"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I own only this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Semi-incest BL
Plot-bunnies(?)
And others
—shunshines
.
.
.
.
Bunyi alarm yang berisik di pagi hari sukses membuat sang empunya kembali dari alam mimpinya. Dengan nyawa yang masih berceceran dan mata yang masih enggan membuka, Shun bersusah payah menggapai jam di meja nakas sampingnya untuk mematikan alarm tersebut.
Ada sesuatu yang ganjil di sini. Kasurnya terasa sempit, ia tidak mudah bergerak, lama-kelamaan terasa ada hembusan napas yang menerpa tengkuknya, bahkan ketika Shun ingin bangkit dari kasurnya, badannya terkunci oleh lengan kekar yang mendekapnya erat.
Nah, itu dia hal anehnya.
Keadaan setengah tidur dan setengah sadar memang keadaan dimana seseorang bisa menggunakan seluruh panca inderanya untuk mendeteksi keadaan sekitar dan di saat yang bersamaan ia tidak bisa mengingat hal apapun yang terjadi pada saat itu. Atau tidak ada akal sehat yang membuatnya jernih berpikir, apalagi memutuskan sesuatu. Kantuk yang luar biasa menyerang untuk memperparah, membuat kondisi lebih rumit sehingga memaksanya untuk berperang hebat mengusir rasa kantuk agar bisa terjaga sepenuhnya dan berpikir.
Maka ketika Shun dengan usaha lebih keras membalikkan badannya, kemudian sosok Takeru Yamato yang sedang tidur di sebelahnya, di kasur yang sama, dalam keadaan memeluk tubuhnya, ia butuh beberapa detik untuk mengolah informasi yang diterima oleh saraf matanya, lalu seperti oven yang sudah selesai memanggang pada waktunya, otak Shun akhirnya berfungsi.
"WHAT AN ACTUAL F*CK, TAKERU?!"
.
Tragedi di Senin pagi hari ini membuat Shun yakin sepenuhnya bahwa hari ini tidak akan menjadi hari yang baik lagi, sama seperti hari-harinya sebelum hari ini. Entah kapan hari yang tenang penuh kedamaian itu akan datang kepadanya. Tampak seperti sesuatu yang muluk.
Setelah ia menjerit—membentak dan mendorong kakaknya sampai hampir terguling dari kasur, Takeru yang sama-sama baru bangun dengan setengah sadar hampir terkena serangan jantung karena tindakan Shun yang brutal. Alih-alih marah, Takeru dengan lempeng-nya berkata.
"Kenapa, Shun? Semalam kamu mengigau kedinginan, karena selimut tebal pun nggak berpengaruh makanya aku peluk."
Dan sekarang, Shun harus melakukan terapi mandiri untuk menenangkan diri agar tidak menjambak rambutnya sendiri, atau bahkan melakukan tindakan yang lebih brutal kepada Takeru, dalam perjalanannya menuju sekolah dengan Takeru yang menyetir mobil sambil menggodanya.
Ralat karena terbalik. Takeru yang menggodanya sambil menyetir mobil.
"Kalau memang kedinginan harusnya kau bilang sendiri kepadaku. Atau kau memang ingin dipeluk setiap malam tapi nggak ingin bilang duluan?"
Shun menghela napas kasar. Sekarang mukanya sudah memerah, timbul perempatan di keningnya, tangannya sudah siap dalam posisi mengepal barangkali ia harus menghajar Takeru untuk membuatnya diam.
"Apa sekarang kau juga ingin dipeluk sebelum masuk sekolah, hm?"
"Takeru," balas Shun akhirnya, dengan penuh penekanan. "Ngomong sekali lagi, aku bersumpah mobil ini nabrak."
Takeru menanggapi dengan cueknya tidak menghiraukan ancaman adiknya. "Kalau mobil ini tabrakan, kita berdua yang mati."
"Kau saja duluan, aku belakangan. Kau kan kakaknya."
"Astaga, Shun!" Takeru tergelak. "Ini masih pagi dan kau sudah marah-marah. PMS?"
Takeru sedikit menyesal kembali menggoda Shun karena ia langsung mendapat hadiah manis berupa tinju yang cukup kuat di lengannya. Shun benar-benar serius dengan sumpahnya tentang mobil menabrak. Sialan.
.
