Light on Me
Genre : Romance, and Tragedy
Pair : NamJin, and slight YoonMin and TaeKook
Rate : M
Warning : Explicit and Character Death
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
(Chapter 4, Reminder)
Namjoon harus segera memberikan pendapatnya. Hoseok terus menatapnya, Jungkook juga, dan Taehyung yang tepat berada disampingnya kini tengah melirik padanya.
Seokjin adalah omega.
Namjoon sudah tahu, ia 'lah orang pertama yang tahu, hanya saja Namjoon masih ragu saat itu. Satu tahun setelah Ken mengubahnya, wolf dalam diri Seokjin mepresentasikan dirinya sebagai omega, utuh dan tak memiliki cela. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah presentasi dirinya sebagai omega akan berbahaya untuk Seokjin? Pasti 'lah jawabannya adalah 'Iya'.
"Seokjin terlahir sebagai manusia.. dan ia laki-laki." Hoseok mengulang apa yang sebelumnya mereka bahas, jujur saja ia khawatir tapi Namjoon yang sekarang ini adalah mate sah dari Seokjin pasti lebih merasakannya, "Omega laki-laki itu sangat jarang dan aku takut Seokjin hyung tidak akan terbiasa dengan apa yang akan terjadi pada tubuhnya nanti." Untuk saat ini emosi Namjoon lebih stabil dibandingkan dengan Jungkook, yang adalah adik kandung Seokjin. Sejak tadi maknae mereka itu memang diam dan hanya memperhatikan, namun terlihat raut kegusaran pada wajahnya walau ia berusaha untuk tetap tenang seperti yang Taehyung perintahkan padanya tadi.
"Aku yakin Jin hyung akan baik-baik saja." Namjoon menyunggingkan senyum tipisnya, dibalik rasa cemas yang melanda benaknya, hadir perasaan bahagia yang tak terbendung saat akhirnya ia mengetahui kebenaran bahwa Seokjin-nya adalah seorang omega. "Selama kita terus mendukung dan membantunya, aku yakin Jinseok-ku dapat menerima keadaannya."
Namjoon memang tidak mengharapkan apa-apa, baginya, terus bersama dengan Seokjin dan keluarga kecilnya adalah hal yang lebih dari cukup untuknya merasakan kebahagiaan, tetapi membayangkan bahwa ia dan Seokjin akan memiliki seorang anak yang mengalirkan separuh dari darah mereka membuat Namjoon merasa lebih lengkap.
Tapi Jungkook tidak sependapat dengannya, adik dari Seokjin itu tidak dapat membayangkan hal yang sama dengan alpha mereka, seraya berbisik lirih ia berjalan ke depan, berpamitan, "Aku harap juga begitu, tapi pengetahuan kita tentang omega masih sangat minim dan aku tidak mau hyung-ku jatuh ke dalam situasi yang berbahaya, lagi." Tanpa memandang kebelakang, Jungkook berusaha menyembunyikan kegundahan yang membuncah dari dalam hatinya dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Hyung, aku akan pergi ke tempat Jin hyung lebih dahulu, ia tak boleh ditinggal sendirian." Setelah berkata demikian, Jungkook berlari begitu saja, menjauhi mereka.
Dalam langkah cepatnya Jungkook sedikit menyesal telah memberi tanggapan dan berucap dengan dingin pada alpha mereka. Sedari dulu Jungkook selalu mengaggumi dan menghormati Namjoon, ia selalu memandang sosok pemimpin mereka itu seperti ia memandang sang ayah. Tapi Jungkook memiliki alasan untuk bersikap demikian, Seokjin adalah satu-satunya saudara kandung yang ia miliki, dan menurutnya, situasi kakaknya yang merupakan seorang omega adalah bencana.
Karena Jungkook pernah mendengar sebelumnya, seorang omega laki-laki memiliki resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan omega perempuan karena mekanisme dan organ tubuh mereka tak mampu untuk terbiasa menerimanya begitu saja, terlebih saat melahirkan. Jungkook juga sering kali mendengar, bahwa saat omega laki-laki melahirkan, seseorang harus membelah atau membedah perutnya, dan kebanyakan dari omega tersebut meninggal saat proses itu berlangsung. Seandainya mereka memiliki jurnal marminy, setidaknya mereka bisa meminimalisir bahaya yang akan terjadi nantinya pada Seokjin.
