Sesuatu itu kemabali. Sesuatu yang entah sejak kapan sudah ia coba untuk dikubur dalam album kenangan didasar hatinya itu kembali menyapa. Ia sudah mencoba untuk menatap maju kedepan, melupakan segala hal yang menyangkut pautkan wanita itu dalam hidupnya. Sudah waktunya ia berpikir ke depan demi seorang wanita yang kini sudah mewarnai harinya dengan kebahagiaan yang tiada tara. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang sudah berlalu dan bahkan mungkin hampir terlupakan. Namun seperti hari-hari sebelumnya, lelaki itu tak bisa begitu saja melupakan wanita yang telah lama pergi dari kehidupannya. Ia tak bisa melupakan wanita itu meski sudah tergantikan dengan sosok wanita lain disisinya selama ini.
Jadi, apa yang diinginkannya lagi?
Entahlah, Sasuke tak tahu jawaban seperti apa yang akan dilontarkan atas pertanyaan yang seharusnya mudah dijawab itu.
Sedikit menghela dan menarik nafas berulang-ulang kali, lelaki emo itu tampak sedang memikirkan sesuatu sampai membuat dahinya mengerinyit dalam. Dalam hidupnya, ia sudah pernah mengalami fase dimana ia jatuh dan kembali bangkit. Ia juga pernah sekali ditinggalkan oleh seorang wanita yang sangat mencintainya. Namun tentu saja, sifatnya yang dulu begitu acuh terhadapnya mampu membuat wanitanya itu terenggut dari belenggu tangannya tanpa ada kesempatan untuk mengulangnya sama sekali. Dan sekarang, sudah waktunya Sasuke menata kembali hidupnya dengan wanita idamannya. Ia harus memegang tangan itu agar tak lepas darinya. Dia sudah terlanjur jatuh hati pada Sakura. Sosok perempuan yang sangat mempengaruhi emosionalnya selama beberapa bulan ini. Ia juga satu-satunya wanita yang mampu membuat roda kehidupan Sasuke menjadi lebih indah dengan kehadirannya. Sasuke tahu, jika wanita yang selalu ada disampingnya itu adalah sosok wanita yang berbeda dari wanita sebelumnya. Meski begitu, Sasuke sudah terlanjur cinta bahkan ia rela jika hidupnya menjadi taruhannya. Oh... andai saja Sakura mengetahui jika Sasuke begitu mencintainya dengan segenap hati apakah wanita itu akan merasa bahagia? Apakah ia tak merasa dibohongi selama ini?
Begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dengan benar sebelum kesalapahaman ini semakin membesar.
Begitupun dengan Sakura. Wanita itu sudah mencoba untuk menyembunyikan kebenaran yang ssesungguhnya. Ia sudah mengorbankan hatinya hanya untuk berpura-pura menjadi Senju Sakura, yang dimana wanita itu adalah kekasih Sasuke yang telah lama tiada. Sakura tahu, jika apa yang dilakukannya itu adalah kesalahan yang mungkin tak akan mungkin termaafkan. Apalagi Sasuke adalah seorang lelaki yang gampang tersulut amarah. Sakura takut... ia sungguh sangat takut jika Sasuke akan mengetahui kebenaran ini nantinya. Meski begitu, apakah Sakura sanggup dengan datangnya hari itu? Dan apakah Sasuke akan tetap mencintainya seperti ini?
Aahhh... semua kejadian yang mereka alami tampak sangat kacau. Disatu sisi Sasuke sudah mengetahui identitas Sakura yang sebenarnya, dan disatu sisi lainnya pula Sakura merasa takut jika Sasuke mengetahui kebohongannya.
Apakah ini takdir yang indah?
Ataukah ini adalah awal dari sebuah kehidupan yang harus mereka jalani dengan lapang dada?
Dan mungkinkah setiap kebohongan yang mereka tutupi akan tetap seperti ini, atau akan ada jalan lain untuk membuat dua anak adam itu menjadi sosok yang lebih bijak dan dewasa?
Entahlah... karena waktu yang akan membuktikan semuanya. Dan yakinlah, bahwa sesuatu itu pasti ada hal indah setelahnya.
.
~oOOOo~
.
.
.
Disclaimer; Naruto milik Masashi Kishimoto dan saya hanya meminjam karakternya saja.
Rated; T
Pair; Uchiha Sasuke - Haruno Sakura.
Warning! OOC, OOT, typo(s) dan EYD tak beraturan.
Don't like Don't read and happy reading! ...
..
.
~oOOOo~
.
.
.
.
