Disclaimer : Naruto milik Masasahi Kishimoto dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Pair: Uchiha Sasuke - Haruno Sakura.

Rated: T

Warning! OOC. AU. OOT. Typo(s), EYD tak sesuai dan kekurangan lainnya ada disini.

Don't Like Don't Read.

Have Fuuuuuuuunnnnnnn. 0(^-^)0.

.

.

0(^_^)0

.

.

Karin memandang pantulan dirinya pada kaca besar di kamarnya. Wanita bermarga Senju itu mengernyit dengan mata berkilat. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya dengan desisan yang meluncur di balik bibir merah merekah miliknya. Merasa dunia yang dihuninya itu sungguh luar biasa menyakiti hatinya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Saat matanya menemukan sesuatu yang mampu membuat kinerja jantungnya berhenti beberapa saat hanya karena melihat satu wajah yang teramat dirindukannya.

Apakah dunia mempermainkannya?

Apakah ia sedang berhalusinasi?

Entahlah...

Karin sungguh merasa pusing dan lemas ketika wajah itu kembali menghampiri pikirannya. Ia sudah mencoba menghilangkan wajah itu dari benaknya, namun sepertinya sangat sulit untuk ia lakukan. Wajah itu selalu menghantuinya. Wajah itu mengingatkannya dengan gadis kesayangannya. Wajah itu membuat dadanya sesak luar biasa.

"Oh Tuhan! Takdir apalagi yang ingin kau perlihatkan padaku." rutuk Karin mengusap permukaan wajah frustasi.

Ia lelah... ia sungguh merasa lelah luar biasa. Sebagian hatinya masih memiliki perasaan untuk tetap membalaskan dendam adiknya, namun ketika ia melihat sosok itu yang berdiri di samping Sasuke, perasaan untuk memperlakukan Sasuke ternyata raib begitu saja. Tak habis pikir, kenapa logikanya tak berfungsi sama sekali. Bukankah sejak dulu ia sudah bersumpah pada dirinya untuk membuat Uchiha Sasuke merasakan penderitaan yang sama seperti dirinya. Lalu apa sekarang? Kebimbangan itu muncul dan membuat hatinya goyah hanya dalam satu kali pertemuan dengan sosok wanita yang teramat mirip dengan adiknya... Senju Sakura.

"Brengsek!" Karin memaki kesal.

Wanita merah maroon itu dilanda binggung yang teramat. Tak habis pikir kenapa ia harus bertemu dan di pertemukan dengan wanita itu disaat ia sudah memantabkan hatinya.

Takdirkah?

Atau...

Peringatan?

Sambil mengusap permukaan wajahnya kasar dan dengusan tertahan dari bibirnya, Karin langsung berjalan ke tempat tidurnya dan kembali menghela nafas panjang. Memejamkan matanya kemudian menatap langit-langit kamarnya, mungkinkah akan berlangsung dengan baik?

Pemikiran kolot darimana yang sekarang menghantuinya. Yang pasti, ia masih ingin membuat perhitungan pada lelaki Uchiha itu. Namun... bisakah ia melakukannya sekarang?

Drrrrttt...

Getaran dari handponenya membuat karin memalingkan wajahnya kearah meja dekat kamar tidurnya. Mengulurkan sebelah tangannya dan menyambar handpone itu dengan cepat. Sedikit mengernyit, Karin langsung menekan tombol tersebut untuk menjawab panggilan dari seseorang yang dia kenal.

"Ada apa?"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau langsung pulang." lelaki di seberang sana mengomeli Karin dengan sarkastis. Tak perduli apa pendapat wanita yang kini mendengar setiap kalimatnya.

Karin menarik nafas dalam. Memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut.

"Aku lelah." gumamnya pelan.

"Kau beralasan,"

"Terserah apa katamu, Gaara."

Gaara mendecih tertahan. Tak bisa menerima alasan yang Karin berikan. Entah ada alasan apalagi selain itu, yang jelas Gaara merasa ada sesuatu yang sedang Karin sembunyikan darinya.

