Ada yang rindu dengan saya? #nyengir kuda. Dan apa kabar kalian? Semoga baik dan sehat. Jangan seperti saya, terjangkit virus Flu dan Batuk selama berhari-hari. Dan itu membuat saya lemas tak bertenaga #lebay mode on ^_^…
Ok, untuk chap 4 ini saya tidak bisa menjajikan apapun. Saya sangat kesulitan mencari ide ini dan saya juga tidak tahu lagi harus mencari refetensi cerita ini dari mana dan dari siapa. Otak saya rasanya terbakar saat berhadapan dengan Fict ini di chap 4. Jadi, jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan, lebih baik kalian segera klick back dan segera tinggalkan Fict gak jelas ini. OK?
~oo66oo~
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.
Rated : T+
Genre : Hurt/comfort, Romance, Family, Drama, Angst
Warningg! OOC, OOT, TYPO, kerusakan karakter, EYD betantakan. Pokoknya sesuatu yang jelek sudah pasti ada disini.
Don't like Don't read, and happy reading!
...
...
Sesosok pemuda yang masih berbalut selimut biru tuanya itu menggeram dan mendecih kesal saat tidur nyenyaknya diganggu oleh suara yang memekikkan gendang telinganya. Dengan sedikit malas dan menghela napas dalam, pemuda itu akhirnya bangun dari duduknya dan menselonjorkan ke dua kakinya. Ia menguap beberapa kali dan mengusap permukaan wajahnya kasar, matanya terpejam seolah masih enggan terbuka untuk melihat sinar matahari dibalik tirai kamarnya. Sedikit merenggangkan otot, lelaki yang memiliki rambut emo tersebut langsung menyambar jam weker yang berbentuk makanan kesukaannya itu dengan kesal. Diliriknya jarum pendek menunjukkan angaka tujuh, sedangkan jarum panjangnya menunjuk ke arah angka dua belas yang berarti waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Setelah tersadar sepenuhnya, pemuda itu mengambil sebuah benda yang terletak disamping tempat tidurnya, dan menatapnya penuh kasih sambil mengucapkan namanya, "Sakura" gumamnya serak.
Sasuke tersenyum tipis saat manik matanya meneliti setiap inci wajah wanitanya tersebut. Seorang gadis yang sangat energik dan selalu mengembangkan senyum manisnya setiap saat meski dirinya tak pernah sekalipun memperdulikannya. Sasuke ingat, foto ini diambil saat ulang tahun perusahaan Uchiha Corp yang kelima belas tahun. Dan hanya foto inilah satu-satunya foto Sakura yang ia punya. Sungguh miris memang, karena hanya foto inilah yang bisa dilampiaskan untuk menggobati rasa rindunya yang kerap kali membeledak. Sudah lebih tiga tahun lamanya semenjak kepergian Sakura, namun sampai sekarang, rasanya sulit bagi Sasuke melepas kepergian wanitanya itu. Kadang ia berpikir, andai saja ia lebih memeperhatikan dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk menemaninya, pastilah keadaan ini tidak akan terjadi. Dan sekarang, rasa kehilangan dan penyelasan, juga rasa rindulah yang menggerogoti hati dan perasaan bungsu Uchiha tersebut. Seandainya saja ia bisa bertemu lagi dengan wanitanya. Entah bagaimanapun caranya, Sasuke ingin sekali bertemu.
Anggap dia gila, karena memang itulah yang diinginkan oleh bungsu Uchiha tersebut. Meski dia tahu jika hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Namun Sasuke tetap berharap bertemu dengan wanitanya tersebut walau hanya dalam mimpi. Rasanya ada begitu banyak hal yang ingin ia ungkapkan, dan ada begitu banyak hal pertanyaan dan rasa permohonan maaf yang ingin dikeluarkannya. Dan Sasuke sangat mengaharapkan Sakura mau datang menghampiri dirinya di alam bawah sadarnya kelak.
