"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I own only this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Semi-incest BL

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines

.

.


.

.

"Shun! Ayo bangun!"

Di pagi buta, Takeru sudah menciptakan sedikit keributan di kamarnya dengan membangunkan Shun terlalu bersemangat. Ia duduk di pinggir kasur, mengguncangkan badan adiknya agar cepat terbangun sambil menepuk-nepuk kepalanya. Sebenarnya, ia punya cara yang lebih lembut untuk mengembalikan adiknya dari alam mimpi, seperti memeluk, menyembunyikan wajah di ceruk leher untuk menggelitik lehernya, bahkan mungkin mengecup bibir Shun seperti sleeping beauty, tapi tentu saja cara itu adalah cara terakhir yang akan dilakukan Takeru karena alih-alih mau bangun, Shun sudah pasti akan menamparnya dan pindah rumah. Itu absolut.

Jadi sekarang, Takeru membangunkan Shun dengan cara biasa tapi agak sedikit lebih agresif, sampai akhirnya mantan ace Kyoshin itu kembali dari alam mimpinya.

Tentu saja sambil misuh-misuh.

"Apaan sih!" Shun terbangun sambil mengucek matanya. Jantungnya berdentum keras karena kaget dibangunkan sekaligus kesal karena kegiatan tidurnya di hari libur diganggu oleh sang kakak. "Berisik, Kak! Ganggu mau tidur aja."

Takeru tertawa puas, tanpa ragu mengacak rambut Shun sampai lebih acak-acakan lagi. "Bangun dan ikut aku. Kita jalan-jalan!"

"Nggak mau!" bantah Shun keras sambil membalikkan badan, menarik selimut sampai menutupi kepalanya. "Jalan-jalan aja sendiri, aku mau tidur."

Bukan Takeru Yamato kalau mudah menyerah. Ia tersenyum licik.

"Bangun atau aku gendong?"

"Tidur."

"Alright," final Takeru yang langsung mengangkat tubuh adiknya dari kasur, bridal style, yang tentunya membuat Shun langsung histeris.

"WHAT THE HELL!" antara malu dan kesal sampai ubun-ubun, Shun tidak tahu apa yang ia rasakan kini. Mungkin perpaduan keduanya, sedang meresapi nikmatnya tidur di hari libur namun dipaksa bangun dengan DIGENDONG seperti ini. "Bodoh! Turunin!"

Takeru, back at himself, dengan penuh kemenangan yang licik menyudutkan adiknya. "Minta turun tapi tanganmu sendiri gimana?"

Refleks, Shun melotot horror melihat lengannya sendiri masih melingkar di leher sang kakak. Ia pun langsung menyerang Takeru dengan memukul apapun yang bisa dipukul oleh tangannya. Tidak lupa pipinya yang kembali memerah.

"TURUNIN, TAKERU YAMATO BEGO!"


.

Setelah akhirnya tertawa puas menggoda adiknya supaya bangun dan menuruti perintah absolutnya, Takeru hanya tinggal menunggu Shun menghabiskan sarapannya sementara ia pergi memanaskan mesin mobil duluan. Ia pun sudah membawa ransel yang ia geletakkan begitu saja di jok belakang.

Takeru di dalam hatinya lebih dari bersyukur karena Shun mau bangun tidur dan menuruti permintaannya untuk menemani jalan-jalan. Kalau dipikir-pikir, mungkin karena timing yang tepat, yaitu ketika Shun baru saja terbangun dari tidurnya sehingga masih dalam keadaan setengah sadar dan nyawa yang tercecer. Sudah hampir seminggu sejak kejadian di taman dan sudah seminggu pula mereka kembali perang dingin. Dia tidak menyalahkan si personifikasi langit itu karena dia juga turut menyumbang kesalahan dengan pengakuan cintanya itu.

Confession went wrong, Takeru hanya bisa tertawa sedih mengingatnya. Alih-alih mempererat hubungan, apa yang dilakukannya pada hari itu malah menambah jarak di antara mereka.

