"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I own only this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Semi-incest BL

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines

.

.


.

.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tim Dua sampai Tim Enam Teikoku Alexanders telah menyelesaikan rangkaian latihan fisik berturut-turut selama dua hari dan setengah hari terhitung sejak pagi tadi. Mereka semua mendapat dispensasi untuk tidak menghadiri kelas karena acara tahunan Teikoku Alexanders ini. Setelah dua hari yang panjang penuh siksaan fisik, hari ini adalah puncak acara sekaligus penutupan dengan hiking ke gunung dan berkemah di sana. Sebuah apresiasi setelah mengikuti latihan fisik dengan baik.

Bagi Shun, puncak latihan berupa menjelajah alam seperti ini merupakan suatu momen yang sangat dihargainya. Rehat sejenak dari rutinitas dan kehidupan di kota, kembali ke alam, menghirup udara yang masih hangat baru diproduksi oleh tumbuhan, dan mendengarkan bunyi tonggeret bersahutan tanpa perlu menyaksikan wujudnya. Lelah tidak dipedulikannya setelah tadi pagi masih melaksanakan menu latihan yang sudah ditetapkan oleh Tim Satu. Yang ia tahu, ia sangat bersemangat menjemput rekreasinya hari ini.

"Fuh, ritmemu terdengar lebih berantakan."

Shun melirik Akaba yang berjalan dengan tempo yang sama di sampingnya. Lelaki pemilik mata semerah darah itu masih setia menggotong tas gitarnya untuk turut hadir di perkemahan.

"Pendengaranmu yang salah, Akaba," balas Shun, mengedikkan kedua bahunya. Dia kembali fokus memperhatikan langkah yang diambil, medan sudah tidak seekstrim tadi namun tetap saja ia tidak mau merelakan kakinya terpeleset. Tidak jatuh terjerembap adalah satu dari sekian hal di dalam daftar harapan Shun selama pergi mendaki gunung. Dilihatnya dari ekor mata, Akaba hanya ber-"fuh" ria sambil mengedarkan pandangannya ke pohon-pohon yang tingginya menjulang di samping jalan setapak yang mereka susuri.

Shun bisa mendengar suara kawan-kawannya yang asyik berbincang selama perjalanan mendaki ini. Derap langkah kaki, shutter kamera dari seorang teman yang sekalian mengincar foto pemandangan, tawa jenaka akibat lelucon yang terlontar, suara angin berhembus dengan kencangnya sampai membuat dedaunan bergesekkan riuh, suara serangga penghuni pohon yang saling bersahutan; segalanya terasa pas sesuai porsinya. Seimbang. Meminjam kalimat Akaba, ritmenya harmonis.

Kemudian sesuatu yang janggal terjadi. Datang terlalu tiba-tiba, Shun bahkan tidak pernah bisa memprediksi. Napasnya menjadi berat. Semakin lama paru-parunya terasa semakin sempit, seperti tenggelam di lautab dalam dan terisi air, padahal jelas-jelas ia berada di ribuan meter di atas permukaan laut. Ia menepi, masih dalam kesadarannya tidak ingin membuat langkah orang lain terhenti.

Sadar tak sadar, Shun membungkuk. Napasnya kian lama memberat. Ia tidak bisa lagi menghirup udara melalui hidungnya. Sesak. Telapak tangannya membeku, basah oleh keringat dingin. Lalu, sesak sekali.

"Shun! Kau baik-baik saja?"

Akaba yang membantunya untuk mempertahankan keseimbangan. Shun tidak bisa menjawab, memang tidak bisa karena tidak sanggup berbicara. Kesadarannya hanya terfokus kepada dalam tubuh, tidak kepada kondisi luar. Pandangannya mengabur. Beberapa kali ia merasa gelap namun terang kembali datang.

Yang Shun ingat, beberapa orang membantu Akaba dan dirinya sendiri untuk berjalan memisah menuju pos kesehatan dan setelah itu gelap.


.

