Light on Me
Genre : Romance, and Tragedy
Pair : NamJin, and slight YoonMin
Rate : M
Warning : Explicit, Smut and Character Death
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
(Chapter 2, Old Friends)
"Nama pendeta itu adalah Jung Jinyoung."
Nama yang terdengar asing namun begitu familiar, seingat Namjoon, dahulu ada seorang pendeta dan beberapa muridnya yang melakukan 'pengusiran' disini, tapi itu sudah lama sekali, saat ayah dari kakek buyut Namjoon masih memperjuangkan evolusi dari hidup mereka yang dahulu bergerombol secara nomaden, hingga akhirnya mencari tempat berlindung yang baru dan 'bersih' dari pemburuan dan pengusiran yang menyebabkan anggota kawanan mereka terbunuh.
Dalam waktu kurang dari 48 jam, pendeta itu akan datang, Namjoon harap marga Jung yang tersemat pada nama belakang pendeta itu hanya kebetulan saja sama dengan pendeta yang sempat melakukan 'pengusiran' dahulu. Namun, dirinya sudah memikirkan dengan matang segala kemungkinan yang ada hingga yang terburuk, ia tidak akan menempatkan anggota kawanannya ke dalam bahaya, untuk itu, selama pendeta itu tinggal disini, Namjoon akan menutup jejak, mereka akan tinggal jauh di dalam hutan yang dulu adalah teritori Hakyeon dan kawanannya yang sekarang menjadi milik mereka.
"Aku tidak mau pindah." Jungkook menopang dagunya pada tangannya yang menyilang di atas meja, ia menghembuskan nafas dengan berat seolah dirinya tengah terbebani, Taehyung yang ada disampingnya mengacak lembut surai kehitaman Jungkook yang terus menggumamkan kalimat protes yang hanya bisa didengar olehnya.
"Hanya untuk sementara Jungkook-ah." Hoseok menutup lembaran buku yang sudah sejak tadi ia baca, wajahnya memancarkan kehangatan layaknya mentari pagi, Jungkook tersenyum dibuatnya, jika Hoseok bilang begitu, ia akan mencoba bersabar, ia percaya pada semua hyung-nya. Lagi pula, mungkin ia dan Taehyung bisa diam-diam datang kesini lagi kalau mereka mau.
Di lain sisi Yoongi sedang berbincang dengan Jimin, tangan mereka saling bertaut dalam sebuah genggaman. Setelah selesai mendebatkan hal kecil, mereka akan kembali berbaikan dan menggenggam tangan mate-nya, kadang, Hoseok dan Taehyung meledek mereka berdua karena hal tersebut.
"Kau tidak bisa pergi sendirian, akan terlalu berbahaya." Yoongi berucap lembut pada mate-nya, dan Jimin akhirnya menjawab dengan anggukan setelah aksi mogok bicara dengan Yoongi berhenti karena ia tak tega mendiamkannya terlalu lama, Jimin mencoba mengerti, tindakan Yoongi yang melarangnya untuk memantau kedatangan pendeta itu sendirian adalah demi kebaikannya juga. Tidak hanya Yoongi yang melarangnya, tapi Namjoon, selaku alpha mereka juga bertindak hal yang sama. Jimin tak bisa meneruskan niatnya.
"Kita percayakan semuanya pada Yeonjun, ia akan segera mengirim pesan." Jelas Yoongi sekali lagi, ia berusaha membuat Jimin mengerti.
"Aku mengerti."
"Seokjin hyung?" Seokjin yang sejak tadi diam saja di pojok ruangan menoleh ke arah Taehyung yang memanggilnya, ia tak bicara sepatah kata dan hanya menatap werewolf muda itu dalam diam. "Kau baik-baik saja?" Pertanyaan Taehyung membuat semua yang ada disana menoleh padanya, peluh yang samar mulai membasahi keningnya, beberapa saat yang lalu ia baru kembali dari latihannya bersama Yoongi, dan sejak saat itu ia terus duduk diam disana.
