*Halo, ada sedikit sekali perubahan dari chap-chap sebelumnya. yaitu, untuk kelas Chanyeol kuganti dari tingkat dua jadi tingkat tiga. hanya itu aja sih ;p dan untuk Skam France S3 akhirnya tamat juga, bakal kangen Elliot dan Lucas deh T.T langsung cuss gantian nonton versi Norway :D
*oke, unedited. beware of typos!
.
.
.
Chapter 3: Polaris
Sabtu, 2:34 PM
Akhir pekan ini Baekhyun menghabiskan harinya di apartemen, duduk bersandar di sofa hijau dengan televisi yang menyala dan ponsel pintar yang tak pernah lepas dari tangannya. Suara siaran televisi—yang entah sedang menyiarkan film apa—tak mengusik perhatiannya dari misi penting yang sedang dijalaninya sejak pagi; mencari tahu tentang Park Chanyeol. Rasa penasaran terhadap pria tampan berjaket cokelat itu membuatnya menjelajahi seluruh sosial media—instagram, twitter dan facebook. Namun sayang, tidak satupun nama Chanyeol ditemukannya, ia justru menemukan Choi Sulli dalam daftar friend request facebooknya. Ia berpikir cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol accept pada layar ponsel pintarnya.
"Baekhyun," suara Lay yang memanggil membuat Baekhyun mengangkat kepalanya.
Pria Cina itu melompati kaki Baekhyun yang diletakan di atas meja dan beranjak duduk di sampingnya sambil berkata, "Aku punya keraguan. Keraguan yang mengerikan."
Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya, mendengarkan Lay melanjutkan, "Aku tidak tahu jika kau akan membayar sewa bagianmu sangat terlambat, atau tidak sama sekali."
"Oh, aku akan terlambat membayarnya. Aku minta maaf," beritahu Baekhyun dengan wajah tidak enak. "Aku menunggu transfer dari ayahku. Aku harus mengingatkannya lagi."
"Yeah, seperti setiap waktu lainnya," Lay menatap Baekhyun dan terlihat sedikit kesal.
Baekhyun terdiam, menggerakkan bola matanya ke berbagai arah. "Em, sepertinya banyak notifikasi—" katanya saat mendengar ponsel Lay yang tidak berhenti bersuara sejak tadi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," potong Lay. Lalu ia mengalihkan pandangan pada ponselnya yang sejak tadi dibawanya. "Tapi yah, sejak aku mengganti foto profilku, notifikasi ini tidak pernah berhenti. Lihat."
Dengan senyum lebar Lay memperlihatkan layar ponselnya pada Baekhyun, menunjukkan foto seksi dirinya yang terpajang di akun Tinder miliknya.
"Fuck, Lay!" Baekhyun memekik terkejut dan segera memalingkan wajahnya dengan mata terpejam. "Aku tidak mau melihat foto telanjangmu."
"Oh hey, ayolah, Kita tidak bisa melihat apa-apa," Lay terkekeh kecil seraya menarik kembali ponselnya dari wajah Baekhyun, lalu melihat foto telanjang dirinya dengan raut bangga. "Yang bisa kau lihat dari foto ini adalah seperti apa tubuh lelaki sejati itu. Aku sering melihatmu keluar dari kamar mandi. Seharusnya kau membiasakan dirimu, Baekhyun."
Baekhyun mengabaikan ocehan Lay. Seraya berusaha menghalau tangan jahil Lay dari pinggangnya, Ia berusaha untuk kembali fokus pada layar ponselnya. Pencariannya masih belum selesai.
"Oke, stop, stop!" katanya.
Lay terkekeh. Setelah puas mengganggu Baekhyun, ia mulai mengalihkan perhatian pada ponselnya. Notifikasi dari Tinder masih terus berdatangan. "Baekhyun, aku memiliki keraguan. Keraguan yang mengerikan," katanya setelah beberapa menit diam.
"Apa sekarang?" Baekhyun menoleh pada Lay, mulai merasa sedikit kesal.
"Ada seorang pria straight menawarkanku blowjob "with no talking". Tetapi, apa menurutmu dia hanya ingin mendapatkan BJ atau dia bisa memberikanku BJ juga? Karena jika begitu, aku lebih memilih dia tidak bicara."
Baekhyun hanya memandang teman satu apartemennya itu dengan wajah tidak mengerti. Lay pun menunjukkan maksud perkataannya dengan memperagakannya—menggerakkan tangannya di depan mulutnya yang terbuka dan bertingkah seolah ia sedang menyodok mulutnya dengan sesuatu.
"Stop, stop. Stop, Lay!" Baekhyun yang akhirnya mengerti segera memalingkan pandangannya ke arah lain dengan wajah jijik.