Tapi apa?

"Baiklah... besok pagi kau harus keruanganku untuk memberi penjelasan tentang ini. Sudah malam, sebaiknya kau tidur."

Dan...

Tuutt... Tuuuttt...

Sambungan tertutup. Menyisahkan keheningan dalam diri Karin yang kembali menatap langit-langit kamarnya dengan hembusan nafas panjang. Ohhh... ada apa dengan ini? Dunia ingin mempermainkannya atau bagaimana?.

Malam yang pekat. Angin semilir membuat hawa dingin tercipta. Membuat perasaan Karin semakin gundah dengan rangkaian cerita hidupnya yang sungguh luar biasa. Adakah hal yang lebih menyakitkan dari pada ini. Apakah harus berhenti dan kembali menjadi sosok yang tak perduli lagi? Ataukah menyerah.

.

.

Sakura masih memincingkan sebelah alisnya. Wajahnya terlihat tanpak kesal namun sorot matanya mengatakan yang sebaliknya. Wanita itu masih setia menatap jemari manisnya yang kini terpasang benda melingkar disana. Sebuah cicin dengan warna berbeda.

Apakah ada cincin yang modelnya seperti ini sebelunnya? Pikirnya heran.

Ohhh... sebaiknya jangan tanyakan ada atau tidaknya cincin yang seperti itu, karena tentu saja cincin dengan warna putih dan merah itu pasti dipesan khusus oleh Uchiha. Dan siapa Uchiha itu? Ohhh... tentu saja Uchiha Sasuke. Kekasihnya.

Apa yang tak bisa ia lakukan di dunia ini?

Dia bahkan bisa membeli beberapa perhiasan, berlian, mutiara atau apapun itu. Asalkan untuk kekasihnya, Sakura. Jadi, berhati-hatilah dengan lelaki itu jika hidupmu ingin tentram tanpa sedikit campur tangan apapun darinya.

Sakura yakin, tanpa sepengetahuannya, Sasuke pasti memesan cincin itu dengan tanpa memperlibatkan dirinya. Namun, pertanyaannya adalah; Bagaimana bisa Sasuke mencocokkan jarinya dengan cincin indah itu hingga terlihat pas di jemari manisnya.

Sakura mendesah sekali lagi. Melirik kekasihnya yang masih setia dengan kertas-kertas sialan itu. Berjalan dan menghampiri kekasihnya, Sakura langsung menyambar kertas yang sedang Sasuke pegang dan berkacak pinggang.

"Kenapa?" Sasuke mengernyitkan alisanya binggung. Tidak mengerti kenapa wanita terkasihnya itu menyambar kertas yang hendak dibacanya.

Sakura mendengus dan bergumam, "tidakkah ada yang ingin kau bicarakan padaku?" gumam Sakura masih pada posisinya. Berkacak pinggang.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Mengenai acara kemarin?" Sakura mengangguk. Dengan mengerucutkan bibirnya dan memperlihatkan cincin yang melingkar dijemarinya.

Sasuke beranjak berdiri dari duduknya. Kini lelaki itu sudah berdiri tegap di depan Sakura hanya beberapa senti. Dengan helaan nafas panjang, Sasuke langsung menyambar pinggang ramping Sakura.

"Keberatan tentang itu," tuntut Sasuke menegaskan.

Sakura menelan ludahnya. Binggung harus menjawab seperti apa.

Keberatan?

Astaga... tidak mungkin Sakura merasa keberatan jika status yang semula hanya kekasih dari CEO Uchiha kini beralih menjadi seorang tunangan. Dia gila kalau seandainya berkata tidak.

"Bukan begitu maksudku." lirihnya sambil memainkan kancing kemeja Sasuke perlahan.

Sasuke memainkan helaian rambut Sakura pelan. Menelusuri dengan telapak tangannya yang lebar.

Pertunangan...

