Tubuh wanita itu tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur berwarna putih dengan infus yang masih menancap di tangan kanannya. menyisahkan wajah pucat pasih dan tubuh terkulai lemah. Bibir yang biasanya mekar merona kini hanya tersisah bual belaka. Sedangkan seorang lelaki berambut emo itu tampak kacau luar biasa, ia sungguh terlihat layaknya boneka tanpa bertuan. Kekasihnya meninggal, meninggal karena ingin menemuinya, sungguh kejam dirinya telah mengabaikannya selama ini. Kini hanya sebuah penyesalan yang hinggap dihati lelaki itu. Tak akan ada lagi suara merdu dari Senju Sakura, tak ada lagi senyum mengembang dibibir wanitanya itu. Tak akan lagi. Dia sudah berada disisi-Nya, terletak pada tempat ia seharusnya. Dialah Senju Sakura, wanita yang terkasih.
.
OooO
.
Disclaimer- Naruto ; Masashi Kishimoto
Rated ; T+
Warning! OOC, AU, TYPO, pengerusakan karakter dan segala kekacauan ada disini semua.
Ok, Happy Reading. Minna ^^)'
.
OooO
.
Haruno Sakura menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dirinya masih tidak percaya dengan kejadian tempo kemarin. Sungguh, anak dari keluaga Haruno itu tampak terkejut saat untuk pertama kalinya dia diminta untuk berpura-pura menjadi Senju Sakura yang dimana wanita itu sudah meninggal dunia. Hanya satu alasan yang diberikannya, yaitu Sasuke. Lelaki itu sulit mengendalikan kontrol emosi jika menyangkut tentang Senju Sakura, wanita yang meninggal beberapa tahun silam. Dan itulah kenapa Sasuke sering mengalami tindakan yang sulit terkontrol. Ditambah lagi, pengobatan yang sering dilakukan sama sekali tidak menimbulkan efek apapun.
Keluarga Uchiha memang terkenal dengan kekayaan yang tidak akan habis karena pengobatan yang beruntun. Dari dokter yang katanya terkenal, rumah sakit yang canggih akan fasilitas dan tempat rehabilitasi yang lagi-lagi katanya mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh anak bungsunya, Uchiha Sasuke. Namun nyatanya sampai saat ini pun tak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu kian membaik dengan kondisinya sekarang.
Sakura menarik nafas panjang, ia begitu tidak terlalu suka dengan situasi yang seperti ini. Berpura-pura menjadi Senju Sakura, eh? Jangan bercanda. Lagipula siapa itu Senju Sakura. Melihat, mengenal, bahkan bertatap muka saja tidak pernah, kenapa pula ia harus repot-repot menjadi Senju Sakura. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya berat. Tidak pernah sedikitpun pikirannya terpintas dalam otaknya untuk menerima ide yang sangat gila itu.
Benar, dia pulang ke negara asalnya bukan untuk melakukan tindakan seperti ini, tidak! Bukan ini yang wanita itu inginkan. Tapi, kenapa ketika melihat wajah Mikoto tempo hari dengan pandangan memohon membuat Sakura tidak bisa berhenti memikirkannya. Entah ini hanya perasaan iba ataukah rasa belas kasih yang ia tunjukkan, tapi Sakura sungguh sangat tak tega melihat derai wanita itu yang terus memohon persetujuannya.
"Sakura..." panggil seorang wanita dari arah kamar Sakura yang tertutup rapi. Sakura beranjak bangun dan membukakan pintu tersebut. Dilihatnya Mebuki tengah tersenyum renyah padanya, "Boleh ibu bicara?" sambungnya
Sakura mengangguk patuh. Ia memersilahkan Mebuki masuk dan mendengarkan apa yang ingin ibunya itu katakan.
"Ibu ingin bicara kan? Sakura akan dengarkan. Tapi, Sakura tak ingin mendengar lagi jika itu menyangkut tentang berpura-pura menjadi Senju Sakura" Sontak Mebuki terpaku mendengar penuturan dari putrinya tersebut. Ia menatap Sakura dan sepertinya anaknya itu memang benar-benar menolaknya dengan tegas.