Saat ini Jungkook ketakutan karena mereka tidak tahu apa-apa. Mungkin memang saat ini Seokjin baik-baik saja, tapi mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dan hal itu membuat Jungkook dilanda kegundahan yang kuar biasa.
"Jungkook." Saking sibuknya Jungkook pada kekalutannya, ia tak menyadari bahwa Taehyung berlari menyusulnya, mungkin Namjoon yang menyuruhnya.
"Tenangkan dirimu."
Diantara semua anggota keluarganya, Taehyung selalu berhasil membuatnya merasa damai disaat genting, tapi tidak kali ini, Jungkook membiarkan emosi menguasai tubuhnya. "Aku tidak akan melihat hyung-ku sekarat lagi, atau aku akan memberontak pada kawanan ini." Ancam Jungkook, ia sendiri tak tahu apa yang ia katakan, ia tak tahu apa dirinya memang sungguh-sungguh pada ucapannya, tapi kalimat yang barusan ia lontarkan cukup membuat Taehyung menjegal lengannya dan menampar wajahnya.
'Plak'
Jungkook terkejut, bukan karena rasa panas yang membara di pipi kanannya, tapi oleh wajah sedih Taehyung disertai isak tangisnya yang membuncah tiba-tiba. Dengan suara yang hampir tercekat, Taehyung berkata, "Kau pikir hanya kau saja yang ketakutan dan merasa kesal karena kau tidak tahu apa-apa tentang omega dalam diri Jin hyung...?" Jungkook bungkam, ia tak mampu berkelit, dan rasa sesal yang dalam merambat di dadanya, Taehyung adalah sosok yang paling ceria dan jarang menangis, melihatnya seperti ini menghancurkan hati Jungkook.
"Tolong jangan sembarangan bicara, jangan katakan kalau kau akan meninggalkan kawanan ini, meninggalkan keluargamu, dan meninggalkan aku seperti itu lagi," Memberontak sama artinya dengan pergi meninggalkan kawanan mereka, Taehyung mengerti hal seperti itu dan ia harap Jungkook tak serius akan ucapannya, "Aku percaya Namjoon hyung, aku percaya seluruh keluargaku, dan aku yakin kau juga sama. Seokjin hyung akan baik-baik saja, kita semua akan melindungi satu sama lain." Kali ini Taehyung berucap dengan nada yang lebih lembut dan ia harap Jungkook sependapat dengannya.
Satu helaan nafas pelan Jungkook hembuskan, tamparan yang Taehyung berikan dan kata-katanya yang ia ucapkan cukup untuk membawa Jungkook kembali berpijak diatas bumi, ia menyadari bahwa dirinya memang tak seharusnya bersikap tidak pantas dalam situasi seperti ini, Taehyung benar, ia harus tenang dan percaya pada keluarganya, terutama pada alpha mereka, Namjoon.
"Baik hyung, maafkan aku."
"Katakan maafmu juga pada Namjoon hyung." Jungkook mengangguk pelan, Taehyung berhenti terisak dan ganti meminta maaf seraya menyentuh dengan lembut pipi kanan Jungkook yang sebelumnya ia tampar dengan cukup keras, "Maafkan aku juga, apa masih sakit?" Kali ini Jungkook menggeleng seraya membalas senyum salah satu dari hyung-nya itu, membuat Taehyung bernafas lega dan akhirnya mereka melanjutkan langkah kaki yang sebelumnya terhenti menuju ke tempat dimana Seokjin telah menunggu mereka.
mamoru.
Namjoon mengerti akan sikap Jungkook, dan ia percaya Taehyung dapat meyakinkannya dan membuatnya tenang karena ia tahu, Taehyung adalah orang yang paling dekat dengan Jungkook dianatara mereka, tanpa Namjoon menyuruhnya, Taehyung telah pergi menyusul kepergian maknae mereka.
