Sulay Fanfiction Indonesia

=Lilac=

Flying White Unicorn

Chapter 5

Kim Junmyeon*Zhang Yixing

Oh Sehun

e)(o

Yaoi

Typo(s)

Dont like this? Just tell me in review

The saddest love is to love someone to know that they still want you but the circumstances dont let you have them

...

Langkah kaki perlahan membawa Junmyeon sampai di depan pintu bercat putih. Seluruh keinginan hatinya adalah cepat membuka pintu tersebut. Melihat orang yang dicemaskannya sejak penerbangannya dari China. Alasan kenapa dia sanggup meninggalkan kekasihnya. Sejak meninggalkan China, pikiran Junmyeon hanya berpusat kepada satu orang. Adik satu-satunya yang nyata di milikinya. Kedekatan mereka yang begitu alamiah. Nasib mereka yang sama, apa yang di pikirkan Junmyeon adalah melihat sang adik sama dengan melihat dirinya dahulu. Melihat ketakutan-ketakutan dan mimpi buruknya. Kejadian yang dibencinya harus terjadi kembali kepada adik kesayanganya. Dengan mempersiapkan diri dan menahan rasa sakit di hatinya Junmyeon membuka pintu tersebut.

" Sehun..."

" Hyung.. Kau kembali aahk.." Sehun menghentikan gerakannya dengan tangan kanannya memegang tepat di ulu hatinya.

Junmyeon berlari ke dalam menghampiri Sehun dan memeluknya. Tidak perlu bertanya Junmyeon tahu kondisi Sehun.

" Tenanglah Hyung sudah disini..Tenanglah..."

Sehun membalas pelukan Junmyeon, air matanya jatuh walau dia memaksa tersenyum. Di yakinkannya bahwa dirinya aman. Ya aman.

Sehun bukanlah seorang yang lemah, dia tidak pernah tidur menunggu pelukan Junmyeon. Tapi malam ini ia membiarkan Hyungnya berjaga di tepi tempat tidurnya. Seakan menjaganya dari sesuatu hal yang buruk. Persaudaraan antara Junmyeon dan Sehun tidak bisa dibilang hubungan antara hyung dan dongsaeng. Junmyeon sangat menjaga Sehun, Junmyeon rela mendapat perlakuan yang ditakutkan dirinya hanya untuk melindungi Sehun. Sehun tidak pernah merasa dimengerti siapapun kecuali oleh Junmyeon, hyung nya. Kembalinya Junmyeon kerumah sama artinya dengan keamanan dirinya. Aman dari seseorang yang seharusnya melindungi dirinya dan juga Hyung nya.

Rasanya pagi terasa lebih cepat di Korea dibanding di China. Biasa Junmyeon dapat menghabiskan malam dengan Yixing berjam-jam hingga Yixing tidak sanggup lagi melenguhkan desahannya. Kini Sehun sudah menggoyangkan pundaknya agar dia bangun.

" Hyung bangun. Apa badan mu tidak sakit tidur seperti ini?."

" Tidak.. Sudah biasa." Ucap Junmyeon

Junmyeon tidak sepenuhnya berbohong. Jika biasanya dia tidur menyamping dengan tangan sebagai alas bantal Yixing maka tidur duduk ditepian tempat tidur Sehun tidak menjadi beban untuknya. Tubuhnya sudah terbiasa.

" Bagaimana petukaran pelajarnya Hyung? Apa itu menyenangkan?." Tanga Sehun tersenyum

" Ya sangat menyenangkan. Aku banyak berjumpa hal-hal baru juga orang baru."

" Pasti sangat menyenangkan." Ucap Sehun murung

" Bagaimana sekolahmu?." Tanya Junmyeon mengalihkan pembicaraan

" Hmm beginilah. Kadang aku pulang lebih lambat. Tapi kurasa itu tidak membantuku." Ucap Sehun tersenyum miris

Junmyeon tahu maksud pembicaraan Sehun, dia pasti sengaja untuk tidak pulang cepat agar tidak bertemu dengan si pemukul. Tapi sepertinya hal itu juga yang membuatnya mendapat pukulan lebih banyak dari biasanya.