Sore ini setelah bubar kelas, Shun seperti biasanya langsung melipir ke clubhouse untuk menghadiri latihan. Sambil berjalan, ia seperti mencari kehadiran seseorang yang absen darinya hari ini. Akaba tampak tidak ada di peredarannya sejak pagi tadi. Hal itu membuat Shun sedikit heran dan bertanya-tanya apa si freak itu tidak masuk sekolah atau memang bukan waktunya mereka untuk bertemu jika tidak saling menghampiri satu sama lain. Shun bahkan mengirim e-mail kepada orang itu untuk memastikan apakah Akaba memang benar-benar masuk sekolah dan balasan pesan itu membuatnya lega sekaligus bingung. Lega karena Akaba tidak kenapa-kenapa, dia bersekolah seperti biasa, dan bingung karena ketika seharusnya si musisi aneh itu hadir di depan kelasnya ketika bel pulang berbunyi, manusia itu malah tetap tidak menunjukkan keberadaannya.
Panjang umur, sosok yang dicarinya itu muncul di ujung pandangannya. Shun memicingkan matanya sedikit, memastikan bahwa itu benar Akaba yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil membaca buku dan memetik senar gitarnya sesekali. Mungkin belajar lagu baru, Shun berasumsi seraya mempercepat langkahnya untuk menghampiri Akaba. Tidak perlu disapa duluan, si Laba-Laba Merah sudah menyadari keberadaannya sebelum Shun membuka mulut. Akaba menengadah, kemudian menutup bukunya.
"Hei, Shun."
"Hai juga," jawabnya masih dengan sorot mata yang kebingungan. "Sejak kapan kau di sini, Hayato?"
"Fuh, setengah jam yang lalu kurasa." Lelaki itu membenarkan sunglasses ungunya. "Tumben kau bertanya. Terdengar bukan ritmemu."
"Ya memangnya kenapa?" Shun memutar bola matanya. Harusnya aku yang bertanya kenapa kau baru muncul sekarang, Bodoh! "Apa kau sibuk seharian ini?"
"Aku mendapat buku menarik. Sangat harmonis. Aku sedang mempelajarinya, seperti yang kaulihat, Shun." Akaba menyerahkan buku yang berukuran tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil yang diterima Shun dengan tangan terbuka. Shun membuka-buka buku itu dan hanya bisa mengernyit heran dengan tulisan yang ia baca sekilas dan tentunya not balok yang bertaburan di halaman-halaman itu. Tidak mengerti apa-apa, ia pun mengembalikan buku tersebut kepada sang empunya. "Duduk sini, kau harus mendengarnya."
Oh astaga, manusia satu ini memang sulit dimengerti. Shun merutuk dalam hati tapi memutuskan untuk tetap duduk di samping Akaba. Ia melirik arlojinya. Pada jam ini, seharusnya latihan dimulai sepuluh menit lagi. Namun keadaan clubhouse yang sepi membuatnya merasa ada yang tidak sesuai. "Harusnya sepuluh menit lagi mulai latihan, tapi kenapa masih sepi?"
"Kau belum membaca e-mail-mu?" tepat setelah perkataan Akaba, Shun buru-buru merogoh HP di sakunya. Benar saja, ada notifikasi dari milis Teikoku Alexanders perihal pengunduran waktu latihan untuk tim dua sampai enam.
"Sorry, my bad."
"Fuh, sudah kuduga."
Keduanya berhenti berbicara. Akaba mulai memainkan permainan gitarnya yang baru, seperti yang tadi ditunjukkannya kepada Shun. Entah aliran musik apa yang sedang dimainkan Akaba, tapi Shun mengakui ia menyukai nada-nadanya. Matahari yang sudah condong bergelayut di barat, langit biru yang beralih warna menjadi jingga, menjemput sang senja dikawal oleh angin musim gugur yang bertiup pelan, serta permainan gitar Hayato Akaba di sebelahnya; syahdu adalah satu kata yang bisa mendeskripsikan suasana.
Shun memperhatikan bagaimana jari-jari ramping milik Akaba itu memetik senar dengan mahir. Tatapannya mulai berpindah pada raut wajah lelaki itu yang menjadi serius namun tidak terkesan tegang. Helai kemerahannya turun menutupi kening, bergerak saat diterpa angin, membuat tangan Shun tidak bisa untuk tidak menyingkirkan rambut yang jatuh itu.
