Disclaimer : Naruto selamanya milik Paman Masashi Kishimoto

Rated : T+

Genre : Hurt/comfort, Romance, Family, Drama, Angst.

Warning! OOC, OOT, AU, TYPO dan segala kerusakan ada disini.

Happy Reading Minna! ^8^

Sakura menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathtub kamar mandinya yang hangat. Gadis bersurai pink itu menciptakan beberapa gelembung busa melalui hembusan nafasnya yang panjang, dan setelah itu ia mengankat kepalnya dengan nafas yang sedikit tersengal. Yaa... Sepertinya tidak ada hal yang lebih nyaman dibandingkan dengan menenggelamkan dirinya di bathtub dengan aroma jasmine kegemarannya. Setidaknya dengan aktifitasnya yang sekarang, ia bisa sedikit bernafas lega setelah seharian menemani si bungsu Uchiha Sasuke. Mengusir penat dan sedikit merenggangkan otot-otot kakunya juga pemikiran yang sangat menganggu. Itulah yang Sakura lakukan sekarang.

Jika dipikir-pikir kembali, sudah hampir sebulan lamanya Sakura selalu datang kekediaman Uchiha dan hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk menemani Uchiha Sasuke selama masa pemulihan emosionalnya yang entah sampai kapan akan kembali normal. Tidak hanya itu, Sakura bahkan terpaksa menolak beberapa pekerjaannya hanya untuk menemani laki-laki itu. Lalu, jangan ditanyakan bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh sang managernya, sudah dipastikan jika manager yang berusia lebih tua darinya itu marah dan mengucapkan beberapa kalimat yang membuat seorang Sakura mengernyitkan keningnya dan menghela nafas berat.

"Jika kau terus-terusan seperti ini, bisa dipastikan jika pekerjaan modelling-mu akan berakhir dalam hitungan detik, Saki."

Dan satu kalimat itu membuat kepala Sakura berdenyut jika mengingatnya kembali. Namun apa yang dikatakan manager bersurai hitamnya itu memang ada benarnya. Sakura tidak mungkin selamanya menemani Sasuke dan menelantarkan pekerjaannya begitu saja. Sakura tahu dan mengerti apa yang dikatakan managernya itu semata-mata demi kebaikannya juga. Namun lagi-lagi wanita bersurai pink itu mengesampingkan pekerjaannya demi janji yang sudah terlanjur ia katakan.

Sakura menghela nafas berat. Mata emeraldnya menengadah menatap langit-langit kamar mandinya dengan pandangan yang sulit di artikan. Mencoba mengesampingkan apa yang dikatakan oleh sang manager beberapa hari yang lalu, gadis gulali itu akhirnya teringat akan suatu hal. Pikirannya tiba-tiba melayang pada hari dimana ia melihat seorang lelaki jangkung dihadapannya dalam keadaan yang boleh dikataan sangat normal. Entah kenapa saat mengingat kejadian itu, raut mukanya merona merah dan jantungnya langsung berdetak dengan sangat cepat tanpa bisa dikontrol. Yang pasti, Sakura sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mendiskripsikan perasaannya saat ini. Jujur saja, untuk pertama kalinya dia menemukan sensasi perasaan seperti ini setelah beberapa tahun lamanya. Dan itu karena seorang Uchiha Sasuke yang melakukannya. Tapi satu hal yang dia tahu, laki-laki emo itu memiliki aurah yang sangat tajam dan sulit untuk di hiraukan.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak! Tidak!? Ini hanya perasaan kagumku." Gadis bermahkotakan pink itu mencoba menepis ingatannya. Tapi bagaimanapun ia menepisnya, sepertinya Sakura mulai terjerat akan pesona yang dimiliki oleh Uchiha Sasuke. Ohhh... Memikirkannya saja sudah membuat Sakura merona karenanya.

Daaann...

Apa itu artinya jika dia?

