Light on Me
Genre : Romance, and Tragedy
Pair : NamJin, and slight YoonMin
Rate : M
Warning : Explicit, Smut and Character Death
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
(Chapter 3, Just Mine)
Ini adalah kali pertama Jungkook melihat Taehyung seperti ini. Peluh yang membanjir, pandangan tak stabil dan gigi yang bergemelatuk. Nafas yang ia hembuskan juga tak normal, untungnya Hoseok bersama dengan mereka malam ini, membawa Taehyung pergi sejauh mungkin dari kediaman mereka. Pertanyaan demi pertanyaan terngiang dalam benak Jungkook, sesuatu telah terjadi pada para alpha dari kawanan mereka. Entah apa yang menyebabkan semua ini dengan tiba-tiba, sehingga Yoongi dan Taehyung harus dibawa ke tempat terpisah sejauh yang mereka bisa, meninggalkan Namjoon di sana.
Diantara semua anggota kawanannya, Jungkook adalah yang termuda, ia masih hijau, presentasi kematangannya sebagai seorang werewolf juga belum nampak, dan hal tersebut menjadi tanda bahwa dirinya belum bisa digolongkan sebagai alpha, beta atau omega. Saat memikirkannya Jungkook teringat, sesuatu telah terjadi pada Seokjin, hyung-nya.
"A-aku harus kembali..." Jungkook berbisik lirih, ia baru menyadari bahwa ada yang tidak beres pada kakak kandung satu-satunya. Kekhawatiran yang luar biasa melanda benaknya, ia merasa kalau dirinya harus ada disamping Seokjin sekarang, walau mereka sudah jauh masuk ke dalam hutan karena berlari tak tentu arah karena yang paling penting adalah membawa Taehyung yang sedang trigger untuk pergi sejauh mungkin.
"Tidak Jungkook, tetap 'lah disini." Hoseok menjegal lengan Jungkook, menariknya kembali mendekat. "Jin hyung akan baik-baik saja." Ucap Hoseok kemudian, seolah tahu apa yang sedang Jungkook pikirkan. Setelah merasa bahwa mereka sudah cukup jauh, Hoseok membawa kedua dongsaeng-nya duduk di sebuah pohon pinus tua yang telah tumbang, Taehyung yang sejak tadi ada dalam rangkulannya sudah mulai tenang dan Jungkook duduk bersama mereka dalam diam.
"Sebenarnya apa yang terjadi, hyung? Aku tahu kau mengetahui sesuatu." Hoseok menghela nafas panjang saat Jungkook bertanya demikian. Coat-nya yang menutupi sebagian tubuh dan wajah Taehyung ia lepaskan, memperlihatkan raut wajahnya yang tampak seperti orang yang baru saja berlari puluhan kilometer tanpa bethenti.
"A-apa yang terjadi padaku?" Dengan bibir yang sedikit bergetar, Taehyung juga bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Wajar saja, dalam keadaannya yang seperti tadi, ia hanya setengah sadar dan hampir tak mengingat apa 'pun.
"Seperti yang sudah kuduga sebelumnya." Meski Hoseok berucap pelan, Taehyung dan Jungkook masih dapat mendengar suaranya yang sayup-sayup bersahutan dengan deru angin malam yang terbawa dari arah laut. "Aku belum tahu pasti tapi kurasa," ia menelan ludah, berharap agar tindakannya dapan melumasi tenggorokannya yang mendadak kering, "kita mendapatkan omega pertama kita."
Hening melanda. Tak ada seorang 'pun bicara setelah Hoseok mengucapkan apa yang selama ini ia ketahui. Sejujurnya, Hoseok tak ingin berspekulasi lebih jauh terlebih dahulu sebelum menemukan bukti nyata bahwa Seokjin adalah omega. Tapi setelah apa yang mereka alami malam ini, ia semakin yakin bahwa Seokjin memang terlahir sebagai seorang omega. Tapi mengapa? Seorang omega laki-laki sangat jarang terjadi, belum lagi Seokjin bukan 'lah seorang werewolf sejak lahir, ia diubah oleh Ken saat sedang sekarat. Hoseok pernah mendengar seorang omega laki-laki dari tabib tetua mereka dahulu, dari segi fisik mereka memiliki fisik yang sama dengan laki-laki pada umumnya, kuat, bidang, dan tangkas, hanya saja mereka memiliki 'organ tambahan'. Dan hal itu yang Hoseok takutkan untuk ia ucapkan pada mereka yang tak mengetahuinya.
Jika tidak dalam penanganan dan pengetahuan lebih lanjut, Seokjin bisa dalam bahaya.
