Haiiii... bertemu lagi dengan saya. Bagaimana dengan Chap kemarin? Puas atau ada yang kurang sampai banting Hp dan sejenisnya (?). Hehehe... Untuk kali ini saya tidak terlambat seperti kemarin kan? Iya kaaaannnn...? Dan akan saya usahakan untuk tetap seperti itu.
Baiklaaaahhh... Sudah tak perlu banya cakap dan cingcong lagi, bagaimana kalau kita baca Fict gak jelas ini terlebih dahulu. :p
..
Disclaimer © Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.
Rated : T+
Genre : Romance, Family, angst, Hurt/comfort, Drama.
Warning! OOC, OOT, TYPO, EYD berantakan dan kejelekan lainnya ada disini.
...
Don't like Don't read, and happy reading!
Sudah lebih seminggu sejak Sakura memutuskan untuk bergabung di perusahaan Akasuna Corp dengan persetujuan Sasuke. Meski pada awalnya Sasuke melarang keras keinginan Sakura, namun pada akhirnya lelaki emo itu mengiyakan permintaan kekasihnya tersebut dengan berat hati. Ya... memangnya siapa yang tak mengenal Sasuke? Lelaki dingin dan selalu irit bicara itu saat ini digandrungi oleh kaum hawa.
Dia tampan, pintar, pandai dan sikapnya yang terkesan acuh tak acuh tersebut menjadi salah satu magnet bagi kaum wanita. Sudah jelas, jika lelaki Uchiha yang kini telah menjadi incaran bagi wanita ini bukanlah sembarang lelaki. Tapi, tak tahu kah kau, jika dia dulunya memiliki masa lalu yang kelam? Tentu saja tidak. Tak ada seorangpun yang tahu dan mengerti akan kodisi Sasuke sebelum itu, bahkan hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana masa lalu Uchiha Sasuke. Yang mereka lihat dari pemuda Uchiha tersebut sekarang adalah, seorang lelaki tampan yang saat ini mencapai puncak popularitas atas kerja kerasnya dalam keikut sertaannya di perusahaan Uchiha Corp.
Dan setelah kesembuhannya yang terbilang tidak mudah itu, akhirnya Sasuke memutuskan untuk keluar dari sangkarnya. Dengan syarat, bahwa ia harus melakoni rutinitasnya ke dokter spesialis dan selalu meminum obat dengan teratur. Tanpa membuang waktu dan memikirkannya lagi, Sasuke langsung menyetujui persyaratan yang diajukan oleh ayahnya tersebut. Lalu sekarang? Pemuda emo itu bahkan dengan suksesnya kembali menyita kaum hawa dengan eksistensinya yang pandai mengelolah perusahaan dengan piawai dan sangat cermat. Jadi, wanita siapa yang tak kepincut dengan lelaki seperti dirinya? Dan jawabannya pasti, tidak ada!
Hubungannya dengan Sakura sendiri masih terbilang baik, meski Sakura jarang menemani Sasuke menemui Kabuto di rumah sakit, tapi kominakasi yang mereka jalin tetap normal seperti biasanya. Dan kadang-kadang, Sasuke pergi mengunjungi rumah Sakura dikala rasa rindunya sudah tak bisa ditahan lagi. Meski Sakura merasa hubungan yang mereka jalani karena suatu hal, tapi entah kenapa gadis musim semi itu cukup menikmatinya juga. Dan tak bisa dipungkiri lagi, jika keduanya terikat dengan benang tak terlihat.
Lalu, bagaimana dengan Sakura begitu tahu jika Sasuke adalah sosok pemuda yang saat ini dipuja dan dielu-elukan oleh wanita lain? Haahh~ sebaiknya jangan mempertanyakan itu. Terakhir Sasuke bertengkar hebat dengan Sakura karena sekertaris yang baru tiga hari bekerja dibawah naungan Sasuke, nekat mengenakan baju yang serba mini dan selalu berupaya mengambil kesempatan untuk merayu Sasuke. Dan entah bagaimana ceritanya, wanita dengan tubuh montok itu selalu mendempet dan menempel Sasuke saat ada kesempatan, dan yang lebih parahnya lagi saat itu Sakura tiba-tiba saja masuk dan melihat aksi heroik sekertaris Sasuke dan kemudian Sakura berteriak memarahi mereka berdua. Sontak Sasuke langsung terperangah, ia bahkan tak tahu jika kekasihnya tersebut akan datang dan melihat sekertarisnya mencoba untuk merayunya. Pertengkaran mereka bahkan sampai dua hari, Sakura tak pernah mau bertemu dengan Sasuke, menerima sms, email, dan telepon saja Sakura sudah tak memperdulikannya. Hingga Sasuke dikabarkan sakit karena terlalu lelah bekerja, akhirnya Sakura mengalah dan segera menemui Sasuke saat itu juga.
Meskipun begitu, hubungan seperti apakah yang mereka jalani?