Tidak! Tunggu dulu! Mungkin saja hanya perasaan sesaatnya atau bahkan perasaan kagum karena untuk pertama kalinya Sasuke menampilkan sosok normalnya. Yaa... Sepertinya hanya Sakura dan Kami-sama yang mengetahuinya.

"Astagaa! Apa yang barusan kupikirkan." gumamnya pelan dan kemudian gadis bersurai pink itu kembali menenggelamkan dirinya ke bathtub kamar mandinya yang nyaman.

.

Setelah hampir tiga puluh menit Sakura merileksasikan dan merenggangkan syaraf ototnya di kamar mandi, akhirnya gadis bermata emerald itu memutuskan untuk bersantai di kursi empuknya dan ditemani beberapa cemilan kesukaannya. Meski sedikit bosan dengan suasana yang terbilang sangat sepi karena kedua orang tuanya sedang ada urusan yang tak bisa di tunda dan meninggalkan beberapa pembantu, tapi tak menutupi kemugkinan jika Sakura merasa sangat kesepian. Sesekali Sakura mengganti channel televisinya, namun tak ada satupun acara televisi yang diminati oleh gadis itu. Semua yang ditayangkan berupa gosip murahan dari beberapa selebriti yang ketenarannya mulai menurun sehingga Sakura mendecih menatap acara televisi yang menurutnya sangat tak berguna untuk di lihat.

Tookk... Toookk... Toookkk...

Suara ketukan pintu rumahnya akhirnya membuat Sakura beranjak berdiri. Dengan agak malas ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu rumahnya. "Tunggu sebentar." teriaknya agak keras . "Siapa sih yang datang dijam segini" gumamnya kesal.

Setelah berada tepat di depan pintu rumahnya, akhirnya jemari lentik Sakura membuka pintu rumahnya pelan. Sosok pertama yang ia temuai adalah seorang lelaki jangkung yang berdiri tegap di hadapannya. Raut muka Sakura langsung menegang bukan main. Matanya melotot tajam begitu melihat siapa sesosok laki-laki yang ada dihadapannya sekarang. Sungguh, bila boleh dikatakan, Sakura sangat tidak percaya dengan laki-laki yang ada di depan matanya. Untuk alasan tertentu, Sakura bahkan sudah tak pernah lagi bertemu dengannya dalam jangka waktu yang lumayan lama.

"Berhenti menatapku seolah-olah aku seorang hantu, Saki" Ujar lelaki itu tersenyum simpul. Seorang laki-laki berdiri tegap dengan surai merah dan sebuah tato bertuliskan 'Ai' di sudut keningnya. Laki-laki yang Sakura panggil Gaara itu tersenyum tipis 'wajahnya tak berubah' begitu pikir Sakura. Gaara berdiri tegak diambang pintu rumah Sakura dengan sebuah tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya memang terlihat didingin dan kaku, tapi jika Gaara sudah behadapan dengan gadis yang ada dihadapannya, maka sikapnya itu akan berbeda keseluruhan.

"Apa kau akan tetap membiarkanku berdiri disini, hmm..." sambungnya diselangi elusan lembut pada surai rambut Sakura.

Sontak Sakura terperanjat akan apa yang dilakukan Gaara. "Eh? Hahaha... Maaf Gaara. Aku sangat terkejut dengan kedatanganmu yang begitu tiba-tiba" ucapnya sedikit gugup. Setelah itu Sakura mempersilakan Gaara memasuki rumahnya dengan kecanggungan yang sedemikian rupa.

Demi Kami-sama, bahkan Sakura tak pernah sekalipun berharap jika laki-laki yang ada dirumahnya saat ini adalah Gaara. Jika di ingat-ingat kembali, Sakura sudah tak pernah bertemu dengan Gaara sudah lebih setengah tahun sejak dirinya masih berada di Eropa. Lalu, pertanyaan yang ada di dalam otak Sakura adalah, Apa yang Gaara inginkan sehingga dia bisa berada di Tokyo, dirumahnya. Rumah Sakura."