Lay tertawa keras, nampak puas sekali menjahili pemuda manis itu. Lalu kembali memandang ponselnya sambil berkata, "Tapi itu hal yang tidak pernah kumengerti. Jika kau menghisap penis, mereka bilang kau bukan hetero."
"Mungkin dia hanya ingin mencoba," ujar Baekhyun, dan terdiam sejenak saat Lay menatapnya dengan tatapan apa-kau-serius. "Mungkin dia penasaran."
"Well, berarti dia sangat penasaran! Lihat!" Lay menunjukkan layar ponselnya pada Baekhyun. Pemuda manis itu langsung berjengit kaget, dengan satu tangan ia menghalau layar ponsel yang menunjukkan sebuah foto vulgar seorang laki-laki, seraya memalingkan wajahnya ke arah lain dengan mata terpejam.
"Stop!" pekik Baekhyun, lalu berdiri dan memilih untuk pergi ke kamarnya saja. Terkadang Lay memang bisa sangat menyebalkan.
Lay tertawa keras, puas sekali menggoda si pemuda manis. "Hey, mau kemana?" tanyanya.
Baekhyun berhenti sejenak dan menoleh. "Maafkan aku, tapi aku tidak mau menghabiskan sepanjang akhir pekanku menatap laki-laki telanjang," katanya dengan kesal.
"Hey kawan, kau harus santai. Jika tidak, kau tidak akan bertahan dengan kami!" sahut Lay, namun Baekhyun mengabaikannya dan berajak pergi. Melihat teman satu apartemennya nampak kesal Lay hanya mendesah dan bergumam, "Tidak asyik."
*chanbaek*
Senin, 8:53 AM
Pencarian Baekhyun terhadap Chanyeol di seluruh sosial media tidak menghasilkan apapun. Baekhyun merasa sedikit kecewa, tapi tidak berarti ia berhenti mencari. Maka ketika senin datang dan ia memiliki jadwal kelas pagi, ia menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke ruang sekretariat. Di ruangan sekretariat terdapat rak-rak yang berisi map catatan tiap kelas. Wanita muda yang berjaga di ruangan itu hanya melirik saat Baekhyun sedang mencari-cari di rak tersebut, sebelum kemudian kembali fokus pada komputernya. Wanita muda itu tidak perlu bertanya atau merasa heran karena terkadang banyak mahasiswa yang datang mengambil map catatan kelasnya atas perintah dari dosennya, jadi dia berpikir jika Baekhyun adalah salah satu mahasiswa itu dan mengabaikannya.
Setelah cukup lama mencari akhirnya Baekhyun menemukan yang dicarinya. Class record. Third year, majoring in art of paiting. Ia membuka map biru yang cukup besar itu dan membaca nama-nama mahasiswa yang terdaftar di dalamnya. Di antara deretan nama-nama mahasiswa terselip sebuah nama yang dicarinya; Park Chanyeol. Lalu matanya beralih membaca beberapa info tentang mahasiswa pindahan dari Perancis itu yang tercantum dalam map biru itu, mencoba menghafalnya di dalam kepala.
Dan seulas senyum akhirnya tersemat dibibir Baekhyun.
"Hey, itu untuk kelasku," sebuah suara membuat Baekhyun tersentak. Ia menoleh dan melihat sosok tinggi Kris Wu telah berdiri di belakangnya. Salah seorang mahasiswa populer di kampus ini.
"Apa?" tanya Baekhyun, tidak mengerti.
"Map di tanganmu, itu untuk kelasku. Untuk tingkat dua ada di sana," kata Kris seraya menunjuk salah satu rak di atas.
Baekhyun menatap arah yang ditunjuk oleh Kris, lalu mengalihkan pandanganya kembali pada map biru di tangannya dan segera bertingkah seolah ia baru sadar, "Ah iya, kau benar. Biasanya bukan aku orang yang mengurusnya."
"Oke. Bisakah aku mengambilnya?" Kris terkekeh kecil dan melirik map biru di tangan Baekhyun.
Baekhyun terdiam sejenak, merasa enggan untuk memberikan map tersebut pada Kris. Ia masih ingin membaca info tentang Chanyeol. Berusaha mengalihkan pembicaraan, akhirnya ia menyeletuk hal pertama yang terlintas di kepalanya,
"Aku sangat senang untukmu dan Tao."
"Ada apa denganku dan Tao?" senyum ramah Kris sedikit memudar, alis tebalnya berkerut bingung.
"Well, aku tidak tahu. Kalian bersama di hari Jumat dan kelihatannya hubungan kalian berjalan dengan baik."
"Tunggu, apa dia memberitahumu?"