"Jinseok? Apa ada yang sakit?" Namjoon segera menghampirinya, jika ada sesuatu yang salah pada Seokjin-nya, ia akan langsung mengetahuinya, tapi mate-nya itu terlihat baik-baik saja, "Kenapa kau diam saja?" Seokjin memang terlihat sehat, tapi hal itu tak memungkiri rasa khawatirnya karena mate-nya itu nampak tengah menyembunyikan sesuatu.
"Aku," Seokjin menunduk, kemudian ia mendongak kembali. Namjoon menunggu jawaban darinya, ia membelai lembut pipi Seokjin dan saat dirinya semakin dekat, Namjoon baru tahu bahwa sedari tadi, Seokjin selalu menggenggam perutnya yang menurutnya terlihat agak lebih besar. "Namjoon, jangan marah 'ya?" Ucap Seokjin dengan nada bicara seolah ia sedang merajuk, Namjoon yang kebingungan pada awalnya akhirnya mengangguk dan tersenyum tulus, lagi pula apa 'pun alasannya, ia tak akan bisa marah pada kekasih hatinya ini.
Seokjin membuka retsleting jaketnya dan memperlihatkan tangan yang semula ada di perutnya, bukan hanya sekedar tangan, lebih tepatnya, ada sesosok mahluk mungil berbulu dengan telinga panjang dan ekor yang bulat berada dalam genggamannya, seekor kelinci putih yang belum dewasa, "Aku temukan dia." Kelinci kecil itu kembali masuk ke dalam jaket Seokjin, seolah bersembunyi dari beberapa pasang mata yang memperhatikannya, "Ia sendirian di hutan, aku berusaha mencari kelinci lainnya tapi mereka tidak ada." Seokjin membelai lembut bulu halus di kepalanya yang kecil, dan kelinci itu semakin mendekat pada perutnya, seolah mencari kehangatan disana. "Boleh kupelihara ya?"
Secara harafiah, kelinci adalah salah satu makanan bagi mereka. Mahluk seperti kelinci, rusa, atau domba akan merasa takut bila jarak mereka ada di dekat seorang werewolf, tapi entah mengapa, kelinci itu tak takut pada Seokjin, binatang pengerat itu bahkan selalu berputar di sekitar tubuhnya. Membuat Namjoon yang melihatnya tak mampu menahan senyum yang membuat cekungan indah di pipinya terlihat makin mempesona, ia mengangguk pelan, sebagai tanda kalau dirinya mengijinkan Seokjin untuk merawat kelinci itu.
"Jadi, Seokjin hyung sejak tadi menyimpan kelinci itu di perutnya? Kenapa aku tak bisa mencium baunya?" Tanya Jungkook yang sejak tadi memperhatikan, ia menggosok hidungnya seolah memang ada yang salah pada indera penciumannya.
"Kurasa bau kelinci itu sudah bercampur dengan aroma tubuh Jin hyung, jadi kita tak sadar." Sahut Hoseok, ia melangkah mendekat pada Seokjin untuk melihat kelinci yang baru saja diadopsinya, saat tangannya terulur untuk menyentuh mahluk berbulu itu, si kelinci sontak bersembunyi di baik kaus yang dikenakan Seokjin, Hoseok memandangnya dengan bola mata yang melebar, entah mengapa rasanya seperti ditolak, ia 'pun menunduk kecewa oleh penolakan dari kelinci itu.
"Apa kau akan memberikannya nama?" Namjoon bertanya, ia tak mengindahkan keributan dihadapannya saat Jungkook dan Taehyung berebut untuk mencoba menyentuh kelinci yang tampak makin ketakutan itu, "Bulunya begitu putih seperti Yoongi hyung, tapi matanya mirip Jungkook." Yoongi yang merasa kalau namanya di panggil ikut bergabung bersama mereka, Jimin turut menyusulnya dengan tangan yang masih bertaut dengan erat. Yoongi menatap dengan prihatin kelinci yang kini perlahan menghilang di balik kaus Seokjin.
"Hei~ kalian menakutinya."