Gaara mengikuti langkah Sakura dalam diam, matanya tak henti-hentinya menatap interior rumah Sakura yang terkesan sederhana namun memiliki suasa yang sangat nyaman. Dilihat dari tatanan rumahnya, bisa disimpulakan bahwa pemilik rumah ini terkesan ramah dan kesederhanaan yang dimilki sangatlah bijaksana. Mengingat ada begitu banyak rumah yang modelnya hampir sama, dan Gaara beramsumsi jika kedua orang tua Sakura tidak suka dengan kehidupan yang serba WAH.

"Jadi, apa yang membuatmu datang kerumahku, Gaara?" ucap Sakura to the poin setelah menyuruh Gaara untuk duduk.

"Hanya ingin mengunjungi teman lama." jawabnya singkat.

Sakura memincingkan sebelah alisnya tak mengerti, tak terlalu percaya dengan perkataan Gaara barusan akhirnya gadis gulali itu tersenyum tipis menanggapinya.

"Baiklah. Jadi, kau berkunjung kerumahku hanya untuk ini."

Gaara tersenyum tipis. Laki-laki itu menatap Sakura kemudian berkata, "Sebenarnya ada yang ingin aku tawarkan padamu"

~oOo~

Langit sore yang sangat indah. Seluit matahari yang sejak beberapa jam menguasai langit akhirnya harus turun dari tahtanya. Menimbulkan efek warna yang begitu mengagumkan. Kuning keemasan. Satu warna yang mampu membuat siapa saja terlena akan pesonanya.

Bahkan seorang lelaki beriris kelam itu terlihat lebih damai dan tenang dari biasanya ketika tirai biru yang biasanya tertutup rapat kini terbuka dan menampilkan indahnya langit sore keemasan. Meski wajahnya tetap datar seperti biasanya, tapi Uchiha Sasuke memanglah pemuda yang pelit akan ekspresi. Meskipun begitu, bungsu Uchiha ini tampak memegang sesuatu disebelah tangan kananya. Sebuah figora kecil yang dimana menampilkan sesosok gadis bersurai pink kelam dengan sebuah senyum yang mengembang begitu indah dari bibir merekah miliknya. Sebersit kenangan masalalu mulai menghantui ingatannya. Dia sadar, jika selama ini sesosok yang menggantikan Senju Sakura, kekasihnya adalah sosok yang lain. Seorang gadis yang sengaja diperuntutkan untuk dirinya agar kenangan pahit masa silamnya terkubur dalam kenangan. Sedikit menghela nafas, Sasuke mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi selama kesadarannya tidak normal. Bahkan dokter yang bertugas menangani kesembuhan Sasuke sepertinya mulai menunjukkan gejala jika keinginan Sasuke untuk sembuh sangatlah kuat.

Memang, tidak hanya obat-obatan yang menjadi pokok kesembuhan Sasuke, melainkan sesosok wanita yang menjadi salah satu faktor kesembuhan dari pemuda tersebut. Entah kenapa asumsi itu bisa keluar dari dokter spesialis itu, tapi jika di ingat-ingat kembali, semua yang dikatakan oleh gadis bersurai pink itu bisa membuat Sasuke merasa nyaman. Seolah-olah kehadiran gadis itu membuat Sasuke candu.

Ya... walaupun sosok Senju Sakura telah tergantikan dengan Haruno Sakura, sepertinya tak jadi masalah bagi keluarga Uchiha tersendiri. Mengingat tujuan mereka hanya satu, yaitu demi kesembuhan putra bungsunya. Uchiha Sasuke. Bagi mereka, hal itu bukanlah masalah besar jika Sasuke tetap menganggap Haruno Sakura adalah Senju Sakura. Seorang gadis yang meninggal beberapa tahun silam. Kejam memang, disaat Sasuke benar-benar merasakan pentingnya kehadiran Sakura dalam hidupnya, justru gadis mungilnya itu diambil dengan sangat cepat dan menimbulkan dampak yang sangat luar biasa bagi Sasuke.

