*Beware of typos!

.

.

.

Chapter 2: The Guy With Brown Jacket

Rabu, 10:34 AM

Kelas pagi ini akan segera dimulai. Para mahasiswa mulai berdatangan, mengisi kursi-kursi yang masih kosong di dalam kelas. Di barisan belakang, Baekhyun duduk dengan tenang di kursinya dan mengabaikan dengung pembicaraan disekitarnya. Ia sibuk memperhatikan dosen Hwasa di depan kelas yang sedang memeriksa materi kuliahnya hari ini sembari menunggu para mahasiswanya datang. Ah, dosen muda itu selalu nampak cantik dan seksi seperti biasanya. Sebuah pemandangan yang menyegarkan mata untuk memulai hari.

"Baekhyun? Baekhyun!"

Terlalu terpana pada keseksian dosen cantik favorit setiap mahasiswa itu hingga Baekhyun tidak menyadari Kai telah duduk di sampingnya, memanggilnya beberapa kali. Lelaki berkulit cokelat itu pun memukul lengan Baekhyun dengan cukup keras, membuat sahabat mungilnya itu tersentak kaget.

"Apa?" tanya Baekhyun, menoleh pada Kai.

"Kau jelas-jelas sedang memperhatikan Miss Hwasa, kawan," ujar Kai, tersenyum jahil.

"Apa kau gila?" sanggah Baekhyun, sedikit malu karena ketahuan.

"Kau pikir aku tidak melihatnya, huh?"

"Dia seorang dosen, Kai!"

"Lalu? Seperti tidak ada yang pernah berfantasi tentang dosen muda yang benar-benar seksi."

Kai mengendikkan bahunya dengan acuh seraya memandang dosen Hwasa yang memberikan senyum manisnya pada setiap mahasiswa yang baru saja datang dan menyapanya. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil, memilih mengabaikan komentar Kai. Kehadiran Do Kyungsoo dengan ransel dan beberapa buku di tangannya menghentikan obrolan Baekhyun dan Kai tentang dosen Hwasa.

"Bisakah kau meninggalkan kami sebentar?" pinta Kyungsoo pada Kai.

"Ah, Do Kyungsoo, senang melihatmu!" sapa Kai menoleh pada gadis manis berwajah tegas tersebut.

Kyungsoo menarik bibirnya, memberikan seulas senyum paksa pada Kai dan bertanya, "Bisa kau pindah?"

"Ya...uh, tentu saja," jawab Kai seraya mengambil ranselnya dari atas meja dan beranjak pergi.

"Bagus. Terima kasih," ucap Kyungsoo, lalu segera menempati kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Kai.

Baekhyun menatap Kyungsoo dengan bingung. Tidak biasanya gadis manis itu ingin duduk bersamanya di kelas. "Hai?" ia mencoba menyapa.

Mengabaikan sapaan Baekhyun, Kyungsoo meletakkan ransel dan buku-bukunya di atas meja, lalu memandang pemuda itu dengan tatapan yang tidak ramah. "Apa kau kehilangan sesuatu hari sabtu kemarin?" tanyanya.

Baekhyun berpikir sejenak sebelum akhirnya teringat pada mariyuana milik Kai yang hilang, tertinggal di rumah Tao hari itu. "Sial, kau menemukannya!" katanya, mulai panik. Kyungsoo hanya diam dan menaikkan satu alisnya, membuat Baekhyun mulai bingung. "Tunggu...apa yang sedang kau bicarakan?"

"Keperawananmu!" ujar Kyungsoo asal, membuat Baekhyun memutar bola matanya sedikit jengah. "Bukan, bodoh. Aku membicarakan tentang mariyuana!"

Mendengar hal itu Baekhyun pun membelalakan matanya. Ia segera menoleh ke kanan dan kiri sejenak, memastikan tidak ada yang mendengar celetukan Kyungsoo barusan. Lalu ia memandang gadis itu kembali dan berbisik, setengah panik dan setengah kesal,

"Oke, tapi haruskah kau menghinaku setiap kali kau bicara?"

"Apa kau serius?" Kyungsoo mendengus kesal dan ikut berbisik. "Hey, jika aku tidak memungutnya, polisi akan menemukannya di rumah Tao! Jadi, "bodoh" sudah terlalu bagus."

"Baiklah, maafkan aku," Baekhyun menghela napas. "Jadi sudah selesai?"