Terlepas dari semua itu, akhirnya Namjoon dapat menemukan keberadaan Jimin dan Yoongi, tapi keadaan mereka berbeda dengan Hoseok, Taehyung dan Jungkook yang terlihat tenang dan biasa saja saat ia menemukan mereka di dalam hutan. Di pinggir jalan yang sepi dan berlubang, Yoongi dan Jimin duduk di dalam mobil yang jendelanya terbuka sepenuhnya, raut wajah mereka seperti orang yang baru saja melihat iblis dan Namjoon mau 'pun Hoseok dapat merasakan hal yang sangat buruk sedang atau akan terjadi lewat ekspresi wajah yang mereka tunjukkan.
"Hyung? Jiminnie?"
Di sana Yoongi menjelaskan tentang penyelidikan yang mereka lakukan terhadap pendeta yang baru saja datang itu. Mendengar dari mulut hyung-nya sendiri bahwa pendeta tersebut ternyata memiliki niat untuk melakukan pengusiran dan telah memburu mereka selama tiga hari ini, Jimin bahkan mengatakan kalau beberapa saat lalu mereka hampir ketahuan oleh salah satu pria yang membawa senjata berupa pistol yang berisi peluru perak, yang tak lain adalah senjata untuk membunuh werewolf seperti mereka.
"Maaf Namjoon-ah/hyung." Yoongi dan Jimin sama-sama meminta maaf, karena dalam penyelidikan mereka, jejak yang seharusnya bersih akhirnya terlihat, itu 'lah sebabnya Namjoon menemukan keberadaan Yoongi dan Jimin sangat jauh dari tempat mereka tinggal saat ini. Mereka berdua sengaja melarikan diri ke atas bukit agar pendeta dan orang-orang kepercayaannya mengikuti jejak mereka ke sana, bukan ke arah pantai.
"Tidak, kumohon jangan minta maaf. Aku sangat mengapresiasi atas apa yang kalian lakukan, tapi hal ini sangat membahayakan nyawa kalian, untuk itu kuucapkan terima kasih atas kerja keras kalian dan terima kasih sudah tidak tertangkap oleh mereka." Bagi Namjoon, keselamatan keluarganya adalah yang terpenting, informasi yang mereka dapatkan berkat Yoongi dan Jimin memang sangat bermanfaat bagi mereka, dan membuat Namjoon terhindar dalam mengambil keputusan yang gegabah nantinya.
Sebisa mungkin Namjoon dan yang lain menghindari pertempuran, bukannya bertindak layaknya pengecut, tapi hal ini adalah keputusannya untuk melindungi keluarganya, terlebih lawan mereka saat ini adalah manusia, yang sudah sangat jelas tertulis dalam hukum mereka kalau mereka tak boleh membunuh seorang manusia, walau terdapat pengecualian jika manusia tersebut mengancam nyawa mereka, tapi sebisa mungkin Namjoon dan kawanannya tak menimbulkan perpecahan antara mereka dan manusia, terlebih mereka memiliki omega saat ini, mereka juga harus fokus pada Seokjin.
"Bagaimana dengan tanggapan masyarakat sekitar?"
Jimin menggeleng seraya berkata, "Sepertinya pendeta itu tak berniat untuk melibatkan manusia lainnya, warga sekitar tak tahu apa-apa, untuk itu Yeonjun tak mengatakan apa-apa padaku." Melihat raut wajah Hoseok yang sepertinya sedikit meragukan ucapannya, Jimin melanjutkan, "Aku yakin seratus persen akan ucapanku hyung, kali ini warga sekitar tak terlibat."
Jika mereka boleh jujur, mereka tak ingin pertempuran 14 tahun yang lalu terulang kembali. Pertempuran antara manusia dan werewolf. Banyak werewolf yang tewas saat itu karena mereka tak mampu melawan manusia, selain jumlah mereka yang jauh lebih sedikit, hukum mereka juga melarangnya. Untuk itu sebagian besar dari mereka memilih untuk bersembunyi dan melarikan diri, sayangnya banyak dari mereka yang tak mampu untuk melakukannya dan memilih untuk mencegat manusia yang memburu sisa dari keluarga mereka, sehingga mereka 'pun tewas, termasuk ayah dan kakek Namjoon, keluarga Yoongi, Hoseok dan Taehyung, serta kakek, ayah dan ibu Jungkook dan Seokjin, juga Jimin, yang hampir terbunuh saat itu.