Lalu kini, di ruangan yang terdiri atas Uchuha Fugaku selaku kepala keluarga tampak serius mendengar penuturan dari Kabuto, selaku dokter spesialis yang sengaja dipekerjaan untuk menangani kesembuhan Sasuke. Bahkan istrinya, Uchiha Mikoto pun tampak ikut menyimak keterangan dokter Kabuto dengan seksama. Dilihat dari ekspresi mereka, sepertinya ada kabar yang baik dan ada pula kabar yang yang menurut mereka kurang menyenangkan.

"Jadi, apa yang harus kami perbuat?" tanya Mikoto begitu mendengar penuturan dari Kabuto. Wanita cantik itu tampak tak sabar mendengar jawaban dari Kabuto begitu mendengar asumsi dari pria berkacamata itu. Sedangkan Fugaku hanya diam dan menatap Kabuto tajam.

Kabuto tersenyum tipis sambil membenarkan tata letak kacamatanya. Kumudian ia menjawab pertanyaan mikoto, " Haruno Sakura, gadis itulah satu-satunya yang paling tepat untuk membuat putera anda bisa normal kembali. Tapi..." jedanyanya sebentar. Kabuto menarik nafasnya keudian menghela. "...pastikan jika tak ada satu orangpun yang mengetahui perihal ini. Terutama anak bungsu kalian. Sasuke." lanjutnya dengan mimik yang serius.

Fukagu dan Mikoto yang mengerti maksud ucapan Kabuto hanya diam dalam pikirannya masing-masing. Ke dua orang itu tahu bagaimana kemajuan yang diperlihatkan Sasuke begitu Haruno Sakura jika berada di dekatnya. Tak menutup kemungkinan jika sebagian besar kesembuhan yang di alami oleh Sasuke karena gadis merah jambu itu. Tapi apakah mereka berhak mengambil kehidupan Sakura untuk kesembuhan Sasuke? Terdengar egois memang, tapi apa mau dikata jika inilah jalan satu-satunya demi kesembuhan putera bungsu mereka.

Takdir memang tak selamanya menimbulkan kebahagiaan yang sempurna, Namun, tak selamanya pula kesedihan akan mendatangkan penderitaan. Segala sesuatu yang ada di dunia ini memang membutuhkan kesabaran untuk membangkitkan diri dari kesengsaraan yang di terima oleh setiap manuasia. Tidak membedakan kaya, miskin. Tua, muda, cantik ataupun sebaliknya. Semua diukur dengan seberapa mampu kita menjalaninya. Toh pada kenyataannya kita di tuntut untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Meski terkadang menyakitkan, tapi ketahuilah bahwa tidak semua yang kau alami ini adalah sebuah karma. Dan keluarga Uchiha menyakini itu!

~oOo~

"Apaa? Apa aku tak salah dengar, Gaara?! Kau berada di Tokyo karena urusan bisnis? Aku tak percaya ini." ungkap Sakura dengan wajah tak kalah terkejutnya. Bahkan gadis gulali itu sampai menggelengkan kepalanya begitu mendengar pernyataan dari pemuda bersurai merah yang ada di depannya itu. "Jadi, kau memintaku untuk bekerja di perusahaanmu untuk menjadi model, begitu maksudmu?" tanya Sakura tak percaya.

Gaara hanya mengangguk singkat. Laki-laki itu bahkan dengan mudah tersenyum dan menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Sakura.

"Hanya saja, kau bukanlah satu-satunya model yang akan bernaung di perusahannku. Sebelum aku menemuimu, sebenarnya aku juga sudah menemui satu model yang akan bekerja denganku" Sakura menyimak setiap perkataan Gaara dengan serius. Sakura mengangguk-angukan kepalanya tanda mengerti. Gaara yang melihat respon positif dari Sakura akhirnya tersenyum lega.

"Ataukah kau sudah mendapatkan tawaran sebelum aku datang menemuimu?" Sakura tertawa renyah begitu mendengar perkataan Gaara.