Baekhyun diam sejenak, sedikit takut jika mungkin ia sudah salah bicara. "Tidak," jawabnya kemudian.
"Lalu siapa yang memberitahumu?" raut ramah Kris kini benar-benar menghilang dan berganti dengan kecemasan.
"Kau tahu, bukan apa-apa, sepertinya aku membayangkan sesuatu," Baekhyun tersenyum menyakinkan, lalu menepuk pelan bahu Kris seraya berkata, "Semoga harimu menyenangkan, kawan."
"Oke, ciao," Kris menggelengkan kepalanya saat Baekhyun beranjak pergi. Lalu beralih menatap rak di depannya dan menyadari bahwa map kelasnya masih berada di tangan Baekhyun. Ia pun segera berbalik mengejarnya. "Serius? Oi, Baekhyun, map kelasnya!"
*chanbaek*
Dosen Hwasa belum datang saat Baekhyun tiba di kelas yang masih sepi, belum banyak mahasiswa yang datang. Baekhyun duduk di kursinya, mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai menjelajahi sebuah web blog salah satu universitas terkenal di Perancis, yang baru diketahuinya dari map class record yang dibacanya barusan. Beruntung Baekhyun pernah mempelajari dan cukup mengerti bahasa Perancis, jadi ia tidak membutuhkan google translate lagi untuk memahami isi dari web blog itu. Web blog itu berisi project-project yang dilakukan oleh para mahasiswa kampus tersebut untuk penggalangan dana sebuah event, termasuk salah satunya adalah Chanyeol.
Project yang dilakukan oleh Chanyeol bernama Polaris, dengan foto tampan Chanyeol terpajang di halaman blog, info tentang project itu, dan jumlah nominal yang berhasil dikumpulkan. Project Chanyeol hanya berhasil mengumpulkan 1650,00 Euro dan 51,56% peningkatan. Di akhir blog terdapat pemberitahuan bahwa project itu telah ditutup karena goal belum tercapai. Terdapat pula sebuah video di bawah pemberitahuan tersebut. Baekhyun segera memasang satu eearphone di telinga kanannya dan memiringkan ponselnya.
Sosok tampan Chanyeol dengan surai cokelat gelapnya yang berantakan muncul di layar saat ia menyalakan video itu, duduk di sebuah ruangan berwarna biru dengan motif-motif artistik dan tersenyum memikat menatap ke depan. Lalu suara seorang laki-laki paruh baya terdengar dari balik kamera, bertanya dalam bahasa Perancis,
"Jadi, Chanyeol, tentang apa project ini?"
"Ini disebut Polaris. Project ini tentang dua karakter dan sebuah terowongan," Chanyeol menjawab dengan bahasa Perancis yang fasih dan terdengar elegan.
"Seorang laki-laki dan seorang perempuan?"
"Tidak. Satunya adalah seorang laki-laki dan yang satunya...itu tidak penting. Bisa seorang laki-laki, seorang perempuan, suatu makhluk...kita tidak pernah tahu karena karakter itu tidak pernah meninggalkan terowongan, dia takut terhadap cahaya. Lalu dia bertemu dengan si pahlawan, yang takut terhadap gelap."
"Tapi...bagaimana mereka bertemu kalau begitu?"
"Well, sebenarnya mereka tidak bisa, karena mereka berdua takut pada dunia masing-masing. Jadi mereka mengobrol di perbatasan tanpa pernah melihat satu sama lain. Mereka berakhir mengobrol setiap hari, mereka saling mengenal sampai mereka menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta...tanpa bertemu sama sekali."
"Jadi mereka tidak akan pernah bertemu?"
"Tidak kecuali salah satu dari mereka menaklukkan ketakutan mereka dan memutuskan untuk pergi ke dalam dunia lainnya."
Penjelasan Chanyeol tentang project Polaris itu membuat Baekhyun tertarik, terdengar seperti sebuah cerita yang romantis dengan setitik ironi yang terselip. Sesungguhnya Polaris adalah sebuah project yang bagus dan sangat menarik menurut Baekhyun, namun sayang hanya sedikit peminatnya. Entah kenapa...
Begitu seriusnya Baekhyun menonton video Chanyeol hingga ia tidak menyadari kehadiran Kyungsoo. Gadis itu berdiri di belakang Baekhyun, mengintip dari balik bahu seraya bertanya, "Apa yang sedang kau tonton?"
Baekhyun nyaris meloncat karena terkejut. Ia segera melepas satu earphone di telinganya seraya mematikan layar ponsel pintarnya, menjauhkannya dari mata penasaran Kyungsoo. "Sial, Kyungsoo! Apa kau benar-benar perlu muncul seperti hantu?" gerutunya.
