Disclaimer; Naruto milik Masashi Kishimoto dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated; T

Pair; Uchiha Sasuke - Haruno Sakura.

Warning! AU, OOC, Typo(s) dan Eyd tak beraturan.

Don't like Don't read.

Happy reading guysssss!

.

.

Jadi, apa yang harus Haruno Sakura lakukan setelah ia hangout dari perusahaan Gaara? Gadis yang memiliki surai merah muda itu tampak menghela nafas beberapa kali. Di jam segini, biasanya ia sudah berangkat kerja dan menemui rekan-rekannya. Lalu sekarang apa? Ia masih berbaring santai di kamarnya. Bosan dengan kegiatan yang berlalu selama beberapa hari berturut-turut.

"Membosankaaannn!" pekiknya. Merasa hidupnya benar-benar monoton.

Sudah berkali-kali Sakura meminta Sasuke untuk mengijinkannya kembali untuk bekerja, namun apa yang di dapatkannya. Lelaki itu hanya menatapnya tajam dan langsung pergi meninggalkannya saat ia kembali membahas hal yang sama setiap ada kesempatan. Merasa percuma dengan apa yang di lakukan, akhirnya Sakura menuruti kemauan Sasuke. Kesalahannya memang terletak padanya. Siapa suruh dia mengenakan pakaian musim panas seminim itu. Padahal Sasuke sudah dari awal memperingatkannya. Ohh... dia memang selalu seperti ini kan. Bukan Sakura namanya kalau tidak membangkang. Tapi kali ini dia menerima ganjarannya untuk bangkangannya itu. Dan berakhir dengan pengangguran. Tanpa bekerja.

Lalu mengenai kontrak yang sudah terlanjur di tanda tanganinya, Sakura harus membayar denda yang cukup membuatnya tercengang. Namun tentu saja, semua biaya pengeluaran itu di tanggung Sasuke sepenuhnya.

Kenapa?

Karena Sasuke adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab akan ini.

Sambil menarik nafas panjang, Sakura segera berajak dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan setelah itu ia akan pergi ke kantor Sasuke. Sepertinya ini akan menjadi kebiasaannya mulai sekarang. Mengingat ia tak memiliki kegiatan apapun untuk dikerjakannya. Apalagi Sasuke selalu menyambutnya dengan satu pelukan hangat dan kecupan ringan saat ia datang berkunjung. Tapi tetap saja, melihat Sasuke yang lebih memfokuskan matanya pada kertas-kertas menyebalkan itu daripada dirinya membuat Sakura mencibir dan merajuk kesal.

Mengingat hal tersebut membuat Sakura menarik nafas panjang dan kembali melukan aktifitas mandinya yang sempat tertunda.

Setelah selesai melakukan acara mandinya, Sakura langsung berganti pakaian. Celana jeans dan kaos oblong berwarna hijau toska menjadi kegemarannya sekarang. Meski saat pertama kali ia memasuki perusahaan Sasuke dengan pakaian yang sama dan hampir di usir oleh resepsionis disana, namun dengan cepat Sakura mengabari Sasuke jika dirinya dilarang masuk ke dalam hanya karena pakaiannya yang lagi-lagi terkesan kurang memadai. Namun sekarang hal itu sudah tak berlaku lagi padanya. Toh hampir semua pegawai perusahaan Uchiha Corp mengetahui siapa dirinya dan apa hubungannya dengan atasannya tersebut. Setelah selesai mempoles wajahnya dengan make-up senatural mungkin dengan waktu yang cukup cepat, gadis itu langsung menyambar kunci mobilnya dan segera menuju dimana Sasuke berada.

...

...

Kendaraan beroda empat itu akhirnya terparkir indah disana. Setelah hampir satu jam perjalanan, kini gadis yang memiliki surai merah muda tersebut melangkahkan kaki jenjangnya untuk masuk ke dalam. Tanpa mengonfirmasikan dulu pada resepsionis yang sudah menatapnya, Sakura langsung berjalan dengan mengulum senyum menatap kembali resepsionis yang ia kenal sebagai gadis bernama Yui itu. Hampir sebagian karyawan di Uchiha Corp mengetahui siapa diriya. Seorang gadis yang berhasil menundukkan sifat kejam Sasuke ketika sedang bekerja.