"Jin hyung... omega?" Apa yang Hoseok katakan seharusnya sudah cukup menjelaskan segala hal, tapi tetap saja, Jungkook hanya ingin memastikan. Sebuah hal mustahil terjadi di segala kemungkinan yang tak terduga. Termasuk apa yang telah terjadi pada Seokjin dan kawanan mereka. Sekali lagi, mereka hanya dapat menebak, apa 'kah ini sebuah keajaiban? Atau kutukan?
Satu anggukan Hoseok berikan untuk menjawab pertanyaan Jungkook, "Kita harus menemukan marminy untuk mengetahui kejelasannya." Marminy, jurnal kedua, jurnal yang mencangkup kejelasan mengenai anatomi bersasarkan kelas atau golongan. Jika saja Hoseok memilikinya, mereka tahu apa yang akan mereka perbuat.
"Bukan 'kah itu berarti, Seokjin hyung akan..." Taehyung tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia tak berani. Mereka sudah hampir kehilangan Seokjin satu kali, dan mereka tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Presentasi sebagai seorang omega bukan hal yang buruk, melainkan anugerah yang akan kawanan mereka dapatkan karena memiliki seorang omega yang berarti adalah peluang mendapatkan seorang penerus. Tapi satu hal yang harus Namjoon dan yang lainnya waspadai, entah apa yang akan terjadi nanti di luar sana, hari ini berbeda dengan besok, musuh mereka tiada hari ini, tapi musuh yang lain mungkin akan datang keesokannya. Bahaya akan datang kapan saja.
Belum lagi pengetahuan mereka yang masih minim tentang omega.
"Kita tak perlu takut." Senyuman Hoseok mengembang kala ia berusaha untuk membuat kedua dongsaeng-nya tenang, "Kita akan saling melindungi satu sama lain." Ia menyadari kekalutan pada diri Jungkook dan Taehyung, juga dirinya sendiri. Mereka masih shock karena ini adalah hal yang baru bagi mereka. Sikap protektif mereka muncul dengan berlebihan dan Hoseok berusaha maklum akan hal itu. "Kalian percaya pada Namjoon 'kan?"
Itu benar, Namjoon tak akan membiarkan bahaya mendekati mereka. Ia adalah pemimpin yang tak akan membiarkan keluarganya terluka. Mengingat hal tersebut saja berhasil mengembalikan senyum di wajah Jungkook dan Taehyung. Mereka percaya pada Namjoon karena mereka tahu siapa dirinya.
"Seokjin hyung omega atau bukan, ia akan tetap menjadi Seokjin hyung kita."
Light on Me.
Jika Hoseok, Taehyung dan Jungkook lebih memilih untuk berlari ke dalam hutan. Jimin membawa Yoongi dengan mobilnya, menyelusuri jalan di bukit yang sepi, menjauh dari rumah sementara mereka. Dalam kekalutannya, Jimin tidak begitu yakin ia akan membawa Yoongi kemana, yang ia tahu hanya menjauh dan berharap agar mereka bertiga yang berlari masuk ke dalam hutan baik-baik saja.
Jimin berusaha tenang, ia terkejut dan takut pada awalnya karena ia baru melihat Yoongi, Taehyung dan Namjoon seperti tadi. Jimin menginjak gas dengan kasar saat berusaha menelaah apa yang sebenarnya terjadi, karena semuanya begitu mendadak. Mereka masih tertawa dalam canda tadi siang, tapi malam ini semua berubah dalam kepanikan. Oke, sepertinya hanya dirinya yang panik.
"Kau tak perlu ngebut, Jimin." Yoongi berucap disebelahnya, sontak Jimin menoleh ke arahnya. Nampaknya ia sudah kembali ke keadaannya semula, walau 'pun nafasnya masih memburu dan peluh tak kunjung mereda, setidaknya Yoongi sudah terlihat lebih baik.
"Harus 'kah kita kembali, hyung?" Pertanyaan Jimin mendapat gelengan pelan dari Yoongi, ia menginstruksikan padanya untuk terus melajukan mobil pick up itu. "Sesuatu terjadi pada Jin hyung." Ucapnya kemudian, walau terjadi begitu cepat, Jimin cukup peka untuk mengetahuinya, ia dan Hoseok pernah mendiskusikannya. "Apa aku benar, hyung?"
"Ya, tapi bukan sesuatu yang buruk." Yoongi memberikan pendapatnya, ia memandang keluar jendela sebelum akhirnya ia sadar bahwa Jimin (tak sengaja) membawa mereka kembali ke arah rumah Seokjin. "Kenapa kau membawa kita kesini?" Tanyanya seraya memberhatikan sekitar mereka, untuk sekarang, daerah ini adalah tempat krusial bagi mereka.