Satu kata yang luar biasa menakjubkan. Ia tak pernah sekalipun memikirkan ini sebelumnya. Yang terlintas di kepala jeniusnya itu bagaimana caranya agar Sakura menjadi miliknya. Sepenuhnya.

"Apa kau keberatan?"

Sakura mendongak. Kepalanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Wanita berpostur tinggi semampai itu hanya terkejut. Tak menyangka jika Sasuke akan melamarnya di pesta perusahaan Uchiha Corp. Ini adalah sebuah kejutan yang sangat tak terduga. Apalagi ada begitu banyak kolega-kolega disana.

"Aku hanya terkejut. Kau tak memberitahuku sebelumnya tentang ini." jujurnya. Sasuke tersenyum tipis menanggapi. Lelaki Uchiha itu hanya sekedar memberi kejutan. Alasan kenapa ia menyelenggarakan pesta pertunangan itu disana agar Sakura tak memberinya beberapa alasan untuk menghindarinya.

Sudah beberapa kali Sasuke mengajukan pernyataan akan itu. Namun hasilnya sama. Sakura selalu memiliki sejuta alasan untuk menunda pertunangan tersebut. Entahlah... Sasuke sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran dari kekasih merah mudanya tersebut. Sakura seolah-olah memikirkan sesuatu yang berat dan luar biasa.

Dan ia memahami itu.

Satu kebohongan yang terselimut dengan sempurna. Tak ada yang berniat untuk membukanya atau memberi penjelasan. Dan Sasuke tahu kenapa Sakura selalu memiliki sejuta alasan akan hal itu.

"Sudah kukatakan sebelumnya, bukan. Kalau sebentar lagi kau akan menanggalkan nama Haruno dan berganti dengan Nyonya Uchiha."

Blush...

Sakura merona. Bibirnya terkatub rapat tak bersuara untuk menjawab perkataan Sasuke. Ia senang. Sungguh, Sakura merasakan kebahagiaan yang meluap di hatinya. Seperti ada bejuta-juta kupu-kupu yang terbang disana. Tak menampik atau menolak, tentu saja Sakura merasa tersanjung dengan kalimat Sasuke barusan. Hanya saja Sakura masih sedikit bimbang. Jauh dari dasar hatinya ia menolak, mengingat drama scenario yang ia lakoni sampai saat ini. Ohhh... apa jadinya jika Sasuke mengetahui perihal ini. Itulah kalimat yang selalu meluncur dengan indah di kepala merah mudanya setiap hari.

"Sudah larut malam. Sebaiknya kau tidur." Sasuke menggiring Sakura untuk tidur di kasur miliknya. Rutinitas yang entah bagaimana ceritanya, Sasuke selalu menyuruh Sakura tidur bersama dirinya. Berbagi kehangatan dalam malam yang pekat. Hanya itu. Tidak lebih.

"Jadi, kita bukan sepasang kelasih lagi, eh?" Sasuke memincingkan sebelah alisnya. Tak begitu mengerti dengan kalimat tanya yang Sakura berikan.

Bukan sepasang kekasih?

Apa maksudnya?

"Astaga... raut wajahmu membuatku takut, Sasuke." Kekeh Sakura ringan.

"Jelaskan maksudmu."

Dengan gerakan pelan, Sakura langsung memeluk Sasuke dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sasuke. Menarik nafas panjang, kemudian Sakura mendongak menatap Sasuke.

Chup.

รถ

Satu kecupan ringan mendarat dengan sempurna di bibir Sasuke. Membuat si empu terkejut dengan gerakan kilat yang Sakura lakulan.

"Bukankah kita sudah bertunangan. Jadi, hubungan sepasang kekasih sudah tidak berlaku lagi, kurasa." jelas Sakura dengan senyum tipis menghiasi. Tak lupa membelai rahang kokoh milik Sasuke dengan lembut. Membuat lelaki Uchiha itu menatap Sakura penuh cinta yang kian hari kian bertambah.