Kyungsoo berdecih pelan, lalu beranjak duduk di sebelah Baekhyun. Kursi yang wajib didudukinya selama mata kuliah dosen Hwasa. "Sayang kau kejam, padahal aku punya hadiah untukmu," katanya, meletakkan ranselnya di atas meja dan melepas jaketnya.
"Hadiah?" tanya Baekhyun, menoleh memandang Kyungsoo.
"Terlambat. Kau sudah memiliki kesempatan," Kyungsoo berujar tanpa menoleh, membuka ranselnya dan mengeluarkan buku-bukunya.
Baekhyun diam sejenak, berpikir. "Jadi...apakah kalian punya rencana pertemuan lainnya untuk project ruang bersama?" tanya kemudian, setengah berharap ia bisa bertemu lagi dengan Chanyeol di ruang bersama, jika akan ada pertemuan lagi.
Kyungsoo menghentikan tangannya yang sedang membalik-balik halaman bukunya, lalu menoleh memandang Baekhyun dengan sedikit bingung. Setelah pertemuan minggu kemarin yang nyaris gagal, ia pikir Baekhyun tidak ingin terlibat lagi dengan project ruang bersama itu. Heck, bahkan ia harus mengancam pemuda itu dulu agar mau datang minggu lalu.
"Seperti kau peduli tentang itu sekarang?" tanya Kyungsoo.
"Tidak," jawab Baekhyun. Kyungsoo hanya menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Baekhyun menggelengkan kepala dan berusaha membuat alasan, "Tidak, hanya itu adalah ide yang bagus menurutku. Itu saja."
Kyungsoo hanya bergumam. Baekhyun pun melanjutkan, "Dan sejujurnya, pertemuan pertama kalian tidak terlalu buruk."
"Ada satu pertemuan lagi di hari Rabu siang, datang saja jika kau mau," beritahu Kyungsoo.
"Aku akan datang," Baekhyun mengalihkan pandangannya pada bukunya dan berkata dengan cepat.
Kyungsoo menatap Baekhyun selama beberapa lama, lalu ia mengambil ranselnya dari atas meja dan merogoh ke dalamnya. "Oke, baiklah. Kau bisa memiliki hadiahmu," katanya kemudian, menyodorkan sesuatu pada Baekhyun di bawah meja.
Baekhyun menoleh ke bawah dan ia terkesiap saat menyadari bahwa kantong putih kecil yang sedang disodorkan oleh Kyungsoo itu adalah mariyuana milik Kai yang hilang. "Wow! Kau bosnya!" pujinya senang, berbisik.
"Cepatlah, aku tidak mau duduk di sini dengan membawa mariyuana seperti ini sepanjang kelas!" bisik Kyungsoo.
Dengan cepat Baekhyun mengambil ranselnya di atas meja, sementara tangan lainnya mengambil kantong mariyuana dari tangan Kyungsoo. Saat ia sedang memasukkan benda kecil itu ke dalam tasnya, suara dosen Hwasa yang baru datang membuat Baekhyun dan Kyungsoo terkejut.
"Do Kyungsoo, Byun Baekhyun, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya dosen muda itu.
Baekhyun dan Kyungsoo saling memandang. Lalu mereka dengan kompak menjawab, "Tidak ada!"
Dosen Hwasa yang nampak tidak puas dengan jawaban itu pun menghampiri meja Baekhyun dan Kyungsoo dengan mata penuh selidik. "Apa yang kalian sembunyikan di bawah meja?" tanyanya lagi.
"Tidak ada," jawab Kyungsoo seraya berpura-pura membuka buku dengan satu tangan, tangan lainnya memegang ranselnya di bawah meja. Sementara itu Baekhyun hanya diam dan memeluk ranselnya dengan wajah sedikit panik. Masih tanpa menoleh Kyungsoo berkata, "Aku hanya mencari sesuatu di dalam tasku."
"Do Kyungsoo, apa menurutmu saya bodoh? Coba saya periksa," ujar dosen Hwasa tidak percaya, menyodorkan satu tangan pada Kyungsoo.
Kyungsoo pun mengeluarkan tangannya dari dalam ransel dan meletakkan sebungkus pembalut di atas meja. Dengan merengut ia menoleh pada dosen Hwasa dan berkata dengan nada kesal, "Ini pembalut yang Byun Baekhyun bawakan untukku."
Baekhyun terkejut melihatnya, dan hampir melotot saat Kyungsoo menjadikan namanya sebagai alasan. Sejak kapan ia membawa benda wanita itu di dalam ranselnya? Kenapa pula harus dengan alasan memalukan itu?