"Ah? Hyung, aku tak sadar, aku hanya mengikuti jalannya." Jelas Jimin. Ia segera menepi setelah dirinya juga sadar mereka ada dimana sekarang.
"Aku mengerti." Yoongi memakluminya. Ia mengerti kalau Jimin awalnya panik dan pergi tak tentu arah dan akhirnya tak sengaja membawa mereka pulang ke rumah Seokjin.
"Aku akan putar balik." Jimin hendak membelokan setirnya, tapi Yoongi menahan tangannya. Tanda tanya besar hadir dalam benak Jimin. Mengapa Yoongi menahannya? Hingga ia mengikuti arah pandangan Yoongi yang lurus kedepan, dan menyadari ada pergerakan yang mencurigakan di radius beberapa meter dari tempat mereka duduk diam sekarang. Di pagar rumah Seokjin, terlihat beberapa laki-laki dewasa tampak begitu mencurigakan.
"Kita sudah disini, sebaiknya kita pantau mereka." Jimin mengangguk menyetujui apa yang Yoongi ujarkan. Ia segera mematikan mesin mobil, dan saat melihat bahwa orang-orang tak dikenal itu masuk ke pekarangan rumah Seokjin, mereka segera turun dan berjalan mengendap, mengikuti serta memantau pergerakan orang asing tersebut.
"Hyung, mereka ada tiga." Penglihatan tajam Jimin menangkap siluet ketiga orang tak dikenal itu. "Dan mereka bukan penduduk desa." Oh, itu pertanda hal buruk. Kabar terakhir yang Yeonjun berikan adalah, bahwa pendeta itu sudah datang, membawa dua rekannya dan mengaku bahwa kedatangan mereka adalah untuk memberikan bantuan pelayanan pada penduduk dalam rohani dan jasmani. Tapi melihat orang-orang asing, yang Yoongi dan Jimin yakini adalah pendeta dan orang terdekatnya masuk ke pekarangan Seokjin tanpa izin adalah bukti bahwa kedatangan mereka ke sini, bukan hanya sekedar pelayanan rohani semata.
"Aku harap ini tidak buruk." Desis Yoongi. Tidak ada salahnya untuk berharap, walau ia sendiri tahu, tak lama lagi 'hidup damai' mereka akan segera terusik.
"Kenapa mereka hanya mondar-mandir di halaman rumah Jin hyung?" Setelah dirasa jarak mereka pada ketiga orang asing itu sudah cukup dekat, Jimin memperhatikan mereka dengan leluasa, tapi setelah bermenit-menit berlalu, orang-orang mencurigakan itu hanya berjalan di sekitar halaman rumah Seokjin. "Oh? Mereka menanam sesuatu di pekarangan rumah Jin hyung." Cukup mengherankan, mengapa pendeta dan orang-orang terdekatnya menanam beberapa tanaman di pekarangan rumah mereka? Benak Jimin mendengungkan tanya, dan Yoongi seolah mengerti dirinya, walau pelan dan hampir tak terdengar, ia sontak menoleh pada mate-nya saat mendengar apa yang Yoongi ucapkan.
"Jimin, itu wolfsbane."
"Wofsbane?"
Wolfsbane, bunga beracun yang dapat melumpuhkan atau mematikan rasa dan menimbulkan perih yang luar biasa pada seseorang yang menyentuhnya. Diantara semua tanaman, werewolf paling lemah terhadap wolfsbane dan Yoongi tak menyukai fakta bahwa saat ini, orang-orang asing itu tengah menanamnya di rumah Seokjin yang semakin memperkuat dugaannya bahwa mereka datang dengan tujuan yang lain.
"Ini buruk..."
"Seberapa buruk?"
"Sangat. Buruk."
Apa yang pendeta itu lakukan memperkuat kecurigaan mereka. Pertama, pendeta tersebut bukan 'lah pendeta biasa. Kedua, ia memang sudah mengetahui penghuni wilayah ini bukan hanya manusia tapi juga ada mahluk lainnya. Dan ketiga, mereka mengetahui rumah Seokjin bukan 'lah rumah 'biasa' yang telah 'ditinggalkan' oleh penghuninya, walau Namjoon dan yang lain telah merekayasa keadaan tempat mereka tinggal itu menjadi seakan-akan terabaikan, tetapi entah mengapa orang-orang itu seolah tahu kebenarannya.
"Mereka tahu kalau kita tinggal disana." Bisik Yoongi dalam kekhawatirannya, ia merasa kalau tak lama lagi pendeta dan beberapa orang layaknya ajudan itu akan segera menemukan mereka.
"Tapi bagaimana mereka bisa tahu?" Tanpa sadar Jimin mengeratkan genggaman tangan mereka, dan saat Yoongi memberikan usapan pelan pada punggung tangannya dengan ibu jari, kegelisahan Jimin sedikit berkurang karenanya.