Ketika Sakura datang, semua karyawan pasti tersenyum lega. Lega karena mereka tak harus mendengar bentakan dari atasannya. Tidak heran, jika Sakura selalu dijuluki sebagai malaikat penolong mereka saat sang iblish mulai menatapnya dengan sorotan tajam mengintimidasi.

"Selamat siang, nona." salah satu karyawan menyapa Sakura dengan senyum mengembang. Membuat pemilik manik emerald itu ikut tersenyum membalas sambutan yang ditujukannya.

Masih dengan melangkah pelan, kini Sakura sudah berada di depan pintu ruangan Sasuke. Membuat gadis itu menarik nafas panjang sebelum membuka pintu di depannya tanpa terketuk lebih dulu.

"Sasuke-kun."

Lelaki tampan yang sedang duduk di kursi kebanggannya itu langsung menoleh kearah suara yang dikenalnya. Menghentikan setiap pergerakan jarinya di atas kertas, Sasuke langsung beranjak menghampiri Sakura yang tersenyum hangat menatapnya.

"Akhirnya datang juga," dengan pelukan hangat Sasuke merengkuh tubuh mungil itu dalam rangkulannya. Kemudian beralih mencium bibir pink itu dalam satu ciuman panjang.

"Tentu saja. Aku bosan dirumah terus," celoteh Sakura. Yang masih mengalungkan tangannya pada leher Sasuke.

"Kenapa tidak berjalan-jalan dengan teman-temanmu,"

"Semua bekerja! Dan lihat aku sekarang. Lagipula..." Sakura menggantungkan kaliamatnya dan menatap Sasuke sebelum kembali melanjutkannya, "Apa aku diperbolehkan pergi dengan Karin saat ia selesai bekerja?" tatapan yang Sakura berikan membuat Sasuke mengernyit. Ia kembali di hadapkan pada sosok Karin dalam kehidupannya. Membuat lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.

"Apa tidak ada teman wanita lain selain dia?"

Sakura mengernyitkan keningnya berpikir. "Ada."

"Siapa?"

"Ino. Yamanaka Ino." jawab Sakura, "tapi dia sedang di luar negeri." gumamnya pelan.

Sasuke menghela nafas. Menatap kekasihnya yang terlihat tak bersemangat ketika ia sedang berceloteh tentang teman wanitanya.

"Baiklah. Sekarang duduklah. Aku harus memeriksa beberapa dokumen sebelum jam makan siang datang," Sasuke melepaskan ragkulan Sakura dan mengajaknya duduk di sofa biru empuk disana. Mengabaikan cibiran Sakura yang selalu menomor duakan dirinya.

"Akan segera kuselesaikan,"

Dengan anggukan pelan, Sakura menyetujuinya. Namun gadis itu yakin, kata segera yang Sasuke katakan tidak sesegera seperti yang dia pikirkan.

.

.

Karin mengawali pagi harinya dengan alis tertekuk. Hari ini entah kenapa suasana hatinya benar-benar buruk. Hampir semua kru ia bentak tanpa alasan yang jelas. Sejak kepergian Sakura untuk tidak kembali bekerja, Karin merasakan sesuatu yang berbeda. Tapi gadis bersurai merah itu sepertinya tidak terlalu mengerti kenapa. Dan karena apa.

Karena tidak biasanya ia bersikap seperti ini. Ia yang biasanya tenang dalam mengambil tindakan kini seolah-olah sedang dirundu kemarahan yang teramat. Mengabaikan apa yang sebenarnya ia lakukan, akhirnya ia memutuskan istirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya. Sudah sejak dari dulu ia membuang jauh-jauh sikapnya yang seperti ini setelah kematian adiknya. Hingga sekarang, ia tak menyangka jika akan kembali memiliki emosi tanpa mendasar seperti ini.

