Rutinitas yang kerap kali Sakura dan Karin lalui bersama membuat ke dua wanita itu sedikit akrab belakangan ini. Namun tetap saja, kata akrab yang terlihat bukan seperti seorang teman pada dasarnya. Mereka hanya akrab jika terjadi pemotretan yang mengharuskan ke dua wanita itu menunjukkan profesionalisme untuk menunjang karir mereka. Toh pada dasarnya, Karin tak begitu mengerti dengan bagaimana perasaannya saat ini. Tiap kali melihat wajah Sakura, wanita merah maroon itu selalu saja teringat akan adik kesayangannya, Sakura.

Dia selalu menatap wajah wanita itu dengan mata penuh kerinduan. Saat dimana ia ingin mengubur dalam-dalam memori menyakitkan pada hatinya, entah kenapa begitu melihat wajah polos milik Sakura membuat dada Karin bergemuruh. Ia tak tahu harus seperti apa mengambarkan perasaannya saat ini. Karena yang pasti rasa itu selalu membuncah setiap wajah itu tertangkap oleh mata rubynya.

Salah apakah dia?

Karin langsung menarik nafas dan kembali menatap wajah itu sekali lagi. Saat ini Sakura tengah berose dengan busana musim panas yang lumayan terbuka. Ya, meski tidak seerotis pakaian yang Karin kenakan, namun kesan seksi masih terasa disana. Senyum merekah itu selalu membuat Karin merasa sesak. Tidak hanya wajah dan senyumannya, namun Sakura yang saat ini ada di hadapannya seperti replika dari adiknya. Oh.. apakah ini bertanda sesuatu untuk dirinya?

Karin langsung menggelengkan kepalanya pelan. Tak mau ambil pusing dengan segala skenario yang terjadi saat ini. Pikirannya sudah dipenuhi berbagai pelik kehidupan. Bahkan Karin merasa dunia yang sekarang di huninya saat ini sungguh luar biasa menyakiti hatinya. Sambil menangkupkan diri kedalam kedua telapak tangannya, kini wanita Senju itu berdiri dan kemudian menghampiri Sakura yang sepertinya sesi pepotretannya sudah selesai.

"Bagaimana?"

Suara merdu Karin langsung membuat Sakura menoleh. Wanita bermanik emerald itu langsung tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan Karin.

"Cukup menguras energi. Suigetsu menyuruh berbagai pose yang cukup menyebalkan.

Aku rasa setelah ini aku akan mendapat masalah."

Karin menaikan satu alisnya tanda tak mengerti dengan kalimat akhir dari rekanya itu. Namun detik kemudian ia langsung mengangguk mengerti saat Sakura mengerlingkan sebelah matanya.

"Jika Sasuke-kun melihat ini, maka tamatlah riwayatku." gumam Sakura dengan cekikikan kecil. Membayangkan ekspresi Sasuke ketika melihat tabloid foto dirinya.

Karin menanggapi penuturan Sakura dengan satu senyuman tipis. Tak memberi komentar atau bertanya sesuatu mengenai lelaki yang di bencinya itu.

"Istirahatlah dulu. Sepertinya kau membutuhkannya." Sakura mengangguk. Kemudian melangkahkan kaki jenjangnya pada kursi empuk di sana.

Karin yang melihat Sakura yang begitu penurut membuat wanita itu sedikit tersenyum. Senyum yang sangat berbeda saat Sakura membicarakan lelaki yang di bencinya. Dengan satu tarikan nafas panjang, Karin langsung melangkah menuju Suigetsu yang saat ini sedang menatapnya dengan senyum lebar khas miliknya.

"Sudah siap!" ujar Suigetsu ketika Karin sudah berdiri mengambil pose.

"Menurutmu?"

Dan beberapa jepretan akhirnya mengakhiri percakapan mereka.

.

.

.

Sasuke memijit keningnya. Entah kenapa beberapa hari ini ia merasa luar biasa lelah. Apalagi dengan penuturan Sakura yang mengatakan jika dirinya kini sedang menjalin kerja sama dengan seorang wanita yang Sasuke ketahui sangat membenci dirinya. Sambil menghela nafas panjang, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan kemudian menatap jendela di belakangnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Pikirannya kini di penuhi dengan beberapa pertanyaan yang mampu membuatnya merasa khawatir akan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Tapi jika pemikiran yang terlintas ke otaknya itu benar, maka ia harus bertindak cepat sebelum semua berakhir tak sesuai dengan kehendaknya.

