Gracias…
Fairy Tail Hiro Mashima
Story by Me!
Natsu Dragion x Lucy Ashely
Warning. OOC(maybe), typo(s), GaJe, alur berantakan, kata-kata sulit dimengerti dan sebagainya.
: oOo :
Chapter 2
Hening. Tidak ada yang berniat memulai topik pembicaraan terlebih dahulu. Sepertinya, mereka berdua terlalu gengsi untuk berbicara satu sama lain. Canggung. Padahal mereka dulunya sangat akrab tetapi berbeda dengan saat ini. Perubahan dratis Natsu membuat Lucy sedikit tidak nyaman.
'Suasana nya kok canggung begini ya? Biasanya, kalau berada didalam mobil kami akan membahas tentang Exceed ataupun masalah kerajaan.'batin Lucy.
Lucy memandangi jalanan melalu kaca jendela mobil, 'Dia sudah berubah bukan Natsu yang kukenal lagi…'
Natsu melirik sekilas kearah Lucy. Dia dapat melihat raut muka Lucy yang sedih melalui pantulan kaca itu, 'Dia kenapa sedih begitu?'
Keduanya memang saling memperhatikan satu sama lain tetapi secara diam-diam. Natsu ataupun Lucy tidak bisa mengungkapkan isi hati mereka kepada satu sama lain. Gengsi lebih tinggi dari imaje.(?)
"Membosankan..."gumam Lucy tanpa sadar.
Natsu secara tiba-tiba memberhentikan mobilnya membuat Lucy kejedot kaca mobil.
Lucy mengelus-ngelus kepalanya dengan raut wajah kesal, "I-Ittai. Ada apa sih? Mau kupukul?"
Lucy secara tak sadar mengatakan hal itu. Semenjak diamkan oleh Natsu, dia tidak menganggu ataupun memukul Natsu lagi. Dan itu sendiri atas permintaan Natsu.
Natsu menoleh kearah Lucy dengan tatapan sulit diartikan, "Kau mau memukulku?"
Lucy tersentak pelan. Ia menggelengkan kepala nya dengan cepat, "N-nggak kok. Yang tadi cuma bercanda...Beneran..."
"Kalau kau memang ingin memukulku, silahkan saja...Asalkan t--..."
BUGHH BUGHH
"I-ittai...kenapa kau memukulku?"
"Kau sendiri yang mengizinkan ku untuk memukul mu kan…"
"Iya…tapi kan gak harus sekuat ini..."
"Yasudah..."
Lucy tersenyum tipis. Sudah lama, dia tidak berbicara dengan Natsu seperti ini. Lelaki itu tidak membalas perkataan nya dengan nada dingin lagi. Itu membuatnya senang.
Natsu meringis kesakitan ketika menyentuh benjolan kepala dengan dua tingkat, "I-Ittai…"
Lucy menoleh kearah Natsu dengan cepat dengan tatapan khawatir, "Beneran sakit? Suer, aku tidak bermaksud memukul mu dengan kuat begitu. Dimana yang sakit?"
Natsu sedikit terkejut mendapati perlakuan Lucy terhadapnya. Lucy mendadak bersikap lembut didepannya dan tanpa disadarinya itu membuat muka nya sedikit memerah.
"Waduh..kenapa muka mu bisa memerah begitu? Apa karna pukulanku yang kuat sehingga membuatmu kesakitan? Apa perlu aku membeli obat saja?"kata Lucy dengan panik. Ia tidak bermaksud menyakiti Natsu.
"Arigatou…"gumam Natsu dengan pelan disertai senyuman tipis.
Lucy sedikit malu dan muka nya memerah. Ia mengalihkan pandangan nya kearah lain, "D-doushitemashita.."
Lucy tersenyum tipis. 'Akhirnya aku bisa berbicara dengan nya lagi…'
: oOo :
Lucy dan Natsu sedang berkeliling dikota sambil sesekali memandangi toko-toko yang berjejeran disana. Natsu berjalan membelakangi Lucy dengan menaruh kedua tangan dibelakang kepalanya.
'Apa hanya perasaan ku saja atau dia memang bertambah tinggi?'gumam Lucy sembari memperhatikan Natsu.
