Disclaimer ; Naruto milik Masashi Kishimoto dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated ; T

Pair ; Uchiha Sasuke - Haruno Sakura.

Warning! OOC, AU, Typo(s) bertebaran dan Eyd tak sesuai.

.

.

.

Don't like Don't read.

Happy fine guys!

.

.

Hujan lebat kali ini membuat seorang pemuda tampak diam di depan jendela kamarnya. Menyibakkan sebelah gorden birunya dan onyx matanya menatap lurus ke luar sana. Rintikan air jernih yang turun dari langit seolah memberi kerinduan akan sesuatu. Kerinduan yang entah sejak kapan tiba-tiba menghampirinya. Seperti De Javu, itulah hal yang terpikirkan olehnya. Sambil menarik nafas panjang, Sasuke langsung menutup gorden itu dan melangkah ke kasur king size miliknya. Merebahkan tubuhnya kemudian menjadikan ke dua lengannya sebagai bantal. Langit-langit kamarnya yang di cat warna putih menjadi fokus pengelihatannya sekarang. Di pikirannya ada begitu banyak hal rumit yang sebenarnya sangat mudah di pecahkannya. Namun sekali lagi ia mencerna, mungkin satu di antara masalahnya tersebut memiliki penyelesaian yang cukup rumit.

Jika mengingat kembali bagaimana hubungan Sakura dengan Karin beberapa waktu yang lalu, ada sedikit perasaan takut yang tiba-tiba menyelimuti. Takut akan apa yang di lakukan Karin pada Sakura atau takut dengan tindakan Karin untuk Sakura. Sasuke tidak pernah seresah ini sebelumnya. Kemunculan Gaara bahkan tidak membuatnya kelimpungan seperti ini. Dan ini untuk pertama kali dalam hidupnya Sasuke merasakannya.

Lalu apa yang seharusnya ia lakukan?

Menikahi Sakura secepatnya?

Sasuke mengeleng pelan. Itu bukan solusi yang bisa membuat masalahnya kian membaik. Tapi dengan cara bagaimana lagi?

Hampir setiap waktu Sasuke selalu memikirkan ini. Dan hampir setiap detik pula Sasuke merasa was-was akan kedekatan Sakura terhadap Karin.

Meski Sasuke tahu bagaimana Karin akan menghancurkan hidupnya denga cara apapun, tapi lelaki Uchiha itu tak akan pernah bisa melepaskan lengan mungil itu dari hidupnya.

Tidak akan!

Beberapa menit berlalu dengan pemikiran itu, dan beberapa menitpun waktu terbuang sia-sia. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit, bukankah seharusnya ia segera beranjak berdiri dan berjalan keluar untuk menikmati makan malamnya?

Namun sebelum itu terjadi, suara ketukan dari luar kamarnya membuat Sasuke mengernyit. Kemudian dikejutkan dengan suara pintu terbuka dengan menampilkan sesosok tubuh mungil dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya.

"Bibi bilang kau agak aneh malam ini. Jadi kuputuskan untuk datang." gadis bersurai pink itu berjalan mendekati Sasuke. Membuat jarak yang cukup pendek untuk menatap wajah kekasihnya yang terlihat terkejut akan kedatangannya. "Apa kau tidak senang aku datang?"

Sasuke tersenyum tipis dan kemudian menarik tubuh itu dalam dekapan posesifnya. Mengabaikan jeritan terkejut yang lolos dari bibir mungil Sakura.

"Jadi, apa yang terjadi padamu?" pertanyaan itu membuat Sasuke merenggangkan pelukannya dan kemudian menatap wajah dihadapannya penuh sayang. Tak dapat di tampik lagi sekarang bagaimana ia sangat mencintai gadis di hadapannya saat ini. Dalam hidupnya yang dulu, Sasuke tak pernah sekalipun menunjukkan sikap seperti ini pada yang lainnya. Ini untuk pertama kalinya ia melepaskan egonya untuk Sakura. Hanya untuk gadis dalam pelukannya sekarang.

"Tidak ada. Hanya terlalu pusing memikirkan pekerjaan di perusahaan." kilahnya. Sakura tersenyum maklum menanggapi. Tak mau bertanya apa-apa lagi. Karena ia tahu, Sasuke sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

"Baiklah. Ayo kita turun. Paman dan Bibi sudah menunggu."