Sasuke menatap langit dengar sorot mata yang sulit diartikan. Pemuda itu merenungi setiap kejadian dimasa silamnya yang mampu membuatnya mengepalkan kedua tangan kuat-kuat. Sudah beberapa bulan ini ia memikirkan masalalunya yang kelam. Ada sedikit dorongan yang entah bagaimana bisa ia agak sedikit ragu saat mimpi itu menghampirinya beberapa waktu yang lalu. Sasuke tahu, jika tidak seharusnya ia memikirkan hal itu. Apalagi sudah ada Sakura yang selalu mendampinginya hampir setiap hari. Tapi tetap saja, rasa khawatir dari alam bawah sadar saat itu membuatnya sedikit takut. Ia takut kehilangan Sakuranya lagi. Ia takut jika Sakuranya akan pergi meninggalkannya. Lelaki emo itu benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Meski dari luar dia kelihatan tenang dan tak menunjukan ekspresi apapun, namun hati dan pikirannya bertolak belakang dengan apa yang terlihat sekarang ini.
Kembali ia menatap langit yang bertabur sejuta bintang dan satu bulatan terang disana. Sasuke semakin menghela nafas saat ia di rasa oksigennya mulai menipis begitu memikirkan masalah pelik dalam hidupnya. Antara semua masalah yang pernah membelitnya, ia merasa jika ini adalah masalah yang paling menyulitkan.
Saat teringat kembali akan sosok ceria dari wanita yang bernama Haruno Sakura, Sasuke jadi merasa senang. Bahkan mungkin kesenangan itu lebih berdominan dari sebuah rasa bahagia. Diakuinya, bahwa hidup tanpa Sakura disisinya sama saja dia menggali lubang kuburanya. Sasuke tahu, jika tidak hanya dirinya yang begitu menginginkan wanita itu disisinya. Karena beberapa minggu ini Sasuke mengutus salah satu orang kepercayaannya untuk menjaga Sakura dari situasi atau segala hal lainnya. Dan perlu diketahui jika ada satu pria yang sangat mendambakan kekasihnya itu. Meski pada awalnya Sasuke tak terlalu memikirkannya, namun rutinitas yang kerap kali mempertemukan Sakura dengan lelaki itu tak urung membuat gigi Sasuke bergemelutuk geram sekaligus marah. Ia tahu lelaki itu, Sasuke pernah sekali mempergoki lelaki itu datang ke rumah Sakura dan sedikit berbincang dengan kekasihnya.
"Tch!
Sasuke mendecih pelan. Diremasnya kertas laporan dan sebuah foto yang menampilkan lelaki itu tengah tersenyum tipis kearah Sakura. Lelaki yang memiliki surai merah pekat itu tampak sedang menikmati waktu bersama dengan Sakuranya. Jantung Sasuke berdetak kencang. Nafasnya naik turun menahan emosi yang kapan saja siap meladak. Namun Sasuke tahu, jika kekasihnya itu tak mungkin menyadari perasaan dari lelaki yang bernama Gaara tersebut. Sakura terlewat polos dan lugu. Wanita itu selalu tampak tersenyum dengan semua temannya.
"Tak akan pernah kubiarkan kau melangkah lebih jauh dari ini, Gaara." desis Sasuke tertahan. Sambil meremas-remas foto itu dengan tak layak, akhirnya Sasuke langsung membuang benda biadap itu keasalnya dengan sempurna.
.
.
Saat ini sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Sudah waktunya Sakura memanggil Sasuke untuk segera turun dan menikmati makan malamnya bersama keluarga. Tak lupa, setelah menyajikan beberapa hidangan dimeja makan yang sangat menggugah selera itu, Sakura dengan izin terlebih dahulu meminta persetujuannya pada Mikoto. Ibu Sasuke.
Dengan senyum mengembang indah dibibir mungilnya, Sakura langsung menapaki lantai demi lantai anak tangga menuju ruangan Sasuke berada.
Setelah sampai didepan pintu tempat Sasuke yang diyakini jika kekasihnya itu ada didalamnya, Sakura dengan tak sabar mengetuk pintu itu dengan keras dan memanggil Sasuke.
"Sasuke-kun, makan malam sudah siap,"
Tak ada sahutan. Sakura mengernyitkan matanya dengan dengusan kecil. Tak biasanya kekasihnya itu tak menjawab panggilan darinya.
"Sasuke-kun, apa kau sedang tak enak badan atau kau..."