Satu pertanyaan yang selama ini masih belum terungkap. Mau sampai kapan Sakura akan terus menerus memakai nama Senju Sakura di depan Sasuke?
Dan hal itulah yang sering membuat dirinya dilema. Bukan karena apa, hanya saja dia juga ingin dipanggil dengan namayanya sendiri, Haruno Sakura. Kadang ia berpikir dalam diam, apakah hubungannya dengan Sasuke akan tetap seperti ini jika Sasuke tahu kenyataan yang sesungguhnya? Akankan Sasuke akan membencinya karena dia merasa dibohongi. Dan akankah Sasuke akan meminta dirinya untuk tetap disisinya? Entah ada berapa kalimat akankah yang akan terucap, tapi itulah yang Sakura rasakan sekarang. Dia merasa jika dia telah mempermainkan perasaan Sasuke dan begitu juga dengan perasaannya sendiri. Tak ayal, jika suatu saat nanti kebenaran akan terbongkar.
Sakura dengan pelan menghela napasnya dalam, wanita dengan iris hijau bening itu merasa jika kebohongan ini harus segera diluruskan. Tapi, bagaimana caranya? Ia tak mungkin langsung memberi tahu perihal ini pada Sasuke tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada keluarga Uchiha, kan? Jika seperti ini terus, Sakura yakin jika akan ada banyak kebohongan-kebohongan yang akan tercipta.
Sakura menatap jendela kamarnya yang sedikit terbuka dengan muram, pikirannya melayang atas apa yang harus dia lakukan. Apakah ia harus terus menjalani drama ini selamanya, ataukah ia mencoba memberi pengertian yang sesungguhnya pada Sasuke? Entahlah, sepertinya dua pilihan tersebut sama-sama berat untuknya.
Sedikit melirik jam yang berbentuk hati diatas meja dekat kamar tidurnya, lagi-lagi Sakura menghela napasnya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit. Dan ia merasa jika malam ini terasa amat panjang dan sepi. Sakura tak mengerti, kenapa keluarga Uchiha tidak segera memberi tahukan yang sesungguhnya akan kejadian yang sebenarnya? Bukankah Sasuke sudah terbilang normal dibandingkan bulan lalu, kenapa keluarga Uchiha seolah membiarkan cerita ini berlanjut begitu saja. Sakura memejamkan matanya dan menghela napas panjang, sepertinya dia sudah tak bisa menunggu lama akan ini.
Sinar matahari pagi mulai mengusik ketenangan seorang gadis yang masih meringkuk mencari kenyamanan dan kehangatan disana. Sedikit mengernyit kesal karena pagi sudah menyambutnya cepat. Hari ini hari minggu, hari dimana seharusnya ia bisa menghabiskan seluruh waktunya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Dua hari yang lalu, dia baru saja menyelesaikan pemotretan dan peragaan busana yang bahkan hampir menyita seluruh waktunya. Ia bahkan harus merelakan tubuhnya diguyur air saat melakukan sesi pemotretan yang mengharuskan ada adegan hujan-hujannan. Sedikit malas untuk beranjak bangun, akhirnya dengan enggan Sakura menyibak selimutnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum kakinya melangkah, Sakura merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya. Kepalanya pening, dan saat ia menyentuh keningnya rasa hangat langsung dirasakannya.
"Haaahh~ sepertinya tubuhku kembali berulah" ujarnya serak. Gadis dengan klorofil hijaunya itu pada akhirnya tetap melangkahkan kakinya kekamar mandi. Mungkin ada baiknya jika ia harus menyegarkan badan dan pikirannya yang runyam.
Setelah selesai menyegarkan diri dan berganti pakaian sederhana, Sakura langsung turun ketempat dimana seharusnya ia berada. Ruang makan, tempat dia dan kedua orang tuanya menghabiskan sarapan pagi bersama.
"Ohayou..." sapa Sakura pelan kemudian duduk ditempat biasanya ia tempati.
"Ohayaou, Sayang" jawab Mebuki dan Kizashi bersamaan.
"Tumben sekali bangun sepagi ini. Bukankah ini hari libur?" tanya Mebuki begitu melihat anak gadisnya bangun pagi. Wanita Haruno itu tersenyum tipis saat melihat putrinya tersebut mendengus pelan saat mendengar perkataannya barusan.
"Baiklah, setelah ini Sakura akan tidur kembali" ujar Sakura tak senang.
Mebuki tertawa kecil, wanita itu paling senang saat dimana melihat Sakura kesal dan merajuk seperti ini, "Kau tahu, Saki. Entah kenapa Ibu merasa dunia itu sangat cepat berlalu"
Sakura memincingkan sebelah alisnya tak mengerti, "Maksud ibu?"
"Dulu kau masih kecil, dan masih suka bermanja-manja dipangkuan ibu. Tapi sekarang, lihat dirimu. Kau tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar dan juga berprestasi. Ibu sangat bangga memiliki putri sepertimu, Saki." tuturnya dengan ekspresi penuh kebanggaan. "Benarkan, Kizashi." sambungnya lagi menatap suaminya.
