*Unedited, beware of typos!

.

.

.

Chapter 4: All I Wanna Do

Jumat, 4:07 PM

Hari jumat terasa datang lebih cepat, dan hingga kini Baekhyun masih belum menemukan nama Chanyeol di setiap social media dan applikasi chatting—bahkan applikasi gay chatting sekalipun. Misi pencarian Baekhyun mengalami jalan buntu. Pada akhirnya ia memilih untuk berhenti dan menghapus applikasi gay chatting—yang pernah di donwload-nya tapi tak pernah digunakan—dari ponselnya. Mungkin ia bisa memikirkan cara lain untuk mencari tahu tentang pria tampan pindahan dari Perancis itu.

Baekhyun meninggalkan area kampus bersama ketiga sahabatnya, asyik mengobrol dan tertawa. Ia memutuskan untuk langsung pulang sementara para sahabatnya hendak mampir sejenak ke café. Di tengah obrolan tiba-tiba Changmin berujar mengingatkan,

"Hey, nanti malam kita akan nongkrong dengan para gadis, kan?"

"Tentu saja!" sahut Kai seraya tersenyum lebar. Sehun menganggukkan kepalanya dengan semangat. Sedangkan Baekhyun hanya diam, nampak kurang semangat saat teringat dengan undangan pesta dari Sulli itu.

"Kawan. Malam ini aku akan mendekati Luna, sepanjang malam. Aku tidak akan meninggalkannya sedetikpun," Sehun mulai membual tentang imajinasinya dengan penuh semangat. "Ketika aku mau pergi, dia akan seperti: "Oh tidak Sehun, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut ketika Daddy-ku tidak di sini.". Aku akan mendapatkannya sedikit demi sedikit…hey, dengarkan aku! Dengarkan aku sebelum kalian mulai mengkritik, luar biasa!"

Sehun merengut ketika Changmin dan Kai menertawakan imajinasinya, sementara Baekhyun hanya tersenyum jahil. Tidak peduli dengan tawa para sahabatnya, Sehun melanjutkan imajinasinya dengan penuh penghayatan,

"Aku akan mendapatkannya. Aku akan menatapnya dan mengatakan: Oh Luna, oh Luna. Jangan khawatir, malam ini Daddy-mu di sini dan dia akan meledakkan pikiranmu."

"Tidak, Sehun, Sehun, Sehun," Baekhyun menghentikan sang sahabat dari imajinasi luar biasanya.

"Apa, sih?" tanya Sehun menoleh menatap Baekhyun dan merangkul bahunya.

"Aku tidak tahu. Kau sahabatku, tapi jika kau mengatakan Daddy pada seorang gadis, kau akan menjadi perjaka seumur hidupmu," ujar Baekhyun dengan senyum jahilnya.

"Kupikir, kau mau mendekati Luhan?" tanya Changmin pada Sehun.

"Oh, tapi kawan, Luhan itu…" Sehun mengerang pelan ketika teringat pada gadis bersurai cokelat yang sulit di dekati itu.

"Kau mengejar satu, lalu mengejar yang lainnya…kau harus memilih!" kata Kai, yang diangguki Changmin dan Baekhyun.

"Tapi aku tidak punya waktu untuk menghabiskan waktu dengan Luhan," ujar Sehun beralasan.

"Ooh…tidak punya waktu~" ledek Changmin diiringi tawa Kai dan Baekhyun.

"Gentleman tidak menghabiskan waktu," Baekhyun ikut meledek. Kai mengulang ucapan Baekhyun sambil terkekeh.

Sehun memandang para sahabatnya sambil merengut bingung. "Apa yang salah? Apa maksudnya itu?" tanyanya. Namun ketiga sahabatnya hanya terkekeh.

Mengabaikan kebingungan Sehun, Kai justru bertanya pada sang sahabat yang paling mungil, "Kau memiliki mariyuana-nya, Baekhyunie?"

"Ya!" jawab Baekhyun. Dalam hati ia bersyukur Kyungsoo telah mengembalikan kantung mariyuana itu padanya, jika tidak entah ia harus membuat alasan apa pada pada Kai. "Kau menginginkannya?"

"Tidak, hanya jangan lupa membawa mariyuana itu nanti malam. Itu penting," jawab Kai, lalu menatap para sahabatnya dengan senyum jahil. "Dan siapa yang membayar untuk minuman keras malam ini?"

"Byun Baekhyun!" Changmin dan Sehun menjawab dengan kompak.

Baekhyun mendengus. "Serius, kalian semua setuju?" tanyanya tidak percaya. "Kenapa aku?"

