Light on Me

Genre : Romance, and Tragedy

Pair : NamJin, and slight YoonMin and TaeKook

Rate : M

Warning : Explicit and Character Death

Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.

(Chapter 5 : Future)

Jungkook sama sekali tak mengalihkan pandangannya, ia enggan beranjak, dan enggan untuk menuruti perintah hyung-nya, termasuk Namjoon. Taehyung hendak menggantikan posisi Jungkook, tapi ia terus menolak sampai suara lirih Seokjin mulai terdengar, "Jungkook-ah, aku sudah lebih baik sekarang." Setelah beristirahat dan terus mendapat penanganan yang tepat, Hoseok bilang demam Seokjin akan segera turun, dan benar saja, ia sudah jauh lebih baik sekarang.

Masih kental dalam ingatan Jungkook saat Jimin menghampirinya dan Taehyung di dalam hutan, wajahnya pucat pasi, dan disela nafasnya yang terengah, Jimin mengadukan keadaan Seokjin yang tiba-tiba tumbang saat berlatih bersama Hoseok beberapa hari yang lalu. Dalam wujud wolf-nya, Jungkook berlari tak menentu namun tujuannya hanya satu, yaitu untuk menemui sang kakak dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Seokjin masih hidup.

Sejak saat itu Jungkook selalu ada disampingnya, membiarkan Seokjin berbaring pada tubuh wolf-nya, memberinya kehangatan dan terus mengawasinya. Namjoon tepat berada disampingnya, turut menemani Seokjin dan tak pernah melepas genggaman tangan mereka. Sang Alpha memutuskan untuk menunda investigasi terhadap pendeta yang memburu mereka sampai kondisi Seokjin lebih baik.

"Jungkook-ah, Seokjin aman bersamaku, pergilah dengan Yoongi hyung dan Jimin." Ucap Namjoon, wajahnya terlihat lelah karena sudah empat hari ia tak tidur dan terus terjaga di samping Seokjin, dalam benaknya ia terus berharap agar rasa sakit yang Seokjin rasakan dapat terbagi padanya, ia juga berharap agar dirinya saja 'lah yang merasakan semua penderitaan itu. Walau demikian, setidaknya Namjoon masih dapat berpikir jernih untuk mendapat asupan energi dan pergi berburu walau hanya sebentar, ia tak boleh ikut sakit karena hal itu akan berdampak semakin buruk pada kondisi Seokjin, Namjoon sadar betul akan hal itu.

"Kau sudah berhari-hari diam disini dengan wujudmu itu dan hal itu tidak baik." Hoseok yang membawa satu basin berisi air berkata padanya, ia ada benarnya, jika Jungkook terus dalam wujud wolf-nya hal itu akan mengganggu sistem perubahannya yang akan berdampak buruk pada tubuh manusianya. "Jin hyung aman bersama kami, terlebih Namjoon tidak akan pernah meninggalkannya." Tambahnya seraya membasahi handuk yang telah ia siapkan untuk membasuh tubuh Seokjin.

"Jungkook-ah, pergilah, makan 'lah sesuatu, kau belum makan apa-apa 'kan?" Nafas Seokjin masih tersengal tapi ia sudah bisa bicara dengan satu tarikan nafas penuh, sesak di dadanya berkurang, namun rasa sakit di seluruh sendinya masih terasa kala ia bergerak.

Keraguan terpatri jelas di kilatan mata kebiruan Jungkook, Seokjin mengetahuinya, untuk itu ia membelai lembut wajah adiknya, meyakinkannya untuk kesekian kali dan akhirnya Jungkook menggeser tubuhnya, Taehyung telah siap menggantikan posisinya dan dibantu dengan Namjoon yang menyangga kepala dan punggung Seokjin, kini mate-nya itu bersandar dengan nyaman pada tubuh hangat wolf Taehyung.

"Pergilah dan hati-hati." Hoseok menepuk pelan bahu Jungkook yang masih berdiri memandangi sosok kakaknya, dan dengan batang hidungnya yang berbulu halus, Jungkook mengelus pelan pipi pucat Seokjin, ia berpamitan sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan tempat Seokjin berbaring. "Adikmu posesif sekali, hyung." Canda Hoseok seraya mencampur berbagai macam akar tumbuhan dan wewangian ke dalam air yang telah ia siapkan untuk membasuh tubuh Seokjin.

"Hei," Seokjin berbisik lembut pada Namjoon yang masih menggenggam tangannya, "aku bisa merasakannya." Namjoon mendongak, menatap langsung pada iris hazel Seokjin yang masih sayu, namun cahaya kehidupan di kedua bola matanya lebih bersinar dibandingkan tiga hari sebelumnya.

"Apa yang kau rasakan?" Namjoon mendekatkan wajahnya, ia mengecup pelan ujung hidung mancung Seokjin yang masih menghembuskan nafas hangat.