Setelah puas memandangi ukiran wajah Sakura, Sasuke lalu meletakkan bingkai foto tersebut keatas meja, berharap suatu saat nanti Sakuranya akan memaafkan segala kebodohannya dulu. Sasuke menyadari, jika dalam masa hidup Sakura, ia tak pernah sekalipun bersikap layaknya sebagai seorang kekasih pada umumnya, dan ia pun menyadari jika wanitanya itu adalah wanita yang paling kuat dan paling sabar menghadapi perilakunya yang terbilang dingin dan tak terlalu memperdulikan dirinya.
Sasuke mengambil napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, berupaya meringankan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya. Dia mungkin tak akan bisa bertemu lagi dengan Senju Sakura, kekasih yang telah lama tiada. Tapi, saat ini masih ada satu orang wanita lagi yang akan mengisi kekosongan hati pemuda tersebut dengan Sakura yang baru, yaitu Haruno Sakura. Gadis bermanik emerald dan bersurai merah muda itu sediki t demi sedikit mulai mengikis emosional Sasuke.
Haruno Sakura adalah seorang wanita yang memang, ataukah disengaja menyerupai Senju Sakura. Yang Sasuke tahu, gadis dari klan Haruno itu memang sengaja disuruh oleh orang tuanya untuk berpura-pura menjadi Senju Sakura. Sasuke memang masih dalam tahap penyembuhan, tapi seorang Uchiha bukanlah seseorang yang mudah dikelabuhi atau ditipu dengan taktik murahan seperti itu bukan? Tapi yang jadi pertanyaan saat ini adalah, sejak kapan Sasuke mengetahuinya? Namun yang jelas Sasuke menyadari jika wanita yang memiliki wajah serupa dengan Sakuranya itu memiliki perbedaan yang sangat menonjol. Seperti saat Sasuke kerap melancarkan beberapa pertanyaan menjebak, dan dengan mudahnya Sasuke langsung menyadari jika wanita yang selama ini ada disampingnya bukanlah Sakura miliknya.
Meski begitu, Sasuke tetap diam. Lelaki itu menutup mulutnya rapat-rapat, karena diakui atau tidak, kehadiran wanita musim semi tersebut cukup berpengaruh akan kondisi dan kestabilan emosionalnya.
Berbagai teka-teki kehidupan telah berhasil menjebaknya dan berhasil menyeretnya sampai kedasar jurang yang terdalam. Lalu, pernahkah ia mendengar titik balik dari sebuah kehidupan? Saat dimana kita mengalami kondisi yang berputar delapan puluh derajat dari apa yang kita punya?! Dan sesuatu yang tak terpikirkan oleh otak jeniusnya pun tak mampu membuat lelaki dark blue itu menolaknya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, akhirnya Sasuke memutuskan untuk turun kebawah guna sarapan pagi. Sebuah rutinitas yang beberapa bulan kebelakang tak pernah sekalipun ia lakoni. Lelaki yang memeliki rambut pantat ayam tersebut menuruni tangga dengan pelan. Ekspresi datarnya tetap dipancarkannya meski para pelayan menyambut dan memberi salam untuknya. Lelaki itu hanya menggumamkan kata andalannya. "Hn"
Setelah sampai diruang tempat dimana ayah dan ibunya berada, Sasuke langsung duduk dikursi biasanya dan mengucapkan salam pada kedua orang tuanya tersebut. "Selamat pagi" ucapnya datar.
Mikoto yang baru menyadari perihal itu tersenyum sumringah. Wanita anggun dan kharismatik tersebut menatap putra bungsunya itu dengan penuh sayang, tak lupa juga dengan Fugaku yang tersenyum tipis begitu melihat anak bungsunya sudah mendekati kata sembuh.
" Dimana Sakura?" tanya Sasuke tiba-tiba. Lelaki emo itu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.
Mikoto menatap suaminya sekilas, dia tahu pasti jika mata Sasuke terbuka, sosok pertama yang ingin dia lihat adalah Sakura.
"Mungkin sebentar lagi akan datang" jawab Mikoto ragu, "dan sebaiknya kita menikmati sarapan pagi ini sebelum dingin" ajaknya diselingi dengan senyuman.