Sasuke mengangguk. Namun sebelum ia ikut melangkah, Sasuke mencekal lengan Sakura hingga membuat gadis itu mengernyit binggung.

"Ada apalagi?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya tak mengerti.

"Seharian ini aku belum menciummu," detik itu juga Sakura melongo. Tak percaya dengan perkataan Sasuke barusan.

"Kau akan mendapatkannya setelah makan malam selesai," ucapan Sakura membuat dahi Sasuke bertaut. Sepertinya lelaki itu sedikit keberatan dengan usul yang Sakura berikan padanya. "Ayo!"

Tapi sebelum tangan Sakura memegang kenop pintu, tubuhnya lebih dulu tertarik menghadap kearah Sasuke dan di detik berikutnya, bibir mungilnya sudah di lahap dengan satu ciuman dalam yang Sasuke berikan untuknya. Sontak membuat ke dua mata Sakura melotot dengan aksi cepat dari kekasihnya. Dan daripada ia memberontak atau mencoba melepaskan pagutan yang Sasuke berikan, Sakura lebih memilih menerima ciuman Sasuke dan ikut membalasnya dengan cepat.

Setibanya di ruang makan, Sasuke dan Sakura segera menduduki tempatnya masing-masing. Menatap Mikoto sambil tersenyum tipis sebelum menyantap makan malam yang menggugah selera tersebut.

Setelah selesai, Mikoto menatap Sakura dengan tatapan heran. Wanita setengah baya itu menatap permukaan wajah gadis itu dengan dahi mengernyit. Apakah ada yang salah? Begitu pikirnya.

Namun setelah menelisik seluruh wajah Sakura dalam diam, ia segera tahu bagian mana dari wajah manis itu yang terlihat berbeda.

"Apa kau habis jatuh? Kenapa bibir bawahmu seperti itu." pertanyaan yang luar biasa menyita perhatian. Sakura yang mendengar pertanyaan itu hanya termenung sesaat. Sepertinya gadis itu malu untuk mengakui hal yang sebenarnya.

"Mungki di gigit serangga." jawaban konyol. Sakura merutuki jawabannya dengan kekehan kecil.

Sedangkan Sasuke langsung menyeringai dengan jawaban yang Sakura berikan.

"Serangga berwajah tampan." timpal Sasuke. Membuat Sakura melirik tajam kearahnya. "Bukankah aku benar, sayang?"

Sakura tak menyahutinya. Gadis itu lebih memilih untuk meneguk minumannya dan segera pindah duduk ke tempat Fugaku yang saat ini sudah menikmati membaca beberapa buku di ruang keluarga. Namun pemikarannya itu sepertinya tidak akan berjalan dengan lancar. Karena untuk beberapa saat kemudian Sasuke sudah lebih dulu memberinya pertanyaan.

"Kurasa serangga itu pintar sekali. Sampai-sampai bibirmu membengkak indah seperti itu," ucapan Sasuke terdengar seperti lelaki yang senang membual. Membuat Sakura bergidik ngeri saat mendengar setiap kalimat yang Sasuke lontarkan.

Sebaliknya dengan Mikoto. Wanita itu sepertinya mengerti akan penjelasan yang sengaja putranya itu lakukan. Membuat suasana ceria memang bukan anadalan Sasuke, tapi sejak kehadiran Sakura dalam rumah Uchiha, suasana yang selalu kaku di ruang makan jadi lebih hangat dan menyenangkan.

"Apakah serangga itu menggigitmu, Sakura. Seharusnya kau memukulnya agar dia pergi," Sakura menoleh cepat. Mengerti akan apa yang Mikoto lakukan, membuat Sakura menyeringai dan ikut andil dalam permainan ini.

"Bibi benar. Seharuanya aku memukul kepalanya. Aku bisa malu kalau mendapat gigitan seperti itu setiap hari. Kurasa aku harus selalu memakai masker untuk serangga gila itu."

Dan dengusan keras itu pun keluar dari mulut Sasuke. Membuat Mikoto dan Sakura terkikik geli dengan ekspresi Sasuke yang sedang merajuk seperti anak kecil.