"Apa yang sudah selesai?" Kyungsoo mengernyit, pura-pura tidak mengerti.

"Kau akan mengembalikannya?"

"Tidak."

Baekhyun memandang Kyungsoo dengan tatapan memelas. Ia harus mendapatkan mariyuana itu kembali sebelum Kai teringat bahwa sisa mariyuana miliknya belum dikembalikan. Namun nampaknya tatapan memelas bak anak anjing terbuang ala Byun Baekhyun itu tidak berhasil pada satu-satunya gadis yang tidak pernah bicara manis padanya itu.

"Luhan memberitahuku kau tidak mau datang ke ruang bersama hari Jumat nanti," kata Kyungsoo tiba-tiba. "Itu sangat tidak baik, Baekhyun. Aku kecewa."

Baekhyun mendengus pelan, mulai mengerti alur pembicaraan Kyungsoo. "Baiklah, aku akan datang," ujarnya, menyerah.

"Kupikir, aku tidak membuatnya jelas. Kau dan teman-temanmu, kalian harus datang."

"Aku bukan seorang pesulap! Jika aku memberitahu mereka mengapa mereka harus datang, mereka akan membunuhku karena mariyuana itu!"

"Itu bukan masalahku. Kau pikir ini tidak menyedihkan untuk kami? Luhan, kau tahu dia. Dia telah berusaha keras untuk menjadi terlihat keren dan lebih berarti dalam tangga sosial kampus ini, dibandingkan gadis-gadis populer berotak kosong itu. Coba pikirkanlah!"

Baekhyun terdiam sejenak dan menghela napas. "Baiklah, baik, kami akan datang," katanya menyerah.

"Bagus," Kyungsoo tersenyum senang. "Oh ya, kau harus datang lebih awal untuk membantu kami. Kami akan membutuhkanmu untuk mempersiapkan semuanya. Oke?"

Baekhyun mencoba menolak tapi Kyungsoo mengabaikannya dan beranjak berdiri seraya mengucapkan terima kasih. Saat gadis itu hendak meraih ransel dan buku-bukunya di atas meja, dengan cepat Baekhyun menahan tangannya dan bertanya,

"Bagaimana dengan mariyuana-nya?"

"Bagaimana dengan itu?" gadis itu balik bertanya.

"Kau tidak mengembalikannya?"

"Kau bercanda? Aku akan mengembalikannya setelah pertemuan. Kau pikir aku bodoh?"

Kyungsoo meraih barang-barangnya di atas meja dan hendak kembali ke kursinya, namun suara dosen Hwasa menghentikan niatnya, "Do Kyungsoo, duduklah. Kita akan memulai kelas."

"Uh, Miss, saya seharusnya duduk dengan Tao," kata Kyungsoo seraya menunjuk Tao yang duduk di kursi depan.

"Well, Kim Kai, kau akan duduk dengan Huang Zitao, dan Do Kyungsoo akan bersama Byun Baekhyun," perintah dosen Hwasa. "Dengan cara ini, kau akan lebih sedikit mengobrol di kelasku."

Dengan wajah merengut Kyungsoo meletakkan kembali barang-barangnya di atas meja, terpaksa menuruti perintah sang dosen muda tersebut untuk duduk bersama Baekhyun sepanjang mata kuliah itu.

*chanbaek*

Jumat, 4:38 PM

Sesuai perjanjiannya dengan Kyungsoo, Baekhyun datang ke ruang bersama setelah kelasnya yang berakhir setengah jam lebih telat sore ini. Para gadis—Luhan, Kyungsoo, Tao dan Amber—sudah berada di ruangan saat ia datang. Ruangan itu cukup besar namun sedikit berantakan. Kursi-kursi berjejer rapi menghadap ke dinding yang berhias sebuah tulisan grafiti yang besar. Dua lemari dan kardus-kardus nampak di sudut-sudut ruangan. Sepi sekali, belum ada satu mahasiswa pun yang datang. Di tengah ruangan, di depan kursi-kursi yang berjejer rapi, Luhan berjalan mondar-mandir. Gadis cantik itu nampak bersemangat, seperti biasanya. Berbanding terbalik dengan ketiga temannya yang nampak bosan.

"Hai, Baekhyun," sapa Luhan, tersenyum senang melihat kehadiran lelaki bersurai pirang itu. "Ini akan menjadi keren, kan?"