"Hn"
~o99o~
Tidak biasanya gadis dengan surai pink dan bermanik emerald itu menyambut datangnya pagi dengan semangat yang menggebu. Apa karena semenjak kedatangan dan tujuan Gaara beberapa hari yang lalu agar dirinya bisa bergabung diperusahaan Akasuna Corp? Tapi semenjak saat itu keduanya semakin dekat seiring berjalannya waktu. Mereka juga sering pergi bersama kesuatu tempat untuk membicarakan sesuatu, entah apa itu. Sakura sendiripun tak terlalu mengerti dengan situasinya saat ini. Yang jelas, dia akan segera menerima tawaran Gaara dan berhenti menemani Sasuke. Toh Sakura pun cukup pintar mengambil kesimpulan jika kondisi Sasuke saat ini bisa dikatakan normal dari pertama dia melihat kondisi Sasuke sebelumnya. Sakura tidak akan mengatakan dan berpikir demikian jika telinganya tak mendengarnya langsung dari Kabuto, dokter spesialis yang merawat kondisi Sasuke. Yaaa... boleh diakui, jika berita itulah yang ditunggu-tunggu Sakura selama ini.
Sakura bernyanyi kecil didepan kaca besarnya, setelah membersihkan diri dan memilih beberapa baju yang cocok digunakannya dihari ini, ia tak langsung turun kebawah menemani kedua orang tuanya untuk sarapan pagi. Dia bahkan lebih memilih menghabiskan beberapa waktunya untuk bercermin. Tubuh sintal yang dimilikinya digerakkan ke kanan-kiri demi menyempurnakan penampilannya. Hari ini ia berhias diri dengan penampilan yang cukup sederhana tapi tetap terkesan trandy. Rok selutut berwarna merah muda dan dipadu dengan kaos biru tanpa lengan menjadi pelengkap penampilannya saat ini. Gadis yang memiliki klorofil hijau itu tersenyum, pantulan diri didepan cermin sepertinya menjadi salah satu alasan baginya untuk tersenyum tipis.
"Sempurna" Akhirnya satu kata itu ia lontarkan begitu melihat dirinya sempurna didepan cermin.
Sakura melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Dan sepertinya Sakura masih memiliki waktu yang cukup banyak untuk segera datang keperusahaan Gaara. Ia sudah berjanji pada pemuda tersebut jika dirinya akan menemuinya saat pukul sepuluh nanti. Dan sebelum Sakura datang, sepertinya wanita cantik itu harus berkunjung ke kediaman rumah Uchiha terlebih dahulu untuk mengatakan jika dia akan bekerja diperusahaan Akasuna Corp. Dan secara nyata, maka dia akan sangat jarang berada disisi Sasuke selama pengobatan lelaki itu berlangsung.
Dengan senyum yang masih mengembang sempurna di bibirnya, Sakura menuruni tangga dengan sangat anggun. Wanita musim semi tersebut sesekali menyenandungkan lagu kesukaannya, hingga tanpa di sadarinya jika kedua orang tuanya menatapnya dengan wajah keheranan.
"Sepertinya putri ibu sangat senang hari ini," ujar Mebuki jahil. Wanita yang memiliki surai kuning tersebut tersenyum menyambut anak gadisnya. "Ada apa, hmmm?" sambungnya lagi.
Sakuta terkikik pelan. Sedikit menjulurkan lidah dan mengangkat bahu pelan, "tidak ada apa-apa, ibu"
Mebuki mengernyitkan alis tak percaya. Kemudian wanita setengah baya itu melirik suaminya sekilas. Sepertinya wanita ini tak menyukai jawaban dari putrinya tersebut.
"Benarkah. Ibu tak pernah melihatmu berpenampilan seperti ini selama kepulanganmu. Apa yang sedang kau sembunyikan dari ibu, Saki?"
Sakura memutar bola matanya bosan, sepertinya ibunya itu tidak berubah setelah lima tahun tak bertemu. Dan rasa ingin tahunya yang besar itu tidak berkurang sama sekali.