Ingatannya melayang pada kemarin sore, di waktu yang hampir sama dengan yang sekarang. Ingatan tentang bagaimana Shun secara sadar sepenuhnya, berciuman dengan kakaknya sendiri Takeru. Bahkan, Akaba yang menelepon pun tetap tidak bisa menghentikan perbuatannya kemarin. Sekarang, orang yang seharusnya boleh ia cium ada di hadapannya. Orang yang seharusnya ia jaga perasaan dan kepercayaannya.
What have you done, Shun?
Sentuhan dari Shun membuat Akaba langsung berhenti memetik gitar dan langsung menoleh. Ia tersenyum kecil dan membuka sunglasses-nya, menatap langsung sepasang iris azure itu dengan mata telanjang. Merah bertemu biru. "Kenapa?"
"No…thing," balas Shun terdengar ragu. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia ragu. "A-aku suka lagunya."
Nah, setelah ragu sekarang malah tergagap.
Akaba mengubah posisi duduknya, memutar badan sampai ia berhadapan dengan Shun. "Fuh, apa ada sesuatu yang ingin kaukatakan?"
Shun menggeleng. Entah hanya perasaannya atau memang kenyataannya, jarak mereka lebih dekat sekarang. Ia menelan ludahnya untuk mengobati rasa gugup yang menyerangnya secara dadakan. Baiklah, ia memang melakukan kesalahan fatal kemarin. Perbuatannya kemarin sudah terhitung bermain belakang dari Akaba. Tapi, untuk pembelaannya meskipun tetap tidak cukup kuat, Shun tetap memberi kabar kepada lelaki itu bahwa ia memang pergi seharian dengan Takeru.
"Baiklah. Kalau begitu, aku saja yang bertanya."
Ucapan Akaba sukses membuat Shun membeku di tempat. Apalagi sepasang mata crimson itu meniliknya dalam seperti berusaha mengulik rahasia yang ia timbun. Shun tidak bisa membiarkan rahasianya terungkap hanya dengan tatapan mata itu. "Apa?"
"Kenapa ritmemu kacau begitu, Shun?" Akaba menggelengkan kepala seperti tidak habis pikir dan Shun lantas memukul kepalanya, mentally.
Crap, I make a wrong move.
"Fuh, padahal aku hanya akan bertanya tentang liburanmu kemarin."
Shun bisa bernapas secara lega. Hampir saja ia ketahuan menyembunyikan sesuatu. Hari ini, aktingnya sangat buruk. Ia janji setelah ini ia akan berlatih kalau bisa sekalian belajar dari aktor ternama. "Kemarin, kami mengunjungi makam ibu dan adik kandungnya Takeru. Lumayan jauh, di Hakui."
Akaba hanya manggut-manggut. Ia mengacak rambut Shun sampai anak itu protes, membalikkan badannya lagi dan kembali memetik gitar yang dinamai Isabel tersebut. Meninggalkan Shun sendiri di dunia nyata karena dia memilih untuk menceburkan diri ke dalam dunianya dengan Isabel.
Shun bukanlah seseorang yang suka dan bisa menunjukkan perasaan sayangnya kepada orang lain. Dia jauh dari kriteria romantis, bahkan dia sendiri tidak menyukai hal tersebut. Dia benci ketika berada di tengah keadaan yang memaksanya untuk mengekspresikan perasaan suka dan sayangnya. Harga dirinya terlampau tinggi untuk takluk kepada sesuatu yang dinamakan cinta. Walaupun Shun tidak sepenuhnya bisa mencintai dalam diam, ia bisa menutupi perasaannya sendiri dengan memanipulasi orang lain. Hal yang terlampau sering dilakukannya adalah mengelak, menolak mentah-mentah, dan menyerang balik orang yang berusaha untuk mengungkit perasaannya yang ia pendam.
Detik ini, Shun tidak tahu arwah leluhur mana yang merasuki pikirannya, membuatnya membuang jauh-jauh racun bernama gengsi dan meruntuhkan tembok kuat bernama harga diri.
"Hayato."
"Hm?"
Yang ia tahu, ia mengecup pipi Akaba sekarang, di pinggir lapangan, di tempat umum.
Akaba refleks menghentikan permainan gitarnya lagi. Ia menoleh, takjub sekali lagi dengan apa yang personifikasi langit itu lakukan kepadanya. Ia menelengkan kepala, berusaha mencari tahu apa yang ada di pikiran Shun, namun lelaki itu terlalu rumit untuk dipahami. "Fuh, kau benar-benar menciumku tadi. Aku nggak salah, kan?"
Mantan ace Kyoshin itu menggelengkan kepalanya mantap. Ia balas menatap Akaba dengan penuh keyakinan.