" Apa masih sakit?." Junmyeon mulai memelankan suaranya

Sehun tidak menjawab, sebagai gantinya ia memegangi uluh hatinya dan menunduk.

" Hyung.. Mau kah kau berjanji padaku?." Tanya Sehun

" Apapun itu."

" Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi, berjanjilah kau akan membawaku kemanapun kau pergi. Pergi dari rumah ini." Ucap Sehun

Junmyeon kembali memeluk adiknya, bagaimana bisa dia menerima tawaran dari sekolahnya untuk menjadi peserta pertukaran pelajar ketika ia mempunyai adik yang sangat membutuhkannya dirumah ini.

" Aku berjanji.. Aku berjanji akan membawamu kepada kebahagiaanmu Sehun." Ucap Junmyeon sungguh-sungguh

Bruuuk!

" Hei kalian berdua! Kau Junmyeon! Dari mana saja kau ha! Pertukaran pelajar?! Hal konyol apa itu anak sialan!... Sini kau!." Seorang laki-laki masuk melepas tali pinggangnya dan bergegas menghampiri Junmyeon.

Junmyeon langsung menjauhkan Sehun. Dan pasrah menerima pukulan demi pukulan dari tali pinggang tanpa menjawab amukan yang keluar dari mulut laki-laki itu.

" Anak sialan! Sudah kubilang itu tidak penting! Tanpa belajar kau sudah menjadi pemimpin perusahaan ini nantinya! Kau mau membuang-buang waktu saja ya!."

" Ayah hentikan.." Cicit Sehun

" Diam kau! Kau juga! Nanti tunggu giliranmu!."

" Jangan! Cukup aku! Berikan hukuman Sehun kepadaku." Ujar Junmyeon

" Kau! Kau menantangku ya! Kurang kuat ha?! Ini kurang kuat?!."

Jejak-jejak akibat tali pinggang mulai terlihat di baju putih Junmyeon, bercak-bercak darah mulai terlihat. Junmyeon mencoba menahan rasa sakitnya dengan melihat Sehun yang mulai menangis ketakutan. Membayangkan senyuman Yixing yang biasa membuat dirinya merasa nyaman. Sampai dirasa puas sang ayah keluar kamar Sehun dengan menendang pintu kamar.

" Hyung..." Sehun berlari mendekati Junmyeon memeriksa keadaannya

" Hun.. Tidak apa-apa asal kau tidak sakit."

" Hyung kenapa kita tidak bisa melawannya. Kurasa kita berdua bisa kabur dari ayah."

" Hyung dan kau tidak bisa. Ayah seperti ini karena ibu pergi. Kalau kita pergi juga, nanti ayah bisa mati. Apa kau mau jadi yatim piatu Hun?."

" Biarkan! Dia juga menginginkan kita mati hyung!."

" Stt Sehun.. Dengarkan hyung. Kita harus sabar, sampai ayah bisa mengikhlaskan kepergian ibu. Hun dengar hyung kan?."

" Baiklah Hyung." Sehun mengangguk mengusap air matanya.

" Bertahan lah. Sementara ini hyung akan kirimkan kamu ke China. Belajar lah disana hingga kau lulus dan kembali kesini."

" Lalu hyung?."

" Kau akan aman disana Hun. Ayah tidak akan mengikutimu sampai sana. Hyung sebentar lagi akan lulus. Hyung akan mempelajari perusahaan ayah dan mulai bekerja. Semoga dengan itu ayah akan mulai melunak kepada kita."

" Apa benar hyung tidak akan apa-apa."

" Hyung yakin. Kau tidak perlu khawatir."

" Apa hyung akan mengirimkan aku kesekolah tempat hyung bertukar pelajar kemarin?."