"Tentu! Aku rasa kau mewarisi semua bakat ayah" ujar Kizashi membanggakan dirinya. Sakura tersenyum, ia tak menyangka jika ayahnya itu bisa berlagak demikian.
"Benarkah?" tanya Mebuki tak suka mendengar perkataan suaminya.
"Jadi, ibu tidak memariskan apapun untukku?" tanya Sakura menatap ibunya dengan terkikik.
"Jangan bercanda, kau memilikinya sayang. Ayahmu memang terlalu percaya diri! Memangnya dari siapa wajah cantik dan senyum manismu itu kalau bukan dari ibu." ungkapnya membela diri. Dan Sakura hanya bisa tersenyum geli mendengarnya.
Semua tertawa, dan acara sarapan pagi kali ini terlihat sangat menyenangkan untuk keluarga Haruno. Suasana yang sangat ramai, gembira yang dipenuhi berbagai perbincangan. Dan yang paling terpenting adalah kebersamaan.
"Apa hari ini kalian akan pergi berkerja. Bukankah ini hari libur?" tanya Sakura setelah selesai menyelesaikan sarapannya. Manik emeraldnya memandang kedua orang tuanya yang sepertinya sudah siap untuk berangkat.
"Bagi ayah, tidak ada hari libur meski saat ini memang harus libur bekerja"
"Eah? Kenapa harus. Perusahaan itu kan milik ayah. Aku rasa ayah bisa libur kapan saja" dengus Sakura kesal dan merajuk memandang Kizashi.
"Haaah~ kalau ada penerus untuk perusahaan Haruno Corp, mungkin ayah bisa libur" ujarnya dengan seringai jahil. Sakura melotot tak percaya dengan apa yang barusan ayahnya ucapkan. Ia bahkan harus mengerjapkan mata berkali-kali dan memandang ayahnya curiga.
"Ma-maksud ayah apa?"
"Bukankah Sasuke akan datang kesini?" sela Mebuki mengerti maksud ucapan suaminya. Wanita bersurai kuning tersebutl lalu mengerling nakal kearah Sakura.
"Ibuuuu..."
Mebuki dan Fugaku tertawa melihat wajah Sakura yang tiba-tiba memerah. Kedua orang tersebut sangat tahu bagaimana perkembangan hubungan Sasuke dan juga putrinya tersebut. Meski mereka jarang bertemu dengan Sasuke, namun mereka telah mempercayakan Sakura sepenuhnya pada pemuda emo itu. Meski Sasuke jarang sekali berbicara, tapi mereka tahu jika mata Sasuke menyiratkan kasih sayang dan cinta yang tulus untuk putrinya.
"Sasuke sangat mencintaimu, sayang" ujar Mebuki tiba-tiba. Wanita paruh bayah itu menatap putrinya dan membelai surai merah mudanya. "bukankah itu bagus. Bagaimana?" sambungnya.
Sakura terdiam sesaat. Dia mengerti kemana arah pembicaraan orang tuanya. Menikah? Yaaa... Sakura sadari itu. Hubungan antara dirinya dan Sasuke memang sangat baik. Dan tak bisa di pungkiri lagi, jika Sasuke sangat menggantungkan semua hidupnya hanya untuk membuat Sakura tersenyum. Hanya terkadang, ada saatnya Sasuke akan menampilkan sisi over protektif dan posesifnya jika ia melihat lelaki manapun yang berani mendekati Sakuranya. Jadi, salahkah jika sebagian orang beropini demikain? Apalagi Sasuke sering menginap dan kadang menghabiskan waktu liburnya dirumahnya. Dan siapa yang tidak akan beranggapan jika suatu saat nanti Sasuke dan Sakura akan menikah.
"Tentu! Sasuke memang mencintai Sakura. Senju Sakura. Bukan Haruno Sakura" Mebuki dan Kizashi tertegun begitu mendengar perkataan Sakura barusan. Mereka menatap putrinya yang tersenyum tipis kearahnya, tapi mereka tahu bahwa senyum yang diberikan oleh Sakura hanya sebagai rasa kekecewaan.
.
Sakura tidur diatas kasur empuknya dengan ditemani anjing kesayangannya. Ia sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan kamarnya atau beranjak dari tempatnya sekarang. Tubuhnya lemas dan kepalanya seolah ingin pecah. Ia ingin seharian ini menghabiskan seluruh waktu liburnya untuk beristirahat. Untuk hari ini, biarkan ia merasa tenang, itulah keinginan Sakura...
Tapi, sepertinya keinginanya itu harus dikubur dalam-dalam begitu indra pendengarannya mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Sakura masih tetap diatas kasur.
Tak ada jawaban, Sakura mengernyit dalam saat pertanyaan yang ia lontarkan tak ada jawaban sama sekali.
