"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I own only this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Semi-incest BL
Plot-bunnies(?)
And others
—shunshines
.
.
.
.
"Sekarang, kita mau kemana?"
Setelah mengunjungi makam Sana dan Toshiro, kini Takeru dan Shun sudah kembali berada di dalam mobil, dengan Takeru yang kembali menyetir dan Shun yang masih setia duduk di sampingnya, sudah pasrah mengikuti kemana sang kakak membawanya.
Meskipun sebagian besar waktunya ia gunakan untuk menunjukkan ketidakramahan terhadap Takeru, namun jauh di dalam hatinya, ia tetap respek kepada lelaki itu. Minggu yang sudah lalu mungkin adalah minggu terberat yang mereka lalui, namun bukan berarti dapat membuat Shun membenci Takeru selama-lamanya.
Seperti sekarang. Demi apapun Shun merasa bagian paling sensitif di hatinya sudah tersentuh sepenuhnya ketika di makam tadi.
"Ke suatu tempat yang dari dulu selalu ingin aku kunjungi," balas Takeru, masih fokus ke jalanan kosong di depannya. "Bersama orang yang aku sayang."
Menjadi leleh tidak lantas membuat seorang Shun akan tersanjung semudah itu. "Tahu artinya cheesy? It's you."
"Tapi senang, kan?"
"Kak, udah deh!"
Momen di makam tadi memang tidak akan pernah mengubah kebiasaan Takeru dan Shun berdebat seperti ini, tapi bagi Takeru luar biasa artinya. Karena pada akhirnya, ia kembali bisa memenangkan perhatian adiknya sehingga secara resmi perang dingin dua bersaudara Yamato itu berakhir.
Mengenai dirinya yang menangis diam-diam, Takeru bisa memastikan seratus persen bahwa Shun sama sekali tidak menyadarinya. Meskipun begitu, sebenarnya dia tidak terlalu mempermasalahkan jika adiknya tahu dia menangis. Nothing to lose, menurutnya.
Mobil terus melaju dan perlahan tapi pasti, pemandangan berupa pesisir pantai mulai tertangkap mata. Hal ini membuat Shun menegakkan punggungnya lagi dan pandangannya terpaku pada jendela. "Pantai?"
"Yep." Takeru tersenyum puas melihat reaksi adiknya yang tampak excited. Ia pun menurunkan kaca jendela di kedua sisi mobilnya, menikmati terpaan angin. "Ke tempat yang harusnya kausukai, Shun."
Shun sedikit mengerutkan kening, tidak mendapat ide sama sekali dari apa yang diucapkan Takeru. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia bertanya, "Maksudnya?"
"Poseidon."
"Poseidon?" sedetik berikutnya, Shun langsung memukul kepalanya, mentally. "Oh astaga, iya Poseidon."
Meskipun nama timnya dulu adalah Kyoshin Poseidon, dewa laut, Shun sendiri sudah lupa kapan terakhir kalinya ia mengunjungi pantai untuk melihat laut. Setelah sekian lama, ia tidak memungkiri bahwa ia terlalu bersemangat untuk segera sampai di pantai.
Chirihama Nagisa Drive Beach. Itulah yang dibaca Shun sekilas ketika mobil mulai memasuki area pantai.
"Kalau boleh jujur, aku baru mengetahui ada tempat ini di Jepang," ujarnya masih sambil menatap laut. Tangannya sudah bertumpu pada pintu mobil. "What a shame."
"Kau suka?" Takeru merasa sangat bangga melihat Shun yang sangat antusias dibawa ke pantai ini. Memang benar di balik sosoknya yang dingin dan galak, masih ada jiwa anak-anak yang bersemayam di dalam dirinya. Seperti sekarang. Hal ini membuat Takeru sangat gemas. Jika ada alat untuk mengabadikan perasaan, ia ingin menyimpan yang satu ini.
Oh ya, sebagai orang yang juga mencintai fotografi, Takeru tidak lupa bahwa ia membawa kamera kesayangannya dalam perjalanan ini. Namun, momen yang satu ini terlalu sayang untuk dilewatkan barang sepersekon detik pun untuk mengambil kamera. Takeru mengabadikan potret Shun di hadapannya, dengan antusias melihat laut sambil menikmati tiupan angin pantai, suara gelombang air yang bergerak menyapu pesisir pantai, dan birunya laut yang mengkilat memantulkan sinar matahari, sementara ia sendiri menyetir di sepanjang pantai.
Kata indah pun tidak cukup untuk mendeskripsikan keadaan saat ini.