Tinggal seatap bersama seseorang dengan kondisi saling perang dingin adalah satu dari hal paling menyulitkan di hidup Takeru. Di hari-hari awal kedatangan Shun di rumahnya, setiap hari dan setiap malam dilalui keduanya dengan ramai. Takeru yang memiliki kesenangan sendiri membuat adiknya marah dan Shun yang juga memiliki hobi menghujat dan menyiksa si sulung keluarga Yamato.

Semuanya terasa sempurna untuk Takeru. Hidupnya sudah sempurna begitu ayahnya kembali menikah dan ada seseorang yang menjadi adik barunya.

Takeru pernah mendapat pepatah dari pelajaran biologi di kelasnya bahwa alam membenci ketidakseimbangan. Mungkin, kelengkapan hidup baginya merupakan sesuatu yang berlebihan menurut sang alam. Jadi, perlahan hidupnya yang sudah tertata menjadi kacau dan hilang satu persatu.

Kehadiran Shun di hidupnya adalah rencana Tuhan yang paling tidak diduganya. Pertama kalinya ia melihat anak itu adalah di lapangan, di pertandingan Notre Dame melawan Phoenix. Agak samar ingatannya, tapi sosok Shun Kakei pada masa itu sangat melekat di pikirannya.

Sampai Takeru pulang ke Jepang, ia sendiri meragukan janjinya untuk bertanding kembali melawan Shun dimanapun mereka berada, di Amerika atau di Jepang. Mungkin takdir akan berbaik hati membantunya dalam hal baik yaitu menepati janji, sehingga suatu saat nanti ia akan dipertemukan lagu dengan sang langit.

"Kak, mau kemana sih kita?"

Dan atas kehendak takdir, Shun ada di sini. Kembali bertemu dengannya dan tidak akan pernah pergi lagi darinya. Menjadi adik tirinya.

"Rahasia." Takeru menghadap ke arah Shun, tersadar dari lamunannya. Mantan ace Kyoshin itu tampaknya sudah menghabiskan makan paginya. Ia membuka pintu mobil belakang dan menyimpan tas ransel yang tadi disampirkan di bahu kirinya, kemudian menutupnya kembali dan masuk ke mobil dan duduk di jok depan, di samping Takeru seperti biasa. Takeru menemukan satu hal kecil yang bisa ia syukuri, Shun tidak setega itu duduk di belakang sehingga membuatnya menjadi seperti seorang supir.

Mendengar jawaban yang sangat tidak memuaskan itu, Shun mendengus pelan. "Sampai harus bawa baju ganti dan 'barang-yang-sekiranya-akan-kamu-butuhkan'?"

"It will be fun, I swear." Seperti Takeru Yamato yang biasa, ia menampilkan senyum 1000 watt-nya. "Dan itu absolut!"

Shun hanya memutar bola matanya dan memasang safety belt-nya, mencari posisi yang nyaman untuk badannya.

"Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang," tambah Takeru sambil mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan mencocokkannya dengan jam yang ada di dashboard mobil. Jam setengah tujuh pagi. "Kurang lebih empat jam, jadi siap-siap pantatmu pegal, ya."

Sebelum menerima protes dalam bentuk apapun dari Shun, Takeru pun melepas rem tangan dan mulai mengemudikan mobil. Jadi, sebelum adiknya sempat berubah pikiran dan melakukan aksi ekstrim seperti langsung kabur dari mobil, ia langsung tancap gas.

"Memang sudah gila," ketus si bungsu Yamato itu sambil menghela napas dalam. Menyesal karena tidak berpikir lebih jernih saat bangun dan menolak mentah-mentah perintah absolut dari Takeru lebih tegas. Harusnya tadi, setelah diturunkan dari gendongan kakaknya, ia mendorong si Eyeshield 21 asli itu keluar kamar dan menguncinya dari dalam. Bukannya malah seperti ini….