"Ibu tahu jika kau akan bilang seperti itu pada ibu. Tapi, apakah tak bisa kau mempertimbangkannya sekali lagi? Apa kau tak merasa kasihan pada bibi Mikoto dan keluarganya." Mebuki memandang Sakura sekilas, ia tahu jika dari dasar lubuk hati putrinya tersebut pasti tersimpan rasa kemanusiaan yang sangat tinggi.
"Jadi, ibu lebih kasihan pada keluarga itu daripada anak ibu sendiri, begitu?" Sakura beranjak bangkit dari tempat duduknya semula. Ia berjalan dan membuka tirai kamarnya dan menatap langit dengan senyum kecewa "Bukankah ibu tahu jika anak mereka memiliki kelainan pada tingkat emosionalnya. Apa ibu ingin aku menjadi target dari kekejiannya?" ujar Sakura dengan penekanan diakhir kalimat
Mebuki tertegun. Jadi inilah alasan kenapa Sakura menolak permintaan itu. "Tidak semua yang kau bayangkan akan menjadi kenyataan, sayang. Kau pikir ibu akan dengan tega membiarkan anak ibu satu-satunya ini dibiarkan celaka begitu saja? Itu tidak mungkin, sayang!"
"Sudahlah ibu, Sakura rasa percakapan ini tidak akan mengubah apapun. Keluarga Uchiha sangatlah kaya, kenapa mereka tak mencari seorang dokter untuk menyembuhkan Sasuke. Kenapa harus Sakura!"
"Tidak bisa sayang. Semua pengobatan sudah mereka lakukan, hanya saja semua itu tergantung pada psikis Sasuke, anakku..." Sakura terdiam mendengar penuturan Mebuki dengan tenang. Sesekali wanita bersurai gulali itu menghirup nafas dalam-dalam
"...Bisakah kau menolong mereka? Setidaknya kau menolong ibu. Menolong teman baik ibu Sakura." Mebuki mendekati Sakura dan memegang bahu anaknya dengan kasih
"Kau tahu, tidak semua penyakit harus dokter yang menyembuhkannya sayang,"
sambungnya
Sakura mengerutkan alisnya tidak mengerti, "Maksud ibu?"
"Dengar, mungkin ini terdengar konyol. Tapi, ibu berani jamin jika Sasuke tidak akan melakukan tindakan gila padamu"
"Kenapa ibu begitu yakin akan hal itu?" tanya Sakura memastikan akan perkataan Mebuki
"Karena..."
'Karena Sasuke begitu mencintai Senju Sakura. Wanita yang begitu mirip denganmu, sayang." Ucap Mebuki dalam hati.
.
OooO
.
Matahari terbit dan memancarkan sinar matahari yang sangat hangat. Sekumpulan orang memulai semua aktifitasnya dan mencari keibukannya hari ini. Namun hal itu tidak berlaku pada wanita bersurai pink dan bemata emerald ini. Nampaknya ia begitu enggan untuk sekedar membuka semilipun kelopak matanya. Dia... Haruno Sakura, meski terlihat biasa saja tapi tidak begitu keadaannya. Pembicaraan alot dengan ibunya kemarin membuat dirinya termenung semalaman guna mencari jalan terbaik untuk semuanya.
Semuanya? Kurasa tidak!
Sakura hanya memikirkan bagaimana cara agar dia tidak lagi dipaksa seperti itu. Dalam benaknya, kenapa harus dia yang menjadi suka relawan untuk hal yang seperti ini. Mungkin jika dia disuruh untuk menyumbangkan seberapa banyak darah, sudah dipastikan wanita bersurai pink itu dengan senang hati akan melakukannya.
Sakura terbangun begitu memikirkan masalah tersebut, diusapnya permukaan wajahnya kasar. Tak ingin berlarut-larut dalam tekanan emosional seperti ini, akhirnya wanita ini memutuskan untuk segera menghirup udara Tokyo. Ia bangkit dari kamar tidur empuknya, bergegas masuk kedalam kamar mandi yang memang sudah ada di kamar pribadinya. Tak butuh waktu lama, Sakura dengan cepat menyelesaikan acara mandinya dan mencari baju santai yang sekiranya tidak mengundang kecurigaan.