Junmyeon diam memandang adik satu-satu yang sangat disayanginya itu. Membayangkan jika Sehun berjumpa Yixing dan menyukainya. Apa dia akan sanggup bersaing dengan adiknya nantinya. Walaupun kemungkinan itu hanya 1% saja. Belum tentu selera dia dan adiknya sama. Tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga.

" Tidak Hun. Di tempat lain saja. Lebih bagus seperti itu." Ucap Junmyeon.

Sehun memeluk Junmyeon. Membiarkan tangannya terkena darah rembesan dari punggung Junmyeon yang terluka. Hyungnya memang paling terbaik dan orang yang sangat perhatian dengan dirinya. Entah dengan cara apa nantinya dia akan membalaskan semua pengorbanan hyung nya itu.

China

" Apa kau yang akan melatih dance di sekolah ini? Wah kau tinggi sekali."

Sehun menatap dua wanita yang sepertinya pengajar di sekolah barunya dengan tatapan heran. Walaupun kemampuan bahasa mandarinnya tidaklah begitu lancar, namun ia mengerti bahwa apa yang dikatakan bukanlah dimaksud untuk dirinya. Sehun menggeleng dan membentuk tangannya seakan pengganti untuk kata tidak. Sesungguhnya ia ingin bertanya dimanakah tempat asramanya. Namun untuk mengucapkannya terasa susah dengan bahasa yang masih terbata-bata.

" Kau anak baru?." Seorang laki-laki menatap Sehun dengan tatapan polos

Sehun diam, ingin menjawab namun takut salah berbicara.

" Tidak bisa bahasa mandarin ya?." Tanya pria itu lagi

" Bisa. Tapi. Sedikit."

" Asalmu darimana?."

" Korea.."

" Oh annyeong. Aku bisa bahasa Korea."

" Terimakasih Tuhan. Apa kau tahu asrama disini?."

" Hmm aku tidak tahu juga. Namun mereka pasti tahu." Ucap pria itu menunjuk dua wanita yang sedang berbisik-bisik.

Sehun tersenyum kecil, pesimis melihat orang satu-satunya yang semula dianggap bisa dihandalkannya sepertinya juga orang baru di tempat itu.

" Permisi. Aku adalah pelatih dance di sekolah ini. Aku dan dia sedang mencari asrama untuk kami."

Sehun membiarkan pria yang sedikit lebih kecil darinya berbicara. Setidaknya laki-laki itu bisa bertanya dibanding dirinya.

" Ayo ikut. Mereka akan menunjukkan asrama kita." Ucap pria itu menyadarkan Sehun.

Dengan anggukan serta mengangkat tas nya kembali, Sehun mengikuti langkah ketiga orang di depannya. Sekarang dia telah berada jauh dari rasa sakitnya. Walau harus meninggalkan Junmyeon hyung satu-satunya. Ia hanya berharap Junmyeon tidak mendapat pukulan-pukulan seperti dirinya. Setidaknya masa itu telah di lewatkan Junmyeon dahulu. Kini ayah hanya memukul dirinya. Entah mengapa seperti ada masa waktu untuk bertindak seperti itu. Dulu Sehun hanya melihat Junmyeon di pukuli tanpa bisa membantunya. Kini giliran dirinya yang berada di posisi Junmyeon.

Sehun beruntung Junmyeon tidak tutup mata dan membiarkan hal itu terjadi terus kepada dirinya. Junmyeon meminta untuk mengirimkan Sehun ke China dengan alasan agar Sehun dapat belajar dengan lebih giat dan mandiri. Alasan yang bisa diterima oleh sang ayah. Dengan jaminan Junmyeon mulai mempelajari tentang perusahaan hingga dia menyelesaikan pendidikannya dan menggantikan ayahnya. Mungkin tidak ada satupun yang bisa membayarkan jasa Junmyeon. Dia lebih memikirkan nasib dan kehidupan masa muda adiknya daripada dirinya sendiri.