Seokjin berpikir sejenak, mengabaikan Yoongi, Jungkook, Taehyung dan Hoseok yang berdebat siapa yang bertanggung jawab karena telah menakuti kelinci malang itu, "Aku tak ada ide, bagaimana menurutmu Namjoon-ah? Apa kau punya nama yang cocok dengannya?" Seokjin sedikit terlawa geli saat kaki kecil si kelinci melangkah di area pinggangnya.
"Sebentar, aku pikirkan dulu."
Selama Namjoon berpikir, Seokjin membantu Jungkook dan yang lain agar bisa akrab dengan anggota baru kawanan mereka, ia membawa kelinci mungil itu di telapak tangannya dan dengan perlahan ia memindahkan tubuh mungilnya ke telapak tangan Hoseok yang menerimanya dengan riang, dalam genggaman Hoseok, kelinci itu nampak sedikit panik namun juga penasaran, ia tak henti mengendus jemarinya hingga kumisnya tak berhenti bergoyang, membuat Hoseok tertawa geli seraya menahan gemas. Namun, tawa gelinya itu berhenti saat ia merasakan sesuatu yang hangat hadir tiba-tiba, butiran-butiran gelap dan kecil keluar dari bokong mungil kelinci itu. Dia buang kotoran, tepat di telapak tangan Hoseok.
"Ah! Monie?" Setelah melihat adegan dramatis antara Hoseok dan kelinci itu, tanpa berpikir dengan keras, Namjoon mensugestikan satu nama, ia tertawa saat Hoseok menjerit dan meletakan kelinci yang semula ia genggam di lantai dan berlari menuju wash tafle untuk mencuci tangannya. Seokjin, desela tawanya bertanya, apa arti dari nama yang hendak Namjoon berikan, dan ia menjelaskan, "Kelinci itu seperti monster di balik tubuhnya yang kecil dan tampak tak berdaya, kurasa Monie tak akan segan untuk menembakkan racun pada musuhnya." Setelah puas tertawa, Seokjin menyetujui nama yang Namjoon berikan.
Selamat datang Monie kecil.
"Aarghh! Aku akan memakannya." Hoseok kembali, dengan wujud wolf-nya. Semua yang ada disana tahu kalau Hoseok tidak serius, tapi tetap saja, Seokjin harus waspada.
Light on Me
Mereka merekayasa tempat tinggal mereka layaknya tempat yang tak terurus dan telah lama ditinggalkan, setelah menutup jejak dan menghilangkan segala tanda bahwa Namjoon dan kawanannya pernah hidup disini, mereka semua bergegas menuju tempat tinggal yang baru. Yeonjun dan keluarganya memiliki sebuah paviliun di dekat pantai, yang dahulu adalah wilayah yang dikuasai Hakyeon, ia menyerahkan paviliun peninggalan pamannya itu untuk Namjoon dan yang lain tinggali sementara waktu. Butuh waktu dua jam untuk sampai ke sana dengan kendaraan, layaknya keluarga yang sedang pindahan, Seokjin yang dibantu Jimin, Taehyung dan Jungkook mengemasi barang ke dalam kardus untuk diangkut menggunakan mobil pick up tua milik Jimin, dan sisanya diangkut dengan mobil Seokjin.
Jungkook yang tadinya menolak untuk pindah, sekarang menjadi orang yang paling semangat setelah mengetahui kalau mereka akan tinggal disekitar pantai, tetapi ia baru menyadari sesuatu, "Hyung, bukannya pantai itu adalah tempat rekreasi bagi manusia? Kalau begitu pasti akan ramai disana." Entah bertanya pada siapa, Jungkook yang tadinya bersemangat menjadi lesu kembali, ia yang awalnya tak bisa diam kemudian duduk termenung dalam nelangsa.
Yoongi yang duduk di samping Hoseok yang sedang mengemudi menjelaskan. "Aku dan Namjoon pernah ke wilayah itu satu kali, pantai itu dulu memang ramai, tapi menjadi sepi di bawah kuasa Hakyeon, karena dahulu mereka menyebarkan isu menyeramkan agar tidak ada manusia yang kesana lagi."
"Oh! Private Beach."
"Bitch"
"Beach!"