"Kekhawahtiranmu padaku," Seokjin mentenyentuh dimple di pipi Namjoon dengan jari telunjuknya, "aku bisa merasakannya." Kemudian ia membelai lembut pipi mate-nya itu dengan ibu jarinya. Selama kurang dari lima hari mereka telah terikat sempurna, Seokjin menjadi bagian salam diri Namjoon dan sebaliknya, apa 'pun yang Namjoon rasakan, Seokjin dapat dengan jelas merasakannya. "Aku sudah jauh lebih baik, kalian telah menjagaku selama ini. Terima kasih." Senyum Seokjin memang masih tersungging lemah, namun warna telah kembali pada bibir plump-nya.

"Jinseok," Kembali, Namjoon mendekatkan wajahnya pada wajah Seokjin, kemudian mempertemukan bibir mereka berdua dalam satu ciuman lembut, manis dan polos. Senyuman mengembang di bibir keduanya kala rasa manis terasa dalam kecupan yang diberikan satu-persatu.

"Alpha-ssi, Jin hyung, bisa 'kah kalian tidak melakukan itu? Sudah beberapa hari ini aku diam saja, tapi kalian sudah melakukannya terlalu sering sejak kemarin. Jin hyung memang sudah lebih baik, tapi bukan berarti kalian bisa bercumbu di depanku dan Tae yang masih dibawah umur, terlebih Jungkook. Dan kau, alpha, Kim Namjoon, aku harus membasuh tubuh Seokjin sekarang, minggir 'lah." Wajah tampan Hoseok semerah buah tomat karena menahan malu dan alis sebelah kirinya berkedut kala ia menyerukan kalimat protesnya.

"Hoseok-ah, ini bukan kali pertama aku dan Jin hyung-"

"Aku tahu! Tapi tetap saja! Pikirkan 'lah perasaan pria-pria single sepertiku dan Taehyung, Namjoon-ah!" Protes Hoseok sekali lagi, Namjoon dibuat bungkam karenanya dan Seokjin berusaha menahan tawa kala melihat pertengkaran kecil yang lumayan sering ia saksikan diantara Hoseok dan Namjoon.

"Maaf, Hobi." Seokjin mewakili Namjoon untuk meminta maaf karena mate-nya hanya berdiri mematung seraya bergerak perlahan-lahan untuk minggir dari samping tempat Seokjin berbaring, seperti yang Hoseok perintahkan padanya.

"Tidak apa-apa, hyung, aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya menyalahkan Namjoon." Dengan dagu yang sedikit mendongak, Hoseok menggantikan posisi Namjoon, kemudian ia membasuh tubuh Seokjin mulai dari pangkal lengannya dan tak memperdulikan lirikan sinis serta ujung bibir Namjoon yang naik sebagian.

Seokjin jatuh tertidur saat Hoseok menyelesaikan kegiatannya, Taehyung 'pun sama, dan saat mereka berdua tidur pulas, Namjoon mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Hoseok berdua di depan kamar Seokjin.

"Seokjin hyung masih mengira kalau apa yang ia alami hanya demam biasa." Hoseok berusaha bicara dengan suara yang ia buat sekecil mungkin, agar hanya dapat didengar oleh mereka berdua saja. Di hadapannya Namjoon menghela nafas pelan, ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya. Terlihat bahwa ia jauh lebih segar sekarang, memburuk atau membaiknya kondisi Seokjin ternyata memang berpengaruh padanya walau tak banyak.

"Bagaimana menurutmu, baiknya menyampaikan tentang ini semua pada Jin hyung?" Namjoon bertanya seraya mengintip pada celah pintu yang tidak tertutup sepenuhnya, melihat Seokjin yang tidur nyenyak membuat dadanya seolah memiliki ruang penuh kelegaan dan terlepas dari kegelisahan, "Kondisinya saat ini memang jauh lebih baik tapi kurasa, ia belum mampu menerima rentetan informasi sebanyak ini tentang perubahan pada tubuhnya."

Hoseok mengangguk, mengamini ucapan alpha mereka. "Kau benar, kita harus menunggu saat yang tepat untuk memberitahunya dan membantunya terbiasa terhadap omega dalam dirinya." Namjoon dan Hoseok saling bertatapan, lewat iris mata masing-masing mereka tahu bahwa cepat atau lambat, siap atau tidak siap, Seokjin harus segera mengetahui kebenaran yang ada tentang dirinya yang dapat dibilang baru saja terlahir kembali.

"Aku sudah menulis jurnal perubahan di tubuh Jin hyung, dan sampai sejauh ini belum ada perubahan yang signifikan." Hoseok menyerahkan buku catatan kecil seukuran saku pada Namjoon yang segera menerima dan membacanya. Note kecil itu sudah hampir terisi penuh, di dalamnya terdapat banyak catatan mengenai pola prilaku hingga perubahan fisik Seokjin selama beberapa bulan terakhir termasuk saat presentasinya sebagai omega dimulai.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Hoseok-ah."