"Hmm... akan kupastikan sebentar lagi kau akan menyandang nama Uchiha." dan satu kecupan lembut mendarat dengan sempurna di bibir ranum Sakura. Sasuke merasa bahagia. Bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan semua kata. Rasanya tak ada satu kalimatpun yang bisa mengungkapkan betapa bahagianya ia saat lengan kokohnya itu memeluk tubuh mungil ke dalam pelukannya. Membagi kebahagiaan dan kehangatan yang bulan pun akan merasa iri dengan dirinya.

.

.

.

"Eeggghhhh..."

Sakura menggeliat. Matanya mengerjap beberapa kali saat kesadarannya mulai menyapa. Diliriknya jam kecil berbentuk sapi disamping tempat tidurnya.

"Jam tujuh pagi," paraunya setelah melihat pukul berapa sekarang.

Dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, Sakura langsung berbalik menatap sosok lelaki yang masih memeluk tubuhnya erat. Wajah yang selama ini membuatnya jatuh dalam lubang cinta yang mungkin saja ia tak akan bisa kembali. Lelaki yang tampan. Ya... siapapun wanita di dunia ini, mereka pasti akan berpikiran sama dengan dirinya. Lelaki yang tengah memejamkan matanya itu terlihat dangat tampan. Hidung yang mancung, bibir tebal yang menggoda, dan rambut emo mencuat kebelakang. Ahhh... kenapa ada lelaki yang luar biasa di dunia ini?

Sakura terkikik pelan. Wanita itu kemudian mengusap pipi Sasuke lembut dan mengecup bibir Sasuke sekilas. Sudah saatnya kekasihnya itu membuka matanya dan bersiap berangkat.

"Ayo bangun," Sakura mengusap rahang Sasuke lembut. Berupaya tindakannya itu bisa membuat Sasuke membuka kelopak matanya. Dan, ya... tak selang benerapa detik berikutnya obsidian milik Sasuke terbuka. Menampilkan iris hitam pekat yang mampu membuat sebagian wanita terpanah karena tatapannya.

"Jam berapa sekarang?" tanya Sasuke pelan.

"Jam tujuh pagi. Ayo bangun, bukankah hari ini kau ada meeting antar direksi?"

Sasuke bergumam sebagai balasannya. Membiarkan tubuh atletisnya menempel sempurna pada tubuh Sakura. Buktinya Sasuke semakin mengeratkan pelukannya meski Sakura sudah mengatakan ia harus segera bangun.

"Kapan kau akan menjadi milikku sepenuhnya?" tanya Sasuke sambil membelai surai merah muda Sakura dan sesekali mengecup kening Sakura penuh sayang.

"Bukankah sekarang ini aku sudah menjadi milikmu."

"Tidak. Kau belum menjadi milikku sepenuhnya." Sakura mendongak menatap Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya. Dengan mengulum bibir, sepertinya Sakura tahu apa maksud perkataan Sasuke barusan.

"Kalau saja kau tidak mengatakan kalimat sialan itu, mungkin saat ini juga aku akan memasukimu sampai malam." katanya sambil menarik nafas panjang. Tak perduli bagaimana bentuk wajah Sakura saat ia mengatakan kejujurannya.

Mendengar kekeh kecil dari Sakura, membuat Sasuke mengernyitkan sebelah alisnya. Tak mengerti kenapa kekasihnya itu malah tertawa saat dirinya sedang bicara serius mengenai keinginanya barusan.

"Kenapa kau tertawa?" Sasuke menatap Sakura yang mencoba menahan tawanya dengan delikan tajam.

"Tidak. Aku hanya tidak percaya kau mengatakan itu. Apakah selama kita tidur bersama kau selalu menahan hasratmu untukku?" Sasuke mengangguk pelan dengan gumaman andalannya.

"Baiklah, ini terakhir kalinya kita tidur bersama kalau begitu."

Dan kalimat yang Sakura lontarkan barusan sukses membuat Sasuke melotot tajam kearah Sakura. Sedangkan wanita dalam pelukannya itu semakin tertawa kencang saat candaanya itu mengenai sasaran.