"Masuklah,"
Belum sempat Sakura melanjutkan kata-katanya, Sasuke terlebih dahulu menyuruh Sakura untuk masuk ke kemarnya. Ada sedikit nada dingin yang Sakura tangkap dari Sasuke. Namun tentu saja Sakura langsung menepisnya jauh-jauh dan kembali tersenyum saat ia sudah masuk kedalam kamar Sasuke.
"Apa kau baik-baik saja, Sasuke-kun." tanya Sakura sedikit khawatir.
Sekali lagi Sasuke tak menjawab. Lelaki itu masih pada posisinya menatap langit dengan sorot mata yang sulit diartikan. Menghiraukan keberadaan Sakura yang sudah berdiri dibelakangnya dengan alis terangkat heran.
"Hn. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." jawab Sasuke tanpa menoleh.
Sakura yang tahu bagaimana sifat Sasuke langsung memeluk lelaki itu dari belakang dengan erat. Kepala merah mudanya mendarat tepat dipunggung Sasuke dengan nyaman. Sedikit menghela nafas dan kembali mempererat pelukannya, Sakura langsung bergumam, "apa ada masalah?"
Sasuke bergumam pelan sebagai jawaban. Lelaki itu kemudian membalikkan tubuhnya dan menghadap langsung kearah Sakura yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Aku mencintaimu," dan satu kalimat yang keluar dari bibir Sasuke seolah membungkam seluruh pertahanan Sakura. Wanita itu terpaku dan tak mampu bereaksi sedikitpun. Ia terus diam berdiri dengan mata yang tak lepas dari obsidian yang membelenggu jiwanya.
"Kau tahu, aku sungguh sangat mencintaimu, Sakura. Akan kulakukan apapun untuk kau tetap berada disisiku." kali ini dengan suara tegas Sasuke mengatakannya. Lelaki itu kemudian memeluk Sakura yang masih diam mematung. Namun setelah beberapa detik kemudian, lengan mungil itu menyambut pelukan hangat dari lengan kokokh yang sangat dicintainya itu.
"Aku juga mencintaimu, Sasuke-kun. Sangat... sangat mencintaimu." gumam Sakura menyambut peryantaan Sasuke yang begitu tiba-tiba.
"Apa hari ini kau ada pemotretan?" Sakura menggelang sebagai jawaban.
"Kenapa? Apa ada sesuatu?" tanyanya begitu melihat mimik wajah Sasuke yang sepertinya terlihat aneh.
"Tidak! Aku hanya ingin kau menginap disini. Aku rindu padamu." sekali lagi Sakura terkejut dengan penuturan Sasuke. Wanita itu mengernyitkan alisnya dengan beberapa pertanyaan yang berseliweran didalam otak pintarnya.
"Apa kau sungguh tidak apa-apa, Sasuke-kun. Kenapa kau tampak aneh malam ini?"
Sasuke manatap Sakura dengan tatapan tak terduga. Lelaki itu tak menjawab pertanyaan Sakura tapi ia lebih memilih melahap bibir ranum Sakura yang menggoda.
"Kau membuatku lapar. Apa aku boleh memakanmu, Sakura."
Dan satu pukulan didada Sasuke membuktikan jika Sakura merasa malu akan godaan yang sengaja Sasuke lancarkan untuk dirinya
"Heiii... kau belum menjawab pertanyaanku nyonya Uchiha. Kau memperbolehkanku memakanmu malam ini atau tidak?"
Sakura mendengus sambil tetap melangkahkan kaki jenjangnya menjauhi Sasuke. Kadang wanita itu berpikir, sejak kapan kekasihnya itu menjadi makhluk mesum seperti itu?
"Tidak! Aku tidak mau." sambil menjulurkan lidahnya, Sakura kembali meninggalkan Sasuke yang kini terkekeh geli melihat tingkah kekasih merah mudanya tersebut.
.
Sakura menghentakan kaki jenjangnya saat menuruni tangga. Wanita itu sesekali mendengus dan kemudian menggembungkan pipi chubbynya kesal. Tak menyangka jika kekasihnya yang terkenal pendiam dan irit kata itu bisa mengucapkan kalimat yang sangat jauh dari ekspentasinya. Meski Sakura dibuat kesal, namun rona merah di permukaan wajahnya tetap terlihat dengan jelas.
Setelah sampai di meja tempat dimana ia akan makan malam, wanita dengan surai merah muda itu tetap menggembungkan pipinya sambil bersidekap. Sedangkan dua sosok manusia setengah baya yang kini menatapnya tepat dihadapannya itu terheran-heran akan sikap yang di tunjukkannya.