"Well, ketika kita pergi ke pesta Tao, aku membayar semuanya," ujar Changmin.

"Di taman, siapa yang membayar semuanya?" timpal Sehun seraya menunjuk dirinya sendiri.

"Jadi kali ini, giliran siapa yang membayar?" tanya Kai, menunjuk Baekhyun dengan santai.

"Baekhyunie!" Sehun dan Changmin menunjuk ke arah Baekhyun dengan kompak.

Melihat Baekhyun yang hanya diam dengan wajah sedikit merengut membuat Kai merasa tidak enak. Maka Kai pun memberi usul, "Tapi jika kau sedang tidak punya uang, aku akan membayarnya. Itu bukan masalah besar."

"Tidak, tidak perlu," tolak Baekhyun, menepuk pelan bahu Kai lalu menghentikan kakinya saat tiba di halte bis.

"Beritahu kami saat kau mendapatkan alamatnya," kata Changmin. Baekhyun menganggukkan kepalanya.

"Dan jangan lupakan mariyuana-nya!" Kai mengingatkan lagi dengan suara yang cukup keras, saat mereka bertiga meneruskan langkah, meninggalkan Baekhyun.

"Bodoh! Jangan mengatakannya keras-keras!" kata Changmin seraya memukul belakang kepala Kai dengan sedikit kesal.

"Oh ayolah, semua orang juga merokok mariyuana, tidak hanya kita, kan?" ujar Kai santai, membuat Changmin menggerutu. Sehun hanya mendengarkan sambil terkekeh.

*chanbaek*

Sepeninggal ketiga sahabatnya, Baekhyun duduk menunggu di halte yang sepi. Menurut jadwal, bis yang ditunggunya akan datang lima belas menit lagi. Selagi menunggu Baekhyun memutar otaknya untuk mencari pinjaman uang untuk membeli minuman keras yang diminta para sahabatnya. Keuangannya sedang menipis saat ini. Pilihan pertama adalah ayahnya. Maka jemarinya menari dengan cepat di atas layar ponselnya, mengetik pesan untuk sang ayah.

SMS to Appa:

Appa, aku terlambat membayar sewa apartemenku dan bahkan tidak bisa membeli makanan. Bisakah kau mengirimkanku uang sekarang? XX

Send.

Sejenak Baekhyun menatap ponselnya, mencoba memikirkan pilihan lain bila sang ayah tidak bisa mengirimkan uang sekarang. Satu nama terbersit di kepalanya. Mungkin saja ia bisa meminjam uang pada teman satu apartemennya. Lay orang yang baik, dia pasti mau meminjamkan beberapa dollar padanya, kan?

SMS to Lay:

Bisakah kau meminjamkanku 20 dollar untuk malam ini, please? Transfer dari appa-ku akan segera datang.

Send.

Baekhyun menatap ponselnya, menunggu jawaban. Namun tidak satupun dari sang ayah maupun Lay yang segera menjawab pesannya. Padahal ia butuh jawaban segera. Terlalu fokus pada ponselnya, ia tidak menyadari seseorang diam-diam melangkah pelan menghampirinya, duduk di sampingnya, dan menatapnya tanpa suara.

Merasa diperhatikan, Baekhyun pun menoleh ke samping kirinya dan terkejut saat mendapati sosok tampan Chanyeol. Mata besar pria itu menatap Baekhyun dengan binar hangat, jaket cokelat—yang sepertinya jaket favorit Chanyeol—membalut tubuh kekarnya, dan ransel hitamnya tergeletak di bawah diantara dua kakinya.

"Sial, kau mengagetkanku," gerutu Baekhyun.

Chanyeol terkekeh pelan melihat ekspresi kaget Baekhyun yang menurutnya lucu. "Maaf, tidak bermaksud mengagetkanmu," katanya, tersenyum.

Baekhyun hanya tersenyum kecil. Ia menatap pria tampan itu, berpikir selama beberapa detik. "Apa kau akan pulang?" tanyanya, mencoba mencari bahan pembicaraan.

"Langsung menuju pertanyaan pribadi, huh?" ujar Chanyeol, senyum di bibirnya mendadak luntur.

Melihat Chanyeol memalingkan wajahnya ke depan dan nampak tidak suka membuat Baekhyun merasa tidak enak. Baekhyun hanya bertanya, tidak bermaksud membuat pria tampan itu marah. "Uh, aku…." ia bingung harus bicara apa sekarang.

Tiba-tiba terdengar suara kekehan pelan. Chanyeol menoleh memandang Baekhyun dan dengan cepat berkata, "Aku hanya bercanda, Baekhyun."