" Hei kau melamun terus. Kita sudah sampai."

Sehun mengangguk dan masuk ke dalam, pria kecil itu ikut masuk kedalam dan meletakkan tas nya.

" Kau?." Tanya Sehun

" Aku Yixing. Dan aku rekan sekamar mu untuk tiga minggu kedepan." Ucap Pria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.

Sehun merahi tangan Yixing, senyum Yixing sangat hangat. Hal yang jarang dia dapatkan dahulu.

" Sehun."

" Kau mau mandi?." Tanya Yixing

" Nanti saja." Jawab Sehun

" Baiklah aku mandi dulu. Ini aku punya manisan, orang Korea menyukainya." Ucap Yixing memberikan sebungkus manisan kepada Sehun.

Yixing mengambil handuknya, jika di asrama lamanya dia akan mandi di tempat yang berbeda dari kamarnya. Maka disini mereka menyediakan kamar mandi di setiap kamar. Yixing masuk ke dalam tersenyum memandang wajahnya di cermin.

Entah mengapa bertemu dengan Sehun membuatnya merasa bahagia. Berbagi manisan seperti dengan Junmyeon dahulu rasanya seperti mengulang memori bahagia Yixing. Yixing yang sudah cukup lama menutup dirinya dari sosial akibat kecemburuan Junmyeon. Kini merasa sedikit bebas. Melihat Sehun yang kebingungan membuatnya ingat masa-masa dia menutup diri. Tampaknya Sehun seperti agak pemalu dan tidak membuka diri. Berbeda dengan Junmyeon yang langsung mengatakan ia menyukai Yixing di awal mula mereka berjumpa. Yixing membuka shower menenggelamkan diri sambil memikirkan Junmyeon. Sudah berapa minggu setelah kepergian Junmyeon, dan Junmyeon belum ada menghubunginya.

Sehun menyusun baju-bajunya di lemari dekat tempat tidurnya, inilah kamarnya untuk beberapa tahun kedepan. Tidak ada ancaman pukulan yang ia takutkan dari balik pintu kamarnya. Kini ia merasa sedikit bebas.

Teeet teeet

Sehun merahi ponselnya, tersenyum karena Hyung nya menelepon.

" Halo hyung."

" Bagaimana? Apa kau sudah di kamarmu?."

" Ne sudah hyung."

" Apa kau senang? Atau kau mau pindah kamar lagi?."

" Untuk saat ini rasanya kamarku sempurna hyung."

" Baiklah. Apa kau sendirian? Atau memiliki room mate?."

" Aku berdua tapi dia mengatakan tidak lama hanya tiga bulan saja."

Yixing keluar dari kamar mandi, Sehun terdiam karena topik pembicaraannya kini sedang berdiri di depannya tersenyum.

" Bagaimana orangnya? Apa dia menganggumu?."

" Er… manis.. Tidak maksudku semua berkelakuan manis disini." Ucap Sehun dengan malu

" Baiklah jika ada apa-apa hubungi hyung. Aku akan mengurusnya dari sini."

" Ne Hyung.."

Sehun mematikan sambungan teleponnya. Yixing masih mengeringkan rambutnya. Butiran-butiran air menetes dari rambut dan ujung kakinya. Sehun memandanginya dengan tatapan kagum. Yixing tidak melakukan apapun namun ia tampak indah di depan Sehun.

" Kenapa? Apa tadi hyung mu yang menelepon?." Tanya Yixing merasa Sehun terus memperhatikannya

" Eh iya.. tadi hyungku." Ucap Sehun sambil mengalihkan tatapannya

" Oh baiklah."

" Apa kau anak baru juga?." Tanya Sehun mencari pembicaraan

" Tidak. Aku akan melatih dance disini."

" Apa disini ada pelajaran dance?." Tanya Sehun tertarik

" Ne, kalau kau mendaftarkan diri. Kurasa kau bisa masuk ke dalam club dance ."

" Oh.."