"Ada apa, Sakura?" tanya Mikoto penasaran. Wanita yang berusia empat puluh enam tahun itu menatap suaminya yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
Sakura menatap Mikoto dan kemudian menggelengkan kepalanya pelan, "tidak terjadi apa-apa." sahutnya cepat.
"Lalu dimana, Sasuke?" tanya Mikoto sekali lagi.
Sakura diam sejenak. Ia kembali teringat perkataan Sasuke barusan. Dan hal itu sukses membuat raut wajah Sakura bak kepiting rebus yang siap disantap. Sedikit menghela nafas, Sakura membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari calon ibu mertuanya tersebut sebelum sebuah lengan kokoh memeluknya dari belakang dengan sedikit ciuman singkat.
"Aku disini, ibu." Tiba-tiba saja Sasuke sudah berada di belakang Sakura dengan senyum tipis. Sakura memutar kepala merah mudanya dan mendapati kerlingan jahil dari obsidian yang menurut Sakura sekarang sangat menyebalkan.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang melihat ekspresi muka Sakura.
Masih dengan menggembungkan pipi chubbynya, Sakura mendengus pelan dan kembali memalingkan wajahnya. Malu...
Sekarang ke empat kepala itu menghiasi meja makan dengan sempurna. Semua tampak menikmati setiap hidangan yang tersaji dan tertata apik di depan mereka. Ketenangan saat makan malam di keluarga Uchiha memang sudah tercipta sebelumnya. Keheningan menyelimuti tanpa ada satu pun suara yang keluar. Hanya detikan jarum jam dan suara sendok yang terdengar. Setelah selesai makan, barulah suara merdu Mikoto, selaku nyonya rumah itu berujar menatap Sasuke dan Sakura bergantian.
"Besok adalah ulang tahun perusahaan Uchiha Corp, kuharap kalian tidak melupakannya."
Sakura mengangguk pelan dengan mengulum senyum tipis. Sedangkan Sasuke yang mendengar perkataan dari ibunya barusan
tampak enggan menanggapi.
"Terutama kamu, Sasuke. Ibu tidak ingin kau absen diacara besar ini." ujar Mikoto sekali lagi. Wanita paruh baya itu sedikit mengerutkan keningnya pelan saat melihat ekspresi datar dari anaknya itu.
"Aku tidak menjanjikan itu." ungkap Sasuke. Sontak membuat Sakura langsung menolehkan kepalanya menatap kekasih emonya tersebut.
"Kenapa?" tanya Sakura meminta penjelasan.
"Tidak ada alasan khusus," cicitnya datar.
Fugaku diam tak menanggapi. Sepertinya ia sangat mengerti kenapa anaknya itu enggan untuk menghadiri ulang tahun perusahaan. Karena lelaki paruh baya itu juga tak suka dengan hal-hal yang ramai apalagi berisik. Lelaki itu yakin, jika semua kolega-koleganya akan mencari muka dihadapannya. Dan bisa dipastikan pula jika beberapa anak gadis mereka pun akan ikut menghadiri.
Sasuke menyudahi acara makan malam ini dengan dingin. Tak perlu mengucapkan beberapa kalimat, lelaki tampan itu langsung bangkit dari duduknya dan meningglkan mereka dengan pandangan heran. Apalagi Sakura, wanita itu mengernyitkan alisnya dalam saat melihat perilaku Sasuke yang seperti itu.
"Sakura akan membujuknya. Akan kupastikan Sasuke-kun akan hadir." ungkap Sakura. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi menemui Sasuke yang sepertinya masuk ke dalam kamar.
.
.
~oOOOo~
.
.
Karin berdiri termangu dalam kesunyian malam. Wanita yang memiliki surai merah kelam itu menatap hamparan bintang yang membias indah di cakrawala. Wanita yang berprofesi sebagai seorang modelling itu menghela nafas beberapa kali dan mengusap permukaan wajahnya kasar. Raut wajahnya tampak tegang saat memikirkan ajakan dari teman sekaligus bosnya tersebut. Ada perasaan kesal saat mengetahui ia akan menghadiri acara pesta perusahaan disana. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba meluap tanpa bisa diajak kompromi. Tak seharusnya ia menerima ajakan Gaara begitu saja tanpa mempertimbangkannya terlebih dulu. Dalam pikirannya saat itu hanya bagaimana ia bisa menjadi model internasional yang sempurna. Dimana Karin akan menemui beberap wanita yang memiliki profesi yang sama dengannya. Namun sekali lagi, Karin tak akan mungkin bisa menahan gejolak amarahnya jika seandainya ia menemui lelaki yang sudah mengambil adik kesayangannya.