Mendapat tawaran pekerjaan? Jika mendengar perkataan Gaara barusan, rasanya Sakura ingin membanting gelas yang ada dihadapannya. Jangankan mendapat tawaran pekerjaan, dia bahkan harus merelakan semua pekerjaannya hanya demi menemani Sasuke yang entah sampai kapan. Dan karena hal itu pula, manager yang selama ini memantau pekerjaannyapun harus bersusah payah menolak tawaran dari berbagai kalangan dengan segudang alasan yang sangat bertolak belakang dari apa yang terjadi. Jika mengingat itu, Sakura jadi merasa bersalah dengan managernya yang sudah mau membantunya untuk menutupi kebohongannya. Dan mungkin inilah salah satu kesempatan yang harus Sakura terima. Dia bisa bekerja dengan baik bila pemimpin perusahaan itu sendiri adalah temannya. Tak ada salahnya untuk mencoba, kan?

"Baiklah... akan kupikirkan tawaranmu ini. Tapi, aku harus mendiskusikannya terlebih dahulu pada managerku" Gaara mengangguk mengerti. Baginya, Sakura lah satu-satunya gadis yang diharapkan untuk dapat bergabung di perusahaan yang akan di pimpinnya. Mengingat gadis pink ini sudah membuat hati Gaara berdebar sejak pertemuan pertama mereka di Eropa.

"Hmm... Kalau begitu aku ahrus cepat-cepat kembali ke kantor dan mengurusi beberapa keperluan. Lalu ini..." Gaara mengambil selembar kertas dari saku kemejanya dan memberikan kertas itu pada Sakura, "hubungi aku segera jika kau sudah memutuskannya." Sakura tersenyum mengerti. Kemudian ia mengantar kepergian Gaara

Setelah mengentar kepergian Gaara, Sakura memandang lekat-lekat kertas yang diberikan Gaara. Kertas itu bertuliskan 'Perusahaan Fasion Akasuna' dengan jelas dikertas kecil itu. Dan tak lupa sebuah alamat perusahaan dan nomor telephone yang tertera di bawahnya.

"Apakah aku harus menerima tawaran dari Gaara?" gumam Sakura pelan.

"Karin, bisakah kau datang menemuiku? Ya, di tempat biasanya. Datanglah"

Setelah Gaara menutup telephonenya, laki-laki bertati itu akhirnya masuk ke dalam mobil hitamnya. Menyalakannya dan kemudian bergegas kesuatu tempat yang sudah ia janjikan dengan rekan bisnisnya. Karin.

Meski Gaara terkenal dengan sikap dinginnya, namun lelaki yang memiliki surai merah pekat itu tak pernah sekalipun memandang remeh pekerjaan yang di lakukannya. Mengingat bahwa dirinya bukanlah seorang pemuda yang usianya sudah tak lagi belasan tahun, maka diapun mengerti akan posisinya. Tak heran, jika Gaara dielu-elukan sebagai pemuda yang sangat piawai dalam mengelola dan menghendel semua pekerjaannya dengan sangat baik. Mengingat usianya yang sudah mencangkup dua puluh lima tahun, tidak mengherankan pula jika banyak sekali kolega-koleganya yang dengan sengaja memperkenalkan anak gadis mereka pada Gaara. Namun sepertinya hal seperti itu hanya akan sia-sia belaka. Gaara bukanlah seorang lelaki yang melihat seorang gadis dari caranya berpakaian, make-up, ataupun bagaimana cara gadis itu berjalan. Tidak, tentu saja kriteria yang dimilikinya bukan hanya itu.

Akasuna Gaara. Laki-laki bertato Ai itu bahkan sudah menanamkan bibit hatinya pada salah seorang gadis yang sangat di kaguminya saat pertama kali mereka bertemu. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika sang gadis suatu saat nanti akan membalas perasaannya.

