalam hatinya, dia merutuki kehadiran Eyeshield 21 yang mengacaukan ketentraman hidupnya.
.
Sejujurnya, mood Takeru sejak bangun tidur dan memulai hari ini sudah buruk. Namun, bukan Takeru Yamato namanya jika ia menunjukkan suasana hatinya yang sedang tidak enak kepada orang-orang dengan cemberut atau marah-marah. Semua orang yang mengenalnya nyaris tidak pernah melihat Takeru marah, membentak orang, bahkan bertengkar. Alih-alih bersikap brutal, Takeru akan menjadi sosok malaikat untuk semua orang. Tapi bagi orang-orang yang kenal lebih dekat, Takeru lebih pantas disebut serigala berbulu domba ketika bad mood.
Dia menjadi terlalu baik, terlalu ramah, bahkan terlalu gentle kepada kaum wanita. Frekuensi menebar gombalnya semakin meningkat dan ia sengaja memilih target yang lemah dan bisa digoyahkan dengan mudah. Dengan kata lain, orang yang tidak akan memberikan respon kening berkerut dan serentet hujatan seperti yang biasa dilakukan oleh Taka dan Shun.
Dua nama itu memang penyebab ia bertingkah seperti playboy kelas kakap. Dan hal yang membuatnya semakin muak lagi adalah dimana pun ia berada selama itu masih di Teikoku, ada saja sekelompok orang kurang kerjaan yang menyebut namanya, Taka, dan Shun dalam cerita yang sama. Rasanya ia sudah meminta secara langsung dengan kalimat sejelas-jelasnya kepada para penggunjing itu, namun berita itu malah semakin tersebar dan semakin mengada-ngada.
Tadi di kantin, Takeru melihat adiknya duduk semeja dengan kumpulan anak yang ia asumsikan teman sekelasnya. Alih-alih menghampiri untuk menyapanya seperti biasa, ia memalingkan pandangannya dan memilih untuk menebar senyum dan tawa palsunya kepada kawan-kawan kelas dan 'segelintir' anak perempuan.
Takeru ingin saja menghampiri adiknya seperti biasa, namun dia punya alasan kuat untuk tidak melakukannya.
Pertama, ia tidak mau menambah gosip tentang Shun yang menjadi orang ketiga.
Kedua, tentu saja ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan dirinya.
Kejadian tempo hari sangat di luar perkiraan Takeru. Jika selama ini ia terkenal dengan prediksinya yang tidak pernah melenceng dan perkataannya yang absolut, hal itu tidak berlaku kepada Shun. Hari-harinya dibuat jungkir balik dan dia tak kunjung berhasil membaca sikap adiknya meskipun sudah tinggal di bawah atap yang sama selama berbulan-bulan.
Takeru dan kawan-kawan sekelasnya memutuskan untuk kembali ke kelas lebih awal. Ketika melewati koridor utama, sekilas ia bisa melihat orang-orang yang menatapnya diam-diam atau bahkan terlihat jelas menghentikan pembicaraan mereka.
Sang Kaisar hanya menghela napas. Sekuat tenaga menahan gemuruh di dalam dadanya dan hasrat ingin membentak semua orang untuk diam.
"Susah, ya, jadi artis sekolah," ledek salah satu temannya yang berjalan berdampingan. "Urusan cinta jadi urusan satu sekolah."
Takeru hanya tertawa, menyembunyikan kekesalannya dalam tawa super palsu tapi entah bagaimana, lebih banyak orang yang percaya itu tawa sungguhan daripada yang merasakan keterpaksaan dalam tawa itu.
Takeru terfokus tiba-tiba ketika sosok yang dikenal baik olehnya tertangkap pandangannya. Taka, dari arah yang berlawanan, berjalan menuju lokernya untuk mengambil buku.
Dan detik itu pula, Takeru melihat dan mendengar sekelompok siswa yang tidak jauh dari Taka, tampak sengaja menggunjingkan Taka dengan suara yang dikeraskan.
Fine. Takeru sudah lelah menahan keinginannya untuk marah, jadi ia berjalan cepat meninggalkan kawanannya dan menghampiri sekelompok siswa yang bahkan tidak menyadari kehadiran si bintang utama gosip.
BRAK!
Suara pintu loker yang dipukul keras oleh Takeru membuat seantero koridor terdiam, khususnya sekelompok anak yang lokernya menjadi target empuk sang Eyeshield 21 Notre Dame.
"Kemarin-kemarin, gue udah bilang berhenti nyebarin kabar nggak jelas, tapi tetap diomongin."
Takeru mengeratkan kepalan tangannya yang ia sembunyikan di samping saku celana, bersusah payah untuk tidak meledak dan melakukan kebrutalan di sekolah. Sementara lengan satunya ia gunakan untuk bersandar pada loker, mengintimidasi anak-anak itu dengan santai. Ia pun berusaha keras menyungging seulas senyum. Tidak peduli senyumnya mungkin akan terlihat seperti senyum psikopat.
"Jadi, gue minta untuk yang terakhir kalinya lo semua buat diam dan nggak usah ngomong aneh-aneh lagi. Ngerti?"
"I-I-Iya, Y-Yamato-san! Gomenasai!"
"Bagus."
Takeru kembali berdiri tegak dan berjalan biasa menyusuri koridor seperti beberapa menit yang lalu. Sontak, sekelompok anak yang menjadi korban pelampiasan bad mood-nya itu kabur dan orang lain yang memperhatikan kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Kecuali Taka Honjou.