"Tidak!"
Karin bergumam pelan sambil menarik nafas. Wanita itu tidak akan tersulut api kemarahan hanya karena ia akan melihat sosok lelaki yang sudah merusak segalanya. Merusak kebahagiannya yang ia dan adiknya, Sakura miliki. Tidak, tentu saja Karin akan menahan rasa marah, benci, dan kesal terhadap lelaki Uchiha tersebut. Ia tak mungkin membuat keonaran yang sangat indah disana, apalagi dia adalah sosok figur yang namanya kini sudah melejit di dunia modelling. Tak mungkin Karin bertindak ceroboh hanya nafsu marahnya saja kan? Jelas itu tidak mungkin terjadi.
Saat kepergian Sakura, sudah lama sekali ia tak pernah mendengar bagaimana keadaan pasca Sasuke di tinggal pergi oleh adiknya. Meski ia pernah mendengar beberapa hal tentang Sasuke, namun Karin tetap tak terlalu memperdulikannya.
"Apakah lelaki itu masih memiliki emosional yang meledak-ledak?" tanya Karin pada dirinya sendiri. Ia tahu jika semenjak kematian Sakura, Sasuke berubah menjadi sosok yang sangat jauh dari karakternya.
Kenapa ia mengetahuinya?
Tch! Jangan meremehkan Senju Karin. Wanita itu memiliki berbagai cara untuk mengetahui semua informasi yang Sasuke lakukan. Tidak sulit baginya ia mengetahui itu semua. Karin memiliki beberapa pasang mata diluar sana yang dapat dipercaya. Beberapa bulan setelah kematian adiknya, Sasuke berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Begitulah kabar berita yang dia dengar. Dan setelah mendengar kabar berita itu, Karin tersenyum kecut dan tertawa sekencang-kencang dengan lelehan air mata yang jatuh dipipinya. Seakan kesedihan dari hatinya tak cukup membendung kegelisahan yang tercipta.
Semua kejadian buruk itu seolah berlalu begitu lambat. Karin masih memikirkan adiknya yang ditelantarkan oleh Sasuke begiu saja. Seseorang yang pantas dipersalahkan atas kematian Sakura hanya satu, yaitu; Uchiha Sasuke. Dan Karin pastikan jika Sasuke akan mendapat ganjarannya.
Genggaman tangan Karin menguat. Ia tak bisa mengontrol emosinya hanya karena mengingat Sasuke yang sangat brengsek itu. Ia sudah menyia-nyiakan cinta adiknya dengan sikap arogan yang ia miliki. Dan dia sudah membuat Sakura pergi meninggalkannya dalam jangka waktu tak terbatas.
"Kau akan membayarnya, Sasuke." dengan gigi yang bergemelutuk menahan getaran yang meluap dalam desir darahnya, Karin memandang malam ini adalah awal dari segalanya. Awal dari kehancuran Sasuke. Lelaki yang teramat dia benci.
.
.
.
Sakura menatap Sasuke yang masih berkutat dengan kertas-kertas itu dengan alis berkerut menjadi satu. Wanita musim semi tersebut mendekati Sasuke dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sasuke erat. Sedikit mencium surai hitam Sasuke, Sakura menatap Sasuke yang masih di sibukkan dengan kertas-kertas yang tak di mengertinya.
"Apa yang sedang kau kerjakan, Sasuke-kun?" tanya Sakura mencoba memecah kesunyian. Wanita itu melirik Sasuke dengan senyum tipis.
Sasuke menghela nafas dan menghentikan jari jemarinya diatas kertas dan menatap Sakura.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya. Dan kau menggangguku dengan tingkah manjamu, Sakura"
Sakura terkikik geli dan melepaskan pelukannya. Kemudian ia berdiri disamping Sasuke dengan berkacak pinggang sambil memanyunkan bibir mungilnya.
"Jika kau memanyunkan bibirmu seperti itu, aku bisa pastikan jika kau akan keluar dari kamarku dengan bibir membengkak parah."
Sakura tersentak kaget. Namun didetik kemudian ia melotot tajam menatap Sasuke tanpa bibir mengerucut.
"Itu lebih bagus." ungkap Sasuke menatap Sakura sambil memalingkan wajahnya yang sudah merona.
"Jadi, apa yang membuatmu datang kesini. Biasanya kau akan membantu ibu membereskan piring bekas makan malam."
"Memangnya aku tak boleh kesini? Kau tak suka aku disini begitu?" sungut Sakura tersinggung.
"Aku tak perlu menjawabnya, bukan? Kau tentu tahu jawaban atas pertanyaanmu itu, sayang."
