With My Love, Peace and Holy
Rate: T
Genre: Romance, hurt/comfort
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "AtsuKyou week 2019" di Tumblr.
Day 5: Royalty!AU/Spring
Nun jauh di barat daya dengan biru lautnya, padi emas dan apel merah manis di kebun selatan. Berdirilah Kerajaan Stray Dogs yang merdeka 32 tahun lamanya, di bawah kepemimpinan Fukuzawa Yukichi selaku raja ketiga. Negeri yang dijuluki 'tanah terjanji' itu merupakan pengekspor beras sekaligus ikan terbesar di era-nya. Sangat makmur dalam ekonomi, sejahtera di sosial, bahkan terbilang maju mengenai peradaban budaya.
Namun, ketiga aspek itu bukanlah daya tarik utama, melainkan akses para wanita untuk menjadi kesatria yang identik dengan pria. Meski kebijakan tersebut sempat terombang-ambing dalam perdebatan panas, Raja Fukuzawa mengakhirinya dengan mengangkat Yosano Akihiko sebagai kesatria wanita pertama tiga tahun lalu. Lantas, bidang kemiliteran itu perlahan diminati sampai akhirnya, mengawali legenda baru di tanah terjanji ini.
TAP ... TAP ... TAP ...
Suara zirah besi memenuhi lorong kerjaan yang sepi senyap. Langkah kesatria wanita itu hendak mendekati pintu jati berukir naga emas, yang dijaga dua prajurit terbaik kebanggaan raja.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Kesatria Izumi Kyouka!" seru mereka serempak dibarengi memberi hormat. Kesatria muda itu membalas dengan cara serupa, dan salah seorangnya membuka pintu setinggi delapan meter.
"Pangeran Atsushi telah menunggu di dalam."
Kepalanya ditundukkan sejenak tanda berterima kasih. Ranjang single bed raksasa berhiaskan tirai ungu polos, dan ukiran bunga lily di tiang jatinya menyambut sepasang biru dongker yang tertutup helm. Izumi Kyouka spontan berlutut menggunakan sebelah kaki, sementara tangan kanannya disejajarkan dengan jantung sebagai penghormatan terhadap Pangeran Atsushi.
"Sebelumnya maaf telah mengganggu istirahat Anda, Atsushi-sama."
"Tidak apa-apa, Kyouka-san. Kamu boleh melepas helm-mu saat kita bersama." Tanpa membantah perintah–atau lebih tepatnya permintaan itu Kyouka langsung menurut. Rambut ungu lembayungnya yang dikuncir kuda tampak lepek oleh keringat.
"Lapor! Saya sudah menemukan tempat persembunyian sekelompok bandit yang memporak-porandakan pasar lima hari lalu, dan menghabisi semuanya bersama Yosano Akihiko-san."
"Bos mereka pasti kuat. Wajahmu sampai terluka." Kekhawatiran tersiratnya membuat Atsushi ikut berlutut. Sapu tangan katun ia keluarkan dari saku celana, untuk membersihkan darah kering di pipi kanan Kyouka.
"Anda tidak perlu berlutut untuk itu. Tolong berdirilah lagi."
"Duduklah di kursi. Akan kuambilkan P3K untuk mengobati lukamu."
"Tidak perlu repot-repot, Atsushi-sama. Saya hanya tergores, dan–", "Anggap saja ... ini bentuk terima kasihku padamu. Kalau seperti itu boleh?" Telunjuk rampingnya menggaruk dagu untuk menutupi rasa gugup. Atsushi harap-harap cemas menanti jawaban Kyouka yang sejurus kemudian, menghela napas berat.
"Saya terima kali ini saja."
Selain memporak-porandakan pasar, mencuri ikan, dan mengeroyok warga sipil, pangeran yang memintanya singgah dengan tersenyum juga digolongkan kejahatan ringan–Kyouka tahu menolak itu bodoh, apabila Pangeran Atsushi menunjukkan gelagat pribadi. Kotak P3K diletakkan di atas meja rias, sementara tangannya lihai mengobati luka sekaligus melepas zirah di bagian tangan.