Kali ini, untuk kali ini saja Sasuke akan mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya. Ia sudah pernah sekali mengalami kehilangan. Maka untuk kali ini, ia akan mempertahankannya bagaimanapun caranya. Karena tak ada satu pun di dunia ini yang bisa membuat dunianya begitu indah selain Sakura. Wanita dengan surai merah muda itu selalu menjadi candu yang tak tergantikan.

Dan jika mengingat Sakura, sepertinya ia harus segera menyambar kunci mobilnya sebelum lelaki berambut merah itu mengambil kesempatan saat ia tak kunjung menjemput Sakura untuk segera makan siang bersamanya.

Dan disinilah Sasuke sekarang. Setelah menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, lelaki itu sudah berdiri dengan bersender di mobil BMW hitamnya. Tak lupa kaca mata hitam bertengger dengan sempurna menutupi onyx matanya. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya sosok yang sangat di cintainya itu muncul dengan seorang wanita yang lama tak pernah ia jumpai. Karin, Senju Karin sedang berjalan berdua dengan Sakuranya. Entah apa yang sedang mereka obrolkan. Yang pasti kening Sasuke langsung bertaut menjadi satu barisan. Penasaran dengan percakapan dua makhluk berjenis wanita itu disana.

"Sasuke-kun,"

Suara halus dan manja itu membuat Sasuke menatap wanitanya di barengi dengan sudut bibir terangkat pelan. Tak menghiraukan keberadaan satu wanita lagi yang berdiri di samping Sakura. Obsidian hitam Sasuke hanya tertuju pada wajah Sakura yang tersenyum mengembang kearahnya.

Dengan berlari-lari kecil, Sakura langsung mengalungkan kedua lengannya ke leher Sasuke dan memeluknya. Tak lupa dengan kecupan ringan yang ia berikan. Membuat Sasuke mengusap lembut surai rambut Sakura pelan dan mendaratkan satu kecupan pada keningnya sayang.

"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Sakura setalah ia melepaskan rangkulannya.

Dengan gelengan pelan dan satu gumaman khas milik Uchiha Sasuke, lelaki itu membalas pertanyaan Sakura singkat.

"Baiklah... Kita bergi sekarang. Aku sangat lapar." cicitnya sambil mengusap-usap perutnya. Sasuke yang melihat tingkah Sakura yang sedikit kekanakan itu langsung mencubit pipi Sakura pelan. Dan kemudian ia mengangguk untuk mengajak Sakura untuk pergi makan siang bersama.

Tapi sebelum mereka benar-benar pergi makan siang bersama, Sakura terlebih dulu menatap kebelakang dan menatap Karin yang sedang berdiri di belakangnya dengan wajah yang tak bisa di mengerti Sakura. Wajah Karin terlihat aneh. Rahang wanita itu mengeras dan Sakura tak tahu kenapa? sebelum ia mengutarakan isi pertayaan dalam otaknya itu, Sakura langsung tersenyum menatap Karin dan berseru.

"Karin-san mau ikut bergabung makan siang dengan kami?" ajaknya yang langsung di jawab dengan gelengan pelan dari Karin.

"Sebaiknya aku makan siang bersama Gaara."

Sakura mengangguk mengerti. Setelah itu ia dan Sasuke langsung menuju kafe Uchiwa, tempat dimana ia biasanya menghabiskan makan siangnya bersama Sasuke.

Setelah sampai di tempat tujuan, Sakura langsung memesan menu makannya seperti hari-hari biasanya. Tak lupa dengan Sasuke yang selalu menyamakan menu makan Sakura dengan dirinya. Hanya minumannya saja yang berbeda.

"Setelah ini apa masih ada pemotretan?"

"Hmm... aku seperti boneka barbie hari ini. Selalu melapas dan memakai pakaian dalam waktu lima belas menit sekali." keluh Sakura sambil menghela nafas. Namun wajahnya berinar saat menceritakan semua kegiatannya hari ini.

