Lamaran Absurd
Rate: T
Chara: Kyouka. I, Atsushi. N, Ryuunosuke. A, Chuuya. N, Osamu. D
Genre: Humor, family.
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC parah, typo, garing, absurd, gaje, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada "AtsuKyou week 2019" di Tumblr.
Dan tambahannya: memenuhi request dari Peanut. Hope you like it!
Day 7: Free Day
Konon, ada suatu planet yang usia kandungannya enam miliar. Setiap hari lahiran sampai jutaan anak, padahal sawadikap skidipapap-nya tiap gerhana doang, cuma satu ronde lagi Terus dengar-dengar selingkuhannya dua, matahari sama bulan. PDKT dengan mars juga. Abis itu merkurius bilang ke venus kalau ...
Kalau apa, hayo? Sayangnya gosip itu amal buruk. Tempat tersebut indah apa adanya, kok. Bumi–nama sang planet, memiliki anak-anak yang unik dari paling jahanam sampai bak malaikat Monas. Dari tujuh miliar manusia yang terpencar di empat penjuru mata angin pula, tersebutlah sebuah keluarga yang bertempat tinggal di Jakarta -alamat sengaja dirahasiakan, karena; bahaya jelas! Pakai tanya lagi!
TOK ... TOK ... TOK ...
Pintu jati bertuliskan pesan, 'dilarang bertamu kalau tidak membawa lima stoples kue kering' diketuk pelan oleh seorang pemuda. Penghuni rumahnya, yakni gadis cantik berambut ungu lembayung, segera memutar kenop mempersilakan masuk.
"Lama banget kamu dateng." Seorang bapak-bapak hobi PMS berkomentar sambil melotot. Matanya kelihatan pegal membuat sang tamu ingin memijatnya.
"Saya dateng tiga puluh menit lebih cepat, Paman Akutagawa." Tidak ketinggalan membawa lima stoples kue kering. Entar diusir duluan, Papa Osamu sudah mengancam coret dari KK.
'Keluarga Dazai harus bisa memenangkan hati gadis manapun, termasuk shemale. Yang penting ada "she" nya'.
Begitulah kira-kira cuplikan pesan Papa Osamu. Sungguh bijak semua diembat.
"Saya pelototin pintu satu jam lebih awal. Mau apa kamu?"
"Abang Atsushi langsung masuk aja. Papa lagi olahraga mata tadi." Akutagawa Kyouka -nama gadis pujaannya memang selalu ramah. Biarlah calon mertua galak juga, asal bersama pasti bisa.
Olahraga orang sunda aneh-aneh ternyata -begitulah yang Atsushi pikirkan sebagai Wong Jawa, karena dia biasanya kayang sambil main gamelan. Rumah Paman Akutagawa sangat luas, dan sofanya kelihatan empuk membuat Atsushi ingin segera duduk. Namun, belum juga menempelkan pantat langsung diusir sama Paman Akutagawa, katanya; 'berlutut aja dia di depan meja. Ini ritual keluarga kita'.
"Jadi mau apa kamu kemari?" tanya Paman Akutagawa tanpa cap-cip-cup kembang kuncup. Dengan wajah penuh keyakinan, Atsushi hendak menjawabnya semantap mungkin.
"Mau me–"
"Enggak boleh." Penolakan yang singkat, padat, jelas itu membuat Atsushi terheran-heran. Terus buat apa nanya niat kalo Paman udah tau? batinnya nelangsa tak ketinggalan mengelus dada.
"Tapi sa–"
"Enggak boleh."
"Sa–"
"Enggak boleh."
"..."
"Enggak boleh." Belum juga bicara, sudah ditolak. Entah Paman Akutagawa dendam atau bagaimana, pusing Atsushi meski kepalanya bukan kepala barbie.
"Abang Atsushi mau ngelamar Kyouka, Pa. Tolong kasih restu." Tahu-tahu putri bungsu Paman Akutagawa ikut berlutut. Was-was sudah pemuda perak itu membayangkan komentar sinis Paman Akutagawa.
"Emangnya kamu punya apa mau melamar anak saya?"
Lah, bisa begitu. Mereka saling berpandangan sebelum Atsushi berbicara. Kyouka kembali duduk di samping Paman Akutagawa, sementara Atsushi berdeham bersiap-siap menjelaskan diri.