"Oh ya, ya, ya," Baekhyun menganggukkan kepalanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan sedikit tidak bersemangat.

"Baunya aneh, kan?" celetuk Tao—yang sedang berdiri bersandar di dinding, memainkan tali hoodie-nya—tentang ruangan kosong yang akan mereka pakai saat ini.

"Sepertinya sebuah kesedihan," sahut Amber yang sedang duduk di salah satu kursi, memainkan ponselnya. Tao menoleh pada Amber dan menyetujui ucapannya.

"Rasanya seperti ada yang mati di sekitar sini," timpal Kyungsoo yang berdiri di samping Tao, menyenderkan kepalanya dengan bosan di bahu gadis tinggi tersebut. "Seperti mati karena kesepian."

Baekhyun meletakkan ranselnya di salah satu kursi dan melepaskan syal merah melilit lehernya seraya diam mendengarkan celoteh kebosanan tiga gadis itu. Luhan masih saja nampak semangat, meski setelah lama mereka menunggu masih belum ada yang datang.

"Oke, girls. Untuk sekarang, tidak bagus. Tetapi justru itu intinya," ucap Luhan meminta Amber untuk berdiri dari kursi yang didudukinya, menggeser kursi itu kembali ke posisinya semula, lalu memandang teman-temannya dengan optimis. "Kita akan mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat keren hingga orang-orang tidak akan mau meninggalkan kampus ini."

"Itu adalah hal yang paling menyedihkan yang pernah aku dengar hari ini," komentar Amber seraya ikut bergabung dengan Tao dan Kyungsoo bersender di dinding.

Luhan berpikir sejenak. "Haruskah kita membuat insta story untuk Seulgi? Dia akan sangat bahagia," usulnya kemudian seraya mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia berdiri di depan ketiga temannya dan mulai memposisikan ponselnya. Lalu menyadari bahwa masih ada yang kurang. "Baekhyun, kemarilah!"

Baekhyun yang sejak tadi hanya diam mendengarkan merasa moodnya sedikit berubah saat mendengar nama Seulgi disebut. Namun pada akhirnya ia tetap menghampiri Luhan dan ketiga temannya yang mulai berpose di depan kamera. Tetapi ketika ia sudah berdiri bersama mereka dan hampir bersiap untuk ikut berpose, Luhan justru menurunkan ponselnya, setengah berlari ke arah lain dan sibuk memeriksa hasil foto barusan di ponselnya. Tao, Amber dan Kyungsoo tertawa pelan melihat ekspresi Baekhyun.

Mendesah pelan, Baekhyun mengalihkan pandangannya dan menyadari kehadiran dua orang mahasiswa kutu buku di depan pintu. Ia pun menghampiri Luhan dan memanggilnya. "Ada yang datang," katanya.

Luhan menoleh ke arah pintu dan langsung tersenyum menyambut kedua mahasiswa tersebut. "Hai! Apa kalian datang untuk pertemuan ruang bersama?" tanyanya.

Kedua mahasiswa kutu buku itu terdiam sejenak dan memperhatikan ruangan sekitar. "Um...ini ruang bersama?" salah satu mahasiswa berkacamata yang membawa laptop di tangannya bertanya dengan ragu.

"Well, silahkan duduk. Di sini ada jus jeruk dan kue," kata Luhan seraya menunjuk sebuah meja kecil di dekatnya. Beberapa botol jus jeruk dan sekotak kue terhidang di atas meja itu.

Baekhyun yang diam memperhatikan di belakang Luhan, diam-diam menghela napas. Baru dua orang yang datang dan itu pun mahasiswa kutu buku dengan penampilan yang kurang meyakinkan. Mereka masih harus menunggu lagi.

Ini pasti akan menjadi hari yang panjang, pikirnya bosan.

*chanbaek*

Lima belas menit berlalu dan pengunjung yang datang ke pertemuan ruang bersama ini masih belum bertambah. Baekhyun duduk di salah satu kursi di belakang dua mahasiswa kutu buku, memandang bosan ke sekitar. Amber sedang memainkan bubble warp untuk mengusir jenuh. Tao sibuk dengan ponselnya. Kyungsoo memilih untuk membaca buku. Dan Luhan masih mondar-mandir penuh semangat di depannya dengan setumpuk questioner di tangannya. Mendesah pelan, Baekhyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memeriksa ada tidaknya pesan baru. Ia berharap ketiga sahabatnya segera datang, atau Kyungsoo akan memakinya lagi.