Karin mendesah dan menarik nafas panjang. Menopang dagu adalah kegemarannya saat ini. Baru sehari, dan entah kenapa ia sudah merindukan Sakura. Gadis yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang adiknya itu. Mengingat itu, membuat Karin merasakan kerinduan yang tiba-tiba kembali menyergap. Tak tahu rindu pada Sakura yang mana. Karena sejujurnya, Karin begitu merindukan celoteh dan sifat jahil dari Haruno Sakura. Rekan kerjanya yang hampir beberapa minggu yang lalu selalu tertangkap mata oleh manik ruby-nya.

Setelah menyelesaikan kerjanya. Karin langsung memakai pakaiannya dan pergi meninggalkan ruang pemotretan tersebut tanpa pamitan. Ia sudah tak bisa lagi berpikir jernih. Kepergian Sakura dari dunia modelling sedikit membuat wanita Senju tersebut terheran-heran. Bagaimana mungkin Sakura bisa menerima itu dengan mudah. Sama mudahnya seperti membalik telapak tangan. Jangankan dirinya, bahkan Gaara dibuat terheran-heran dengan tingkah Sakura yang mencengangkan. Hanya karena bentakan dari lelaki yang bernama Uchiha Sasuke, Sakura seperti seekor anjing manis yang langsung mematuhi perintah sang majikan.

Karin menggeram frustasi. Merasa kesal dan marah dalam waktu bersamaan. Ia harus segera menemui Sakura. Memastikan sendiri bagaimana gadis periang sekarang.

Dengan cepat Karin menekan nomor ponsel Sakura.

"Kau dimana, Sakura? Baiklah, bisa kita bertemu di kafe biasanya? Ok, setengah jam lagi."

Dan satu panggilan singkat itu mengakhiri percakapan mereka.

.

.

Sakura kembali mendengus tertahan saat Sasuke sama sekali tak meliriknya sama sekali. Gadis Haruno itu memberengutkan diri dan mendengus kasar. Membuat lelaki Uchiha itu harus menoleh saat indra pendengaranya itu menangkap gerutuan yang keluar dari bibir ranum kesayangannya itu.

"Ada apa?" Sasuke menautkan alisnya. Menatap gadis kesayangannya itu yang kini mendelik menatapnya tajam. "Sakura?"

Sakura memalingkan wajahnya sambil mendengus. Mengabaikan pertanyaan Sasuke. Berharap rajukannya ini bisa dimengertinya.

Sasuke yang tak begitu mengerti kenapa gadisnya itu bersikap seperti itu hanya mengangkat bahu acuh. Namun setelahnya ia menarik setiap sudut bibirnya dan beranjak dari duduknya, meninggalkan serentetan kertas-kertas yang ia yakini adalah biangnya sikap Sakura yang sedikit kekanakan.

"Kenapa lagi?" tanyanya. Kini Sasuke sudah duduk di samping Sakura. Dengan Sakura yang memberi punggungnya untuk Sasuke konsumsi sebagai pengelihatannya. "Marah?"

Sakura tak menyahutinya sama sekali. Gadis itu lebih terang-terangan menunjukan kekesalannya.

Melihat Sakura yang tidak merespon ucapannya membuat Sasuke kembali mengernyit. Namun di detik kemudian, lengan kokohnya itu sudah mengurung tubuh Sakura dalam pelukannya. Membuat tubuh dalam dekapannya itu terkejut dengan tindakannya yang begitu tiba-tiba.

"Sudah kukatakan untuk menunggu. Tapi bukan dengan wajah jelek seperti ini." ucap Sasuke setengah berbisik. Mengalirkan hawa panas di telinga Sakura. "Kesini," Sasuke langsung membalik tubuh itu menghadapnya. Menatap emerald bening di hadapannya yang terlihat kesal.

Cup

Satu kecupan kecil mendarat di kening Sakura. Membuat gadis yang masih dalam pelukan Sasuke memejamkan matanya. Menerima sensasi kehangatan yang baru saja Sasuke berikan.

"Aku bosan!" jujur Sakura. Menatap onyx di hadapannya dengan bibir mengerucut.

Sasuke menghela nafas dan mengusap surai rambut merah muda itu halus.