.
OooO
.
Melintasi Tokyo memang seperti melintasi negeri dongeng. Bayangkan setiap sudut kota hampir tidak ada sampah berserakan. Udaranya sejuk, hampir tidak ada debu. Terdengar klise memang, tapi itulah yang Sakura rasakan. Dibandingkan di negara Eropa yang pernah Sakura tinggali, ternyata Tokyo memang negara yang paling ia sukai tentunya.
Masyarakatnya memiliki disiplin tingkat tinggi. Menyebrang jalan harus menunggu lampu hijau menyala. Kuil dan pasar tradisional Asakusa, dan stasiun kereta api bawah tanah yang luar biasa. Alhaasil, Sakura tak menyesali jika ia harus pergi sendiri dan menaiki kendaraan umum sedemikian rupa. Satu lagi, tidak ada macet padahal penduduknya sangat padat. Mereka rapi berjalan dan pergi ke kantor hampir semua dengan menggunakan kereta bawah tanah. Sungguh, senang rasanya bisa bernostalgia seperti saat ini.
Sakura tersenyum senang. Semua bangunan memang sudah berubah sejak terakhir kali ia pergi meninggalkan kotanya ini. Senyum keceriaan tak lepas dari bibirnya, semua beban yang hinggap di pundak Sakura terasa sangat ringan sekarang. Sakura memainkan ponselnya asal. dari kontak nama yang tertera di layar ponselnya, ia menemukan satu nama yang sangat dia rindukan. Benar! Dia bahkan lupa memberi kabar pada sahabatnya itu atas kepulangannya selama ini.
Akhirnya Sakura menghubunginya, dan benar juga apa firasatnya. Wanita disebarang sana tampak mengomeli Sakura. Akibat yang Sakura dapat, ia harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya guna menyelamatkan alat pendengarannya tersebut. Sakura tersenyum kecut, namun ia sungguh sangat merindukan sahabat pirangnya itu.
.
Dengan langkah ceria, Sakura bergegas menuju cafe yang tak jauh dari tempatnya ia berada saat ini. Dengan langkah kaki cepat, ia bergerak ketempat dimana sahabat pirangnya saat ini berada.
Begitu tiba disana, Sakura segera memasuki cafe tersebut dan langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari dimana sahabat pirangnya itu berada. Barulah beberapa kali ia mencarinya akhirnya pandangan Sakura tertuju pada tempat duduk paling ujung di sebelah kolam, ia melihat sahabatnya itu tengah meminum jus jeruk yang sepertinya baru dia pesan.
"Apa kau menungguku lama, Pig?" tegur Sakura yang sukses membuat wanita yang dipanggil pig itu refleks menoleh kebelakang.
Wanita yang bernama Yamanaka Ino itu hanya bisa mendengus kesal dan melirik Sakura tajam, dipandanginya sahabatnya itu yang sudah sejak lama tidak berjua. "Tidak selama kau pergi ke Eropa selama lima tahun, forehead" sahutnya tajam. Sakura terkikik geli mendengar ucapan dari sahabatnya itu kemmudian dia duduk tepat didepan Ino.
"Kau tidak berubah. Tetap cerewet, Ino-Pig"
"Setidaknya tidak ada babi yang secantik diriku, forehead"
Kedua wanita itu tertawa. Baik Sakura maupun Ino tetap akrab seperti biasanya meski tidak pernah bertemu. Mereka hanya tahu kabar lewat Handpone dan alat alternatif lainnya. Sesekali acara curhan mencurhat mereka kirimkan lewat e-mail. Syukurlah... Setidaknya tidak ada yang berubah dengan hubungan meraka. Semua tetap berjalan seperti dulu.
"Bagaimana, apa yang kau dapat setelah berada di Eropa sana?" Sakura tersenyum, dia tahu benar kemana arah pembicaraan sahabat satunya ini.