BUKK
Lucy sedikit meringis ketika seseorang menabrak bahunya entah disengaja atau tak sengaja. Yang jelas, itu membuatnya naik darah.
"Hey kau! Jalan pake mata bukan kaki.. Jangan main asal nabrak donk."omel Lucy.
Orang yang menabrak bahu Lucy pun menoleh lalu membelalakan matanya, "KAU!"
Natsu membalikkan badannya ke belakang. Ia melihat, Lucy yang sedang menghajar seorang lelaki tanpa ampun. Ia sedikit terkejut karna adegan itu hampir mirip dengan pengalaman yang dialaminya dulu.
"Lagi-lagi kau cowok sialan. Ini sudah kedua kalinya kau menabrak ku."ucap Lucy disela-sela siksaan nya kepada lelaki itu.
"A-Ampun…aku tidak seng--argh..."
Lucy menjewer kedua pipi lelaki itu dengan kuat dengan posisi duduk diatas bahu lelaki itu, "Ini sudah kedua kalinya aku mendengar kata-kata yang sama darimu. Rasakan ini..."
"GYAHH…"
Natsu menatap keduanya dengan senyuman dipaksakan. Entah kenapa, dia jadi teringat dengan masa lalu kalem nya yang selalu dipukul oleh Lucy. Ia merindukan hal itu, 'Sudah lama aku tidak dipukul olehnya sejak saat itu..'
Lelaki itu menatap Natsu dengan tatapan memohon, "Hey kau! Apa kau pacarnya? Bisa kau hentikan dia..aku bisa mati kalau dipukul olehnya terus.."
"Jangan mengadu, sialan.." Lucy kembali menyiksa lelaki itu dengan menarik telinga nya ke belakang.
"Ngahh...Ittai! Telinga ku akan putus!"teriak lelaki itu dengan histeris.
Natsu tertawa miris mendapati lelaki itu yang terus disiksa Lucy tanpa ampun. Benar-benar mirip dengan nya, "Haha...Lucy sebaiknya kau menghentikan -siksaan- mu itu. Kasihan dia.."
Mau tak mau, Lucy hanya menurut saja lalu melompat turun dari tubuh lelaki itu, "Makanya jangan cari gara-gara dengan ku..."
"Hikss... Ini pertama kalinya aku disiksa oleh seorang gadis padahal sebenarnya ada banyak gadis-gadis yang selalu mengejarku. Imaje-ku jadi hancur.."isak lelaki itu dengan lebay.
Lucy menatap lelaki itu dengan tatapan jijik, "Hentikan air mata buaya mu itu, jadi siapa nama mu?"
"Panggil saja aku Sting. Kalian?"
"Lucy"
"Natsu"
Sting mengangguk pelan lalu melirik Lucy, "Jadi monster ini bernama Lucy?"
"Ngajak berantem, hah?"
Sting berkeringat dingin. Ia bersembunyi dibelakang Natsu dengan cepat, "B-Bukan begitu maksudku...Jangan salah paham.."
"Kau ingin kemana, Sting?"tanya Natsu.
Sting menunjuk salah satu toko yang berjejeran disana. Itu adalah toko buku. "Aku bekerja disana sebagai penjaga perpustakaan. Ini sudah jam kerja ku, makanya tadi aku sedikit terburu-buru karna takut terlambat tapi malah berakhir disini."jelasnya.
"Dengan kata lain, kau berpikiran bahwa kau terlambat karna aku, iya kan?"tebak Lucy dengan mata iblisnya.
"J-Jangan berpikiran negatif seperti itu donk. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu."bantah Sting. Walaupun yang dikatakan oleh Lucy ada benarnya juga, tapi dia tidak berani berkata seperti itu.
"Btw, kalian sedang kencan ya?"
Hening. Tidak jawaban sama sekali.
"Are? Kok hening? Apa aku menanyakan hal yang aneh?" tanya Sting dengan bingung.
Lucy menepuk punggung Sting beberapa kali dengan kuat, "Kalau ngomong jangan asal ceplas-ceplos gitu donk. Kau ingin merasakan tendangan maut ku, hah?"kata nya yang disertai ancaman kecil.