Apa boleh buat. Terjebak di dalam mobil dalam perjalanan super jauh dan super lama berjam-jam bersama Takeru Yamato. Nowhere to go, nothing to do.

What a peaceful weekend, batin Shun sekeras-kerasnya sambil melempar badannya ke jok, pasrah atas kebodohannya yang semakin lama semakin parah.


.

Menyetir mobil jarak jauh bukanlah sesuatu yang baru bagi Takeru Yamato. Menyetir kendaraan apapun, kecuali pesawat dan kapal tentunya, merupakan keahliannya di samping american football yang ia tutup rapat-rapat. Shun mungkin bahkan belum tahu mengenai motor ninja milik Takeru yang disimpannya di dalam garasinya dengan amat rapi, tertutup, dan tersembunyi.

Jika diurutkan daftar rahasia-rahasia di hidupnya, memiliki hobi balapan mobil dan motor adalah salah satu yang ada daftar paling atas rahasia-yang-sangat-tidak-ingin-terungkap. Bahkan, orang yang tahu akan kesenangan Takeru yang cukup ekstrim ini hanya hitungan jari. Satu tangan. Saking sedikitnya, yap.

Itu sudah termasuk seorang Youichi Hiruma si setan legendaris.

Percaya tidak percaya, Karin menjadi satu-satunya orang yang tahu di Teikoku Alexanders sejak tahun pertama di Teikoku. Suatu sore setelah latihan, Karin tiba-tiba menghampirinya dan bertanya pelan-pelan.

"Yamato-kun, ma-maaf jika aku tidak sopan. Tapi… aku ingin memastikan. A-apa benar Yamato-kun ikut balapan motor seminggu yang lalu?"

Takeru terkejut bukan main. Belum pernah seseorang membuatnya sangat panik seperti ini setelah mendiang ibu dan adik kandungnya. Ia pun mengisyaratkan Karin untuk diam dan tidak menunjukkan reaksi berarti, lalu langsung meraih lengan sang komikus dan pianis itu dan bersembunyi di tempat sepi untuk menjauhi massa.

"Untuk pertanyaannya… iya benar. Karin tahu darimana?"

Mungkin Karin sendiri bingung ketika melihat kepanikan yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Takeru. "E-etou … dari sahabat masa SMP-ku. Katanya kemarin dia melihat Yamato-kun bahkan ikut balapan yang sama pula. M-maaf kalau aku lancang! Aku hanya… hanya ingin memastikan."

Kira-kira begitulah awal terkuaknya rahasia terdalam seorang Takeru Yamato oleh Karin Koizumi. Hanya mengingat itu saja dapat dengan sukses membuat Eyeshield 21 Notre Dame itu malu. Apalagi setelahnya, ia memohon kepada gadis berambut pirang itu untuk menutup rapat-rapat bahkan dari Taka, meskipun ia masih menjadi kekasihnya dulu.

Lucu sekali.

Jadi, Takeru agak sedikit berpikir keras untuk mengarang alasan yang tepat ketika Shun bertanya, "Kenapa kau bisa tahan menyetir selama itu?"

"Dulu, aku suka kabur-kaburan," jawabnya mencoba untuk tidak terdengar ragu, meskipun tidak sepenuhnya salah. Balapan memang cara Takeru meluapkan perasaan kehilangannya setelah ibu dan adiknya meninggal. "Dan memang hobi saja. Kenapa? Mau gantian?"

"No, thanks." Shun menggelengkan kepala dengan tegas. Ia menyilangkan tangan di dada dan menolehkan kepalanya, dalam keadaan masih bersandar. "Nyetir yang benar, ya? Jangan menabrak."

"Nggak nyetir kalau nggak nabrak, Shun."

"Kamu niat nabrak?" Takeru melirik sekilas reaksi adiknya yang sudah kembali mode mengomel, seketika gagal menahan tawa. Bahkan, lelaki personifikasi langit itu sampai menegakkan punggungnya dan badannya sedikit menghadap ke arah jok pengemudi. "I don't know either you are a psychopathic idiot or just love being criminal."

