Malam ini Gaara merasa resah dan pikirannya melayang akan kejadian tempo hari dikediaman rumah Sakura. Ia tak bisa tidur sama sekali dan bahkan rasa kantuk yang sempat melandanya itupun seolah telah raib seperti berlalu begitu saja tanpa berarti. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan segudang pertanyaan dan hatinya juga terasa ada yang janggal. Otak pintarnya yang biasanya ia gunakan untuk mengelolah perusahaan dengan apik, kini sama sekali tak bisa membantunya dalam situasi seperti ini. Kemanapun lelaki berparas tampan itu berpikir, selalu ada sosok wajah cantik Sakura yang mendominasi perhatiannya. Kapanpun Gaara memejamkan manik matanya, yang selalu muncul adalah kilauan bening yang terpancar indah dari wanita bersurai gulali tersebut. Dan bagaimanapun ia berusaha untuk mengenyahkan bayang-bayang Sakura dari kepalanya, selalu saja tak membuahkan hasil hingga ia merasa kesal sendiri dan justru digedor oleh sebuah dorongan kuat untuk memiliki gadis yang memang ia akui benar-benar berbakat sebagai seorang modelling.

Lihat, bahkan seorang Gaara yang terkenal mampu menaklukkan hati beberapa wanita dengan sekali tatap kinipun tanpa diduga telah kehilangan sesuatu dari dirinya yang bahkan tidak diketahui kapan dan bagaimana bisa. Sejak pertemuan pertamanya di Eropa, lelaki Akasuna itu memang sudah jatuh hati pada Sakura untuk pertama kalinya. Seolah-olah jika pertemuan itu memang diperuntunkan untuknya. Dan rasanya cukup mustahil jika seandainya Gaara bisa lepas kontrol hanya karena Haruno Sakura, megingat seberapa tampan, pintar dan kayanya dirinya sehingga hanya dengan seorang wanita bersurai merah muda itu berhasil mengambil alih seluruh perhatiannya.

"Arrgghhh... Saiiaaalll!"

Gaara mengumpat dan berteriak frustasi kemudian bangun dari posisi dari hibernasi yang belum sempat dilakoninya. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan memijit pelan keningnya. Ingatannya kini tertuju dengan seorang wanita cantik berwajah bidadari yang dimiliki oleh anak tunggal dari keluarga Haruno, yaitu Haruno Sakura. Apalagi saat melihat emerald bening yang dimilikinya, senyumannya, kehalusan kulit Sakura dan bagaimana cara ekspresi yang dikeluarkan oleh wanita idamannya itu. Semuanya... semuanya hanya tentang gadis bermahkota pink tersebut yang mampu membuat seorang Gaara ingin memiliki Sakura sepenuhnya. Gaara bahkan selalu ingin jika emarald bening itu menatapnya setiap detik hanya untuknya seorang, dan Akasuna Gaara juga ingin melihat senyum di bibir mungil gadis itu dan memilikinya hanya untuk dirinya. Ia ingin menyentuh kulit wajahnya yang terasa seperti bayi, ia ingin mencium aroma laverder dari rambutnya setiap hari. Ia ingin semuanya, semua yang ada didiri Sakura.

Namun sepertinya khayalannya itu tak kan bisa digapai dengan mudah. Gaara yakin sekali, jika lelaki yang bernama Sasuke itu pasti memiliki hubungan khusus dengan wanita idamannya. Dan tak menutup kemungkinan pula jika Sasuke adalah pemuda yang akan menghalangi keinginannya untuk memiliki gadis Haruno tersebut. Gaara menarik napas perlahan dan dirasakannya oksigen memenuhi rongga dadanya kembali. Rasa kesal dan cemburu begitu terasa menguat atas hubungan yang telah dijalin oleh Sakura dan pemuda yang ia ketahui bernama Sasuke. Mengatur ulang kembali dentuman-dentuman tak bernada dijantungnya dan merenggangkan syaraf ototnya yang sempat menegang untuk beberapa menit, akhirnya Gaara menyimpulkan sesuatu. "Tak ada yang tidak mungkin untuk ku lakukan demi mendapatkanmu, Sakura..." ungkapnya pelan sambil menatap gambar seorang wanita bersurai merah muda dilayar handpone miliknya.