"Sa–", "Jangan bilang kamu punya rumah, mobil sama kolam renang. Pasti di GTA doang." Meskipun katro, Paman Akutagawa sudah mempelajari berbagai mim di internet. Itu adalah salah satu yang terkenal, dan paling berbahaya karena pemerintah belum mengeluarkan UU, 'menahan para PHP'.
"Toko alat tulis, Pa–", "Terus kamu mau kasih makan anak saya alat tulis?"
Krik ... krik ... krik ...
Sumpah. Dari bayi didongengkan mantra, belajar santet sampai mewarisi usaha dukun Papa Osamu, Atsushi baru tahu ada kutukan yang begini. Biasanya, kan, 'cowok selalu salah di depan mata cewek', ini malah, 'di hadapan calon mertua' bahkan sebelum kalimatnya selesai.
"Menjauh kamu." Telunjuk Atsushi mengarah pada dirinya sendiri. Paman Akutagawa langsung mengangguk tanpa basa-basi menjelaskan.
"Lebih jauh lagi."
"Segini?" Kini Atsushi berlutut di tengah-tengah ruang ramu. Pelototan garang Paman Akutagawa membuatnya mundur beberapa sentimeter lagi.
"Mentok sampai tembok. Eneg saya denger kamu bicara sama napas, kagak selesai-selesai."
Bentar. Ini, kok, pas diterawang aura malaikat maut kuat banget? Atsushi memang tahu keluarga Akutagawa membuka usaha jagal, tetapi, mana sangka dia bakal dikurbankan secepat ini–padahal lebaran masih lama, dan Atsushi bukan sapi. Padahal kalau Paman Akutagawa mau sapi, tinggal jual peternakan Papa Osamu di Hay Day. Sudah level seratus lagi, Atsushi yang mainkan setiap hari.
"Kok diem aja?" Ditanya mendadak Atsushi jadi gugup. Kepalanya celingak-celinguk mencari ilham, padahal hanya mereka berdua cowok di rumah ini.
"Paman Akutagawa mau gimana biar saya bener?"
"Suaramu kecil amat. Gedean dikit, dong."
"JADI PAMAN AKUTAGAWA MAU GIMANA BIAR SAYA BENER?"
"Keras banget suaramu. Mau durhaka sama orang tua?" Demi boneka jelangkung! Atsushi capek. Mau kesurupan harimau putih saja, terus ikut casting sinetron 'Tujuh Manusia Harimau' di em-en-se tivih biar kelihatan natural.
"Papa jangan gitu sama Abang Atsushi." Gerah gara-gara dua AC sekaligus mencapai angka maksimal -mereka sempat debat, dan Paman Akutagawa gengsi kalau kecil-kecil, Kyouka memutuskan buka mulut. Bisa-bisa titel 'rumah jagal' mereka ganti menjadi 'rumah pemanggang minimalis'.
"Enggak. Papa begini bukan begitu."
"Aku maunya Papa begitu."
"Yaudah Papa begitu. Jadi Kyouka jangan begini." Ini rumah suasananya sepi kayak hati Papa Osamu, Atsushi pun bisa mendengar bahasa legendaris keluarga Akutagawa yang diberi nama 'begini-begitu'.
"Iya. Makanya Papa berhenti nyusahin Abang Atsushi."
"Lagian kenapa kamu mau sama dia? Udah kurus, putih, hidup, penakut, kalo ngomong kagak jelas, like yucub-nya lebih banyak dari Papa." Susah memang punya orang tua tukang jagal. Masa Paman Akutagawa bikin vlog, 'Sepuluh cara melotot untuk melumpuhkan hewan'.
"Mending kamu sama si Dazai. Dia menang olimpiade matematika juara satu, pas kelas dua SMA, jam tiga sore. Suka main piano lagunya 'Fur Elise', terus diamuk Pak Mori gara-gara dia pikir putrinya yang dimainin. Makanan favoritnya sup kepiting di lestoran Bu Naomi. Hobi bunuh diri di Kali Ciliwung pake gaya berenang batu."
Dan seterusnya Paman Akutagawa menceritakan soal Dazai membuat sang putra–yakni Atsushi keringat dingin. Sudah cukup Papa Osamu mempermalukan keluarga mereka dengan mengutang air mineral di warung, padahal punya aset miliaran. Bunuh diri di Kali Ciliwung, meski ada pesawat pribadi buat cap cus ke Palung Mariana. Baru mengingat dua saja Atsushi sudah pusing, apa lagi dijabarkan terang-terangan.
