Crepes Raksasa Cokelat

Rate: T

Genre: Romance

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, gaje (apalagi percakapannya), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "AtsuKyou week 2019" di tumblr.


Day 4: Crepes/Soulmate!AU


Siang hari di waktu guru rapat adalah kebahagiaan bagi para murid yang dipulangkan cepat. Dengan berangkai-rangkai ekspektasi yang hendak diwujudkan, mereka memanjakan diri dalam masa muda yang hanya sekali. Mau mal, game center, lestoran cepat saji atau menikmati gim di rumah, semua memiliki nilai tersendiri dan sayang, apabila terlewatkan begitu saja.

Kesenangan masa muda memang aneka ragamnya. Namun, hal paling berkesan di sepanjang seragam pelaut SMA tentu saja memiliki pacar–sulit dipungkiri bahwa jiwa remaja adalah petualang liar, dengan seribu jenis cara untuk meraih esok menggunakan tinju sendiri, dan memuaskan hari bersama rangkulan para sahabat.

"Jadiii~ Atsushi-kun mau ke mana setelah ini?" Sohibnya menggoda merah menyala di pipi sang pemuda perak. Dengan telunjuk ramping yang menggemaskan, ia menggaruk dagu akibat salah tingkah.

"Dazai-san pasti tahu ..."

"Enggak, tuh~ Kasih tahu, dong." Cowok yang dipanggil Dazai kian parah memperagakan keisengannya. Kini selain ekspresi, telunjuknya ikut meledek dengan mencolek pipi Atsushi.

"Ah, ya, itu ... bu-bukannya sudah je–", "Atsushi-kun!" Kala malaikat penolong segera tiba, dadanya dielus lega menandakan Atsushi terlepas dari si iblis cokelat–merujuk pada kelakuan Dazai yang sebelas-dua belas dengan makhluk halus itu.

"Kami pergi dulu, Dazai-san."

"Tentu. Nikmati waktu kalian~ Aku menunggu ceritamu besok." Punggung jangkungnya boleh jadi lenyap dari pandang. Namun, kecurigaan si gadis belumlah tuntas membuat Atsushi bertanya-tanya.

"Ada yang salah, Kyouka-chan?"

"Apa dia melakukan yang aneh-aneh padamu?"

"Tidak, kok. Dazai-san memang begitu orangnya."

"Aku cemburu." Eh? Atsushi mengerjap-ngerjap mendapati pengakuan tersebut. Kyouka mengangguk cepat sewaktu telunjuk sang pemuda mengarah pada punggung yang lama menghilang.

"Kami sesama cowok. Mana mungkin pacaran."

"Tetapi di komik yang Yosano-san baca sesama cowok saling jatuh cinta, dan mereka ci–" Sejenak Atsushi mengunci bibir Kyouka dengan telunjuknya. Ia menggeleng agar rekayasa itu dihentikan saja.

"Ci–" Telunjuk Atsushi yang semula terangkat menghalanginya lagi agar berhenti. Semua jadi melenceng gara-gara imajinasi fujoshi terlalu liar mendalami akal.

"Daripada membahas itu, Kyouka-chan mau pergi ke suatu tempat?"

"Crepes! Aku mau makan itu!"

"Di tempat yang biasa, ya. Ayo pergi."

Antusiasme Kyouka tampak dari anggukannya yang meloloskan napas lega dari paru-paru Atsushi–begini jelas lebih baik, dan besok Yosano harus diberitahu agar tidak mencekoki aneh-aneh.

Tempat yang Atsushi maksud adalah kedai serba lengkap dekat sekolah mereka. Selalu ramai dari pulang sekolah hingga malam, dan penjualnya yang merupakan tiga bersaudara itu selalu kompak dengan kaus putih bergambar Hatsune Miku. Membutuhkan lima belas menit untuk tiba dengan berjalan kaki. Sementara baik Kyouka maupun Atsushi hanya terdiam, sambil sesekali mencuri-curi pandang.

"Bagaimana ulangan matematikamu?" Deru kendaraan yang semula melatari Atsushi ganti dengan pertanyaannya. Jarak mereka juga lebih dekat dibandingkan sebelum berangkat.

"Pasti tuntas. Atsushi-kun sudah mengajariku dengan sabar." Mata biru dongker Kyouka berbinar-binar menampakkan kepercayaan diri. Atsushi justru tertawa kikuk mengingat belajar kelompok mereka yang katakanlah ... sangat kacau.

"Kalau tuntas ayahmu akan membelikan ponsel terbaru, ya?"

"Hm! Setelah ini kita beli gantungan kelinci, casing dan kaca anti gores."

"Nanti ... kutelepon boleh?" Percakapan-percakapan imajiner memenuhi angannya dengan warna-warni taman bunga. Atsushi bahkan langsung memerah walau semua baru rancangan saja.