Sasuke yang mendengar celoteh dari bibir ranum Sakura hanya diam menanggapi. Tak memberi komentar sama sekali. Selagi Sakura merasa senang, apapun akan Sasuke lakukan. Tapi sejujurnya ada perasaan enggan yang membuat Sasuke sedikit tidak nyaman. Dan sebelum ketidak tenangannya itu menganggu pikirannya, Sasuke langsung mengutarakan isi kepalanya pada Sakura.

"Sebaiknya berhenti saja. Bukankah sudah kukatakan untuk tidak bekerja dari awal." gumam Sasuke yang langsung di sambut dengan bibir mengerucut Sakura.

"Bukankah aku pasti akan berhenti bekerja saat kau menjadikanku istrimu." keluh Sakura. "Saat ini aku mau menikmati dunia modellingku." lanjutnya yang langsung di tanggapi Sasuke dengan dengusan.

"Tapi jangan pernah sekali pun berdekatan dengan lelaki merah itu." Sakura langsung mengangguk paham tak membantah. "Aku bisa jamin jika kau melakukannya, saat itu juga aku akan menghukummu." lanjutnya lagi penuh ketegasan.

Dan alasan pertama mengapa Sasuke selalu ingin menyuruhnya berhenti karena ia tak ingin Sakura terlalu sering bertemu dengan Gaara. Meskipun Sakura sudah beberapa kali menjelaskan hubungan antara dirinya dengan Gaara hanya sebatas teman, namun Sasuke selalu tak pernah percayainya. Sasuke selalu mengatakan jika Gaara memiliki perasaan lebih terhadapnya. Dan jika Sakura membantah pernyataan Sasuke yang menyatakan Gaara menyukainya, saat itu juga Sasuke akan melarangnya bekerja. Sepertinya kadar kecemburuan Sasuke sudah melampaui batas. Dan meski begitu, Sakura merasa begitu senang. Mendapat perhatian dari Sasuke membuat hatinya melambung tinggi.

.

Setelah selesai makan siang, Sakura langsung kembali beraktifitas. Berlenggok di depan kamera dengan beberapa pose yang cukup membuat para penggemar tabloid Queen pasti langsung ternganga dengan penampilannya. Meski tidak terlalu vulgar, namun ada beberapa bagian tubuhnya yang terbuka. Dan bisa dipastikan jika banyak dari beberapa lelaki pasti meneteskan air liurnya. Apalagi kini ada Karin. Wanita bermanik ruby itu selalu menampilkan beberapa bentuk tubuhnya tanpa ragu. Karena menurutnya, ia tak boleh berpose setengah-setengah. Profesionalisme selalu menjadi patokannya meski ia harus mempertontonkan sebagian bentuk tubuhnya.

Setelah beberapa sesi pemotretan berlangsung, akhirnya kedua wanita itu bisa bernapas lega. Semua pakaian musim panas sudah mereka pergunakan. Tinggal menunggu bagaimana reaksi yang akan ditunjukkan oleh beberapa wanita di luar sana.

Sakura menarik nafas panjang. Melirik jam di pergelangan tangan kanannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dengan mendengus pelan, Sakura langsung menghubungi Sasuke untuk segera menjemputnya. Namun kesialan apa yang kini menghampirinya. Ia sudah beberapa kali menghubungi Sasuke, namun tetap tak mendapat jawaban. Sasuke tak kunjung menjawab panggilannya. Mendengus tertahan, sekali lagi ia menghubungi Sasuke. Dan hasilnya tetap sama.

"Astaga! Apa yang sedang Sasuke-kun kerjakan." dumel Sakura sambil mendengus kesal.

Karin yang melihat gelagat Sakura yang terus mondar mandir disana langsung mengernyitkan alisnya. Wanita itu langsung menghampiri Sakura dan segera menanyakan kenapa wanita itu terlihat gelisah.

"Ada apa?" tanya Karin yang langsung membuat Sakura terkejut dengan kemunculan Karin yang begitu tiba-tiba. Wanita dengan tubuh semampai itu menatapnya dengan alis bertaut. Berusaha mencari tahu kenapa Sakura terlihat sedikit aneh saat ini.