Takeru menghentikan laju mobilnya setelah ia sendiri merasa gatal untuk turun merasakan pasir dan air laut yang menggelitik kakinya. But still he will never be enough with the long beach drive.
Sang Eyeshield 21 asli tersebut turun duluan, diikuti dengan Shun yang langsung melepas sepatunya dan berlari pelan menghampiri air laut yang menyapu pantai. Bahkan anak itu sudah melepas hoodie abu-abunya. Takeru tidak bisa menahan tawa gelinya. Ia yakin sekarang ia terlihat berseri-seri.
Segera dikeluarkannya kamera yang ia simpan dalam tas. Kameranya membidik sosok personifikasi langit yang tampak sangat menikmati sambutan dari laut di pantai yang tidak terlalu ramai ini. Takeru tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya memotret Shun sebanyak yang ia mau bahkan kalau memungkinkan sampai penuh memori kameranya.
Langit yang selalu mendung, kini menjadi cerah setelah awan-awan kelam itu pergi. Dan itu kamu, Shun.
Takeru berhenti mengambil foto candid adiknya, memutuskan untuk menyaksikan panorama langka itu dengan mata kepalanya sendiri. Takeru tidak bohong bahwa senyum yang terpampang di wajahnya sekarang adalah senyum paling tulus, paling bahagia, sampai kedua matanya menyipit selain karena menahan sinar matahari yang agak mencolok mata.
Mungkin setelah ini, Takeru bisa menulis puisi tentang betapa indah Shun bermain di pantai sampai berhalaman-halaman banyaknya.
Aku ingin egois untuk saat ini. Biarkan waktu berjalan lebih lambat dari yang seharusnya, jadikan teori relativitas Einstein tidak berlaku atau setidaknya berlaku kebalikan untuk saat ini.
Setelah ia letakkan kembali kameranya ke dalam tas dan menutup pintu mobil. Takeru berlari menghampiri Shun, berada di belakang adiknya untuk mencipratkan air laut yang dingin sehingga membuat lelaki yang lebih muda darinya itu terkejut.
"Hei!" seru Shun sambil menjauh beberapa langkah dari kakaknya, menyaksikan lelaki musim gugur itu menertawakannya untuk kesekian kalinya hari ini. Sebal, namun ia sendiri berupaya keras untuk menahan dirinya tidak tersenyum. "Berani-beraninya."
"Kenapa nggak, Shun?" tangan basah yang tadi digunakannya untuk mencipratkan air kini Takeru manfaatkan untuk mencubit sekaligus membasahi pipi Shun. "Kau persis anak kecil yang baru main ke pantai, kautahu?"
Shun memberontak ketika pipinya berhasil disentuh. Balas dendam, ia menendang air sehingga kena tepat sasaran pada kakaknya. "Enak aja!"
"Aku ingin menantangmu, by the way." Pengalihan isu agar tidak terjadi perang air yang kekanak-kanakan. Shun menelengkan kepalanya, tertarik jika sudah disebut 'tantangan'. "Lawan aku, jatuhkan aku, sekarang. Tapi, meskipun ini sama sekali nggak resmi, aku tetap nggak akan setengah-setengah melawanmu, Shun."
"Oh." Shun menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Kau mau mempermalukanku di sini?"
Tatapan Takeru berubah menjadi serius. Ia menggeleng mantap. "No, not at all. Aku serius. Mana Shun Kakei yang berambisi untuk bertanding dengan Eyeshield 21 asli?"
"Well, sebuah kehormatan bahwa Eyeshield 21 Notre Dame itu mencariku duluan." Shun tersenyum lalu melakukan sedikit pemanasan untuk tangannya. Adrenalinnya mulai terpacu dan mindset untuk mengalahkan kakaknya seperti muncul ke permukaan otaknya. You got me, Takeru Yamato.
Takeru mundur beberapa langkah, memberi jarak untuknya berlari. Ia beradu pandang dengan Shun. Tiba-tiba, suasana menjadi menegangkan sekaligus menyenangkan, membuatnya bersemangat. Di hadapannya bukan lagi Shun yang dipujinya setengah mati diam-diam, tapi Shun sebagai lawan yang harus ia kalahkan.
"Set. Hut. Hut!"
Seperti sebelumnya, Takeru berlari dengan kecepatan yang membuatnya menjadi runner nomor satu di Jepang, bahkan di Amerika dulu. Tidak ada bola yang dibawanya sekarang, namun tetap tujuan utamanya adalah untuk menembus dinding pertahanan Shun tanpa terjatuh dan menggunakan hanya satu tangan untuk menahan tackle.