I am sorry ….
Akaba kembali tersenyum. Senyum yang membuat Shun mendadak sesak dan tenggorokannya tercekat. Kini, jarak keduanya mendekat lebih dari yang sebelumnya. Di saat-saat seperti ini, ingatan tentang pantai, matahari terbenam, dan Takeru yang menciumnya berkelebat mengacaukan sistem kerja otak Shun.
Takeru, pergi!
Shun sadar sepenuhnya bahwa orang di hadapannya sekarang, yang sedang mengikis jarak di antara mereka, yang baru akan mencium bibirnya, adalah seorang Hayato Akaba.
Namun yang ia tahu, bayang-bayang Takeru tidak pernah hilang barang satu detik pun setiap Akaba menciumnya.
.
Segala jenis kegiatan rela dilakukan Shun, asal masih dalam batas kewarasan seorang manusia, demi mendistraksi pikirannya sendiri. Ia bisa berkutat di buku fisikanya selama berjam-jam meskipun kepalanya sudah seperti terserang migrain, lari sejauh-jauhnya meskipun kakinya sudah mati rasa, melatih otot tangannya dengan push-up dan mengangkat beban sampai lengannya ngilu, menghafal semua play dalam playbook Teikoku Alexanders, menonton film seharian, atau bahkan makan sebanyak-banyaknya. Ia bisa dan mau melakukannya agar sesuatu yang mengusik dan terus bersemayam di otaknya bisa hilang sempurna, meskipun hitungannya hanya sementara.
Dan itulah yang dilakukannya sekarang; berlatih lebih dari semangatnya yang biasa dalam rangka mengusir Takeru Yamato dari pikiran Shun.
Shun menjadi orang pertama yang menyelesaikan latihan berlari keliling lapangan, menuntaskan porsi push-up, sit-up, plank, dan pemanasan lainnya lebih dulu daripada yang lain, bahkan ketika di lapangan pun entah darimana kekuatan mendadak yang didapatkannya, ia bisa menjatuhkan kubu lawan yang berusaha berlari menerobos pertahanannya. Jika sehari-hari ia dianggap selalu serius, kini tingkat keseriusannya naik berkali-kali lipat.
Tentu saja, usaha awalnya dalam mengusir dua orang itu dalam pikirannya berhasil dan membuahkan banyak hasil. Pertama, tujuan utamanya tercapai. Kedua, Shun dipertimbangkan untuk naik ke Tim Dua.
Yah, tentu Shun akan sangat bersuka cita mengetahui tentang berita yang kedua, kalau saja nama Hayato Akaba tidak turut serta diumumkan menjadi anggota yang dipertimbangkan. Bukan, ia bukannya tidak senang bahwa kekasihnya sendiri akan naik ke Tim Dua bersamanya. Bukan dengki yang membuatnya merasa berat hati.
Menjadi pertimbangan untuk naik tingkat berarti mereka akan bertanding saling mengalahkan untuk menunjukkan siapa yang pantas diberi kehormatan untuk masuk ke Tim Dua. Itu artinya, Shun mau tidak mau, cepat atau lambat, akan bertanding melawan kekasihnya sendiri. Ia terlalu enggan menambah nama Hayato Akaba masuk ke dalam daftar nama orang terdekat yang harus menjadi musuh dalam rangka berebut posisi dan membuktikan siapa yang lebih tangguh selain Takeru Yamato.
Sial, nama itu kembali ke dalam pikirannya.
"Selamat, Shun."
Suara dan tepukan di bahunya membuat Shun tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan pandangannya dari glove yang sedari tadi hanya dimainkannya kepada sumber suara. Shun juga baru sadar bahwa sedari tadi, di tengah kerumunan rekan-rekannya, ia hanya duduk di bench dan bengong. Akaba sudah tersenyum. Sunglasses birunya belum dipakai walau mereka sudah selesai berlatih dan lelaki itu telah melepas helmet.
"Kau juga selamat, Hayato."
"Fuh." Akaba mengambil tas gitar yang ada di sebelah Shun (Shun memang sengaja duduk di samping gitar Akaba, tempat favoritnya). "Melamun lagi? Jangan terlalu sering, tidak baik untuk keharmonisan ritmemu. Ayo ganti baju. Kudengar akan ada pengumuman dari Tim Satu."