Dan Baekhyun tersenyum, merasa lega. Saat ia hendak membuka mulutnya, ponselnya bergetar. Ia pun menunduk memandang ponselnya. Satu pesan singkat dari Lay yang membuat senyum Baekhyun mendadak luntur.

1 new message.

Lay:

Maaf, aku lembur malam ini.

Melihat ekspresi Baekhyun yang mendadak muram, Chanyeol pun mengernyit. "Ada masalah?" tanyanya.

Baekhyun menghela napas sejenak, lalu menoleh memandang Chanyeol. "Aku seharusnya membawa bir ke sebuah pesta, aku tidak bisa menarik uang dan teman sekamarku sedang tidak ada," jawabnya.

"Aku bisa meminjamimu, jika kau mau," usul Chanyeol, namun Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku tidak suka meminjam uang," tolak Baekhyun.

Chanyeol terkekeh sejenak. "Tidak, aku tidak memiliki uang, tapi aku memiliki banyak bir. Kita bisa pergi mengambilnya di tempatku jika kau mau."

"Kau yakin?" Baekhyun menatap pria tampan itu dengan ragu.

Chanyeol terdiam sejenak memandang wajah manis Baekhyun yang nampak muram dan ragu. "Tunggu, biar kutebak," katanya. "Kau pikir ini aneh."

Baekhyun tersenyum mendengarnya, lalu mengalihkan pandangannya ke depan dengan sedikit malu. Bagaimana pria tampan itu bisa menebaknya dengan tepat?. Chanyeol terus menatap Baekhyun dan tersenyum, merasa gemas dengan ekspresi malu si manis, lalu ia menoleh saat bis yang mereka tunggu akhirnya datang.

"Kau ikut?" tanyanya seraya meraih ranselnya dan berdiri, beranjak menaiki bis. Baekhyun hanya tersenyum dan tanpa kata ikut berdiri, beranjak mengikuti si pria tampan.

*chanbaek*

Jumat, 5.12 PM

Chanyeol memutar kunci dan membuka pintu apartemennya, melangkah masuk diikuti langkah canggung Baekhyun di belakangnya. "Silahkan masuk," kata Chanyeol seraya menutup pintu lalu tersenyum pada si manis.

Chanyeol meletakkan ranselnya di lantai dan membuka jaket cokelatnya, membiarkan Baekhyun menjelajahi tempat tinggalnya. Dengan penasaran Baekhyun menyusuri lorong yang membawanya memasuki ruang tamu. Apartemen Chanyeol cukup besar, didominasi kayu, dinding berwarna abu-abu yang penuh dengan lukisan dan perabotan bergaya vintage. Di lihat dari rak yang penuh dengan buku dan koleksi piringan hitam, juga sebuah alat pemutar khusus atau turntable yang diletakkan di atas perapian dekat dengan sebuah piano kecil, Baekhyun menduga jika pria tampan itu adalah seorang pecinta hal-hal klasik, dan mungkin seorang yang romantis.

Asyik memperhatikan seisi ruangan hingga akhirnya mata cokelat Baekhyun tertarik pada kertas-kertas yang ditempel di atas perapian. Semua isi kertas tersebut berisi sketsa gambar seekor hewan lucu dalam berbagai pose yang menggemaskan. Sepertinya itu adalah hewan favorit Chanyeol. Cukup tidak terduga, huh?

Suara langkah kaki di atas lantai kayu yang berderit membuat Baekhyun menoleh. Di ambang pintu Chanyeol melangkah masuk dengan membawa sekerat bir di tangan kanan dan dua botol bir di tangan kirinya. Pria itu menghampiri Baekhyun yang menaikkan satu alisnya.

"Oke, jadi kau memberikanku satu paket bir," Baekhyun berkata seraya tersenyum menatap bir-bir di tangan Chanyeol. Sedikit terkejut karena ternyata pria tampan itu benar-benar memiliki bir yang banyak di apartemennya, dipikirnya pria itu hanya bercanda.

Chanyeol terkekeh mendengarnya. "Yah, aku tidak tahu, aku punya banyak di rumah. Tidak tahu kenapa," katanya, lalu menunjukkan dua botol bir di tangan kirinya. "Apa kau mau satu sebelum pergi ke pestamu?"

"Tentu."

"Bagus."

Baekhyun meletakkan ranselnya di atas sofa, lalu melepaskan jaket dan syal yang melilit lehernya. Sementara Chanyeol meletakkan sekerat bir di tangan kanannya ke lantai, kemudian membuka dua botol bir di tangan kirinya dengan menggunakan alat pembuka yang sempat ia selipkan ke saku celana jinsnya tadi. Lalu ia memberikan satu botol bir pada Baekhyun, yang diterima pria manis itu dengan senang.