Kali ini, Takeru memilih step ke kanan. Ia tidak masalah karena sisi kanan adalah daerah pasir basah dengan air laut yang serta merta datang bergulung. Dan Shun sudah bisa membaca arah run dari sang Eyeshield 21 asli. Dengan senjata yang selalu ia gunakan sejak dulu, badan yang tinggi dan lengan yang dilatihnya bertahun-tahun, Shun menerobos dan men-tackle Takeru tanpa ragu.
Seperti yang biasa dilakukannya, Takeru menangkis tackle maut itu hanya dengan satu tangan dan mendorong adiknya sampai sedikit goyah. Namun Shun sudah belajar lebih banyak. Ia bertumpu pada kakinya dan meskipun badannya agak terlempar, ia tidak membiarkan dirinya jatuh dan kembali berusaha menjatuhkan Takeru. Lagi, sebelum Takeru berlari lebih jauh, Shun mengejarnya dengan cekatan untuk melakukan block.
Takeru terkejut, lebih ke arah merasa kagum dan bangga dengan adiknya.
"Hebat! Kau sudah banyak berkembang lebih dari yang kubayangkan."
Tapi, ia tetaplah Takeru Yamato yang tidak dapat dijatuhkan, sehingga ia mendorong Shun kembali dan sukses membuat mantan ace Kyoshin itu terjatuh.
"Tapi, aku tetap tidak bisa dijatuhkan, Shun!" Takeru menyambung kalimatnya seraya berjalan menghampiri sang adik dan mengulurkan tangannya. "You made it, though."
"Mungkin tadi aku belum bisa menjatuhkanmu, Kak." Shun menyambut uluran tangan Takeru, tapi tak lantas berdiri. "Tapi sekarang bisa."
BYUR!
Bertepatan dengan datangnya gelombang air yang cukup keras, Shun menarik Takeru sekuat tenaga sehingga kakaknya itu ikut jatuh ditambah basah tersiram air laut yang brengseknya cukup kencang menerpa keduanya.
"Wow wow, kau bisa licik juga ternyata," ujar Takeru sambil mengusap wajahnya yang basah. Ia bahkan bisa merasakan asinnya air laut di lidahnya. Walau begitu, ia melihat Shun yang dengan sangat langkanya terkekeh geli. "Macam-macam denganku, hm?"
"Why not?" Shun sengaja membalikkan kalimat Takeru. "Aku tetap bisa menjatuhkanmu. Ke laut malah."
"Okay, fine!" Takeru pun tertawa, tertarik dengan permainan adiknya kali ini. Revenge, huh? "If this is what you want…"
Tanpa pikir panjang, Takeru bangkit dan memeluk tubuh Shun, kemudian ia kembali menggendong lelaki yang lebih muda darinya itu seperti tadi pagi.
"YAK!" seru Shun sambil memukul-mukul punggung Takeru, memberontak agar diturunkan. Takeru mengabulkan permintaan Shun untuk turun … dengan menjatuhkan adiknya ke air.
"Take that!"
"Sialan kau!"
Namun pada akhirnya, Takeru dan Shun, being all childish, bertarung di pinggir pantai, beradu block dan tackle. Shun, menjadi yang lebih sering terjatuh, tidak mau menyerah dan tetap menjalankan berbagai usahanya untuk menjatuhkan Takeru. Sampai akhirnya, di percobaan yang kesekian kalinya, Takeru sengaja membiarkan dirinya terhempas tapi tak sepenuhnya melepas Shun. Ia bahkan ikut menarik Shun, mendekap pinggangnya sehingga ikut terjatuh tepat di atas badannya.
Posisi yang cukup canggung karena saat itu, jarak keduanya sangat dekat, tatapan beradu, mereka bisa merasakan napas masing-masing.
"K-kamu ngapain?" gelagapan, Shun memundurkan kepala dan baru akan memalingkan mukanya, tetapi ia kalah cepat dengan tangan Takeru yang menahan kepalanya.
Ralat. Kau bukan langit cerah yang disinari matahari, Shun. Kau adalah matahari itu sendiri.
"I like you," ucap Takeru setengah berbisik. "No. I love you. A little bit too much."
"… A-apaan sih."
Shun memang memalingkan muka dan langsung membetulkan posisinya menjauhi Takeru lalu bangkit. Sekuat tenaga ia menyembunyikan mukanya yang semakin lama semakin memerah. Berada di dekat Takeru Yamato tidak membuatnya membaik, jadi ia memutuskan untuk berjalan menjauh ke arah mana saja asal tidak di dekat sang kakak.
