Geografi Time
Rate: T
Genre: Romance
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, DazYosa nyempil, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat untuk kesenangan pribadi serta diikutkan pada event "AtsuKyou week 2019" di Tumblr.
Day 2: School/College!AU or Moonlight
Senja terasa mesra di pukul empat sewaktu bubaran sekolah. Seragam putih abu-abu memadati mal-mal kota dengan jepretan selfie, tawa mendominasi, obrolan gebetan, olok-olok para sahabat, kencan pertama, dan berbagai sukaria yang menyumbang warna pada kota ini–membingkai semua itu dalam kacamata jingga yang juga, memperhatikan sudut-sudut mungil di pelosok cerita.
Kesenangan tersebut bukanlah universalisme agar kota ini bukan si monoton yang menjenuhkan. Sekolah yang para remaja abu-abu itu tinggalkan juga memiliki cerita di ruang kelas, lapangan basket, perpustakaan atau koridor dengan masing-masing kemenarikan yang lucunya, bisa begitu kebetulan.
TAP! TAP! TAP!
"GAWAT! AKU KETIDURAN!"
Misalnya saja di koridor ini, seorang remaja tengah berlari menyadari dirinya ketiduran. Buku cetak geografi di pelukannya menjadi alasan terbesar, untuk rambut dan napas yang berantakan sewaktu tiba di kelas XI IPS-2. Namun, panik sekalipun ia sempat mengetuk pintu bahkan menundukkan kepala. Langkahnya barulah santai, ketika sesosok gadis familier tertangkap dalam pengelihatan.
"Permisi. Naomi tahu Dazai ke–?" Gadis itu menengok tanpa kata. Wajahnya datar menyambut keterkejutan dari sepasang nila yang mengerjap-ngerjap.
DEG! DEG! DEG!
Ah. Pertanyaannya dilenyapkan semburat merah yang tahu-tahu menghangatkan pipi. Setelah salah sangka, dan bertemu gebetan di sini telah menjelaskan bagaimana jantungnya berpacu dalam euforia–ketika matanya tenggelam lagi pada cinta yang selalu pertama tanpa mengetahui ujung.
"Ma-maaf, Kyouka. Kupikir Naomi." Salahkan rambut mereka yang persis ketika diurai. Terlebih jarak pandangnya tadi terbilang jauh sehingga mudah terkecoh.
"Atsushi demam? Wajahmu merah sekali." Punggung tangannya menyentuh pipi sang pemuda. Siswa beridentitas lengkap Nakajima Atsushi itu buru-buru memalingkan wajah, sebelum jantungnya hancur oleh detaknya sendiri.
"E ... e ... e-enggak ... kok! Kyouka ... lagi ngapain di sini?" Telunjuk Atsushi saling menempel guna mengalihkan perhatiannya. Mau sebahagia atau meledak sekeras apa pun, mendadak bertemu usai terpisah setengah tahun tetap saja sulit.
"Dazai menyuruhku menunggu di sini, karena Atsushi akan datang."
"Eh? Aku mencarinya untuk mengembalikan cetak geo–" SREK! Suara kertas jatuh menginterupsi penjelasannya oleh keheranan. Atsushi mengambil notes tersebut, dan sepasang nila terbelalak mendapati pesan yang ditulis seenak jidat.
Pake aja bukunya buat ngajarin Kyouka~ Terus, jangan lupa 'jurus pamungkas' nya!
-Dazai Osamu-
Helaan napas lolos dari bibirnya yang mengering. Ternyata untuk momen ini Dazai menitipkan cetak geografinya dengan berdalih, 'tugas kemarin ketinggalan'. Padahal jika diingat-ingat, Pak Nikolai tidak memberi mandat semacam itu, dan mereka beda kelas omong-omong.
Atsushi merasa bahagia atas kebodohannya yang mau-mau saja dikibuli Dazai. Sekali ini saja, menjadi si polos yang mudah diperdaya tidak melulu merugikan.
"Bagian mana yang enggak Kyouka paham?" Kursi di sampingnya Atsushi bawa ke depan meja. Mereka duduk berhadap-hadapan membuat si pemuda perak kian canggung.
"Iklim Schmidt-Ferguson." Latihan soal diberikan pada Atsushi yang sejenak menimbang-nimbang. Untungnya model soal ini baru dijelaskan kemarin.
"Pertama-tama Kyouka tahu rumus mencari iklimnya apa?" Gelengan diberi sebagai jawaban. Atsushi menulis rumus yang dimaksud di bawah soal.
"Rumus mencarinya adalah bulan kering dibagi bulan basah dikali seratus persen. Tetapi, karena di soalnya ada tabel, Kyouka harus tahu dulu cara membedakannya."
"Caranya bagaimana?" Mendadak Kyouka memajukan kepala. Napas mereka terang-terangan beradu membuat jantung Atsushi tercubit akan keimutannya.
"B-bulan ... bulan kering kurang dari enam puluh. Kalau bulan basah ... lebih dari ... seratus." Kepalanya dimiringkan ke kiri dengan suara yang mengecil akhir. Keseriusan Kyouka menjadi-jadi sampai perutnya menyentuh meja, dan napas Atsushi kian terdesak.
"Lebih dari berapa?"
"Se ... sera ... tus ..." Kedua tangan Atsushi dinaikkan menutup wajah. Sela-sela jari menjadi batas sekaligus penghubung, antar samudra dan nila yang membentuk benang merah kecil untuk menjembatani rasa.
"Lalu yang tujuh puluh?"
"Itu ... bulan lembap. Tidak masuk dalam rumus."
