Nastar
Rate: T
Genre: Friendship
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango
Warning: OOC, typo, soukoku nyelip, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat untuk kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "AtsuKyou week 2019" di tumblr.
Day 3: Job AU/Atsushi Birthday
Terhitung tiga hari semenjak kepindahan keluarga Nakajima ke kompleks 'Stray Dogs'. Kalender menunjukkan '6 Mei' di Senin yang cerah ini sebagai hari pertama puasa. Blok H yang mereka tinggali tampak sepi, tanpa anak-anak bermain di halaman depan yang biasa Atsushi tonton lewat jendela–adalah putra tunggal dari Nakajima, dan bocah sebelas tahun itu tengah asyik menonton televisi di ruang tamu.
"Atsushi! Mama boleh minta tolong?"
"Iya, Ma. Bentar!" Televisi langsung dimatikan mendengar panggilan mama dari dapur. Atsushi berlari kecil, dan seloyang kue marmer menyambut pandangannya yang berbinar-binar.
"Kita makan kue?"
"Yang ini untuk keluarga Izumi. Buat kita sudah mama taruh di kulkas." Bola mata nila-nya mengerjap-ngerjap sembari memiringkan kepala. Loyang marmer dan wajah ibu dipandangnya bergiliran, dengan menempelkan ibu jari serta telunjuk di dagu.
"Tolong berikan kuenya ke keluarga Izumi."
"A-apa enggak apa-apa?"
"Tenang aja. Atsushi enggak bakal diculik, kok Alamatnya sudah mama tuliskan juga. Kamu enggak akan tersesat." Rambut perak putranya dielus sayang. Dua hal di atas memang mengerikan, tetapi bertemu orang-orang asing jauh lebih menakutkan.
"Ta-tapi ... aku enggak pernah keluar tiga hari ini."
"Makanya Atsushi sekalian cari teman. Jam segini biasanya pada main bola di lapangan kompleks."
Sebagai anak baik–dan gampang luluh kalau mama memelas, jelas tabu untuk mengecewakan beliau yang menyayanginya. Maka, Atsushi mengangguk pelan membuat senyuman mama melebar. Kue marmer tadi segera dibungkus menggunakan boks putih. Tak ketinggalan juga, selembar kertas diserahkan pada Atsushi sebelum putranya berangkat.
"Aku pasti dapet temen, terus dikenalin ke mama."
"Bagus, bagus. Harus bersemangat. Mama mengandalkanmu. Hati-hati di jalan, ya, sayang."
Kening Atsushi dikecup lembut, dan ia membalasnya dengan mencium tangan mama. Ibu-anak itu melambai-lambai sejenak, sebelum putranya betul-betul meninggalkan rumah. Suasana sepi di luar kompleks membuat Atsushi lebih tenang. Ketakutannya mendadak lenyap yang ditandai senandung riang sepanjang perjalanan.
"Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya~" Lagu ini dulunya tenar sewaktu Atsushi masih tinggal dekat pasar. Odong-odong samping rumah suka menyetelnya, meski dia hanya hafal sedikit.
"Selanjutnya nyanyi apa, ya?" Langit mulai jingga ketika Atsushi mendongakkan kepala. Sayup-sayup pula, teriakan anak-anak bermain sepak bola mulai riuh dari sini.
"Oh iya! Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarung luas samu-"
Langkah bersemangatnya mendadak kuyu mendapati dua orang preman duduk-duduk di gelondongan. Usia mereka lebih tua, dan sedang merokok ditemani kopi. Mendadak lupa lirik, ketakutan sekaligus ditatap balik, Atsushi memutuskan melawan arah walau bahunya terlanjur ditarik. Intimidasi cowok berambut jingga itu sukses menusuk Atsushi yang membeku di tempat.
"Hoi," panggilnya dengan ekspresi garang membuat Atsushi terisak. Boks kue marmer di genggamannya buru-buru ia peluk agar tidak direbut.
"Me-menjauh! Na ... nanti ... nanti aku ... teriak!"
"Mau teriak apa lo emangnya?"
"T-t-t ... te ... teriak ... minta ... tolong ..."