Sehun kembali menyibukan diri dengan baju-bajunya. Membayangkan laki-laki manis di depannya menari dengan lincah.

" Mungkin aku akan mendaftar nanti." Sambung Sehun

Yixing tersenyum dan mengangguk setuju dengan apa yang dibicarakan Sehun. Tampaknya laki-laki pemalu di depannya mulai sedikit demi sedikit membuka dirinya.

Setelah perkenalan dan sedikit basa basi Yixing memulai pengajaran dance nya. Ia mendapat satu ruangan penuh kaca dan sedikitnya ada 30 siswa yang akan di ajarkannya. Setelah sedikit teori dan praktek Yixing mulai berhenti. Pembelajarannya memakan waktu dua jam. Maka selama itu dia tidak pernah berhenti untuk bergerak dan berbicara. Siswa-siswa yang dia ajarkannya menjadi semangat karena perkataan-perkataan Yixing. Yixing mematikan suara musik, mengelap keringatnya. Satu persatu anak didiknya mulai keluar dari ruangan. Yixing memperhatikan seorang laki-laki yang menatapnya dengan tatapan tajam. Yixing menghentikan minumnya, tatapan itu sedikit mengingatkannya kepada Junmyeon.

" Sehun… Kau kemari."

" Ne. Aku jadi mendaftar." Ucap Sehun memperhatikan selembar kertas.

Yixing tersenyum dan Sehun membalas senyumannya. Pandangan tajam nya hilang di mata senyumnnya. Rasanya Yixing ingin menertawakan dirinya. Bagaimana bisa dia membayangkan Junmyeon di orang-orang yang di temuinya. Rindukah?. Entahlah.

" Aku tidak melihatmu tadi." Ucap Yixing

" Ne, Kurasa aku lebih baik di belakang. Ini hal baru untukku." Ucap Sehun

" Lalu kenapa kau masuk ke club ini?." Tanya Yixing lugu

Kurasa karena mu. Gumam Sehun dalam hati. " Entahlah…" Jawab Sehun

" Haha baiklah. Aku akan mengajarimu sampai kau bisa ne. Ayo kita pergi makan." Ucap Yixing menarik tangan Sehun.

Junmyeon melirik ponselnya beberapa kali, ini yang selalu di lakukannya setiap hari. Menahan diri untuk tidak menghubungi Yixing. Bukan tanpa alasan mengapa dia memutuskan untuk tidak menghubungi Yixing semenjak kepulangannya ke Korea. Junmyeon tidak tahan mendengar suara Yixing, ia takut Yixing mengatakan rindu kepadanya. Ia cemas jika hanya karena itu dia sanggup pergi meninggalkan Korea merusak rencananya membuat Sehun nantinya harus kembali ke nerakanya.

Untuk saat ini sang ayah mulai menerima kepergian Sehun. Junmyeon menyibukkan ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan bisnis nya. Jika ia pergi juga, bukan tidak mungkin Sehun lah yang akan menjadi korban nantinya.

Junmyeon meletakkan kembali ponselnya, semua rasa rindu Yixing kini hanya bisa disalurkannya kepada Sehun. Menelepon Sehun sama dengan mengelabui hatinya seakan dia menghubungi Yixing.

Sehun tidak bisa fokus ke makanan di depannya jika Yixing terus makan dengan wajah imutnya. Yixing memang tidak sadar, apa yang dilakukannya kini benar-benar membuat Sehun terpesona. Setelah mengajar dance yang lama, tampaknya makan lah yang dibutuhkan Yixing. Ia makan dengan semangat hingga butiran nasi tertinggal di sekitar mulutnya.

Sehun merahi butiran nasi dan membersihkan mulut Yixing dengan tangannya. Yixing yang langsung menghentikan makannya dibuat malu atas kelakuannya sendiri.

" Biar aku saja sendiri." Ucap Yixing malu

" Sudah bersih." Ucap Sehun

" Hmm Terimakasih. Kau tidak makan?." Tanya Yixing lagi

" Oh iya." Sehun mulai memakan nasi nya.