"Hanya ada satu kemungkinan," lewat cahaya bulan Yoongi dapat melihat wajah pendeta itu, ia merasa kalau pria dewasa dengan jubah hitam itu memang nampak tak asing baginya, "mereka ada hubungannya dengan seseorang yang melakukan 'pengusiran' dahulu." Ia memberikan spekulasinya, tapi semua ungkapan tersebut tak menjelaskan banyak hal pada Jimin.
"Pengusiran?"
"Kita bicarakan lagi ini nanti, aku akan menjelaskan semuanya tapi kita harus memberitahu Hoseok dan yang lain." Jimin mengangguk paham, dan mereka segera pergi dari sana, tanpa menyadari seseorang yang sempat memperhatikan punggung mereka.
Light on Me.
Seokjin tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Ia merasakan panas yang luar biasa dan tak mampu mengendalikan diri sendiri, nafasnya terasa sesak dan tubuhnya lembab karena peluh yang terus mengalir terutama di bagian antara kaki jenjangnya. Ini pertama kali bagi Seokjin, dan ia tak tahu harus melakukan apa.
Seperti saat Namjoon naik menindihi tubuhnya serta mencengkram kedua pergelangan tangannya dengan kuat diantara kepalanya, Seokjin semakin tak kuasa mengendalikan diri, ia membutuhkan Namjoon, ia membutuhkan sentuhannya, kasar atau lembut ia tak peduli. Seokjin seolah semakin kehilangan akal kala Namjoon menatap matanya, walau tak begitu jelas karena genangan air mata pada kelopaknya, Seokjin menyadari tatapan tajam itu, iris indah sewarna batu zamrud miliknya telah berubah semerah darah.
"Namjoon..." Hanya lewat satu tatapan Seokjin mulai melemah, dalam hati dirinya memohon agar Namjoon segera menyentuhnya, ia 'pun mendesahkan nafas lega saat mate-nya itu merobek piyama yang ia kenalan, membebaskannya dari panas yang menyiksa tetapi itu semua belum cukup. Seokjin menginginkan lebih. Nafasnya kian memburu saat bibir dan lidah terampil Namjoon menjamah lehernya yang sesitif, dan pria yang kini tepat berada diatas tubuhnya itu melepaskan jeratan tangannya dari pergelangan tangan Seokjin untuk melepaskan celananya berikut dalamannya hingga hampir merobeknya.
Kuku jemari Seokjin hampir mencakar bahunya, tapi sepertinya Namjoon tak peduli, ia terus memainkan lidahnya di dada Seokjin seraya memberikan tanda keunguan dengan kecupan serta gigitan kecil hingga gigitan yang mampu membuat pria di bawahnya meringis menahan sakit. Diantara pahanya, Seokjin dapat merasakan ereksi yang masih tersembunyi di dalam celana jeans yang Namjoon kenakan, membuat darah yang mengalir dalam tubuhnya kian berdesir. Seokjin memohon seraya meronta, agar Namjoon segera melepaskannya dan memberikan apa yang ia inginkan.
"Kumohon.." Namjoon hanya menjawabnya dengan geraman dalam, dan membunkam Seokjin dengan ciuman dalam pada bibirnya yang membengkak karena sebelumnya ia gigit sendiri. Tak ada kata yang terlontar dari pria yang menciumnya, tapi lewat satu geraman pelan, Seokjin tahu bahwa Namjoon sedang memperingatinya.
'Aku yang memegang kendali atas dirimu.'
Bisikan itu ia terima, dan dirinya seolah tak berdaya. Seokjin menyerahkan dirinya seutuhnya, ia mempercayakan seluruh jiwa dan raganya pada Namjoon yang masih memberinya ciuman layaknya bibir Seokjin adalah sesuatu yang sudah lama ia dambakan dan akhirnya ia dapatkan.
"Mmh..." Disela ciuman yang mereka bagi, jemari Namjoon menyentuh tiap inci lekukan pada pinggangnya, Seokjin terlonjak terkejut saat Namjoon membalikan tubuhnya hingga ciuman mereka terlepas dengan tiba-tiba. Dari balik kepalanya, Seokjin dapat mendengar suara retsleting yang terbuka, dan tak lama kemudian tangan Namjoon kembali bergerak hingga ia menungging.
"Namjoon!" Seokjin menjeritkan namanya saat sesuatu yang basah menjamah bagian paling sensitif dibawah sana, ia meraih apa saja untuk ia genggam agar dirinya mampu menahan buncahan sensasi kenikmatan, ia bertumpu pada lengan kanannya dan tangan kirinya meremas bantal di bawah kepalanya, melampiaskan apa yang tengah ia rasakan.