"Jika yang kau tanyakan itu lelaki, kau pasti sudah tahu apa yang aku jawab, bukan." Ino mengernyitkan alisnya dalam. matanya menatap Sakura bosan. Entahlah, dia sungguh tidak mengerti kenapa sahabatnya itu tak terlalu suka berhubungan dengan seseorang yang berjenis lelaki.
"Bodoh! Percuma kau jauh-jauh berada disana jika tak memiliki satupun teman lelaki. Jika aku, mungkin aku sudah berganti-ganti selama yang ku inginkan" ucap Ino antusias
"Dasar!" gurutu Sakura "Lalu, bagaimana denganmu. Maksudku hubunganmu dengan kekasihmu itu. Kau tak menceritakannya lagi setelah saat itu"
"Sai, maksudmu? Apa kau lupa jika dia sekarang sangat sibuk. Dia bahkan jarang sekali menemuiku. Aku heran, kenapa dia mau bekerja di perusahaan Uchiha Corp yang gila kerja itu." ucap Ino sambil meminum jus jeruknya yang tersisa separuh gelas "Kau tahu, aku sungguh sangat kesal dibuatnya."
Sakura terdiam mendengarkannya, ia sama sekali tidak merespon perkataan Ino. Fikirannya terlalu fokus pada Uchiha. Keluarga yang memintanya untuk berpura-pura menjadi Senju Sakura. Ino yang melihat gelagat dari sahabatnya itu hanya bisa terdiam seketika. Di pandanginya Sakura yang saat ini mata emeraldnya tengah melalang buana entah kemana. Sepertinnya Ino merasakan ada ketidak beresan dengan sahabat jidatnya.
"Kau kenapa Sakura? Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu?" ujar Ino dengan nada mengintrupsi
"Tidak... Aku tak sedang memikirkan apapun." ucapnya dibarengi senyum tipis.
"Kau tahu, aku bukanlah orang awam yang dengan mudah kau tipu. Aku sangat tahu jika kau sedang memikirkan sesuatu. Dan... Kau adalah pembohong yang buruk, Sakura"
Sakura terdiam. Ini bukanlah moment yang tepat untuk menceritakan semua keluh kesahnya. Dia berjalan-jalan mengelilingi Tokyo dan bertemu dengan sahabat lamanya bukan untuk membahas perihal ini. Sepertinya, kepulangannya untuk kembali ke kota kelahirannya adalah keputusan yang buruk.
"Baik, jika kau memang tak berniat untuk menceritakannya. Kau bisa bicara padaku kapanpun kau inginkan. Mengerti!" Ucap Ino dengan penekanan di akhir kalimat. Sakura tersenyum senang begitu mendengar penuturan Ino, dia sungguh sangat bersyukur telah mempunyai sahabat seperti dirinya. Meskipun dia sangat cerewet, tapi Sakura tetap membutuhkan sosok sahabat sepeti Ino.
Tentu saja, menemukan seorang sahabat yang bisa sejalan itu tidak mudah. Banyak orang yang bersikap simpati, tapi tidak berempati. Banyak yang mau diajak berbagi suka, tetapi saling mengerti dalam duka itu sangat sulit. Menjadi anugerah terindah ketika kita menemukan sahabat yang bahu membahu. Saling mengerti, memahami, memaklumi, memotivasi dan saling rela berkorban. Sahabat sejati adalah sahabat yang mencintai dengan sepenuh hati.
"Aku tahu. Kau memang bisa kuandalkan. Pig!" seru Sakura menatap Ino sumringah.
Percakapan antar dua wanita itu tanpa sadar membuat Sakura baik ataupun Ino lupa jika waktu sudah mulai senja. Matahari yang semula berada diatas awan kini mulai terbenam dengan perlahan. Langit yang tadinya biru kini berubah warna orange, ini membuktikan jika mereka harus dengan segera menyudahi pertemuan mereka dengan segera.
