Sulay Fanfiction Indonesia

=Lilac=

Flying White Unicorn

Chapter 3

Kim Junmyeon*Zhang Yixing

Oh Sehun

e)(o

Yaoi

Typo(s)

Rate M

The saddest love is to love someone to know that they still want you but the circumstances dont let you have them

...

Wangi kopi, indah cuaca putih akibat salju yang sudah turun sempurna dan beberapa buku dan lembaran menghiasi meja. Junmyeon mencelupkan roti tawar beroles menteganya ke dalam kopi panas yang kepulan asapnya menari di atas cangkir putihnya. Yixing sibuk mencoret-coret tidak peduli dengan apa yang dilakukan sebelahnya. Jika keputusan Junmyeon membawa Yixing ke kafetaria untuk makan sudah terlaksana maka kini gantian Yixing meminta Junmyeon untuk tidak mengganggunya.

Junmyeon berusaha keras untuk tidak mengajak Yixing berbicara ataupun sekedar menyentuh pipi Yixing. Menahan hal semacam itu sama kerasnya dengan para pecandu yang sedang masuk rehabilitas. Keingiannya untuk menjauh tetapi teriakan dalam dirinya mengatakan hal yang berbeda.

Walau tidak saling berbicara Yixing cukup yakin bahwa Junmyeon sangat tersiksa dengan peraturan yang ia terapkan. Tapi Yixing membutuhkannya, ia harus belajar lebih giat karena hanya inilah yang membantunya untuk tetap bersekolah melalui jalur berprestasi. Selain dia menyalurkannya melalui hobinya menari. Dan menyumbangkan banyak prestasi untuk sekolahnya.

" Berhentilah meminum kopi. Aku khawatir nanti ketika kau mati orang-orang bisa membuat teh dari sari mayatmu." Ucap Yixing masih membaca

" Ha! Ya Yixing, aku akan berhenti meminumnya." Ucap Junmyeon cepat

Yixing tersenyum mendengar jawaban cepat Junmyeon, ia tahu Junmyeon memang menunggunya memulai percakapan.

" Terimakasih makan siang nya. Aku mau latihan dance apa kau mau ikut atau pulang ke asrama?." Tanya Yixing mengemas perlengkapannya

" Tentu saja ikut. Aku akan menjagamu."

" Tidak usah terlalu berlebihan. Aku hanya basa basi padamu." Yixing berjalan duluan meninggalkan Junmyeon.

Yixing membuka pintu tempat aula yang biasa ia dan tim nya pergunakan untuk berlatih. Tidak ada orang, keadaan sepi. Yixing menghidupkan sound system memilih lagu dari ponselnya dan bersiap untuk latihan.

" Kenapa hanya kau disini?." Tanya Junmyeon yang sudah duduk di tempat penonton seperti biasa.

Malam ini Junmyeon sudah berencana untuk menghentikan aktivitas belajar Yixing. Junmyeon menilai Yixing sudah terlalu keras terhadap dirinya sendiri.

" Ini bukan jadwal latihan kami, tapi aku harus latihan. Ada beberapa gerakan yang belum ku hafal." Jawab Yixing

" Kau terlalu keras pada dirimu sendiri." Ucap Junmyeon

" Aku tidak menganggapnya sebagai beban. Memang ini adalah hobiku. Sudah berhenti berbicara, aku tidak bisa fokus."

Yixing memulai dance nya. Junmyeon mau tidak mau diam mengikuti apa yang dikatakan Yixing. Memandangi Yixing yang bergerak mengikuti alunan lagu di tengah-tengah aula dengan sorot cahaya yang juga fokus kepadanya.

Bahkan hanya kau bergerak pun mampu membuatku jatuh cinta padamu. Gumam Junmyeon tersenyum.

.

.

Kamar asrama berukuran sedang itu tampak besar karena hanya di huni oleh dua orang. Sudah menyerupai kamar seorang anak konglomerat karena Junmyeon yang tampak memperhatikan tempat tinggalnya menyulapnya menjadi kamar apartemen elit di antara kamar asrama anak-anak lainnya. Yixing tidak memperdulikan asal Junmyeon tidak merubah sedikitpun kawasannya, atau lebih tepatnya tempat tidurnya. Yixing hanya membiarkan Junmyeon menggantikan kasur nya dengan sedikit empuk. Kalau saja orang-orang tidak masuk ke kamar itu, maka tidak akan tahu jika di dalamnya sudah banyak berubah.