Dengan seulas senyum, Sakura menggeleng pelan. "Tidak... Tidak apa-apa." jawabnya seadanya.

"Kau terlihat resah. Apa yang sedang kau pikirkan?"

Sakura menghela nafas panjang. Mencoba membohongi Karin? Sepertinya percuma. Ia bukan tipekal wanita yang suka berbohong.

"Sebenarnya aku sedang menghubungi Sasuke-kun untuk menjempuku. Tapi ponselnya tak bisa di hubungi."

"Kau bisa meminta Gaara untuk mengantarmu pulang kalau kau mengatakannya padanya."

"Tidak! Terima kasih." dengan cepat Sakura menolak pendapat Karin.

"Kenapa?"

"Aku pernah dapat masalah karena itu." jujurya. Yang langsung di sambut penuh pertanyaan tanda tanya dari Karin. Melihat gelagat Karin yang menelengkan kepalanya, membuat Sakura menceritakan sedikit kejadian beberapa waktu yang lalu.

"Kalau begitu aku yang akan mengantarmu."

Senyum manis dari Sakura langsung mengembang. Merasa sangat beruntung begitu ada seseorang yang mau memberinya tumpangan untuk pulang.

"Ahhh.. Terima kasih, Karin-san." dengan pelukan hangat, Sakura langsung memeluk tubuh Karin. Membuat wanita maroon itu terkesiap. Merasa terkejut dengan tindakan yang Sakura lakukan. Ini adalah sebuah pelukan. Hanya sebuah pelukan namun entah kenapa Karin begitu merindukan pelukan hangat seperti ini. Dan ini untuk pertama kalinya Karin merasakannya setelah kepergian adiknya.

Setelah melepaskan pelukan dadakan yang Sakura berikan, dua wanita itu langsung beranjak pergi meninggalkan ruang pemotretan dan langsung meluncurka ke parkir mobil Karin berada.

.

Sasuke memaki. Ia sudah terlambat menjemput Sakura. Bukan karena ia lupa atau apapun. Masalah pekerjaanlah yang membuat Sasuke harus mengulur waktu untuk menunda menjemput Sakura. Sudah pukul delapan malam. Ia suda terlambat sangat lama.

Cemas.

Ya, hatinya gelisah saat memikirkan Sakura saat ini. Ia tak bisa berpikir jernih. Pikirannya sudah melalang kemana-mana.

Apakah Sakuranya sudah pulang?

Apakah Sakura pulang bersama, Gaara?

Dan pertanyaan terakhir itu langsung membuat Sasuke menggertakan giginya. Merasa marah namun ia tak bisa. Meras ingin menghajar seseorang! tapi pada siapa?

Dengan menyambar kunci mobilnya cepat, Sasuke langsung menuju ketempat kerja Sakura berada. Tak perduli jika Sakura tidak berada di sana sekalipun. Intinya hanya satu, ia ingin melihat dengan matanya sendiri. Apakah Sakura masih menunggunya atau wanitanya itu pulang bersama dengan Gaara seperti waktu itu. Dan kalaupun iya, maka tamatlah riwayat Sakura.

Setelah sampai di tempat tujuan, Sasuke langsung bergegas masuk ke dalam. Tak menghiraukan beberapa karyawan yang menatapnya keheranan. Atau tatapan penuh memuja dari para wanita yang kini sedikit merona saat melihatnya.

Saat berada di depan pintu yang mengatakan tempat pemimpin perusahaan itu, Sasuke langsung membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya. Membuat lelaki yang ada dalam ruanga itu terkejut dan langsung menatap Sasuke kesal.

"Apa yang kau lakukan?" suara dingin itu tak membuat Sasuke gentar. Onyx matanya beredar melihat isi ruangan itu tanpa celah. Berharap Sakura berada disini. Namun tak ada satu orang pun yang dapat ia lihat. Hanya lelaki menyebalkan itu yang kini sedang menatapnya tajam.

"Kuulangi sekali lagi, apa yang kau lakukan. Kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dulu." kata-kata penuh penekanan itu membuat Sasuke memfokuskan tatapannya pada Gaara. Membuat lelaki bersurai merah pekat itu mengernyit tak mengerti.

"Dimana Sakura?" pertanyaan itu langsung membuat dahi Gaara mengernyit.