Sasuke kembali mengambil bolpoinnya dan menggerakkan jari lincahnya diatas kertas itu dengan cepat. Tak perlu membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, karena kertas-kertas itu hampir terselesaikan. Sakura yang melihat betapa seriusnya Sasuke mengerjakan dokumen-dokumen tersebut langsung tersenyum dengan mata berbinar senang.
Wanita itu bahkan tak henti-hentinya menatap wajah Sasuke intens dengan binar kebahagian yang tertera dibalik seluit matanya yang bening. Sakura sungguh bahagia. Bahkan perasaannya saat ini begitu terlampau sangat bahagia. Ada rasa yang dimana debaran jantungnya sulit sekali untuk dikontrol. Apapun itu, Sakura menyukai setiap kebersamaa yang ia miliki bersama Sasuke.
"Apakah ini akan berlangsung selamanya?"
Dan satu kalimat tanya itu langsung membuat Sakura tersentak dalam lamunannya yang indah. Ada beberapa kejadian yang mungkin akan menjadi penghalang kebahagiannya dikemudian hari. Lalu apakah Sakura mampu menghadapinya? Ataukah jika semua kebohongan ini terungkap, akankah peristiwa seperti ini akan terulang kembali?
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. Wanita itu tak ingin memikirkan hal-hal yang mungkin akan membuatnya sakit kepala. Ia tak ingin kebahagiaan yang dia rasakan saat ini ternoda dengan spekulasi yang bahkan belum tentu terjadi nanti.
"Kenapa?" dan satu kalimat tanya yang keluar dari bibir Sasuke sontak membangkitkan Sakura dari lamunan panjangnya.
Sakura berdehem pelan dan menjawab pertanyaan Sasuke. "Ti-tidak!" katanya terbata
Sasuke memincingkan alisnya. Namun di detik kemudian ia menghampiri Sakura dan memeluknya erat.
"Aku tahu kau sedang berbohong. Jadi lebih baik kau jujur padaku sebelum kau menyesal, Sakura,"
Sakura bergidik ngeri. Ia paham dengan kalimat Sasuke yang menyatakan menyesal itu.
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang berpikir. Itu saja!" gumamnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku berpikir betapa bahagianya aku dicintai oleh lelaki sepertimu." dengan cekikikan yang keluar dari bibir ranumnya, Sakura mempererat pelukannya. Kepalanya bersandar penuh di dada Sasuke yang bidang.
"Kau tentu tahu kalau kau adalah segalanya. Aku mungkin akan gila jika kau pergi dari sisiku, Sakura."
Sakuta tersentak kaget. Kalimat yang diluncurkan oleh Sasuke membuat dadanya berdenyut.
"Aku sungguh sangat mencintaimu. Dan kau pun tau hal itu." sambung Sasuke yang kali ini mencium kening Sakura lembut.
"Ah... apa benar ucapanmu itu, Sasuke-kun?"
Sasuke memincingkan matanya dan melepaskan pelukan Sakura, "apa yang kau katakan?" ujarnya sarkatis hingga mampu membuat bulu kudu Sakura merinding begitu mendengar perkataan Sasuke.
"Aku perlu bukti."
"Tch! Bukti seperti apalagi yang kau inginkan dariku. Kau ingin aku menelanjangimu dan menyetubuhimu, begitu?"
Sakura melotot tajam. Wanita itu mencubit pergelangan tangan Sasuke dan membuang wajahnya kearah lain.
"Kenapa? Kau malu dengan perkataanku."
Sasuke mempersempit jarak diantara mereka dan kembali memeluk Sakuta erat. Lengan kekar itu menghimpit tubuh Sakura sampai dadanya menempel tepat di dada Sasuke.
"Le-lepaskan! Kau membuatku susah bernafas, Sasuke-kun."
"Bukankah kau ingin bukti. Akan kubuktikan sekarang juga jika itu yang kau inginkan." Sasuke berbisik lirih tepat ditelinga Sakura. Lelaki itu sangat suka jika Sakura sudah merasa tak berdaya seperti ini.
"Jangan bercanda. Aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah." pekik Sakura refleks. Sementara Sasuke yang mendengar perkataan Sakura berusan tertawa pelan dan membelai surai rambut Sakura sayang.
"Aku tahu. Aku menghormati keputusanmu meski aku harus merasa tersiksa setiap melihat lekuk tubuhmu yang menggiurkan."
Dan Sakura yang menyadari jika dirinya baru saja digoda pun melepaskan pelukan Sasuke secara sepihak. Ia menatap Sasuke garang dan kembali bersedekap kesal.