Beruntung tidak ada satu orangpun yang pernah masuk ke dalam kamar asrama mereka. Menurut Yixing, Junmyeon tampak sedikit protektif dirinya jika sudah berada di asrama. Mencoba menguasai Yixing walau tidak dilayani oleh Yixing.

" Yixing tunggu.." Ucap Junmyeon memasukkan bukunya asal-asalan.

" Aku tunggu di luar saja." Ucap Yixing sambil jalan

" Yixing! Tidak! Jangan jalan sendirian!."

Yixing mengabaikan Junmyeon yang kini malah buku-bukunya berjatuhan dari dalam tas nya. Yixing memilih untuk jalan duluan menutup pintu kamarnya daripada mendengar suara teriakan Junmyeon.

Yixing berjalan perlahan, Junmyeon belum juga muncul. Entah apa saja yang dilakukan Junmyeon. Sudah seharusnya dia menyiapkan buku dan peralatannya dari semalam. Daripada sibuk memandangi Yixing yang tidur di seberang tempat tidurnya. Yixing sedikit risih melihat Junmyeon yang terus menatapnya. Mengawasinya bagai dia seekor burung yang sedang di intai dari sasaran tembak.

" Yixing..."

" Jongdae... selamat pagi."Yixing menunduk menghormati rekannya

" Ini aku mau mengembalikan buku yang kemarin ku pinjam. Terimakasih Yixing, lain kali aku akan membutuhkan bantuanmu." Ucap Jongdae

" Yixing!."

" Astaga siapa itu." Ucap Jongdae kaget

" Oh itu Junmyeon pelajar dari Korea. Junmyeon ini Jongdae dia…"

Bruk!

" Junmyeon!."

" Kuharap ini terakhir kalinya aku melihat kau berduaan dengan Yixing!."

" Junmyeon kau kenapa?."

" Bung.. Apa masalahmu?."

" Aku tidak suka kau dekat dengannya!."

" Hei mengerti lah! Kau itu tamu disini. Aku sudah lama bertemanan dengan Yixing. Apa hak mu melarangku ha!."

" Kalau aku tidak suka maka aku akan melarang apapun itu!."

" Junmyeon kau gila! Lepaskan Jongdae."

" Yixing sudah.. Siapa namamu? Junmyeon? Dengar perkataanku ya, kalau kau menyukai Yixing bukan berarti dia tidak boleh bersosial dengan siapapun! Jatuh cintalah tanpa menyakiti perasaan orang lain." Ucap Jongdae melepaskan cengkraman Junmyeon dan pergi

" Junmyeon kau gila! Kau gila!. Aku muak dengan mu!." Ucap Yixing juga pergi meninggalkan Junmyeon.

Junmyeon terpaku setengah dirinya masih tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Perasaan ingin memiliki Yixing semakin besar, hal yang membuat dirinya menjadi overprotective kepada Yixing.

" Yixing! Tunggu… Mianhe Yixing…"

Di dalam kelas Yixing masih mendiami namja berwajah angel itu. Menurut Yixing apa yang dilakukan Junmyeon sudah keterlaluan, dia adalah pendatang sudah tentu hal yang harus dilakukannya adalah mencoba berkenalan dan bersahabat dengan pelajar China. Bukan berarti dia tamu dia bisa melakukan sesuka hatinya.

Junmyeon duduk disamping Yixing, memandangi Yixing dengan tatapan sedihnya. Junmyeon tidak ingin Yixing mendiaminya. Apapun itu alasannya, Junmyeon masih menganggap apa yang dilakukannya wajar karena dia tidak ingin Yixing berdekatan dengan siapapun. Hati dan dirinya sudah mengklaim bahwa Yixing adalah miliknya, walaupun Yixing tidak membalasnya.

" Yixing…."

" Sudahlah…"

" Yixing aku minta maaf, aku hanya takut kehilanganmu."

" Kau tidak memiliki ku, untuk apa kau takut kehilangan diriku." Ucap Yixing sadis

" Yixing…."

" Aku sudah katakan Junmyeon, aku tidak menyukaimu. Berhentilah bersikap seperti aku akan membalas perasaanmu."