"Seharusnya kamu minta diobati Naomi-san sebelum melapor." Luka bekas anak panah di bahu kiri Kyouka kembali merembes membasahi kain usang yang membebatnya. Kapas baru Atsushi keluarkan dari kotak, dan menuangkan kembali obat merah di gumpalan putihnya.
"Laporan ini penting. Mana mungkin saya menundanya."
"Aku bisa menunggu, kok."
"Membuat Anda menunggu adalah kelancangan terbesar. Saya tidak akan pernah melakukannya."
"Tetapi melihatmu menahan luka juga membuatku khawatir. Kamu tidak perlu sekaku ini, Kyouka-san. Kita telah lama mengenal, bukan?"
Usia mereka empat belas sewaktu Kyouka berlatih di lapangan, dan Atsushi curi-curi menyaksikannya bersama Osamu–kakak sulung kesayangan Ratu Ougai, walau hubungan mereka buruk. Setelah tertangkap basah oleh Kunikida Doppo–guru sepuh di istana, keduanya dihukum berlutut sementara beliau berceramah. Kira-kira satu jam lebih untuk mengajari ulang tata krama, mengenai pentingnya tepat waktu serta janji.
Saat Atsushi menengok lagi ke lapangan, dan Kyouka kebetulan menemui pandangannya, pangeran lugu itu mengacungkan jempol pada sang calon kesatria. Tersenyum lebar seakan bilang, 'permainan pedangmu sangat keren', lantas diakhiri dengan Kunikida menjitak kepala peraknya.
"Meskipun begitu Atsushi-sama adalah pangeran, dan saya telah bersumpah menjadi kesatria pribadimu tiga tahun lalu."
"Di luar semua itu kita adalah teman. Otou-sama juga tidak keberatan."
"Fukuzawa-sama sudah sangat baik pada saya dan keluarga, dengan membantu biaya berobat Okaa-san. Menghormati Atsushi-sama adalah kewajiban sekaligus bentuk balas budiku, karena sampai kapan pun utang ini mustahil terbayarkan."
"Soal itu kita impas. Aku juga berutang nyawa padamu sangat banyak."
"Sekali lagi, itu kewajiban saya. Anda tidak per–" Bantahan Kyouka terputus dengan telunjuk yang menempeli bibirnya. Kini Atsushi berkacak pinggang, dan sedikit sebal sehingga cemberut.
"Berhentilah keras kepala. Aku meminta izin untuk melepas zirah pada kakimu, boleh?"
"Tidak perlu. Saya akan me–"
Lagi dan lagi, skakmat untuk Kyouka yang kembali terbungkam. Atsushi melepas sendiri zirah di kedua kaki itu. Berlutut untuk memberikan antiseptik, mengoleskan obat merah, terakhir melilitkan perban secara bergantian. Punggung tangannya mengusap peluh usai pertolongan pertama diberikan. Setelah ini, Kyouka tinggal ke Suster Naomi agar luka di lutut kirinya ditangani lebih lanjut.
"Lukamu benar-benar banyak," komentar Atsushi kembali duduk di kursi. Nila sang pangeran kian pekat dalam warna-warni yang muram, dan kecemasan itu mempergundah pandang yang selalu menaungi cahaya.
"Terluka adalah hal biasa bagi kesatria. Apa lagi saya berkewajiban melindungi Anda serta negara."
"Tetap saja Kyouka-san itu wanita. Harus lebih memperhatikan diri sendiri. Jangan terlalu cuek. Kalau kamu ceroboh terus meninggal, orang tuamu pasti sedih begitupun anak-anak di panti."
"Termasuk Atsushi-sama?"