"Coba balik badan terus teriak. Gue mau denger." Susah payah memberanikan diri Atsushi kian ciut mendapati seringai lebar sang preman. Meski tinggi mereka nyaris sepadan, auranya berbeda 180 derajat.
"To-to ... to ..."
"Apa?"
"Hiks ... jangan ganggu ... hiks ... ka-kalo kamu mau kue marmer, na-nanti ... nanti kita buat ... bareng ..."
"Pfftt ... hahaha ... oi, Dazai, cepet kemari. Ini bocah kocak banget." Preman yang satunya lagi menghampiri dengan langkah malas. Wafer cokelat lonjong -yang Atsushi kira rokok, tampak bertengger di giginya tanpa sedikit pun dikunyah.
"Anak baru, ya? Kabarmu keliatannya buruk abis ditakutin sama si cebol," balas preman yang dipanggil Dazai itu. Senyum usilnya dihadiahkan jitakan oleh sang rekan.
"Umur gue dua belas tahun! Masih masa pertumbuhan! Lo enggak usah sombong mentang-mentang lebih tinggi sedikit!"
"Chuuya mau ngajak aku berantem?"
"Bukannya lo sendiri yang mau? Hah?!" Tatapan mereka beradu sengit membuat Atsushi lebih panik dari sebelumnya. Pesan mama terngiang di benak, karena situasi ini benar-benar pas dengan nasihat tersebut.
"Ja-ja ... ja ..."
"JANGAN BERTENGKAR!" Teriakan Atsushi menghentikan mereka yang saling menjauhkan tinju. Masih dengan mata terpejam, bocah SD itu berniat melanjutkan nasihat mama.
"Nanti ... nanti dunia meledak ... kalau kalian ... bertengkar ... kita ... entar ... tinggal ... di ... mana?'
"Pffttt ... dunia meledak katanya. Bener katamu, dia lucu~" Perlahan-lahan Atsushi membuka mata, dan uluran tangan Dazai menyambutnya bersama seulas senyum. Chuuya sampai menepuk punggung Atsushi agar dia berhenti malu-malu.
"Namaku Dazai, dia Chuuya. Kalo kamu?"
"Nakajima ... Atsushi ..." Mereka berjabat tangan sebagai tanda pertemanan. Atsushi pun melakukannya dengan Chuuya, dan senyum si preman jauh lebih bersahabat.
"Omong-omong lo tadi nyanyi lagu 'Nenek Moyangku'?"
"E-eh ... iya ... Kak Chuuya tau?"
"Mau nyanyi bareng? Gue yang main gitar."
Berjaga-jaga biar tidak kena pelotot, Atsushi mengiyakan permintaan Chuuya yang antusias menariknya ke lapangan. Mereka bertiga duduk di bangku kayu, sembari menyaksikan pertandingan bola yang berat sebelah. Ketakutan Atsushi lenyap tatkala gitar mulai mengiringi nyanyian. Pelukan di boks kue marmer juga mengendur, karena ia asyik mengikuti irama yang tak disangka-sangka, begitu merdu membuat nyaman.
"Ternyata enggak semua preman serem." Usai lagunya tiba di penghujung Atsushi berkomentar. Padahal di sinetron erceteih atau indosiaran, preman itu digambarkan bertato, suka merokok, minum-minuman keras sama memalak uang.
"Sayangnya aku bukan preman~ Kalo Chuuya, sih, lagaknya doang begitu tapi pecinta kucing."
"Berisik lo idiot perban!"
"Ssttt ... mulutnya dijaga. Atsushi itu masih polos. Nanti kalo mamanya tau kamu ngomong aneh-aneh ke dia, entar mamanya nangis terus BUMMM! Rumah Atsushi banjir. Chuuya mau tanggung jawab?"
"Be-beneran?" Mata nila Atsushi berkaca-kaca menanggapi penjelasan Dazai. Membayangkan rumahnya banjir, dan televisi di ruang tamu tenggelam jelas bukan hal baik.
Sekarang, siapa coba yang seharusnya jaga mulut? Saat mereka asyik bercengkerama–sementara Chuuya sibuk menenangkan Atsushi, seorang perempuan bertopeng menghampiri ketiganya yang seketika menengok. Dazai dan Chuuya langsung memberi hormat begitupun Atsushi, meski ia sebatas ikut-ikutan sembari mempertanyakan sosok tersebut.