"Aku benar-benar sibuk." Sasuke berkata pelan. Sebisa mungkin untuk tidak menyinggung kekasihnya itu.

Sakura kembali menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Mendelik menatap Sasuke yang kini menatapnya mengerti.

"Baiklah... Kau ingin aku melakukan apa untukmu?" pertanyaan itu membuat Sakura mengembangkan senyum lebarnya. Kemudian memeluk tubuh tegap di depannya dengan erat.

.

.

.

Sakura tersenyum puas saat ia mendapat ijin dari kekasihnya, Sasuke. Setelah perdebatan kecil yang ia lakukan, kini gadis bersurai merah muda itu sudah berada di kafe Uchiwa. Tempat yang biasanya ia gunakan untuk makan bersama Sasuke. Namun kali ini berbeda, setelah mendapat pesan singkat dari Karin, yang mengatakan ia ingin bertemu untuk makan siang, dengan senang hati Sakura menerimanya. Membuat gadis berpawakan mungil tersebut harus menjinakkan sedikit sifat Sasuke yang keras kepala itu.

Dan disinilah ia. Dengan senyum mengembang sempurna menghiasi wajah ayu-nya. Sakura menunggu kedatangan Karin dengan sabar. Sudah beberapa hari ini ia tak bertatap muka dengan mantan rekan kerjanya itu. Sedikit rasa rindu pun menyeruak ketika dulu mereka selalu menghabiskan waktu untuk sekedar bercakap-cakap.

Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya sosok yang di tunggu-tunggu itu pun muncul. Dengan pakaian kasualnya. Karin berjalan santai. Mata rubynya langsung menangkap satu rambut yang berbeda dari semua penggunjung disini. Sambil melangkah pelan, senyum di bibir dari wanita Senju itu pun merekah. Menampilkan wajah rupawannya yang memang benar-benar terlihat jelas.

"Sudah lama menunggu?" tanyanya. Setelah itu ia menarik kursi. Duduk di depan Sakura.

Sakura menggeleng pelan, "Tidak," katanya dengan senyum tipis menghiasi.

Karin mengangguk paham. Menatap wajah gadis dihadapannya lebih teliti. Tidak ada yang berbeda. Pikirnya senang.

"Bagaimana hari-harimu?"

Sakura menggedikkan bahunya. Kemudian menopang dagu dan menarik nafas panjang.

"Seperti yang kau lihat. Membosankan!" gerutunya. Yang langsung disambut kekehan kecil dari bibir Karin.

"Kalau begitu kembalilah menjadi model,"

"Seandainya aku bisa. Pasti akan kulakukan." Sakura menggerutu. Membuat Karin memincingkan sebelah alisnya penasaran dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Sakura.

"Kenapa tidak bisa. Bukankah kau tinggal menghubungi Gaara. Dan semua masalah selesai."

Sakura menggeleng pelan. "Sasuke-kun pasti akan marah."

Alis Karin tiba-tiba mengernyit. Kemudian berbisik, "Sebenarnya seberapa penting dia bagimu?"

Meski terdengar samar, tapi pendengaran Sakura masih bisa menangkap jelas gumaman Karin. Dengan tarikan nafas panjang, Sakura bersidekap dan menengadah menatap langit-langit kafe Uchiwa.

"Tentu saja aku mencintainya," Jawabnya. Setelah itu ia menarik setiap sudut bibirnya. Tersenyum penuh kebahagiaan yang terlihat jelas oleh pengelihatan Karin.

"Jadi, kau sungguh-sungguh ingin mengakhiri dunia modellingmu itu, Sakura.

"Ya!" Sakura mengangguk cepat penuh keyakinan. Membuat Karin mau tak mau memaklumi keinginan mantan rekan kerjanya itu.

"Lalu, setelah ini apa yang akan kau lakukan?"

"Sebenarnya aku tidak pernah melakukan apa pun setelah keluar dari duniaku." aku Sakura, "yang kulakukan hanya duduk diam di ruangan Sasuke-kun tanpa melakukan apa-apa," keluh Sakura. Mencurahkan setiap kegiatan yang ia lakukan selama ini. Karin yang mendengarnya pun hanya bisa menyunggingkan senyum simpulnya tanpa arti. Wanita Senju itu hanya tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki Uchiha itu.

