Halo! Chapter 1 update!

Sebelumnya hanya ingin memberitahu, untuk keperluan cerita akan ada sedikit GS di sini. Aku nggak pernah buat GS sebelumnya, tapi karena keperluan cerita dan disesuaikan dengan versi skam france-nya, jadi aku memutuskan untuk membuat beberapa member jadi GS, yaitu: Luhan, Kyungsoo, dan Tao. Hanya itu saja. Jika tidak suka silahkan klik tanda "close".

Warning: ff ini mengandung LBGT content, drugs, alcohol, Boyslove, little bit GS.

So, mind to read? And beware of typos!

.

.

.

Chapter 1: Play It Cool

Sabtu, 4:48 PM

Facebook: Luhan reacted to your comment

Instagram: oohsehun liked your post. Changmin88 leave a comment to your post: Apa kau meminum habis semua susunya?

WhatsApp Changmin: Jam berapa kalian pergi ke pesta Tao?

WhatsApp Kai: Sebelum jam 8 malam

WhatsApp Sehun: Ayo kita berangkat bersama

WhatsApp Changmin: Apa yang harus kita bawa?

WhatsApp Kai: Hey, aku mendapatkan satu bungkus bir dan rokok mariyuana

WhatsApp Changmin: LOL the dude is not joking

Entah sudah berapa lama Baekhyun duduk di kursi taman kota, sendirian memperhatikan para pasangan yang sedang menikmati sore hari mereka dan orang-orang yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka semua terlihat bahagia, tapi tidak dengan dirinya. Sejak mantan kekasihnya berselingkuh dan lebih memilih untuk mengikuti selingkuhannya—yang telah naik pangkat menjadi tunangan—pergi ke London hampir setahun lalu, ia menjalani hari-harinya kembali seperti biasa. Kuliah, pesta, kencan dengan gadis-gadis yang menjadi targetnya, menikmati bir dan terkadang rokok mariyuana. Tertawa dan menggila bersama ketiga sahabatnya. Ia pikir, ia telah baik-baik saja. Seharusnya.

Tetapi sepertinya ia salah. Ketika sedang sendirian seperti saat ini, perasaan kosong itu masih tersisa di sudut hatinya, meski hanya sedikit. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada ponsel di tangannya, pada layar ponselnya terlihat chat obrolan ketiga sahabatnya di grup WhatsApp mereka. Selama beberapa lama ia hanya menatap layar ponselnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak ikut membalas obrolan mereka. Ia mengunci benda pintar itu dan memasukkan ke saku jaketnya. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kembali memperhatikan orang-orang di taman kota dengan pikiran yang mengelana jauh.

*chanbaek*

Sabtu, 10:15 PM

Suara musik dan hingar bingar pesta memenuhi rumah besar Tao. Dengan botol-botol bir di tangan, orang-orang asyik menari di bawah temaram lampu-lampu neon. Beruntung keluarga Tao sedang tidak berada di rumah sehingga gadis cantik bersurai cokelat itu bisa diam-diam menggelar pesta yang meriah, menikmati akhir pekan sebelum kembali menjalani rutinitas kuliah yang melelahkan.

Di antara keramaian pesta Xi Luhan berdiri dalam balutan gaun merah marunnya yang manis. Gadis cantik bersurai cokelat itu memutuskan untuk mencoba menikmati pesta meriah ini seperti orang-orang lainnya, berharap ia terlihat sedikit keren seperti gadis-gadis populer itu.

"Yah, aku tahu, tahun-tahun awal kuliah itu seperti neraka, tapi kau tahu, triknya adalah terlihat keren..." ia mencoba membuka obrolan dengan seorang gadis yang terlihat sendirian dengan gelas minuman di tangannya. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya mendengarkan celotehan Luhan di depannya.

Perkataan Luhan terhenti ketika seorang pria datang dan tiba-tiba mencium teman bicaramya. Dua orang itu mulai asyik berciuman. "Uh...oke," gumam Luhan merasa terabaikan, lalu memutuskan untuk beranjak pergi.

Melihat si pemilik rumah sedang menari sendiri, Luhan pun menghampiri Tao dan ikut menari bersamanya. Namun lagi-lagi Luhan harus berhenti ketika Kris, kekasih Tao, datang. Perhatian Tao pun langsung teralihkan, dan Luhan kembali terabaikan. Luhan hanya tersenyum, memperhatikan pasangan kekasih itu mulai berciuman. Mengalihkan pandangannya ke sekitar, perlahan senyum Luhan mulai luntur.