Yoongi menghela nafas berat, ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya, ia menyerahkan sisanya pada Hoseok yang tengah mengemudi untuk memberikan sebuah peringatan pada tiga anggota termuda mereka, "Kita masih tidak tahu apa yang ada di sana, entah aman atau tidaknya akan kita cari tahu setelah kita sampai." Apa yang dikatakan Hoseok ada benarnya, wilayah yang akan mereka tempati (untuk sementara waktu) masih terbilang asing bagi mereka, terlebih lagi dahulu Hakyeon 'lah yang berkuasa disana. Namun tetap saja, bagi Jungkook, Taehyung dan Jimin, hal itu akan menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjelajah tempat baru, untuk itu mereka senang-senang saja.
Jalan yang mereka lalui mulai tak berbentuk, aspal jalanan terputus dan berganti dengan kerikil kecil dan pasir yang menjadi tanda bahwa mereka mulai memasuki tempat yang telah lama hampir tak terjamah manusia. Suara ombak mulai terdengar dan lautan luas menghampar di balik bukit hutan pinus di depan mereka, aroma laut menggelitik indera penciuman mereka. Dan benar saja, tak ada seorang 'pun yang mengunjungi pantai ini, selain sulit dijangkau oleh manusia, ombak yang memecah karang terbilang ganas, belum lagi isu-isu mengerikan yang terlanjur tersebar di telinga masyarakat luas.
"Ada tulisan dilarang masuk." Hoseok memecah riuh kegirangan sebagian dari mereka yang terlalu senang saat melihat pantai, mobil pick up milik Jimin yang dikendarai Seokjin berada tepat di belakang mereka turut berhenti, rumah sederhana yang akan mereka tinggali sudah terlihat dan tinggal berjarak beberapa meter lagi, tapi papan peringatan yang tersemat di pagar kayu yang dibuat asal itu membuat mereka tak dapat masuk ke area yang lebih dalam. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Tabrak saja." Yoongi memberikan usulnya, dari spion ia dapat melihat Seokjin dan Namjoon yang keluar dari mobil dan melangkah mendekat kemudian mengetuk pintu kaca mobil Seokjin yang dikendarai Hoseok, "Namjoon, kita tak mungkin putar balik." Ucapnya pada Namjoon yang memasang ekspresi khawatir pada wajahnya, "Kalian tetap 'lah di dalam." Perintahnya pada ketiga anggota termuda mereka sebelum akhirnya ia keluar dan Hoseok mengikuti setelahnya.
"Kurasa tempat itu menyeramkan." Taehyung berkata entah pada siapa, ia memandang langit yang untungnya saat itu sedang cerah di atas mereka, tapi berbanding terbalik dengan awan mendung yang ada di atas lautan sana, sepertinya akan ada badai, mereka tak ada waktu lagi dan harus segera mencari tempat berlindung. "Rumah itu sudah lama ditinggal 'kan? Apa masih layak?"
Jimin menyahut, "Beberapa hari yang lalu aku dan Yeonjun pernah ke sana." Sontak, Jungkook dan Taehyung menoleh padanya, mereka terkejut akan kata-kata Jimin, dan sebelum kedua temannya itu bertanya padanya, Jimin menjelaskan, "Aku kesana untuk mencari jurnal yang selalu kita cari itu setelah aku mendapat informasi kalau salah satu dari kawannan Hakyeon, yaitu Hongbin, menggunakan rumah itu sebagai tempatnya mengumpulkan laporan dan analisa tentang werewolf dan manusia."
Apa yang Jimin katakan menambah keterkejutan dalam benak Jungkook mau 'pun Taehyung, mereka berdua saling memandang sebelum akhirnya Jungkook bertanya dengan alis yang bertaut, "Kenapa kau tak bilang dari awal?" Jimin hanya meliriknya, ia menatap punggung Namjoon disela helaan nafasnya.