Namjoon tak hanya memainkan lidahnya disana, ia juga membantu Seokjin 'mempersiapkan' dirinya, jemarinya kini mengambil alih, mengantikan lidahnya yang tadi sempat membuat mate-nya itu mendesahkan namanya berulang-ulang. Namjoon tak mampu menahannya lebih lama, ia tahu Seokjin juga sama dengannya. Perlahan-lahan, tubuh mereka menyatu, rasanya seperti saat pertama kali mereka melakukannya hingga Namjoon harus memasukan miliknya perlahan karena Seokjin menjepitnya terus menerus.
"J-Jin hyung..." Ia merapalkan nama Seokjin bagaikan mantra seiring dengan miliknya yang terus mencoba masuk sampai akhirnya ia tenggelam di dalam sana, membiarkan Seokjin terus memijat miliknya. Dan kali ini Namjoon membuat dirinya terkendali agar ia tak menyakiti Seokjin, ia memanjanya dengan sentuhan seraya menggerakan pinggangnya dengan pelan tapi mampu memberikan apa yang Seokjin inginkan. Namun hal itu tak berlangsung lama, setelah beberapa dorongan, Namjoon mengangkat tubuh Seokjin dan kini ia bertumpu pada kedua lututnya sedangkan tangan kiri Namjoon memeluknya dan sebelah tangannya ia gunakan untuk membawa dagu Seokjin agar menoleh padanya dan ia dapat dengan leluasa mencium bibirnya lagi.
Dari situ Namjoon bergerak tak menentu, ia tak peduli jika posisi tersebut membuat kakinya kelu selama ia mampu mengunci tubuh Seokjin agar dirinya lebih dalam memasukinya, dan Seokjin hanya mampu berpegangan pada lengan Namjoon yang melingkar di dadanya, mendesahkan namanya, dan menyandarkan punggungnya pada Namjoon, sampai saatnya ia mendapatkan orgasme pertamanya. Dan itu semua belum cukup. Namjoon kembali membawa tubuh mereka mendekat pada ranjang dan menghentakkan tubuhnya, kali ini lebih dalam dan tak terarah, Seokjin yang belum sepenuhnya selesai, kembali dibawa kedalam sentuhan yang membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Akh.." Seokjin tersedak suaranya sendiri saat Namjoon membawa miliknya lebih dalam dengan satu gerakan cepat, ia dapat merasakan bahwa bagian itu membesar dan hal tersebut cukup membuatnya mendesis karena sakit. Terlalu sakit hingga Seokjin menangisinya, lututnya kian melemas dan seandainya Namjoon tidak menopang pinggangnya dengan lengannya sendiri ia pasti akan terjatuh. Namjoon mendekatkan wajahnya pada leher Seokjin, menjilati tengkuknya sebelum akhirnya ia menancapkan giginya disana.
"N-Namjoo-" Suara Seokjin tercekat, rasa sakit itu kian bertambah hingga ia terisak, dan disela isakan dan desahannya yang mendayu bersamaan, ia terus memanggil nama Namjoon, berharap agar alpha-nya itu memberi ampun dan mengasihaninya. Jadi ini rasanya saat seorang alpha meng-klaim dirimu? Jadi ini rasanya ketika alpha-mu mengambil alih seluruh jiwa dan raga-mu serta membuatmu menjadi miliknya?
Seokjin dapat merasakan darahnya sendiri yang mengalir di sekitar lehernya, bercampur bersama peluh dan saliva yang Namjoon keluarkan dan mungkin juga racunnya. Namjoon merengkuh Seokjin seakan takut kalau mate-nya itu akan meronta dan pergi darinya, ia menahan pinggang Seokjin agar tetap pada posisinya, menjaga miliknya supaya tak lepas dan terus menyemburkan benihnya sendiri jauh ke dalam diri Seokjin.
Geraman bersahutan dengan isakan, Seokjin dapat merasakan miliknya mengeluarkan sesuatu hingga seluruh tubuhnya gemetar di dalam rengkuhan Namjoon yang kini sudah melepas taring tajamnya dari daging di leher Seokjin. Darah yang diyakini adalah milik Seokjin mengalir pelan di sudut bibirnya, "Jin..." Ia menjilati tanda klaim yang telah ia buat seraya menggerakan pinggulnya kembali agar benih yang telah ia berikan tidak jatuh keluar, ia ingin memberikan semuanya pada Seokjin yang masih mengiba dan mengerang meminta agar Namjoon menghentikan rasa panas yang masih membakar tubuhnya.