Orang-orang menari dan berciuman dengan pasangan mereka, sementara Luhan hanya sendirian. Merasa kesal, pada akhirnya Luhan memutuskan untuk berhenti mencoba menikmati pesta seperti yang lainnya dan menghampiri kedua sahabatnya yang sedang duduk di lantai di sudut ruangan. Amber dan Do Kyungsoo nampak sedang asyik bermain sesuatu dengan beberapa orang laki-laki.

"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Luhan duduk di samping kanan Amber. Gadis tomboi itu memegang tutup botol bir di tangannya dan menatap dengan antusias. Di depan mereka terdapat botol bir yang telah kosong dan tutup yang terbalik di atas mulut botol.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Luhan. Amber justru menoleh pada Kyungsoo yang duduk di samping kirinya, meminta kode pada gadis bermata bulat tersebut. Kyungsoo tersenyum pada Amber dan berkata, "Lempar," lalu meniup tutup botol di tangan Amber, seolah memberi mantera.

Orang-orang yang memperhatikan permainan mereka pun mulai berseru dengan semangat, "Lempar! Lempar! Lempar!"

Dengan penuh percaya diri Amber mulai melemparkan tutup botol di tangannya, dan bersorak senang saat ia berhasil menjatuhkan tutup botol yang terbalik dari atas mulut botol. Luhan dan Kyungsoo ikut bersorak senang. Sementara itu tidak jauh dari tempat mereka, Baekhyun dan ketiga sahabatnya memilih berkumpul di dapur yang cukup sepi, dibandingkan ruang tengah yang ramai dengan orang-orang menari. Sambil menikmati bir mereka asyik mengobrol tentang seorang gadis cantik yang mereka lihat.

"Aku bersumpah, ketika aku baru saja tiba di sini, gadis itu melihatku seperti: siapa si tampan ini?" Sehun berkata dengan semangat. Di sampingnya Baekhyun menyulut sebatang rokok mariyuana dan menghembuskan asapnya sambil menoleh pada sang sahabat, mendengarkan bualannya dengan sedikit geli.

"Kau yakin gadis itu tidak melihatmu seperti: mengapa si aneh ini menatapku dengan wajah bodohnya?" ejek Kai. Para sahabatnya sontak tertawa.

Sambil tertawa Sehun menggerakan jari telunjuknya di udara, lalu berkata, "Tapi dia seksi, sungguh."

Kai dan Changmin menganggukkan kepala mereka, menyetujui ucapan Sehun. "Luar biasa!" ucap mereka.

"Apa kalian serius? Dia sangat jelek!" sanggah Baekhyun, tidak setuju.

"Apa? Seperti kau tidak akan bercinta dengannya saat ini juga," sahut Kai tidak percaya seraya menunjuk seorang gadis bersurai pirang—dengan gaun hitam ketat dan seksi yang membalut tubuh rampingnya—yang sedang asyik menari di tengah keramaian pesta.

Oke, sesungguhnya gadis itu memang cantik dan seksi, hanya saja tipe nakal seperti itu bukan kesukaan Baekhyun. "Bukannya aku tidak mau, she's...she's unfuckable," elaknya.

"Kau gila," timpal Changmin. "She's the one who's find you unfuckable."

"Ya, sepertinya itu benar," ujar Sehun setuju, tertawa. Baekhyun mengabaikan dan memilih untuk menenggak botol birnya.

"Jadi, siapa targetmu, Baekhyunie?" tanya Changmin penasaran.

"Malam ini?" Baekhyun balik bertanya. Raut wajahnya mulai berubah cerah.

"Ya, beritahu kami," ujar Kai, ikut merasa penasaran.

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke ruang tengah yang ramai, matanya menelisik gadis-gadis yang sedang asyik menari. Hingga akhirnya ia melihat seorang gadis bersurai cokelat panjang dengan gaun hitam ketatnya yang manis. Wajah cantiknya yang nampak polos menarik perhatian Baekhyun.

"Itu, si kecil berambut cokelat yang di sana," tunjuk Baekhyun. "Dengan gaun yang ketat."

Kai, Sehun dan Changmin menjulurkan kepala mereka ke depan, mencoba mencari gadis yang dimaksud oleh Baekhyun. "Mereka hampir semuanya terlihat seperti itu," kata Sehun bingung.

Kai tertawa kecil, setuju dengan perkataan Sehun. "Ya, tidakkah kau memiliki ciri-ciri fisik seperti...wajahnya atau," ujarnya. Oh, ukuran payudaranya!"

"Ukuran payudara bukan hal penting, kawan!" Baekhyun memandang Kai, merasa sedikit tidak setuju.

"Oke, jadi kau juga tidak peduli dengan wajahnya, atau?" ledek Kai, membuat Sehun tertawa mendengarnya.