Dan jika memang pendeta tersebut tak melibatkan manusia lainnya yang tinggal di bukit ini, pasti sang pendeta memiliki motif tersendiri yang menurutnya cukup untuk memburu mereka nanti.
"Aku juga menemukan informasi bahwa pendeta itu datang bukan dari negeri ini, ia berasal dari luar, aku mendengar tempat bernama Budapest." Hungaria. Ia datang dari tempat yang begitu jauh hanya untuk memburu dan 'mengusir' mereka. Namjoon berpikir keras, kedatangan pendeta tersebut pasti sangat mengancam, "Pendeta Jung memang orang Korea, tapi ia telah menetap disana sejak kecil." Jimin melanjutkan.
"Kurasa hal itu akan menguntungkan." Yoongi memberikan opininya, "Ia hanya akan setahun disini 'kan? Bila ia terus gagal menemukan kita, ia akan kembali ke tempat asalnya." Terdengar menguntungkan tapi juga merugikan, ia mengutarakan sebuah tanya, berharap agar Namjoon dan yang lain memberikan opini mereka pada ucapannya, "Tapi ia bisa kembali kapan saja, ia akan terus memburu kita hingga dapat." Menyelidiki pendeta Jung selama tiga hari, yang bisa Yoongi dan Jimin simpulkan adalah, pendeta tersebut adalah orang yang ambisius.
"Untuk saat ini tetap 'lah waspada," kali ini Namjoon memberikan keputusan finalnya, "perhatikan apa 'pun yang mencurigakan terlebih pada sesuatu atau seseorang yang membuat insting kalian dalam bahaya," sang alpha menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan, "jika memang sudah mengancam nyawa, kalian diperbolehkan untuk membunuh siapa 'pun, dan jika hal yang paling buruk akan terjadi, kita tinggalkan bukit ini dan mencari tempat tinggal baru."
Hoseok, Yoongi dan Jimin tak mampu menyembunyikan rasa terkejut mereka akan keputusan yang Namjoon ambil. Membunuh manusia dan meninggalkan tempat dimana mereka lahir dan tinggal? Ada dua hukum yang akan mereka langgar, pertama, mereka akan membunuh manusia dan kedua, mereka harus meninggalkan tempat yang seharusnya mereka lindungi.
"Namjoon..."
"Aku tak ingin siapa 'pun menyakiti keluargaku."
Keputusan alpha adalah mutlak, dan Yoongi, Hoseok serta Jimin memahaminya, lagi pula mereka sangat setuju dengan apa yang Namjoon katakan. Persetan dengan hukum, bila hal itu dapat menyakiti keluargamu, maka langgarlah!
mamoru.
Akhirnya mereka kembali berkumpul kembali, Namjoon masih mendiskusikan sesuatu dengan Yoongi dan Jimin, sedangkan Taehyung dan Jungkook pergi untuk berburu, kali ini giliran Hoseok yang akan melatih Seokjin mengenai sensibilitas seorang werewolf. Hoseok memilih lokasi yang dekat dengan air terjun untuk sesi latihan mereka, ia rasa air terjun adalah tempat yang pas untuk melatih seberapa sensitif indera pendengaran dan penciuman Seokjin karena suaranya yang bising dan aroma tanah serta riak air mampu menutupi bau dari mahluk lain di sekitar mereka, sama halnya seperti hujan.
"Uh... Hoseok-ah? Apa kau harus berdiri sejauh itu?" Air terjun menghujam diantara tebing yang menjulang, Seokjin berdiri di sisi yang berlawanan dengan Hoseok, sejujurnya ia takut melihat kebawah dan memilih untuk berpegangan pada pohon akasia yang menjulang disampingnya. Seokjin tahu Hoseok menjawabnya, tapi pria itu hanya membisikan sebuah kata, berbeda dengan dirinya yang harus berteriak tadi agar suaranya mampu didengar. Hoseok tengah menguji sensibilitas pada pendengarannya.