Seringai tipis akhirnya terbentuk dibalik wajah tampannya dengan sempurna. Lelaki Akasuna itu sepertinya sudah dibutakan oleh cinta yang sudah tertancap dengan sempurna dihatinya. Tak perlu berlama-lama lagi untuk menundanya, Gaara sudah memutuskan untuk mengambil Sakura dari tangan Sasuke dengan atau tanpa persetujuan dari laki-laki tersebut.

~oOo~

Disclaimer © Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated : T+

Genre : Romance, Family, angst, Hurt/confort, Drama.

Warning! OOC, OOT, TYPO, EYD berantakan dan kejelekan lainnya ada disini.

...

Don't like Don't read, and happy reading.

~oOo~

Sakura duduk manis dengan sebuah buku yang kini menjadi alternatif penggelihatannya. Manik hijau beningnya itu meneliti setiap detail satu persatu kalimat yang ada di dalam sebuah buku besar bersampul hitam kecoklatan. Sedikit mengekerutkan alisnya dalam dan menatap setiap kata yang tertera dibuku itu, akhirnya wanita yang memiliki tubuh semampai itu meghela napas dan kemudian membalik satu persatu buku yang dipegangnya berupaya untuk sekedar memahami dan mengerti isi dari buku yang dibacanya. Sedangkan lelaki yang kini tengah duduk dikursi kebanggaannya itupun hanya mampu tersenyum tipis saat melihat raut ekspresi kebinggungan dari kekasihnya yang semakin menjadi. Sedikit menggelengkan kepalanya pelan, akhirnya Sasuke bangkit dari kursinya dan menghampiri Sakura.

"Jangan memaksakan diri. Kau terlihat jelek dengan wajah bodohmu itu, Sakura." tegur Sasuke yang kini sudah tepat dihadapan Sakura dan mengambil buku yang dipegang oleh kekasih merah mudanya tersebut.

Sakuraa mengerucutkan bibirnya dan mendengus menatap Sasuke tak suka. Dilihat dari segimanapun, sudah dipastikan jika Sakura memang tidak mengerti dengan semua yang bersangkutan dengan perusahaan. Gadis musim semi itu bahkan tak pernah menggeluti dunia bisnis seperti ayah dan juga ibunya, jadi wajar saja jika kemampuan otaknya tak mungkin bisa memahami setiap detail saham dan semua yang bersangkutan dengan perusahaan. Jangankan mengerti, memahaminya saja butuh waktu yang cukup lama.

"Aku heran, kenapa Sasuke-kun bisa betah berlama-lama dengan kertas-kertas itu," tunjuk Sakura saat melihat tumpukan beberapa dokumen yang tertata rapi diatas meja kerja Sasuke.

Sasuke mengusap surai Sakura lembut dan akhirnya duduk tepat disamping wanitanya, "memangnya ada pekerjaan yang cocok untuk kukerjakan selain memeriksa dokumen-dokumen itu?"

Sakura menghela napas dalam, gadis yang memiliki mata bening itu memutar bola matanya bosan dan sedikit berpikir. "Hmm... sepertinya tidak," katanya sambil menggaruk pipi chubbynya yang tidak gatal.

"Mungkin ada satu pekerjaan yang paling cocok untuk kukerjakan suatu saat nanti," ujar Sasuke menatap penuh arti wajah kekasihnya.

"Eh? Apa itu?!"

Sasuke mencondongkan badannya dan mencium bibir Sakura sekilas, kemudian lelaki berwajah tampan itu menyeringai dan bergumam, "menanam benih dalam rahimmu." ujar Sasuke yang langsung membuat jantung Sakura mencelos mendengar perkataan Sasuke. Bahkan raut wajahnya kini sudah memerah seperti buah kesukaan Sasuke.

"Kau tahu, aku akan melakukan apapun untukmu Sakura. Dan aku juga ingin menghabiskan sisa hidupku untuk bersamamu. Tidak akan kubiarkan laki-laki manapun merebutmu dariku," ungkap Sasuke serius. Sakura bergidik antara percaya dan tidak percaya dengan pendengarannya itu. Gadis yang terlahir dimusim semi tersebut tak tahu harus berkomentar apa untuk menyahuti perkataan Sasuke. Ia terlalu kaget dan tertegun, pikirannya bahkan sulit dikendalikan saat manik hijaunya itu menatap lurus manik kelam milik Sasuke yang kini memandangnya tajam.