~oOo~

Dan disinilah gadis sexy yang digadang-gadang oleh Gaara sabagai salah satu gadis yang akan diajaknya untuk bekerja diperusahaannya selain Haruno Sakura. Sebut saja dia Karin. Senju Karin. Seorang gadis yang memiliki gaya berpakaian yang serba minim. Apalagi rambut merahnya yang selalu dibiarkan tergerai tertiup angin membuat gadis itu tampak lebih sexy dari sebelumnya. Meski sebelumnya dia adalah seorang peransang, tapi sepertinya Karin tak pernah sekalipun terlihat tertarik dengan bakatnya itu. Buktinya, setelah bergelut dalam fakultas designer selama satu tahun lamanya, akhirnya gadis bersurai maroon itu memutuskan untuk berhanati dan beralih profesi sebagai seorabg modelling yang terkenal di Tokyo dan beberapa kota lainnya. Dia memang di lahirkan di Tokyo, tapi karena suatu keinginanya yang sangt kuat untuk bergelanjut di dunia modelling, akhirnya Karin memutuskan untuk menggeluti dunia modelling di kota Shibuya. Dan hasilnya, gadis yang kerap di panggil nona maroon itu berhasil memasuki dunia modelling dan membesrkan namanya dengan prestasi yang membanggakan.

"Aku tak mau tahu apa masalahmu. Pekerjaanku hanya memamerkan gaun-gaun yang sudah di siapkan. Selebihnya bukan urusanku lagi." ungkapnya. Gadis yang kerap memakai kaca mata itu menatap seorang pria yang ada dihadapannya dengan acuh tak acuh. Tak memperdulikan bagaimana reaksi yang diperlihatkan oleh pria yang ada di depannya, gadis dengan postur tubuh sexy itu malah mengabaikannnya dan kembali meminum jus jeruk yang ia pesan.

"Tapi apa yang kau lakukan tidak memenuhi permintaanku. Nona Karin" tutur laki-laki itu dengan sebuah penekanan di akhir kalimat.

Karin menghela nafas panjang dan menatap pria iu lagi, "Sudah kukataka, itu bukan urusanku." Karin berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berujar, "Maaf, sepertinya kita tak bisa membahasnya lagi. Klienku sudah menunggu kedatanganku" pamitnya sopan meski pria itu tetap menatapnya dengan sorot mata yang tajam

Laki-laki itu tersenyum tipis. Keningnya tertekut dalam saat Karin beranjak dari duduknya sebelum pembicaraan yang cukup a lot terselesaikan dengan baik. Rahang laki-laki itu mengeras dan decihan kecil keluar dari mulutnya.

"Selamat datang di duniaku, Senju Karin" gumamnya pelan dan kemudian lelaki iatu beranjak dari duduknya dan meninggalkan tempat itu dengan sebuah seringai.

~oOo~

Halooo... Kembali lagi dengan saya. Gomenasai jika saya terlambat untuk Update Fict ini. Saya benar-benar gak bisa menjelaskannya, tapi kehidupan RL saya sangat menyita. Dan Tab saya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. ^8^. Jadi mohon maaf untuk ini XXD.

Ah~ bagi kalian yang sedang libur sekolah, selamat menikmati masa-masa bersantai :P.

Ok, Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya buat kalian semua yang sudah me-Follow, Favo dan me-Review Fict ini. Arigatou 8XD.

Dan, Special thanks untuk yang meninggalkan jejak di chap kemarin :

Uchiha Matsumi ~ Khoirunnisa740 ~ KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke ~ hanazono yuri ~ zey-yenns28 ~ Nina317Elf ~uchiharuno susi ~ me ~ Natsumo Kagerou ~ summer ~Tiya-chan ~ Uchiha Sakura ~ Uchiha Yui-chan ~ Guest ~ GADIEST ~ Francoeur ~ Guest ~ UchiHarunoKid ~ Chikai ~ Ryuga Neji ~ sofi as ~

oOo~

Lamongan, 29 – 12- 2013, jawa timur.

Selamat Natal dan Tahun Baru ^8^...\