"Hah?" Suara hujaman air terjun menutupi apa yang Hoseok ucapkan, Seokjin tak diperbolehkan untuk membuka kedua matanya, karena dari sudut penglihatannya ia dapat melihat gerak bibir pria yang berdiri diseberangnya, membuat Seokjin harus ekstra konsentrasi untuk menajamkan indera pendengarannya.
'Seokjin-ah hamster.'
'Kaki Seokjin pendek'
'Dengan begini aku akan bebas untuk memanggilmu tanpa sebutan 'hyung'~'
"Ya! Aku bisa mendengar yang kau katakan barusan, dasar tidak sopan!" Seokjin bertolak pinggang, ia merasa kesal tentang apa yang barusan ia dengar terlebih Hoseok yang kini tertawa terbahak melihat reaksinya.
"Selamat hyung, kau berhasil." Raut sebal Seokjin berganti menjadi raut kegirangan, ia merasa senang saat Hoseok mengucapakannya terlebih dengan wajah tampan pria itu yang menggambarkan betapa bangga dirinya karena Seokjin telah berhasil pada tes dan latihan yang ia berikan.
"Selanjutnya kita pindah tempat tapi tidak terlalu jauh dari sini." Seokjin mengikuti arah pandangan Hoseok yang menujuk ke arah hulu sungai. Masih pada posisinya di seberang sana, Hoseok melangkah dan gerakannya diikuti Seokjin, mereka berjalan tak terlalu jauh dari air terjun, suara gemuruhnya masih dapat didengar tapi tak sekeras tadi. "Aku sudah menyimpan tiga jenis bunga di dalam air yang sudah kumasukan ke dalam kain, dua diantaranya beracun, dan satu dari mereka tak memiliki aroma, apa kau bisa menebaknya hyung?" Kali ini indera penciuman, dan tantangan yang Hoseok berikan lumayan sulit karena sejak tadi, yang mampu Seokjin cium hanyalah aroma tanah dan air.
"Apa aku boleh berjongkok?" Hoseok mengangguk, dan Seokjin duduk berjongkok untuk mendekatkan dirinya pada objek yang harus ia tebak, airnya memang jernih tapi alirannya yang cukup deras mampu mengalihkan ketajaman penciumannya dari aroma bunga di dalam sana. Seokjin membuat dirinya fokus, dan ia mencium aroma yang paling tajam diantara bunga yang lain.
"Dalam kain merah ini ada bunga poppy di dalamnya." Seokjin berujar seraya menunjuk kain yang terletak paling ujung, kain tersebut sudah diikat dengan tali yang tersambung dengan batu hingga tenggelam tapi tidak hanyut terbawa arus, "Ah, satu lagi bunga daffodil." Seokjin menunjuk kain disebelahnya, kemudian ia menatap wajah Hoseok yang mengangguk seraya tersenyum lebar, tinggal satu bunga yang belum berhasil ia tebak, Seokjin berpikir keras.
"Bunga.." Seokjin sudah merasa yakin akan jenis bunga yang akan ia tebak, tapi seketika seluruh tubuhnya terasa kelu, indera penciuman, pendengaran hingga penglihatannya melemah, tengkuknya bagai terdorong dengan kuat oleh angin yang seolah berhembus menembus tulangnya.
'A-apa yang terjadi? Ada apa dengan tubuhku?'
Seokjin berusaha tenang, ia hendak berdiri namun tubuhnya memberat dan suara-suara air terjun yang semula bising dan gesekan dedaunan yang ditiup hembusan angin sudah sama sekali tak dapat ia dengar. Pandangan yang awalnya jelas melihat air mengalir dan siluet Hoseok diantaranya kini mulai mengabur dan akhirnya menggelap sempurna, ia tak dapat melihat apa 'pun. Untuk kesekian kalinya, tubuh Seokjin menggigil dan tanpa ia sadari peluh mulai mengalir diantara pelipis dan leher putihnya.