Sasuke yang melihat Sakura diam membisu hanya mampu tersenyum tipis dan kembali mencium bibir milik Sakura. Setelah itu ia memeluk Sakura dengan keprotektivan seperti biasanya. Entah kenapa bungsu Uchiha tersebut sangat menggantungkan hidupnya pada wanita yang kini ada dipelukannya. Ia bahkan rela melakukan apapun agar wanita merah muda itu tetap berada disampingnya dan tetap bersamanya. Dan disadari atau tidak, bahwa Sasuke mulai terbiasa dengan kehadiran wanita itu disisinya. Sakura seperti obat candu yang mampu membuat seorang Sasuke ketagihan akan kehadirannya. Entah sudah berapa kali rutinitas ciuman dan pelukan yang diberikan Sasuke untuknya. Dan hal itu sama sekali tak bisa ditolak Sakura atas tindakan yang kekasih emonya itu lakukan.

Sakura melepaskan pelukannya dan menatap sepasang bola mata sekelam langit malam itu intens. Dua buah telapak tangannya menempel dipermukaan wajah Sasuke lembut dan kemudian membelainya hangat. Sedikit mengecup bibir milik Sasuke dan mengerlingkan sebelah matanya, lalu Sakura tersenyum tipis untuk menanggapi penuturan yang baru saja dilontarkan oleh Sasuke. Entah apa yang sedang dipikirkan Sakura saat ini, yang jelas pikirannya berkecamuk antara senang dan juga binggung. Dia merasa ada yang salah disini. Tapi hati kecilnya tak dapat menutupi kebahagiaan yang dirasakannya. Memangnya siapa yang tak akan senang dan melambung tinggi saat mendengar perkataan itu dari lelaki yang begitu kau cintai? Hanya saja, Sakura tak begitu yakin jika apa yang dikatakan oleh Sasuke memang ditujukan untuk dirinya. Mengingat hubungan mereka seperti apa. Mungkin memang benar Sasuke menyanyanginya dan mencintainya, tapi apakah dua rasa itu memang ditujukan untuk dirinya?

Sakura sadar, bahwa hubungan mereka yang sampai saat ini terjalin karena suatu alasan yang ia sendiri mengetahui apa permasalahannya. Tapi apakah sandiwara ini akan tetap berlanjut? Apakah benar Sasuke mencintainya? Apakah benar Sasuke ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk bersamanya? Ataukah ada alasan khusus dibalik ini semua? Entahlah, Sakura tak tahu. Meskipun bukan seperti ini yang diinginkan Sakura. Gadis dengan surai pink ini hanya ingin menyudahi semua kisah ini dan memulainya dari awal. Tidak sebagai Senju Sakura ataupun Sakura-Sakura lainnya. Tidak! Yang ada hanya dirinya, Haruno Sakura.

"Aku tidak akan melepaskanmu. Kau dengar itu, Sakura?" Sasuke mengatakannya lantang. Tak ada kebohongan yang tersirat dibola matanya, ia bahkan menekankan setiap kata yang ia ucapkan dengan tegas.

Sakura mengangguk, tak tahu harus berkomentar apalagi jika Sasuke sudah berbicara demikian. Yang bisa dia lakukan hanyalah menarik setiap sudut bibirnya dan tersenyum tipis menatap mata kelam itu.

"Kau mencintaiku. Dan kau adalah milikku. Milik Uchiha Sasuke, ingat itu Sakura!" tegas Sasuke sekali lagi.

Lagi-lagi Sakura tak bisa merespon perkataan Sasuke. Wanita yang memiliki warna mata bening berkilau itu hanya terdiam saat Sasuke mengeklaim dirinya sebagai miliknya seutuhnya. Tanpa ada komentar atau penolakan atas pernyataan itu, Sakura hanya mampu menganggukan kepalanya pelan sebagai tanda persetujuannya.