Setelah selesai makan malam, kini keluarga itu duduk di ruang keluarga. Dengan Sasuke yang tidur di pangkuan Sakura sebagai alas bantal untuk kepalanya. Mengabaikan tatapan tak percaya dari Mikoto akan tindakan anaknya itu. Untuk pertama kalinya, Sasuke bersikap manja seperti ini. Ditambah ia tak segan-segan memperlihatkannya di depannya. Membuat Fugaku yang sedang membaca harus mau tak mau ikut melirik lewat ekor matanya. Kemudian tanpa di sadarinya senyum tipis menghiasi wajah paru bayanya itu.

"Apa kau akan menginap?" Suara Sasuke memecah keheningan. Membuat Sakura menunduk menatapnya.

"Entahlah. Tapi sebaiknya aku pulang." ucapan Sakura membuat Sasuke mendengus. Menatap emerald bening di hadapannya dengan delikan tajam. "kenapa menatapku seperti itu?"

Sasuke tak menyahutinya. Lelaki itu malah memalingkan wajahnya menghadap ke perut rata Sakura. Menempelkan wajahnya kesana dan melilit pinggang Sakura erat. Membuat gadis merah muda itu terjingkat terkejut dengan tindakan Sasuke. Mikoto yang melihat interaksi mereka tersenyum maklum. Pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dan entah karena apa, anaknya yang terkenal dingin dan kaku seperti suaminya itu jadi bersikap lebih hangat dan penuh kasih.

"Dasar!" gerutu Sakura. Namun tangannya menyusuri surai rambut Sasuke. Membelainya pelan membuat lelaki yang tidur di pangkuanya tersebut terbuaih dengan tindakan kekasihnya itu.

.

.

Sasuke melempar kertas-kertas di atas mejanya itu dengan kesal. Rahangnya mengeras dan sebisa mungkin ia mencoba meredam emoinya. Pagi ini, ia tanpa sengaja melihat tabloid yang di dalamnya tertera wajah Sakura. Kekasihnya. Dengan mata mendelik tajam, Sasuke langsung menggenggam tabliot itu dengan erat. Membuat buku-buku kukunya memutih karena penampilan Sakura disana. Sebuah pakaian yang sungguh luar biasa membuat Sasuke meradang. Untuk kesekian kalinya, Sasuke sudah beberapa kali mengatakan jika gadisnya itu tidak di perbolehkan mengenakan pakaian semenim itu. Apapun alasannya, itu sudah ketentuan yang Sasuke terapkan untuk gadis merah muda tersebut.

Lalu sekarang apa yang di lihatnya?

Gadis itu dengan senyum manisnya bergaya sexy dengan baju musim panas yang cukup membuat para lelaki meneteskan air liur. Bagian tubuhnya yang seharusnya tak di perlihatkan kini terekspos nyata. Membuat Uchiha ini kembali merasakan emosi yang meletub-letub.

"Brengsek!"

Sasuke memaki. Mengepalkan tangannya kuat-kuat dan kemudian melempar tabloit itu ke tempat seharusnya.

Setelah ia bisa menguasai emosinya, dengan segera ia mengirim pesan untuk Sakura. Berharap agar gadisnya itu menuruti perkataannya. Suka atau tidak! Yang pasti, kali ini Sakura harus menurutinya. Tak perduli bagaimana dengan reaksi yang akan di perlihatkannya nanti.

"Kakashi, cancel semua jadwal meetingku. Aku ada urusan."

Satu perintah tegas itu membuat Kakashi mengerut. Tak mengerti kenapa bosnya itu tiba-tiba mengubah jadwal yang seharusnya akan di jalani hari ini.

"Baik," lelaki bermasker itu mengangguk tak membantah. Setelah itu ia mengatur kembali jadwal kegiatan Sasuke.

.

.

Kesalahan. Itulah yang Sakura rasakan saat ini. Masalah yang ia terima kali ini mungkin tak bisa di tolerir lagi. Bagaimana mungki ia bisa mencari alasan kalau Sasuke sudah memberinya peringatan lewat pesan singkat beberapa menit yang lalu.

"Berhenti sekarang juga atau kau menyesal!"

Sakura meneguk salivanya dengan gugup. Membaca isi pesan yang Sasuke berikan membuat bulu kudunya merinding sekaligus cemas. Dengan cepat ia segera berganti pakaian dan bergegas menemui Gaara untuk membahas perihal ini.

Setelah sampai di ruangan Gaara, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu karena terserang panik, Sakura langsung memasuki ruangan Gaara. Membuat lelaki bersurai merah itu mengernyit menatap Sakura heran.