Bagai kilat yang menyambar tiba-tiba, Seokjin seketika kehilangan kesadarannya. Hoseok bergerak cepat sampai Seokjin tak jatuh ke dalam air, ia menangkap tubuhnya dan menyangga leher dan pinggang hyung-nya dengan kedua lengannya. "Jin hyung?!" Pekik Hoseok saat melihat wajah Seokjin yang hampir membiru, bibirnya pucat dan tubuhnya menggigil. "Tidak, tidak, tidak!" Tanpa pikir panjang, Hoseok segera membawa tubuh Seokjin untuk segera menjauh dari sana, dan kembali ke kediaman mereka.
Jimin adalah orang pertama yang melihat terkulai lemasnya tubuh Seokjin dalam gendongan Hoseok di punggungnya. Ia menjatuhkan seluruh dedaunan yang awalnya sengaja ia cari dan berikan pada Monie, kelinci putih milik Seokjin. "H-hyung?" Jimin bereaksi sama kalutnya dengan sosok yang baru saja ia panggil 'Hyung'. Hoseok tak berkata apa-apa, ia segera membaringkan tubuh Seokjin diatas ranjang dan memeriksa keadaannya, Jimin mengekorinya, ia memeriksa seluruh tubuh Seokjin dan melihat bahwa sama sekali tidak ada luka atau tanda-tanda cidera parah seperti yang awalnya ia duga.
"Seokjin hyung demam?" Wajah pucat, nafas tersengal, dan bibir kering, serta kehilangan kesadaran, tubuhnya sedingin es namun peluh membanjiri wajah, leher, hingga punggungnya, "K-kenapa bisa?" Jimin kembali bertanya, tadi pagi ia melihat satu-satunya omega dalam kawanan mereka masih baik-baik saja, tetapi hanya berselang beberapa jam, kondisi tubuhnya berubah drastis dan hal itu membuat Hoseok mau 'pun Jimin ketakutan.
"Hyung, apa yang harus kita lakukan?"
"Mana Namjoon?" Hoseok berusaha bersikap tenang, kondisi Seokjin sekarang ini pasti berefek pada Namjoon. Sesungguhnya, Hoseok berasumsi jika Seokjin memang demam, tapi bukan demam biasa. Ia pernah melihat seseorang seperti ini sebelumnya, kondisi Seokjin sekarang ini sangat mirip dengan Jimin dahulu, saat ia baru saja mendapat gigitan 'mematikan' dari Leo yang membuatnya menjadi seorang new born werewolf.
"A-aku akan memanggilnya." Sejujurnya Jimin tidak tahu dimana Namjoon berada, beberapa saat yang lalu, alpha dan mate-nya Yoongi pergi untuk memeriksa teritori baru mereka, tapi Jimin yakin kalau mereka belum jauh karena ia bisa merasakannya.
Hoseok mengangguk mengerti, dan Jimin segera berlari keluar, ia harap Jimin dapat menemukan Namjoon segera. Di rumah kayu ini hanya tinggal dirinya dan Seokjin yang masih tak sadarkan diri. Hoseok menggapai pergelangan tangan Seokjin, dan menekankan jari telunjuk dan tehnya di permukaannya. Hoseok memeriksa denyut nadinya, ia menahan nafas ketika merasakan betapa lemah dan lambatnya denyut nadi Seokjin.
"Aku butuh air." Hoseok berada dalam dilema, ia butuh air dan handuk untuk menyeka tubuh berpeluh Seokjin tetapi ia tak bisa meninggalkannya begitu saja. "Namjoon cepat 'lah datang." Hoseok berharap, ia menatap wajah pucat pria yang terbaring dihadapannya dengan penuh kekalutan. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Seokjin, Hoseok meraih selimut di ujung ranjang, ia melipat bagian tipisnya untuk menyeka peluh sebesar biji jagung di pelipisnya.