Melihat benda tak terduga yang dikeluarkan oleh Kyungsoo itu, dosen Hwasa menghela napas. "Baiklah. Saya tidak mau tahu detailnya," katanya, membalik tubuhnya dan beranjak ke depan kelas.
"Terima kasih, miss, karena telah mempermalukanku di depan banyak orang," gerutu Kyungsoo dengan nada kesal. Lalu memandang Baekhyun dan bertanya, "Kau lihat bagaimana memalukannya itu?"
"Jangan berlebihan," sahut dosen Hwasa, menoleh sejenak pada Kyungsoo.
"Aku tidak bisa memiliki kehidupan pribadi lagi," Kyungsoo masih menggerutu, membuat dosen Hwasa menghela napas dan kembali melangkah ke mejanya di depan ruangan.
Aksi mengejutkan Kyungsoo membuat semua mahasiswa di kelas tertawa, membuat dosen muda itu merasa sedikit malu jadinya. Sepeninggal dosen Hwasa, Baekhyun dan Kyungsoo saling lirik lalu terkekeh pelan bersama. Ternyata seorang Do Kyungsoo yang tegas bisa bertingkah konyol juga.
*chanbaek*
Rabu, 12:36 PM
Siang itu Baekhyun dan para gadis berkumpul di ruang bersama, duduk di kursi-kursi yang diatur berputar—saling menghadap—dan setumpuk survey yang telah diisi. Hari ini Baekhyun benar-benar datang untuk membantu Luhan memeriksa hasil survey minggu kemarin. Mereka bergantian membaca isi formulir, sementara Luhan mengisi daftar di bukunya.
"Jadi, "Apa yang kau suka: Tidak ada."," Tao membacakan isi formulir di tangannya dengan keras. "Apa yang kau tidak suka: Semuanya.", "Peralatan apa yang ingin kau lihat: Sistem bir dan WiFi."
"Yeah, WiFi. Aku ada dua orang yang mengatakan itu," komentar Kyungsoo seraya memeriksa lembar-lembar formulir di tangannya.
"Aktivitas budaya: Pesta yang luar biasa."," Tao lanjut membacakan. "Apa yang kau harapkan dari kami untuk meningkatkan ruang bersama..." ia berhenti membaca dan terkekeh kecil. "Ah, aku bahkan tidak mau membaca ini. Ini menjijikan."
Luhan mencoba mengintip pada lembar kertas di tangan Tao, lalu menulis kembali pada bukunya sambil sedikit mengeryit. "Sejujurnya, ketika itu anonim, orang jadi gila," ujar Amber yang duduk di samping kanan Tao.
"Mereka tidak menganggap ini serius, ini menjengkelkan. Kita bertanya tentang pendapat mereka, dan mereka hanya bicara tentang seks," sahut Luhan, dan semua orang hanya tersenyum setuju.
Tiba-tiba ponsel Tao berdering. Tao merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya dan melihat nama Kris muncul di layar yang berkedip. "Kenapa dia meneleponku?" gerutunya heran, lalu segera menjawab telepon itu. "Halo? Kenapa kau menelepon? SMS saja!"
"Hey, Tao, bicara di lorong!" kata Luhan yang merasa sedikit terganggu dengan suara keras Tao. Maka Tao pun beranjak keluar sambil mengomel pada ponselnya, sementara Amber dan Baekhyun hanya menertawakannya.
"Tunggu, aku punya satu yang bagus untukmu, Luhan," Amber menghentikan tawanya dan mulai membacakan isi formulir di tangannya. "Apa yang kau suka: Aku melihat Luhan.", "Apa yang tidak kau sukai: Luhan tidak melihat ke arahku."."
Luhan yang tadinya hendak mengisi bukunya mendadak menghentikan tangannya. Ia mendengarkan dengan lesu dan merengut saat Baekhyun tertawa. Mengabaikan ekspresi malas Luhan, Amber masih terus membacakan,
"Peralatan apa...?", Pria itu menulis: Luhan," dan Amber mengakhirinya dengan tawa geli.
"Sial, itu intens. Kau punya seorang pengagum rahasia psiko, Luhan!" komentar Kyungsoo.
"Tunggu, bukan hanya itu. "Apa yang kau harapkan dari kami: Luhan menghubungiku." Dia bahkan menuliskan nomor ponselnya," kata Amber kembali tertawa.
Merasa familiar dengan perkataan Amber, Baekhyun menjadi penasaran. "Tunggu, bisa aku melihatnya sebentar?" pintanya.
Amber memberikan lembar kertas di tangannya pada Baekhyun. Baekhyun mengamati sejenak isi kertas itu sebelum berkata dengan sangat yakin, "Ini nomor Oh Sehun."