" Yixing…"

" Aku pusing. Aku mau pulang saja ke asrama. Dan tolong jangan ikuti aku.."

Yixing meninggalkan Junmyeon yang sudah bersiap ingin menyusulnya.

" Aggh!." Junmyeon memukul meja menggerutu kesal.

Sebagai ganti dari tidak menghadiri kelas Yixing membuka buku pelajarannya dan belajar sendiri di kamar asramanya. Susah berkonsentrasi karena pikirannya terus memikirkan Junmyeon yang semakin menjengkelkan dirinya. Yixing merasa sedikit tidak enak dengan Jongdae, apalagi setelah berbicara dengan Junmyeon. Jongdae terus pergi tidak mengatakan apapun kepada dirinya.

Yixing mengacak-ngacak rambutnya, ini tahun kedua dia berada di sekolah. Apa tidak bisa dia menjalaninya dengan ketenangan dan prestasi.

Tok

Tok

Pasti bukan Junmyeon, pikir Yixing. Karena Junmyeon tidak pernah mengetuk pintu jika ingin masuk. Ia memperlakukan kamar dan segala isinya menjadi miliknya. Begitu juga Yixing yang kini berada didalam kukungan kamar asrama nya. Yixing membuka pintu, mendapatkan seorang pria dengan senyum dan tampang lucu menatap Yixing.

" Siapa ya?."

" Aku? Siapa saja. Aku pelajar dari Korea. Aku kesini ingin memberimu ini." Ucap anak laki-laki itu menyerahkan selembar kertas kepada Yixing.

Maafkan aku. Maukah kau malam ini menemaniku untuk sekedar minum teh? Sebagai permohonan maafku mungkin?.

Yixing menghela napas, tanpa nama pengirim pun rasanya Yixing sudah tahu siapa orang yang mengirimkan kertas itu kepadanya.

" Terimakasih." Ucap Yixing kepada laki-laki pengantar surat.

Menutup pintu asramanya meremas kertas pesan dari Junmyeon dan membuangnya langsung ke tempat sampah. Kembali melanjutkan belajarnya tanpa memperdulikan uap dari pemanas suhu ruangan yang terus mengepul. Apa yang dia rasakan terhadap Junmyeon sebaiknya tidak ditunjukkan. Terlalu banyak sangsi sosial yang akan dia terima jika perasaannya itu diketahui orang lain. Terlebih oleh Junmyeon.

Yixing mengucek matanya, sudah malam dan sudah tiga mata pelajaran yang Yixing tuntaskan hingga larut malam. Yixing membereskan perlengkapan belajarnya, mengemas buku yang akan besok ia pelajari dalam tas nya sesuai dengan urutan jam.

Selesai memastikan semuanya telah tertata, Yixing membaringkan tubuhnya di kasurnya. Menyampingkan tubunya menghadap kasur Junmyeon yang tanpa penghuni itu. Memang Yixing tidak berjumpa dengan Junmyeon lagi setelah terakhir kali ia meninggalkannya di kelas. Ketika makan malam tadi pun Yixing tidak memperhatikan keberadaan Junmyeon. Tampaknya memang Junmyeon tidak mengikuti makan malam bersama di asrama. Yixing memandang ke tong sampah, kertas pesan dari Junmyeon yang mengajaknya untuk minum teh.

Dia tidak mungkin masih menungguku di luar. Memang dia mau mati beku. Ucap Yixing menenangkan hatinya.

Yixing mencoba memejamkan matanya, tapi bayangan wajah menjengkelkan Junmyeon diantara salju diluar seakan terus memblokir dirinya untuk terlelap. Yixing tidak bisa tidak memikirkan Junmyeon, seakan otak dalam pikirannya kini telah ditumbuhi akar-akar yang bertunas dari sebuah pohon bernama Junmyeon.

" Agh! Menyusahkan saja." Ucap Yixing berganti baju dan bersiap keluar.

Dengan baju hangat dan kupluk yang dipakai, Yixing keluar untuk mencari Junmyeon. Semula ia memutuskan untuk mencari disekitaran asrama. Berasumsi bahwa Junmyeon tidak bodoh dengan terus menunggunya hingga larut malam begini. Tapi kesepian asrama mengantarkan Yixing mencari Junmyeon jauh keluar area.