Took... Toookk... Toookkk...
"Jika ingin masuk, masuk saja. Aku tak mengunci pintu" dengusnya kesal.
Sakura tetap pada posisinya semula. Berbaring miring ditemani anjing kesayangannya. Shiro.
Sakura merasa saat ini ia agak emosional, entah kenapa ia tiba-tiba bersikap demikian. Yang pasti, ia akan merasa tersinggung dengan sesuatu yang sepele. Lihat saja wajahnya yang memerah, kepalanya pening, dan yang lebih parahnya lagi tubuhnya mulai memanas. Sakura membuka dua kancing bajunya dan membiarkannya begitu saja. Dia ingin merasakan sensasi sejuk saat angin membelai kulitnya.
Tanpa disadarinya, sosok jangkung berjalan kearahnya pelan. Sedikit menghela napas dan menggeleng pelan. Sosok pemuda tinggi tegap tersebut mengernyit heran saat manik kelamnya melihat sesuatu yang dipeluk oleh kekasihnya tersebut. Sedikit mendengus kesal, akhirnya ia duduk disisi ranjang Sakura tanpa sepengetahuannya.
"Ternyata kau lebih suka memeluk seekor anjing daripada aku" sindirnya saat ia mengetahui Sakura mengelus surai lembut anjing kesayangannya dengan sayang.
"Eh?" Sakura tersentak, dia tahu dan sangat mengenal siapa pemilik suara ini. "Sasuke-kun?"
"Hn..."
"Sejak kapan Sasuke-kun ada disini" tanyanya sedikit binggung.
Sasuke menyibak poni Sakura dan mengecupnya, "Sejak kau menyuruhku masuk"
Sakura tertawa kecil. Ternyata yang mengetuk pintu barusan adalah, Sasuke. Begitu pikirnya.
"Ada apa, kenapa tiba-tiba datang sepagi ini. Tidak biasanya"
"Hn"
Sakura memincingkan matanya kesal. Menatap Sasuke yang hanya diam tanpa memberikan jawaban yang lain atas pertanyaannya barusan. Ia sungguh paling tidak suka saat pertanyaannya dijawab dengan sebuah kata yang tidak ada maknanya sama sekali.
"Kau menyebalkan!" ungkap Sakura kesal yang hanya ditanggapi dengan seringai Sasuke.
Gadis dengan surai merah muda tersebut mendengus, iris matanya menatap tajam Sasuke seolah lelaki yang ada dihadapannya sekarang adalah manusia es yang pernah ia kenal. Posisi yang tadinya tidur bersantai, kini dengan terpaksa harus berubah. Sepertinya ia harus duduk dan berhadapan langsung dengan pemuda ambigu tersebut.
"Sasuke-kunnnnnnn" ujarnya setengah berteriak memanggil Sasuke.
Sasuke menatap gadis dihadapannya itu dengan mengernyitkan sebelah alisnya. Mata kelamnya menelusuri setiap ujung rambut Sakura hingga sampai dasar yang tak terlihat. Matanya langsung tertuju pada satu pengelihatan, belah dada Sakura. Sedikit mengernyit dalam dan mencengkram pergelangan Sakura kuat.
"Sa-sakit Sasuke-kun, apa yang kau lakukan?" desis Sakura menahan sakit dipergelangan tangannya yang dipegang Sasuke erat.
"Dadamu, kenapa dadamu ada bekas luka seperti itu?" geram Sasuke. Manik hitamnya terus mendelik menatap permukaan dada Sakura yang merah. Seperti bekas sesuatu yang entah karena apa.
Sakura terkejut, ia lupa. Sangat lupa jika ia sudah membuka dua kancing kemejanya. Gadis dengan iris beningnya itu akhirnya mengikuti kemana arah mata Sasuke berada. Sedikit tersentak dengan apa yang ia lihat, akhirnya ia menutupi dadanya dengan sebelah tangan kanannya.
"Bu-bukan karena apa-apa kok Sasuke-kun" ungkapnya gugup. Mana mungkin Sakura bilang jika ini karena hasil dari bekerjanya. Ia juga tak akan begitu bodohnya mengatakan yang sesungguhnya pada Sasuke. Jika sampai itu terjadi, bisa dipastikan jika saat ini juga, Sasuke akan menyeretnya ke dokter dan menyuruhnya keluar dari tempatnya ia bekerja sekarang.
"Kau tahu aku tak suka dibohongi bukan?" ujar Sasuke tajam.
Sakura meneguk ludahnya susah payah, ia tak tahu harus menjawab apa atas luka merah yang didapatkannya.
"Alergi" dan satu jawaban itu seolah meluncur begitu saja dari bibirnya.
Sasuke mengernyit, "Alergi?"
"Kemarin aku memakai bedak yang baru saja kubeli. Dan ternyata kulitku tidak cocok dengan bahannya. Untung saja kugunakan didada. Jika tidak, entahlah" ungkap Sakura sekenanya dengan alasan yang tanpa sengaja keluar begitu saja dari mulutnya.