Taka tahu persis sifat dan kebiasaan Takeru lebih dari siapa pun untuk saat ini. Dia tahu bahwa lelaki berambut liar itu adalah orang yang sangat pandai mengontrol emosi dan tidak pernah bermain fisik di luar lapangan. Dia sendiri cukup kaget melihat reaksi yang berlebihan untuk ukuran seorang Takeru Yamato, karena jujur saja meskipun omongan orang-orang kurang kerjaan itu membuat telinganya panas, Taka masih bisa mengabaikannya dan menganggap itu angin lalu.
Ia pikir, Takeru juga bisa melakukan hal yang sama dengannya. Pun dengan orang ketiga itu, mereka bertiga sama-sama dapat menutup telinga dan tidak memedulikan orang-orang yang bergosip ria tersebut.
Taka tidak menyangka mantan kekasihnya itu dapat terpancing emosi. Tapi, ia juga bukan tipe orang yang dengan mudah menghakimi orang lain tanpa melihat dari perspektif lain.
Tentu saja, Taka masih merasa sakit hati karena hubungannya telah berakhir. Sekian lama memendam perasaan campur aduk karena Takeru yang semakin lama semakin menjauh darinya, pada akhirnya ia harus berlapang dada ketika anak laki-laki musim gugur itu benar-benar pergi meninggalkannya. Tidak benar-benar pergi, toh mereka tetap teman. Tetap rekan. Tetap rival abadi. Seperti pada awalnya.
Ketika Takeru berjalan melewatinya bersama anak-anak kelas, Taka sempat memperhatikan orang itu diam-diam dari lokernya. Sulit dibaca, tapi bukan Taka Honjou jika tidak bisa menembus permainan peran dan akting sang Eyeshield 21 Notre Dame.
Sesulit-sulitnya melepas dan mencoba merelakan Takeru pergi, Taka tahu bahwa Takeru mengalami kesulitan jauh di atasnya karena selain mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri, Takeru pun harus berperang melawan dunia demi melindungi adik tirinya, Shun.
Dan mungkin untuk Taka sendiri.
.
Shun hampir kena serangan jantung untuk kesekian kalinya ketika ia melangkahkan kaki keluar dari suntuknya kelas sejarah pada jam terakhir kelas.
"Fuh, ritmemu langsung berantakan begitu."
"Ya siapa yang nggak kaget tiba-tiba ada orang freak di depan kelasmu?"
Tidak lain tidak bukan, si Laba-Laba Merah itu tiba-tiba ada di depan kelasnya, menggendong tas gitar yang tadi pagi Shun ketahui bernama Isabel. Karena penampilan nyentrik Akaba, anak-anak kelas Shun yang baru keluar kelas sempat menjadikannya pusat perhatian. Akaba tidak sadar akan hal itu, tapi Shun tahu jelas bahwa memang orang di hadapannya itu sudah terbiasa dan mungkin suka akan perhatian yang diberikan orang-orang. Mirip kakaknya.
"Kamu harus terbiasa berhadapan dengan orang yang kamu sebut freak itu supaya nadanya tetap harmonis," sambung Akaba dengan santai sambil berjalan di samping Shun. "Latihan biar nggak kaget setiap pagi bangun dan melihatku di sebelahmu."
"Dih?" Meskipun cringy menusuk ke seluruh badannya, tapi Shun tidak bisa menahan pipinya agak memerah. Tidak parah, tapi Akaba tahu ia berhasil membuatnya salah tingkah. "Berhenti gombal nggak jelas itu atau Isabel nggak selamat."
"Fuh, keselamatan Isabel sudah terjamin, Shun," balas Akaba, kemudian membenarkan sunglasses-nya. "Anyway, memangnya aku menggombal?"
Shun memutar bola matanya. Tidak sehat membiarkan Tokyo MVP itu berbicara terlalu banyak. "Terserah kau, Akabaka!"
Akaba tertawa pelan ketika Shun malah bersungut-sungut dan berjalan lebih cepat meninggalkannya. Menggoda ace Kyoshin itu merupakan suatu hobi yang menyenangkan baginya. Tidak sulit membuatnya salah tingkah dan tersipu malu, lalu kemudian marah-marah dan balas melontarkan hujatan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.
Sang Eyeshield 21 Kanto ini sengaja tidak menyusul Shun yang berjalan di depannya. Akaba sengaja berjalan di belakang, memuaskan keinginannya menatap figur tinggi namun cenderung kurus itu. Helai indigo-nya melambai pelan tertiup angin. Sinar matahari sore yang berwarna keemasan menimpanya.
Katakanlah ia berlebihan, tapi ia tidak peduli. Pemandangan Shun di depannya terlihat sempurna.
"Hayato? Ngapain jalan di belakang? Menguntit?"
Nah, ini. Shun tidak pernah berbicara kepadanya dengan halus dan lembut. Minimal berbicara dengan nada datar, sisanya selalu sarkastik dan marah-marah. Shun membalikkan badannya, menatap Akaba langsung, hanya untuk bertanya dengan tidak baik-baik.
Akaba kembali tersenyum puas. "Fuh, bilang saja kalau ingin jalan bareng."
Shun, seperti yang bisa diduganya, mengernyit dan kembali membalikkan badannya. "Nyesel nanya."
Setidaknya, sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang klub untuk berganti baju dan memulai latihan sore, Akaba berhasil mendapatkan alasan untuk tersenyum dan melepas rindu karena ditinggal Shun tanpa jejak beberapa hari yang lalu.
.
.
—to be continued—
.
.
.
a/n
hai! di penghujung tahun 2019 gw pun balik membawa secuil update untuk mengisi kegabutan libur.
DAANNN TERNYATA MASIH ADA YANG BACA DAN REVIEW HUHUHUUUUU
Makasih buat CrazyD27udah mau repot mereview! Yeess ini another update gam utu keknya ini chapter paling gaje wkwkwk mon maap mengecewakan : (
Yaudahde see u next chapterrr semoga masih ada yang baca :")