"kawan, bentuk tubuh itu tidak penting..." Changmin mencoba menghentikan obrolan vulgar teman-temannya.

"Tentu saja," ujar Sehun, kembali tertawa.

"Bukan itu maksudku!" Baekhyun tersenyum kecil, menyerah. Ia menenggak botol birnya lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah ruang tengah.

Sementara itu Kai merogoh saku celananya, mengeluarkan sekantong kecil mariyuana yang masih tersisa. "Kau mau menyimpannya, Changmin?" tanyanya pada Changmin yang sedang menghisap rokok mariyuana miliknya.

"Tidak, Eommaku selalu memeriksa barang-barangku, bung!" tolak Changmin.

"Aku bisa menyimpannya jika kau mau," Sehun menawarkan diri dengan cepat, membayangkan ia bisa diam-diam menikmati sisa mariyuana milik Kai itu.

Sehun menjulurkan tangannya untuk mengambil kantong kecil itu dari tangan Kai, namun laki-laki tampan berkulit eksotis itu lebih cepat menghindar. "Jangan salah paham, tapi bahkan aku tidak akan mempercayaimu dengan sebuah pena," tolak Kai.

Sehun menjatuhkan tangannya dan merengut. Pilihan terakhir hanyalah Baekhyun. Maka lelaki paling mungil dalam kelompok persahabatan itu pun meletakkan botol birnya di meja dapur. "Baiklah, aku akan menyimpannya," katanya seraya mengambil kantong kecil itu dari tangan Kai, lalu dengan cepat memasukkan ke dalam saku celananya.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang berseru keras, "Maaf! Maaf! Maaf!", lalu dua orang gadis berlari ke arah mereka dengan panik. Kai mengambil botol birnya dan segera menyingkir saat seorang gadis bersurai hitam panjang menjatuhkan wajahnya ke atas bak pencuci piring, memuntahkan seluruh isi perutnya yang mual. Teman gadis itu berdiri di belakangnya, memegang rambut panjangnya agar tidak ikut jatuh ke dalam bak pencuci piring dan terus bertanya dengan panik,

"Luna! Luna, kau tidak apa-apa?"

Sehun menyenggol lengan Baekhyun saat menyadari bahwa gadis yang sedang sibuk memegang rambut temannya itu adalah target yang dipilih Baekhyun. Lalu dengan antusias ia memberi kode pada sang sahabat untuk segera beraksi. Baekhyun memadamkan puntung rokok mariyuana milikknya pada permukaan meja dapur lalu menggerakkan tangannya, memberi kode untuk menunggu sebentar. Namun Sehun yang terlalu antuasias mengabaikannya.

"Hey, uh...temanmu sepertinya sedang tidak baik," Sehun mencoba bicara dengan gadis itu. "uh...kau butuh bantuan? Kau mau kita..."

"Aku tidak tahu, mungkin kau bisa berhenti menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh?" ucap gadis itu tajam, membuat Sehun merengut.

"Wow, okay! Ketus sekali," ujar Kai mendengus. Sementara Changmin hanya tertawa.

Merasa tidak enak dengan perkataannya yang terdengar ketus, gadis itu buru-buru berkata, "Tidak! Tidak, aku minta maaf, aku...aku hanya tidak berpikir bahwa aku akan menghabiskan malamku seperti ini. Aku tidak bermaksud menyinggung kalian."

Sehun masih sedikit merengut, namun mencoba memaklumi. Perhatian gadis itu kembali pada temannya yang mengeluh pelan. Lalu semua berjengit jijik saat tiba-tiba gadis yang dipanggil Luna itu mulai muntah dengan suara yang keras.

"Fuck, Luna!" seru gadis itu mulai kembali panik.

"Kau harus santai. Memangnya kenapa jika temanmu mabuk? Itu tidak harus merusak malammu," kata Baekhyun, menenangkan.

Gadis itu memandang Baekhyun selama beberapa saat, lalu kembali memandang temannya sambil terus berusaha memegang rambut panjangnya. Baekhyun hanya tersenyum kecil, lalu mengambil inisiatif.

"Sehun, kau mau mengambil alih tugas memegangi rambut gadis itu?" tanya Baekhyun seraya menyenggol lengan Sehun.

Sehun memandang Baekhyun dengan sedikit tidak rela, bukannya ia tidak mau membantu gadis cantik hanya saja ia masih merasa sedikit jijik dengan muntahannya. Namun kemudian ia tetap melakukannya. Baekhyun memandang Changmin dan mengulurkan satu tangannya. Mengerti maksud sang sahabat, Changmin pun memberikan puntung rokok mariyuana miliknya pada Baekhyun.