"Berarti sudah bisa dihitung?" Perlahan-lahan Kyouka menarik tubuhnya. Jarak mereka berangsur normal, dan pandangan Atsushi kembali fokus pada satu titik.
"Y-ya. Tinggal Kyouka hitung jumlah bulan basah dan keringnya. Jangan lupa dikali seratus persen."
Ketika hening mampir, dan guratan pensil mengalun lembut di tengah mereka, saat itulah keseriusan Kyouka berbicara dengan caranya sendiri. Atsushi betah sampai menopang dagu, dan sedikit memiringkan kepala. Tersenyum menontoni tulisan mungil yang diam-diam, ia bahasakan dengan cinta melalui sunyi paling rahasia.
Sementara di seberang meja, Kyouka tidak betul-betul larut dalam sibuk. Cara Atsushi memperhatikan gerak-geriknya dengan lembut, penuh rasa, dan menjaga fokus, diam-diam pula dibahasakan dengan cinta oleh sepasang biru samudra-nya. Pensil sengaja bergerak lambat untuk memenjarakan waktu yang ia harap, tidak cepat-cepat pamit.
"Kyouka tahu?" Semenjak Atsushi menemui caranya mencintai Kyouka, ia berhenti meragu barang sedetik. Tatapan mereka bertemu dalam kedekatan yang lebih rileks, dan menjadi tenang dibanding sebelumnya.
"Tentang apa?" tanyanya meletakkan pensil di meja. Lembar soal disodorkan pada Atsushi yang mengangguk mantap, sekaligus mengacungkan jempol atas pekerjaan Kyouka.
"Hasilnya satu persen. Berarti masuk ke tipe iklim D, sedang."
"Tipe iklim?" Untuk menjawab Kyouka penjelasannya telah ditulis pada kertas soal. Gadis enam belas tahun itu mengangguk-angguk memahami maksud yang diselipkan.
"Terus yang Atsushi tadi bilang, memangnya soal apa?"
"Mempelajari materi ini membuatku teringat akan sesuatu yang sudah lama. Hampir setengah tahun kupendam, karena kita tidak lagi sekelas."
"Ceritakan saja. Aku pasti mendengarkan."
"Bagiku, mau bulan kering atau basah iklim cintaku pasti selalu mencapai tipe D. Kyouka tahu kenapa tidak sampai H?" Kertas soalnya dilihat lagi untuk memahami kalimat Atsushi. Menurut Schmidt-Ferguson, tipe iklim D adalah 'sedang', sementara H berarti 'sangat kering'.
"Memangnya kenapa?"
"Soalnya aku ingin mencintai Kyouka dengan sedang-sedang saja, tetapi konsisten dalam dua belas bulan."
BRAKKK!
Kursi yang Kyouka duduki terjungkal ikut terkejut. Merah bersemi elok menyelimuti putih di sepasang pipi yang sepenuhnya tenggelam, menuju senja paling warna tanpa langitnya tahu, cara meloloskan diri dari keindahan tersebut.
"A-Atsushi!"
"I-iya?!" Spontan Atsushi turut berdiri. Kursinya ikut terjungkal gara-gara dikejutkan oleh tindakan sang pemuda.
"Di ... di luar itu padat ... ma-maukah kamu transmigrasi ke hatiku?!" Entah bermaksud apa Kyouka justru membungkukkan badan. Atsushi juga mengikuti akibat tertular salah tingkah sang gadis.
"Te-te ... te ... tentu saja aku mau! Meskipun kita tidak bertemu setengah tahun, cintaku seperti siklus air yang akan selalu diperbaharui!"
Kesunyian kelas memperkeras suara mereka hingga berkali lipat. Kini selain merah, biru dan jingga di langit-langit hati, keduanya memutuskan diam untuk memperdengarkan lagu masing-masing.
Lagu yang sekali tercipta, namun berputar di antara 'selalu' dan 'saling' tanpa akhir.
Tamat.
Omake:
Hanya asyik berdua tidak menyadarkan mereka, bahwa Yosano dan Dazai bersembunyi di balik pintu kelas. Handycam di tangan Dazai telah menyala sejak Atsushi masuk kelas sampai mengakui perasaan.
"Rencana kita sukses~ Gombal buatanku keren, bukan?" Mereka tos sebagai perayaan awal. Usai ditagih PJ alias pajak jadian, keduanya bisa makan kenyang di warung bakso Mamang Tachihara.
"Ya. Boleh juga. Meski punyaku tidak kalah keren."
"Setelah transmigrasi, aku ingin mencintai Yosano seperti rotasi bumi. Terus berputar selama tata surya hidup, dan inti buminya hanyalah kamu~" Belum puas menontoni mereka, Dazai turut menggombal yang Yosano tanggapi dengan senyum menggoda. Balasan sudah dipersiapkannya untuk permainan ini.
"Meski cintaku adalah iklim tipe D yang sedang-sedang saja, tetapi cintaku tidak terbagi dalam garis Weber maupun Wallace, khusus untukmu seorang."
Siapa sangka kebahagiaan sahabat mereka bersifat menular.
Tamat.
A/N: Sebenernya ide ini mau dipake buat challenge "lembar buku pelajaran". tapi ga tau juga kapan munculnya jadi ya ... pake ajalah buat fic ini. aku rada bingung mau bikin apa soalnya, dan atsushi yang ngegombal di sini rada aneh ya? wkwkw.
Oke thx buat yang udah baca, sekedar lewat, fav/follow atau review. ku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~ dan enggak sampai jumpa di day 3, aku yakin bakal telat sehari hehehe~