"Namjoon, Hoseok?" Namjoon dan Hoseok menoleh bersamaan untuk melihat Yoongi yang menghampiri mereka sendirian, tatapannya mengatakan seolah tak ada yang terjadi tapi debaran jantungnya yang cepat itu dapat didengar dengan jelas oleh mereka berdua. "Ada yang ingin kusampaikan pada kalian?"

'Apa terjadi sesuatu?'

"Hyung, kemana Jimin dan Jungkook?" Namjoon bertanya, ia mengira ada yang tak beres dengan Jimin dan Jungkook yang seharusnya saat ini bersama dengan Yoongi, dirinya mulai tidak fokus saat ia tak dapat merasakan keberadaan mereka dimana 'pun.

"Aku membiarkan mereka berburu berdua, aku mencari kesempatan untuk menyampaikan hal penting ini padamu dan kurasa sekarang 'lah saatnya." Yoongi menyadari ketegangan yang muncul di raut wajah Namjoon dan juga Hoseok yang berada tepat disampingnya. Dalam diam, Yoongi sudah tak mampu menanggung rahasia yang telah ia simpan dengan begitu rapat lebih lama lagi. "Ikuti aku, kita bicara di tempat yang lebih sunyi."

Apa yang hendak Yoongi ingin bicarakan? Kenapa hanya mereka berdua yang harus mendengarkan?

'Kenapa aku juga ikut?' Hoseok bertanya dalam benaknya, karena Yoongi adalah tangan kanan sang alpha, Namjoon, dan biasanya mereka hanya mendiskusikan hal penting berdua saja terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya pada semua orang, tapi kali ini, ia turut 'diseret' Yoongi kedalam sebuah pembicaraan penting dan hal tersebut membuat dirinya gugup.

Keheningan menyertai langkah mereka saat memasuki hutan, tak terlalu jauh dari rumah tempat Taehyung dan Seokjin beristirahat, tapi mereka rasa, dari jarak mereka saat ini sudah cukup untuk berjaga bahwa tak ada seorang 'pun yang mendengarkan.

Yoongi berhenti, masih memunggungi Namjoon dan Hoseok. Mereka berdua saling bertatapan, sebelum Namjoon sempat menyentuh bahunya serta menanyakan kembali apa yang hendak ia sampaikan, Yoongi terlebih dahulu bicara, "Maaf, selama ini aku telah menyembunyikan sesuatu dari kalian."

"Menyembunyikan apa?" Alpha mereka bertanya, Hoseok yang berdiri tepat di samping Namjoon hanya bisa menekan dada kirinya, jujur saja ia merasa takut akan apa yang Yoongi utarakan nantinya. Firasatnya mengatakan kalau hal ini berkaitan dengan sesuatu yang selama ini mengganggu mereka.

"Aku menyembunyikan fakta dari kalian selama aku bergabung dengan kawanan ini," Yoongi berbalik, menatap Hoseok dan Namjoon bergantian, ada kesedihan yang berusaha ia tutupi namun dua werewolf dewasa di hadapannya dapat merasakan hal itu, "aku terlahir dari seorang omega laki-laki."

Terkejut merupakan reaksi pertama yang Namjoon dan Hoseok berikan saat Yoongi mengatakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan, keheningan melanda setelahnya, dan Yoongi mulai tidak nyaman akan diamnya Namjoon dan Hoseok, "Mungkin kalian hanya mengetahui kalau diriku dibesarkan oleh ayah dan ibuku, yang sebenarnya adalah paman dan bibiku."

"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, hyung?" Bisik Hoseok.

"Aku tidak bermaksud untuk menutupi masa lalu-ku dari kalian," Balas Yoongi, kedua tantannya mengepal dan pandangannya tegak lurus, ia berusaha tegar disela rasa sedih dan kerinduan yang selama ini tersimpan lama di dalam memorinya yang ia kunci rapat-rapat, "kurasa masa lalu-ku ini tidak terlalu penting, kebenaran tentang diriku yang terlahir dari seorang omega laki-laki tidak perlu kusebutkan saat pertama kali aku memperkenalkan diriku pada kalian."

Apa yang Yoongi bicarakan memang ada benarnya, Namjoon dan yang lainnya juga merasa bahwa masa lalu mereka yang pahit itu akan selamanya terkubur sebagai kenangan kelam karena mereka telah kehilangan keluarga dan orang terdekat dalam sebuah pertempuran yang seharusnya tak terjadi. Banyak nyawa yang tak bersalah menjadi korbannya. Mereka yang tersisa dan bertahan hidup sebisa mungkin tidak membahas kenangan menyakitkan itu lagi, kecuali memang ada hal penting yang harus dikatakan. Yoongi adalah salah satu orang yang paling jarang menceritakan tentang keluarganya. Hoseok saja, yang paling lama mengenal Yoongi, bahkan sebelum kawanan ini terbentuk, hanya mengetahui bahwa Yoongi dibesarkan oleh sepasang suami-istri yang ia kira ayah dan ibunya.