Tidak ada kegiatan yang lebih menyenangkan di saat-saat seperti ini selain menggoda si bungsu Yamato. "Why not being both?"

"Dasar sinting!"

Tak ayal, Takeru tertawa lebih keras dari sebelumnya, menerima reaksi Shun yang saking speechless-nya hanya bisa memasang muka tidak percaya dan mendengus sebal. Sang Eyeshield pun mengulurkan tangan kanannya untuk mengacak helai indigo Shun beberapa detik dan kembali memegang setir mobil dengan dua tangannya.

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi berhubung mereka sudah memasuki jalan tol. Meskipun tetap dingin, langit di luar masih cerah. Langit masih terlihat sekilas biru disembunyikan oleh awan-awan. Deru mesin mobil mengisi celah yang menyebabkan keheningan akibat kedua anak Yamato ini berhenti berbicara.

"Jangan takut," celetuk Takeru, jengah dengan keheningan yang selalu setia menghampiri mereka. Kalimatnya tampak tidak pernah gagal membuka topik baru dan selalu mendapat sambutan dari orang yang diharapkannya.

"Jangan nabrak!"

"Jangan panik."

"Berisik!" sentak Shun akhirnya sambil membalikkan badannya, kini menghadap jendela. Aksi protesnya diikuti dengan menutup kepala menggunakan hoodie abu-abu yang dikenakannya. "Pokoknya jangan macam-macam. Ada dua nyawa di mobil ini, ya, barangkali kau lupa!"

Takeru hanya mengiyakan sekenanya sambil masih ada sisa tawa puas.

Tinggal bersama Shun membuatnya belajar ilmu baru. Ia mendapat pengetahuan bahwa perhatian tidak selalu harus blak-blakan. Bahkan, dengan bersikap kasar dan marah-marah bisa jadi adalah cara satu-satunya untuk mengekspresikan afeksi. Sangat berkebalikan dari dirinya yang selalu berterus terang.

"Thanks anyway."

"I don't get it but you are welcome." Shun membalas sekenanya (namun tentu saja Takeru sudah tahu pasti apa arti sebenarnya dari jawaban sinis itu). "Just drive safely so you won't wake me up."

Takeru tersenyum dan mengangguk patuh. Ia mencuri kesempatan untuk mengelus kepala Shun yang tertutup hoodie. "Roger, Boss."

Anything you want, Shun. Apapun selama itu bisa membuatmu berhenti bersikap seakan kau tidak pernah mengenalku.


.

Empat jam lebih sudah dilalui dua bersaudara Yamato dan di sinilah mereka berdua sekarang. Distrik Hakui, Ishikawa. Tepatnya di sebuah toko bunga kecil.

Shun melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Hampir pukul sebelas siang. Ia kembali meregangkan otot badannya yang masih kaku karena hanya duduk diam di mobil selama perjalanan. Dan sekarang, dia berada di suatu jalan somewhere in Hakui menunggu kakaknya yang ia asumsikan sedang membeli bunga di toko itu. Tidak jauh dari sini, mobilnya terparkir.

"Aku mimpi apa semalam, sih…." Bisik Shun kepada dirinya sendiri. Meskipun masih setengah linglung kenapa dan apa tujuan Takeru sehingga mereka bisa ada di sini, di sebuah desa yang jauh dari keramaian, entah akan melakukan apa, ia merasa takjub dengan suasana desa ini.

Cuaca yang cukup dingin tapi tidak sedingin di Osaka, sinar matahari yang terasa lebih hangat, langit biru cerah, angin yang senantiasa berhembus sepoi-sepoi, dan suasana yang tidak padat sangat berkebalikan dengan kehidupan kota di Osaka. Shun tadi sempat berjalan tidak jauh dari tempatnya untuk melihat lebih jauh pemandangan di desa ini.

Tenang dan damai. Persis apa yang diidamkannya saat ini.

"Maaf agak lama."