"Sasuke-kun juga selalu menyuruhku untuk membawakan makan siang untuknya beberapa kali." dengus Sakura. Menambahkan setiap detail kegiatannya.

"Kalian sepertinya saling mencintai," sahut Karin. Membuat Sakura langsung terdiam.

Saling mencintai?

Entah kenapa kalimat yang Karin ucapkan barusan seolah menohok hatinya. Benarkan saling mencintai? Jika mengingat bagaimana hubungan yang mereka jalani seperti apa.

"Seandainya itu benar."

Karin yang melihat sesuatu yang ganjil dari wajah Sakura langsung mengernyitkan alis. "Ada apa?" tanya Karin kemudian. Bola matanya menelisik setiap gejala aneh yang Sakura keluarkan. Entah ada apa dengan gadis di depannya. Yang pasti ia merasa ada sesuatu yang salah disini.

"Apa Sasuke melakukan sesuatu terhadapmu.?"

Seketika itu pula Sakura langsung terkejut dengan pertanyaan yang Karin di tujukan padanya. Keningnya mengernyit dan entah karena alasan apa, tiba-tiba saja lidahnya kelu.

"T-tidak!"

"Kau bohong!"

"A-aku tidak b-bohong."

"Aku akan mendengarkan. Kau bisa percaya padaku,"

...

...

Sakura kembali menghela nafas panjang dan berat secara bersamaan. Pikirannya entah kenapa menjadi kalut tak terkontrol seperti ini. Apa yang di katakan Karin saat itu apakah benar? Apakah Karin benar-benar merasa jika Sasuke hanya...

"Tidak!"

Sakura langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Menepis semua kenyataan yang baru saja Karin katakan.

Apakah benar Sasuke seperti itu?

Satu kalimat tanya itu membuat Sakura kembali dirundung perasaan gelisah bercampur takut.

Takut jika apa yang dikatakan Karin akan menjadi kenyataan. Takut jika apa yang Karin tebak akan benar-benar terjadi.

Sakura kembali menenggelamkan dirinya di bathub beraromakan cherry. Menenggelemkan kepalanya di diperpotongan kakinya yang terlipat. Sesekali ia menarik nafas panjang frustasi. Memikirkan perkataan Karin tadi sungguh membuat kepalanya pusing. Sesungguhnya ia sudah tahu dan mengerti tentang bagaimana kehidupan yang Sasuke jalani selama ini. Hidup dalam keputusasaan dan rasa bersalah sudah menanjap jauh dari dalam hatinya. Apakah semudah itu ia percaya perkataan Karin?

Sambil menggeleng cepat, Sakura dengan segera menyelesaikan mandinya. mengesampingkan perkataan Karin yang menimbulkan beberapa spekulasi yang mungkin saja salah.

"Haaahhh..." Helaan nafas frustasi itu pun muncul kembali. Setelah itu ia bangkit dari bathtubnya dan mengambil handuk untuk menutupi tubuh polosnya.

.

Setelah mandi dan berganti pakaian, sekarang di sinilah Sakura. Berdiri di balkon kamarnya menatap jauh langit disana. Hawa dingin menyeruak seiring larutnya malam. Sakura merenung dalam pikirannya yang kacau. Mencari sebuah soluai atas masalah yang seharusnya mudah untuk di cari. Pun mencerna perkataan Karin yang mampu menggoyahkan keyakinan cinta yang ia miliki untuk Sasuke.

"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.

"Karin tidak mungkin membohongiku. Tapi bagaimana dengan, Sasuke-kun?"

Kembali rasa itu muncul di benaknya. membuat rasa bimbang yang teramat. Tidakkah ini tidak adil untuknya? Disaat seperti ini kenapa kebenaran baru terungkap?

.

Flashback

.

"Jadi selama ini hubunganmu dengan Sasuke didasari atas kepura-puraan?" Sakura mengangguk yakin sambil tersenyum canggung. Melihat raut terkejut dan entah apa itu namanya, yang Karin tujukan padanya.