Sasuke melepaskan genggamannya, sedikit menghela napas dan mencium bibir Sakura sekilas, lelaki emo itu akhirnya tersenyum tipis. "Ku pikir karena suatu hal."
Sakura tertawa hambar, sepertinya alasan yang tak sengaja diucapkannya barusan berhasil mengelabuhi Sasuke.
.
~oo888oo~
.
Akasuna Gaara menghela napas berat, pikirannya tidak fokus saat dirinya mengerjakan beberap dokumen yang tergeletak di meja kerjanya dengan rapi. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pemuda bertato Ai tersebut. Yang jelas, konsentrasinya saat ini tidak baik untuk menyelasaikan tumpukan dokumennya. Bisa jadi, jika ia mengerjakan dokumen-dokumen tersebut, hasil yang akan dikerjakannya tidak akan maksimal. Sedikit mengusap permukaan wajahnya dan mendengus kesal, pikirannya langsung tertuju pada saat dimana Sakura tengah dijemput oleh seorang pemuda. Ia tak pernah tahu dan tak pernah menyangka, jika gadis yang disukainya tersebut telah memiliki seorang lelaki. Meski ia belum mengetahuinya secara pasti, tapi Gaara tahu jika lelaki yang bersama Sakura adalah lelaki yang memiliki rasa yang sama dengan dirinya terhadap gadis emerald tersebut.
Sejak kejadian itu, Gaara sedikit kesal karena untuk beberapa saat ia merasa kecolongan. Bukan dalam konteks pencurian atau semacamnya, hanya saja ia sedikit merasa iri saat lelaki yang tak dikenalnya itu bisa membuat gadis yang disukainya tersenyum manis padanya. Katakan dia cemburu, karena memang itulah yang ia rasakan. Gaara tak suka saat barang kesukaannyan diambil atau sesuatu yang sudah jadi incarannya diambil orang terlebih dahulu.
Sedikit mengacak-acak rambutnya, lelaki itu akhirnya menghempaskan dirinya di kursi dan menyandarkan punggungnya rileks. "Aku harus mencari tahu siapa lelaki itu" gumamnya setengah berbisik
...
Awal pekan ini sepertinya akan menjadi hari yang paling menyibukkan untuk Sakura. Jadwal pemotretan dan pemeragaan busana sudah menunggunya sejak kemarin. Sedikit menghela napas dan mengusap permukaan wajahnya gusar, gadis itu sedikit keberatan dengan jadwal yang sudah terlanjur disetujui oleh sang managernya tersebut. Bukannya ia sudah mulai merasa bosan dengan aktifitasnya, tentu saja bukan! Hanya saja ia ingin hari ini ada waktu luang untuk menemani Sasuke pergi kerumah sakit untuk mengetahui perkembangan kondisinya. Ia sadar, jika selama ini ia hampir tak pernah ada waktu untuk menemani pemuda emo itu, tapi apa daya jika pekerjaan yang ia lakono sudah menunggunya.
"Sebentar lagi pemotretan akan dimulai. Bersiaplah Sakura-chan" tegur salah satu staf disana. Sakura hanya mengangguk dan mengiyakannya begitu saja.
Sakura bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan dan menuju kearah dimana ia seharusnya sekarang. Sedikit menghela napas dan berekspresi sebagaimana semestinya, akhirnya gadis dengan surai merah muda tersebut berpose dengan gaya natural yang dimiliki.
Sudah hampir satu jam penuh Sakura mengikuti sesi pemotretan dengan sempurna. Hampir tak tak yang menyela atau berkomentar dengan pose yang Sakura tunjukkan. Dan sepertinya, lelaki yang sudah menatapnya sejak setengah jam yang lalu itu pun tak henti-hentinya menatap penuh damba gadis dihadapannya sekarang. Senyum tipis disudut bibirnya bahkan tak berhenti saat gadis dambaannya itu tersenyum kearahnya dan menyapa dirinya.
"Tumben kau datang, Gaara" seru Sakura menatap Gaara dengan senyum manisnya.
Gaara berjalan mendekati Sakura. Pemuda jade tersebut tersenyum kearahnya dan menyentuh surai Sakura pelan, "Hmm... aku ingin melihatmu ber-pose. Ternyata yang dikatakan orang memang benar. Kau sangat natural dan sangat cantik" pujinya yang langsung membuat Sakura tersipu akan ucapan Gaara barusan.
"Mereka terlalu melebih-lebihkan, Gaara." sangkalnya meski dalam hati ia terlanjur berbunga-bunga.
"Apa kau ada waktu siang ini?"
"Kurasa iya. Kenapa?" tanya Sakura menatap Gaara binggung.
"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama. Didekat sini ada cafe yang baru saja buka, bagaimana?"