Shun membalikkan badannya, menoleh ke arah Takeru yang menggenggam sebuket bunga aster warna putih. Ia mengangkat alisnya, tidak bohong menjadi penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh kakaknya ini. "Bunga?"

Takeru hanya mengangguk dan memberikan senyum sekilas. "Ayo."

Pemuda berambut liar itu berjalan lebih dulu dan Shun secara otomatis langsung mengikutinya. Sejak menjejakkan kaki di sini, Takeru tidak bicara sebanyak biasanya, bahkan tidak sama sekali bercanda dengannya seperti ketika di mobil. Shun belum pernah melihat si tukang tebar pesona itu dalam keadaan 'terlalu' diam seperti ini.

Pemandangan sebuah pemakaman luas di depan mata membuat Shun terperangah. Ia menatap punggung sang kakak, sangat tidak menduga dengan apa yang dilakukannya. Shun tidak perlu bertanya secara retoris lagi karena tepat ketika kakinya melangkah masuk area pemakaman, semuanya menjadi masuk akal.

Takeru terus menyusuri pemakaman yang diingatnya di luar kepala. Belokan terakhir, barulah dia berhenti. Tanpa sadar, ia tersenyum menatap dua nama yang terukir di dua nisan di hadapannya.

Sana Yamato dan Toshiro Yamato.

Eyeshield 21 asli ini pun berjongkok untuk meletakkan sebuket aster putih di atas makam Sana, ibu kandungnya. Tangan besarnya menyentuh nisan sang ibu dan pandangan matanya berpindah ke arah makam Toshiro.

"Siang, Bunda, Shiro. Lama tidak berjumpa, ya?"

Takeru menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Shun yang berdiri di dekatnya. Ia tersenyum dan memberi isyarat untuk mendekat. Perintahnya langsung dituruti oleh sang adik yang ikut berjongkok di sampingnya.

"Maaf karena aku baru sempat datang ke sini. Seperti kata Shiro, aku memang ambisius sampai lupa segalanya, kan?" lelaki musim gugur itu terkekeh kecil. "Oh, ya. Bunda, Shiro, perkenalkan, ini Shun. Dia adik tiriku dan juga kakak tirimu, Shiro. Dan tentu saja, Shun juga anak Bunda."

Datang ke pemakaman untuk mengunjungi keluarga atau kerabat dekat yang sudah pergi duluan memang membawa aura menyedihkan, namun di pemakaman pula Takeru melepas rindunya kepada dua orang paling ia cinta. Rasanya seperti pulang ke rumah disambut oleh ibu dan adik kandungnya. Dia bisa merasakan kehadiran Sana dan Toshiro yang menyambutnya di tempat ini.

"Sebentar lagi Christmas Bowl kedua yang pasti akan kami ikuti. Kalau Bunda dan Shiro masih di sini, aku harus meminta tiket gratis tambahan khusus kalian berdua." Takeru lanjut berbicara, tidak sadar bahwa Shun melekatkan pandangan ke arahnya dengan tatapan iba. "Tapi, kalau kalian masih ada, aku nggak akan ketemu Shun dan Shun nggak akan pernah jadi adikku. Hehehe, maaf ya, Shiro!"

Shun menilik Takeru lebih dalam saat tangan besar sang kakak menepuk dengkulnya dan mengusapnya pelan. Takeru sempat menoleh ke arahnya sekilas, lalu kembali fokus kepada dua nisan di depannya.

"Bunda, mungkin aku terkesan manja, tapi …." Kali ini, Takeru menggantungkan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat dan ia berusaha meredakan emosinya yang meluap sampai pelampiasannya adalah air mata yang membendung di mata. "Aku rindu masakan Bunda. Hehe. Terakhir kali aku makan, kan, sebelum aku ke Amerika. Lama banget, Bunda. Kangen."

Kilatan di mata itu tidak terlewatkan barang sepersekon detik pun oleh Shun. Refleks, ia meletakkan tangannya di atas tangan Takeru yang masih bertengger di dengkulnya. Digenggamnya tangan yang biasa digunakan untuk menggenggam bola amefuto itu erat.