Namun, sehebat-hebatnya Shun memasang ekspresi wajah datarnya, Takeru tetap tidak terkalahkan dalam melihat lebih dulu rona merah di pipi lelaki personifikasi langit tersebut.
.
Setelah Takeru dan Shun membersihkan badan juga berganti pakaian—sesuai perintah Takeru ketika pagi tadi ketika berbenah sebelum pergi, keduanya duduk di mobil menyaksikan laut. Shun duduk di jok depan yang dibuka lebar pintunya, sedangkan kap mobil adalah pilihan Takeru untuk duduk. Musim gugur menuju musim dingin membuat matahari tenggelam lebih awal, jadi meskipun waktu menunjukkan pukul empat, lembayung senja sudah menampakkan warna cantiknya di horizon. Matahari kembali turun ke peraduannya, seperti bersembunyi di balik lautan luas.
"Bagaimana hari ini?" suara Takeru memecah kesunyian di antara mereka. Menjadi pengisi di antara suara deburan ombak dan hembusan angin. "Senang, kan?"
"Well… bisa dibilang begitu," balas Shun sekadarnya. Ia menekuk kakinya yang semula duduk bersila. "Meskipun kau sudah mengganggu pagiku, tapi kumaafkan."
Tawa dengan senyum 1000 watt yang khas itu muncul. "Baguslah. Padahal, aku nggak berniat meminta maaf."
Melihat reaksi Shun yang mendelikkan matanya, Takeru semakin tertawa dan buru-buru menarik ucapannya. "Nggak nggak. Aku becanda, sungguh."
Setelah itu hening lagi. Keduanya sama-sama ingin menikmati suara ciptaan pantai yang menyejukkan jiwa dan raga. Suara ombak berpadu dengan angin serta pergesekkan nyiur adalah orchestra alam yang menenangkan keduanya.
Tapi tentu saja, di antara mereka berdua, Takeru menjadi orang yang menyerah akan keheningan yang menyelimuti keduanya.
"Bunda dan Shiro memang dimakamkan di kampung halaman Bunda."
Shun langsung menoleh ke arah Takeru, sedangkan kakaknya sendiri menatap laut lepas di depan matanya.
"Ayah yang inisiatif, katanya supaya Bunda benar-benar merasa pulang," lanjutnya lagi tanpa mengalihkan pandangan. "Setahun ini, aku belum mengunjungi mereka. Sekarang aku mengajakmu untuk ikut sekalian memperkenalkanmu kepada mereka."
Takeru beranjak dari duduknya, lalu berjalan dan berdiri di samping Shun. Satu lengan ia gunakan untuk menumpu badannya di mobil. Kini, ia tidak lagi memandang laut, tapi ia menjadikan sepasang iris azure itu sebagai objek pandangannya.
"Shun …," panggilnya pelan, namun tegas. "Setelah apa yang terjadi belakangan ini, aku boleh minta sesuatu?"
Shun mengangkat alisnya heran. "Apa?"
"Tolong jangan membenciku."
Shun agak terbelalak, mencari sesuatu yang salah dari Takeru Yamato di hadapannya itu. Tapi tidak ada kesalahan, ketidakpastian apapun. Kakaknya benar-benar mengatakan hal sebenarnya. Sudah absolut.
"Kamu ini ngomong apa, sih?" Shun menggelengkan kepalanya. "Frankly, aku memang menyalahkan keberadaanmu selama ini. Entah memang saat ini aku sendiri yang bernasib sial atau menjadi adik dari seorang Eyeshield 21 asli Notre Dame itu yang membuat sial—"
"—kamu adik dari Takeru Yamato, bukan adik dari Eyeshield 21, Shun Kakei," potong Takeru dengan sedikit penekanan. Shun batal melanjutkan kalimatnya dan hanya bisa menelan ludah, entah terkena sihir apa malah menjadi gugup.
"Dan tentu saja Shun, sama sepertimu, kadang-kadang aku menyesal ditakdirkan menjadi kakakmu." Takeru melanjutkan kalimatnya. "Seandainya kita bukan kita yang sekarang, kau masih di Kyoshin, sibuk dengan pertandingan di Kanto, sedangkan aku di sini berjuang bersama Teikoku. Lalu kita bertemu di Christmas Bowl. Semua itu jelas akan lebih mudah daripada sekarang."
Pandangan keduanya beradu. Shun menggigit bibir bawahnya pelan. Ia lebih dari setuju dengan pernyataan Takeru.