"Kukira aku akan menutup rapat kenyataan ini selamanya sampai Seokjin mepresentasikan dirinya sebagai omega." dalam hatinya Yoongi berharap agar apa yang ia lakukan saat ini merupakan langkah yang benar untuk menolong Seokjin, untuk menolong keluarganya.

"Lalu, apa itu artinya, kau memiliki susuatu untuk kau bagi pada kami? Tentang omega?" Namjoon membuka suaranya, di wajah lelahnya, ia masih sempat menyunggingkan senyuman karena harapan muncul dalam benaknya, ia harap, apa yang hendak Yoongi utarakan pada mereka dapat membantu Seokjin.

Yoongi hanya menggigit bibir bawahnya, ia tak kunjung bicara, sementara Namjoon dan Hoseok menanti kata-kata yang akan keluar dari bibirnya, "Hyung?" Pria bersurai ikal kecoklatan itu memanggilnya, raut wajah Hoseok berubah menjadi sedikit khawatir saat menyaksikan Yoongi yang diam saja.

"Aku sempat membaca buku hariannya, buku harian dari orang yang telah melahirkanku ke dunia ini." Kembali, Namjoon dan Hoseok saling bertukar pandang, Yoongi mengambil nafas panjang dan melanjutkan, "Dalam buku hariannya tertulis saat-saat ia mengandung diriku." Namjoon bergerak spontan saat mendengarnya, ia menyentuh kedua bahu Yoongi dengan tangan besarnya serta meremasnya dengan erat seolah ia ingin agar Yoongi mengatakan semuanya, segera.

"Namjoon.."

"Katakan semuanya hyung, apa yang orang tua kandungmu tulis di dalam buku harian itu." Saat Namjoon berkata demikian, Yoongi berharap, apa yang akan ia katakan tidak akan memperburuk keadaan. Sejujurnya, dalam benak Yoongi, ia masih bimbang untuk mengucapkannya.

"Informasi ini hanya akan berlaku saat Seokjin hyung sudah hmm... mengandung," Mereka semua tahu, kalau Seokjin belum menunjukan tanda-tandanya, tapi kemungkinan besar ia akan mengandung anak Namjoon nantinya. "Yang kuingat, dalam kasus orang tua kandungku, ayah omega-ku mengalami hal yang sama dengan Jin hyung saat ini, daya tahan tubuh akan cepat menurun, sehingga mudah lelah dan sakit."

Namjoon mengangguk mengerti, ia sempat menahan nafasnya, karena dalam benaknya, ia merefleksikan bayangan tentang menurunnya kondisi Seokjin dan hal itu membuatnya khawatir. Yoongi melanjutkan, "Itu gejala awalnya, semua tanda-tanda kehamilannya hampir sama seperti omega wanita, begitu yang ditulis dalam buku harian orang tua kandungku, tapi sayangnya, beliau berhenti menulis di minggu ke-27."

Yoongi terdiam untuk sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya dengan bisikan lirih, "Aku menanyakannya pada bibi-ku, kenapa ayah omega-ku berhenti begitu saja, dan apa yang dikatakan bibiku membuatku ingin terus merahasiakan tentang hal ini pada kalian, karena aku tak mau kalian tersakiti, terlebih Seokjin hyung, Jungkook dan kau, Namjoon."

Keheningan menyelimuti mereka, lagi. Entah mengapa, Hoseok tidak mampu untuk mendengar kata-kata selanjutnya, ia merasa yang selama ini mereka takutkan akan benar-benar terjadi.

"Ayahku tak bisa kembali menulis karena ia dalam keadaan sekarat di kehamilannya yang ke-8 bulan, waktu itu aku," suara Yoongi tercekat, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan orang lain, bukan karena malu, tapi ia tak mau menunjukkan sisi lemahnya dan memilih untuk menjadi kekuatan bagi orang lain. Namun tidak untuk hari ini, ia melepaskan linangan air matanya yang tertahan untuk turun membasahi pipinya. "waktu itu, aku, yang masih di dalam kandungan, telah membunuhnya, kata mereka, aku sangat serakah sehingga ayahku begitu kurus, ia tak bisa bergerak karena seluruh sendinya kelu, nafasnya memendek karena tubuhnya yang terus melemah sampai akhirnya ia meninggal di hari saat aku terlahir ke dunia."