"Aku hanya bercanda," ucapnya. "Baiklah, sebaiknya kita segera bangun. Aku tidak ingin kau terlambat." Lalu satu ciuman selamat pagi yang cukup panjang yang Sasuke berikan menjadi akhir percakapan antar keduanya.

.

.

.

.

"Apa hari ini kau ada pemotretan?" tanya Sasuke setelah selesai menyelesaikan sarapannya. Lelaki emo itu menatap Sakura sekilas. Menunggu jawaban.

"Ya. Dan sepertinya akan sedikit lama dari biasanya. Karena katanya aku akan di potret dengan salah satu model dari temannya Gaara." kata Sakura sambil mengingat siapa nama wanita yang akan berpose dengannya nanti. "Ohh.. namanya Senju Karin."

Sekian itu juga Sasuke langsung melototkan matanya. Terkejut? Ya... itu sudah pasti. Tapi selain rasa terkejut, ada perasaan lain yang entah kenapa membuat dada Sasuke langsung bergemuruh. Hampir beberapa tahun lamanya ia sudah tak pernah mendengar nama Senju di hidupnya. Namun sekarang? Wanita Senju itu bahkan akan melakukan sesi foto bersama wanitanya.

Apa yang akan di pikirkan olehnya ketika bertemu Sakuranya? pikir Sasuke sedikit cemas.

Melihat Sasuke yang tiba-tiba terdiam membuat Sakura mengernyit. Tak biasanya kekasihnya itu tak memberi komentar seperti biasanya.

"Ada apa? Apa kau mengenal wanita yang bernama Senju Karin, Sasuke?"

Sasuke tak bersua. Lelaki itu bahkan semakin mengernyitkan kedua alisnya semakin dalam. Sebelum mengatakan sesuatu, lengan kokoh itu terlebih dulu memeluk tubuh Sakura erat dan berbisik pelan.

"Apapun yang terjadi dan apapun yang kau dengar, jangan pernah sekalipun kau meragukanku. Kau mengerti?"

Tanpa banyak bertanya, Sakura langsung mengangguk. Sebenarnya ia juga merasa ada yang aneh dengan sikap Sasuke kali ini. Ada ekspresi terkejut yang luar biasa saat dirinya menyebut nama Senju Karin. Namun Sakura tak tahu kenapa. Untuk kali ini, ia hanya harus mengangguk sebagai respon dari pertanyaan Sasuke yang terkesan serius itu.

.

.

.

.

.

Pemotretan kali ini cukup melelahkan. Sakura harus berganti kostum hampir empat kali untuk pemotretan untuk majalah busana musim panas. Sesekali ia melirik ke arah Yui untuk menanyakan kemana rekan kerjanya yang katanya akan ikut ambil dalam pemotretan busana musim panas nantinya. Hampir dua jam ia melakukan sesi foto, tapi tanda-tanda akan kedatangan wanita itu tak kunjung datang juga. Hingga akhirnya Sakura berjalan mendekati Yui yang sedang mengecek kostum untuk dirinya setelah ini.

"Apa dia masih lama datangnya?" Tanya Sakura tiba-tiba. Membuat Yui tersentak kaget saat mendengar suara Sakura yang sudah berdiri tegak di belakangnya.

"Entahlah. Haruma bilang kalau dia akan datang terlambat." tutur Yui sambil memilih baju yang sekiranya cocok untuk di pakai Sakura.

"Haahhh... aku bisa mati lelah kalau dia tak kunjung datang." keluh Sakura sambil memijit keningnya. Yui yang mendengar kalimat Sakura barusan mengangguk setuju.

Tentu saja Sakura akan kelelahan. Masih ada begitu banyak baju musim panas yang harus dia pakai. Apa jadinya kalau wanita yang kini menjadi pembicaraan datang begini lama.