"Ohhh... lucu sekali tuan Uchiha." cibir Sakura.
"Sudah lupakan saja. Jadi apa yang membuatmu kesini?" tanya Sasuke lagi.
"Soal ulang tahun perusahaan Uchiha Corp. Kau kan hadir juga, kan?"
"Akan kupikirkan." jelasnya singkat.
"Ayolah Sasuke-kun. Jika kau tak ikut, lalu aku harus sendiri disana? Kalau ada lelaki yang mencuri pandang terhadapku bagaimana? Atau mereka mencoba merayuku? Apa kau tak akan marah? Tidak cemburu juga?"
Sasuke menatap Sakura tajam. Lelaki yang ada dihadapannya sekarang pasti tengah menahan emosinya. Terbukti dengan kepalan tangannya yang tergenggam kaut dan rahang yang mengeras.
"Itu tidak akan terjadi!" desisnya.
"Itu akan terjadi jika kau tak ada disampingku saat pesta berlangsung,"
Sasuke memincingkan sebelah matanya. Lelaki dengan rambut model emo itu menatap Sakura sambil mendengus. Meski ia benar-benar tak berniat untuk ikut ke acara pesta, namun jika membayangkan Sakura di dekati oleh beberapa lelaki dan memandangnya dengan mata melotot yang seperti menelanjangi tubuh kekasihnya itu, tak khayal Sasuke pasti akan meradang dan bisa mengamuk.
"Jadi, bagaimana?" tanya Sakura sekali lagi.
Sasuke menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. Setelah itu ia berkata;
"Aku akan ikut. Dan jangan sekali-kali kau menatap lelaki lain tanpa atau ada aku disisimu. Jika kau melanggar perkataanku, saat itu juga kau akan merasakan akibatnya yang jauh diluar perkiraanmu. Mengerti!"
Sakura mengangguk cepat tanpa bersuara. Wanita itu tahu jika ancaman yang Sasuke berikan tidak pernah main-main. Dan Sakura pastikan jika dirinya tidak akan melanggar perkataan Sasuke apapun juga.
.
.
~oOOOo~
.
"Ramai sekali," Karin berbisik pelan. Wanita itu menatap sekeliling ruangan yang sangat indah dan menakjubkan.
"Tentu saja. Ini adalah pesta yang di datangi oleh kolega-kolega keluarga Uchiha. Kau bisa melihatnya sendiri, disana ada Ino. Wanita bersurai pirang panjang itu adalah anak dari pemilik Yamanaka Corp dibidang tekstil." seru Gaara menjelaskan. Sedangkan Karin hanya mampu mengangguk mencoba mengerti.
"Adakah yang kau kenal disini, Gaara?" tanya Karin
Gaara menatap Karin sejenak dan bergumam. "Tidak terlalu banyak kurasa." Karin mengangguk pelan dan berjalan kemeja mengambil wine disana.
Karin menatap sekeliling. Ia sedikit bosan karena tak ada satu pun yang dikenalnya kecuali Gaara. Wanita itu menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. Ada sesuatu yang entah kenapa membuatnya sangat kacau hari ini. Apakah karena ini adalah tempat yang tak ingin dia injak ataukah bagaimana?
Sedangkan Gaara masih terdiam diposisinya tanpa ada niatan untuk bergabung dengan salah satu kolega yang di kenalnya. Lelaki rupawan itu tampak enggan berbaur dan membahas saham dan tetek mengek yang pasti terdengar menjemukan. Gaara hanya memfokuskan pandangan matanya untuk mencari seseorang yang sampai saat ini belum memperlihatkan batang hitungnya. Padahal hampir semua undangan sudah datang, namun wanita pujaannya itu seperti menghilang begitu saja. Mengernyitkan alis dan menghela nafas beberapa kali, kini Gaara mendekati Karin dan menepuk bahu wanita itu.
"Bagaimana menurutmu tentang pesta ini?"
Karin menautkan alisnya, "membosankan. Aku tidak mengenal siapapun disini dan aku merasa kesal."
Tutur Karin yang langsung membuat Gaara terkekeh geli mendengar jawaban dari Karin.
"Apa yang kau tertawakan?"
Gaara menggeleng pelan dan kemudian menjawab, "kau tampak berbeda kali ini."
Karin mengangat bahunya acuh. "Tentu saja. Aku harus tampak berbeda dari yang lainnya." cicit Karin sambil mensengus.
"Ya, kau benar!"
.
.
.