Namjoon dan Hoseok tak mampu berkata apa-apa, wajah mereka hampir sama pucatnya dengan Yoongi, angin yang berhembus mendayu seolah memperingati mereka bahwa sore hari akan segera berganti malam, namun mereka tak peduli. Kesedihan yang Yoongi alami begitu dalam, sehingga dua sahabatnya ikut larut dalam duka bersamanya.

"Tanpa seorang alpha disampingnya, ia berusaha sendirian. Ayah alpha-ku telah meninggal terlebih dahulu. Walau sudah tahu ia akan pergi meninggalkan dunia selamanya, ayah omega-ku tetap memilih untuk melahirkanku." Kali ini Yoongi memberanikan diri untuk mendongak, menatap langsung wajah kedua anggota keluarganya yang baru, ia kembali mengambil nafas dalamnya dan berkata pada Namjoon, "Usahakan agar hal yang sama tak menimpa Seokjin hyung, kurasa ia akan baik-baik saja jika kau terus ada disampingnya dan mendukungnya."

Namjoon mengangguk pelan, "Tentu hyung, itu pasti. Tapi mendengar kenyataan kalau ayah omega-mu meninggal pada saat melahirkan cukup menggangguku." Ia jujur, ia takut. Namjoon tidak akan memaafkan dirinya sendiri bila ia sampai kehilangan Seokjin. Ia tak mampu menerima kenyataannya nanti, apa bila bayi yang menjadi darah daging mereka lahir dengan mengorbankan nyawa Seokjin.

"Untuk itu aku menyampaikan ini semua agar kau juga memikirkan 'pahitnya', Namjoon." Pahit yang merupakan kemungkinan terburuk. Mereka sadar betul bahwa mereka tak bisa bertindak gegabah karena pengetahuan mereka tentang omega masih sangatlah minim, terlebih saat ini, mereka masih diintai oleh ancaman yang datang dari Pendeta Jung. "Dan satu hal lagi, aku sudah mengetahui dimana letak jurnal kedua itu, jurnal marminy yang selama ini kita cari."

"Apa? Dimana, hyung?"

"Jurnal itu ada di tangan Jung Jinyoung."

Light on Me.

Lilin yang tertanam pada batangan besi itu hampir habis sebagian, misa telah selesai dua jam yang lalu, namun Baro masih duduk setia di tangga altar. Kapel telah sepi, Jinyong menatap keluar jendela, bulan telah tinggi dan suhu ruangan kian menurun, tetapi tak ada satu 'pun dari dua pria dewasa disana yang bergeming.

"Bapa," akhirnya Baro membuka suara, ia berdiri, jubah putihnya terlihat kontras dengan ruangan gelap yang hanya terisi oleh cahaya dari dua lilin besar yang apinya merefleksikan bayangan mereka berdua. Jinyoung tak memberikan respon bermakna, ia masih berdiri di tempatnya, "Apa Bapa yakin akan membawa mereka yang hina kesini?"

Kapel, atau gereja kecil ini masih rumah Tuhan, tempat suci untuk memanjatkan doa pada-Nya, dan tempat yang sakral bagi mereka yang membutuhkan berkat dari-Nya. Menurut Baro, membawa para werewolf kesini akan menodai kesuciannya, ia lebih setuju bila mereka dihabisi di tempat, Gongchan telah menemukan tempat persembunyian mereka, tetapi, Jinyoung tak memberikan perintah apa-apa lagi padanya, dan Dongwoo atau C Nu. Baro menyimpulkan, minggu pra-paskah adalah alasannya, karena di pekan suci ini, mereka harus fokus pada pelayanan gereja.

Satu lilin padam, "Sudah kubilang tidak semua, hanya sebagian," senyum Jinyoung mengembang di bawah sinar rembulan, lembaran Alkitab di hadapannya tersapu angin malam, satu lolongan keras terdengar dan entah mengapa, hari ini lebih mencekam dari biasanya, "dua, ah tidak, tiga diantara mereka akan kubawa kesini."

"Kenapa hanya mereka?" Baro kembali bertanya.

Jinyoung berbalik menatap Baro yang berdiri tak jauh darinya, ia menutup pelan Alkitab yang telah ia hafal isi dan maknanya. Kacamata yang semula terpasang, membingkai iris kelabunya telah ia lepaskan, kilatan pada bola matanya mengatakan sebuah kesungguhan, "Aku hanya membutuhkan tiga dari mereka yang akan kubawa kesini untuk melakukan sebuah 'ritual', sebelum akhirnya 'kukembalikan' mereka kembali ke pada keluarganya."

Baro masih menyimpan tanya dalam benaknya, untuk apa Pendeta Jung hanya membawa tiga dari mereka bertujuh kemari hanya untuk 'dilepaskan' kembali. Menyadari kebingungan yang terpatri pada wajah muridnya, Jinyoung kembali menjelaskan padanya, "Tiga, termasuk sang alpha, akan kubawa kemari untuk 'merubah' mereka seperti aku 'merubah' Gongchan. Hanya saja, medianya berbeda. Aku tidak akan membuat mereka tunduk padaku dengan cara hutang budi atau semacamnya, tapi aku akan membuat mereka tunduk dengan cara yang lebih tradisional dan mungkin akan sedikit memaksa. Kau tahu maksudku 'kan?"