"Jadi, bagaimana?" tanya Mebuki sekali lagi.
"Sebenarnya bukan sesuatu yang spesial, ibu. Hanya saja Sakura ditawari untuk bekerja sama disebuah perusahaan. Dan, yang memimpin perusahaan tersebut itu teman baik Sakura saat di Eropa dulu" tuturnya singkat yang kemudian mendapat anggukan mengerti dari Mebuki
'"Kerja seperti apa memangnya?" Kali ini Kizashi, selaku kepala rumah tangga keluarga Haruno ikut bertanya. Lelaki paruh bayah tersebut memandang lekat-lekat wajah Sakura menuntut penjelasan.
"Sakura hanya akan menjadi salah satu model di perusahaan Akasuna Corp. Lagipula sejak kepulangan Sakura ke Tokyo, Sakura belum mendapatkan pekerjaan yang cocok. Bagaimana menurut ayah?" tanya Sakura dengan antusiasme.
"Menurut ayah, jika kau bisa mempertanggung jawabkan segala sesuatunya, kenapa tidak." ucapnya bijak yang langsung disambut gembira dari Sakura.
"Lalu, bagaimana dengan Sasuke? Apa tidak apa-apa jika ditinggal begitu saja?" tanya Mebuki mengintrupsi.
Anggukan kecil dari Kiazhi seolah membenarkan perkataan istrinya tersebut. Sudah sewajarnya jika mereka memikirkan bagaimana kondisi Sasuke, mengingat bahwa anak dari sahabatnya itu masih dalam tahap pemulihan.
Sakura mengernyit begitu mendengar perkataan ibunya dan anggukan setuju dari ayahnya tersebut. Entah kenapa raut wajah Sakura sedikit mengeras begitu mendengar nama laki-laki tersebut. Bukan karena apa, hanya saja Sakura sudah mulai bosan jika dihubung-hubungkan dengan lelaki emo tersebut. Sakura seolah sudah tak terlalu memperdulikan bagaimana kondisi yang Sasuke alami saat ini. Tapi meskipun demikian, Sakura tetap memiliki tanggung jawab atas hal itu. Dan ingat, bahwa ayahnya sendiripun sudah memperingati Sakura jika dia harus konsekuen dan bertanggung jawab dengan segala apa yang diperbuatnya.
"Entahlah... Sakura sendiri cukup binggung. Mau sampai kapan Sakura terus memerankan wanita itu" ungkap Sakura pelan.
~o888o~
~o888o~
Setelah pembicaraannya dengan keluarganya tadi pagi, Sakura terus menerus terngiang akan perkataan ibunya. Jika dia bekerja ditempat Gaara, lalu bagaimana dengan kondisi Sasuke? Itulah yang Sakura pikirkan saat ini. Memang, jika kesembuhan Sasuke hampir sepenuhnya berhasil, tapi akankah Sasuke akan lepas kontrol kembali jika ia tak ada didekatnya? Dan itulah yang menjadi masalah bagi Sakura. Bukannya Sakura menolak atau ingin menyudahi untuk membantu penyembuhan Sasuke, tidak, bukan seperti itu maksudnya. Hanya saja mau sampai kapan ia akan tetap seperti ini. Berpura-pura menjadi Senju Sakura? Entah kenapa Sakura seolah kehilangan jati dirinya sejak ia memerankan dirinya menjadi Sakura.
Sedikit menghela napas dan mengusap permukaan wajahnya dengan kasar, wanita yang memiliki manik emerald tersebut hanya bisa pasrah dan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan perihal tersebut. Dan untuk saat ini, sepertinya ia harus menomor satukan kesembuhan Sasuke terlebih dulu.
.
Sakura menarik napasnya pelan, saat ini ia sedang berada di tengah-tengah keluarga Uchiha dengan sedikit obrolan disana. Namun nampaknya tak ada satupun perkataan yang Sakura tangkap dari perbincangan tersebut. Hingga sebuah tangan menepuk bahunya pelan, Sakura seperti tertarik kembali dari dunianya sendiri.