" Apa benar ia masih menungguku." Ucap Yixing berlari menuju café terdekat

Tidak sulit menemukan café apa yang dimaksud dalam surat Junmyeon, karena Yixing tahu. Junmyeon yang bukan berasal dari daerah ini pasti hanya mampu berjalan mencari tempat minum teh hingga sejauh ini. Café yang dimaksud telah tutup, lonceng berwarna peach pun sudah mulai tertutup salju yang turun. Yixing menatap di depan jendela café duduk seorang laki-laki masih menggunakan seragam sekolah musim dingin meringkuk memeluk kakinya ke dadanya.

" Junmyeon..Kenapa kau masih disini?." Tanya Yixing buru-buru menghampiri Junmyeon

" Yi...Yixing...Kau datang..."

" Astaga wajahmu pucat, ayo sini." Yixing mendekatkan Junmyeon ke tubuhnya mendekapnya menyalurkan panas tubuh dan mantelnya.

Junmyeon tersenyum dalam kedinginan, bibirnya sudah hampir membiru karena rasa beku. Tangannya sudah mulai kaku untuk sekedar membalas dekapan Yixing. Yixing semakin mendekap Junmyeon. Yixing mencabut sarung tangannya, menggosokkan tangannya kemudian meletakkanya ke pipi Junmyeon.

" Bodoh...Kalau tahu aku tidak akan datang kenapa kau masih menunggu."

" A...Aku akan terus..menunggumu... meskipun kau tidak datang." Jawab Junmyeon

Yixing menghentikan kegiatannya menggosok pipi Junmyeon, melihat semurat merah mulai keluar dari pipi Junmyeon, tarikan senyum Junmyeon yang biasa menjengkelkannya.

" Yixing..Kenapa kau membenci ku?."

" Junmyeon..."

" Apa karena aku menyukai laki-laki sedangkan kau normal?."

" Junmyeon..."

" Apa aku terlalu menjengkelkan untukmu?."

" Dari awal aku sudah tahu, bahwa sosok sepertimu berpotensi membuatku jatuh cinta. Tapi kau tidak akan selamanya disini Junmyeon. Aku benci jika pada akhirnya hanya aku yang bertanggung jawab akan semua perasaan ini. Aku hanya mencegah." Jawab Yixing

" Kau menyukai ku? Sejak kapan?."

" Aku tahu hanya akal-akal mu dan kekuasaan yayasan ayahmu yang meminta kami untuk tinggal di asrama."

" Bagaimana kau tahu?."

" Ketika menu makan di asrama berubah menjadi menu Korea. Dan karena hanya kau satu-satu yang protes akan makanan di asrama. Tidak sulit menemukan benang bahwa sekolah kita satu yayasan yang sama. Nama keluarga mu sudah cukup besar."

" Aku mencintaimu...Aku mencintaimu sejak pertama kita berjumpa. Sejak pertama mataku tertuju kepadamu, dan selalu sepanjang hari setelahnya. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Aku mencintaimu Yixing selamanya...Selamanya...Selamanya." Junmyeon berbisik di telinga Yixing dan menciumnya.

" Berhentilah menyiksa dirimu seperti ini. Ayo kita kembali ke asrama." Ucap Yixing mengulurkan tangannya ramah kepada Junmyeon.

Malam di penuhi salju itu tidak membawa kedinginan bagi dua orang yang tengah panas oleh asmara mereka. Yixing yang semula tidak menyangka mampu mengeluarkan apa yang ia sembunyikan dari sosok Junmyeon yang menjengkelkan itu. Junmyeon malam itu berpindah tidur ke kasur Yixing. Memeluk Yixing seakan takut laki-laki yang baru saja ia miliki itu pergi darinya.

" Junmyeon..." Panggil Yixing

" Ne.."

" Aku tidak ingin orang lain mengetahui hubungan kita."

" Kenapa?."

" Aku masih dua tahun bersekolah disini. Sedangkan kau hanya sebulan disini. Mengertilah. Aku hanya tidak ingin menjadi sorotan."

" Baiklah kalau itu mau mu. Tapi jangan berdekatan dengan siapapun selain aku. Berjanjilah." Ucap Junmyeon mencium pundak Yixing lembut

" Ne... Aku berjanji..."

.

.