Sting bergidik ngeri. Ia sama sekali tidak berniat untuk dihajar oleh Lucy lagi. Pukulan Lucy yang tadi saja sudah membuatnya kesakitan, apalagi ditambah yang ini? Bisa-bisa patah tulang dia.
Natsu tersenyum dipaksakan, "Bukan kencan tapi hanya menemaninya berkeliling saja.."
"Apa beda nya dengan kencan?"tanya Sting dengan heran.
"Diam atau aku pukul kau?"ancam Lucy.
Sting menganguk cepat. "Ah... Aku terlambat! Sampai jumpa lagi Natsu, Monster.." Ia berlarian meninggalkan mereka berdua menuju tempat kerjanya.
"Hoy! Aku bukan Monster!"teriak Lucy. Ia berdecak pinggang, "Dasar... Akan kubalas dia nanti.."
"Kalian akrab ya?"tanya Natsu secara tiba-tiba.
"Heh?"
Natsu membalikkan badannya menghadap ke depan, "Kalian berdua cocok kok..." Ia berjalan meninggalkan Lucy yang terdiam disana.
'Ada apa dengan nya?'gumam Lucy.
"Hey! Kenapa hanya diam saja? Cepat jalan, kau ingin berkeliling kan?"tegur Natsu.
Lucy tersentak. Ia perlahan berjalan menuju Natsu dengan sedikit ragu-ragu. Pikiran nya melayang, 'Dia bilang, aku dan Sting cocok? Apa maksudnya itu?'
Dan sepanjang perjalanan, kedua nya saling mendiamkan. Mereka hanya sibuk dengan pikiran nya masing-masing.
: oOo :
"Kalian sudah kembali? Bagaimana dengan kencan kalian?"goda Gray.
Lucy memukul kepala Gray sekilas, "Jangan berkata tidak sopan dengan ku donk.."
"Gomen..Lucy-san..."kata Gray.
Natsu mengambil tempat duduk disebelah Lissana. Ia menuangkan teh ke cangkir yang sebelumnya diberikan Mira lalu meminum nya secara perlahan.
"Natsu, bagaimana kencan mu dengan Lucy? Menyenangkan?"tanya Lissana menatap Natsu dengan sebelah tangan menopang wajahnya.
"Itu bukan kencan, Lissana-chan. Aku hanya menemani nya berkeliling tak lebih." jawab Natsu tanpa menoleh kearah Lissana.
"Bukankah dengan begini hubungan kalian akan membaik?"ucap Lissana.
"Entahlah.. Aku tidak tau..."
Lissana memandangi Lucy yang masih sibuk memukul Macao, Wakaba dan Gray secara bersama.
"Ne, Lissana-chan.."panggil Natsu.
Lissana menoleh kearah Natsu, "Ya?"
Natsu mengeratkan cengkraman pada cangkir teh yang masih dipegangnya lalu menoleh kearah Lissana, "Bagaimana kalau besok kita kencan?"
Hening seketika.
"HEH???!!!"
Muka Lissana sedikit memerah mendengar ajakan Natsu yang mendadak itu, "K-kenapa mendadak sekali?"
"Bagaimana? Kau mau kan?"tanya Natsu mengabaikan pertanyaan Lissana tadi.
Lissana menundukkan kepala nya kebawah untuk menyembunyikan muka nya yang memerah. Ia mengangguk dengan pelan.
"Natsu mengajak Lissana kencan? Sulit dipercaya.."ucap Wakaba yang rambutnya masih dijambak oleh Lucy.
"Ekhem .. Sepertinya akan ada pasangan baru.."goda Macao yang masih dalam posisi dimana telinga nya masih dijewer oleh Lucy.
Natsu mengelus-ngelus rambut Lissana dengan lembut, "Aku akan menjemputmu disini, Okay?"
"O-O-Okay..."
Lucy menatap Natsu dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak percaya bahwa Natsu akan mengajak Lissana kencan, "Natsu.." Ia melepaskan jambakan nya dari rambut Wakaba. Tak menyiakan kesempatan, Wakaba berniat kabur namun tertangkap basah oleh Lucy.