"Ja-Jaehwan..." Hoseok tersentak ketika Seokjin mulai menggumamkan sebuah nama, ia mendekatkan wajahnya, dan bertanya dalam hati, kenapa nama 'Jaehwan' atau Ken yang keluar dari bibir bergetar Seokjin. Setelahnya, Hoseok mendengar rintihan dan pekikan lemah, seperti orang yang kesakitan, Seokjin membalas genggaman tangan Hoseok dengan erat, sangat erat hingga buku jarinya memutih. Tanpa memperdulikan rasa nyeri akibat remasan tangan Seokjin pada tangannya, Hoseok menggumamkan kata-kata bahwa ia tak sendirian, bahwa dirinya ada bersama dengan Seokjin dan ia akan baik-baik saja.
"Jin!!"
Pintu kamar tersebut terhempas dan terbuka lebar, membawa Namjoon serta Yoongi masuk dengan nafas yang tersengal. Hoseok menatap mereka dalam diam, tak mampu berkata-kata, pandangannya tertuju pada Namjoon dan sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang ia bayangkan mengundang perhatiannya, "Namjoon, kau baik-baik saja?"
Namjoon tampak sehat, ia memang terlihat tak baik-baik saja karena rasa kalut dan ketakutan terlihat jelas pada wajahnya tapi kondisi fisiknya menunjukkan kalau ia memang sehat. "A-apa yang terjadi?" Namjoon akhirnya bertanya, ia menggantikan posisi Hoseok yang duduk bertumpu dengan lutut di samping Seokjin, "Jinseok... Kenapa dengan Jinseok?" Sepertinya Namjoon belum menyadarinya. Mereka sudah menjalin sebuah ikatan sakral berupa mating kemarin, seharusnya, kondisi Seokjin saat ini pasti berpengaruh dengan fisik Namjoon, dan nampaknya ia baik-baik saja. Sesuatu yang tak biasa telah terjadi.
"Aku tidak tahu." Hoseok berusaha menahan tangis, Yoongi yang berdiri di belakang mereka masih terdiam, "Saat aku mencoba melatih sensibilitasnya, tiba-tiba, ia jatuh pingsan dan sudah seperti ini." Meskipun memang bukan salahnya, tapi Hoseok tetap merasa bersalah karena Seokjin seperti ini saat ia bersamanya, menurut Hoseok, seharusnya Seokjin beristirahat di rumah pasca mating, sehingga kejadian seperti ini dapat dihindari.
"Namjoon, kau tak merasakan apa-apa?" Setelah keluar dari perasaan deja vu saat melihat Seokjin, Yoongi akhirnya berucap seraya berdiri lebih dekat. Namjoon tak langsung menjawabnya, membuat Yoongi menyuruh Hoseok untuk membantu Jimin mencari Taehyung dan Jungkook. "Namjoon?"
"Aku.." Namjoon tercekat, ia mengangkat tangannya untuk menggapai pipi Seokjin, "Beberapa saat yang lalu, alpha dalam tubuhku seolah memperintatiku tentang sesuatu." Yoongi mengerti, ia memejamkan matanya erat, berusaha meyakinkan dirinya kembali atas asumsi yang akan ia utarakan pada Namjoon.
Satu helaan nafas dalam, Yoongi hembuskan, "Kita harus menemukan jurnal itu sebelum terlambat," kata-kata yang Yoongi ucapkan berhasil membuat Namjoon menoleh padanya, "aku masih tidak yakin, tapi apa yang Seokjin hyung alami saat ini, terlihat sama seperti saat Jimin dalam proses perubahannya dahulu." Yoongi tahu betul kalau hal ini berbeda, Jimin memang demam hebat berhari-hari dan terus merintih karena rasa sakit yang melanda sekujur tubuhnya, sedangkan Seokjin, ia koma, jika mereka tak melihat nafas yang berhembus serta mendengar jantungnya yang berdetak, mungkin Seokjin seseorang akan mengiria ia adalah orang yang sudah mati, dan hal itu terjadi saat proses perubahannya.
Lalu mengapa? Apa yang terjadi sekarang? Apakah kondisi Seokjin yang mengkhawatirkan saat ini ada hubungannya dengan omega dalam dirinya? Dan mengapa hal ini terjadi sesaat setelah Seokjin menjadi mate sempurna Namjoon?