"Tentu. Kita bisa kirim stiker yang lucu-lucu juga."

"Akhir-akhir ini banyak komik online yang menarik. Kyouka-chan tahu soal mim?"

"Yosano-san pernah memperlihatkannya beberapa kali. Kalau tidak salah ada pertanyaan, 'jelaskan mengapa sudut OTP sembilan puluh derajat'. Lalu jawabannya karena OTP-ku selalu benar, dan tidak pernah lurus."

"Tidak pernah lurus?" Mereka saling melempar tatapan heran. Dari semua mim yang pernah Dazai perlihatkan, milik Yosano paling aneh sekaligus bikin penasaran.

"Menurut Atsushi-kun apa jalannya mundur?"

"Mungkin arah pulang OTP-ku ini belok-belok. Atau jangan-jangan dia berada di jalan yang salah?!" Keheranan di ekspresi mereka digantikan bayang-bayang gelap dengan nuansa horor. Atsushi geleng-geleng panik membayangkan Dazai dan dua tanduk iblis di kepala.

"Besok akan kuminta fotonya ke Yosano-san."

"Kita harus menyelamatkan OTP-ku supaya tidak terpengaruh kesesatan milik Dazai-san. Mungkin Kunikida-sensei tahu sesuatu." Adalah guru matematika mereka yang maha galak dan benar, tetapi mendadak idiot kalau diisengi Dazai.

Abaikan soal misi absurd mereka. Kini dibandingkan penyelamatan OTP dari ketidaklurusan atau apalah itu, Atsushi lebih ciut karena antrean yang membeludak. Selain murid-murid sekolah, pejalan kaki juga tidak mau ketinggalan mencicipi crepes raksasa cokelat yang separuh harga. Tanpa mengindahkan keramaian tersebut Kyouka langsung menerjang disusul Atsushi yang suka atau benci, tahu bahwa menghentikannya adalah kemustahilan.

"Antreannya benar-benar panjang." Kedai legendaris memang beda. Bahkan dari kejauhan, Atsushi bisa mendengar lagu 'berat rotasi' yang tren di kalangan remaja cowok.

"Kita pasti dapat."

"Jika Kyouka-chan seyakin itu kurasa bisa." Meski antreannya agak mengkhawatirkan. Giliran mereka masih dua puluh orang lagi, dan stok crepes raksasa cokelat hanya lima puluh.

"Selama kita bersama pasti bisa. Aku yakin itu."

"Memangnya kenapa?" Entah bagaimana Atsushi terkejut. Kelembutan Kyouka membalasnya dengan seulas senyum yang membangkitkan nostalgia.

"Atsushi-kun ingat saat aku menjadi murid pindahan setahun lalu? Kupikir, memiliki teman di sini akan sulit seperti di sekolahku dulu. Tetapi, Atsushi-kun langsung mendatangiku dan mengajak berteman."

"Saat aku menerima uluran tanganmu, rasanya sangat menyenangkan sekaligus bebas. Kita pun menghabiskan banyak waktu bersama, lalu menjadi seperti sekarang."

"Sekarang Kyouka-chan bahagia?" Retroik memang. Namun, Atsushi ingin mendengar secara langsung. Mengetahui bagaimana cara Kyouka tersenyum dengan menjawabnya yang kerap kali, mempertanyakan diri sendiri.

"Ya. Aku selalu bahagia semenjak bertemu denganmu. Terima kasih, Atsushi-kun."

Obrolan yang menghangatkan hati itu membuat mereka tahu-tahu berdiri di depan kedai. Sewaktu Kyouka memesan dua crepes raksasa cokelat, kekecewaannya sedikit terpancar karena stok tinggal satu. Meski sempat berdebat soal memesan atau tidak, Atsushi berhasil meyakinkanya untuk menikmati promo tersebut. Mereka pun mengambil tempat di seberang jalan yang berdekatan dengan taman kota.

"Sayang sekali, ya, Kyouka-chan. Untungnya dapat satu." Milkshake vanila juga enak. Antrean mereka tidak sia-sia, dan seharusnya Kyouka makan dengan lahap.

"Kyouka-chan?"

"Mereka sedang apa di seberang?" tanya Kyouka polos menunjuk bangku di seberang jalan. Atsushi turut memperhatikan sepasang kekasih yang menurutnya biasa saja.

"Makan crepes." Lalu kenapa? Sepasang nila Atsushi kini melontarkan keherannya pada mata Kyouka yang masih fokus menontoni.

"Wajah mereka ditutup crepes. Kenapa?"

"Mungkin malu karena kita ketahuan melihat me–" Padam sudah putih di wajahnya oleh merah yang bersemburat malu. Kemungkinan sinting itu mendadak hadir, dan mengejutkan Atsushi yang terlonjak.