"Ada apa?" tanyanya. Menatap emerald di depannya yang terlihat begitu cemas karena sesuatu.

Sakura berjalan cepat mendekati Gaara dan langsung menghempaskan diri di sofa biru tersebut. Sebelum suara itu keluar, Sakura terlebih dulu menarik nafas panjang. "Aku kena masalah," kicaunya. Membuat Gaara yang menatapnya masih tidak mengerti dengan perkataan Sakura. Lelaki itu hanya mengangat bahu sebagai tanda tak mengerti.

"Sasuke-kun. Dia.." Suara Sakura terputus saat dering teleponnya berbunyi.

"Angkat ponselmu lebih dulu," intrupsi Gaara. Sakura mengangguk dan mengangkat telpon tersebut dengan menggigit bibir bawahnya.

"Dari Sasuke-kun," gumamnya.

Gaara menatap Sakura heran. Karena tak biasanya gadis itu berperilaku seperti ini.

"Ya, ada apa Sasuke-kun?. T-tidak. Aku janji ini yang terakhir. T-tapi aku masih memiliki kontrak. Kumohon, aku masih..."

Tuuttt... Tuuttt... Tuuttt...

Pangilan berakhir. Sakura mematung di tempat tak bergerak. Bentakan yang Sasuke berikan membuat hatinya mencelos sekaligus takut. Kali ini Sasuke benar-benar marah dan Sakura tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi kemarahan Sasuke.

"Ada apa?" Gaara menatap pergerakan Sakura dengan alis terangkat heran.

"Sasuke-kun menyuruhku berhenti jadi Model." tutur Sakura pelan. Yang langsung membuat Gaara terkejut dengan pernyataan dari rekan kerjanya itu.

"Alasannya?"

Sakura menimang-nimang jawaban yang akan ia katakan. Namun sebelum kalimat itu meluncur, suara ketukan pintu dari ruangan Gaara membuat gadis Haruno itu mengurungkan niatnya.

"Masuk!"

Karin memincingkan sebelah alisnya saat mendapati Sakura berada di ruangan Gaara. Dengan langkah pelan, gadis Senju itu duduk di samping Sakura.

"Kenapa kau kemari,"

Karin tak menyahut. Gadis itu lebih memilih menatap Sakura dengan sorot mata menerawang. Menghayati kenapa gadis yang selalu ceria itu tiba-tiba saja murung.

"Tidak ada," jawabnya. "Lalu kenapa Sakura ada disini juga?" Gaara memperhatikan wajah Sakura dengan seksama. Kemudian menghembuskan nafas panjang.

"Dia akan berhenti." ujarnya sambil memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut pening.

"Kenapa?"

Sakura menatap Karin dengan genangan air mata di kelopak matanya. Gadis itu tersenyum namun terlihat jelas jika senyum itu dipaksa.

"Benar, kau akan berhenti?" Sakura mengangguk pelan sebagai jawaban. Kemudian ia menerima telepon dan setelah itu bergegas bangkit dari tempat duduknya.

"Aku pergi. Sasuke-kun menjemputku." gumamnya parau. Sebelum pergi, Sakura terlebih dulu membungkuk memberi salam.

"Alasan kenapa ia keluar apa kau mengetahuinya, Gaara?" tanya Karin setelah Sakura meninggalkan ruangan. Gaara kembali menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi kebanggannya. Lelaki bersurai merah itu mengangguk sekilas sebagai jawaban. Membuat Karin langsung mengernyit tak percaya. Karena ia tahu, bahwa Sakura begitu menyukai pekerjaannya.

"Dan kau membiarkannya begitu saja?"

.

.

Suasana di dalam mobil metalic milik Uchiha Sasuke terasa canggung dan panas. Meski Ac dalam mobil itu sudah menyala, namun tak berguna sama sekali. Sesekali Sakura melirik kearah Sasuke yang sedang mengemudi dengan sorot mata tajam. Membuat Sakura harus menelan salivanya susah payah. Mengingat bagaimana tabiat Sasuke yang marah, mungkin saja saat ini dirinya akan mendapat pelajaran yang setimpal untuk kesalahannya tempo hari.

Menarik nafas dalam-dalam dan memupuk keberanian, Sakura mencoba memecah keheningan dengan sedikit mengajak Sasuke bicara.