Takeru jelas terlihat berpura-pura kuat. Mungkin jika ia tidak di sini, ia sangat yakin air mata yang ditahan personifikasi musim gugur itu itu sudah lolos.

Padahal, menangis sambil meraung-raung di depannya pun Shun terima dengan tangan terbuka, malah lebih baik daripada memasang tameng super kuat tapi juga super palsu.

Takeru menghela napas, kembali berusaha sekuat tenaga menahan emosinya yang hampir di luar kontrol. Tidak ada pilihan selain memejamkan mata untuk menghalau tetesan air mata itu bobol dari matanya yang sudah basah. "Kau juga harusnya mulai belajar American football, Shiro! Shun ini atlet amefuto yang hebat, bahkan dia satu-satunya atlet Jepang yang kutemui di Amerika sana, kautahu? Pokoknya di sana, kau harus berlatih dan sampai nanti kita bertemu lagi, kau sudah menjadi atlet amefuto yang hebat!"

"Oh ya, Bunda, aku dan Shun ini agak kurang akur daripada aku dengan Shiro dulu. Tapi itu wajar, kan? Aku sudah kenal Shiro sejak dia lahir, sementara dengan Shun baru beberapa bulan. Kuakui, aku kadang menyebalkan. Bunda nggak marah, kan?"

Hanya dengan mendengar semua ocehan Takeru dapat membuat Shun tersenyum. Semua orang di dunia ini tahu bahwa dirinya adalah salah satu makhluk yang sangat pelit senyum. Ditambah lagi oleh berbagai masalah yang seakan tidak ingin membiarkannya dan Takeru hidup tenang, sukses mengembalikan es yang pernah ada saat awal-awal kehidupan mereka sebagai kakak beradik.

Tapi, tidak ada alasan apapun di dunia ini yang bisa membuat es itu tetap beku. Bahkan jika ada, Shun memilih untuk mengabaikannya dan mengikis jarak tak terlihat di antara mereka. Mengisi kekosongan yang sempat kembali hadir akibat perang dingin berhari-hari yang lalu.

Takeru tampak sudah berhenti berdialog (bermonolog lebih tepatnya). Ia memejamkan mata dan tangan yang tadi digengga, sekarang menggenggam balik tangan Shun, memimpin doa yang diikuti oleh adik tirinya.

"Bunda, Shiro, sayang sekali aku harus berpisah lagi." Selesai berdoa, Takeru kembali membuka mulut. "Sampai jumpa di lain waktu, kalian. Baik-baik di sana, dan itu harus!"

Si sulung Yamato itu pun berdiri dan sudah siap meninggalkan tempat, tapi geraknya tertunda karena Shun masih berjongkok. Baru saja ia akan mengajaknya untuk pulang, tapi lelaki pemilik iris sejernih langit itu berkata pelan.

"Toshiro, mungkin nanti jika kita bertemu di sana, aku juga ingin melihat adikku menjadi atlet amefuto seperti kakak-kakakmu."

"Dan, Bunda … meskipun Takeru yang sekarang menjadi kakakku ini menyebalkan dan kami sering bertengkar, namun aku janji. Kami berdua akan tetap baik-baik saja. Takeru akan tetap menjadi kakakku. Dan aku akan tetap menjadi adiknya."

Untuk pertama kali dalam setahun ini, bendungan air mata Takeru Yamato bobol dan membiarkan dirinya sendiri menangis dalam diam.

.

.

to be continued—

.

.


.

a/n

alay gak sih ini endingnya dih :( semoga gak cringe banget lah ya…

terbtw, disini ada perubahan panggilan niisan kaasan dan tousan selanjutnya. Kenapa? Ya karena pengen aja?

gak deng. Eh bener sih pengen aja, terus bingung bedainnya juga kapan manggil kaasan tousannya kakei atau kaasan tousannya yamato. Jadi begitulah yah. Mon maap nih : (