"Hehehehe.. begitulah." Karin menarik nafas panjang lalu menghembuskanya kasar. Dalam hati tentu saja ia meraung-raung. Antara percaya atau menulikan pendengarannya atas pengakuan yang terlampau mengejutkan dari seorang gadis di hadapannya itu.

"Dan alasannya karena kau adalah gadis yang mirip dengan mendiang kekasihnya?" Sakura mengangguk sekilas. Membuat Karin mengernyitkan keningnya semakin dalam. "Lalu sekarang kau terjebak dengan peranmu sebagai wanita yang dulu di cintai oleh Sasuke, begitu."

Kali ini tak ada respon atau reaksi yang Sakura berikan. Gadis emerald itu hanya diam ketika mendengar satu kalimat terakhir yang Karin ucapkan.

Peran?

Ya... sepertinya Sakura telah terjebak dalam perannya tanpa di sadarinya. Lalu apakah benar selama ini yang Sasuke ucapkan untuknya.

"A-aku tidak tahu." gumamnya parau sambil menundukkan kepalanya. Enggan untuk menatap Karin yang sepertinya kini sedang menatapnya dengan reaksi yang sulit di artikan.

"Kau tidak tahu? Tapi kau sudah melakukannya, Sakura." sentak Karin. Membuat Sakura mendongakkan kepalanya ketika mendengat perkataan Karin naik menjadi dua oktaf. "Apa kau tau siapa aku?"

Sakura mengernyitkan alisnya menatap Karin dalam-dalam. "Tentu saja aku tahu siapa kau Karin."

Karin tersenyum miring menanggapi penuturan Sakura. Kemudian ia bersedekap dan kembali berujar. "Aku adalah kakak perempuan dari mantan kekasih Sasuke. Yang artinya, Senju Sakura adalah adik perempuanku."

Bagai di sambar petir di siang bolong, Sakura langsung melotot dengan mulut terbuka. Rasa terkejut langsung menyusup ke seluruh tubuhnya. Sontak membuat tubuhnya bergetar.

"T-tidak mungkin!"

Karin diam tak bereaksi menanggapi reaksi terkejut dari Sakura. Wanita itu lebih menatap wajah teman seprofesinya itu dalam diam.

"Kukira Sasuke menceritakanku. Ternyata tidak!" katanya, "Kurasa selama ini kau hanya dijadikan pelampiasannya karena wajah kalian yang serupa."

.

Flasback Off

.

Sakura mengingat semua perkataan Karin. Perkataan terakhir yang keluar dari mulutnya itu sontak membuat ulu hatinya terasa terkoyak. Benarkah yang dikatakan Karin itu? Selama ini Sakura berusaha. Berusaha sebisa yang dia mampu untuk mengeyahkan bayang-bayang senju Sakura dari dalam pikiran Sasuke. Selama ini ia sudah bersungguh-sungguh. Berharap Sasuke hanya akan menatapnya sebagai Haruno Sakura, bukan Senju Sakura.

Tapi apa yang Karin ucapkan itu seperti menamparnya kuat-kuat. Mencoba membangunkannya dalam mimpi indahnya yang kelewat sempurna untuk dimiliki seutuhnya.

"Jadi selama ini apa hanya akan seperti ini?"

"Apanya yang seperti ini,"

Suara itu tiba-tiba saja memasuki indra pendengaran Sakura. Suara yang membuat gadis yang masih berdiri disana terkejut ketika suara itu kembali menyapa pendengarannya.

"Apa yang sedang kau lakukan disitu?" tanya suara itu lagi. Yang Sakura yakini siapa pemilik suara yang begitu ia rindukan.

Dengan gerakan cepat, Sakura langsung menoleh kearah suara itu. Yang menampilkan sesosok lelaki tinggi dan berpawakan sangat tampan.

"Sakura?"

Sambil tersenyum tipis dan berjalan dengan cepat, Sakura langsung merengkuh tubuh itu. Memeluknya erat-erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya kemudian. Menelisik apa yang salah pada kekasih merah mudanya yang entah ada angin apa langsung memeluknya seerat ini.