"Hai!" sapa Luhan, tersenyum senang saat melihat Changmin, Kai dan Sehun datang.

Changmin balas menyapa Luhan. Mendengar suara Changmin, Baekhyun mengangkat kepalanya dan menoleh memandang ketiga sahabatnya dengan penuh syukur. Akhirnya mereka benar-benar datang. Baekhyun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku saat ketiga sahabatnya mengisi kursi-kursi kosong di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan? Kemari," kata Kai seraya menarik lengan Sehun yang justru hendak ingin menghampiri Luhan.

"Aku hanya berpikir mungkin..." Sehun mencoba membuat alasan, namun Kai mendorongnya duduk di kursi. Ia pun menutup mulutnya, meletakkan ranselnya di lantai, dan duduk dengan sikap yang sangat baik seraya terus memandang Luhan dengan penuh terpesona.

Akhirnya satu-persatu orang-orang mulai berdatangan, mengisi kursi-kursi yang tersedia. Changmin memperhatikan sekitar dan mengernyit saat tidak menemukan hal yang dijanjikan oleh Baekhyun. "Apa ini, Baekhyun? Bukankan kau bilang akan ada minuman?" protesnya.

"Ya, dan kau juga bilang akan gadis-gadis di sini," Kai ikut mengajukan protesnya.

"Hey, kalian buta atau apa?" kata Baekhyun santai. "Lihat di depan kalian: empat gadis. Dan jika kalian ingin minum, ada jus jeruk di sana."

Kai dan Changmin mengerjap mendengarnya, memandang tidak percaya sang sahabat mungil yang ternyata telah mengerjai mereka. Baekhyun hanya tersenyum kecil, mengabaikan protes kedua sahabatnya. Saat ia menoleh, ia melihat sosok Sulli di antara mahasiswa lainnya yang hadir di pertemuan ruang bersama ini, duduk di kursi depan di barisan depan sebelah kanan dari Baekhyun. Gadis itu tersenyum manis saat menyadari kehadiran sang lelaki pujaannya, dan entah kenapa senyuman itu justru terasa sedikit menganggu bagi Baekhyun.

"Teman-teman, big news. Kupikir dia baru saja mengedip padaku," suara Sehun yang penuh antusias mengalihkan perhatian Baekhyun dari Sulli. Sehun masih saja tidak mengalihkan pandangannya dari Luhan.

Kai menatap Luhan yang sedang menggosok matanya sejenak sebelum kemudian kembali tersenyum menyapa orang-orang yang datang, lalu ia menatap Sehun yang sedang tersenyum bodoh dan mendengus.

"Tidak. Tidak sama sekali. Dia hanya menggosok matanya," sergahnya.

Baekhyun hanya diam mendengarkan celotehan absurd sahabat-sahabatnya. Merasakan tatapan seseorang terhadapnya, ia mencoba melirik kembali ke arah Sulli. Dan sialnya tebakannya benar. Gadis itu masih menatapnya sambil tersenyum, bahkan Sulli berani mengedipkan satu matanya penuh rayu pada Baekhyun. Baekhyun pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, mulai merasa semakin tidak nyaman dengan aksi gadis mantan targetnya tersebut.

"Oh, sial. Itu, bagaimanapun, pasti sebuah kedipan," ujar Kai yang ternyata melihat aksi kedip genit Sulli barusan.

"Sepertinya dia benar-benar terpikat padamu, Baekhyun," sahut Sehun.

"Apa kalian berdua bercinta di hari sabtu?" tanya Changmin, ikut penasaran.

Baekhyun hanya diam, enggan menjawab pertanyaan para sahabatnya yang nampak penasaran. Hingga tidak sengaja ia melihat seorang pemuda berjaket cokelat melangkah memasuki ruangan. Bertubuh tinggi, tampan, dengan surai cokelat gelapnya yang berantakan dan senyum lebarnya yang memikat. Pemuda itu duduk di kursi paling ujung barisan belakang sebelah kanan dari Baekhyun, nampak asyik mengobrol dengan seorang gadis yang duduk di sebelahnya. Entah kenapa, Baekhyun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari pemuda berjaket cokelat itu.