"Aku tidak mengerti pria itu. Kenapa dia menyukaiku sekarang?" tanya Luhan bingung. "Suatu hari dia pernah benar-benar menatapku dan meneteskan air liur. Aku dapat merasakan tatapannya dari 100 meter jauhnya. Itu mimpi buruk."
"Itu mengerikan," komentar Kyungsoo sambil tersenyum. Amber tertawa, dan Baekhyun hanya diam—setengah merasa tidak enak pada Luhan, dan setengah merasa malu karena tingkah sang sahabat.
"Oke, Kyungsoo, tolong beritahu kami jika kau memiliki satu yang serius. Aku selesai," kata Luhan dengan nada pasrah, seraya menunjuk Kyungsoo.
Kyungsoo pun mulai membacakan isi lembar kertas di tangannya, "Apa yang kau suka: Luar angkasa.", "Apa yang kau tidak suka: Mural yang mengerikan.", "Peralatan: sebuah konsol, sebuah layar besar, dan WiFi.", "Aktivitas budaya: Pesta besar.", "Apa yang kau harapkan dari kami: Kalian mengatur pesta besar."—"
"Oke, mural telah muncul sebanyak delapan kali, dan pesta. Apa yang mereka tidak mengerti tentang 'aktivitas budaya'?" potong Luhan, bingung dan sedikit kesal.
"Well, jika semua orang bertanya tentang pesta..." sahut Amber.
"Aku sangat setuju," timpal Baekhyun.
"Tidak, tidak, kita tidak melakukan ini untuk membuat pesta," tolak Luhan, tidak setuju.
Amber hanya memutar bola matanya dan tersenyum jenaka. Luhan menarik napasnya sejenak sebelum berkata, "Baekhyun, giliranmu."
"Oke," Baekhyun menerima selembar kertas formulir dari Amber dan mulai membacakannya, "Apa yang kau suka: project untuk penyambutan ruang bersama.", "Apa yang tidak kau suka: mural.", "Peralatan..." dia menuliskan: mesin penjual otomatis.", "Aktivitas budaya: hari naturist per bulan."—"
"Oke, langsung buang saja ke tempat sampah. Aku lelah dengan jawaban seperti ini," potong Luhan muak.
"Itu bukan troll, itu jawabanku!" seru Amber tiba-tiba, mengejutkan semua orang.
"Tunggu, tunggu, pause. Apa kau serius?" tanya Kyungsoo.
"Yeah, girl, for eye candy," jawab Amber dengan semangat. "Laki-laki dan perempuan telanjang sehari setiap bulan, itu luar biasa!"
"Oke...luar biasa..." Kyungsoo menganggukkan kepalanya, setengah tidak percaya dan setengah takjub dengan jawaban luar biasa Amber.
Pembicaraan mereka berhenti ketika Tao kembali memasuki ruangan, menutup teleponnya dengan wajah merengut. "Apa yang sedang terjadi?" tanya Luhan.
"Kris membuatku kesal," jawabnya seraya kembali duduk di kursinya. "Aku tidak tahu. Dia tidak suka aku mengatakan pada semua orang bahwa kami berpacaran..."
Para gadis mulai berbicara tentang Kris yang ingin hubungannya dengan Tao disembunyikan, sementara gadis Cina itu menginginkan sebaliknya. Popularitas yang berbeda menjadi alasan bagi Kris. Baekhyun tidak terlalu mendengarkan, perhatiannya langsung teralihkan saat ia melihat sosok Chanyeol melintas di luar jendela.
"Well, aku harus pergi," pamit Baekhyun seraya mengembalikan lembar formulir di tangannya pada Amber. Dengan terburu-buru ia meraih jaket dan ranselnya, lalu berlari pergi. Para gadis hanya memandang kepergian Baekhyun dengan bingung, kemudian memutuskan untuk melanjutkan kegiatan membaca hasil survey mereka.
Baekhyun menyusuri lorong dengan langkah cepat, matanya menjelajah mencari Chanyeol. Namun hingga langkahnya sampai ke halaman kampus, ia masih tidak menemukan sosok tinggi itu di manapun. Ia justru bertemu dengan ketiga sahabatnya, menghampirinya bagaikan anak kembar yang tak terpisahkan.
"Apa kau baru saja dari ruang bersama?" tanya Changmin, mengalihkan perhatian Baekhyun dari pencariannya terhadap Chanyeol.
"Ya, kenapa?" Baekhyun balik bertanya, menatap ketiga sahabatnya.
"Aku tidak tahu. Kau telah menghabiskan banyak waktu dengan gadis-gadis itu," Changmin mengendikkan bahunya.
Sehun terkejut mendengar ucapan Changmin dan dengan segera bertanya pada Baekhyun, "Kau dengan para gadis? Apa Luhan mengatakan sesuatu tentangku?"