"Ada apa?" suara tegas nan berat itu seolah menggelitik telinga Sakura. Seorang lelaki yang duduk tepat disampingnya itu seperti memergoki dirinya yang saat ini tengah melamun dengan pemikirannya sendiri. Sedikit kikuk dengan kebodohan yang baru saja ia ciptakan, Sakura langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Kau terlihat aneh hari ini." tanyanya lagi. Lelaki dengan postur tegap dan berambut emo itu terus mempertanyakan keanehan yang ditimbulkan Sakura, "apa kau sakit?" ucapnya dengan menyentuh kening Sakura pelan.
"Ti-tidak! Aku baik-baik saja, Sasuke-kun" ujarnya berkilah beserta rasa gugup yang tibs-tiba menyerangnya.
"Kau terlihat aneh. Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Sasuke lagi. Laki-laki dengan paras tampan itu membelai pipi Sakura pelan, kemudian mengecup keningnya singkat. Lalu ia berujar kembali, "lebih baik kau beristirahat"
Sakura tersenyum kaku menanggapinya. Ia sudah tak tahu lagi harus mengucapkan perkataan apalagi untuk membantah perkataan Sasuke barusan.
"Ada apa? Apa Sakura-chan sakit?" tanya Mikoto saat tak sengaja melihat putra bungsunya tersebut menyentuh kening Sakura.
"Ah~ tidak kok, bi. Sasuke-kun terlalu melebih-lebih kan" ujarnya pelan.
"Cuaca panas memang selalu begini. Jangan sampai kau jatuh sakit" ujar Fugaku. Lelaki paruh bayahbitu menatap Sakura sekilas, kemudian ia melanjutkan acara membacanya lagi.
"Baik, paman"
Menarik napas pelan kemudian dihembuskan dengan perlahan. Sakura benar-benar merasa sangat diperhatikan dan merasa disayangi oleh keluarga Uchiha. Dia akui, jika tak ada alasan baginya untuk meninggalkan Sasuke dan rumah ini begitu saja. Dilubuk hatinya yang paling dalam, ia juga tak rela jika harus berpisah dari keluarga Uchiha yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri. Namun, akankah ia mampu merelakan pekerjaan yang sudah ditawarkan oleh Gaara. Sakura juga ingin menggeluti aktifitasnya menjadi seorang model. Apakah dia boleh seegois itu?
"Maaf, bisakah aku bicara sebentar?" Sakura menatap seluruh keluarga Uchiha sedikit ragu, tapi setelah ia berpikir ulang, sepertinya ini waktu yang tepat untuk membicarakan yang sesungguhnya.
"Sebenarnya, beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang mengajakku untuk bekerja sama diperusahaan yang dia pimpin. Jadi..."
"Kau ingin menerima tawaran itu dan meninggalkanku, begitu?" intrupsi Sasuke memotong perkataan Sakura dengan tegas. Laki-laki itu seolah enggan mengiyakan perkataan Sakura yang akan ikut bergabung diperusahaan temannya.
"Tapi Sasuke-kun, aku-"
"Tidak! Kau tak boleh menerimanya" ucapnya sekali lagi. Manik kelam Sasuke menatap tajam emerald Sakura yang menatapnya takut.
"Bukan begitu maksudku Sasuke-kun"
Sakura tak tahu harus berujar seperti apalagi. Dia tahu benar dengan karakteristik Sasuke. Mengenal pemuda itu lebih dari sebulan lamanya membuat Sakura tahu bagaimana perilaku yang Sasuke miliki. Lelaki itu tak akan pernah mencabut setiap perkataan yang sudah ia lontarkan tanpa suatu alasan pasti.
"Pekerjaan seperti apa yang mereka tawarkan?" tanya Fugaku menengahi. Ia tak suka ada perdebatan dimana ia sedang menikmati aksi membacanya.