Sakura?

Dengan cepat Gaara langsung menghampiri Sasuke. Memberi jarak satu meter untuk menatap wajah Sasuke yang terlihat menegang.

"Bukankah dia sudah pulang. Pemotretannya selesai sekitar jam 6 tadi." penjelasan Gaara membuat Sasuke semakin memperburuk keadaan.

Dengan langkah cepat, Sasuke langsung pergi. Meninggalakan Gaara dengan raut wajah penuh tanda tanya.

Jika Sasuke sampai mencarinya hanya untuk menanyakan keberadaan Sakura, bukankah berarti ini tandanya?

Gaara langsung melotot terkejut dengan spekulasi yang baru saja ia cerna. Sesuatu pasti telah terjadi.

Tanpa membuang waktu lama lagi, Gaara langsung mengambil jas hitamnya dan menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya. Mengikuti Sasuke yang sepertinya tengah panik dengan keadaan Sakura yang bahkan tak diketahui keberadaannya sekarang.

Dimana wanita itu sekarang?

.

.

.

Sakura memberi senyum hangat nan terima kasih atas tumpangan yang Karin berikan untuknya. Untuk hari ini, Sakura bisa bernafas lega akan kepulangannya. Ia juga tak harus merasa khawatir jika seandainya Sasuke bertanya dengan siapa dia pulang. Karena tentu saja jawabannya hanya satu. Sakura pulang bersama Karin. Dan bukan dengan Gaara.

Setelah melakukan berbagai sesi foto yang mengharuskan dirinya bergaya dengan beberapa pose sampai membuat ia merasa lelah, Sakura langsung mendaratkan dirinya ke kasur empuknya. Merabahkan tubuhnya senyaman mungkin disana. Hari ini sungguh menguras energinya. Di tambah Sasuke yang tak kunjung menjemputnya membuat kepala merah mudahnya pusing. Setelah selesai dengan pemikirannya dan merebahkan tubuhnya, Sakura langsung bernjak berdiri ke arah kamar mandi. Berharap dengan merendaMkan tubuhnya pada air hangat beraromakan cherry, mampu membuat tubuhnya kembali segar.

"Ahh... nyamannya."

Sakura memejamkan matanya menikmati rileksasi air hangatnya dengan tenang. Mencium harum cherry yang mengaur dari dalam bathtubnya semakin membuat tubuhnya sangat nyaman. Rasa lelahnya seolah telah raib begitu saja.

Mengabaikan itu semua, tanpa di duga suara dering dari handponenya tak membuat ia beranjak dari bathtub berukuran besar itu. Sakura masih ingin menikmati acaranya mandinya. Masa bodoh dengan dering handpone yang menganggu acara mandinya saat ini. Ia masih ingin berlama-lama di sana. Membuat tubuhnya sesegar mungkin dan tak mau handponenya itu harus membuat ia bangkit.

Tapi terkecuali seseorang yang ada disana. Yang dengan wajah penuh peluh membasahi pelipis wajahnya. Jas hitamnya sudah tak terpakai dan kemeja putihnya tak selicin beberapa waktu yang lalu. Sasuke mencemaskan Sakura.

Dan bagaimana jika handpone yang berdering itu adalah Sasuke?

"Ahhh... biarkan saja." gumamnya pada dirinya sendiri. Karena dalam benaknya, setelah ia menyelesaikan acara mandinya, Sakura akan segera menghubungi Sasuke. Tak mau membuat Sasuke merasa cemas akan kepulangannya kali ini.

Setelah cukup lama Sakura berendam, dengan segera ia memakai handuknya. Mengusap rambut merah mudanya dengan handuk kecil dan berjalan keluar. Di lihatnya Shiro yang menatapnya dengan bola mata besar. Membuat anjing putih itu semakin menggemaskan. Sudah berapa lama ia tak bercanda dengan anjing kesayangannya itu. Kegiatannya hampir menguras waktunya. Di tambah lagi Sasuke yang selalu ingin bertemu dengannya setiap hari. Terkadang Sakura berfikir, apakah Sasuke tak pernah bosan bertemu dengannya?