"Apa Sasuke-kun juga mencintaiku?" tanya Sakura sedikit gelisah. Ia bukannya tak percaya akan cinta yang dimiliki oleh pemuda yang kini ada dihadapannya, hanya saja dia ingin memastikannya sendiri apakah Sasuke benar-benar mencintainya seperti yang dikatakan oleh beberapa orang terdekatnya. Sakura menatap Sasuke yang kini tersenyum tipis atas pertanyaannya barusan. Lelaki yang memiliki model rambut pantat ayam itu menyeringai. Sedikit menggoda kekasihnya mungkin menyenangkan. Begitu pikirnya.

"Mungkin jika ada wanita yang bertubuh sexy dan memiliki dada sebesar semangka, mungkin aku bisa mencintainya." Sakura mengernyit tak suka. Baru saja kekasihnya ini mengatakan beberapa kalimat yang mampu membuat wanita manapun melambung tinggi kini dengan mudahnya dihempaskan begitu saja.

"K-kau keterlaluan!"dengus Sakura kesal. Gadis itu menatap Sasuke sinis dan kembali berkata, " aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan mencari laki-laki yang jauh lebih baik darimu dan aku akan mengapdikan diriku untuk mencintainya." sungutnya marah yang hanya ditanggapi dengan kekehan kecil dari Sasuke.

"Kalau begitu aku akan menghajar laki-laki itu. Aku tak akan membiarkan pria manapun memilikimu," Sasuke berkata dengan seringai yang terpampang jelas dibalik wajahnya yang dingin. Sakura melototkan matanya gusar, ia menatap Sasuke tak percaya.

"Kau curang Sasuke-kun!" rajuknya kesal dan sesekali memukul lengan Sasuke.

"Sudah kukatakan padamu bukan, jika kau hanya boleh dimiliki olehku. Jika ada pria lain yang berani coba-coba mendekatimu dan berniat mengambil dirimu dari tanganku, aku tak segan-segan untuk mematahkan kaki dan tangannya"

"Kau seperti psykopat, Sasuke-kun," Sakura bergidik ngeri mendengarnya. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis dan kembali mencicipi bibir mungil Sakura sekali lagi.

Sasuke tersenyum renyah atas ekspresi yang ditunjukkan Sakura padanya. Meski dalam kasus ini ia sudah mengetahui segala hal tentang Sakura, tapi apakah Sakura juga mengetahui akan segala hal yang bersangkutan dengan Sasuke? Misalnya tentang sandiwaranya yang sudah lama diketahui oleh lelaki itu, mungkin? Ya, sepertinya pemilik surai merah muda itu tak mengetahuinya sama sekali.

"Apa malam ini aku bisa tidur bersamamu lagi?" Sakura terbengong. Tidur bersama? Sejak kapan mereka memiliki rutinitas tidur bersama seperti yang dikatakan Sasuke.

"Tunggu dulu Sasuke-kun. Apa maksudmu dengan tidur bersama?" tanya Sakura penuh selidik. Sedangkan Sasuke hanya bisa mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan kekasihnya itu.

.

.

.

Langit menjelma sangat indah dibalik sinar matahari yang membingkai indah diatas sana. Seorang wanita yang memiliki tubuh langsing dan semampai itu terlihat sedang menikmati rutinitasnya sebagai seorang model. Tak disangka, ternyata wanita keturunan Senju tersebut memiliki kemampuan berpose yang tak kalah anggunnya dengan modeling-modeling papan dunia. Diakui atau tidak, wanita yang memiliki surai merah maroon tersebut mampu membuat beberapa staff ikut terpana dengan pose dan senyumannya di depan kamera. Tidak menutup kemungkinan, jika Karin bakal didagang-gadang menjadi model Internasional jika eksistensinya tetap dipertahankan seperti ini.

"Ok, cukup sampai disini," teriak sang fotografer sambil melihat-lihat hasil jepretannya. Lelaki yang memiliki perangai aneh itu menatap Karin dan mengangguk sekilas. Sepertinya ia sudah sangat puas dengan hasil yang didapatkannya hari ini.