Oh, ya. Shun jadi lagi-lagi teringat dengan perkataan Takeru saat di mobil. Ia ingat kakaknya mengatakan sesuatu perihal tentang pengumuman untuk Tim Dua sampai Tim Enam.
Jadi, lelaki itu mengangguk, kemudian bangkit dari bench, menenteng helmet-nya, dan melangkah mengikuti Akaba yang berjalan ke ruang loker mereka.
.
"Bagaimana tadi? Siap, kan?"
Latihan telah usai. Pengumuman spesial dari Tim Satu pun sudah diperdengarkan di ruang konferensi mereka yang bergaya khas Yunani. Kini, semua tim membubarkan dirinya untuk keperluan masing-masing.
Yap, itu artinya Shun kembali bersama Takeru. Lagi dan lagi. Dan memang akan begitu kecuali Shun memilih untuk kabur dari rumahnya lagi dan tinggal di tempat yang arahnya sangat berlawanan dan jauh dari Takeru.
Ide yang bagus juga.
Masalahnya, Shun tidak senekat itu menghadapi dan melawan sang kaisar absolut yang kini sudah menyamai langkahnya dan berjalan bersisian. Jadi, kembali ke realita, ia hanya mengangguk. Mencoba tidak terusik dengan basa-basi yang dilontarkan kakaknya. "Yeah, sure."
"Retoris, ya?" Takeru tertawa garing. Memang hanya kepada Shun—dan Taka, basa-basi juga ramah-tamahnya tidak mempan sama sekali. "Tanpa kuberi semangat pun kau sudah semangat."
"Memang, makanya jangan sok peduli," ejek Shun tanpa melirik ke arah Takeru sama sekali. Akaba hilang dari pandangannya tadi. Karena posisi mereka yang terlalu berbeda—Akaba ada di kubu offense, ia jadi agak kesusahan menemukannya meskipun lelaki tersebut berpenampilan nyentrik. Tak salah memang memberi gelar Teikoku Alexanders sebagai tim yang memiliki pemain terbanyak seantero Jepang. Orang yang mendapati keberadaannya duluan malah Takeru.
"Aku peduli, sungguh." Takeru menepuk-nepuk kepala Shun, sukses memancing perhatian sang adik karena kini ia membalikkan badann untuk menyingkirkan tangannya dari kepala. "Kapan sih, kau nggak bersikap segalak ini? Apa hanya di kamar? Atau…"
"Berisik!" Shun menyentak. Raut wajahnya berubah sekilas menjadi panik, membuat Takeru dengan sukses terbahak. "Ada apa denganmu, really? Kau memang menyebalkan, terlalu menyebalkan untukku, kau tahu?"
Satu detik. Shun menyadari ada yang salah dari kalimatnya. Namun sayang, kata-kata yang terlanjut diucapkan adalah salah satu dari hal yang tidak bisa dikembalikan dan refleks untuk mengelaknya pun mendadak berhenti berfungsi.
Sialan! Shun hanya bisa merapatkan bibirnya. Sekuat tenaga menahan darahnya untuk tidak melawan gravitasi naik ke pipi.
"Untukmu?" Takeru belum kapok menggoda Shun. Sepertinya tidak akan pernah. Malah sekarang, ia mendapat pancingan yang bagus. "Ow, I can be good too, only for you, Shun. Don't worry."
"Apa sih?!" Shun, mendapatkan kembali kemampuannya bertahan dan mengelak dalam situasi memalukan seperti ini, langsung memukul keras lengan Takeru dan buru-buru berjalan meninggalkannya. Ia bisa mendengar suara kakaknya yang mengaduh. Mengaduh bercanda, tentunya. Shun sudah terlalu hafal dengan suara Takeru dalam berbagai situasi.
Tadi, Heracles mengumumkan bahwa kegiatan tahunan Teikoku Alexanders, lebih khususnya Tim Dua sampai Tim Enam, akan diadakan mulai hari Rabu dan puncaknya di hari Jumat dan Sabtu. Kegiatan latihan fisik berturut-turut dan pada hari Jumat, akan diadakan kemah di gunung sebagai rangkaian puncak latihan fisik tersebut. Bagi Shun, itu bukanlah hal yang membuatnya menggebu-gebu, namun ia cukup menantikan hal itu dengan senang hati. Akhirnya, ada sesuatu yang mengisi hari-harinya yang membosankan di sekolah, terutama di kelas. Selain itu, berhubung dengan adanya acara ini, 'pertandingan'-nya melawan Akaba untuk merebut tiket masuk Tim Dua akan diundur.