"Tentang kau? Um...tidak, kurasa tidak," jawab Baekhyun, melirik pada Sehun sebentar lalu kembali mencari sosok tinggi Chanyeol di antara keramaian mahasiswa yang sibuk berlalu lalang di sekitar mereka.
"Hey, jangan menjawab terlalu cepat. Gunakan waktumu dan pikirkan lagi!" pinta Sehun, hampir memelas.
Kai terkekeh dan merangkul bahu Sehun. "Hentikan, kawan. Kau bahkan tidak terdaftar dalam radarnya. Dia tidak peduli tentangmu," katanya.
Sehun menggelengkan kepalanya. "Kuberitahu, aku sudah meletakkan dasar untuk bisa..." katanya seraya memberi isyarat dengan kedua tangannya. Kai dan Changmin yang mengerti, hanya saling tertawa.
Sementara itu Baekhyun masih menolehkan kepalanya ke berbagai arah, masih mencari sosok tinggi Chanyeol. Namun sayangnya ia tidak menemukannya dimana pun. Chanyeol sudah pergi, entah kemana. Baekhyun pun mendesah kecewa.
"Hey, Baekhyun! Bagaimana kabarmu?" tiba-tiba suara yang lembut terdengar memanggil Baekhyun.
Baekhyun menoleh, melihat Sulli menghampiriya bersama sang sahabat Luna. Kenapa justru gadis ini yang muncul?, pikirnya malas.
Meski malas, namun Baekhyun tetap menyapa kedua gadis itu dan memberikan senyum kecil. Sulli nampak sangat senang bisa bertemu dengan laki-laki pujaannya. Dengan semangat dan senyum manis gadis itu berkata,
"Apa kau punya rencana jumat malam nanti? Karena kami mengadakan pesta di rumah Luna. Tidak besar, hanya pertemuan intim. Dan kalian semua bisa datang, tentu saja."
Mendapatkan undangan pesta spesial dari gadis cantik tentu membuat ketiga sahabat Baekhyun langsung tersenyum lebar. Namun tidak dengan Baekhyun, di kepalanya saat ini hanya ada Chanyeol. Keinginannya hanya satu, bertemu dengan Chanyeol, meski ia masih tidak tahu apa yang akan dikatakan atau dilakukan setelah bertemu dengan pria tampan itu.
"Ya, tapi ini waktu yang sagat buruk, karena jumat malam kami mengadakan pesta untuk..." Baekhyun berusaha membuat alasan.
Namun dengan cepat Kai maju ke depan dan memotong perkataan Baekhyun, "Tidak, tidak, tidak. Kami tidak memiliki rencana apapun di hari jumat. Kami ingin datang dan kami akan membawa minuman keras."
"Oke, bagus. Aku akan mengirimkan alamatnya," ujar Sulli tersenyum senang. "Sampai bertemu di hari jumat!"
"Oke..." Baekhyun terpaksa menganggukkan kepalanya.
Ketiga sahabatnya melambaikan tangan saat Sulli dan Luna beranjak pergi, sementara Baekhyun hanya diam menerima tatapan penuh minat dan senyum malu-malu yang dikirimkan oleh Sulli untuknya. Setelah sosok dua gadis itu mulai menjauh, Changmin, Kai dan Sehun langsung menoleh pada Baekhyun.
"Oke, Baekhyun. Apa masalahnya?" tanya Changmin bingung, karena Baekhyun nampak lesu dan tidak biasanya menolak ajakan pesta dari gadis cantik.
"Apa yang kau bicarakan?" Baekhyun balik bertanya, tidak mengerti.
"Entahlah, kau ingin kami tetap diantara pria selama sisa hidup kami ya?" ujar Changmin.
"Baekhyun, kau tidak pernah mengatakan tidak pada 'pertemuan intim' dengan gadis. Tidak pernah!" sahut Sehun. Kai menganggukkan kepalanya, setuju.
"Sulli dan aku hanya saling melihat tiga kali, dan sejak itu dia telah menguntitku. Itu membuatku stress," kata Baekhyun, menghela napas lelah.
"Tunggu, tunggu. Aku tidak mengerti, apa yang terjadi," Kai nampak frustasi mendengar alasan Baekhyun. "Kau sahabatku, saudaraku, tapi apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepalamu? Gadis itu menyukaimu, bung!"
Dan Baekhyun hanya diam, merengut.