Sakura menimbang-nimbang ajakan Gaara, bukannya ia tidak mau menemani Gaara, tapi sejujurnya gadis belia itu ingin pergi menemui Sasuke dan mengajaknya untuk makan siang bersama, tapi apa boleh ia menolak ajakan yang baru saja ditawarkan oleh atasannya sekaligus temannya ini?
"Saki?" tanya Gaara sekali lagi.
"Baiklah, kita makan siang bersama" ujarnya yang membuat Gaara tersenyum lagi.
.
Sakura dan Gaara kini sudah duduk manis disebuah kafe yang tak jauh dari perusahaan Akasuna Corp. Mungkin setengah jam perjalanan yang mereka tempuh untuk mencapai tempat tersebut. Disana mereka tampak menikmati suasana yang diciptakan oleh kafe tersebut, bahkan pelayan kafe tergolong dari para wanita dan ada juga beberapa pelayan laki-laki. Saat menginjakkan kaki pertama kali disini, seperti mata para wanita-wanita yang betubuh sexy itu menatap Gaara dengan kagum. Dan siapa yang tak akan menyadari hal itu jika dengan terang-terangan mereka menatap Gaara tanpa henti.
Sakura yang melihatnya terkikik geli, ia sangat tidak menduga jika Gaara akan mendapat perlakuan istimewa disini.
"Hei, kurasa mereka menyukaimi, Gaara" goda Sakura sambil terkikik geli meluhat ekspresi kesal dari wajah pemuda dihadapannya tersebut.
"Kau sendiri, apa kau tak ingin bergabung dengan mereka, Saki?" tanya Gaara. Lelaki itu menatap Sakuta dengan seringai andalannya.
"Heh? Kau ingin aku seperti mereka? Apa aku akan mendapatkan perhatianmu jika aku bertingkah seperti wanita-wanita itu?" tanya Sakura pelan sambil menunjuk gadis-gadis itu dengan dagunya.
"Mungkin kau pengecualian" jawabnya singkat yang langsung membuat Sakura terpaku akan perkataan Gaara.
"Hahahaha... Kau bisa saja. Nah, bagaimana kalau kau memesan makanan. Kita kesini bukan untuk duduk saja kan?" Gaara mengangguk, kemudian ia memanggil salah satu pelayan dan memesan makan untuk dirinya dan Sakura.
Setelah selesai memakan makanan yang dipesan, mereka langsung beranjak pergi dan bergegas kembali keperusahaan. Siang ini memang cukup menyenangkan bagi Gaara. Ia mungkin lelaki yang pendiam dan tak terlalu peduli dengan lingkungan disekitarnya, tapi entah kenapa hanya dengan bersama Sakura ia bisa melakukan apapun yang bersinggungan dengan kebiasaan yang dimilikinya.
Memangnya siapa yang tak mengenal Gaara? Aku rasa semua juga mengenal siapa dirinya. Buktinya saja, ia baru saja datang makan disebuah kafe ia langsung mendapat perhatian yang sangat wah dari gadis-gadis itu. Bukannya ia tidak senang, hanya saja ia sedikit risih dengan tatapan-tatapan yang tak berarti itu. Tiak hanya diluar perusahaan, ia bahkan sering mendapatkan tatapan penuh memuja dari beberapa karyawannya. Tapi, sepertinya ia akan jauh lebih senang jika tatapan itu diberikan oleh gadis merah muda yang duduk disampingnya sekarang.
~oo6666oo~
Sakura kembali menghela napas saat dirinya harus menunggu lama mobil yang akan menjemputnya. Sedikit menggeram kesal atas keterlambatan yang dilakukan oleh Yamato, sopirnya itu. Ia melirik jam tangan yang melingkar indah disisi kanan tangannya tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, dan sepertinya masih belum ada tanda-tanda akan kemunculan mobil dan sopirnya. Wanita bersurai merah muda tersebut menghentakkan kakinya kesal, bibir mungilnya mengerucut sebal. Sakura benar-benar sangat kesal dengan keterlambatan yang dilakukan oleh Yamato. Sakura ingin segera pulang dan merileksasikan tubuhnya dengan berendam air hangat di bathtub-nya, rasanya sungguh melelahkan saat seharian penuh ia bekerja.
Dengan tak sabar, ia langsung mengaduk-aduk isi tasnya, berupaya mengambil handpone dan menghubungi Ayahnya untuk menjemputnya. Namun, sebelum keinginannya itu terlaksana, indra pendengarannya tersebut merespon suara klakson mobil yang mendekat kearahnya.
Sakura mengernyitkan alisnya dalam, ia tahu benar siapa pemilik mobil hitam metalic itu. "Gaara?" ucapnya pelan bercampur kaget saat pemuda itu membuka spion kacanya dan tersenyum kearahnya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura penasaran.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Sedang apa kau disini, Sakura?" tanya Gaara dengan mengangkat alisnya.
Sakura mendengus, "aku menunggu sopirku, entah kenapa dia belum datang juga" ucapnya ketus.