"Jinseok... Jinseok... Jinseok." Seokjin telah menjadi milik Namjoon seutuhnya. Panggilan manis yang ia sematkan untuk kekasih hatinya itu terus ia rapalkan, jemarinya meraih tangan Seokjin untuk menggenggamnya dengan erat, berusaha menyampaikan bahwa dirinya merasa begitu lengkap sekarang. Namjoon mengecup luka di leher Seokjin sekali lagi, isakan Seokjin 'pun mulai berkurang dan berganti dengan helaan nafas lega walau masih terengah.
"Namjoon," Seokjin belum pernah merasa begitu 'penuh' seperti ini sebelumnya, terlebih saat ada sesuatu dalam dirinya seolah menyampaikan kalau hidupnya sudah terikat dengan Namjoon sepenuhnya, setiap helaan nafas yang akan ia hembuskan kemudian, setiap langkah yang akan ia pilih kedepan, dan setiap sentuhan yang akan ia rasakan, semua akan terhubung dengan Namjoon. Begitu juga sebaliknya, Namjoon tak bisa menahan senyumnya saat akhirnya ia terikat sepurna dengan Seokjin.
Kesadaran memenuhi relung jiwa Namjoon, kini ia mampu mengendalikan tubuhnya, dengan perlahan ia melepaskan miliknya dari dalam tubuh Seokjin. Hanya untuk sementara, sebelum gejolak itu datang lagi nantinya, karena Seokjin masih membutuhkan sentuhannya sampai akhirnya omega dalam dirinya telah merasa 'cukup'. Namjoon memeluk tubuh Seokjin dengan erat, membawanya berbaring nyaman dengannya di atas kasur.
Tidak ada kata-kata yang terlontar manis, hanya lewat sentuhan-sentuhan kecil dan kecupan lembut, mereka mampu menelaah sendiri betapa lengkapnya hidup mereka kini. Namjoon lama menanti, dan Seokjin telah mempersiapkan diri, hingga akhirnya semua itu terbayar hari ini. Berharap agar malam ini tak pernah berakhir, matahari takkan terbit, dan jarum jam berhenti bergerak, agar mereka dapat terus merasakan indahnya kebersamaan yang mereka jalin malam ini.
Light on Me
3 hari. Seokjin tak menyangka bahwa ia dan Namjoon akan menghabiskan waktu untuk menyatukan diri selama tiga hari. Kasur di kamar, sofa ruang tengah, hingga perpustakaan kecil telah berantakan oleh 'ulah' mereka. Namjoon dan dirinya butuh waktu seharian untuk membereskan kekacauan itu sebelum Jungkook dan yang lainnya kembali.
"Aw~" Seokjin masih merasakan sedikit perih pada lehernya, ia menatap luka itu di cermin seraya menyentuhnya.
"Jin?" Namjoon datang dengan raut wajah khawatirnya, sebelum Seokjin menoleh dan menghampirinya, Namjoon sudah lebih dahulu memeluk pinggangnya dari belakang, "Apa masih sakit?" Seokjin tersenyum simpul saat mendengarnya, ia menggeleng pelan serata menggengam tangan Namjoon yang melingkar di pinggulnya. "Maafkan aku." Namjoon berbisik lirih, ia mengecup pelan pelipis Seokjin, membuat pria dalam pelukannya merona malu.
"Aku tidak apa-apa, Namjoon-ah." Jemari Seokjin membelai lembut rahang tegas Namjoon, kemudian memberi kecupan manis pada dagunya, "Aku merindukan Jungkook dan yang lain." Bisiknya disertai helaan nafas pelan, ia merindukan teman-temannya, tiga hari tak bertemu bagai berminggu-minggu lamanya, dan ia juga yakin bahwa Namjoon merasakan hal yang sama, karena ia dapat merasakannya.
"Aku tahu hyung, aku akan segera mencari mereka. Aku yakin mereka tidak akan pergi terlalu jauh." Seokjin memberikan anggukan pelan sebagai tanda bahwa ia mengamini ucapan Namjoon. "Kau tidak apa-apa sendirian disini?" Namjoon memutar pelan tubuh Seokjin, membuat pria yang lebih pendek darinya itu berbalik menghadapnya.
"Ya, pergi 'lah dan bawa mereka pulang." Namjoon menatap kedua iris karamelnya dalam, sebelum akhirnya memberikan kecupan manis pada bibir plump milik mate-nya, ini kali pertama ia akan berjauhan dengan Seokjin setelah menghabiskan tiga hari penuh bersamanya, sejujurnya, hal itu membuat Namjoon sedikit gugup.
Dengan bergandengan tangan mereka berdua berjalan menuju teras bersama-sama. Namjoon berpamitan, "Baiklah, hati-hati lah di rumah, hyung." Ia memberikan kecupan terakhir di kening Seokjin sebelum akhirnya melangkah menjauh dari rumah itu setelah beberapa kali menoleh ka arah pria yang terus melambaikan tangannya di teras rumah.