"Aku sengaja hanya mengatakan tentang hal ini pada Namjoon hyung, karena lebih sedikit orang yang tahu akan lebih baik." Jungkook dan Taehyung masih memandangnya dengan ekspresi yang sama, Jimin sadar bahwa kata-katanya tadi belum menjelaskan banyak hal, untuk itu ia melanjutkan, "Ini semua untuk Seokjin hyung, Hongbin 'lah yang membunuh Sandeul hyung dan orang tuanya serta menculiknya, aku takut kalau Seokjin hyung tahu kalau rumah itu dulu ditinggali Hongbin, ia akan trauma dan merasa tak nyaman."
Taehyung mengangguk mengerti, gerakannya diikuti Jungkook dan ia 'pun menanyakan hal yang sejak tadi ada di benaknya, "Bagaimana kondisi rumah itu dan sekitarnya?" Melihat betapa tenangnya Jimin selama ini, mereka rasa tempat itu terbilang masih aman dan layak untuk mereka tinggali. Dan benar saja, senyum Jimin menjawab semuanya.
"Semuanya baik, rumah itu terlihat bagus untuk ditinggali 7 orang, hutan di sekitarnya juga biasa saja, tapi aku belum pernah menyusuri daerah pantai dan seterusnya." Saat Jimin mengutarakan apa yang telah ia lihat disana, Namjoon dan Hoseok mendorong pagar larangan itu agar mereka bisa lewat, entah apa yang mereka diskusikan sebelumnya, tapi akhirnya kini, mereka bisa ke tempat tinggal mereka yang baru.
Hanya ada sedikit debu dan jelaga yang tertinggal disana, selebihnya bangunan itu masih layak, tak ada atap yang bocor dan lantainya yang terbuat dari kayu juga tak berlubang walau sudah berderit dan terlihat tua. Tak ada satu 'pun dari mereka yang mengeluh, memang paviliun ini lebih kecil dibanding rumah putih Seokjin, tapi suasananya yang sejuk dan di dekat laut menjadi nilai plus dari tempat tinggal sementara mereka ini. Namjoon dan Hoseok membersihkan ruang tengah, Seokjin merapihkan perpustakaan, Yoongi menata kamar dan Jimin, Taehyung juga Jungkook mengurus lantai dua. Perabot yang ada di lantai dua lebih sedikit dari lantai satu, untuk itu Jungkook, Jimin dan Taehyung telah menyelesaikan pekerjaan mereka terlebih dahulu, dan hendak membatu hyung mereka di bawah.
"Hyung, aku menemukan sesuatu." Jimin sudah turun terlebih dahulu, namun Jungkook mengaku pada Taehyung bahwa ia telah menemukan sesuatu, "Saat membersihkan lampu ini, aku tak sengaja menariknya dan ada ruang rahasia disini." Taehyung melihat ruangan yang semula ditutupi rak buku kosong itu dengan pandangan kagumnya, ia tak menyangka kalau ada ruangan sebesar ini tersembunyi diantara rak buku kosong dalam ruangan yang mereka duga sebagai ruang belajar atau ruang kerja, "Ada tangga, apa kita harus ke dalam?"
"Tidak sekarang, kita harus laporkan ini pada Namjoon hyung terlebih dahulu."
Light on Me
Seorang pemuda menatap gundukan tanah yang tersamar oleh rumput taman serta ditumbuhi bunga gladiol disekitarnya. Makam itu terlihat sangat terawat, nisannya terbuat dari batu marmer yang terukir nama seseorang dengan hangul dan hanja, ia menggumamkan doa seraya menyentuh lembut marmer dingin itu, kedua bola matanya memancarkan kerinduan yang mendalam.
"Sandeul-ah, aku tak menyangka kau akan melakukannya sejauh ini." Jinyoung berucap lirih, kesedihannya tak mampu ia bendung, namun ia sama sekali tak meneteskan air mata, Jinyoung sudah terbiasa menahan emosinya, sebagai pendeta yang terlatih. Ia harus tetap tersenyum dan tak memperlihatkan emosi terutama disaat teman lama telah meninggalkannya seperti ini, karena Jinyoung tahu, ia tak akan bisa membawanya kembali ke dunia fana seberapa 'pun ia menginginkannya. Sebagai pendeta Jinyoung hanya dapat mendoakan agar Sandeul dan keluarganya tenang disisi Bapa.