"Sasuke-kun?" suara itu terdengar pelan. Namun masih bisa tertangkap oleh pendengaran Sasuke. Tapi meski Sasuke mendengarnya, lelaki itu masih fokus pada mengemudinya dan mengacuhkan panggilan Sakura.

"Maafkan aku." lirihnya sesal.

Sasuke melirik gadis di sampingnya sambil mendengus. Semudah itukah?

Menggeleng, Sasuke semakin mempercepat laju mobilnya. Membuat Sakura sedikit terkejut dengan aksi Sasuke kali ini.

Hampir tiga puluh menit perjalanan berlangsung, namun sampai saat ini juga tak ada yang bersuara. Kedua insan itu larut dalam pikiranya sendiri. Membiarkan suara musik mendominasi pendengaran mereka. Sakura yang tak suka dengan keheningan dan sikap diam Sasuke membuat gadis itu menundukkan wajahnya. Detik kemudian, setetes liquid bening menetes jatuh di telapak tangannya. Membuat Sasuke yang tanpa sengaja melihat Sakura menangis kembali menghela nafas panjang.

Kemudian mobil itu berhenti. Rumah yang Sakura kenali membuatnya lega. Setidaknya, akan ada yang membelanya kalau kalau Sasuke memarahinya atau bahkan mungkin lebih dari itu.

"Turun," suara khas itu menuntut Sakura untuk menurutinya. Meski dalam keadaan marah, Sasuke tetap membukakan pintu untuk Sakura dan menarik lengan itu untuk berjalan di sampingnya. Tanpa menoleh, Sasuke terus berjalan tak menghiraukan Sakura yang sedang memandangnya dalam diam.

Kediaman rumah Uchiha tampak seperti biasanya. Hal yang paling membuat Sakura sedikit merasa lega mengingat bagaimana emosi Sasuke saat ini. Tarikan keras dari pergelangan tangannya membuat Sakura sedikit meringis kesakitan. Tak perduli dengan sikap Sasuke yang terus mendiaminya, gadis itu tetap melangkahkan kaki mungilnya, menyeretnya agar sepadan dengan langkah Sasuke.

Beberapa detik kemudian Sasuke berhenti. Membuat Sakura terkejut dan menubruk punggung tegap di hadapannya. Tak peduli akan rintihan dari kekasih merah mudanya itu, Sasuke langsung menghempaskan tangan Sakura. Lalu berbalik menghadap gadisnya yang tengah meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.

"Sasuke-kun?" dengan suara pelan Sakura memanggil nama itu. Masih dengan mengusap-usap pergelangan tangannya yang sedikit memerah, gadis itu menatap lelaki di depannya dengan wajah memohon.

Kediaman Sasuke semakin membuat Sakura merasa sesak. Hatinya tersayat dan entah kenapa tatapN dingin yang di tujukan untuknya itu membuat ulu hatinya sakit.

"Kenapa, kenapa menatapku seperti itu?" lirih Sakura. Menundukkan wajahnya, berupaya menyenbunyikan luka di wajah ayunya tersebut. "Sasuke-kun?"

Sasuke tetap pada posisinya. Menatap gadis di depannya dalam diam. Onyx matanya tak lepas sedikitpun dari jangkauan pandangannya pada Sakura. Apa yang dilakukannya memiliki alasan, dan alasan itu menyangkut kekasihnya.

"Apakah sering?" satu kalimat tanya itu membuat Sakura mendongak seketika. Pandanganya langsung tertuju pada mata kelam di hadapannya. "Katakan padaku,"

"T-Tidak," cicitnya pelan. Membuat Sasuke mengernyit. Tak begitu suka dengan jawaban Sakura.

"Katakan padaku."

Sakura menunudukkan kembali kepalanya. Kali ini buliran air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Suara dengan nada dingin dan terkesan acuh itu menohok hatinya. Bagaimana mungkin Sasuke bisa setega ini padanya.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi," suara tarikan nafas panjang Sasuke semakin menyurut keberanian Sakura. Gadis itu berjalan mundur sedikit demi sedikit. Tak ingin menatap wajah yang kini memandangnya dengan ekspresi dingin dan berdana acuh seperti itu.

"Kesini," Sakura menggelengkan kepalanya. Menolak uluran tangan Sasuke untuk kembali mendekat padanya. "Sakura?"