"Sebagai model. Mereka menawariku sebagai seorang modelling disana." ungkap Sakura. Fugaku mengangguk begitu mendengar jawaban dari Sakura. Kepala rumah tangga itu hanya mendesah dan kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuat seseorang terkejut dibuatnya.
"Hmm... jika kau memang ingin menerimanya, silahkan saja!"
Sakura terperangah begitu mendengar ungkapan dari Fugaku. Senyum manisnya langsung mengembang dengan lebar atas pengakuannya. Namun setelah ia melirik lelaki yang ada disampingnya sekarang, Sakura langsung menghentikan senyumannya dan menghela napas atas reaksi yang ditunjukkan oleh Sasuke.
"Sasuke-kuuuunn~" rajuk Sakura manja. Ia tahu benar bagaimana perasaan Sasuke sekarang. Wanita dengan surai merah muda itu memegang tangan Sasuke dan menariknya ke dalam dekapannya. "Kau mengijinkanku?" ijinnya sekali lagi pada Sasuke.
Sasuke diam, ia bahkan tak merespon genggaman tangan dan rajukan yang Sakura ucapkan. Sasuke bahkan dengan kasar melepas kan tangannya dan beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga tersebut dengan kesal. Sakura tersenyum kecut, ia tak pernah sekalipun melihat sisi kasar yang Sasuke lakukan. Seburuk dan sesalah apapun yang Sakura pernah lakukan, Sasuke pasti akan tersenyum tipis dan mengatakan jangan mengulanginya lagi. Tapi kali ini? Sepertinya tidak semudah dan segampang itu.
"Sebenarnya kami tak keberatan. Kami juga mengerti posisimu Sakura-chan. Tapi jika sikap Sasuke seperti itu, sepertinya bibi dan paman tak tahu harus bagaimana lagi. Sebaiknya Sakura-chan berbicara sendiri pada Sasuke. Hmmm?"
.**.**.
Sakura mengetuk pelan pintu kamar Sasuke yang tertutup rapat. Gadis dengan surai merah muda tersebut sedikit binggung dengan tingkah Sasuke yang menurutnya sangat berlebihan. Bukan hanya itu, Sakura bahkan harus ekstra sabar untuk menghadapi kekeras kepalaan pemuda tersebut agar pertengkaran kecil ini tak terlalu membesar. Dia hanya perlu satu jawaban iya untuk bisa bergabung diperusahaan Akasuna Corp. Tapi sepertinya Sakura akan menemui kesulitan jika Sasuke tetap bersikeras untuk tidak mengijinkan keinginannya.
"Sasuke-kun, buka pintunya" teriak Sakura cukup keras. Sudah berulang kali ia memanggil dan mengetuk pintu Sasuke, namun sampai detik ini pun tak ada respon apapun darinya. Jangankan membuka pintu, untuk menjawab panggilan Sakura saja Sasuke tak menyahutinya.
"Kumohon Sasuke-kun. Buka pintunya." pinta Sakura untuk kesekian kalinya. "Baik, jika kau tak membuka pintu ini, aku akan pulang dan menemui Gaara" ucap Sakura kesal. Gadis itu membalikkan badannya dan berniat pergi meninggalkan rumah Uchiha tanpa atau tidak ada izin dari sipemilik rumah. Sakura benar-benar sudah mencapai puncak maksimum untuk membujuk Sasuke agar lelaki itu membukakan pintunya.
"Sekali saja kau pergi dari rumahku, kau akan tahu akibatnya, Cherry"
Sakura langsung terperanjat kaget begitu mendengar penuturan Sasuke. Badannya menegang, seolah-olah ada seseorang yang menatap punggungnya tajam. Sakura memutar tubuhnya, dan benar saja dugaannya. Saat ini Sasuke berdiri tepat dihadapannya. Rahangnya mengeras, dan manik matanya menusuk tajam saat menatap emerad Sakura.
"Dan jangan pernah coba-coba pergi dariku!" ucapnya tegas. Sasuke langsung menarik lengan Sakura dan membawanya masuk kedalam kamarnya. Suasana tiba-tiba terasa kaku, bahkan Sakura sampai kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri karena takut dengan tatapan yang diberikan Sasuke.