"Kalo gitu Papa aja yang nikah sama dia. Itu salah satu cara bikin mama yang lagi di surga bahagia." Kesal, asli. Kalau ini bukan orang tua-nya, sudah Kyouka jagal di ruang bawah tanah.
"Kalian deket, kan? Dia juga suka main ke rumah. Kenapa jadi bawa-bawa si Atsushi?" Sumpah. Serius. Cius. Asli. Benaran. Miapa. Mi ayam. Mi goreng dan segala antek-anteknya, Atsushi baru tahu Papa Osamu suka main kemari! Sejak kapan?!
Kok dia enggak diajak, sih? Atsushi jadi sedih mentang-mentang bisnis santet online sudah diwariskan padanya–mereka jarang bareng sekarang.
"Kyouka maunya sama Atsushi. Entar Papa cemburu."
"Bentar, Kyouka, Paman Akutagawa. Ini sebenernya Papa Osamu kenapa?" Lagi-lagi si Pak Tua melotot. Saking mentok sama tembok, kepalanya jadi terbentur gara-gara ketakutan sampai mampus.
"Udah berani lamar anak saya, salah melulu, suaranya kecil, sekarang kamu panggil dia 'Papa'."
"Ta-tapi Paman ... Papa Osamu itu orang tuaku."
"Mungut anak dari mana dia? Lu pelet?"
"Abang Atsushi enggak bakal bohong. Papa liat aja KTP dia." Jadilah Kyouka menghampiri Atsushi yang arwahnya entah ke mana. Terkejut dia dibilang anak pungut, meski kenyataannya Papa Osamu menjelaskan, 'kamu adalah anak yang Papa gendong dari pinggir jalan sampai ke tengah, terus kita selamat jadilah punya rumah'.
Pesan moralnya adalah, kalau selamat dari tengah jalan, entar punya rumah.
"Liat, nih, Pa. KTP Abang Atsushi."
Nama: Dazai Atsushi
Tanggal lahir: 5 Mei 1995
...
"Palsu ini." Macam melempar mainan KTP Atsushi dibuang ke sembarang arah. Kyouka langsung menangkapnya, sekalian menghibur Atsushi yang sudah kehabisan waras.
"Tenang Abang Atsushi. Ini waktunya aku buka kartu AS."
"Kartu Amerika Serikat?"
"Bukan. Kartu 'Aku Sayang' Abang Atsushi."
Kekuatan gombal Kyouka menyelamatkan pujaan hatinya dari kehancuran. Maka, sebagai calon pasutri di rumah jagal happy murderer (ini nama usaha mereka), keduanya pun menghadap Paman Akutagawa sambil bergandengan tangan. Pokoknya dengan kekuatan bulan, si Pak Tua keras kepala bakal jadi 'matahari' biar rumah ini adem, terus banyak diskon ramadhan.
"Nih, Pa." Kartu AS Kyouka keluarkan dari saku celana jin. Terus dibalik biar tandanya kelihatan.
"Mau main kartu?"
"Om Osamu deketin aku biar bisa deket sama mama."
Krik ...krik ...krik ...
"HUEKKK!" Atsushi mendadak muntah, dan muntahannya beterbangan anggun mencetak kegusaran di wajah Paman Akutagawa. Ini adalah bau sup kepiting di lestoran Bu Naomi. DIMAKAN ITU BOCAH MEMBUAT RESEP MAHA HAKIKI TERSEBUT TERNODAI!
"Masa Papa lupa. Tadi pagi Om Osamu bawa Pastor Kunikida kemari, terus dia lamar mama di depan Papa. Terus mama injek-injek Om Osamu bareng Pastor Kunikida."
"Terus Papa keluarin pisau andalan Papa. Om Osamu dibawa ke ruang bawah tanah. Mama ngedukung papa buat potong dia terus dijual ke pasar."
"Ja-jadi ... Papa Osamu enggak keliatan dari tadi karena udah dipotong sama Paman Akutagawa?" Mendadak Atsushi melepas pegangan mereka. Air mata membanjiri kulit yang memucat, akibat luka dari kelalaian hati yang gagal menduga kehilangan.
"Dengarkan aku dulu, Abang Atsushi." Sekali lagi Kyouka berusaha menggenggam jemari itu -ingin menenangkan gemetarnya demi memastikan, bahwa kekuatan ini selalu hadir untuk menyokong langkah yang sering kali, melupai jejaknya memiliki rumah.