Setelah punggung Namjoon menghilang di balik semak belukar dan masuk jauh ke dalam hutan, Seokjin memutuskan untuk menunggu dan menghabiskan waktu di dalam, membaca buku atau kembali membereskan rumah dari debu yang masih menempel. Dahulu, ia sudah biasa sendirian di dalam rumah, tapi jika sudah terbiasa dengan keramaian Namjoon, Jungkook, adiknya dan teman-temannya yang lain, menunggu seperti ini membuatnya cukup merasa bosan. Belum ada satu jam sejak Namjoon pergi mencari mereka, tapi Seokjin tak mampu menghilangkan rasa bosannya, buku yang ia baca sama sekali tak menarik perhatiannya, debu di yang menempel 'pun sudah sirna dan berganti dengan semburat kerlip yang memantulkan bayangan pertanda bahwa rumah ini terbebas dari debu dan jelaga.
Setelah menimbang keputusannya, Seokjin memutuskan untuk pergi ke luar, menghabiskan waktu di pinggir pantai sepertinya menyenangkan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mencium aroma laut, berjalan beberapa menit disana tidak akan membuat Namjoon dan yang lainnya mencari keberadaannya saat mereka kembali nanti, 'toh ia hanya berjalan santai di pinggir pantai sebentar saja, ia akan kembali sebelum Namjoon datang mebawa Jungkook dan teman-temannya pulang.
Seokjin memutuskan untuk tidak mengunci pintu. Ia melangkah mengikuti suara ombak dan menenteng sepatunya di tangan untuk bertelanjang kaki, karena jalanan yang ia telusuri adalah pasir putih lembut tanpa adanya kerikil. Deru suara ombak terdengar dari balik batu besar yang memisahkannya dengan lautan, aroma asin kian tajam menggelitik indera penciumannya, kilauan lembayung senja nampak begitu indah seirama dengan angin yang menerpa wajahnya yang kian sumringah saat lautan terpapar indah di hadapannya.
Beberapa langkah kemudian kaki Seokjin menyentuh bibir pantai, ia menggulung celana jeans yang ia kenakan saat ayunan ombak perlahan menghampirinya, membasahi jemari kaki dan telapaknya, membuat Seokjin tertawa kegirangan karenanya.
"Siapa?"
Seokjin terlonjak karena terkejut, ia menjatuhkan sepatunya hingga akhirnya sepasang alas kaki itu basah terkena air laut. Seorang pemuda yang tak ia kenali, entah sejak kapan berdiri di belakangnya, memberhatikan dengan raut sendu terpatri di wajahnya yang tampan, dari aromanya, ia bukan manusia.
Kedua iris karamel Seokjin membelalak, dan ia melangkah mundur saat pemuda itu mendekatinya dengan wajah penasaran. Kenapa ada seorang werewolf disini? Dan mengapa Seokjin sama sekali tak merasakan kehadirannya yang entah sejak kapan berdiri disana, mengawasinya?
"Maaf, apa aku mengejutkanmu." Seokjin tak mampu mengeluarkan sepatah kata, ini bukan pertama kali dirinya dihadapkan pada seorang werewolf tak dikenal saat sedang sendirian. "Namaku Gongchan." Ia sendikit heran saat werewolf asing itu memperkenalkan diri seraya tersenyum ramah. Gongchan? Seokjin tak pernah mendengar namanya, tapi ia tak akan tertipu dengan mudah dengan keramahannya.
"Se-sepertinya aku membuatmu takut. Uh, aku akan segera pergi, maaf." Kali ini werewolf muda itu tersenyum canggung padanya, ia hendak pergi menjauh, tetapi Seokjin mencegat kepergiaannya dan berkata, "Tunggu."
"Kau, sendirian?" Seokjin harus segera melaporkannya pada Namjoon, jika mereka tak 'sendirian' disini. "Mana kawananmu?" Seokjin yang sebelumnya memasang kuda-kuda untuk siap melawannya jika ia berniat buruk kembali berdiri tegap, dari penciumannya ia tak menemukan kehadiran asing lainnya selain dari pemuda beraroma lily itu.
"Aku sendirian," kening Seokjin berkerut, Gongchan adalah seorang Lonewolf, werewolf tanpa kawanan, ia tak dapat mempercayai werewolf asing mana 'pun termasuk lonewolf, tetapi Gongchan sedikit berbeda, ia tahu bagaimana caranya bersikap di hadapan werewolf yang juga asing baginya seperti Seokjin, kebanyakan seorang werewolf yang berkelana sendirian memang tak begitu mengancam, mereka bersikap berang karena merasa teracam, jika wilayah ini adalah teritori Namjoon, mungkin Seokjin sudah mengusirnya, tapi dahulu, pantai ini milik Hakyeon, Seokjin tak bisa memutuskan untuk mengusirnya atau tidak.