"Cukup? Kupikir akan membutuhkan waktu yang lama seperti biasanya." Ujar Karin mendekati pria bernama Deidara tersebut. Wanita dengan style yang sangat menggoda itu menatap kenalan lamanya binggung. Tak seperti biasanya, lelaki yang terkenal dengan hasil pekerjaan yang perfect itu bisa menghentikan pekerjaannya dengan cepat seperti ini.

"Ya... Kupikir ini sudah lebih dari cukup. Setelah ini aku harus memotret nona Haruno, Karin. Aku harus membagi sesi pemotretan dengan adil. Lagipula, aku sudah cukup puas dengan penampilanmu hari ini." Deidara tersenyum dan menampilkan sederet gigi-gigi tajamnya. Sedangkan Karin terlihat kesal dan sedikit tak terima dengan keputusan yang baru saja diberikan oleh sahabat lamanya itu. Entah kenapa ada perasaan tak suka saat Deidara menyebut nama Haruno didepannya. Selama ia bergabung di perusahaan Akasunoa Corp, tak pernah sekalipun karin bertatap muka atau mengobrol basa-basi dengan wanita bermarga Haruno tersebut. Meski begitu, rasa tak sukanya memang bukan berasal dari hal itu, melainkan dari kasak-kusuk yang sering beredar beberapa minggu ini.

"Terserah apa katamu saja" gumam Karin menyahuti.

...

Karin menghempaskan dirinya disofa empuk diruang ganti. Wanita yang sering memakai kaca mata itu sedikit mendecih kesal saat sesi pemotretannya dihentikan secara sepihak. Walaupun Suigetsu berhak melakukannya, tapi tetap saja wanita senju tersebut tak bisa terima dengan alasan yang baru saja didengarnya. Membagi sesi pemotretan dengan adil, eh? Jangan bercanda. Sejak kapan ada peraturan semacam itu? Karin melepaskan sepatu berhak tingginya asal, sesekali ia menggerutu dengan sikap dari sahabatnya yang menurutnya menyebalkan.

Namun sepertinya bukan hal itu yang membuat emosinya tersulut. Karin bukan tipe wanita yang akan dengan mudahnya terpancing karena hanya masalah sepele seperti ini. Yaaa... tentu saja tidak. Dia hanya merasa kesal dengan berbagai spekulasi yang dikatakan oleh beberapa karyawan di perusahaan ini. Wanita sexy itu sama sekali tak suka dan tak pernah sudi jika dirinya dibanding-bandingkan dengan wanita manapun

Karin mengernyitkan alisnya semakin dalam. Disaat seperti ini sebaiknya ia tak terlalu memikirkan beberapa omongan yang sama sekali tak berguna itu. Atau bahkan perlu ia harus mengesampingkan wanita yang bernama Haruno itu dengan tetap fokus dalam menjalani karirnya yang semakin melambung. Ia tak ingin hanya karena masalah sepele seperti ini bisa menganggu aktifitasnya dan mungkin saja bisa menghancurkan karir yang telah lama ia rintis dari bawah. Jika mengingat kisah lamanya, entah kenapa Karin langsung teringat dengan adik kesayangannya yang sangat ceria dan bawel itu. Seorang adik yang memiliki surai merah muda yang sangat disayanginya. Ah... Bahkan sudah lebih beberapa tahun berlalu, ia tetap saja menyimpan rasa sakitnya pada seorang pemuda yang membuat adik semata wayangnya itu meninggal.

Anggap dia wanita yang mengerikan! Karena kebencian yang dimilikinya sudah mendarah daging dan merasuk menjadi satu dengan tubuhnya. Dan rasa sakit dan marah terhadap pemuda itu tak kunjung hilang meski adikknya itu sudah bersatu dengan dunia. Andai saja Sakura menuruti semua nasehat yang diberikannya, mungkin saja Sakura-adiknya itu akan tetap berada disisinya dan melihat kesuksesan yang sudah diraihnya. Karin mengambil handpone genggamnya dan melihat foto yang berisi antara dirinya dan Sakura yang tengah tersenyum lebar disana. Sungguh miris rasanya saat senyum ceria dari Sakura sudah tak bisa dilihatnya kembali. Hanya foto inilah satu-satu harta berharga yang dimiliki Karin. Jika seandainya waktu mempertemukan dirinya dengan Sasuke, apa yang akan dilakukannya? Memcaci makinya, menghinanya, atau bahkan mungkin lebih dari itu?