Dua orang pemuda yang terlihat sebaya dengannya melakukan hal yang sama, mereka mendoakan makam yang lainnya Jinyoung segera melepaskan sentuhan tangannya dari nisan Sandeul saat rekan satu profesinya, Baro, memanggilnya karena ia nampak menemukan sesuatu yang janggal, "Tidak ada makam Kim Seokjin disini." Jinyoung sudah menduganya, Kim Seokjin memang belum mati dalam insiden itu, informasi yang diberikan padanya adalah kebohongan, ia kembali bergumam pada Sandeul yang telah terbaring tenang.
"Tak kusangka, kau akan berkhianat padaku untuk melindungi mereka Sandeul-ah. Lihat akibatnya, kau dan orang tuamu harusnya masih hidup hingga sekarang jika kau ada di pihak kami."
Jinyoung memanggil rekannya yang lain untuk kembali mencari mereka. Sebelum pergi, ia meletakan setangkai bunga lily putih di dekat nisan sahabatnya dan akhirnya meninggalkan area pemakaman itu. Angin kencang berhembus di kala malam, hawa dinginnya menembus jubah yang ia kenakan, tapi hal itu tak menghentikan niat Jinyoung untuk menyusuri tempat lain dan mencari keberadaan Namjoon serta kawanannya.
"Dongwoo hyung," panggilnya pada salah satu rekannya, ia bukan 'lah pendeta seperti yang lain, posisinya disana adalah seorang 'pemburu'. Karena memusnahkan werewolf butuh seorang pemburu untuk melumpuhkannya. Cara terbaik untuk membinasakan mereka adalah membunuh dari yang terpenting posisinya dalam kawanan tersebut. Bukan alpha melainkan omega yang akan memberikan kawanan mereka keturunan. Membunuh omega sama dengan memutus hidup kawanan mereka.
Dengan segala pengetahuan yang membekalinya dari sang guru yang merupakan pendeta yang pernah melakukan 'pengusiran' disini, Jinyoung sudah mempersiapkan segalanya agar tempat ini benar-benar 'bersih' dari mereka. "Lepaskan dia, kita tak bisa mempercayai manusia yang tinggal disini karena mereka juga mencoba melindungi apa yang harusnya tak mereka lindungi." Tidak ada jawaban dari Dongwoo, ia hanya mengangguk dan meninggalkan Jinyoung bersama Baro di dalam hutan.
"Hyu-maksudku, Bapa, apa kau yakin akan melepaskan Gongchan sekarang?" Jinyoung tak menjawabnya, ia hanya memberikan anggukan kecil dan tersenyum ramah sebagai tanggapan, membuat Baro yakin, dibalik senyum ramahnya, terdapat rencana yang telah ia susun matang-matang untuk membianasakan kaum werewolf yang masih tersisa disini.
Karena Baro tahu, rencananya untuk melepas Gongchan, yang merupakan seorang werewolf tanpa kawanan adalah sebuah rencana yang sudah Jinyoung sediakan jika rencana sebelumnya tak berhasil. Bukannya tak berhasil, Jinyoung sudah memanfaatkan Hakyeon dan kawanannya untuk memicu perang dengan kawanan yang berseberangan dengan mereka, yaitu Namjoon dan kawanannya hingga mereka saling membuhuh. Baro tak tahu apa yang Jinyoung lakukan hingga ia bisa memusnahkan sebagian dari para werewolf yang menghuni hutan ini tanpa mengotori tangannya sendiri. Yang ia ingat, Jinyoung hanya mengatakan satu kalimat padanya.
"Membutuhkan kawanan monster untuk memusnahkan monster lainnya."