"Aku selalu datang kesini setelah berburu di hutan. Maafkan aku." Gongchan membungkuk, meminta maaf pada Seokjin yang menatapnya tanpa ekspresi yang berarti. Dalam benaknya Seokjin berpikir, mungkin ia akan bersikap lunak kali ini, mungkin Gongchan adalah seorang lonewolf yang tak akan mengganggunya.
"Tidak, tidak apa-apa." Seokjin menjawab maafnya seraya tersenyum tipis, ia kira Gongchan akan segera pergi setelahnya tapi pemuda itu tetap pada posisinya dan membalas senyumnya dengan cengiran lebar.
"Kau omega tercantik yang pernah kutemui." Pujian itu mengundang tanya dalam benak Seokjin, omega? Siapa omega? Aku? Kedipan matanya bergerak cepat, ia kebingungan, dan reaksinya itu mengundang gelak tawa dari Gongchan. "Alpha-mu adalah orang yang sangat beruntung." Kali ini, pujian yang Gongchan berikan berhasil membuat Seokjin tersipu, bukan karena ia memujinya cantik, tapi karena ia tak mampu menahan gejolak di dadanya saat akhirnya orang lain menyadari bahwa dirinya sudah menjadi milik seseorang, dan orang itu adalah Namjoon-nya.
"Sudah hampir malam, sebaiknya kau kembali." Gongchan melangkah mendekatinya, membuat Seokjin mengambil ancang-ancang jika ia tiba-tiba menyerang, tapi yang Gongchan lakukan hanya mengambilkan sepasang sepatu yang tadinya jatuh untuk Seokjin. "Ngomong-ngomong, boleh aku tahu namamu?" Kilauan mata jernih Gongchan dan senyum tulusnya membuat Seokjin melemaskan bahunya seraya bernafas lega, bodohnya ia karena dirinya terlalu curiga, jelas-jelas Gongchan telah bersikap ramah padanya, ia percaya bahwa pemuda yang baru saja ia temui itu tidak berbahaya.
"Namaku Seokjin, Kim Seokjin." Seokjin menbalas senyumannya sambil meraih sepatu dalam genggaman Gongchan yang tersenyum kian ceria, "Terima kasih." Tambahnya.
"Ok, Seokjin-ssi, sampai bertemu lagi." Gongchan melambaikan tangannya dan melangkah menjauh, masuk ke dalam hutan pinus yang tak jauh dari pantai. Seokjin berdiri termangu menatap kepergiannya, apa barusan, Gongchan mengatakan bahwa mereka akan bertemu kembali? Ia selalu datang ke pantai ini sesudah berburu, jadi mungkin saja mereka akan bertemu lagi. Lagi pula, tidak ada salahnya jika Seokjin memiliki teman baru.
to be continued
note :
Akhirnya~ selesai di detik-detik terakhir jadwal saya post ff :') maaf kalau banyak kekurangan karena saya 'ngebut'. Akhir-akhir ini saya kurang tidur karena masalah kerjaan, jadi sedikit bikin saya stress :(
Saya rasa chapter ini kurang maksimal, saya harap reader-nim berbaik hati memberikan kritik atas kesalahan saya di chapter ini :')
Adengan smut-nya juga saya ketik dini hari sambil makanin chocoball hahaha makanya kalau gaje gitu, mohon maaf *sujud*
massive thanks to :
AppleCaramelMacchiatodat bunny terinspirasi dari Monie, puppy peliharaan Namjoon irl hehehe saya sudah merencanakan masa depan yang indah untuk Hoseok, bersama dengan saya tentunta muahaha *ketawa jahad* bagaimana chapie ini? Apple-nim suka kah?
rayvin2529
WAAAAHHH~ Ada Bana!! *hug hug* sudah ada petunjuk tentang Gongchan di chapie ini fufufu~ dan adegan smutnya... maaf saya yang nulis kurang puas... bagaimana dengan Rayvin-nim?
Irena Kusumadewi
Ini lanjutannyaaaaaa~ thank you uwu
Guest
Hahaha maaf sudah menunggu lama~ terima kasih huhuhu tapi saya masih rada insecure sama tulisan saya sih...
Goldenaidakko
は〜い 春が来たからそろそろ花見に行くわ 笑 酒を飲んだり、桜を見たり、そして唐揚げを食るのはお楽しみです!
I PURPLE YOU GUYS SO MUCHREADER-NIM ARMY YOROBUN DEUL JANGAN LUPA PRE ORDER MAP OF THE SOUL : PERSONA YAAAA!!!