Tapi kenapa baru sekarang?
Ada jeda untuk beberapa saat. Takeru memutus kontak mata dan menghela napas panjang. Shun tidak lagi menekuk kakinya dan membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. Suasana hangat tadi kini berganti menjadi ketegangan tak terelakkan.
"We both know that we shouldn't be doing this."
Ucapan Takeru kali ini benar-benar membuat jantung Shun berhenti berdetak untuk satu detik.
"Ibaratnya, kau tahu kau tidak mau basah ketika melihat air. Lalu, kau malah masuk ke kubangan air yang dalam. Terlanjur basah, padahal jelas-jelas ada air yang pasti akan membuatmu kebasahan."
Jarak di antara keduanya memendek. Takeru menyentuh pipi Shun dengan satu tangan, perlahan mengelus pipi mulus itu. Shun sendiri tidak menolak. Matanya tetap beradu kontak dengan sang kakak.
"My intention was only feet dipping," ujar Takeru, pelan tapi tegas. "But f*ck it, I'll jump and get a long a*s jacuzzi for you."
"That's it. That's what I've been thinking." Shun akhirnya angkat bicara. "Aku sangat kesusahan. Selalu ada di dekatmu tidak akan membuat semuanya membaik. Kau sendiri merasakannya kemarin, kan? Aku menjauhimu bukan tanpa alasan. Seminggu ini, semuanya terasa lebih baik ketika kamu tidak berusaha mendekat lagi. Maka dari itu—"
Kata-kata Shun terputus ketika Takeru memagut dagunya kemudian mencium bibirnya.
Shun, masih membelalakan mata, kaget setengah mati dengan perlakuan kakaknya. Alih-alih memberontak dan mendorong Takeru seperti tadi yang dilakukannya saat berlatih, Shun diam membeku.
"Kau bohong, Shun." Takeru melepas ciumannya sesaat dan berkata pelan. "Semuanya tetap tidak akan membaik saat kita saling menjauh."
Takeru kembali mencium mantan ace Kyoshin itu, dan kini, ciuman itu berbalas. Shun mencium balik sang Eyeshield 21 asli, Takeru Yamato, kakaknya, dengan penuh kesadaran. Ia memejamkan mata, larut dalam ciuman yang sebatas kecupan lama.
Gila. Takeru Yamato memang tidak pernah gagal membuatnya gila.
Drrtt. Drrtt.
Shun refleks melepas ciumannya ketika handphone yang ada di genggamannya sejak tadi bergetar. Seketika, ia panik luar biasa saat menyadari siapa orang yang meneleponnya dan merupakan orang yang sejak tadi bertukar e-mail dengannya.
Hayato Akaba.
Baru saja Shun akan menyambungkan telepon Akaba, Takeru langsung menahan tangannya.
Shun menatap Takeru sedikit memelas. Ia takut kejadian seminggu yang lalu saat Akaba marah karena ia kabur ke Tokyo tanpa mengabari apapun terulang lagi. "Kak, aku harus angkat. Aku baru mengabarinya seharian ini. Please."
Tidak ada persetujuan dari Takeru. Lelaki musim gugur itu memanfaatkan tekniknya merebut bola American football untuk merebut ponsel yang ada di genggaman Shun dengan mudah. Ia menggenggam benda elektronik itu tanpa membiarkan sang adik berusaha merebutnya. Sampai pada akhirnya, getar handphone-nya tidak terdengar lagi.
"Just once, stay with me. Please."
Takeru kembali memperpendek jarak di antara mereka. Ia merengkuh pinggang Shun, sementara satu tangannya ia gunakan untuk menyimpan handphone milik adiknya di dashboard mobil. Shun tidak punya pilihan lain karena persetan dengan otaknya yang terus menyuruh untuk memberontak dan pergi, ia mengikuti kata hatinya untuk kali ini.
Keduanya saling berpandangan lagi. Shun merangkul leher Takeru, kemudian kembali larut dalam ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.
.
.
—to be continued—
.
.
.
a/n
HAHA MAMPUS GANTUNG
Gimana rasanya digantung pas lagi cucus?! WKKWKKW nantikan chapter selanjutnya yuhuUUUUuuuu
fun fact:
quotesnya yamato yang ibarat gamau basah kena air, feet dipping, dan berjacuzzi ria itu pembicaraan asli yunna dan sahabat, membicarakan tentang masalah cintankita berdua yang ldr sangat jauh wicis beda keyakinan tapi tetep terlanjur sayang /curhat