Memulai hubungan dengan seorang Junmyeon bukanlah sesuatu yang mudah. Yixing kini menjadi lebih pendiam dari biasanya. Sering menolak ajakan rekan-rekannya yang lain untuk sekedar berkumpul ataupun berbicara. Yixing menjadi pemilih, beberapa rekannya memaklumi nya karena jadwal Yixing yang sibuk antara belajar dan latihan dance. Tetapi sebagian lagi menganggap Yixing mulai sombong dengan pretasi yang di dapatkannya.

Junmyeon sudah mulai tidak mengikuti Yixing kemanapun Yixing berada. Tetapi sebagai gantinya ia akan mengawasi Yixing dari jauh. Menatap siapapun yang berbicara dengan Yixing. Membuat lelaki berdimple itu tidak nyaman dan memutuskan untuk menjauh dari rekan-rekannya. Dan Junmyeon lebih sering membuat Yixing hilang diantara keramaian. Seperti kini, menarik Yixing untuk masuk ke dalam toilet dan menguncinya.

" Junmyeon... Kenapa kau menarikku."

" Aku rindu..."

" Tapi kita berjumpa juga setiap saat dan..."

Yixing tidak melanjutkan pembicaraannya, bibirnya kini di kunci otomatis oleh bibir Junmyeon. Rasa hangat dirasa Yixing ketika bibirnya mulai merasai aroma mint dari mulut Junmyeon. Junmyeon semakin melumat bibir Yixing, melupakan bahwa mereka tengah berada di dalam toilet dan di ruang lingkup sekolah. Perasaan panas dari dalam tubuhnya menginginkannya untuk terus melanjutkan ciuman ini. Dan Yixing tidak menolaknya. Junmyeon mengigit bibir tipis Yixing.

" Eugh.." Desah Yixing pelan.

Lidah Junmyeon semakin bermain di pinggiran dan dalam bibir Yixing. Si empunya sudah terlalu mabuk dalam tindakan yang dilakukan Junmyeon. Lidah Junmyeon mencoba menarik lidah Yixing. Mengajaknya berperang dalam kecapan-kecapan basah yang mereka ciptakan. Tangan Junmyeon mulai menyelusuri tubuh Yixing yang terbalut baju pelajarnya. Mencoba membuka kancing-kancing kecil.

" Junmyeon...Jangan disini." Ucap Yixing pelan

Junmyeon menghentikan semua yang dilakukannya. Mempertemukan hidungnya di hidung Yixing kemudian tersenyum melihat mata polos kekasihnya itu.

" Mianhe.. kita lanjutkan nanti di asrama." Ucap Junmyeon membereskan kembali baju dan rambut Yixing.

Wajah Yixing memerah atas perlakuan dan ucapan kekasihnya itu. Junmyeon mempersilahkan Yixing untuk keluar dahulu dengan membungkuk layaknya seorang pangeran mempersilahkan putri nya. Yixing semakin memerah, meninggalkan Junmyeon yang tersenyum bahagia.

Kau bukan lagi sekedar jajahan ku melainkan segala nya yang memiliki ku. Gumam Junmyeon dalam hati.

.

.

Yixing tahu ia telah jatuh cinta pada Junmyeon, saat dia dengan patuh menjauhi semua orang hanya demi seorang Junmyeon. Ia tahu ia telah jatuh cinta karena ia merasa kehadiran Junmyeon mampu membuat apa yang tidak disukai oleh Yixing menjadi candu untuknya. Setiap tawa Junmyeon membuat dirinya senang walau ia harus menutupi dengan ekspresi jengkel.

" Apa kau suka tidur di peluk seperti ini?." Tanya Junmyeon

" Ne, aku lebih menyukai pelukan daripada ciuman." Jawab Yixing

Junmyeon cepat beralih. Membuat dirinya kini menatap mata Yixing.

" Apa ciumanku separah itu?."

" Tidak... Aku suka kau cium hanya saja... Aku merasa pelukan lebih nyaman. Kita bisa saling membagi detak jantung kita. Aku lebih merasa jantungmu berdetak untukku." Ucap Yixing

" Darimana kau belajar menggombaliku?." Tanya Junmyeon tersenyum

" Dari kau.." Jawab Yixing

" Hmm..." Junmyeon menggesek-gesekkan hidungnya di pipi Yixing

Yixing tertawa geli, tubuhnya yang masih tidak mengenakan pakaian apapun itu terus meronta di bawah badan Junmyeon.