" Kau mau jus? Aku akan mengambil jus disana." Ucap Yixing semangat

" Kau belum kenyang?." Tanya Sehun

Yixing menggeleng dengan wajah polosnya. Sehun menahan keinginan untuk tidak mencubit pipi Yixing.

" Boleh." Ucap Sehun

Yixing pergi dengan semangat meninggalkan Sehun yang sudah salah tingkah dengan kelakuannya.

Teeet… teeeet

" Hyung.."

" Kau sedang apa Hun?."

" Aku sedang makan. Hyung baru pulang sekolah ne?."

" Tidak. Hyung sedang di perusahaan ayah."

" Oh." Sehun merasa tidak enak, karena dirinya lah hyung nya harus belajar lebih lama dan lebih banyak lagi.

" Hei. Kenapa suaramu? Apa semuanya baik-baik saja?." Tanya Junmyeon lagi

" Ne hyung. Hyung.. gomawo…"

" Hun.. Hanya ini yang hyung bisa bantu mungkin…."

" Sehunnie! Jus mu." Teriak Yixing

Antara Junmyeon dan Sehun sama-sama terdiam. Jika Sehun terdiam karena kegugupan dirinya kembali seiring dengan kedatangan Yixing, maka Junmyeon diam karena merasa mengenal suara teriakan nama adiknya.

" Siapa itu Hun?." Tanya Junmyeon hati-hati

" Er… Malaikat." Jawab Sehun

Junmyeon masih diam tidak mengerti.

" Maksudku Angel… ya Angel." Ucap Sehun

" Oh.. Apa adikku ini sudah mulai jatuh cinta pada teman barunya?." Tanya Junmyeon mengalihkan pikirannya, bagaimana bisa dia berpikir mendengar suara Yixing. Sedangkan sekolah Yixing dan Sehun berbeda. Apakah ini karena rindunya?. Junmyeon pun tidak tahu.

" Entahlah hyung… Mungkin." Ucap Sehun

" Haha. Jika dia terbaik untukmu kejarlah Hun."

" Tapi sekolahku?."

" Hyung menyuruhmu mengejar orang yang kau cintai. Bukan ku suruh kau nikah lari." Ucap Junmyeon geli menghadapi adiknya yang lugu

" Hehe baiklah hyung. Kau tahu kan ini benar-benar baru untukku. Kurasa aku akan sering meminta bimbingan darimu hyung." Ucap Sehun

" Hyung akan bantu. Anything for you lil brother."

" Ne. Gomawo hyung."

Yixing menyelesaikan sedotan terakhir jusnya. Sehun sudah selesai menelepon yang tampaknya masih orang yang sama yang sering meneleponnya. Kini laki-laki di depannya tersenyum penuh semangat sambil memakan kembali nasi nya.

" Wah kau senang sekali. Apa itu hyung mu?."

" Ne. Suatu saat kau harus berjumpa dengannya. Dia orang terbaik di dunia ini." Ucap Sehun

" Haha baiklah Sehun. Cepat selesaikan makananmu, lalu antar aku ke perpustakan ne." Pujuk Yixing

" Untuk apa?."

" Karena aku tidak masuk sekolah. Maka aku harus belajar sendiri. Karena itu aku memerlukan perpustakaan." Ucap Yixing

" Hmm.. Baiklah. Kebetulan kelasku sudah kosong." Ucap Sehun.

" Yay! Gomawo Sehunnie."

Sehun kembali tersenyum melihat Yixing, rasanya selama ia lahir di dunia ini. Baru kali ini dia sering tersenyum. Dan itu disebabkan oleh seseorang di depannya.

TBC

After a loong time…

Hahahaha

Maafkan daku menggantungkan cerita ini sekian lama T_T

Mohon maaf lahir batin ya sekalian hihihihi

Memang tak betol author nya nih hahahahah