Tiba-tiba pemuda berjaket cokelat itu mengangkat pandangannya, dan mata mereka saling bertemu dalam sepersekian menit yang terasa berjalan dengan lambat. Lalu sesuatu perasaan aneh terasa menjalari sudut hati Baekhyun, saat pemuda berjaket cokelat itu tersenyum padanya. Senyuman pemuda itu terasa berbeda dengan senyuman yang diberikan Sulli padanya barusan. Senyuman sulli terasa mengganggunya, tetapi senyuman pemuda itu justru memikatnya.

Ini aneh.

Baekhyun akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke depan dan mencoba berpikir kenapa sosok pemuda itu tiba-tiba saja bisa mengusik hatinya padahal ini kali pertama mereka bertemu. Sementara itu si pemuda berjaket cokelat kembali asyik mengobrol dengan gadis yang duduk di sebelahnya. Dengung pembicaraan terdengar memenuhi ruangan, namun Baekhyun mengabaikan semua itu. Kepalanya masih sibuk berpikir tentang satu sosok yang membuatnya ingin mengetahui, siapa nama pemuda tampan berjaket cokelat itu?

"Baekhyun, sial!"

Suara Changmin sedikit menarik Baekhyun dari pikirannya. Tanpa mengerti apa yang ditanyakan oleh sang sahabat, ia hanya menjawab dengan setengah melamun, "Yah, kau bisa bilang begitu."

Sehun terkekeh pelan, jelas menyadari bahwa sang sahabat mungilnya sama sekali tidak memperhatikan obrolan mereka. "Apa maksudmu?" tanya Kai, mendengus.

"Apa maksudmu "Kau bisa bilang begitu"?" Changmin terkekeh geli.

Baekhyun mengerjap, mencoba berpikir cepat untuk mencari alasan. Namun, beruntunglah, Luhan sudah lebih dulu bersuara di depan ruangan. Suaranya yang manis dan penuh semangat menarik perhatian semua orang. Luhan mencoba memperkenal dirinya dan ketiga teman-temannya, tetapi tidak berjalan terlalu baik. Mungkin karena gadis itu sedikit gugup. Ketika akhirnya Luhan berhasil melewati sesi perkenalan itu, Sehun satu-satunya orang yang bertepuk tangan dengan keras. Kai dan Baekhyun yang merasa malu segera menghentikan tangan Sehun, sementara Changmin hanya menggelengkan kepalanya.

"Jangan ragu-ragu untuk berpartisipasi, bertepuk tangan dan semuanya. Itu adalah tujuan utama dari ruang bersama ini," ujar Luhan.

"Wooh!" Sehun mengangkat kedua tangannya ke udara dan bersorak senang, yang kembali segera dihentikan oleh Kai dan Baekhyun.

Baekhyun memelototi Sehun, memberinya peringatan untuk berhenti bertingkah memalukan. Namun untuk sedetik matanya justru kembali menatap si pemuda berjaket cokelat yang sedang tersenyum memperhatikan ke depan. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke depan, berusaha mendengarkan perkataan Luhan,

"Aku yakin kalian semua bertanya-tanya "Apa yang kita lakukan di sini?" Orang-orang saling bergumam setuju. Luhan tersenyum dan melanjutkan, "Well, great. Kita di sini karena ruang bersama ini telah dibiarkan terlalu lama. Di gunakan oleh para pecundang, dan diabaikan oleh orang-orang keren. Dan jadi kami di sini karena kami berpikir, kita membutuhkan sebuah tempat yang keren dimana kita bisa bertemu, bicara, bersenang-senang."

Sehun yang sedang mendengarkan Luhan dengan serius—a.k.a sibuk terpesona dengan kecantikan Luhan—sedikit merengut saat Changmin mengganggu. Baekhyun mengabaikan tingkah para sahabatnya, ia berusaha fokus mendengar penjelasan Luhan dengan sesekali tanpa sadar terus melirik ke arah si pemuda berjaket cokelat.

Berbicara tentang tempat untuk bersenang-senang, salah seorang mahasiswa menyebutkan bar. Dengan masih berusaha mempertahankan senyumannya, Luhan menolak kalimat bar dan meminta opsi lain untuk bersenang-senang bagi mahasiswa di kampus.