"Mau kabur, hah?"Lucy meremas bahu Wakaba dengan kuat.
Wakaba menoleh kearah Lucy dengan gerakan patah-patah. Ia terkejut melihat Lucy yang memasuki mode: iblis on. Ia hanya dapat berdoa dalam hati, berharap dirinya masih bisa melihat langit yang biru pada keesokan harinya.
BUGHH BUGHH PLAKK
Macao dan Gray yang sudah bebas hanya bisa menatap Wakaba dengan tatapan iba. 'Kasihan sekali Wakaba...'
'Mungkin ini adalah yang terbaik..'batin Natsu.
: oOo :
Keesokan Harinya
Suasana diguild tampak sedikit lebih tenang biasanya. Natsu dan Lissana sedang berkencan sedangkan Lucy keluar entah kemana. Gray masih berusaha untuk merayu Juvia yang kemudian dibalas dengan tendangan maut.
"Juvia-chan, ayo kita berkencan..."ajak Gray. Ia tidak pernah menyerah untuk mengejar cinta nya.
"Menjauhlah dariku..kau menyesakkan.." balas Juvia dengan sinis.
Bukannya menyerah, Gray malah semakin merayu Juvia berbeda dengan saudara nya Lyon -playboy kelas kakap-.
"Juvia-chan... Kau bagaikan matahari yang menyinari hatiku. Kau lah cahaya kehidupan ku."gombal Gray.
"Hentikan ocehan mu itu!"ucap Juvia yang kembali menendang Gray. Ia merasa kesal sekaligus jengkel karna hari-hari nya selalu diganggu oleh Gray.
"Sebaiknya kau menyerah saja untuk mengejar Juvia, Gray.."saran Nab dengan melipatkkan kedua tangan nya diatas dada.
"Lyon saja sudah move on darinya..masa kau tidak bisa?"sindir Wakaba disertai senyuman meremehkan.
"Jangan sama kan aku dengan playboy kelas kakap itu donk.."ucap Gray.
Anggota diguild pun kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ada yang berkelahi, main kartu, merayu cewek(Gray), adu mulut dan sebagainya.
SKIP TIME*
"Tadaima!" Lissana berlarian memasuki guild dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Tampaknya, dia sedang bahagia saat ini.
Tiba-tiba saja Lissana menginjak kulit pisang yang tergeletak disana. Ia kehilangan keseimbangan dan memejamkan mata nya rapat-rapat, bersiap untuk mencium lantai.
"Kalau jalan lihat-lihat donk, jangan asal injak..."omel Natsu. Ia berhasil menahan tubuh Lissana dengan memegangi pinggangnya.
"Natsu? Arigatou ne.."
Natsu tersenyum tipis.
"Lissana, kenapa kau kelihatan bahagia sekali? Apa yang membuatmu seperti itu?"tanya Mira dengan penasaran.
Muka Lissana memerah sekaligus salting. Sedangkan, Natsu yang melihat itu hanya tersenyum tipis lalu merangkul Lissana, "Kami berpacaran..."
1
2
3
"HAHH?!!"teriak mereka secara bersamaan.
"Kalian berpacaran? Yang bener?"
"Selamat untuk kalian berdua.."
"PJ-nya jangan lupa ya?"
"Ternyata kalian saling menyukai ya? Aku baru tau..."
"Kalau begitu ayo kita membuat pesta atas NaLi yang sudah berpacaran!"
Astaga. Mereka sangat berlebihan. Orang pacaran bukannya kasih selamat melainkan mengadakan pesta. Tanpa disadari mereka, ada seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka dengan bersembunyi disamping pintu guild.
Dia adalah… Lucy…
Lucy berlarian meninggalkan guild dengan air mata yang terus berjatuhan. Entah kenapa, hatinya sakit ketika mendengar hal itu. Dia sendiri juga tidak tau kenapa,'Kenapa aku lari? Kenapa aku menangis? Kenapa aku merasa tak rela Natsu menjadi miliki orang lain? Kenapa?"
'Selamat Natsu..'
: oOo :
: TBC :