"Yo, Kyouka~ Baru selesai patroli?" Anggukan diberi sebagai jawaban. Telunjuk cewek itu mengarah pada Atsushi bikin yang bersangkutan gelagapan.
"Kalo dibilang anggota baru enggak juga. Belum ditawarin soalnya."
"Kak Dazai ngerti?" Dia tidak bicara, lho, padahal. Chuuya bahkan menggidikkan bahu ketika Atsushi bertanya-tanya kepadanya.
"Jelas~ Maunya bos pasti aku ngerti."
"Oi, Dazai. Kita harus ke masjid sekarang. Entar Ustad Kunikida nyariin."
"Heee ...! Males ah. Anggap aja aku ikut bareng kamu~" Cewek yang dipanggil Kyouka menggeleng cepat pada Dazai. Remaja serba cokelat itu menghela napas, dan langsung menyusul Chuuya yang sudah di berdiri di gerbang depan.
"Emangnya ada apa?"
"Kemarin Chuuya gelut sama anak santri Ustad Kunikida. Tapi aku disuruh bersih-bersih juga, parah banget emang."
"Lo ngebuang kelereng si bocah sampe ke selokan di depan Pak Ustad! Gimana kagak mampus coba?!" Jelas tidak mengherankan. Sekarang Atsushi jadi tahu, kalau bertemu Ustad Kunikida harus hati-hati supaya tidak dihukum membersihkan masjid.
"Oh iya! Kami titip Kyouka ke kamu~ Ajak dia maen aja atau anter pulang."
"Ehhh?! Tunggu, Kak Dazai!"
Terlambat. Mereka sudah pergi sebelum Atsushi bisa menyusul. Kyouka langsung menggenggam tangan bocah sepantarannya itu tanpa permisi. Atsushi yang terkaget-kaget hanya bisa mengekori di belakang, karena pertanyaannya selalu terabaikan. Angin mulai dingin ketika langit di atas sana memudarkan jingga. Mendung perlahan terbit, bertepatan dengan tibanya mereka di pinggir sungai di luar kompleks perumahan 'Stray Dogs'.
"Kita ... ngapain ... ke sini?" tanya Atsushi dengan napas terengah-engah. Boks kue marmernya diletakkan di samping, sementara ia duduk menemani Kyouka.
Air di tangannya diperlihatkan pada Atsushi yang mengangguk paham. Menilik sungai tersebut cukup jernih, ia turut minum guna mengurangi lelah. Kesegaran yang membasahi kerongkongan disambung dengan menidurkan tubuh pada rerumputan, dan menikmati angin sepoi-sepoi membelai kulit. Semua akan lebih lengkap apabila senja belum pamit ditambah udara menghangat.
"Larimu cepet banget! Aku sampe kaget."
"U-uhm ... aku juga kaget kamu bisa mengikuti."
"Salam kenal. Namaku Nakajima Atsushi. Kamu?"
"Izumi Kyouka." Mendengar nama 'Izumi' rasanya familier. Tetapi, Atsushi lupa bahkan menelantarkan boks kue marmer di samping. Pertanyaan di kepalanya sudah membeludak memaksa dikeluarkan.
"Kak Dazai dan Chuuya itu temen Kyouka?"
"Kami teman satu sekolah. Mereka kelas enam." Beda setahun ternyata. Berarti dibandingkan preman, mereka lebih seperti anak badung yang hobi mengganggu.
"Emangnya kalian sekolah di mana? Aku di SD Negeri Satu." Mata biru dongker Kyouka mengerjap-ngerjap kaget. Tiba-tiba ia mengangguk pada Atsushi yang masih mencerna maksudnya.
"Ki-kita satu sekolah?!"
"Atsushi kelas berapa?"
"Kelas lima B. Aku baru pindah tiga hari lalu."