"Sulli," ucap gadis bersurai cokelat itu tiba-tiba.

Baekhyun terdiam sebentar, menyadari jika gadis itu baru saja menyebutkan namanya. "Sulli. Sangat cantik, dan namamu juga tidak buruk," katanya kemudian, menjabat tangan Sulli dan perlahan menariknya mendekat.

Sehun segera menggantikan tugas Sulli, memegangi rambut panjang teman gadis itu seraya memperhatikan aksi Baekhyun dengan penasaran. Sementara Kai dan Changmin hanya tersenyum, menikmati tontonan menarik di depan mereka.

Baekhyun masih tidak melepaskan tangan Sulli dan hanya menatap gadis itu dengan lembut selama beberapa lama. Sulli pun mulai terpesona, bahkan ia hampir melupakan temannya yang masih sibuk muntah di bak pencuci piring.

"Apa kita akan bersantai, Sulli?" tanya Baekhyun seraya menyodorkan puntung rokok mariyuana di tangannya pada Sulli.

Tanpa menolak, Sulli mengambil puntung rokok tersebut dan menghisapnya perlahan seraya terus menatap Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya memperhatikan sambil tersenyum kecil. Entah karena terlalu terpesona dengan senyum Baekhyun, atau tidak terbiasa menghisap rokok mariyuana, Sulli mulai terbatuk-batuk.

Baekhyun tertawa kecil. "Hey! Pelan-pelan!" katanya. "Oke, kau mau kutunjukkan caranya padamu?"

"Oke," Sulli menganggukkan kepalanya dan memberikan kembali puntung rokok mariyuana di tangannya pada Baekhyun.

Baekhyun mulai menghisap puntung rokok itu dengan dalam, lalu mulai mendekati tubuh Sulli. Kai dan Changmin hanya memperhatikan sambil sesekali tertawa tanpa suara di belakang, sementara Sehun masih sibuk memastikan gadis bernama Luna itu menyelesaikan muntahnya. Sulli tidak mengalihkkan matanya saat Baekhyun meletakkan kepalan tangannya di antara bibir mereka. Lalu dengan saling berpandangan, Baekhyun membagi asap di mulutnya ke mulut Sulli melalui celah kepalan tangannya. Sulli pun tersenyum dan wajah mereka perlahan mulai mendekat.

Mereka hampir saja berciuman jika saja Luna tidak batuk dengan cukup keras. Sehun melepaskan tangannya yang sejak tadi memegangi rambut Luna saat gadis itu mulai menegakkan tubuhnya dengan sedikit sempoyongan.

"Kenapa laki-laki ini memegangi rambutku?" tanya Luna, sedikit tidak jelas karena mabuk.

"Aku akan mengantarmu pulang," kata Sehun seraya mengalungkan satu lengan Luna ke lehernya dan berusaha untuk menggendong gadis itu. Mencoba peruntungannya untuk mendekati gadis cantik tersebut.

"Tidak, tidak. Dalam mimpimu," tolak Luna seraya berusaha menjauh dari tangan Sehun. Ia hampir saja jatuh ke lantai jika saja Sehun tidak segera menangkapnya. Dengan sempoyongan ia pun beranjak pergi.

"Tidak, tunggu aku! Aku akan membantumu!" kata Sehun, berusaha mengejar Luna.

Kai, Baekhyun dan Sulli tertawa melihatnya, sementara Changmin hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Hebat, kawan! Terima kasih!" ujar Kai seraya mengambil puntung rokok dari tangan Baekhyun, lalu beranjak pergi sambil kembali tertawa.

"Well, semoga malam kalian menyenangkan!" kata Changmin tersenyum, beranjak pergi menyusul kedua sahabatnya.

"Terima kasih!" sahut Sulli, balas tersenyum.

Baekhyun hanya memandang kepergian ketiga sahabatnya sambil tersenyum kecil. Lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Sulli. "Jadi, siapa namamu?" tanya Sulli.

"Baekhyun," laki-laki bersurai pirang itu menjawab.

Sulli memandang wajah tampan—lebih cenderung manis—Baekhyun selama beberapa saat. Lalu ia tersenyum dan mengatakan, "Well, hai Baekhyun," sebelum kemudian perlahan mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu.