Mereka bersulang, lalu mulai menenggak botol bir masing-masing. Perhatian Baekhyun kembali tertarik pada sketsa-sketsa hewan yang menempel di dinding. Ia melangkah mendekati dinding, ingin menatap sketsa-sketsa itu lebih dekat. Chanyeol mengikuti langkah si manis dan berdiri cukup dekat di sampingnya,

"Kau yang menggambarnya?" tanyanya.

"Ya," jawab Chanyeol, ikut menoleh memandang sketsa-sketsa di dinding itu. "Well, itu sudah lama sekali. Aku sudah lebih baik dalam menggambar sekarang."

"Karena gambar itu seharusnya kau?" Baekhyun menoleh pada Chanyeol sejenak, tersenyum lalu kembali memandang sketsa-sketsa di depannya. "Um…apa itu? Seekor musang?"

"Musang? Itu seekor rakun! Itu adalah hewan spiritiualku."

Baekhyun memandang Chanyeol dengan sedikit heran. Biasanya orang-orang memilih hewan yang terlihat kuat dan menakutkan sebagai hewan spiritual mereka, tetapi Chanyeol justru memilih hewan kecil yang terlihat lemah namun menggemaskan itu. Pilihan yang unik.

"Itu hewan spiritualmu?" tanya Baekhyun, mengernyit.

Chanyeol menoleh, memandang si manis selama beberapa saat. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan seraya menjawab, "Rakun itu luar biasa!" ia kembali memandang Baekhyun sambil tersenyum dan menggerakkan dua jarinya di depan matanya. "Ditambah, mereka memakai topeng."

"Oke, aku mengerti!' Baekhyun tertawa. Ia melirik Chanyeol yang kembali memandang ke depan. Iseng dan penasaran, ia bertanya, "Dan jika kau harus menggambarku? Bagaimana kau akan melakukannya?"

Chanyeol menoleh pada Baekhyun, nampak sedikit terkejut dengan pertanyaan tak terduga itu. Lalu ia menggerakkan tubuhnya menghadap Baekhyun, dengan mata yang tak lepas menatap pria manis itu. Tatapan yang sulit diartikan. Mata mereka bertemu dalam menit-menit yang sunyi, mendebarkan.

"Aku tidak tahu," jawab Chanyeol akhirnya. Ia menenggak botol birnya sejenak tanpa mengalihkan matanya dari Baekhyun. "Aku harus memikirkannya."

Lalu ia terkekeh pelan. Sementara Baekhyun hanya tersenyum manis, penuh minat. Pria tampan ini benar-benar membuatnya tertarik. Chanyeol kembali menikmati botol birnya, namun kemudian ia teringat sesuatu.

"Sayang sekali, aku tidak memiliki mariyuana yang tersisa untuk merokok," ujarnya.

Tanpa berpikir panjang Baekhyun berkata, "Aku punya!" lalu ia mengeluarkan kantung mariyuana milik Kai yang dibawanya, dan memberikannya pada Chanyeol.

"Wow! Oke, kau memang tidak pernah bercanda, huh?" sahut Chanyeol senang. Ia membuka kantung putih itu, menghirup aroma memabukkan di dalamnya dan tersenyum lebar.

Sementara itu mata cokelat Baekhyun masih menatap Chanyeol dengan penuh binar. Seharusnya ia tidak memberikan mariyuana itu pada Chanyeol. Mariyuana itu milik Kai, dan sang sahabat telah mengatakan untuk membawanya ke pesta nanti malam. Mereka akan menikmatinya bersama di pesta. Kai pasti akan marah jika tahu bahwa mariyuana miliknya telah diberikan pada orang lain.

Tetapi persetan dengan kemarahan Kai! Baekhyun tidak peduli. Chanyeol adalah yang terpenting saat ini.

*chanbaek*

Jumat, 6.53 PM

Bersama dengan botol-botol bir dan mariyuana, Chanyeol dan Baekhyun duduk santai di sofa ruang tengah. Suara musik yang merdu dari piringan hitam yang berputar di alat turntable milik Chanyeol mengiringi suasana nyaman tersebut. Mereka mengobrol, meloncat dari satu tema ke tema lainnya, lalu tertawa bersama saat sebuah cerita lucu terlontar diantara mereka.

"Aku bersumpah, laki-laki itu memuntahkan semuanya!" Baekhyun bercerita dengan wajah mengeryit jijik yang lucu. Satu tangannya terulur menerima batang rokok mariyuana yang disodorkan oleh Chanyeol yang duduk di depannya, dengan sebuah meja kecil sebagai pembatas mereka.