Saat itu Jinyoung hanya mengutus Sandeul, yang merupakan penduduk asli wilayah ini sebagai informannya, Sandeul mengirimkan segala informasi mengenai penampakan werewolf, atau sesuatu yang berhubungan dengan mereka. Termasuk Kim Seokjin, yang merupakan keturunan dari setengaa werewolf dan manusia. Namun, entah apa yang mengubah Sandeul berbalik memihak para werewolf dan memberikan informasi palsu setelah kedatangan Seokjin ke desa itu, ia mengaku tak melihat werewolf lagi, dan menolak untuk memberikan data pribadi Seokjin. Dan sekarang, Sandeul merasakan akibatnya, ia dan keluarganya dibunuh oleh Hongbin dan Hyuk, salah satu werewolf yang termakan jebakan pendeta Jung Jinyoung. Dalam benaknya, Baro menyayangkan hal ironis yang terjadi pada Sandeul.
"Kira-kira kemana Sandeul menyembunyikan Jurnal itu?" Monolog Jinyoung membuyarkan lamunan Baro, ia menatap jurnal tua dalam genggamannya, jurnal yang memiliki hubungan dengan apa yang selalu mereka cari selama ini, kelemahan werewolf, yaitu omega.
"Mungkin, Kim Seokjin membawanya?" Baro berasumsi, dari trilogi jurnal werewolf yang mereka miliki, yang ada di tangan Jinyoung hanya ada dua, yang kedua dan ketiga. Jurnal pertama ia serahkan pada Sandeul dan kini, bait sejarah yang mencatat kisah hidup seorang werewolf itu telah menghilang entah kemana. Meskipun mereka masih belum tahu keberadaan Kim Seokjin, tapi Baro yakin bahwa ia masih hidup. Jinyoung dan dirinya sudah menyelidiki siapa Kim Seokjin sebenarnya, dan dari garis keturunannya, Seokjin berpotensi menjadi seorang omega bila ia terlahir sebagai seorang werewolf. Sandeul memang memberikan informasi bahwa Kim Seokjin adalah manusia, tapi mereka tak sepenuhnua percaya, terlebih lagi, ia telah menghilang tanpa jejak.
"Kemungkinan besar seperti itu." Jinyoung mengamini ucapan Baro, senyumnya melebar saat berkata, "Untuk itu kita harus menggunakan Gongchan untuk membinasakan Kim Seokjin." Baro masih tidak mengerti, namun ia memutuskan untuk diam saja.
Mengapa Jinyoung memanfaatkan werewolf 'lemah' seperti Gongchan? Kekuatannya saja tak sebanding dengan Hakyeon dan anggota kawanannya yang lain. Apa 'pun alasannya, hanya Jinyoung yang tahu rencananya kali ini.
Light on Me
"Tidak ada apa-apa di dalam sana." Hoseok berkata demikian karena sudah berkali-kali mereka memeriksa ruang tersembunyi itu, namun tak menemukan hal yang mencurigakan, "Mungkin ini memang gudang wine biasa." Puluhan atau ratusan wine masih terjejer di rak kayu sesuai dengan jenis anggur dan tahun pembuatannya, mereka tak bisa minum wine, untuk itu penemuan ini tidak 'lah begitu berharga.
"Kurasa ruangan ini cocok dijadikan bunker." Ucap Yoongi seraya mengetuk dinding ruangan dengan jemarinya, "Temboknya kedap suara." Bukannya mendoakan hal buruk akan terjadi, namun disegala kemungkinan, jika terjadi sesuatu yang berbahaya, mereka dapat menggunakan ruangan ini untuk berlindung.
"Oke, penemuan yang bagus Jungkook-ah." Puji Namjoon pada Jungkook, ia mengacak rambut maknae mereka itu dan tersenyum bangga, kemudian ia menyadari satu hal, "Mana Seokjin hyung?" Namjoon baru sadar bahwa Seokjin tak bersama mereka.
"Seokjin hyung masih di bawah, memberi makan Monie." Jelas Taehyung, kemudian mereka keluar dari ruangan rahasia itu satu-persatu dan turun ke bawah untuk melihat Seokjin. Mereka menuruni tangga dalam diam, hingga Taehyung tiba-tiba meremas kain dari kemeja yang ia kenakan di bagian dadanya, "Uh..." Jungkook menyadarinya, ada sesuatu yang aneh dalam diri Taehyung, ia segera menggenggam lengannya dan melihat keadaannya.