"Aku ... akan telepon polisi." Keputusan Atsushi sudah lingkaran–karena kalau bulat, berarti tahu yang digoreng dadakan, harga 500 perak. Namun, Kyouka bersikukuh menahan karena dia lebih suka ketupat, apa lagi pakai lodeh.
"Jangan, Abang Atsushi! Aku belum menjelaskan apa–", "Kyouka enggak perlu menjelaskan apa-apa. Polisi adalah cara terbaik buat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan."
"Ekhem! Bocah enggak akan ngerti apa yang saya lakukan. Kalo suatu hari nanti Kyouka dilamar cowok lain, mungkin saat itulah kamu bisa memahami perasaan saya." Sengit mengantarai mereka yang beradu pandang. Garis pertengkaran kian menegang, dan Kyouka mengatur suhu AC ke delapan belas.
Seenggaknya drama mereka lebih adem.
"Tapi kenapa harus dibunuh? Meskipun Papa Osamu dekil, suka ngutang, godain cewek, bahkan kepengen istri orang lain, dia tetep Papa Osamu yang aku sayangi!"
"Apa saya harus menggantikan peran Dazai buat ngutuk kamu, anak durhaka?" Golok dikeluarkan dari balik sarung kotak-kotak. Logo harganya berkibar di tengah angin musim dingin palsu yang membekukan.
"Ini enggak akan sakit, kok, Paman Akutagawa." Boneka voodoo–produk terbaru dari santet online, Atsushi perlihatkan bersama sehelai rambut yang tersegel rapi di plastik.
"Sejak kapan kau?!"
"Maaf, Paman. Saya terpaksa ngelakuin ini, karena baru inget Papa Osamu pernah salah santet, jadinya malah kena adik Pak Tanizaki." Entah sudah berapa usaha santet dia hancurkan. Para dukun bahkan bersatu melawannya dengan memanggil avatar.
"Kau telah melihat akhirmu, ATSUSHI!"
"PAMAN AKUTAGAWA!"
BRUKKKK!
Sebelum golok tersebut membacok kepala Atsushi, pisau daging Kyouka lebih dulu menahannya, dan ia tepat waktu mendorong sang kekasih. Mereka memasang kuda-kuda andalan sebelum menyerang, dan jarak seketika menyempit kala dua senjata itu beradu kekuatan, untuk mendorong masing-masing penyerang. Namun, mereka seimbang sehingga melompat ke belakang. Atsushi sudah dag-dig-dug, terus mendadak lupa mantra.
"Lumayan. Tapi, Papa enggak suka kamu angkat pisau demi melindungi cowok lemah." Ujung golok diacungkan pada wajah Kyouka. Putri bungsunya itu melakukan hal serupa, dan kaki mereka bergerak memutar untuk mencari sudut terbaik.
"Abang Atsushi enggak gampang kena encok kayak Papa. Dia kuat."
"Ini faktor usia. Papa juga enggak suka bucinmu kambuh kalo bareng dia."
"Sendirinya bucin Om Osamu. Kasian mama."
"Dia calon yang baik buat kamu."
"Enggak, Paman Akutagawa. Papa Osamu emang papaku, dan udah ni–" Terpaksa pembelaan Atsushi terputus, karena golok itu diarahkan pada keningnya. Paman Akutagawa bahkan membuat huruf 'X' di udara sebagai intimidasi.
"Kita akhiri ini. Kalo aku menang terima lamaran Abang Atsushi."
"Kalo kamu kalah denger kata Papa, dan nikah sama Dazai."
Terus Kyouka jadi mamanya menggantikan Mama Shibusawa yang selingkuh sama Abang Fyodor si tukang bakso?! Namun, seribu untung khayalan mengerikan itu batal, karena seseorang datang untuk menjitak kepala mereka. Golok dan pisau daging pun terjatuh, lantas disita tanpa banyak basa-basi. Sang wanita perkasa–yakni Mama Chuuya melotot pada bapak-anak yang berlutut menghadapnya.
"Baru juga ditinggal enam halaman. Lo berdua udah ribut lagi aja."
HAH?!
Banyak hal yang Atsushi pertanyakan, termasuk kehadiran Papa Osamu di samping Mama Chuuya. Pria maniak bunuh diri itu melambai riang pada putra semata wayangnya yang terbengong-bengong.