Menit berikutnya mereka pun mulai berciuman, panas dan bergairah. Sejenak mereka berhenti untuk mencari tempat yang lebih sepi. Salah satu sudut lorong di dekat pintu masuk yang lebih tenang menjadi pilihan mereka. Lalu mereka kembali berciuman, Baekhyun membiarkan gadis itu menciumi lehernya sambil berusaha melepaskan kancing-kancing kemejanya. Ketika Sulli hampir berhasil melepaskan kemeja Baekhyun tiba-tiba terdengar suara pintu masuk di ketuk beberapa kali dengan keras. Tidak lama Tao si pemilik rumah bersama dengan Luhan datang membuka pintu.

Di ambang pintu berdiri dua orang polisi. Baekhyun mengintip keluar jendela dan melihat satu mobil polisi dengan lampu khas mereka yang menyala berkedip-kedip. "Selamat malam. Kami mendapatkan keluhan suara yang terlalu keras," salah satu polisi itu berkata.

Baekhyun mendorong pelan tubuh Sulli menjauh darinya seraya memperhatikan Tao dan Luhan yang sedang berbicara dengan polisi di dekat mereka. Menyadari bahwa ia sedang membawa Mariyuana milik Kai di saku celananya, Baekhyun pun mulai merasa panik. Lalu tanpa berkata apa pun, ia segera beranjak pergi. Di tengah keramaian pesta ia berusaha mencari jalan keluar yang aman baginya, tanpa perlu bertemu dengan polisi. Dan sebuah jendela yang sedang terbuka menjadi pilihannya.

Dengan cepat Baekhyun meloncat keluar melalui jendela yang terbuka itu, tanpa menyadari bahwa sesuatu terjatuh dari saku celananya. Mariyuana milik Kai.

*chanbaek*

Minggu, 11:27 AM

New message.

Eomma: Pagi ini eomma pergi ke misa. Eomma berdoa untukmu dan aku. Eomma tahu apa yang kita alami ini berat tetapi Tuhan membantuku menyadari segalanya. Eomma tahu Tuhan akan menghukum ayahmu untuk dosanya. Eomma merindukanmu, nak.

Siang itu sebuah pesan dari ibunya menyambut Baekhyun yang baru bangun. Ia hanya memandangi pesan itu dengan tatapan kosong. Sejak ayahnya pergi meninggalkan mereka untuk seorang pria, ibunya mulai menjadi gila. Ibunya mulai mengoceh tentang dosa sang ayah, kiamat, dirinya yang ditunjuk oleh Tuhan sebagai seorang utusan, dan omong kosong lainnya. Merasa muak dengan ibunya yang sudah tak bisa dikendalikan lagi, ia pun memilih untuk meninggalkan rumah dan menyewa apartemen sederhana bersama temannya. Sang ayah yang merasa bersalah karena telah meninggalkan Baekhyun saat kecil tidak bisa menolak permintaan putranya untuk tinggal di apartemen, yang bisa dilakukannya kini hanyalah mengirimkan uang untuk anaknya.

Dulu ayahnya adalah kebanggaan Baekhyun. Namun saat sang ayah memilih untuk mencintai seorang pria, kebanggaan itu perlahan luntur. Baekhyun tidak membenci sang ayah, tidak pula membenci pilihannya. Ia hanya bingung, karena sejak dulu—hingga kini—hal yang dipercayainya adalah cinta hanya terjadi antara pria dan wanita. Itu normal. Jadi, bagaimana bisa seorang pria jatuh cinta dengan sesama pria juga?

Pada akhirnya Baekhyun memilih untuk tidak peduli. Sang ibu dengan kegilaannya, dan sang ayah dengan pilihannya. Lagipula ia tidak bisa membenci kaum pelangi tersebut karena teman satu apartemennya pun yang bernama Lay, adalah seorang gay yang percaya diri sangat baik dan sedikit unik. Lay banyak membantu Baekhyun, termasuk membayarkan bagian Baekhyun saat ia tidak dapat kiriman uang dari sang ayah.

Getar ponsel yang tiba-tiba menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Ia kembali memandang pesan dari ibunya pada layar ponsel, sebelum kemudian memilih untuk mengabaikannya seperti biasa. Lalu ia beralih untuk membaca pesan yang baru saja masuk.

New message.

Changmin: Kau memiliki mariyuana-nya, Baekhyunie? Polisi menemukan barang mencurigakan di rumah Tao, dia sangat marah. Ibunya mengamuk karena itu. Tao pikir itu perbuatanku.

Baekhyun mengernyit membaca pesan dari Changmin tersebut. Segera ia beranjak turun dari ranjang dan menggeledah celana jins hitamnya. Namun ia tidak menemukan kantung kecil yang dicarinya. Maka dengan panik ia mulai menggeledah seluruh isi kamarnya. Di tengah-tengah pencariannya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, lalu sosok Lay muncul sambil menunjukkan layar ponselnya. Lelaki Cina itu sedang melakukan video call dengan seseorang.