"Tidak ada."

Pelukan itu kian erat. Membuat Sasuke mau tak mau menangkup dua pipi Sakura untuk melihat wajah kekasihnya itu.

"Kenapa kau menangis. Siapa yang membuatmu seperti ini?" desis Sasuke tajam. Begitu ia melihat lelehan air mata yang jatuh dari emerald bening dari kekasihnya itu.

Sakura menggeleng pelan. Masih sesenggukkan karena kini ia melihat kilatan marah dari mata onyx di hadapannya. Ditambah rahang Sasuke yang mengeras membuat Sakura tak bisa menghentikan tangisannya.

"Kutanya sekali lagi, siapa yang membuatmu seperti ini."

"Apa Sasuke-kun benar-benar mencintaiku?" perkataan itu seolah lolos begitu saja dari bibir ranum Sakura. Membuat Sasuke kembali dirundung penasaran dengan sikap aneh Sakura. "Jawab pertanyaanku." seru Sakura.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya dan menangkup wajah Sakura lembut. Setelah itu mencium bibir Sakura sekilas. Menyalurkan rasa sayang dan cintanya lewat ciumannya itu.

"Apa kau ingin aku menikahimu sekarang juga?" dengan alis bertautan menjadi satu barisan, Sakura hanya diam mendengar perkataan Sasuke. Meski Sasuke akan menikahinya saat ini juga, tapi yang diinginkannya hanya satu jawaban atas pertanyaannya itu.

"Jawab saja pertanyaanku." rutuk Sakura.

"Astaga, tentu saja aku mencintaimu."

Dan sambil kembali memeluk Sasuke, Sakura kembali menangis. Tangis yang terasa menyayat. Membuat Sasuke kembali dirundu rasa penasaran akan sikap Sakura yang terlewat aneh hari ini.

.

.

TBC!

.

.

Jujur saja, aku nggak tau lagi harus berkata apa untuk ngucapain terima kasihku untuk kalian semua. Bener-bener nggak nyangka kalau ceritaku ini begitu disukai. Hehehehe.. Makasih lho ya.

Dan ini yang nggak bisa aku janjiin sama kalian semua. Update yang luar biasa lama. Entah kenapa akhir-akhir ini aku malas ngetik. Pertama karena ngetiknya lewat Hp, dan kedua kesibukan di RL. Jadi mohon dimaklumi sajalah ya. XD.

Ok, aku juga nggak tau isi di chap ini akan memuaskan kalian atau malah sebaliknya. Yang intinya sih aku ngetik apa yang kupikirkan saja. Well... dinikmati saja. #plak.

Shippp... ini saja sih cuap-cuap dari ku. Untuk kedepannya mungkin bakal update cukup lama lagi. Jadi maaf again ya, minna.

.

Yuppp... ini bagi yang meninggalkan review di chap kemarin;

.

Kimmy ranaomi

Dea Lova S.S

VeeQueenAir

mantika mochi

wowwoh geegee

Nina317Elf

Manda Vvidenarint

dianatndhara

Anka-Chan

suket alang alang

leedidah

nathalie ichino

Yukiyamada

Kumiko Hanari-chan

megan091

fiochan51

gilang ramadhan 129357

AadeUchira

CherryAsta

ayuniejung

Azuma Sakura

winter cherry

Guest

kura cakun

vitri

sgiariza

Sheryl euphimia

Apple

Cho594

Azuma Sarafine

Fans Sasuke Uchiha

Hikaru Rei

haruchan

puput putri

mutiara

Guest

Xxx.

.

Makasih untuk kalian semua yang masih setia membaca Fict ini.

Dan untuk HancurSakura, mending kamu, siapa pun itu, mending gak usah nampakin diri di Fictku kalau hanya untuk berkomentar yang gak penting seperti itu.

.

Bye~ ketemu lagi di Chp selanjutnya yang entah kapan. :-p.

.

.

Lamongan. 13-09-2015. Jawa Timur.

Salam sayang; Chizuru Mey..