"Gimana Atsushi lamaran kamu? Berhasil enggak?" Lupakan soal dicoret dari KK. Atsushi lebih takut Papa Osamu jadi arwah gentayangan, begitupun Mama Chuuya yang katanya 'lagi di surga'.
"B-bukannya Papa udah dipotong sama Paman Akutagawa?"
"Sebelum Om Osamu dipotong, aku udah membawanya pergi ke surga!"
HAH?! (Lagi)
"Dipotong apaan? Papa diajakin ngobrol sama Akutagawa. Katanya, 'dari pada jadi suami Chuuya, mending kamu sama Kyouka'."
"Lalu kenapa Om Osamu tiduran di atas meja? Papa juga ngapain angkat golok?"
"Ada tikus di perut Dazai."
"Ngantuk."
Ada tikus di perut Dazai ...
Ngantuk ...
Ada tikus di perut Dazai ...
Ngantuk ...
"ITU RUANG JAGAL KELUARGA KITA, DAN LO SEMBARANGAN TIDUR DI SITU?!" Telinga Papa Osamu dijewer Mama Chuuya yang mengamuk. Mereka ribut karena kesalahpahaman sebodoh ini, sampai suaminya hampir disantet Atsushi.
"LO JUGA! TINGGAL RESTUIN MEREKA BERDUA APA SULITNYA?! PUTRI KITA ENGGAK BAKAL DISANTET INI!" Selain Papa Osamu, telinga Paman Akutagawa turut dijewer membuatnya kesakitan. Atsushi bersyukur tangan Mama Chuuya hanya dua, karena dia bisa kena juga.
"D-direstuin, kok."
"Bilang yang keras! Atsushi masih bingung itu!"
"Papa merestui kalian berdua buat nikah. Jangan jewer lagi, Ma."
Sudah? Begitu doang? Langsung direstui tanpa penolakan atau apa pun? Atsushi kepingin mewek di antara kebahagiaan, karena dapat persetujuan sekaligus meratapi usahanya yang sia-sia–tahu begini dia lamaran saat Mama Chuuya pulang dari surga.
"Omong-omong surga itu apa jadinya?" Penasaran jelas. Hanya Atsushi yang tidak tahu apa pun, karena Paman Akutagawa terlihat santai.
"Nama rumah makan di deket sini. Nanti Atsushi sama Kyouka nikah di sana aja, ya."
"Setuju sama Om Osamu! Aku suka ayam di sana." Ya. Selama Kyouka bahagia Atsushi tidak keberatan. Jadi, dia setuju saja asal mereka damai.
Akhirnya pernikahan mereka tidak didatangi siapa pun, karena semua ketakutan belum mau mati.
Tamat.
A/N: Makasih buat kamu yang udah request ide ini~ semoga murid kesayanganku ini suka ya, meski humorku garing banget kayak biasa wkwkw. makasih juga buat para pembaca, review2 dari kalian, dan angka di traffic stats, itu secara ga langsung jadi penyemangat tapi entah kenapa aku masih drop, hahaha. well moga aku bisa menulis pakai pair ini lagi di luar event sekalipun. see you in next fanfic!
Balasan review:
Peanut: AWKOAKAKA TUJUANKU EMANG SENGAJA BIKIN KALIMAT ITU JADI AMBIGU LOH, UNTUNGLAH KAMU KEJEBAK (seneng dia bisa jebak murid sendiri). hueee untung mereka lucu, mikirin si atsushi kudu ngedongeng apa aku lier soalnya, apalagi ini masih bocah :))) dan aku juga mau punya warung kek gitu btw, bikinin dong /ga. uwoh seneng dia mereka akrab. nanti udah gede tinggal nikah wkwkw. thx ya udah review~ MOGA KAMU GA KECEWA AMA REQUEST INI.
Vira: Hidup retjech lah ya vir WKWKW. atsushi anak ceo abal2, kinderjoy aja ga tau, papa osamu gagal ngajarin dia (mendukung gerakan papa osamu terjebak di HP aja). AWKOAKAKA LAGI PUASA EH, JANGAN SEMBARANGAN NYULIK ANAK ORANG KAMU. masih bocah kelas 4 sd mau ngapain mereka :( panggil papa-mama? WKWKW /geli jadinya. Atsushi terlalu menggemaskan dan berpaling darinya memanglah sulit HAHAHA. thx yak udah review~