"Ya, dia sudah bangun. Hai, Baekhyunie!" sapa Lay seraya melangkah masuk.

Baekhyun yang hanya mengenakan boxer pendek dan kaus abu-abu itu segera meloncat kembali ke atas ranjang, lalu menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. "Sial, Lay, bisakah kau mengetuk dulu sebelum masuk? Kau payah!" gerutunya kesal.

Lay tidak peduli dengan gerutuan Baekhyun. Tanpa mengalihkan fokusnya dari layar ponsel ia menyibak tirai jendela kamar Baekhyun, lalu menghempaskan tubuhnya di samping lelaki mungil tersebut sambil berkata,

"Tunggu sebentar, jika kita beruntung, kita mungkin bisa melihat morning wood-nya," lalu dengan bercanda Lay menyibak selimut Baekhyun. Namun dengan wajah merengut Baekhyun menarik kembali selimutnya. "Ayolah, Baekhyunie, katakan hai pada Seulgi!"

Fuck!, Baekhyun memaki dalam hati. Sang mantan rupanya. Gadis itu masih terlihat cantik, namun Baekhyun sudah malas untuk melihatnya, bahkan meski hanya di layar ponsel.

"Hai, Baekhyunie!" sapa Seulgi seraya tersenyum lebar.

"Hai," balas sapa Baekhyun dengan malas, membuat Lay menatapnya sambil mengernyit heran.

Lay tidak tahu bahwa dulu selain bersahabat, Baekhyun dan Seulgi pernah memiliki masa lalu yang menyesakkan. Dan saat berpisah memutuskan untuk berusaha kembali menjadi sahabat. Keputusan yang kini disesali Baekhyun.

"Oke, sapaan yang super antusias..." ujar Lay, meledek "Maafkan dia, ini pubertas. Dia mengalami beberapa masalah seperti jerawat, bagaimana cara menyakinkan seorang gadis untuk mengambil keperjakaannya."

"Lay, jangan ganggu dia. Dia baru saja bangun," sahut Seulgi.

"Seulgi, dia sudah tidur sepanjang waktu! Kau tidak tahu saja," timpal Lay, sementara Baekhyun hanya mendengarkan dengan tidak minat. "Dia makan, tidur, buang kotoran. Hanya itu yang dia lakukan. Kita bisa mendapatkan seekor hamster, sama saja. Mungkin itu lebih baik. Dan dia bau, Seulgi. Jika saja kau tahu sebau apa dia!"

Lay mendekatkan hidungnya ke tubuh Baekhyun, seolah hendak mengendus, lalu ia mengernyitkan wajahnya dengan pura-pura. Baekhyun mengendikkan bahunya dengan tidak nyaman. "Lay, hentikan!" sergahnya.

Lay hanya tersenyum jahil pada Baekhyun, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponselnya. "Dan bagaimana kabarmu di London? Hey, jika kau melihat Harry Styles, bersikap baiklah dan ingat aku!" katanya pada Seulgi.

"ya, aku janji akan memikirkan tentangmu. Ngomong-ngomong, apa rencana kalian hari ini?" tanya Seulgi.

"Well, aku berharap melihat Baekhyun pergi mandi," ujar Lay jahil. "Lalu kami mungkin akan berpikir tentang arti hidup, atau mencari solusi untuk kelaparan dunia."

"Oh ya?" Seulgi tertawa mendengarnya.

"Dan bagaimana denganmu?" tanya Lay.

"Aku tidak tahu. Daniel banyak pekerjaan...dan aku tidak punya teman, jadi...kupikir aku akan pergi ke museum."

"Apa? Museum? Tunggu, Seulgi, kau serius? Tidak ada yang pergi ke London untuk mengunjungi museum! Kau lebih keren dari ini, Seulgi!"

"Ya, ya, aku akan memikirkannya lagi. Ngomong-ngomong, Baekhyun, bisakah kau memberikanku tur apartemen barumu?"

Baekhyun yang hanya diam dan memainkan selimutnya saja sejak tadi menoleh dengan cepat ke arah layar ponsel. Wajahnya mulai merengut, merasa enggan dengan permintaan Seulgi barusan. "Seulgi, kau harus berhenti ingin mengunjungi semuanya. Itu menjadi sebuah masalah," kata Lay mengingatkan.

"Aku hanya ingin lihat jika tempat ini lebih baik daripada yang lama," kilah Seulgi.

"Oke, tapi tutup matamu. Ingat, morning wood!" ucap Lay, lalu dengan jahil berusaha menyibak selimut Baekhyun lagi seraya mengarahkan layar ponselnya pada bagian bawah tubuh lelaki mungil itu.