Karin menggelengkan kepalanya cepat. Wanita maroon itu pasti tak akan melakukan tindakan bodoh macam itu. Setidaknya tidak untuk sekarang! Sedikit mengusap permukaan wajahnya kasar dan menghirup napas sedalam mungkin, khirnya ia hanya bisa memendam rasa sakit yang dideritanya itu dalam lubang kebencian yang teramat dalam.

Tokk... Tookk... Toookkk

Ketukan pintu akhirnya membuat Karin tersadar kembali akan dunianya. Wanita itu mengambil napas dalam -dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan, berupaya mensterilkan rasa kesalnya yang sempat menyelubungi hatinya tadi.

"Oh kau, Gaara. Ada apa? Tumben kau disini. Ada yang kau perlukan?" tanya Karin begitu milihat sosok Gaara yang berdiri tegap dihadapannya. Lelaki yang memiliki surai merah sepertinya itu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Sebenarnya bukan sesuatu yang penting. Hanya saja aku memerlukan bantuanmu. Kau bisa membantuku?" ungkapnya to the poin

Karin mengernyitkan alisnya binggung, "Bantuan seperti apa maksudmu?"

"Mungkin ini akan menjadi kesempatan emasmu jika kau membantuku," Gaara menjeda perkataannya dan menatap Karin yang kini memandangnya heran, "Akan ada sebuah pesta perayaan di perusahaan Uchiha Corp, apa kau bisa datang bersamaku. Mungkin aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa designer. Ya... Kau pasti tahu maksudku kan?"

Karin membelalakkan matanya terkejut. Pergi kepesta perayaan Uchiha corp? Apa ia tak salah dengar atas apa yang baru saja dia dengar? Karin memang ingin sekali menghadiri pesta yang dimana banyak tamu yang akan menunjang karirnya dibidang Modelling, tapi jika harus pergi kepesta yang dimana ia sangat membenci salah satu dari keluarga Uchiha tersebut, rasanya Karin ingin menolak ajakan dari rekan kerja sekaligus pemimpin perusahaan Akasuna corp itu.

"Apa tidak ada pasangan lain yang bisa kau ajak kepesta itu, Gaara?"

Gaara menringis mendengar perkataan Karin. Bukannya ia tak punya wanita lain untuk diajaknya untuk pergi kepesta tersebut, hanya saja Gaara bisa memastikan jika wanita yang akan diajaknya itu pasti akan menolaknya tanpa harus diminta. Ya, Siapa lagi kalau bukan Sakura, gadis yang sangat ingin dimilikinya itu. Bisa disimpulkan, bahwa sebelum Gaara mengajaknya oergi, pasti Sakura sudah menolaknya terlebih dulu.

"Sebenarnya kau ingin ikut denganku atau tidak?"

Karin menyilangkan kedua tangannya, memikirkan ajakan Gaara dengan seksama. Mungkin masih ada kebencian dan rasa dendam pada salah satu keluarga Uchiha dihatinya, tapi jika sudah menyangkut masalah pekerjaan, mungkin Karin bisa mempertimbangkannya sekali lagi.

"Jam berapa aku harus bersiap?"

Gaara menyeringai, "Besok lusa jam setengah delapan. Kau harus dalam keadaan sempurna saat aku menjemputmu." Karin mengangguk menyetujui. Sepertinya lusa adalah malam yang sangat panjang untuk dirinya.

~oOOo~

Sasuke bernapas lega saat waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Setelah menyelesaikan beberapa berkas yang sengaja ia bawa pulang, akhirnya pekerjaan yang sedikit menyita waktunya itu berakhir sudah. Sasuke merentangkan kedua tangannya keatas mencoba merenggangkan syaraf-syaraf ototnya yang mulai menegang, sedikit melirik kaca jendelanya dan menatap permukaan langit yang dipenuhi sejuta bintang yang berpijar. Ia tersenyum singkat, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menyelubungi hatinya tanpa bisa dikontrol. Seorang wanita yang sudah menemani hari-hari dengan berbagai gaya hidup kinipun menjadi prioritas utama baginya. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda emo itu sekarang, yang pasti, ia sudah tak ingin menunda lagi perasaannya dan keinginannya untuk segera mempersunting wanita tercintanya itu.