"Cafetaria kampus?" celetuk Changmin yang membuahkan tawa seisi ruangan. Senyuman Luhan mulai sedikit luntur.

Merasa tidak tahan, Kyungsoo yang sejak tadi hanya bersender diam di dinding akhirnya maju ke depan dan berdiri di depan Luhan. "Oke, cukup," katanya dengan tegas. "Siapapun yang selanjutnya memotong perkataan Luhan, aku akan mematahkan kedua tulang keringnya. Mengerti?"

Peringatan Kyungsoo terbukti ampuh untuk membuat diam semua orang. Bahkan Changmin pun menegakkan tubuhnya tanpa sadar di kursinya karena tatapan tajam dari gadis itu. Setelah suasana kembali tenang Luhan melanjutkan perkataannya seraya menunjukkan setumpuk questioner di tangannya,

"Baiklah, jadi kami mempersiapkan sedikit survey untuk mengetahui apa yang kalian inginkan di dalam ruang bersama ini, apa yang kalian ekspektasikan dari kami. Aku akan membiarkan kalian membacanya. Jangan ragu-ragu untuk mengisinya, karena ini anonim."

Luhan memberikan setumpuk kertas questioner di tangannya pada Amber dan memintanya untuk mulai membagikannya. Tao membagikan sekotak pulpen. Orang-orang pun mulai sibuk mengoper kertas dan pulpen. Dan lagi-lagi, tanpa sadar Baekhyun terus melirik ke arah si pemuda berjaket cokelat.

"Kupikir itu saja. Ada yang ingin di tanyakan?" tanya Luhan, mengakhiri penjelasannya.

"Ya!" Dengan cepat dan penuh semangat Sehun mengangkat satu tangannya ke atas. "Aku?"

"Ya?" Luhan mempersilahkan Sehun untuk bertanya.

Sehun berdeham sebentar. "Uh, Luhan, hai, sebelumnya," katanya sedikit gugup. "Jadi, ini tentang nomor teleponmu. Berapa setelah 05?"

Luhan menahan napasnya dengan kesal sesaat sebelum menjawab, "Well, setelah 05, ada 06,07,08. Sehun, kau tingkat dua, kan? Kau setidaknya harus tahu bagaimana menghitung."

Jawaban Luhan sontak membuat orang-orang—termasuk ketiga temannya—yang mendengarnya tertawa. Mengabaikan Sehun, Luhan kembali tersenyum saat menerima questioner yang sudah selesai diisi. Sementara itu Sehun terdiam selama beberapa lama dan hanya mengerjapkan matanya.

"Teman-teman," kata Sehun depan pandangan berbinar, "Kurasa aku jatuh cinta."

"Oh, sial," komentar Changmin terkekeh kecil. Kai hanya tersenyum.

"Um, tulis untuknya, kalau begitu," saran Baekhyun saat Sehun terus menatapnya seraya terus tersenyum seperti orang bodoh.

"Ya, kau bisa selalu menulis nomor teleponmu," usul Changmin,

"Tuliskan namamu, "Hun"," kata Kai.

Dengan senyum lebar di wajahnya, Sehun pun mengikuti saran dari para sahabatnya, berharap dengan cara ini ia bisa mendekati Luhan. Sementara orang-orang disekitarnya sibuk dengan lembar survey mereka, Baekhyun masih membiarkan lembar surveynya kosong. Ia menoleh ke belakang, kembali melirik si pemuda berjaket cokelat yang nampak sedang menjelaskan isi lembar survey pada gadis yang duduk di sebelahnya. Melihat senyum lebar pemuda berjaket cokelat itu membuatnya kembali bertanya-tanya di dalam kepalanya,

Kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemuda itu? Dan siapa dia?

*chanbaek*

Jumat, 6:53 PM.

Hari mulai gelap ketika pertemuan ruang bersama berakhir, dan orang-orang pun mulai meninggalkan ruangan. Baekhyun merasa sedikit kecewa saat si pemuda berjaket cokelat sudah tidak ada di kursinya. Sepanjang langkah kakinya meninggalkan area kampus, mata cokelat Baekhyun terus mencari-cari sosok tinggi tersebut. Namun ia tidak menemukannya di manapun. Mungkin pemuda itu sudah pulang.