"Stop, stop, stop. Oke," Baekhyun berusaha mempertahankan selimutnya, lalu mengambil ponsel dari tangan Lay—menutupi layar ponsel dengan telapak tangannya—dan beranjak turun dari ranjang. "Fuck, Lay!" gerutunya saat laki-laki Cina yang jahil itu memukul pantatnya dan tertawa.

Baekhyun mulai berkeliling apartemennya, menjelaskan dengan setengah hati ruangan-ruangan apa saja yang ada di dalamnya seraya mengarahkan layar ponsel ke berbagai arah. Bahkan ia menunjukan pemandangan di luar jendela pada Seulgi.

"Keren, kan?" ujar Baekhyun, mengakhiri tur singkatnya.

"Wow, itu benar-benar bagus, serius," sahut Seulgi. "Dan bagaimana kau mengatur pembayaran sewanya?"

"Tidak masalah. Appa merasa buruk karena aku tidak bisa tinggal bersamanya, jadi dia membantuku."

"Baguslah. Dan...ibumu, dia baik-baik saja?"

"Ya," Baekhyun berusaha tersenyum. "Atau dia akan baik-baik saja."

"Dan bagaimana dengan yang lainnya? Apa kau bertemu dengan seseorang saat ini?"

Senyum di bibir Baekhyun menghilang. Ia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba berteriak seolah-olah ada yang memanggilnya. "Maaf, Lay menginginkan ponselnya kembali," katanya kemudian. "Eh...bersenang-senanglah di London. Bye."

Lalu dengan cepat ia mematikan panggilan video itu. Wajah cantik Seulgi menghilang dari layar, berganti dengan warna hitam. Tidak lama Lay muncul sambil bertanya, "Kau memanggilku?"

"Ya, ini ponselmu," jawab Baekhyun seraya menghampiri Lay dan setengah melempar ponsel pada laki-laki Cina tersebut. Kemudian beranjak kembali ke kamar sambil berkata, "Dan mulai sekarang, ketuk dulu sebelum masuk, oke?"

*chanbaek*

Senin, 1:21 PM

Perkuliahan di hari senin berjalan seperti biasa. Waktu istrihat makan siang hampir usai. Baekhyun dan ketiga sahabatnya melangkah menyusuri halaman kampus sambil asyik mengobrol. Sehun bercerita tentang dirinya yang tidak mencuci tangan setelah dari kamar mandi karena tangan tersebut baru saja menyentuh pantat wanita. Kai dan Changmin mengerang jijik, sementara Baekhyun hanya tertawa melihat Sehun dan tingkah bodohnya. Lalu dengan antuias Sehun kembali bercerita tentang film dokumenter kehidupan liar yang pernah ditontonnya, bagaimana ia menyamakan tingkah hewan betina—yang menandai pejantan mereka dengan bau—dengan para gadis. Sementara Kai, Changmin dan Baekhyun hanya menganggukkan kepala mereka.

"Jadi kau belum mencuci tanganmu sejak hari sabtu?" tanya Kai.

"Tidak," jawab Sehun seraya mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Jadi kau belum mastrubasi juga?" tanya Kai lagi. Sehun hanya tertawa bodoh.

"Eww, what a pig," komentar Changmin sambil mengernyit.

Obrolan mereka terhenti ketika terdengar Luhan menyapa seraya berlari menghampiri mereka. Keempat laki-laki itu pun menghentikan langkah mereka saat gadis cantik itu bertanya sambil tersenyum,

"Hai teman-teman, apa yang akan kalian lakukan hari jumat ini?"

"Tidak ada," jawab mereka, bingung.

"Bagus. Kalian di undang ke acara super duper spesial," ujar Luhan dengan semangat sambil mulai membagikan selebaran di tangannya, satu persatu, pada keempat laki-laki di depannya.

Dengan bingung mereka menerima selebaran itu dan membacanya sambil mengernyit. Kecuali Sehun yang justru lebih fokus pada Luhan, terpikat pada kecantikannya. "Acara super duper spesial...?" tanya Kai.

"Enjoy your common room," baca Baekhyun. "Apa itu ruang bersama?"

"Itu tempat para pecundang pergi ketika mereka tidak berada di kelas, Baekhyunie," jawab Changmin.

"Kita punya tempat seperti itu di sini?" tanya Baekhyun lagi, dan Changmin menganggukkan kepalanya.

"Di sebelah ruangan dosen, kau tahu?" sahut Kai, memberitahu.

"Oke, lalu mengapa kita harus pergi ke sana?" tanya Baekhyun pada Luhan.