Chanyeol menghembuskan asap kelabu tipis dari mulutnya, membiarkannya membaur bersama udara disekitar, lalu tertawa mendengarkan cerita Baekhyun. "Sial, memalukan sekali!" komentarnya.

"Menjijikan, lebih tepatnya!" ujar Baekhyun, menghisap batang rokok mariyuana di tangannya dengan nikmat.

"Jika itu aku, aku pasti sudah langsung pergi!"

"Sama! Pergi, seperti melarikan diri!"

Dan mereka kembali tertawa bersama. Chanyeol meraih botol bir di depannya dan meminumnya, sebelum kemudian menoleh ke belakang saat menyadari musik telah berhenti. Lagu dari piringan hitam telah habis. Dalam diam Baekhyun tersenyum, memperhatikan pria bertubuh tinggi itu berdiri dari sofa dan beranjak mendekati alat turntable yang terletak di atas perapian. Chanyeol mengambil piringan hitam yang telah berhenti berputar dari dalam alat turntable, lalu mulai sibuk memilih lagu lain dari koleksi piringan hitamnya yang banyak. Perhatian Baekhyun teralih saat layar ponselnya menyala di atas sofa di sampingnya. Ia meletakkan puntung rokoknya diatas asbak lalu meraih ponselnya, melihat notifikasi sms baru dari Sulli. Senyum di wajah Baekhyun memudar.

Sulli 18.02:

Hey, jam 7 malam di Sun Premier Club

Sulli 18.20:

Kami menunggumu di sana..

Sulli 18.32:

Jika kau tidak bisa mendapatkan minuman keras, tidak apa-apa.

Sial, Baekhyun hampir lupa dengan pesta Sulli. Bersama dengan Chanyeol membuatnya lupa waktu. Sejenak ia melirik Chanyeol yang masih sibuk memilih piringan-piringan hitam di rak, lalu menggigit bibirnya, berpikir. Ia sudah berjanji akan datang—dipaksa lebih tepatnya—ke pesta Sulli bersama para sahabatnya yang sangat antusias. Namun ia masih ingin bersama Chanyeol, pria tampan itu seperti magnet yang membuatnya sulit untuk pergi darinya. Pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak datang. Dengan cepat jemarinya mengetik balasan untuk Sulli, beserta kebohongannya.

SMS to Sulli:

Maaf, tiba-tiba kurang motivasi dari semua orang. Aku sedang mencoba mengajak teman-temanku untuk datang.

Send

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari sahabatnya yang baru saja masuk membuat Baekhyun mendadak menegakkan tubuhnya, ekspresi wajahnya berubah serius.

Changmin 18.05:

Apa kau mendapat birnya? Dimana kita harus bertemu?

Changmin 18.33:

Jawab aku!

Changmin 18.54:

Apa kau mengabaikan kita, atau bagaimana?!

Baekhyun menggigit bibirnya lagi. Ia tidak bermaksud untuk mengabaikan para sahabatnya, hanya saja kehadiran Chanyeol membuatnya melupakan segalanya. Kembali ia melirik Chanyeol yang masih asyik memilih di rak, berdiri memunggunginya. Menghela napas pelan, ia mulai mengetik pesan balasan untuk Changmin, kebohongan lainnya.

SMS to Changmin:

Tidak ada kabar…

Aku pikir acaranya dibatalkan.

Send

Setelah pesan terkirim Baekhyun segera mengunci ponselnya dan meletakkanya kembali di sofa dalam posisi terbalik—layar ponsel menghadap ke sofa—, lalu mengangkat kepalanya saat menyadari bahwa akhirnya Chanyeol telah selesai memilih lagunya. Sambil tersenyum Chanyeol menunjukkan piringan hitam di tangannya pada Baekhyun, kemudian mulai memasangnya di alat turntable.

"Biar kutebak…a little Choppin?" kata Baekhyun sambil memandang Chanyeol. Pria tampan itu menoleh pada Baekhyun dengan senyum jahil di bibirnya. Baekhyun mencoba menebak lagi, "Em…tidak. Tidak. Sebuah lagu jazz tua yang bagus!"

Chanyeol mendengus dan kembali tersenyum. "Sebuah lagu jazz tua yang bagus…oke. Apa aku terlihat klise?" ujarnya, lalu terkekeh kecil.

"Tidak, kau tidak klise, hanya…alat turntable-mu membuatmu terlihat seperti seorang kolektor barang antik tua," sahut Baekhyun.