"Apa tak sebaiknya kau kuantar saja. Aku akan sangat mengkhawatirkan keadaanmu jika pulang sendiri seperti ini, Sakura" Sakura menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk pulang bersama Ino. Mungkin akan lebih mengasyikkan jika dia pulang sendiri
"Baiklah, aku tahu jika kau memang keras kepala. Pastikan jika terjadi sesuatu hubungi aku dengan segera"
"Baiklah... Aku mengerti pig. Kau pikir aku anak kecil yang akan tersesat" dengus Sakura kesal yang langsung mendapat cengiran Ino
Sakura menatap kepergian Ino dengan seksama. Dilambaikannya sebelah tangan kananya pelan. Sakura benar-benar berhenti melambai begitu mobil yang Ino tumpangi jauh dari pandagannya.
.
OooO
.
"Sakura... Sakuraaa!"
Sasuke terbangun dari tidur lelapnya. Tubuhnya dipenuhi peluh yang jatuh berbutir-butir dari keningnya. Tubuhnya gemetar hebat, mungkin karena refleksi cahaya dari kamar tidurnya, lelaki itu mulai memejamkan matanya dengan tubuh yang masih bergetar. Nafasnya memburu, sekuat tenaga ia menutup matanya seketat mungkin sambil mencengkram selimutnya kuat-kuat. Detak jantungnya tiba-tiba terpacu begitu cepat, Sasuke mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah.
Dadanya sesak. Sangat sesak malah
Hatinya hacur. Ya itu sudah terbukti
Sasuke menderita, dia sangat menderita dalam cintanya yang telah usai karena kecerobohannya sendiri.
Di malam ini, untuk kesekian kalinya lelaki emo itu bermimpi akan kekasihnya yang telah tiada. Sasuke benar-benar merasakan pilu yang amat sangat luar biasa. Sasuke menjambak rambutnya kasar, berteriak sekencang-kencangnya dengan menyebut nama Sakura berkali-kali. Mungkin jika dibiarkan begini terus menerus, bisa dipastikan jika pita suaranya akan putus. Terakhir kali yang Sasuke lakukan adalah melukai dirinya sendiri dengan meninju kaca yang menempel disisi tempat tidurnya.
"Sakura... Sakuraaa... Sakuraaaaa! teriaknya semakin kencang. Semua penghuni Uchiha begitu terkejut dengan kambuhnya Sasuke. Fugaku dan Mikoto yang mendengarnya langsung berlari menuju kamar Sasuke berada. Begitu membuka pintu kamar Sasuke, Mikoto langsung histeris melihat anak bungsunya yang mengeluarkan darah dari tangan kanannya. Fugaku dengan sigap menghentikan aksi brutal Sasuke dengan sekuat tenaga.
"Sakura! Sakuraa! Sakuraaaaaa...!"
Sasuke menyebut nama Sakura berulang-ulang kali. Tak tega dengan kondisi yang Sasuke derita, dengan cepat Mikoto menghubungi Mebuki guna meminta tolong. Keadaan Sasuke saat ini tidak lebih dari kata baik, sungguh ia sangat merasa gagal menjadi seorang ibu. Mikoto dengan serius melihat aksi brutal Sasuke yang sedemikian rupa. Bahkan Fugaku sempat kualahan mengatasi tenaga Sasuke yang kenapa bisa sekuat itu.
"Mikoto, cepat ambilkan obat di laci itu. Cepat!" intrupsi Fugaku. Mikoto bergegas mengambil bungkusan plastik kecil yang berisi 2 atau 3 tablet berwarna kuning pucat. "Cepat kau minumkan obat itu pada Sasuke" Setelah yakin tablet itu masuk ke dalam tubuh Sasuke, Fugaku dan Mikoto menghela nafas berat.
Mikoto percaya, ketika seseorang telah bertekad kuat dalam memperjuangkan sesuatu, maka akan selalu melihat peluang dalam kesulitan. Bukan sebaliknya, melihat kesulitan ketika ada peluang. Kesulitan demi kesulitan yang dihadapi, akan dijadikan titik bangkit dengan menguatkan tekad, menjadikan semangat lebih hebat untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna. Sebab, kunci dari semua perjuangan atau usaha adalah niat yang tepat dan kuat disertai semangat yang hebat. Tak ada celah untuk menyerah.