"Kamu demam?"

"A-aku ... mereka ... ki-kita jangan melihat terus atau–" Crepes raksasa cokelat disodorkan pada Atsushi yang mengerjap-ngerjap. Krimnya bahkan mengenai hidung saking terlalu penuh.

"Kita makan berdua. Aku yang hitung."

"E-eh tu-tunggu. A–", "Satu ..." Perlahan tetapi pasti Kyouka mendekatkan bibirnya. Atsushi masih panik sehingga celingak-celinguk guna menenangkan pikiran.

"Ini se–", "Dua ..." Sekarang mulut Kyouka terbuka menampakkan gigi-gigi putih yang berderet rapi. Masih setia dengan keheranan bercampur ketidaksiapannya, Atsushi terus menengok kiri-kanan macam pemanasan di jam olahraga.

"Tiga."

"Eh? EH?! Langsung nih?!" Jeda yang hilang berhenti Atsushi pertanyakan. Dengan mata terpejam entah mengarah ke mana, wajahnya justru tenggelam di lautan krim cokelat, dan menimpa pisang rebus utuh yang tidak tergigit barang sejengkal.

"Mukamu ... belepotan ..." Ah. Kyouka yang menahan tawa begitu menggemaskan. Keduanya mengeluarkan sapu tangan berbarengan, dan saling mengelap wajah tanpa disadari.

"Kyouka-chan ... duluan saja ..." Buru-buru Atsushi menarik sapu tangannya sebelum gagap. Kyouka juga melakukan hal serupa, bahkan mereka sama-sama membuang wajah ke samping.

"Atsushi-kun duluan juga boleh, kok ..."

"Bo-boleh aku pegang crepes-nya?" Tanpa kata raksasa cokelat gemuk itu diserahkan. Atsushi sengaja mempersempit jarak duduk mereka, dan meletakkan crepes tersebut di depan wajah.

CUP!

Kecupan rasa cokelat mendarat di pipi Kyouka yang ditaburi gula-gula mungil. Mereka sudah sama-sama manis, dan siap dipetik sebagai sepasang kebahagiaan yang membuncah di merah senja. Keduanya saling menukar cinta bermandikan hangat kicau burung lewat pertemuan dua pasang iris. Panas oleh kalimat 'suatu hari nanti' di mana waktu lebih matang, dan kasih mereka kian sengit.

"Itu ... yang mereka lakukan tadi." Ciuman ternyata. Pantas Atsushi aneh sejak membahas pasangan barusan.

"Biar adil bagaimana kalau saling membersihkan saja?" Tawaran Kyouka dibalas dengan anggukan singkat. Sapu tangan mereka sama-sama mengelap wajah dari noda cokelat yang membandel.

Akhirnya mereka tertawa bersama, dan menghabiskan crepes tersebut penuh cinta.

Tamat.

A/N: HUAHAHA GILAA GAJE YAK. tadinya mau bikin atsushi sama kyouka ciuman di bibir, tapi kok ... menurutku aneh ya? makanya di pipi aja hehehe. dan maaf banget soal percakapannya yang katakanlah, gblk parah WKWKW. soal mim di fic ini emang beneran ada kok, dan fotonya ku save makanya bisa kupake di sini~

Oke thx buat yang udah review, fav/follow atau sekedar baca. aku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~

Balasan review:

Vira: aaaaa MAKASIH BANGET YA UDAH REVIEW DI 3 CHAPTER SEKALIGUS, AKU TERHARU ASLI PAS BACA. omong2 soal kyouka di chapter pertama, dia enggak diapa2in kok sama dazai, cuma ya ... kesel aja sama tingkah si dazai yang ngomongin atsushi melulu tapi di satu sisi ngomongin cewek juga. terus soal itu ... KYOUKA MATI BTW HEHEHE.

Nanti kamu bikin gombalan anak bahasa~ aku tunggu yang bahasa prancis loh /heh. dan karena lagi puasa tolong culiknyan nanti aja tunggu puasa udahan wkwkw, ku juga gemes ehhh. dazai ama chuuya mah udah kagak ketolong, terus atsushi lucu jadinya mau diisengin terus ama mereka, HEHEHE. aku paling suka yg atsushi enggak ngeh2, bolotnya keliatan sekali :(

ButterPeanut: Hai lagi~ omong2 ficmu masih kutunggu. iya ku juga seneng kok pas bikin chapter pertamanya, sesuai ekspektasi soalnya, dan itu kali pertama aku bikin AtsuKyou, jadilah berkesan banget :D lalu soal perasaanmu itu ... UNTUNGLAH KALO SAMPE. soalnya itu yang mau aku bikin (sedih campur bahagia). Thx yak udah mampir~ moga kamu suka sama chapter2 selanjutnya (meski pada gaje sih)