Gaara menghela napas, "Baiklah, kau ikut denganku saja. Akan kuantar kau pulang"
"Eh? ta-tapi aku tak mungkin merepotkanmu Gaara. Rumah kita berbeda arah"
"Jangan membantah. Kau pikir baik berada disini saat malam sudah beranjak? Seorang wanita rawan akan kejahatan. Kau mengerti?" Sakura mengangguk menyetujui perkataan Gaara. Tapi, tetap saja ia tak ingin merepot Gaara lagi.
"Hmm... Baiklah, jika kau memaksa"
Gaara tersenyum renyah, ia sangat senang saat ajakannya barusan diterima oleh Sakura. Dia sangat tidak keberatan jika dia harus pulang lebih malam jika harus mengantar wanita pujaannya itu pulang terlebih dulu. Ia bahkan rela harus berlama-lama saat didalam mobil asalkan ada Sakura disampingnya. Entah kenapa pemuda baby face itu sangat memuja wanita merah muda tersebut. Sejak pertama kali bertemu, ia sudah menjatuhkan hatinya pada Sakura. Apalagi saat Sakura menerima ajakannya untuk bekerja sama diperusahaannya, rasanya ia telah mendapat hadiah lotre yang sangat berharga.
"Kau tak ingin masuk kedalam dulu, Gaara?" ajak Sakura begitu sampai dikediamannya.
Gaara terdiam sebentar, memikitkan ajakan wanita disampingnya, "Tapi ini sudah malam. Apa kau tak lelah"
"Mungkin untuk beberapa menit kedepan aku tak keberatan" ujar Sakura riang dengan senyum manisnya.
Gaara akhirnya menghela napas, "haah... baiklah".
.
Sudah lama Gaara tak pernah berkunjung kerumah Sakura, ini adalah kedua kalinya pemuda bertato Ai tersebut menginjakkan kakinya disini. Senyum tipis akhirnya tersungging saat kakinya melangkah masuk kedalam rumah wanita pujaannya tersebut. Rumah ini tetap sama, tidak ada yang berubah menurutnya.
"Kau ingin minum apa, Gaara?" tanya Sakura saat melihat Gaara sudah duduk diatas sofa.
"Terserah" ucapnya datar. Sakura mengangguk kecil, kemudian ia melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil minuman untuk Gaara.
.
Sudah hampir tiga puluh menit Gaara dan Sakura mengobrol hingga mereka tak tahu jika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kedua anak adam itu terlihat sangat akrab saat mereka melontarkan pujian masing-masing. Sesekali wanita musim semi itu memukul lengan Gaara karena lelaki itu selalu menjahilinya. Bahkan saking asyiknya mereka bercengkrama, Sakura sampai tak menyadari jika ada sosok lelaki jangkung yang menatap tajam kearahnya.
"Apa-apaan ini?" ucapnya tegas. Sakura menoleh kearah suara itu berasal. Manik emeraldnya melotot tajam saat ia tahu siapa pemilik suara tegas itu.
"Sa-sasuke-kun?" ucap Sakura terbata. Ia sedikit takut saat matanya menangkap kemarahan yang diperlihatkan oleh kekasihnya tersebut.
"Tch! Apa yang kau lakukan dengan dia. Apa kau tak tahu ini sudah malam? Kau pikir perbuatanmu ini benar" hardik Sasuke sinis. Lelaki emo itu menatap sinis Gaara. "Kemari..." Sasuke menarik lengan Sakura. Tapi sebelum Sakura beranjak dari tempatnya, Gaara lebih dulu berdiri dan menatap Sasuke tak suka.
"Sebaiknya kau tak memperlakukan Sakura dengan kasar, dia seorang wanita" ungkap Gaara tak suka dengan tindakan yang Sasuke lakukan.
"Bukan urusanmu. Lebih baik kau pergi dari sini"
Sakura diam terpaku. Ia sama sekali tak menyangka jika Sasuke bisa semarah ini. Wanita itu bahkan tak bisa berkomentar apapun, mulutnya terbungkap, raut wajahnya terlihat sangat panik jika seandainya terjadi pertengkaran antara Sasuke dan Gaara. Dan sebelum hal itu terjadi, sebaiknya Sakura menyuruh Gaara untuk pulang sebelum suasana semakin memanas.
"Maaf Gaara, sebaiknya kau pulang" tutur Sakura pelan dengan wajah penuh harap.
Gaara mendengus kesal. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan Sakura dalam situasi yang terbilang buruk seperti ini. Tapi saat melihat raut muka wanita idamannya itu, akhirnya Gaara mengalah dan menyetujui keinginan Sakura.
"Baiklah, aku pulang." ucapnya pelan. Sebelum ia benar-benar pulang, ia terlebih dulu mengusap surai merah muda Sakura pelan.
.