Uchiha Sasuke memang pernah memiliki riwayat hidup yang tak mudah, ia pernah mengalami depresi tinggi dan ia juga sulit mengendalikan akal emosionalnya sejak kematian Sakura, ia juga ingat bahwa Sakura pergi meninggalkan dunia karena kesalahannya. Tentu saja, cerita itu pasti masih membekas sempurna didaftar kegidupannya. Sasuke menerawang jauh, hatinya terasa pilu jika peristiwa itu diingatnya kembali. Dia bahkan bisa menyimpulkan, bahwa dirinyalah satu-satunya yang pantas dipersalahkan atas kejadian beberapa tahun silam.

"Sasuke-kun..." suara yang sangat dikenalnya membuat Sasuke tersentak dari lamunannya. Lelaki Uchiha itu membalikkan tubuhnya dan menatap wanita bersurai pink itu dengan senyum tipis.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Sasuke saat melihat kekasihnya itu sudah berada tepat dihadapannya.

"A-ano... Apakah aku boleh memamaki gaun ini saat pemotretan besok pagi?" Sakura menatap Sasuke takut. Gadis bertubuh sintal itu menyerahkan foto busana yang akan ia pakai saat pemotretan yang akan dilakukannya besok. Meski pakaian yang ia kenakan tak terlalu mencolok, tapi bagian depan dadanya sedikit terbuka. Sehingga bisa dipastikan jika separuh dari dadanya akan terekspose dan memperlihatkan belahan dadanya pada penikmat foto.

"Kau ingin aku menyetujui ini?" Sakura mengangguk. Ia menatap Sasuke dengan wajah sumringah dan penuh harap.

"Kau bisa melepaskan seluruh pakaianmu disini, sekarang juga jika kau mau, Sakura." ucap Sasuke sinis. "Bukankah akan lebih bagus lagi jika kau tak mengenakan sehelai baju pun? Atau kau ingin memperlihatkan lekuk tubuhmu pada mereka?" Sambung Sasuke lagi dengan penekanan disetiap perkataannya. Dan sudah bisa dipastikan jika Sasuke tak suka dan tak terima jika kekasihnya itu mengenakan pakaian yang modelnya seperti itu.

"Aku hanya meminta pendapatmu, bukan untuk memarahiku seperti ini. Kau bisa mengatakannya dengan baik? Kau anggap aku ini apa?!" sungut Sakura tak terima dengan perkataan yang Sasuke berikan. Wanita Haruno itu memandang Sasuke kesal, tak habis pikir kenapa lelaki Uchiha itu sangat menyebalkan akhir-akhir ini.

"Jika kau mengerti dengan sifat dan sikapku, seharusnya kau tak menanyakannya Sakura,"

"Tentu saja aku tak mengerti. Aku bukan ibumu." sahut Sakura tak kalah sengitnya.

"Kau memang bukan ibuku, tapi kau adalah kekasihku sekaligus calon ibu dari anak-anakku kelak. Tak bisakah kau mengerti akan posisimi saat ini?" tegur Sasuke tegas. Lelaki itu langsung mempersempit jarak antara dirinya dan Sakura. Menatap iris emerald kekasihnya yang sudah melotot terkejut. "Jadi, mana mungkin aku membiarkan tubuhmu ini terekspose dan dilihat oleh beberapa pria diluar sana. Kau ingin aku mencongkel satu persatu mata mereka yang sudah melihat bagian tubuhmu itu, hn?"

"A-Apa kau bilang?! Memangnya siapa yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu? Kau pikir aku mau melakukannya," Sakura menatap Sasuke tertegun sekaligus gugup. Ia tak menyangka jika Sasuke akan mengatakan itu.

"Wajahmu memerah. Apa kau malu?" goda Sasuke yang semakin merapatkan tubuhnya pada Sakura.