Dan omong-omong tentang Sasuke, sepertinya Sakura harus menghubungi Sasuke sekarang juga. Ia bahkan belum sempat mengabarkan jika ia sudah pulang.

Setelah selesai mengeringkan rambutnya, dengan cepat Sakura mengambil handponenya. Dan betapa terkejutnya ia saat ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Sasuke. Detik itu juga Sakura langsung menghubungi Sasuke. Tak ingin membuat lelaki itu merasa khawatir lagi. Namun naas, suara operator yang mendominasi. Hanya suara wanita asing yang untuk beberapa kali Sakura dengar.

"Astaga! Sasuke-kun pasti akan marah padaku." seru Sakura panik. Membayangkan bagaimana ekspresi Sasuke.

Namun sebelum lamunanya itu berkembang dengan cepat, suara derap langkah kian mendekat. Membuat Sakura mengernyit. Dan tambah terkejutnya ketika pintu itu terbuka dengan menampilka satu sosok tegap yang muncul dengan luar biasa berantakan. Wajah kusut, keringat membanjiri seluruh wajahnya, dan baju putih yang tadinya licin kini kusut.

"Sa-Sasuke-kun?" suara itu keluar terbata. Rasa gugup tiba-tiba saja menyergap Sakura. Sambil meneguk ludah susah payah, Sakura langsung beranjak berdiri dari duduknya. Menghampiri Sasuke yang masih setia berdiri di ambang pintu.

"Tetap disana." suara tegas itu mengintrupsi Sakura untuk diam. Tanpa mengatakan apapun, Sakura menuruti kemauan Sasuke. Dilihat dari gelagatnya, kemungkinan Sakura aka mendapat masal.

Namun..

Greeeppp...

Satu pelukan hangat dan erat itu langsung membungkus tubuh mungil Sakura. Mengabaikan perasaan terkejutnya karena Sasuke tiba-tiba saja memeluknya begitu erat. Sakura yang tak begitu mengerti dengan sikap Sasuke kali ini langsung membalas pelukan Sasuke sama eratnya.

"Ada apa?" tanya Sakura mencoba memecah keheningan. Sedikit memberi jarak agar ia bisa melihat wajah Sasuke.

"Kau darimana saja." gumam Sasuke parau. Rasa lelah dan khawatirnya seolah telah sirna ketika lengan kokohnya itu memeluk tubuh wanitanya erat.

"Sejak tadi aku dirimah," jawab Sakura. Yang membuat Sasuke menghela nafas lega.

"Kau hampir saja membunuhku."

"Kenapa? apa yang sedang terjadi?"

Sasuke tak lantas menjawab pertanyaan Sakura. Lelaki Uchiha itu lebih menatap wajah Sakura lekat-lekat. Memandang wajah manis wanitanya dengan intens. Setelah itu ia kembali memeluk tubuh Sakura erat. Tak memperdulikan rontaan yang Sakura berikan.

"Sasuke-kun, jawab pertanyaanku," rengeknya.

"Aku sungguh akan mati jika kau melakukan ini lagi."

Sasuke manangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Sakura. Memandang wajah itu lekat-lekat. Kemudian satu sapuan singkat ia daratkan pada bibir mungil Sakura. Yang sontak membuat Sakura merona malu.

"Jangan lakukan ini lagi," Sakura mengangguk. Ini pertama kalinya Sakura melihat Sasuke begitu berantakan.

Tapi mengenai penampilan Sasuke yang berantakan, sepertinya Sakura harus mengingat lebih dulu seperti apa ia sekarang.

"Sasuke-kun, lepaskan aku." gumam Sakura pelan yang langsung di sambut dengan kernyitan dahi Sasuke.

"Kenapa?"

Sakura diam sejenak. Kemudian ia menundukkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan rona merah pada pipinya.

"Aku hanya memakai handuk, Sasuke-kun. Aku malu." akunya. Membuat Sasuke menyeringai menatap penampilan Sakura saat ini.

"Terkadang aku lebih suka kau yang memakai handuk seperti ini." sontak saja Sakura langsung mendongak menatap Sasuke terkejut. Tak percaya jika Sasuke akan berkata seperti itu padanya.

"Berhentilah menggodaku, Tuan."