Setelah kepulangan Gaara dan insiden akan hal ini, sekarang dua anak manusia tersebut dalam keadaan yang kurang mengenakan. Sang wanita, Haruno Sakura tampak meringis kesakitan saat lengannya ditarik paksa oleh seorang pemuda berambut emo. Tidak tanggung-tanggung, Sasuke langsung menyeret Sakura ke kamar dan menyentakkan tubuh gadisnya tersebut diatas kasur. Sedikit terkejut akan perilaku yang dilakukan Sasuke, Sakura hanya bisa memandang manik sekelam malam itu mendelik menatapnya tajam.
"Sa-sasuke-kun..." ucap Sakura terbata saat melihat raut wajah Sasuke yang mengeras. Gadis itu merasa takut saat manik emeraldnya menatap sang kekasih yang siap melakukan apa pun.
Sasuke menatap gadis pujaannya geram. Ada perasaan kesal, marah dan cemburu bercampur menjadi satu. Entah kenapa saat melihat Sakura dekat dengan pemuda bersurai merah itu rasanya tubuh Sasuke seperti terbakar. Ada perasaan tak enak dan menentu saat mereka tersenyum akan sesuatu.
"Sudah kuperingatkan, jangan dekat-dekat dengan pemuda mana pun" desis Sasuke mendelik menatap Sakura tajam, "Apa kau ingin pergi meninggalkanku dan memadu kasih dengan lelaki itu" sambungnya lagi dengan inotasi yang cukup tinggi.
Sakura mematung sejenak, pikirannya terlalu ruwet untuk menjawab pertayaan yang Sasuke berikan. Ia tidak mengerti kenapa reaksi yang Sasuke berikan bisa sejauh ini, "Bukan begitu. Gaara hanya mengantarkanku pulang karena Yamato tidak kunjung menjemputku" kilah Sakura membela diri. "Maafkan aku..." sambungnya dengan nada memohon. Berharap Sasuke berhenti memojokannya dan memaafkannya.
Saat menatap mata bening dari kekasihnya tersebut, Sasuke langsung menghela napas dan mendekati Sakura yang saat ini duduk di kasur miliknya dengan mencengkram erat seprei disampingnya. Lelaki itu yakin, jika kekasihnya itu pasti merasa ketakutan dengan bentakan dan amarah yang baru saja ia keluarkan.
"Aku sangat mencintaimu, Cherry. Kau tahu itu!" Ucap Sasuke sambil membelai surai merah muda milik Sakura. Sedikit menurunkan inotasi bicaranya, kemudian Sasuke duduk disamping Sakura dan memeluknya hangat. Sakura mengangguk mengerti, gadis itu sangat paham akan ketakutan yang dimiliki oleh pemuda raven tersebut. Ia tak bisa membayangkan jika lelaki yang tengah memeluknya ini pastilah teramat takut jika kejadian beberapa tahun yang lalu menimpa dirinya.
"Hmmm... Aku mengerti, Sasuke-kun." terang Sakura mengeratkan pelukannya.
Ya... Dia memang seorang Uchiha yang tak pernah takut akan apapun, dia seorang Uchiha yang akan mendapatkan keinginannya dengan cara apapun agar bisa memilikinya. Tapi, seorang uchiha hanya takut jika gadis yang ada didekapannya ini lari dari dirinya dan pergi dari hidupnya. Dialah Sasuke. Si bungsu Uchiha Sasuke.
...
TBC
..
Astagaaaa! Otak saya hangus sehangus hangusnya. Gak tahu harus ngetik apa untuk chap ini. Bener-bener buntu ide! Pokoknya, saya sudah angkat tangan untuk chap ini T,T. Mungkin ceritanya hanya stuck dijalan dan agak berbelit-belit, tapi saya rasa ada sebaiknya jika saya hiatus sementara untuk cerita ini. Tolong dimaklumi... Dan untuk chap selanjutnya, akan saya usahakan lebih baik dari ini.
Oke, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Dan untuk menebusnya, saya akan fokus ke Fict saya yang berjudul "Heart" terlebih dulu. Hitung-hitung buat rereshing. Siapa tahu sata akan mendapat ide secara mendadak. Hehehe...
Yosh! bagi yang meninggalkan jejak di chap kemarin, saya ucapkan terima kasih.
marukocan,, mega naxxtridaya,, sofi asat,, Ariska,, Nina317Elf,, Anisha Ryuzaki,, hanazono,, parinza ananda 9,, Luva Marvell,, prince ice cheery,, Eysha CherryBlossom,, Febri Feven,, Gadiezt Lavender,, Guest,, UchiHaruno Kid,, me,, Uchiha Ratih,, syal,, Chizuru,, himekaChan,, Guest,, haruchan,, Anka-Chan,, Aozora Straw,, Zee-Chan05,, Vega-Himeka,, tataruka,, kazuran,, adan y yezz.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan nama.
.
.
Lamongan, 07-03-1992, jawa timur.
Salam sayang; UchiHaru Mey.