Chanyeol memutar bola mata dengan jenaka. "Baiklah. Well, coba dengarkan ini," katanya seraya mulai menghidupkan turntable miliknya.

Diluar dugaan saat turntable mulai menyala dan piringan hitam di dalamnya mulai berputar, bukan alunan lembut lagu jazz ataupun lagu klasik lainnya yang terdengar, tetapi justru dentuman musik jenis EDM. Baekhyun terkejut di atas sofa, sementara Chanyeol memandang pria manis itu dengan cengirannya.

"Apa kau menyukainya?" tanya Chanyeol, mulai menggerakkan tubuhnya dan meloncat-loncat mengikuti dentuman musik yang keras.

"Ini bagus!" jawab Baekhyun setelah akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia memandang Chanyeol yang sedang menari di depannya dan tersenyum seraya berpikir, sungguh…pria tampan ini tidak terduga.

Dilihat dari koleksi piringan hitam yang banyak dan alat turntable yang dimilikinya, juga perabotan di apartemennya yang bergaya vintage, Baekhyun pikir Chanyeol adalah jenis pria yang hanya menyukai hal-hal yang klasik. Tetapi ternyata pria itu juga menyukai musik masa kini, seolah dia hidup di dua dunia. Unik dan membuat Baekhyun semakin penasaran, kejutan apalagi yang dimiliki seorang Park Chanyeol?

Lelah menari, Chanyeol akhirnya berhenti dan mengecilkan volume suara turntable-nya. Lalu sambil tersenyum lebar ia kembali duduk di depan Baekhyun. Baekhyun balas tersenyum dan berkata, "Aku tidak terbiasa mendengarkan jenis musik ini, tapi…"

"Yeah? Apa yang biasanya kau dengarkan?" tanya Chanyeol seraya meraih satu batang rokok mariyuana baru dari atas meja, menyelipkannya di mulut dan menyulutnya dengan pemantik api.

"Aku tidak tau, lebih ke rock'n'roll. Seperti Nirvana, The Stones, The Beatles…The Clash!"

Chanyeol menghembuskan asap kelabu tipis dari mulutnya ke udara, menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum jenaka pada Baekhyun. "Dan akulah yang klise?" ujarnya.

Baekhyun hanya mendengus dan tersenyum. Chanyeol menghisap kembali rokok mariyuana-nya dengan nikmat, kemudian memandang dengan serius si manis yang hanya diam. "Aku bisa memasang beberapa lagu Queen jika kau mau," katanya menawarkan, menghembuskan asap kelabu tipisnya dari hidung.

"Tidak, tidak masalah. Aku suka menemukan hal-hal baru," tolak Baekhyun. Dan Chanyeol hanya tersenyum kecil, lalu mencoba membentuk asap yang ia hembuskan dari mulutnya.

Diantara kepulan asap mariyuana yang memabukkan dan dentuman musik jenis EDM yang mengiringi, Chanyeol dan Baekhyun mulai menggila. Asyik menari dengan gaya yang aneh, lalu tertawa bersama. Melupakan waktu sejenak.

*chanbaek*

Jumat, 7.34 PM

Botol-botol bir mulai habis. Isi kantung mariyuana mulai menipis. Musik pun telah habis dari piringan hitam yang terus berputar. Di sofa, Chanyeol dan Baekhyun duduk berdampingan, bersandar kelelahan. Kehabisan energi karena lelah menari dan tertawa. Chanyeol menghisap rokok mariyuana-nya sambil menatap alat turntable di depannya. Terasa jauh bagi tubuhnya yang malas bergerak.

"Sial, kita harus mengganti piringan hitamnya," ujar Chanyeol, menghembuskan asap kelabu tipisnya ke udara.

Baekhyun menoleh memandang Chanyeol dan tersenyum. "Kau tidak mau bangun sama sekali, kan?" tebaknya.

"Yeah, tidak. Tidak sekarang. Nada," sahut Chanyeol, kembali menghisap rokok mariyuana-nya.

Pada akhirnya Baekhyun yang mengalah. Ia berdiri dari sofa dan beranjak ke perapian untuk mematikan alat turntable dan mengeluarkan piringan hitam. Saat ia mengembalikan piringan hitam tersebut ke rak yang penuh dengan koleksi album piringan hitam lainnya, ia memandang piano kecil berwarna hitam yang terjepit diantara rak dan perapian. Selembar kertas musik berdiri ditengah piano, sementara kertas-kertas musik lainnya bertumpuk di atas piano, bersama dengan beberapa bingkai foto.