Sakura menghentikan langkahnya. Masih meneteskan butiran air mata, ia masih berdiri tegak tak bergerak untuk meraih tangan itu untuk kembali mendekat.

"Aku tidak akan melakukannya lagi," kalimat itu kembali ia lontarkan. Berharap Sasuke mempercayainya dan kembali mencintainya. Tidak lagi menatapnya dan berkata seperti itu padanya.

"Kubilang kemari," tegas Sasuke kembali mengintrupsi. Membuat Sakura bersitegang dengan kalimat tegas penuh perintah itu dari Sasuke.

Tanpa memikirkannya lagi, Sakura langsung melangkah pelan. Mengambil uluran tangan Sasuke dengan emerald berkaca-kaca.

Setelah tangan itu bertaut, Sasuke langsung menariknya kuat. Membuat Sakura terkejut akan tindakan yang Sasuke lakukan. Kemudian dua lengan kokoh itu merengkuhnya dalam keposesifan milik Sasuke. Mengabaikan rontahan Sakura yang menggeliat pelan dalam pelukannya.

"Sasuke-kun."

"Diamlah." pelukan itu membuat Sakura merasa lega. Lengan yang sesalu memeluknya erat itu akhirnya kembali padanya.

"Maafkan aku,"

Sasuke tak menyahuti. Lelaki Uchiha itu masih memeluk tubuh mungil itu dalam dekapannya. Tak membiarkan satu celah pun lolos dari rengukahannya. Setelah itu Sasuke merenggangkan pelukannya dan menatap wajah di depannya dengan mata bersalah. Membuat Sakura menangis seperti ini tidak ada dalam daftar hidupnya.

"Jangan melakukan itu lagi," Sakura mengangguk cepat sebagai jawaban, "Aku benar-benar marah kali ini. Dan aku sungguh-sungguh menyuruhmu berhenti dari perkerjaan sialan itu."

"T-Tapi Sasuke-kun, aku..."

"Aku tidak menerima penolakan." Sahut Sasuke cepat. Yang di tanggapi dengan kebisuan Sakura yang tak lagi berkata apapun. "Mengerti?"

Sakura kembali memeluk tubuh bidang itu erat. Tak menjawab atau mengangguk. Karena tanpa siapapun sadari, kebisuan Sakura sudah menjawab segalanya.

"Aku mencintaimu. Dan aku tidak suka dengan tindakanmu kali ini," kemudian satu ciuman singkat Sasuke darat pada kening Sakura. Menimbulkan perasaan hangat yang tiba-tiba kembali bersemi pada dada gadis musim semi tersebut.

"Aku juga mencintaimu."

.

.

TBC

.

.

Yeeeee... setelah kemarin Update Living Together, akhirnya... akhirnya bisa update I Need You juga. #taburBunga. Hehehehehe...

Adakah diantara kalian yang masih mengingat cerita ini? Atau apakah kalian masih setia menunggu Fict ini untuk di Update? #diGampar. Ahhh.. sudah berapa lama aku menelantarkan Fict ini? Kayaknya lama pake bangat ya. Maaaaapppiiiiiinnnn...

Hmmm... untuk chp ini aku nggak tau mesti ngomong apalagi. Pokoknya, tiba-tiba saja ngetik cerita ini begitu saja. Dan tau ngggaaaaakkkk... Ngetik lewat HP itu rasanya luar biasa pegaaaallll. Berkali-kali cari posisi enak untuk ini. Dan untuk siapakah iniii? Tentu saja untuk kaliaaaaaaannnn. XD.

Yuppp... nggak mau bnyak omong dan alasan lagi, pokoknya chp ini di luar prediksi. Jadi, kalau terkesan aneh atau alurnya jadi kacau, di maklumi saja ya. Shiippp... aku tunggu kritik dan sarannya untuk chp depan.

.

.

Dan ini nama-nama kalian yang ninggalin jejak di cph kemarin

...

Lady Bloodie

Anka-Chan

KaiHunMoi

hanazono yuri

suket alang alang

dianarndraha

sofi asat

nathalie ichino

Nina317Elf

wowwow geegee

The Deathstalker

isa alby

sgiariza

winter chery

Guest

me

Miss A

misakiken

Fans Sasuke Uchiha

haruchan

Guest

ril chan

miki U

...

See you!

.

.

Lamongan, 11-07-2014, Jawa timur.

Salam sayang: Chizuru Mey