Shun merebahkan dirinya di paling pojok tenda. Ia menatap langit-langit tenda dengan bosan. Memang hampir semua orang menyuruhnya untuk segera tidur, mengingat kejadian tadi siang yang membuatnya malu sampai detik ini.

Well, sebenarnya tidak ada yang perlu dipikirkan sampai membuat malu karena dia juga tidak meminta untuk kumat dan harus dibawa ke pos kesehatan. Tapi tentu saja, apa yang diharapkan dari Shun yang mau menerima perlakuan orang-orang yang menjadi lebih ekstra hati-hati karena dianggap penyakitan.

Hell no. Bahkan asmanya hanya kambuh hampir setahun sekali sejak Shun masuk klub american football di sekolah dasar.

Ia melirik kawan-kawan di sampingnya yang sudah tewas menggelepar di tenda, bahkan ada yang mendengkur. Shun menghembuskan napas kasar, semakin merasa bosan. Ketika semua orang malah terlelap dengan nyenyaknya, ia bahkan tidak bisa tahan memejamkan mata untuk tidur.

Dengan perlahan, Shun bangkit dari tidurnya. Merangkak keluar tenda tanpa menimbulkan suara apalagi menginjak kaki atau apapun yang dapat membuat orang terbangun.

Ia bisa melihat siluet seseorang duduk di depan api unggun. Terlihat memeluk sesuatu. Shun sudah hafal bahwa siluet itu adalah Akaba yang sedang memangku gitarnya. Ia tersenyum kecil, senang karena memiliki alasan untuk keluar tenda dan tetap terjaga.

Apalagi karena itu Hayato Akaba.

"Hayato, belum tidur?"

Akaba agak terperanjat ketika Shun muncul dari belakang, langsung menghentikan permainan gitarnya yang sengaja ia petik pelan-pelan. Shun duduk di sampingnya, membuat Akaba meletakkan tangan di puncak kepala Shun dan mengacak rambutnya.

"Fuh, Isabel merindukanku," jawabnya sambil membuka sunglasses. "Kau yang seharusnya tidur. Jangan sakit lagi."

Shun menggelengkan kepala dan menyingkirkan tangan Akaba dari kepalanya. "Aku nggak bisa tidur. Sudahlah, aku nggak apa-apa sekarang."

Si Laba-Laba Merah itu hanya menghela napas, sudah hafal benar betapa keras kepalanya Shun jika menyangkut pada dirinya sendiri. Jadi, ia memilih untuk kembali memetik gitarnya dan mengundang Shun untuk ikut larut dalam alunan melodi yang syahdu.

Setelah beberapa saat, Akaba berhenti memainkan alat musik kesayangannya dan mulai melakukan gestur yang lebih intim dengan Shun. Ia menarik tangan personifikasi langit itu dan menggenggamnya, membuat sang empunya menoleh dan menatap matanya.

Akaba pun menarik Shun ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala Shun, sementara pujaan hatinya itu membenamkan wajah di dadanya. Keduanya bertahan dalam posisi yang sama untuk beberapa menit. Berada di dalam pelukan orang yang disayangi sambil menyaksikan api unggun di tengah hutan adalah salah satu momen menenangkan yang tidak boleh dilewatkan.

Sampai akhirnya, lelaki yang berpenampilan nyentrik itu kembali ingat pada tujuan utamanya. Logikanya mulai berjalan lagi, berusaha mendorongnya dari buaian nafsu.

Akaba melepas pelukannya, membuat Shun mengubah ekspresinya menjadi kebingungan. Ia hanya tersenyum, menangkup pipi mulus anak yang lebih muda darinya itu, dan mengelusnya dengan ibu jari secara lembut. Dua pasang mata berwarna kontras itu saling beradu.

Dia tahu betapa dalam dia jatuh ke dalam pesona biru langit itu. Dia tahu betapa besar dia mengaguminya. Dia tahu betapa keras usahanya untuk menjadi nada yang cocok dan bisa masuk ke dalam lagu di kehidupan laki-laki itu. Dia tahu betapa sering otaknya membohongi dirinya sendiri dan menutup mata dari kenyataan yang ada.

Akaba tahu persis betapa besar candunya kepada Shun.