Segala tanya bersarang dalam benak Yoongi, ia bernafas sedikit lebih teratur saat melihat Seokjin yang mulai bereaksi dan nampaknya ia sudah menyadari jika Namjoon ada disampingnya.
"... Joon." Seokjin berusaha memanggil dan membuka matanya yang sayu, eksistensi Namjoon meringankan rasa sakitnya, "... -ah." Walau tidak terdengar jelas, tapi Seokjin memang memanggil namanya, Namjoon segera memberinya rengkuhan hangat serta kecupan di keningnya yang berpeluh.
"Aku disini, Jinseok-ku, aku disini." Dalam hatinya, Namjoon merasa kesal, ia marah dan kesal pada dirinya sendiri karena ia tak merasakan apa yang Seokjin rasakan, seharusnya rasa sakit yang mate-nya alami dapat dialami juga olehnya. Sejak tadi hanya wolf dalam dirinya terus meraung dalam kesedihan, entah apa maksudnya, tapi hal itu memperburuk kekalutan dalam benaknya. "Apa yang kau rasakan? Katakan 'lah padaku." Hanya lewat tindakan dan kata-kata, Namjoon harap, rasa sakit yang Seokjin rasakan dapat berkurang.
"... bergerak."
"Huh?"
"Ada sesuatu yang... bergerak."
Kedua iris zamrud Namjoon membelalak, ia kembali menoleh pada Yoongi yang bereaksi sama kagetnya dengannya. Yoongi yakin bahwa dugaannya memang benar, Seokjin memang berubah dua kali, dulu, ia berubah sebagai werewolf dan kini, ia berubah sebagai omega seutuhnya yang menuntut perubahan pada organ tubuhnya, itu 'lah alasan dibalik kondisi Seokjin saat ini.
Dalam diam Yoongi menggigit bibir bawahnya, mungkin saatnya ia bicara tentang kebenaran kali ini setelah menyembunyikannya cukup lama sebagai orang yang terlahir dari omega laki-laki, ia siap mengutarakan kesaksiannya, walau sepertinya, hal itu akan menghancurkan hati mereka, terlebih hati Namjoon dan Jungkook.
to be continued
[A/N]
Hey-ho!
Pertama-tama saya ingin mengucapkan maaf karena terlambatnya update dan hari ini saya hanya bisa meng-update satu cerita. Saya berencana akan meng-update mamoru juga hari ini tapi apa daya, saya tak sempat karena perjalanan bisnis saya diperpanjang hingga dua minggu, jadi saya harus curi-curi kesempatan buat ketik ff *deep bow*
Disini ada yang worker ARMY juga seperti saya? Nyari nafkah sambil ngidol itu lama bikin kayanya hahahaha
Sudah terbayang akan dibawa ke mana cerita dari Light on Me ini? Ceritanya akan lebih dark dari But, I Still Want You, so i warn you guys and please don't hate me hahahaha
massive thanks to :
cswistika
hahaha ena ena harusnya malem jumat *apa seh* aaaahhhh! I know that feel, saya juga sering main di animanga dan banyak cerita yang saya suka tuh kadang discont... maaf kali ini update saya lambat karena urusan pekerjaan, semoga chapter ini bisa menghibur kamu (tapi kayanya ngga) hahaha hmmm we'll see, di season satu saya udah berencana buat major chara death dan disini *smirk* tunggu aja ya~ terima kasih atas kata-kata penyemangatnya! HIDUP KAUM MASOOOOOOO!!1!!1!
rayvin
su-sungguh? *blush* jujur aja saya agak lemah nulis adegan smut, karena saya ga ada pengalaman(?) dan dapet pujian di adegan smut yang saya bikin jadi seneng banget~~ uwu hahaha Gongchan disini jadi *sensor* sama *sensor* soalnya dia *sensor* MUAHAHAHHA~~
goldenaidakko
桜がもう咲きましたよ!綺麗な花を見たで良かったわ〜 笑笑 桜の木の下でreader-nimを考えます!会いたいです!泣泣
I PURPLE YOU GUYS SO MUCH