Sakura masih menatap cermin di depannya. Wanita yang memiliki surai merah muda itu mengulum senyum atas penampilannya yang sangat sexy dan cantik. Gaun V nya membuat belahan dadanya sedikit menyembul dan itu membuat dirinya tersenyum lebar. Ada perasaan lega saat Sasuke mengijinkan dirinya untuk mengenakan gaun itu disaat seperti ini. Meskipun ia harua menerima syarat untuk itu, namun Sakura tak mungkin menyesalinya.
"Kau sudah siap?" tanya seseorang yang sangat dikenal Sakura siapa pemilik suara tersebut.
"Tentu. Aku sudah siap sejak tadi." ungkapnya semangat. Sakura menatap Sasuke dengan senyum lebar senang. Wanita itu menatap sosok lelaki yang ada dihadapannya penuh damba dan sanjung. Sasuke benar-benar tampan dengan tuxedo hitam dan kemeja putih.
"Jika aku bukan kekasihmu saat ini, aku pasti meleleh sekarang juga."
"Kau masih ingat dengan perkataanku waktu itu kan?"
Sakura mengangguk dan menggandeng lengan Sasuke manja.
"Iyaa... aku harus menempel padamu apapun yang terjadi kan? Kau bisa kalap jika lelaki melihat bajuku ini." Sakura terkikik geli melihat raut wajah Sasuke yang tiba-tiba mengeras marah. Sasuke paham betul bagaimana posesif dan protektifnya terhadap dirinya. Sekali saja ia kepergok pergi meninggalkannya tanpa ada alasan yang jelas, kekasihnya itu pasti akan menerobos menyerangnya.
"Hn," sambil mengecup bibir ranum Sakura, Sasuke menarik pinggang Sakura erat dan berbisik, "setelah pesta selesai, kita akan menikah bulan depan."
Sakura terpaku. Menikah? Sakura merasa nafasnya berhenti saat itu juga. Kata menikah adalah hal yang tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.
"Menikah? Jangan bercanda Sasuke-kun."
"Kau pikir aku bercanda? Kau pasti sudah gila. Aku benar-benar akan menikahimu. Tanpa persetujuanmu ataupun tidak. Dan aku tak menerima jawaban apapun darimu karena pernikahan itu akan tetap terlaksana."
Sakura melotot mendengarnya. Sungguh, ia tak menduga jika Sasuke akan mengatakan hal yang mampu membuat dirinya terdiam membisu.
"Sebaiknya kita cepat. Aku tidak ingin ibu marah karena kita tak kunjung turun." gumam Sasuke.
Sepasang kekasih itu pun beriringan menuju pesta berlangsung. Genggaman tangan Sasuke tak lepas sesikitpun dari jemari mungil Sakura. Sedikit menghirup nafas dalam saat dilihat semua undangan telah hadir, Sakura menatap Sasuke yang berekspresi datar.
Begitu mereka berbaur dan memberi salam beberapa kolega, seorang wanita yang memiliki surai merah maroon itu terbelalak terkejut bukan main saat ia melihat seorang wanita yang digandenga Sasuke. Matanya memanas dan ia menggengam kedua tangannya kuat-kuat. Gaara yang melihat gelagat aneh yang Karin tunjukkan langsung menepuk bahu Karin pelan dengan sorot mata yang mengatakan; "kau kenapa?"
"Sa-sakura?" desis Karin tertahan.
.
.
TBC
.
~oOOOo~
.
.
Oh maaaaakkkkkkkkk! Sumpaah ini kenapa kok jadi begini sih Fictnya _ . Aku jadi gemes sendiri. Beneran!? Daaannnnn... mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah menelantarkan Fict ini sampai beberapa bulan #plak. Maaaaffff banget jika updatenya super lelet, aku sungguh nggak dapat lde sama sekali untuk melanjutkan chap ini. Ide buntu dan aku nggak tahu harus mencari referensi darimana. Pliiiisssshhhh... ini membuatku sakit kepala saat mengetik ini lho, jadi jangan salahkan aku jika ceritanya jaaaauuuuhhhh dari apa yang kalian harapkan sebelumnya. Well, maafkan aku untuk ini ya. Hehehehe...
Ok, karena aku sudah menelantarkan Fict ini, aku harus memeras otak untuk membuat chap ini agak panjang. Ya... meski hanya 4k+ tapi gak apa-apa kaaaannnnnn? #histeris.
Oshhh... Makasih juga sudah mau menunggu dan masih mengharapkan Fict tetap di lanjut...
.
.
.
Buat yang memberi dukungan di Chap kemarin kuucapkan banyak terima kasih.