"Aku di kelas lima A. Minggu depan ayo main bareng!" Antusiasme sama-sama mereka tunjukkan lewat anggukan. Mengantar boks kue marmer ke keluarga Izumi ternyata-
Ah, iya! Boks kue marmer! Atsushi langsung bangkit dengan banjir keringat dingin. Entah pukul berapa sekarang, mama pasti khawatir karena anaknya belum balik-balik, atau mengira Atsushi diculik sampai menghubungi polisi. Namun, langkahnya dicegat Kyouka yang mengajak dia berlindung di bawah pohon apel. Hujan langsung deras membuat Atsushi tercengang ketika menontoni.
"Keren! Kyouka bisa ngeramal cuaca?!" Macam beem ... beem ... apalah itu! Atsushi lupa karena namanya terlalu panjang, dan siaran mereka membosankan walau mama bilang penting.
"Hanya firasat. Dazai sering melakukannya kalau kami main ke sini."
"Jadi kamu belajar ngeramal cuaca dari Kak Dazai?!" Ketertarikan Atsushi pada hal semacam itu membuat Kyouka tertawa kecil. Melihatnya begitu jelas membingungkan, walau keheranan Atsushi tidak digubris.
"Kenapa Atsushi tiba-tiba berdiri tadi?"
"Oh, itu. Aku mau nganter kue ini ke keluarga Izumi." Kedua tangan Kyouka diulurkan pada Atsushi yang menolaknya. Dia tahu niat sang teman baik untuk bantu mengantarkan. Tetapi, sudah jelas Atsushi harus bertanggung jawab atas permintaan ibu.
"Namaku Izumi Kyouka."
"Iya. Aku inget, kok, namamu Kyouka."
"Izumi."
"Setelah hujannya reda akan kuantarkan sendiri. Kyouka enggak perlu repot-repot membantu."
"Margaku Izumi."
"Aku emang mau mengantarkannya ke keluarga Izumi, dan namamu Izumi Kyo–"
Boks kue marmer dan wajah Kyouka dipandang bergantian. Tanpa melanjutkan perdebatan mereka, Atsushi langsung menyerahkan lantas membelakangi Kyouka. Bocah perak itu bahkan meringkung, saking enggannya membalas tatapan Kyouka yang bertanya-tanya–apa Atsushi mendadak sakit perut atau kelaparan sampai mencari cacing?
"Demam?" tanya Kyouka ikut meringkuk. Atsushi langsung menjauh saat bahu mereka bersinggungan.
"Kamu lapar?" Belum ada respons. Atsushi bahkan tidak menyentuh cacing yang menggeliat lucu untuk menggoda pemangsa.
"Perutmu sa–", "A-aku ... ma-maaf buat yang tadi!" Wajahnya merah padam akibat malu, dan Atsushi pikir pemandangan ini memalukan sehingga ia menyembunyikannya dari Kyouka.
"Untukmu." Bahu temannya itu dicolek pelan. Atsushi sedikit melirik mendapati dua buah nastar di sapu tangan Kyouka.
"Kyouka enggak mau?"
"Belum waktunya berbuka. Atsushi makan saja." Meskipun ragu-ragu ia tetap mengambil sepotong dan menggigit kecil. Asam nanas berpadu lembut adonan mengejutkan lidah Atsushi yang langsung melahapnya, lantas kecewa karena lenyap begitu saja.
"Enak?"
"Enak, kok ..."
Mereka terlindungi, tetapi hujan yang lain turun membasahi mata Atsushi. Ingusnya pun naik-turun membuat Kyouka tertawa kecil lagi, dan mengelus rambut peraknya agar Atsushi berhenti menangis.
"Nanti mau berbuka di rumahku? Chuuya dan Dazai juga ikut."
Anggukan Atsushi melanjutkan hening di tengah mereka sampai hujan reda.
Tamat.
A/N: YEY ATSUSHI SELAMAT ULANG TAHUNNN! Anggap aja ya nastar dari kyouka itu kado, oke? OKE! ini mah maaf banget dah, aku salah baca ternyata WKWKW. padahal udah bener mau bikin bakery!AU aja, tapi malah jadi childhood. pengen ganti ide ini tapi sayang, jadi ... yasudah anggap aja atsushi ultah oke? (meski ga ada nyambung2nya sama cerita ultah)
Oke thx buat yang udah baca, fav/follow. aku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~