Sebelas tahun Baro mengenal Jinyoung, ia tahu betul apa yang dimaksudkan sang Pendeta. 'Ayah' mereka, seorang Pendeta yang juga pernah mengadakan pengusiran di desa ini 'lah yang membawa Gongchan yang saat itu masih sangat kecil ke pada Jinyoung untuk dimanfaatkan sebagai 'senjata' terakhir apa bila werewolf masih berkeliaran di sini. Jinyoung dan Baro adalah yatim-piatu yang diadopsi dari panti asuhan yang berbeda oleh 'ayah' yang sama. Seorang Pendeta bermarga Jung, hanya itu yang mereka tahu, sampai akhir hayatnya, mereka sama sekali belum pernah mendengar nama aslinya.

14 Tahun yang lalu, 'Ayah' mereka datang ke desa ini bersama dengan murid-muridnya, termasuk Jinyoung. 'Pengusiran' yang mereka lakukan melibatkan manusia, dengan terpaksa, mereka menyebar fitnah diantara mereka. Kawanan werewolf yang terpecah koalisinya menguntungkan keadaan mereka, diantaranya, werewolf yang berdampingan dengan manusia dan yang tidak.

Pendeta Jung menggunakan kemampuan mencuci otak pada werewolf yang menolak kedatangan manusia untuk membunuh para pendaki, dan sesuai dengan rencananya, hal tersebut memunculkan kemarahan pada penghuni desa. Bagai menghabisi dua burung dengan satu batu, para werewolf dan manusia termakan oleh konflik yang disulut oleh Pendeta Jung dan mereka terlibat dalam pertempuran besar.

Pendeta Jung sengaja menggunakan kemarahan manusia karena ia tahu,dalam hukum werewolf yang memilih hidup berdampingan, tertulis sebuah larangan untuk membunuh manusia. Oleh karena itu, banyak dari werewolf yang tewas dan hilang. Perantara saat itu, yang merupakan keluarga Lee Sandeul melaporkan bahwa sudah tiada lagi werewolf dari pertempuran yang tersisa, namun tak lama kemudian, seorang anak manusia, bernama Kim Seokjin yang merupakan keturunan setengah werewolf dan manusia, telah tak sengaja bertemu dengan mereka yang selamat.

"Baro-ah, apa menurutmu, Kim Namjoon akan mengingatku?"

Baro ragu, walau ia tahu, Kim Namjoon adalah werewolf paling cerdas dan hampir mengungkap kebenaran tentang konflik yang sengaja disulut 'ayah' mereka, Pendeta Jung. Saat itu Jinyoung mengetahuinya, ia mengejar Namjoon dan mereka berdua sama-sama bertarung, bekas luka pada punggung Jinyoung adalah buktinya, ia kalah saat itu dan Namjoon hampir lepas dari jangkauannya, ia berlari untuk memberitahukan niat Pendeta Jung pada alpha kawanan mereka saat itu yang adalah ayahnya. Namun sayang baginya, salah satu murid Pendeta Jung telah menangkapnya terlebih dahulu dan kemudian mencuci otaknya.

Namjoon menggila, ia mengamuk dalam wujud wolf-nya, dan membunuh seorang gadis bernama Yeri yang merupakan adik Hakyeon. Kenangan menyakitkan itu terukir akibat perbuatan Pendeta Jung, dan Jinyoung memanfaatkannya untuk mempertemukan Namjoon dan Hakyeon kembali untuk saling menghabisi satu sama lain.

Namun siapa sangka, kawanan Namjoon masih bertahan, mengalahkan Hakyeon dan yang lain dalam satu pertempuran untuk menyelamatkan manusia bernama Kim Seokjin yang saat ini telah berubah menjadi seorang werewolf, sama dengan mereka, dan menjadi mate dari sang alpha, yang adalah Kim Namjoon sendiri.

"Bagaimana kau akan membawa mereka kesini, Bapa?"

"Aku akan menggunakan ini." Jinyoung meletakan sebuah buku tua bersampul pahatan kayu murbey yang akhir-akhir ini selalu ia bawa. Baro menatapnya, keraguan kembali membayangi benaknya.

"Jurnal marminy? Bapa akan memancing mereka dengan menggunakan jurnal itu?" Diantara semua seri jurnal, Baro pikir bahwa jurnal marminy yang notabene membahas anatomi tubuh seorang werewolf tidak begitu penting bagi mereka yang hanya memiliki sedikit kawanan, kecuali satu hal, "Apa ini berkaitan dengan Kim Seokjin?"