"Ti-tidak! Aku tidak malu. Dan lepaskan aku!?" Sasuke tersenyum tipis melihat gelagat yang diberikan oleh kekasihnya itu. Meski Sakura menolak mengakuinya, tapi Sasuke tahu pasti jika Sakura memang gugup dengan perkataannya barusan.

"Sepertinya aku ingin memakanmu sekarang juga." Sakura bergidik dan menegang saat Sasuke menjilat permukaan bibirnya sendiri. Gadis bersurai merah mida tersebut berusaha mendorong tubuh Sasuke dan mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Sasuke.

Sasuke menahan tawanya. Ia sungguh merasa geli saat melihat raut ketakutan yang diperlihatkan Sakura. Tanpa menunggu persetujuan dari sipemilik bibir, Sasuke langsung menempelkan bibir miliknya pada bibir mungil Sakura. Sedikit menikmati sensasi yang diberikan oleh bibir Sakura, pemuda emo itu terus menelusuri setiap sudut bibir manis itu dengan rakus. Tak memperdulikan rengekan dan pukulan dari tangan mungil Sakura, Sasuke tetap memposisikan bibirnya pada bibir Sakura tanpa jeda. Hingga tubuh Sakura melemas dan oksigen yang dimiliki mengirang, barulah Sasuke menyudahi aksi ciumannya dan kemudian menatap Sakura yang terengah-engah.

"Kau ingin membunuhku, haahh?" sungut Sakura marah bercampur malu. Wanita itu menatap Sasuke yang kini menatapnya hangat. Tak tahu harus berekspresi apalagi agar kekasihnya itu menyesali perbuatannya. Ia sudah tak bisa menahan rasa malu sekaligus debaran jantungnya yang semakin cepat saat manik obsidian itu menatapnya dalam.

"Aku suka dengan bibirmu." ungkap Sasuke ciuman singkat bibir ranum Sakura sekali lagi. "Dan bibirmu itu hanya boleh disatukan dengan bibirku, begitupun dengan bagian tubuhmu yang lainnya," ujar Sasuke yang sukses membuat tubuh Sakura menegang. Wanita berwajah cantik itu langsung memerah menahan malu dengan perkataan Sasuke. Entah kenapa dan entah sejak kapan lelaki yang ada dihadapannya ini bisa sebegitu posesif dan protektive terhadap dirinya. Yang jelas, jika Sasuke sudah mengatakan keinginanya, bisa dipastikan jika apa yang dia katakan harus diperolehnya. Dan Sakura menyakini itu...

~oOo~

TBC

.

.

.

Haloooo... kembali lagi dengan saya ^_^. hehehehe... Bagaimana? akhirnya saya kembali. Tapi sepertinya chap ini nggak terlalu panjang T,T. Maaf ya, saya masih terkena WB yang sangat luar biasa. Sebenarnya saya juga nggak berniat untuk publish, tapi berhubung tgl 28 yang bertepatan dengan ulang tahun Sakura, jadi saya 'sedikit' memaksakan otak saya untuk publish. #Digampar

Ok, menurut kalian bagaimana dengan Chap ini? apakah jelek, membosankan atau lumayan? hehehe... Dan untuk konflik Fict ini, mungkin hanya konflik super biasa yang tidak sampai membelit hubungan keduanya. Saya juga masih agak binggung dengan konflik yang akan saya berikan nantinya #dibuang. pluungg! Ada yang berminat memberi saran dan ide buat konfliknya? ^0^

Oke, bagi yang meninggalkan jejak diChap kemarin, seperti biasa saya ucapkan banyak terima kasih.

.

.

.

Kazuran,, Haruchan,, AoStraw,, Ariska,, Haruchan (lagi),, Farah,, Syal,, Himeka-Azura,, Chizuru,, Uchiha Ratih,, Natsumo Kagerou,, Zanadan,, me,, mega naxxtrida,, Febri Feven,, Eysha CherryBlossom,, prince ice cheery,, Anisha Ryuzaki,, marukocan,, Chi-chan Najiyah,, IisVadelova,, hanazono yuri,, Lica Marvell,, Yuka Namikaze,, Nina317Elf,, lovelly uchiha,, Baymancstercity.

.

.

Lamongan,, 27-03-2014,, jawa timur.

Salam sayang ; Aihara Meyrin.