Baekhyun membuka penutup piano tersebut—menggesernya ke atas—, lalu dengan asal mulai menekan beberapa tutsnya. Nada yang berantakan terdengar di telinga. Baekhyun menoleh ke belakang, memandang Chanyeol seolah sedang menunggu reaksi pria tampan itu. Tapi Chanyeol hanya diam dan asyik menikmati rokok mariyuana di tangannya, tidak merasa keberatan pianonya dimainkan oleh orang lain.

"Apa kau memainkannya?" tanya Baekhyun.

"Well, aku bisa memberitahumu bahwa coverku "Que Sera, Sera" luar biasa," jawab Chanyeol sambil tersenyum jenaka. Baekhyun terkekeh mendengarnya. "Aku juga bisa memainkan lagu tema Star Wars," tambahnya. "Tapi aku tidak mau membuatmu terlalu terkesan."

"Boleh aku mencoba memainkannya?" mengabaikan perkataan asal Chanyeol, Baekhyun lebih tertarik pada piano di depannya.

"Mmmh…" Chanyeol bergumam, menganggukkan kepalanya.

Maka Baekhyun mendudukkan dirinya di depan piano. Melemaskan jemarinya sesaat, lalu mulai menekan-nekan tuts piano untuk mencari nada yang pas. Pada awalnya, nada yang dimainkan Baekhyun terdengar berantakan dan terkesan asal hingga Chanyeol menggodanya,

"Aku juga punya sebuah triangle, jika kau mau."

Baekhyun menoleh pada Chanyeol dan mereka tertawa bersama. Kemudian ia kembali mengalihkan fokusnya pada piano dan mulai menekan-nekan tuts piano yang terkesan asal. Namun perlahan nada-nada yang terkesan asal itu mulai menghasilkan harmoni yang indah. Chanyeol terkejut mendengarnya, ia pikir pria manis itu hanya asal bermain piano saja namun ternyata tidak. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang lekat-lekat Baekhyun yang sedang memainkan piano dengan lihai. Jemari-jemari pria manis itu menari di atas tuts-tuts piano dengan lincah, memainkan sebuah lagu yang dikenalnya.

I love you by Riopy.

Sosok Baekhyun yang sedang memainkan piano dengan iringan nada yang lembut, membuat Chanyeol tidak bisa mengalihkan matanya. Sorot matanya melembut saat menatap Baekhyun. Pria manis ini benar-benar menarik, luar biasa. Dan ia tidak bisa menghentikan senyumnya, terkekeh pelan saat ia berpikir jika ia mulai menyukai Baekhyun.

Saat Baekhyun mengakhiri permainan pianonya, ia menoleh memandang Chanyeol, menunggu. Namun Chanyeol yang tak bisa berkata apa-apa hanya balik menatapnya dengan senyum lebar yang tak luntur, juga binar lembut dan kagum dari mata besarnya.

"Itu…gila," komentar Chanyeol akhirnya.

"Well, itu bukan tema lagu Star Wars, tapi…" sahut Baekhyun, mengendikkan bahunya.

Chanyeol mendengus pelan. "Kau mengejutkan," pujinya. Sesaat mereka hanya saling tatap, sebelum kemudian Chanyeol kembali tersenyum dan melanjutkan, "Aku suka orang yang penuh kejutan."

Dan Baekhyun tersenyum senang. Namun suara getar ponsel menghancurkan sesi saling senyum mereka. Chanyeol meraih ponselnya dan membaca sebuah pesan baru yang kemudian membuatnya memaki pelan.

"Sial! Aku harus pergi. Aku benar-benar lupa, aku harus bertemu dengan beberapa teman sekarang," beritahunya pada Baekhyun seraya mengusap wajahnya kasar. Ia merasa tidak enak pada Baekhyun, karena tadinya ia pikir akan menghabiskan malam bersama pria manis itu.

Baekhyun terdiam sebentar, sedikit merasa tidak rela harus berpisah dari Chanyeol. Ia masih ingin bersama pria tampan itu, meski hanya lima menit. Tetapi sepertinya Chanyeol harus benar-benar pergi, maka dengan sedikit tidak rela ia berkata,

"Aku juga harus pergi. Ke pesta."

Baekhyun memakai jaket dan ranselnya, lalu memeluk sekerat bir di dadanya. Melupakan syalnya yang masih tergeletak di sofa Chanyeol. Chanyeol mengantarkan Baekhyun hingga ke depan pintu. Ia membukakan pintu untuk pria manis itu, berdiri di ambang pintu dan berkata dengan tidak enak,

"Aku minta maaf mengusirmu seperti ini tapi…aku benar-benar lupa waktu hingga melupakan janji penting. Tetapi tadi sangat menyenangkan."