"Tae? Kau tak apa?"
Tidak hanya Taehyung, Yoongi juga mengalami hal yang sama, ia menggenggam tangan Jimin yang melangkah di sampingnya dengan erat, sangat erat hingga Jimin meringis dibuatnya. "Y-Yoongi hyung?"
Namjoon menyadari sesuatu, alpha dalam dirinya seolah memberontak, dadanya sesak dan sisi buasnya hampir keluar, untungnya ia melangkah paling depan diantara mereka, dengan suara berat namun sedikit serak, ia memberikan perintah, "Ba-bawa Yoongi dan Taehyung menjauh dari sini, jangan biarkan mereka mendekati Jin hyung." Hoseok yang tepat berada di belakangnya nampak segera mengerti situasi, ketiga alpha dalam kawanan mereka tiba-tiba 'merasakan' sesuatu bersamaan. Hoseok hendak berspekulasi lebih jauh, tapi ia memutuskan untuk segera menjauhkan ketiganya dalam satu ruangan.
"Jimin, bawa Yoongi hyung keluar, menjauh dari sini. Aku dan Jungkook akan membawa Taehyung."
"Ta-tapi kemana?"
"Kemana saja asal jangan di dalam rumah atau satu ruangan yang sama."
Tanpa banyak bicara, mereka segera bergerak menjauh. Namjoon membisikan kata, "Hati-hati 'lah. Aku akan mencari kalian saat ini selesai." Melihat sisa dari kawanannya pergi keluar, Namjoon segera mencari Seokjin, aroma manis yang tiba-tiba memenuhi ruangan di lantai satu paviliun itu membuat seluruh tubuh Namjoon berpeluh, ia berusaha menahannya, hingga akhirnya ia menemukan di mana Seokjin berada. Tepat di salah satu kamar dekat dengan pintu belakang yang memandang lautan.
"Ji-" Belum sempat Namjoon menyebut namanya, alpha dalam dirinya seolah makin memberontak agar segera membawa tubuh tak berdaya itu kedalam rengkuhannya. Disana, diatas kasur yang sudah hampir tak berbentuk, Seokjin mendesahkan namanya, ia terengah, kancing kemeja yang ia kenakan telah terbuka setengah dan celana jeans yang ia pakai telah basah di bagian antara kakinya, kening Seokjin berpeluh dan air matanya yang menggenang telah siap untuk turun membasahi pipinya kapan saja.
"Na-Namjoon..." Satu erangan pelan, dan Namjoon tak dapat menahannya, sisi liarnya mengambil alih karena yang ada di hadapannya ini adalah seorang omega yang mengeluarkan feromonnya dan telah siap untuk di-klaim.
Malam ini, Namjoon akan menjadikan Seokjin miliknya.
to be continued
note :
Ok, so... sedikit bocoran kalau ff ini ada unsur ABO dan Mpreg, jadi, jika reader-nim merasa tak nyaman untuk membaca sequel ini, tidak apa-apa untuk berhenti di seri pertamanya saja dan tidak melanjutkan untuk membaca fanfic ini.
Maaf jika ada istilah yang salah atau kurang tepat dalam omegaverse yang saya angkat kali ini, karena beberapa bagian telah saya modifikasi menjadi versi saya, tapi masih mengambil unsur omegaverse original yang telah banyak dikenal.
Saya menjadikan member B1A4 sebagai villain disini~ maaf kalau ada reader-nim yang Bana dan bias kalian saya jadikan orang jahat di fanfic saya :(
massive thanks to
AppleCaramelMacchiato
iyaah akhirnya saya putuskan untuk buat sequel~ uwu chapter depan udah mau 'anu' kok muehehehehe
nicelline
oohohoho bakal ada baby ga yah~ kita lihat saja nanti *ketawa jahad*
dncrdng
syudah dijelaskan siapa dan apa tujuan pendeta itu~ semoga suka sequel nya yah uwu
goldenaidakko
ありがとう!goldenさんのレビューを読む時ニヤニヤが止まらないわ〜 uwu
I PURPLE YOU GUYS SO MUCH