Dan, Mikoto sangat yakin. Jika suatu saat nanti, putra bungsunya itu akan kembali pada pelukannya dan disertai senyum keceriaan.
.
.
Bisa dikatakan beruntung, bisa juga tidak. Kini yang jelas Sakura merasa bahwa dirinya dipermainkan, sangat di permainkan malah. Banyak hal yang ia korbankan, waktu, tenaga, dan segalanya untuk memenuhi tuntutan yang sama sekali tidak menguntungkan buatnya.
Sakura dengan agak malas memperhatikan layar ponselnya begitu melihat sebuah e-mail yang mengatakan bahwa dia harus segera datang ke rumah Uchiha sekarang juga. Heeiii... Sakura tak pernah mengatakan 'iya' untuk masalah itu bukan?
Tapi bagaimanapun Sakura menolaknya, ia tetaplah seorang anak yang harus menuruti kemauan ibunya.
Dan disinilah dia sekarang, berada di kediaman rumah Uchiha yang sepertinya tidak dalam keadaan yang baik. Semua pelayan Uchiha tampak tegang luar biasa. Sakura mengernyit binggung dengan kondisi seperti ini. Ia melangkah perlahan dimana ayah dan ibunya sekarang berada, ditempat Sasuke. Begitu ia berada disana, sontak klorofil matanya terbuka lebar, rasanya ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Ibu... Apa yang telah terjadi disini" tanya Sakura hati-hati
"Ah... Syukurlah kau datang sayang. Tolong! tolong tenangkan Sasuke, Sakura." Suara Mebuki bergetar hebat. Sesekali ia mengelus punggung Mikoto guna memberi semangat.
Hening. Sakura tengah memutar otaknya cepat. Baru pertama kali dalam hidupnya ia harus melakukan tindakan yang seperti ini. Seumur hidupnya, untuk yang pertama kalinya. Sakura menghela nafas berat kemudian mata emeraldnya menatap Sasuke sekilas, "baik... Akan Sakura coba. Ibu..."
.
Sakura mencoba mendekati Fugaku yang saat ini berusaha menahan Sasuke agar tak melakukan tindakan yang berbahaya. Sesekali lelaki itu mengucapkan kata-kata agar Sasuke lebih bisa mengendalikan kontrol emosionalnya. Sasuke tampak tenang begitu mendengar perkataan Fugaku.
Fugaku sedikit mengendorkan pegangannya pada diri Sasuke dan mencoba membawanya beristirahat diatas tempat tidurnya. Mengintrupsi salah seorang pelayannya untuk membawakan perban dan obat untuk membalut tangan Sasuke yang sejak tadi dalam keadaan berdarah.
"Sakuraa..." Sasuke terus menerus mengumamkan nama Sakura. Wajahnya begitu sangat menderita saat mulutnya mengeluarkan nama kesayangannya itu. Tidak, bukan hanya sekedar menderita, tapi dia juga sakit. Sakit secara fisik dan batin.
"Maaf paman, apakah saya boleh membantu?" dengan takut-takut Sakura menawarkan diri untuk membantu Fugaku.
Mendengar Sakura berujar membuat Fugaku tersenyum senang. Lelaki paruh bayah itu mengangguk dan mempersilahkan Sakura untuk menangani penyembuhan tangan Sasuke.
Sasuke mengerjapkan manik matanya perlahan begitu melihat Sakura datang menghampirinya. Lelaki itu terus memandang Sakura intens membuat Sakura kikuk karenanya. Dengan sedikit gemetar, Sakura memberanikan dirinya tuk mendekati Sasuke dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Sakura..." desis Sasuke menatap Sakura.
"Hmmm... Ini aku, Sasuke" dengan rasa takut-takut, Sakura mencoba memberanikan dirinya berkomunikasi dengan Sasuke untuk pertama kalinya.
"Kumohon Sasuke! Tenangkan dirimu! Aku disini! Kau tidak akan apa-apa!" ujar Sakura tepat didepan Sasuke. Dan kalimat itu cukup membuat dada Sasuke hangat bukan main.