Senyuman Jinyoung mengartikan semuanya, yang artinya adalah 'iya', "Kim Seokjin mepresentasikan diri menjadi seorang omega werewolf, dia akan mengandung anak Namjoon, penerus dari kawanan mereka, dan mereka membutuhkan ini untuk menyelamatkan nyawanya."

"Jika memang begitu, berarti ancaman terbesar bagi umat manusia adalah Kim Seokjin, ia akan melahirkan keturunan Namjoon, itu artinya Seokjin harus mati terlebih dahulu dan-" Jinyoung menarik lengan Baro dan membawa tubuh mereka merapat ke dinding, lukisan wajah Bunda Maria diatas mereka terguncang karena hentakan yang ditimbulkan.

"Baro, diam dan ikuti rencanaku, semua akan berjalan dengan seharusnya dan mereka akan musnah dari bumi ini." Setelah mengatakan demikian, Jinyoung kembali tersenyum dan memakai kacamatanya, kemudian ia berbalik untuk meninggalkan Baro bersama jurnal marminy dalam genggamannya.

Bersamaan dengan perginya Jinyoung, lilin terakhir redup cahayanya dan kemudian mati, membuat seisi ruangan dalam kapel tersebut gelap gulita.

Light on Me.

"Na-Namjoon, aku mual..."

Sudah ketiga kalinya dalam satu hari Seokjin berkata demikian, ia hanya minum air dan menolak untuk makan. Jika terus seperti ini, Seokjin akan terkena malnutrisi dan dapat lebih parah dari itu.

Taehyung dengan sigap meletakan ember berisi pasir di samping tempat tidur Seokjin, kemudian memijat pelan lehernya. "Jinseok-ku, keluarkan saja tak apa, tapi nanti kau harus makan sesuatu setelah ini, katakan padaku, apa yang kau inginkan?" Namjoon membelai lembut surai hitam Seokjin yang basah karena peluh, beberapa hari yang lalu ia sudah kembali pulih dan siap untuk pergi keluar rumah, tapi belum sempat mencapai ambang pintu, Seokjin mengeluh ia mengantuk dan kemudian tidur hampir seharian penuh, setelah bangun, ia mengaku merasa mual tetapi tak memuntahkan apa-apa.

Seokjin menggeleng, ia tidak lapar sama sekali, ia hanya merasa lelah karena rasa mual yang tak kunjung menghilang, "Apa aku sakit lagi?" Mereka semua yang ada di dalam rumah itu tahu, kalau Seokjin sudah menyadari bahwa dirinya adalah omega berkat penjelasan dari Hoseok, tetapi tidak semua yang disampaikan, ia masih belum mengerti kalau kondisinya saat ini disebabkan oleh perubahan fungsi anatomi pada tubuhnya.

Namjoon terdiam untuk sesaat, ia bertukar pandang pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu, Hoseok memberi sinyal pada Taehyung dan Jungkook untuk keluar bersamanya, meninggalkan Namjoon dan Seokjin berdua. "Hm? Ada apa? Mengapa mereka pergi?"

Dalam langkah mereka keluar kamar Seokjin, Jungkook dan Taehyung sama-sama bertanya pada Hoseok, "Apa kau yakin, ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu hyung-ku?" Hoseok mengangguk, ia meminta pada kedua dongsaeng-nya kalau mereka harus percaya pada Namjoon, "Jin hyung, akan baik-baik saja 'kan?" Taehyung bergumam, dan Hoseok mengelus pelan bahunya, untuk meyakinkan salah satu dari adiknya itu bahwa Seokjin akan baik-baik saja.

Kini mereka benar-benar tinggal berdua, Namjoon menggenggam erat kedua tangan Seokjin yang ada diatas pahanya yang berbalut selimut, "Jinseok, dengarkan aku, kondisimu yang melemah saat ini, bukan diakibatkan oleh virus yang mendatangkan penyakit seperti yang kau kira, melainkan kondisi yang menyatakan perubahan pada tubuhmu karena presentasimu sebagai seorang omega."

"Perubahan pada tubuhku karena aku omega? Apa maksudnya?" Seokjin tak mengerti, memang aneh baginya karena kondisi pada tubuhnya menurun drastis dengan tiba-tiba, se-pengetahuannya, ia selalu menerapkan pola hidup sehat dan sering berlatih bersama werewolf lainnya untuk menyesuaikan diri.

"Kau sudah diberi pemahaman mengenai alpha, beta, dan omega oleh Taehyung dan Yoongi hyung, 'kan?" Seokjin mengangguk sekali, ia mulai penasaran, rona merah kecil terpatri di kedua pipinya yang semula pucat, entah mengapa ia tak sabar untuk mendengar lebih lanjut mengenai omega dalam tubuhnya, "Saat seorang omega telah menjadi mate dari seorang alpha lewat ikatan yang tak terputus kecuali oleh kematian, mereka akan terus hidup bergantung satu sama lain dan berbagi riwayat hidup, itu artinya mereka juga akan mengemban tanggung jawab sebagai seorang wali dari penerus kawanan atau klan yang mereka tempati."