"Benar, tadi sangat menyenangkan," ujar Baekhyun sambil menatap Chanyeol.

"Ya, kita harus melakukannya lagi sekali-kali."

"Kapanpun kau mau. Dan…terimakasih birnya."

Chanyeol menganggukkan kepalanya. Saat Baekhyun hendak beranjak pergi, Chanyeol menahan lengannya. Sejenak pria tampan itu hanya menatap Baekhyun lekat-lekat, lalu mengusap lembut surai pirangnya, dan tersenyum.

"Bye!" Chanyeol lalu menutup pintu apartemennya.

Selama beberapa menit Baekhyun hanya berdiri menatap pintu apartemen Chanyeol dengan tatapan bingung. Namun kemudian ia tersenyum saat menyadari apa yang baru saja Chanyeol lakukan padanya. Rona merah perlahan menjalar di pipinya.

"Bodoh.." gumamnya pelan, merasa malu dan senang.

Sambil membawa sekerat bir di pelukannya, Baekhyun mulai melangkah pergi meninggalkan gedung apartemen Chanyeol. Karena ia sudah berbohong agar tidak datang ke pesta Sulli, maka sebaiknya ia pulang saja dan tidur. Namun, baru dua puluh empat langkah meninggalkan gedung apartemen Chanyeol, Baekhyun berhenti dan merogoh saku celananya. Ponselnya bergetar dengan notifikasi beberapa pesan baru.

Sulli 19.42:

Oh tidak. Tetap kabari aku.

Sulli 19.45:

Jadi?

Sulli 19.47:

Apa kau serius tidak menjawab lagi?

Sulli 19.50:

Go fuck yourself, Baekhyun

Changmin 19.54:

Kenapa kau berbohong?

Baekhyun menekan jemarinya pada layar ponsel, membuka gambar yang dikirim oleh Changmin. Sebuah screenshot instastory Sulli, dimana gadis itu berfoto berdua dengan Luna. Kedua gadis itu memasang ekspresi kecewa dan mengacungkan jari tengah mereka ke kamera. Tulisan MAN ARE TRASH dengan huruf besar dan icon seseorang sedang membuang sampah menghiasi foto tersebut.

Bagus! Dilihat dari foto tersebut sepertinya Sulli benar-benar marah padanya. Begitu juga dengan ketiga sahabatnya. Kebohongan kecilnya membuat empat orang mendadak kecewa padanya. Baekhyun menghela napasnya dengan lelah.

Sementara Baekhyun sedang serius memelototi layar ponselnya, ia tidak menyadari sosok Chanyeol dengan jaket cokelat kesayangannya berjalan keluar dari gedung apartemennya. Pada akhirnya ia memilih untuk mengabaikan pesan-pesan itu dan menyimpan ponselnya di saku, lalu menolehkan kepalanya ke samping. Di seberang jalan ia melihat sosok tinggi Chanyeol sedang berjalan, dengan langkah ringan dan senyum di wajahnya, menemui seorang gadis cantik bersurai cokelat panjang yang nampaknya sedang menunggu seseorang. Coat berwarna abu-abu yang trendi membalut tubuh ramping gadis itu.

Saat mereka bertemu Chanyeol menangkupkan kedua tangannya di wajah si gadis cantik dan langsung mencium bibirnya dengan lembut. Lalu sambil berangkulan mesra Chanyeol dan gadis cantik itu beranjak pergi, tidak menyadari jika di seberang jalan Baekhyun sedang membatu melihatnya.

Perasaan tidak suka seketika menerpa Baekhyun. Baru saja Chanyeol berlaku lembut padanya, mengusap rambutnya, tetapi sekarang ia justru mencium seorang gadis dan nampak sangat mesra. Sungguh, ia tidak suka hal itu. Seketika ia merasa kecewa. Siapa gadis cantik itu? Pacarnya Chanyeol-kah?

Selama perjalanan pulang ke apartemennya, Baekhyun terus memikirkan Chanyeol dan gadis cantik itu. Teringat pada foto screenschot instastory Sulli yang dikirim oleh Changmin tadi, diam-diam di dalam kepalanya Baekhyun menyetujui caption di foto tersebut. Man are trash!

Tetapi, tunggu! Baekhyun lupa, jika ia juga seorang laki-laki…sama seperti Chanyeol. Jadi apa itu berarti ia juga sampah, atau Chanyeol yang sampah? Karena pria tampan itu tanpa sadar sempat melambungkan harapannya, lalu menjatuhkannya begitu saja.

Seperti dirinya yang memberi harapan pada Sulli.

Yah, apapun itu. Man are trash, huh?!

Tbc