" Ayo tidur, besok kita masih ada jam." Ucap Yixing

" Hmm.. Aku ingin yang lain..." Ucap Junmyeon manja

" Tidak-tidak ini sudah kedua kalinya Junmyeon. Kita lanjutkan besok?." Pujuk Yixing

" Terakhir untuk hari ini?." Ajak Junmyeon terus mengelus-ngelus pipi Yixing dengan hidungnya

" Hihi geliii Junmyeon..."

Junmyeon mulai mencium pipi Yixing turun ke lehernya menjilati leher Yixing dengan penuh napsu. Yixing menolak Junmyeon memberikan tanda di lehernya. Junmyeon menerimanya karena ia tahu persyaratannya antara dirinya dan Yixing. Tidak bisa dileher bukan masalah jika dada Yixing masih bisa diberikan kissmark olehnya.

Junmyeon menyedot dada Yixing, menggigitnya perlahan dan menjilatnya.

" Aaghh..." desah Yixing

Lidah Junmyeon melikuk-likuk diantara puting Yixing, si empunya hanya mampu mendesah dan menarik penutup kasurnya.

" Kau suka pelukan?." Tanya Junmyeon

Yixing mengangguk pelan.

" Berbaliklah. Aku akan memelukmu.."

Yixing mengikuti perintah Junmyeon, membalikan badannya perlahan. Junmyeon memeluk Yixing erat. Menciumi leher dan punggungnya, kemudian menekan perlahan punggung Yixing agar lebih menunduk.

" Acch…"

Junmyeon berhenti sejenak, membiarkan laki-laki berpeluh di depannya itu menyiapkan dirinya. Sebuah anggukan ditujukan untuk Junmyeon. Junmyeon membalasnya dengan sebuah ciuman di rambut Yixing.

" Acchh…" Yixing menahan

Junmyeon mempercepat proses nya, dengan bergerak seiring dengan deritan tempat tidur Yixing.

" Aaachh…Aaachh… Agghh…"

" Hmmphh…Uhh…"

Junmyeon mempercepat gerakannya, menumbukkan juniornya pada satu titik yang membuat tangan Yixing semakin mencengkram seprei kuat.

" Aaachh… Junmyeoon…"

" Eughh…" Junmyeon semakin memeluk Yixing dari belakang dengan terus menggerakkan bagian bawah tubuhnya sesuai ritme sensual.

" Junmyeoon..Aku..mau keluaaar…"

" Tahan Yixing… Bersama… Aaghh…"

Cairan cinta Junmyeon menyembur di dalam tubuh Yixing, sedangkan milik Yixing menyembur ke seprei nya. Sudah berapa tumpukan seprei yang dia ganti sejak menjalin asmara dengan Junmyeon.

Junmyeon menghadapkan Yixing ke tubuhnya. Memandangi wajah polos milik Yixing yang selalu menjadi pujaannya. Membelai lembut surai hitam dan mencium kening Yixing.

" Pindah tidur di kasurku. Besok kita pergi laundry." Ucap Junmyeon seakan tahu isi pikiran Yixing

Yixing mengangguk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu di dada Junmyeon. Junmyeon tertawa melihat kelakuan kekasihnya itu.

.

.

Dengan terus dance Yixing dapat mengembalikan rasanya hidup bersosial dengan manusia. Ia memulai kekompakan dengan menyapa rekan setim nya, bergerak seiring dengan apa yang dilakukan rekannya. Walau masih dengan penonton yang sama setia nya Kim Junmyeon. Baru beberapa gerakan yang ia lakukan namun seluruh badannya merasakan remuk. Yixing memilih untuk menghentikan latihannya. Berjalan perlahan menuju perlengkapannya. Junmyeon memandanginya cemas walau Yixing memberikan kode dengan sebuah senyuman menenangkan.

" Yixing ayo latihan lagi."

" Kalian saja, aku capek."

" Kalau tidak ada kamu yang lain mana mau latihan."

" Sebentar yah. Ambil nafas dulu."

" Jadi daritadi nafasnya ditahan?."