"Ya. Aku juga pasti sedih bahkan menangis." Risiko itu melampaui rupa-rupa kehancuran yang menanti kejatuhannya terpeluk keputusasaan. Atsushi enggan ditinggalkan (lagi), karena ia kehabisan cara untuk membenci dirinya.
"Lalu ..." GREP! Spontanitas Kyouka yang menggenggam Atsushi sama-sama mengejutkan mereka. Namun, mundur bukanlah pilihan atau pegangannya meruntuh sebelum kesenduan itu Kyouka tangkap.
"Saya harus bagaimana agar Anda percaya padaku?"
Apakah ekspektasi, egoisme atau gabungan keduanya? Jawaban manakah yang Atsushi inginkan untuk meneduhkan resah yang memayungi retak dunianya? Ia tidak tahu selain terus dikhianati pencarian. Selalu berhenti baik-baik saja, ketika kalimat-kalimat itu mendatanginya dengan rasa bersalah.
"Soal itu ..."
"Ada banyak kesatria wanita yang lukanya lebih parah. Cepat atau lambat, mereka bisa meninggalkan Atsushi-sama juga. Tetapi, kenapa Anda lebih peduli pada saya?"
"Tentu aku khawatir pada mereka juga. Tetapi ..." Sejenak kasmaran bernyanyi merdu di tengah rajutan hening mereka. Merah samar-samar menghapus pucatnya sendu, yang semula mewarnai sepasang pipi Atsushi.
"Tetapi?"
"Bagiku ... tidak ada yang bisa menggantikanmu. Meskipun di luar sana banyak kesatria wanita, tetapi Kyouka-san hanya satu dan kamu ... sangat berharga untukku."
"Dari dua puluh anak yang latihan, gerakan pedangmu berbeda dengan mereka. Tebasan Kyouka-san begitu tegas, bersemangat, dan kamu tidak pernah melupakan rasa sakit itu, jika suatu hari nanti melawan musuh dengan senjata sungguhan."
"Meskipun banyak yang bilang Kyouka-san naif dengan permainan pedangmu. Menurutku itu sangat keren karena bagiku, kamu tahu cara melindungi."
"Terlebih jika bukan Kyouka-san yang menemaniku saat itu, aku mungkin sudah benar-benar hancur."
DEG!
Ingatan tersebut pulang ke masa kini untuk mengatapi mereka dengan sepenggal kilas balik–sebuah cerita di mana lagunya menangisi darah, menjeritkan malam di sepasang mata yang terpejam, dan segaris peluk kala tangan itu melingkari kekosongan yang gagal mengembalikan kepergian. Atsushi di sana bersama ketidakberdayaannya. Kyouka juga di situ dengan menguatkan air mata.
Dua tahun lalu, Kerajaan Stray Dogs berperang enam bulan penuh. Atsushi turut melawan musuh, bersama Akutagawa Ryuunosuke yang malangnya tertembak meriam. Kyouka tahu mereka bersahabat, walau sering tertutup pertengkaran. Bahkan di sebuah waktu entah malam ke berapa, Kyouka melihat keduanya melatih kombinasi. Mereka juga mengobrol, mengobati, bahkan canggung seperti Kyouka dan Atsushi di masa kini.
Di tengah kesedihan pangeran, musuh mengincar Atsushi membuat Kyouka bertindak spontan. Mata pedangnya terarah pada kening. Kepala musuh ia tusuk lantas tubuhnya tergeletak dengan mencecerkan darah–Kyouka seketika lunglai hingga terjerembap.
"Namun sekarang ... saya tidak lagi seperti itu." Dia bukan lagi Izumi Kyouka yang berbelas kasih, melainkan 'Si Maut Ganas' dengan korban seratus orang di tangannya–sang legenda yang menyaingi terkenalnya Yosano Akihiko selalu kesatria wanita pertama.
"Makanya sekarang giliranku yang membantu Kyouka-san. Selama itu kamu, aku yakin pasti bisa."
"Salah, Atsushi-sama. Anda sudah membantuku saat itu."