Sasuke tersenyum tipis kemudian membaringkan tubuh Sakura. Menghimpitnya dengan pelan dan menatap wajah itu sekali lagi. Tak lupa wajah semu merah dari Sakura membuat Sasuke semakin ingin menjahilinya.

"Apakah malam ini aku harus memasukimu. Kau sudah membuat seorang Uchiha hampir gila." Sakura melotot terkejut. Bayangan dirinya yang saat ini hanya memakai handuk diatas paha dan Sasuke yang tengah menghimpitnya membuat jantung Sakura berdetak tak beraturan. Apakah Sasuke akan melakukannya?

Sakura meneguk ludahnya gugup. Tak sanggup menatap obsidian di hadapannya itu terlalu lama, Sakura langsung memejamkan kedua matanya. Menghindari kontak mata Sasuke yang berkilat.

Ketika melihat reaksi yang Sakura berikan. Sasuke langsung melancarkan aksinya. Ia menyibak handuk bawah Sakura pelan. Menampilkan paha putih mulus milik wanitanya. Sakura yang mendapat serangan langsung dari Sasuke sontak menegang. Ia semakin memejamkan matanya seerat mungkin. Kemudian hawa panas dari arah lehernya membuat bulu kudu Sakura meremang.

Dan...

Cup.

Satu kissmark terlihat di leher jenjang Sakura.

Kemudian turun lagi sampai berbatasan dada Sakura yang tertutup handuk.

Setelah itu...

"Selesai."

Satu kalimat terakhir dari Sasuke barusan membuat mata Sakura terbuka lebar. Ia menatap Sasuke yang sudah berdiri memandanginya yang masih terpaku. Berbaring lemas dengan deru nafas tersengal.

"K-kau!"

Dan senyum Sasuke langsung mengembang saat kejahilannya berjalan dengan sempurna. Membuat Sakura langsung bangkit dari posisinya dan melempari Sasuke dengan bantal atau apapun yang terjangkau darinya.

"Malam ini cukup itu saja."

Seperti seorang manusia yang paling bodoh sedunia, Sakura langsung memahami jika Sasuke baru saja mengerjainya. Dan sialnya ia nyaris terhanyut oleh permainan Sasuke saat itu juga.

"Sasuke-kun menyebalkan!"

Teriak Sakura kencang. Sedangkan Sasuke yang sudah keluar dari kamar Sakura langsung tersenyum puas. Meski dalam hati ia juga ingin melakukan keinginannya itu, namun sebisa mungkin Sasuke menahannya. Ia sudah berjanji pada Sakura untuk tidak melakukannya. Dan meski iblis dari dalam hatinya mencoba untuk menghasutnya, namun sekali lagi loginya harus bertahan. Ia tak mungkin mengabaikan permintaan Sakura begitu saja.

Dan disinilah ia. Sasuke berada di kamar mandi dengan air dingin membasahi tubuhnya. Berharap dengan begitu rasa panas yang sempat menjalar di tubuhnya bisa mengikis.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yeeeeeiii... aku kembali lagi. Ada yang merindukanku atau Fict ini? Hayoooooo, ngaku. :-P. Ok? aku nggak akan banyak bicara kenapa updatenya siput banget. Tapi aku sudah berusaha untuk mencari Feel agar ceritanya menarik untuk kalian baca. Apakah kalian kesal padaku? Maaf ya, bukan maksudnya begitu kok.

Shiipp... nggak perlu basa basi lagi. Intinya, saat ini aku sudah publish kan? Semoga kalian suka.

Yoshh... terima kasih untuk kalian semua yang sudah berbaik hati untuk memberiku saran. Terima kasih juga karena sudah membaca Fictku ini.

Dan karena kuotaku tinggal seuprit, maaf ya, aku nggak bisa balas komentar kalian semua.

.

Satu lagi yang kelupaan. Sebenarnya aku punya satu Fict yang sudah THE END. Ini hasil Re-make. Jika kalian ingin aku mempublishnya, katakan saja padaku. Tapi aku nggan janji Fict ku yang lainnya akan update cepat. Sedikit bocoran, Fict RE-make ini Rated-M. Hehehehe

.

Hahahaha... See you.

.

.

.

Lamongan- 31,05,2015 -Jawa timur.

Salam Sayang: Chizuru Mey.