"Aku sangat merindukanmu, kemana saja kau selama ini?" Sasuke mendekatkan diri, sontok membuat Sakura kaget. Ia memeluk Sakura erat, seolah-olah tak ingin kehilangan Sakura untuk kesekian kalinya. Tangan kekarnya membungkus seluruh tubuh Sakura, merengkuhnya pada ke proktectivan yang mendalam.
Sakura mematung begitu mendapat pelukan dari Sasuke. Matanya membulat terkejut atas tindakan yang Sasuke lakukan. "Sa-sasuke..." panggil Sakura hati-hati, "Aku akan mengobati tanganmu, boleh?"
"Hn..."
Fugaku yang melihat interaksi antara meraka berdua hanya dapat tersenyum senang. Setidaknya untuk saat ini ada Sakura, Haruno Sakura yang mungkin bisa membawa Sasuke kembali dari deritanya selama ini. Sedangkan Mebuki tersenyum bangga melihat anak gadisnya yang akhirnya mau membantu keluarga Uchiha saat ini.
.
OooO
.
Sakit. Masih sangat terasa sakit.
Perlahan, Sasuke membuka manik matanya. Rasanya begitu pusing dan matanya begitu berat untuk sekedar dibuka. Tubuhnya terasa mati rasa. Entah kenapa sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, seakan ada begitu banyak menimpa tubuh kekarnya. Sasuke memijit pelipis kanannya dengan perlahan, badannya sama sekali tidak bisa bergerak sempurna. Akhirnya Sasuke dengan terpaksa berdiam diri menatap sekitar ruang kamarnya.
Pusing. Itulah rasa sakit yang diderita di kepalanya. Pening yang mendera tak kunjung usai. Matanya terpejam erat, mengingat-ingat kembali kejadian sebelum akhirnya ia tertidur dengan tangan yang terperban rapi seperti ini. Ingatannya akhirnya tertuju pada satu sosok yang sangat ia kenal. Sakura
"Oh, kau sudah bangun Sasuke?"
Sasuke menoleh kearah pintu yang terbuka. Matanya langsung tertuju pada sesosok wanita yang tak asing baginya. Dengan susah payah Sasuke mencoba mengeluarkan suaranya, tapi tenggorokannya terasa sangat sakit dan serak.
"Sebaiknya kau jangan bicara dulu Sasuke. Aku tahu jika tenggorokanmu masih sakit." Celoteh Sakura mendekati Sasuke yang terbaring. Wanita bersurai pink itu mendekati tempat tidur Sasuke dan menaruh nampan yang dibawahnya dimeja dekat tempat tidurnya.
"Apa tanganmu masih sakit, Sasuke?" Tanya wanita bermata emerald itu dengan lembut.
Sasuke sendiri masih diam begitu terpana dengan sikap wanita yang saat ini ada dihadapannya. Wajahnya begitu ayu, perhatian, lembut, dan dia... Segalanya untuk seorang Uchiha Sasuke.
"Sa... ku... ra?"
Sakura menolehkan kepalanya menghadap Sasuke dengan sebuah senyuman senormal mungkin. Tubuhnya memanas, tapi bukan karena dia takut dengan Sasuke. Untuk ukuran normal, Sasuke sudah termasuk dari
.
.
TBC
.
.
Astagaaa... Akhirnya saya Update juga. Sebenarnya saya tidak tahu akan jadi seperti Apa Fict ini jadinya nanti. Sungguh untuk Chap 2 ini saya merasa kurang nggeh... Ide ngalir secara pas-pasan dan itu membuat saya sakit kepala. Hehehehe...
Bisa dikatakan jika ini pemaksaan namanya, tapi yasudahlah ^^'.
Ah, ya... Saya sangat terima kasih dengan kalian semua yang mau mereview, follow, bahkan Fave Fict ancur begini #Terharu T,T
Baiklaaaahhhh~ gak perlu banyak bicara lagi, karena saya tahu pasti jika nanti ada typo yang nonggol dimana-mana. Yosh! silahkan baca Fict ini dengan senang.
.
Sebelum itu "Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin" ^6^)
Salam sayang
.-.
RnR ya ^6^