Bagaimana Atsushi memeluk raga dan matanya di tengah alunan perang, kemudian turut menangis dengan menumpahkan ketulusannya pada bahu yang merapuh, Kyouka bersumpah untuk mengenang kelemahan mereka sampai keduanya memenangkan kehilangan.
"Eh? Maksudmu?"
"Sekarang, entah kenapa saya merasa senang walau kita mengenang masa lalu." Pegangan Kyouka melembut dibandingkan sebelumnya. Atsushi berhenti mengerjap-ngerjap karena sekarang, senyumannya mendesak ingin menari.
"Tentu saja Kyouka-san senang. Kita selamat dari perang itu, dan bertahan hidup sampai sekarang. Akutagawa-kun pasti bahagia di sana."
"Sepertinya ini yang orang-orang bilang cinta."
"C-c-cin ... cin ... cin-ta ...?! Ke-kenapa jadi ... membahas itu ...?!"
"Membicarakan luka di masa lalu, tetapi merasa aman adalah bukti bahwa saya mencintai Anda, dan mungkin sebaliknya. Begitu yang saya baca di sebuah buku."
Genggamannya mengerat bersamaan dengan Kyouka yang berlutut di hadapan Atsushi. Punggung tangan sang pangeran ia kecup lembut, sebelum pandangan mereka kembali mempertemukan dua dunia yang berlainan rasa.
"Dengan hormat saya ingin menikahi Anda, Atsushi-sama. Ayo kita minta restu pada Fukuzawa-sama."
"A-ah itu ... K-Kyouka ... san ..."
"Seperti kata Anda tadi, kita adalah teman dan secara tidak langsung, Atsushi-sama memintaku agar lebih akrab."
"I ... iya ... i-itu benar ... tetapi ..."
"Rasa cinta saya akan membuat Anda percaya, bahwa saya tidak mungkin meninggalkanmu." Ujung rambutnya Atsushi tarik guna menutupi merah yang memadamkan putih kulitnya. Ia harus menenangkan diri, sebelum terlalu larut.
"Te-terbalik, Kyouka-san. Seharusnya aku yang melamarmu. Tolong berdirilah."
"Bukankah sama saja?"
"A ... aku ... aku juga ingin mengungkapkan cintaku! Jadi ... begitulah."
Tanpa bertanya lagi Kyouka berdiri. Kini giliran Atsushi yang berlutut, dan mengecup punggung tangan sang kesatria. Ciuman itu berlangsung lebih lambat, mendalam, sekaligus lembut menciptakan lautan euforia yang menenggelamkan jantung mereka. Mengajak kedua pasang warna itu menarikan pelangi pada masing-masing tatapan.
"Menikahlah denganku, Kyouka-san."
"Saya menerimanya dengan penuh cinta, Atsushi-sama."
Laporan ini telah lengkap sekarang.
Tamat.
A/N: Tadinya mau bikin tema spring, Atsushi jadi pelukis terus kyouka hamil 7 bulan tapi keburu mandet di percakapan, jadilah enggak dilanjut dan jeng2~ kuganti tema sadja. Thx banget buat revau yang udah bantu kasih ide sehingga aku bisa update hari inii wkwkw.
Thx juga buat yang udah follow/fav, review, atau sekedar lewat. aku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~
Balasan review:
Vira: bukan kamu doang yang iri. aku juga iri (pen lakuin bareng mantan, HAHAHAHA). terus soal otp nya ... emang yang aneh2 kok dan itu baunya ekhem2 lahhh~ boleh tuh boleh, anggap aja buster bros dagang di deket sekolah atsushi ama kyouka wkwkw. makanya beli nastarku 43 rebu aja~ THX YAK DAH MAMPIR.
Peanut: gambar coba gambar, terus kirim ke aku lewat wa deh hehehe~ iya tengkyu. kamu juga semangatttt bikin chapter 4-nya. moga saranku berguna wkwkw.