Meskipun Akaba tahu, ia tidak bisa melihat dirinya di mata Shun.

"Shun." ia mulai membuka suara. "Can I kiss you?"

"Kau bahkan nggak pernah meminta izin setiap akan menciumku, Abaka," ujar Shun dengan nada mengejek. Akaba tersenyum mendengar respon sarkastik khas pujaan hatinya.

"Kali ini berbeda," balasnya dengan nada serius namun tetap lembut. Bisa dilihatnya perubahan tatapan Shun yang kebingungan. "Please, think of me while we kiss."

Tanpa menunggu balasan apapun dari Shun, Akaba langsung mencium bibirnya. Memagut bibirnya dalam ciuman yang dalam. Ia menutup matanya, merasakan Shun membalas ciumannya. Ia merasakan setiap hisapan dan lumatan yang balas diberikan oleh sang langit.

Rasanya memang menggairahkan, tapi Akaba sudah cukup dengan kesenangan sementara ini.

Semanis apapun ciuman yang diberikan Shun kepadanya, ciuman itu tidak pernah ada maknanya.

Setelah pasokan oksigen keduanya menipis, Akaba melepas ciumannya. Ia tidak pernah memutus ciuman mendahului Shun. Ia bisa melihat ekspresi kebingungan lelaki bersurai indigo itu tetap sedia terpampang meskipun tidak kentara. Iris azzure-nya menuntut banyak penjelasan kepadanya. Tapi, ia tidak berniat menjabarkannya satu-satu.

Eyeshield 21 Kanto ini pun menghela napas panjang. Mengumpulkan segenap keberanian dan membuat sinkron otak dan hatinya. Butuh waktu yang panjang untuk meyakinkan dan memantapkan hatinya. Namun kali ini, ia yakin akan pilihannya.

"Aku memang nggak punya kesempatan, kan, Shun?" ujar Akaba lancar, berusaha tersenyum meskipun tak ia sangka dadanya akan sesakit ini. "Seberapa keras aku mencari nada yang cocok untuk melengkapi lagumu, nada itu tidak pernah ada."

Akaba bisa melihat raut wajah tegang yang terpampang di wajah Shun. Lelaki itu tampak agak panik, namun tetap disembunyikan oleh wajah stoic-nya. "Apa maksudmu?"

"Tanpa nadaku pun, lagumu akan tetap harmonis. Tidak ada tempat untuk nadaku di lagumu." Akaba menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya.

It's time.

"Jadi, akan lebih baik jika aku berhenti memaksakan bekerja agar lagu kita harmonis. Sehingga kamu nggak perlu memaksakan diri untuk menerimaku."

Shun buru-buru memotong kalimatnya. Ia menggelengkan kepalanya, merangkul lengan Akaba secara spontan. "Maksud kamu apa? Kamu ngomong apa sih? Jangan ngaco!"

"Aku nggak mau kau mereka-reka ritmemu agar harmonis denganku."

Akaba berhenti beberapa detik. Ia tidak bohong kalau dadanya kelewat sesak sampai tenggorokannya tercekat. Tatapan Shun yang panik dan memohon, membuat segalanya terasa lebih sulit. Ia sesungguhnya tidak menginginkan pembicaraan seperti ini, namun jauh di dalam otaknya, ia merasa ia harus melakukannya.

Demi Shun.

Dan demi dirinya sendiri.

Sambil tetap mempertahankan senyumannya, meskipun rasanya bendungan di matanya yang tiba-tiba muncul itu hampir bobol, Akaba melanjutkan.

"Sebelum kita terlalu memaksakan segalanya, kupikir kita sudahi sampai sini saja, Shun."

Akaba tidak sanggup untuk melihat reaksi kekasihnya yang sekarang sudah berganti menjadi mantannya. Maka, sebelum Shun sempat membuka mulutnya, ia kembali berbicara.

"Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari laguku. Setelah ini, tidur yang nyenyak, ya."