"Karena itu akan menjadi tempat terkeren di kampus ini," jawab Luhan dengan semngat yang tidak luntur dan senyum terbaiknya. "Para gadis dan aku mengerjakan proyek tahun kedua kami tentang bagaimana menciptakan ruang terbuka untuk semua membuat pertukaran dan komunikasi menjadi lebih mudah di antara orang-orang yang benar-benar berbeda."

Baekhyun memalingkan wajahnya ke arah lain, langsung tidak berminat medengar celotehan Luhan tentang proyek barunya yang terdengar membosankan. Namun Luhan nampak tidak peduli, "Jadi, Rektor Kang sangat menyukai hal ini dan meminta kami untuk membawa kembali fungsi ruang bersama yang sekarang hampir dilupakan orang-orang."

Gadis itu mengakhiri penjelasannya sambil menunjukkan selebaran di tangannya dan mempertahankan senyum terbaiknya. Changmin menganggukkan kepalanya, berusaha tersenyum sopan, lalu mengembalikan selebaran di tangannya pada Luhan.

"Wow, oke! Aku tidak ikut," katanya.

"Ya, sebenarnya kami tidak bisa Jumat ini," ujar Kai, ikut mengembalikan selebaran pada Luhan.

Penolakan dua laki-laki tampan itu membuat senyum Luhan sedikit meluntur. Di tengah keterpukauannya pada kecantikan Luhan, Sehun mengangkat satu tangannya dan berkata dengan semangat, "Aku bisa!"

"Tidak, tidak. Kau juga tidak bisa," sergah Kai dengan cepat seraya memukul pelan bahu Sehun dan memelototinya, memberi kode.

"Tidak, Sehun, kau juga sudah memiliki...rencana, kan?" sahut Baekhyun, ikut memprovokasi. Changmin menganggukkan kepalanya setuju.

Sehun pun hanya bisa diam, mengikuti kode dari para sahabatnya. Lalu ia menoleh memandang Luhan yang nampak sedikit kecewa. "Oke, aku mengerti," kata gadis itu. "Kau tahu bahwa jika kalian tidak melakukan sesuatu, kalian akan berakhir seperti para pecundang yang kalian bicarakan, bukan? Menjadi senior itu keren. Mahasiswa baru tingkat pertama baru saja masuk, mereka baik."

Sehun membuka mulutnya hendak menyetujui ucapan Luhan, namun Kai menyenggol lengannya untuk membuatnya diam. Keempat laki-laki itu hanya diam mendengarkan Luhan yang sedang berusaha menasehati mereka,

"Tapi kalian, kalian sudah di tingkat dua. Jadi seperti, tidak ada tingkat sosial di kampus ini—"

"Huh, Luhan?" Baekhyun memotong ucapan Luhan dengan wajah bosan. "Newsflash...kau juga tingkat dua."

Luhan mengerjap sesaat, lalu tertawa kikuk. "Ya,betapa kerennya itu?! Sampai bertemu Jumat nanti!" katanya dan berlari pergi.

Baekhyun memandang kepergian Luhan dan mendengus, sedikit kesal. "Oke, gadis itu tidak mendengarkan sedikitpun," katanya.

"Ya, dia aneh kan? Ini gila," timpal Changmin setuju. Kai pun menganggukkan kepalanya.

Sehun masih memandang sosok Luhan yang sedang membagikan kembali selebarannya pada mahasiswa lainnya di kejauhan. Lalu ia memandang para sahabatnya dengan mata berbinar. "Guys, guys, guys...." katanya. "Ini hanya aku atau Luhan sebenarnya sangat seksi?"

Baekhyun, Changmin dan Kai terdiam, menatap Sehun dengan aneh. Lalu mereka memilih untuk mengabaikan laki-laki itu. "Oke, bertemu setelah kelas selanjutnya?" tanya Baekhyun seraya ber-high five dengan Changmin dan Kai.

"Ya, sampai nanti kawan," kata Changmin.

"High five, Baekhyun!" pinta Sehun mengangkat satu tangannya dan tersenyum penuh harap.

"Tidak. Kau menjijikan," tolak Baekhyun seraya beranjak pergi.

Sehun menghela napasnya, seolah sedang menabahkan diri karena diabaikan oleh para sahabatnya. Menyadari Kai dan Changmin terlah beranjak pergi juga ke arah lain meninggalkannya, ia pun segera berlari menyusul. Namun Kai dan Changmin hanya tertawa saat Sehun sempat terjatuh berguling karena tersandung sebuah kursi taman yang banyak tersebar di halaman kampus. Poor Sehun!

Tbc