Maka Baekhyun melangkah dengan lesu menuju halte bus, setelah berpisah jalan dengan ketiga sahabatnya. Di halte bus yang sepi, ia menghentikan kakinya dan membaca jadwal kedatangan bus tujuannya. Namun mata cokelatnya justru menangkap sosok tinggi si pemuda berjaket cokelat di depan sebuah mesin penjual snack otomatis, berdiri membelakangi dirinya. Tanpa berpikir lagi, ia pun melangkah mendekatinya. Semakin dekat langkah kakinya, semakin ia menyadari betapa tinggi pemuda itu. Mungkin sekitar 185cm. Sebatang rokok mariyuana terselip diatas telinga kirinya yang lebar.

Pemuda berjaket cokelat itu menggosokkan kuku-kuku jemarinya ke bibirnya, alisnya berkerut seolah sedang berpikir dengan keras. Menyadari kehadiran Baekhyun, pemuda itu menghentikan tangannya dan menoleh ke samping. Baekhyun berdiri di dekatnya, memperhatikannya lekat-lekat.

"Oh, maaf. Aku tidak melihatmu di sana," si pemuda berjaket cokelat berkata pada Baekhyun, lalu menatap kembali mesin otomatis di depannya dengan bingung. "Aku...aku tidak yakin ingin mengambil yang mana."

"Nomor 24 tidak buruk," saran Baekhyun setelah memandang pemuda itu beberapa lama.

"Ok," si pemuda berjaket cokelat mengikuti saran Baekhyun. Ia merogoh sakunya, mengambil beberapa uang koin, memasukkannya ke dalam mesin otomatis, dan menekan tombol 24. Lalu ia berdiri menunggu.

Mesin otomatis itu mulai bekerja, menjatuhkan snack bar rasa almond, menyisakan satu bungkus snack itu di balik kaca yang bermandikan cahaya neon. Si pemuda berjaket cokelat memasukkan beberapa uang koin lagi dan menekan tombol 24. Mesin otomatis itu kembali bekerja seperti tadi, menjatuhkan snack yang dipilih dan kini menyisakan ruang kosong di sana. Baekhyun hanya diam memperhatikan bagaimana pemuda itu berdiri menunggu dengan sabar, bagaimana dia berjongkok untuk mengambil dua bungkus snack dari dalam mesin otomatis itu, bagaimana dia menoleh padanya dan tersenyum polos.

"Sial, sudah habis. Kau mau satu?" tawarnya pada Baekhyun. Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. "Well, beruntung ini untuk kita berdua kalau begitu."

Seraya mengambil batang rokok mariyuana di telinganya, pemuda itu menggerakkan kepalanya ke arah halte bus, mengisyaratkan Baekhyun untuk mengikutinya. Baekhyun menoleh, masih diam memperhatikan bagaimana pemuda itu menyelipkan batang rokoknya di sela bibirnya, menyulutnya dengan pemantik api dan tersenyum saat menghembuskan asap kelabunya. Membiarkan asap kelabu itu membaur bersama udara yang mulai mendingin di musim gugur. Pada akhirnya Baekhyun mengikuti pemuda itu, duduk satu kursi lebih jauh darinya di halte bus yang sepi.

"Pertemuan itu aneh, bukan?" pemuda itu bertanya setelah menghembuskan asap kelabu dari mulutnya, tersenyum menatap Baekhyun seraya menikmati rokoknya.

"Ya, itu aneh," ujar Baekhyun setuju, tersenyum kecil. "Surveynya juga."

"Ya, tapi itu penting."

"Surveynya?"

"Tidak, bukan surveynya, tapi ruang bersamanya, semuanya. Itu bagus," pemuda itu menyodorkan batang rokoknya pada Baekhyun, menawarkan. Baekhyun menerima batang rokok itu sambil tersenyum. "Itu kesempatan yang bagus untuk bertemu orang baru."

Baekhyun menghisap rokok itu seraya memandang si pemuda berjaket cokelat selama beberapa saat. "Kau baru?" tanyanya, menghembuskan asap kelabu dari mulutnya.

"Ya, aku baru pindah tiga minggu lalu dari Perancis," jawab pemuda itu. "Tingkat tiga, jurusan seni lukis."

"Bukankah agak aneh pindah ke sini di pertengahan semester?"

"Itu aneh juga?"

Baekhyun terdiam sejenak saat pemuda itu balik bertanya. Lalu sambil tersenyum pemuda itu kembali berkata, "Segalanya aneh denganmu!"