*chanbaek*
Rabu, 9:34 PM
Usai makan malam Baekhyun mengurung dirinya di kamar, menghabiskan waktu memelototi web project milik Chanyeol di laptopnya. Hingga hari ini ia masih tidak bisa mengusir pergi bayangan Chanyeol dari dalam kepalanya, jantungnya akan terus berdegup cepat setiap kali ia memikirkannya. Ada sesuatu dari pria itu yang memikatnya, pesona aneh yang mulai membuatnya bertanya-tanya: masih normalkah dirinya saat ini? Jatuh cinta pada sesama laki-laki juga, bisakah hal itu terjadi?
Dan hal yang terpenting adalah Baekhyun bahkan tidak tahu, apakah Chanyeol seorang gay atau straight?
Untuk ke sekian kalinya Baekhyun menonton video Chanyeol. Dalam bahasa Perancis yang fasih dan terdengar elegan, juga senyum lebarnya yang memikat, pria tampan itu menjelaskan maksud dari cerita project Polaris ini,
"Ini adalah storyboard animasi berurutan dari Polaris. Aku harap ini akan membuat kalian mau berpartisipasi dalam project."
Kemudian sosok tampan Chanyeol berganti menjadi sebuah video animasi hitam putih, dengan iringan melodi yang indah dari dentingan piano. Video animasi itu dimulai dengan seorang laki-laki yang menghampiri sebuah terowongan, dengan sebuah senter di tangan dan rinai hujan sebagai latarnya. Di depan terowongan itu telah berdiri siluet suatu makhluk (atau manusia? Tidak jelas karena gelapnya terowongan), seolah sedang menanti si laki-laki. Laki-laki itu mematikan senternya, dan mereka saling berhadapan di perbatasan terowongan. Di bawah gelapnya malam, pada akhirnya si laki-laki berhasil menaklukan ketakutannya terhadap gelap. Dan ia menunggu untuk sang tercinta yang takut pada cahaya untuk keluar dari balik dunianya. Perjuangan si laki-laki pun tidak berakhir sia-sia. Sang tercinta keluar dari terowongan dan menerima tautan tangan si laki-laki. Lalu sebuah ciuman yang manis dan pelukan yang erat mengakhiri video animasi itu.
"Well, kuharap kalian menikmatinya. Dan...bergabung dengaan kami dalam project ini. Bye," sosok tampan Chanyeol kembali muncul di layar dan tersenyum lebar seraya melambaikan satu tangannya.
Dan video itu pun benar-benar berakhir.
Baekhyun termenung menatap layar laptopnya, memikirkan setiap bagian dari video animasi Polaris milik Chanyeol yang terasa penuh makna baginya. Kehangatan dan kebingungan seolah menjadi satu dalam dirinya. Merasa cukup, ia pun menutup layar laptop di pangkuannya. Ia berpikir cukup lama, lalu meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di dekatnya. Sebuah ide gila membuatnya menggerakkan jemarinya di atas layar benda pintar itu, mengetikkan kalimat: Gay Chat pada kolom pencarian di aplikasi playstore.
Berbagai aplikasi gay chat bermunculan di layar, hingga pilihannya jatuh pada aplikasi Krindr-Chat Gay, sebuah aplikasi chat yang dilihatnya sering dipakai oleh Lay. Ia mendownload aplikasi tersebut, menunggu sebentar, lalu mulai mencari. Berbagai tipe pria gay dengan bermacam foto seksi nan vulgar, dan pesan pendek yang menggoda segera bermunculan di layar.
Jika Chanyeol seorang gay, mungkin saja ia akan menemukan pria itu di aplikasi ini. Itu adalah sebuah pemikiran gila, namun tidak menghentikan jemari Baekhyun untuk terus menjelajahi aplikasi itu. Hingga saat foto telanjang Lay dengan pesan pendeknya yang menggoda muncul di layar, membuat Baekhyun terkejut. Secara refleks, ia melempar ponselnya ke samping dan mendengus jijik.
Melihat deretan lelaki gay yang seksi itu (tidak termasuk Lay, menurut Baekhyun), tidak membuatnya merasakan sesuatu. Tidak ada kehangatan. Tidak ada jantung yang berdebar-debar. Tidak ada yang lainnya, ia justru merasa geli. Namun entah kenapa, ia merasakan perasaan yang berbeda setiap menatap Chanyeol. Perasaan aneh selalu terasa menjalari dirinya saat ia memikirkan pria tampan itu. Dan ya, ia jatuh cinta pada Chanyeol. Ia yakin itu.
Tetapi masalahnya, apakah jatuh cinta pada Chanyeol membuatnya otomatis menjadi seorang gay? Ataukah ia hanya menjadi gay untuk pria tampan itu?
Sayangnya, seberapa kerasnya Baekhyun berpikir sepanjang malam itu, ia tetap tidak menemukan jawabannya. Justru bayangan Chanyeol semakin terasa merajalela di dalam kepalanya. Oh, ini gila!
Tbc