"Siapa yang akan pergi darimu Sasuke-kun? Aku akan tetap disini, bersamamu!"
"Kau bohong!"
"Demi Tuhan, Sasuke-kun. Apa alasan bagiku untuk meninggalkanmu?" tanya Sakura. Ia sungguh sangat pusing melayani pertengkaran yang menurutnya sangat konyol ini, "dengar! Aku hanya bekerja disana, dan aku pun tak mungkin jauh darimu. Ingat, kita masih satu kota, Sasuke-kun. Kau bisa menemuiku dirumah jika ingin bertemu denganku atau kau menghubungiku kapan saja jika itu yang kau mau. Tapi..." Sakura menghela napas kemudian menatap manik kelam itu lagi, "biarkan aku bekerja disana. Aku ingin mencobanya" tuturnya memberi penjelasan.
Sasuke terdiam mendengar penuturan dari Sakuranya tersebut. Lelaki emo itu memandang lurus manik bening tersebut dengan teliti. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin saja disembunyikan oleh Sakura.
"Jadi, bagaimana?"
Sasuke menghela napas dan memejamkan matanya. Sedikit berpikir secara logis tentang penawaran yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya tersebut.
"Terserah!" ungkapnya pelan.
Sakura tersenyum senang begitu mendengar persetujuan Sasuke. Gadis itu tanpa sadar langsung memeluk tubuh bidang Sasuke dengan erat. "Terima kasih, Sasuke-kun~" ungkapnya.
"Dan jangan coba-coba berdekatan dengan Gaara." sontak Sakura melepaskan pelukannya. Ia menatap Sasuke dengan alis mengkerut.
"Kau tahu siapa Gaara, Sasuke-kun?" tanya Sakura binggung
"Kau yang memberi tahukan namanya. Dan perkataanku itu berlaku untuk setiap laki-laki. Kau mengerti?" Sakura mengangguk cepat. Ia sudah tak ingin menghancurkan mood Sasuke yang sudah membaik. Dia sangat tahu bagaimana posesif dan protektif-nya Sasuke jika ada satu laki-laki lain mendekatinya.
.
~oo999oo~
.
TBC
.
.
.
Horeeeeee... saya kembaliiiiii _ #kemudian dilempar sandal ==". Ok, saya minta maaf atas keterlambatan saya yang sangat luar biasa ini. Saya juga tidak akan memberi alasan kenapa saya sampai lama tidak mempublish Fict ini, karena menurut saya itu percuma!. Dan... Adakah yang menunggu Fict ini? Hayooooo... ngaku :p.
Yups, saya nggak tahu harus bilang apalagi, saya sungguh sangat terkejut begitu melihat apresiasi yang kalian tinggalkan di kotak review. Rasanya saya ingin meledak #bhoommm
Dan, saya juga mengucapkan banyak terima kasih bagi yang meninggalkan review di Chap kemarin ;
sofi asat,, hanazono yuri,, Febri Feven,, Aozora Straw,, UchiHarunoKid,, Anka-Chan,, Kitana Uchiha88,, Nina327Elf,, Chi-Chan Najiyah,, Ser-Chan3,, Edelwish,, Kumada Chiyu,, Eysha'CherryBlossom,, me,, Uchiha Hana-chan,, Yuka-chan,, HikaruChi,, Miyu-Zawaki,, Kiraina,, Haruka Hibiki,, Guest,, .16,, adam. ,, ,, Guest,, Hini Ucb,, UchihaHidayat15,, haruchan.
Yosh... Sepertinya sudah sampai disini dulu. Dan mohon maaf jika ada pengetikan nama yang salah XDD.
Satu lagi, bisakah kalian memberikan saya saran, kritik, dan kesannya untuk Fict saya yang berjudul "Heart"
Arigatou~
Lamongan,, 19-02-2014,, Jawa Timur.
Salam sayang ; UchiHaru Mey.