Bicara tentang Akaba, panjang umur sekali karena orang itu mendadak muncul di pandangan Shun. Namun, baru beberapa langkah ke arah Akaba, Shun menangkap sosok lain yang sedang bersama kekasihnya itu.
Taka Honjou.
Dilihatnya kedua orang itu sedang berbincang. Shun juga melihat buku yang tadi digunakan Akaba untuk mempelajari lagu baru, kini sedang berpindah tangan kepada Taka. Lelaki berambut panjang itu tampak membacanya sejenak, memindah halaman dengan cepat, namun raut wajahnya benar-benar menghayati bacaannya. Setelah itu, Akaba menyerahkan sebuah MP3 player merah yang langsung disimpan Taka ke saku jas almamaternya.
"Hayato."
Jangan salahkan Shun yang merusak momen dua orang itu. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia memanggil Akaba.
Yang ia tahu, ia merasa sedikit tidak suka melihat interaksi antara Akaba dengan Taka yang terlihat dekat.
Akaba langsung menoleh ke arahnya. Lelaki itu tidak langsung membalas panggilannya, tetapi menoleh kembali ke arah Taka dan mengucapkan sesuatu; pamit. Shun mengerutkan kening.
Sejak kapan mereka jadi dekat?
"Hei. Kenapa belum pulang?" ujar Akaba ketika ia sudah berada di hadapan Shun. "Fuh, biasanya kau langsung pergi dengan kakakmu."
"Tadi kau menyerahkan apa kepada Taka-san?" Shun memang tidak suka basa-basi, namun dia menyesal kenapa harus mengutarakan rasa penasarannya sefrontal itu. "Maaf, maksudku, apa aku mengganggumu tadi?"
Great, Shun. After the straight-forward one, you go with another stupid words.
Tentu saja, Akaba mengeluarkan tawa kecilnya. Terkekeh akibat ucapan Shun yang terlalu mudah dibaca. "Fuh, kau penasaran? Itu MP3, isinya rekaman permainanku dengan Isabel. Kenapa, Shun?"
"Oh. Bukan apa-apa." Shun ber-oh kecil. Dengan suara yang sama kecilnya, ia hampir berbisik, "kau bahkan nggak pernah memberikan rekaman lagumu kepadaku."
"Sorry?"
"Shun!"
Shun tidak berpikir dua kali untuk menghela napas kesal secara terang-terangan. Ia menoleh malas ke arah Takeru, mengisyaratkannya untuk tidak mendekat, lalu kembali menatap Akaba. Lelaki di depannya itu masih meminta penjelasan dari ucapannya tadi, tapi Shun tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin mengutarakan perasaannya sekarang juga dan di tempat umum seperti ini.
"Aku pulang dulu, Hayato." Shun merasa jantungnya absen satu ketukan karena respon Akaba yang sangat tidak seperti biasa. Ia tidak salah lihat, walau sangat sekilas dan nyaris tidak terdengar, lelaki itu mendengus kesal. Sontak, Shun kembali bertanya, "kau kenapa?"
Akaba menggelengkan kepalanya. Senyum itu kembali ada, tapi Shun tidak merasa lega dengan hadirnya senyum itu. Itu bukan senyum Akaba yang ia kenal. "Fuh, nggak perlu dipikirkan. Pulanglah, Shun."
Pandangan keduanya beradu beberapa detik. Shun mencoba membaca sorot mata Akaba, namun ia malah semakin tidak mengerti dibuatnya. Sunglasses yang dipakai sang Tokyo MVP itu menghalanginya untuk menilik lebih dalam sepasang crimson yang dulu pertama kali membuatnya kagum itu. Pada akhirnya, Shun menyerah dan berkata lirih.
"See you."
Sebelum ia membalikkan badan, Akaba membuatnya berhenti dengan kalimat terakhirnya.
"Take care, Shun."
Shun hanya mengangguk. Tanpa menunggu apapun lagi, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Takeru yang berdiri tidak jauh di tempatnya tadi. Sesekali menoleh ke belakang, mencari sosok Akaba yang masih setia di tempat, memantaunya sampai tak terlihat lagi dari jangkauan mata.
Shun sudah terlalu sering menghadapi hal yang tidak beres di hidupnya. Tapi, jika seorang Hayato Akaba yang menjadi pemeran utamanya sekarang, seketika Shun merasa kembali berantakan.
.
.
—to be continued—
.
.