Lalu, Akaba beranjak dari duduknya, menepuk puncak kepala Shun pelan, kemudian pergi menuju tendanya. Ia tidak ingin melihat reaksi lelaki itu. Ia tahu Shun akan memohon dan memintanya agar tidak pergi sebelum ia menjelaskan, namun tanpa penjelasan pun, Akaba tahu persis sudah waktunya untuk pergi. Ia tidak mau menahan dan memaksa Shun agar tetap bersamanya, sementara hatinya sudah tidak di sini.

Dan memang dari awal tidak pernah di sini, dengannya.

Maka dari itu, Akaba benar-benar membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Shun. Tidak peduli meskipun hatinya menjerit agar tetap mempertahankan sang personifikasi langit itu. Ia yakin pilihan inilah yang terbaik.

Melepaskan Shun adalah pilihan terbaik baginya.


.

"Shun! Katanya kamu ambruk kemarin? Kenapa? Sakit? Ayo ke dokter sekarang!"

"Aku nggak apa-apa, astaga. I'm fine, okay? Hanya kelelahan."

"Jangan membantah. Aku nggak mau kau sakit atau kenapa-kenapa."

Akaba membalikkan badan, bersandar di pohon yang menjadi tempat persembunyiannya sekarang.

Sejak pagi hari mereka dikumpulkan, ia bertekad untuk tidak mau melihat bahkan mencari sosok Shun di antara kawan-kawannya yang lain. Ia tidak mau pertahanannya hancur karena detik dimana dia melihat lelaki itu, dia bisa kembali jatuh dan menyesali keputusannya untuk pergi.

Akaba mengakui bahwa titik lemahnya sekarang adalah Shun.

Ia sengaja berpura-pura tidak tahu, berpura-pura seolah ia tidak peka dan tidak melihat bahwa Shun selalu mencuri pandang ke arahnya. Akaba merasa dirinya keterlaluan, tapi di satu sisi ia benar-benar yakin bahwa pilihannya itulah yang terbaik. Apa yang dilakukannya sudah paling benar, paling tepat, dan meskipun mungkin Shun akan membencinya setelah hari ini, Akaba rela.

Setidaknya, Akaba bisa menuntun lelaki itu ke rumah yang benar. Kepada orang yang tepat. Kepada pemilik hatinya yang sebenarnya.

Dari jarak ini, Akaba sudah bisa memastikan Shun pulang dengan selamat. Pulang ke tangan orang yang tepat.

Pulang ke pemilik hatinya, yang tak lain tak bukan adalah kakaknya, Takeru Yamato.

Tidak disangka Akaba bahwa rasa sesak itu semakin menjadi-jadi di dadanya. Ia masih bisa mendengar sayup-sayup percakapan kakak-beradik itu. Namun perlahan suara itu hilang, menyisakannya sendiri dalam keheningan. Semakin membantu ngilu di hatinya sampai bergetar seluruh badannya.

Secepat itu ia kehilangan orang yang dicintainya. Secepat itu, pujaan hatinya menemukan orang lain sebagai pengganti dirinya. Belum genap dua puluh empat jam, ia benar-benar kehilangan langit kesayangannya.

Akaba menghela napas, membiarkan setitik air mata lolos dari kristal crimson-nya.

Ia hanya bisa mengakui kekalahan yang telak dalam diam. Ia hanya bisa mengucapkan selamat lewat batinnya yang berbisik. Ia mengucapkan selamat kepada Takeru atas keberhasilan mendapatkan adiknya sendiri kembali di tangannya. Dan tentunya ia mengucapkan selamat kepada sang pemeran utama di hatinya.

Akaba mengucapkan selamat kepada Shun atas kesuksesannya melakukan yang lebih dari sekadar pindah hati dan mengganti kehadirannya dengan orang yang ternyata lebih baik daripada seorang Hayato Akaba.


.

"Kau yakin tidak butuh ke dokter? Obatmu masih ada?"