"Wali dari penerus? Seorang anak?" Seokjin memang cerdas, tapi tetap saja Namjoon masih kesulitan untuk menyampaikan padanya bahwa ia akan mengandung anak Namjoon nantinya. Sebelumnya, Namjoon telah menyiapkan semuanya dengan dibantu oleh Jimin dan Hoseok untuk memberitahu Seokjin perlahan-lahan, membayangkannya memang mudah, tapi menghadapinya secara langsung adalah kesulitan terbesar baginya.

"Ya, anak kita. Darah daging kita, penerusku, separuh dari dirimu dan aku." Sebisa mungkin Namjoon menjaga tutur katanya, ia tak mau Seokjin panik dan kebingungan nantinya. Dan diluar dugaannya, Seokjin hanya terdiam menatapnya, kemudian ia menatap kedua tangannya yang masih dalam genggaman erat Namjoon. "Jinseok?"

"Aku omega, dan aku akan mengandung anak kita?" Senyum Namjoon merekah kala ia mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Seokjin. Setelahnya Seokjin memilih untuk diam, dan perlahan-lahan ia melepaskan tangannya dari genggaman hangat tangan Namjoon yang mulai menatapnya dengan pandangan khawatir.

"Seokjin-"

"Bayi kita.. disini?" Kedua tangan Seokjin mengarah pada perutnya sendiri dan ia menyentuhnya perlahan-lahan. Satu isakan terlepas, ia tak mampu menahan tangis harunya seraya mengelus perutnya yang masih rata, "A-aku akan mengandungnya, Namjoon-ah?" Bisik Seokjin dan Namjoon segera merengkuh tubuhnya, membawanya kedalam dekapan hangat serta penuh akan rasa syukur. Namjoon semula khawatir, ia mengira bahwa Seokjin tak akan mampu menerima kenyataan yang tiba-tiba menyatakan bahwa dirinya akan mengandung. Tetapi kebalikan dari dugaan terburuknya, terlihat pada reaksi Seokjin, Namjoon menyimpulkan, bahwa mate-nya itu mampu menerima keadaan dan bahagia atas karunia yang hadir diantara mereka.

"Kau bahagia?" Tanya Namjoon disela kecupan lembutnya pada leher Seokjin yang mengangguk pelan diantara isakannya yang ia benamkan di bahu kekasih hatinya, "Kau tidak merasa terbebani?" Kali ini Seokjin menggeleng, mereka membuka jarak agar pandangan mereka bertemu.

Seokjin memberikan kecupan pelan di bibir Namjoon seraya berkata, "Sejak dulu, impianku adalah memiliki seorang anak untuk kugendong, kubesarkan dan kurawat. Mengetahui bahwa aku akan mengandung memang mengejutkanku, tapi aku akan mengandung bayi yang juga adalah milikmu, milik orang yang kucintai, aku menangis karena tidak menyangka bahwa hidupku akan se-sempurna ini berkat dirimu Namjoonie."

Namjoon sama dengannya, menangis haru oleh kesempurnaan hidup mereka yang merupakan kenyataan. Ia menangkup wajah Seokjin, mengecup bibirnya berulang kali sambil merapalkan ungkapan cintanya. Tiada sesuatu yang dapat menandingi kebahagiaan yang menyelimuti mereka saat ini, hanya suara isakan kecil disertai tawa pelan dan sesekali kata-kata manis dari bibir keduanya.

to be continued

[A/N]

tag m-preg sudah bisa dipakai! selamat datang kembali di sequel yang masih panjang kisahnya ini~ semoga kalian tetap setia menantinya, saya akan terus mengembangkan dan membuat kisahnya mampu diterima oleh reader-nim sekalian!

mohon maaf atas keterlambatan update-nya dikarenakan jawal saya perihal pekerjaan dan urusan pribadi lainnya sehingga saya terpaksa mengesampingkan progress dari ff ini.. *deep bow*

massive thansk to :

rayvin

terima kasih sudah meyukai ff ini, dan memang dugaan kamu benar, saya sudah merencanakan dark dan heavy angst untuk saya jadikan patokan plot dari cerita ini. terima kasih telah setia menanti kelanjutannya, i luv u

goldenaidakko

ゴルデンさん、私は今インドネシアに帰国しましたよ!10月にまった日本へ戻るつもりです。仕事が忙しくて大変だったものをこのストーリーを終わりまで絶対に書きます。頑張ります!i luv u

und

terima kasih atas pengertiannya :') saya akan berjuang! i luv u

I PURPLE YOU GUYS SO MUCH

fuma with luv