Lalu mereka terkekeh kecil bersama. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke depan, dan dengan pandangan penuh arti ia berkata lagi, "Aku pasti aneh juga, kan?"

Baekhyun yang sedang menghisap rokok di tangannya menoleh, memandang pemuda itu. "Aku tidak bermaksud seperti itu sama sekali," katanya dengan cepat, merasa sedikit tidak enak.

"Dan apa maksudmu?"

"Aku hanya bermaksud—"

Perkataan Baekhyun terpotong karena kehadiran Sulli yang tidak diharapkannya. Gadis itu berdiri di depan Baekhyun dengan senyum manisnya. "Hai, bagaimana kabarmu?" tanyanya pada Baekhyun.

"Aku baik," jawab Baekhyun seraya mengembalikan batang rokok di tangannya pada si pemuda berjaket cokelat, lalu memandang Sulli dengan sedikit malas.

"Kau pergi begitu saja tanpa kata tadi!" kata Sulli, sedikit kecewa karena lelaki pujaannya mengabaikannya tadi sore.

Baekhyun hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke bawah, enggan menanggapi. Sulli memandang Baekhyun selama beberapa saat, masih dengan senyum di bibirnya dan harapan Baekhyun akan berbicara banyak padanya. Namun Baekhyun masih menutup mulutnya. Maka dengan sedikit kecewa ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan baru menyadari kehadiran si pemuda berjaket cokelat yang sedang memperhatikan mereka sambil merokok.

""Oh, bolehkah?" pinta Sulli menadahkan tangannya.

Mengerti maksud Sulli, si pemuda berjaket cokelat menyodorkan rokoknya pada gadis itu sambil tersenyum ramah, "Ya, tentu," katanya.

"Terima kasih," Sulli berucap senang seraya mendudukan dirinya di satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Kursi antara Baekhyun dan si pemuda berjaket cokelat.

Sulli menghisap rokok itu dan menikmatinya seraya menatap Baekhyun penuh minat. Sementara Baekhyun hanya diam, merasa sedikit tidak nyaman. Ia masih ingin mengobrol dengan pemuda berjaket cokelat itu, tapi gadis ini datang tanpa di minta dan menatapnya tanpa tahu malu. Sungguh menyebalkan. Baekhyun jadi merasa sedikit menyesal karena pernah memilih gadis yang ia sangka polos ini sebagai targetnya dulu.

"Pertemuan tadi menyenangkan, bukan?" Sulli mencoba membuka percakapan dengan Baekhyun.

Baekhyun masih diam, menatap gadis itu dengan sedikit enggan. Merasa suasana semakin canggung, si pemuda berjaket cokelat yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua tiba-tiba berujar, "Aku pikir pendapat umum itu yang aneh."

Sulli menoleh pada si pemuda berjaket cokelat, lalu mengangukkan kepalanya setuju. Mereka berdua terkekeh kecil sejenak. Lalu, seraya tersenyum penuh arti si pemuda berjaket cokelat itu berujar lagi,

"Tetapi kita suka yang aneh, kupikir."

Sulli menganggukkan kepalanya sekali lagi. Menyadari bahwa Baekhyun sedang memperhatikan mereka dengan raut wajah sendu, membuatnya berpikir jika ia bisa menggunakan pemuda berjaket cokelat itu untuk membuat Baekhyun cemburu, Sejak ciuman pertama mereka di pesta waktu itu, ia merasa yakin bahwa Baekhyun memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Benar begitu, kan?

"Ah, aku belum memperkenalkan diri. Aku Choi Sulli," Sulli dengan cepat memperkenalkan dirinya, tersenyum begitu manis. "Bagaimana denganmu?"

"Park Chanyeol," si pemuda berjaket cokelat menyebutkan namanya sambil tersenyum ramah.

"Senang bertemu denganmu, Chanyeol," ucap Sulli dengan senang, kembali menikmati rokok di tangannya.

Pemuda itu menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum kecil. Menyadari Baekhyun masih terus memandangnya dalam diam, ia memandang pemuda manis itu dan berkata dengan seulas senyum penuh arti, "Aku Chanyeol."

Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan, dan akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lalu diam, tidak ada lagi yang bersuara. Mereka bertiga menunggu bus datang dalam ketenangan malam, dengan tiga pikiran yang berbeda jalan.

Tbc