Sontak rekan-rekan dance Yixing tertawa, Yixing ikut tertawa sambil memegangi botol minumannya. Tak jauh Junmyeon yang juga memegang botol minuman tampak meremukkan apa yang ditangannya itu. Dia benci bila orang melihat senyum Yixing, dia benci ada yang membuat Yixing tertawa selain dirinya. Tapi dia harus menahan semuanya, mencoba untuk tidak memperdulikan hatinya yang mengajaknya berperang.

Lalu aku harus bagaimana lagi untuk menahannya? Disampingmu banyak mulut bercanda denganmu. Bahkan kau ikut menikmati dan tertawa lepas. Tidak! Kau hanya boleh menikmati bersamaku. Apapun itu teori dan prakteknya. Aku cemburu karena bukan aku yang kau nikmati.

Junmyeon membuang botol yang sudah remuk ditangannya, berjalan keluar meninggalkan Yixing yang masih tertawa bersama rekan-rekannya.

Diluar Junmyeon mengambil ponselnya mengetik pesan kepada Yixing, mengatakan untuk menepati janjinya agar tidak berdekatan dengan siapapun. Junmyeon menendang angin di depannya. Tidak terasa namun ada sebagian emosinya ikut pergi bersama hempasan angin itu.

Teet teeet

" Halo?."

" Hyung… Kapan kembali? Apa kau tidak merindukanku?."

" Aku selalu merindukanmu. Kau tidak sedang belajar?."

" Kau bohong. Kalau kau rindu padaku tidak mungkin kau meminta yayasan untuk memperpanjang kunjunganmu di China."

" Haha. Kenapa kau meneleponku?."

" Hyung…"

" Apa kau dipukuli lagi?."

" Bawalah aku pergi atau pulanglah segera."

" Kau tahu aku tidak bisa melakukan keduanya. Apanya yang sakit?."

" Aku tidak sedang disekolah hyung. Aku di rumah sakit."

" Kau serius?!."

" Dia memukuliku dengan tongkat golf nya lagi. Kembalilah secepatnya. Aku rindu meringkuk di kakimu."

" Aku akan kembali secepatnya. Bertahanlah."

Junmyeon menutup ponselnya, membayangkan adik satu-satunya yang menderita. Ia tahu bagaimana di posisi adiknya. Karena ia juga sering menerima perlakuan seperti itu. Junmyeon mengutuk dirinya sendiri. Memang dengan pertukaran pelajar ia bisa terbebas dari kekerasan itu. Tapi tidak dengan adiknya.

Junmyeon dalam dilema terbesar dalam hidupnya. Apakah datang menemui adiknya segera ataupun tetap disini bersama Yixing. Satu-satunya yang bisa mengalihkan pikiran dan ingatan tentang segala macam kekerasan yang telah ia terima sejak kecil. Tapi apa dia sanggup meninggalkan lebih lama adiknya yang memerlukan bantuannya.

Ting!

Sebuah pesan balasan dari Yixing untuk Junmyeon. Junmyeon membuka pesan tersebut hati-hati, ia tahu setelah ia membaca pesan ini hatinya yang belum juga menentukan pilihan itu akan semakin goyah.

Ne aku tahu captain aku milikmu! Begitu laundry siap kau bisa mengotorinya lagi.

Junmyeon menghela napas panjang, bagaimana mungkin dia sanggup meninggalkan Yixing disini.

Beri aku kesempatan seminggu lagi. Aku akan pulang secepatnya.

Junmyeon memilih untuk tidak membalas pesan Yixing ataupun mengabari adiknya tentang keputusannya. Kakinya menuju kamar asramanya, memastikan apakah laundry sudah mengantarkan kembali sprei-sprei Yixing.

TBC

*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*

Happy Monday!

Belum pernah sapa yang review di FF ini tapi aku baca semua nya! Mungkin di chap depan yah baru kita saling balas membalas review hihihi^^

Hai penikmat sulay! Pecinta Suho dan Yixing!

Lihat Yixing tampil di Exordium HK kayaknya ada bahagia-bahagianya gitu yah hihihi

Yang lebih bahagia lagi drama Suho udah siap n jujur aku cuma kuat nonton sampai eps 2 haha #cemen

Lebih suka liat suho nyanyi n aegyo di stage sih tapi selalu support apa yang di lakukan keduanya.

Kemajuan Suho dengan drama barunya! Tunggu aku ga baper deh aku bakal nonton nanti hahaha^^