Takeru menyetir mobilnya dengan kecepatan menengah cenderung tinggi. Lelaki itu sesekali melirik adiknya yang masih duduk diam di jok samping kemudi. Mengetahui bahwa Shun sakit dan perlu penanganan di pos kesehatan, Takeru langsung tancap gas menjemput anak itu tepat setelah acara selesai. Masih sama seperti yang tadi dilakukan, ia berkali-kali membujuk Shun ke dokter dan memastikan bahwa si personifikasi langit itu baik-baik saja. Dan respon dari Shun masih sama sejak awal; menolak dan diam.

"Sudah kubilang berkali-kali tidak perlu, dan ya, obatku masih ada di rumah." Untuk kesekian kalinya, Shun menjawab dengan jawaban yang sama. Ia menghela napas dan memutar bola matanya, bosan dan merasa semakin kesal akan kecerewetan Takeru yang sudah seperti ibunya.

"Aku tidak pernah tahu kau punya asma."

"Aku juga tidak berniat memberi tahu."

Takeru ikut menghela napas. Kesal dan lelah bercampur aduk. Sejak kapan adiknya senang berdebat seperti ini? "Kalau sesuatu yang buruk terjadi lagi, kau tidak mencegahnya, Shun."

Shun memejamkan mata. Tangannya yang sedari tadi disilangkan di dada mengepal, berusaha mengalihkan emosi yang kini bergejolak di dadanya. Sungguh, ia ingiiiiin sekali membentak dan menyumpal mulut kakaknya agar berhenti berbicara dan diam sejak tadi. Dari sekian hal yang membuat suasana hatinya rusak, keberadaan Takeru yang sedang dalam mode banyak omong seperti ini membuat mood-nya hancur tambah parah. Apalagi nada suara Takeru yang semakin lama semakin terdengar memerintah dan mengaturnya.

"Kau dengar, kan?"

Sudah cukup. Shun tidak bisa tetap diam.

"Kalau kau memang ingin aku sembuh dan baik-baik saja, lebih baik tutup mulutmu dan jangan menggangguku!"

Takeru hampir terlonjak akibat reaksi Shun yang terdengar berlebihan, menurutnya. Seseorang seperti adiknya tidak pernah menunjukkan emosi yang meledak-ledak bahkan hampir datar-datar saja. Dan Shun yang berani membentaknya, meninggikan suaranya, bahkan berkata sedikit kasar itu membuatnya mengangkat sebelah alis. Heran. Takeru baru saja akan mengikuti egonya dengan membentak balik sang adik, namun ia segera kembali kepada kewarasannya dan langsung membaca situasi.

"Fine." Takeru benci mengalah, tapi untuk saat ini ia lebih memilih untuk melakukan hal yang dibencinya. "Sorry."

Shun tidak peduli dengan permintaan maaf Takeru. Bukan karena ia tidak ingin memaafkan, melainkan memang permintaan maaf bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Takeru tidak banyak bertanya dan berbicara sudah lebih dari cukup baginya.

Ia kembali memejamkan mata. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa menimbun gejolak perasaan yang acak-acakan sejak tadi malam. Sejak deklarasi Hayato Akaba yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya semalam. Ketika Akaba pergi begitu saja setelah berbicara, Shun tidak ingin beranjak dari duduknya. Dengan penuh harapan bahwa lelaki itu akan kembali lagi, tapi satu sisi yang entah mengapa malah membiarkan Akakab pergi dari tempatnya tadi tanpa berniat untuk mengejar mantan Tokyo MVP itu. Shun menahan sekuat tenaga air mata yang hendak bobol dari tempatnya, dan ia berhasil setidaknya sampai sekarang. Tapi efeknya terlalu keras, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan jantungnya berdentum-dentum tidak karuan sampai sekarang. Menahan beban perasaan yang terlalu abstrak untuk didefinisikan. Shun sangat benci keadaan ini.

Meskipun Takeru Yamato selalu menjadi peringkat satu dan tidak pernah tergantikan di hatinya, namun absennya kehadiran Hayato Akaba tetap saja menyakitkan dan membuatnya sangat kehilangan.

.

.

.

to be continued—

.

.


.

a/n

hai hai!

asiq akakei putus, jadinya gimana neh? apakah kapal kalian karam atau malah ada kemungkinan berlayar?