"Oh... apakah wanita yang memiliki surai merah itu?" Yui berseru saat melihat sosok wanita berjalan bersama Gaara. Sakura yang tadinya ingin mengistirahatkan dirinya langsung menoleh kearah pandang Yui sekarang. Iris emeraldnya menatap satu wanita yang begitu cantik semampai. Senyum wanita itu sangat manis. Gumam Sakura dalam hati.

"Halo, Sakura." sapa Gaara yang sudah berada di hadapannya. Lelaki itu menarik setiap sudut bibirnya dan mengerling kearah Sakura yang hanya ditanggapi dengan delikan tajam. "Ah... perkenalkan. Dia Senju Karin. Wanita yang akan ikut foto baju musim panas bersamamu." lanjut Gaara memperkenalkan.

Sakura mengerjapkam matanya berulang kali. Ia menatap Karin dengan perasaan yang entah bagaimana mengatakannya. Ada sesuatu dari dalam wanita itu yang tak bisa di ucapkannya dengan kata-kata. Wajah itu, dan mata itu menatapnya dengan raut muka terkejut sekaligus tegang. Seperti Sasuke saat mendengar nama Senju Karin.

"Senju Karin," Karin mengulurkan sebelah tangannya memperkenalkan diri.

"Haruno Sakura,"

Dan dua tangan berbeda itu pun akhirnya saling menyapa. Mata keduanya menatap satu sama lain dengan kondisi yang berbeda pula.

Mata rubi milik Karin menyiratkan akan kerinduan saat iris matanya menatap Sakura yang berdiri di hadapannya. Seperti ada aliran gelombang kuat yang sengaja menariknya untuk memeluk tubuh erat itu ke dalam rengkuhannya.

Rindu...

Ya, Karin merindukan sosok itu. Merindukan wajah di hadapannya. Rindu akan keceriannya.

Namun tidak!?

Wanita yang ada di hadapannya ini bukan Sakuranya. Dia hanya wanita yang menyerupai adik kesayangannya. Tidak mungkin Sakura bangkit dari tidur panjangnya dan kembali pada dirinya. Itu tidak mungkin.

"Nah, karena kalian sudah saling berkenalan, maka sebaiknya kalian berdua cepat selesaikan sesi pemotretan." Gaara menginstrupsi. Membuat Karin tersentak dari lamunanya dan mengangguk setuju.

Sakura pun menjawab pertanyaan Gaara dengan gumaman pelan dan kembali berjalan meninggalkan Gaara dan Karin menuju kearah Yui berada.

.

.

.

To be Countinue

.

.

.

Whaaaaaaaaa... berapa lama aku meninggalkan Fict ini? Hampir empat bulan ya? Ckckckckc... #digampar. Heehehe... maaf ya, duta luar biasa menyita waktuku. Ini saja harus menguras ekstra pikiranku untuk membuat Chp ini lho. Dan, well... terima kasih mau menunggu kelanjutan Fict ini. Aku sungguh tidak tau lagi harus berkomentar apalagi untuk kalian yang masih antusias menantikan Fict ini untuk di publish.

Yuppp... bagaimana menurut kalian untuk chp ini? Apakah ceritanya semakin gak jelas atau alurnya lambat? Tolong katakan padaku tentang yang satu itu ya. n_n.

Shiiippp... gak mau panjang kali lebar ngomongnya. Intinya aku sangat berterima kasih pada kalian yang masih setia nunggu Fict Ini. Kalau bisa sampai ada kata END ya? Hehehe...

Dan ini untuk kalain yang meninggalkan jejak untuk chp kemarin;

.

Hanazono yuri

Baby Kim

suket alang alang

Lady Bloodie

leedidah

Manda Vvidenarint

Tuyul Jadi Ultraman

mantika mochi

leedidah 5x

megan091

sami haruchi

rinchan

Anka-Chan

Guest

uchihahidayat

Luca Marvell

Nina317Elf

aitara fuyuharu

prince ice cheery

sofi asat

Tsurugi De Lelouch

Crystal Sheen

haruchan

YashiUchiHatake.

.

.

Lamongan, 28-04-2015, Jawa Timur.

Salam sayang; Chizuru Mey.