BAB 1 : Harapan

ooOoo

[Tahun 850]

Pasukan Pengintai kembali dirundung masalah.

Mereka hampir selalu mendapatkan masalah.

Meskipun begitu, hanya kali ini masalah yang menimpa dirasa lebih mengancam. Pasalnya, mereka diharuskan menghadapi pihak kerajaan--melalui Polisi Militer--yang menuntut penyerahan Eren pasca kegagalan ekspedisi ke-57 di luar dinding. Segala masalah menyangkut kemunculan titan di Dinding Rose hanya menjadi jeda saat. Dengan tidak adanya masalah mendadak ataupun serangan titan yang lain, mereka benar-benar harus menghadapi Polisi Militer.

Kekuatan titan Eren serta identitas asli Historia menjadi pemicu penangkapan tersebut. Erwin Smith, Komandan Pasukan Pengitai, juga telah mendapatkan masalahnya sendiri akibat apa yang mereka lakukan dalam misi penangkapan Titan Wanita di Dinding Sina. Semua kerusakan dan kematian di sana telah dilimpahkan pada Pasukan Pengintai. Berita miring mengenai pembubaran divisi militer yang satu ini juga telah menyebar luas.

Mereka semua dipaksa untuk mengambil langkah berani. Salah satunya tentang bagaimana mendahului apa yang dipersiapkan Polisi Militer. Salah satunya mengamankan Eren dan Historia yang diincar oleh mereka, meskipun hingga kini masih belum ada pergerakan yang berarti. Mereka mendapatkan cukup waktu untuk mendahului mereka, terutama dengan serpihan informasi yang telah mereka dapat.

Di dalam markas Pasukan Pengintai, tepatnya di dalam ruang kerja Erwin, anggota elit Pasukan Pengintai sedang berkumpul guna mendiskusikan rencana mereka terkait penemuan informasi baru ini. Mereka adalah Erwin, Levi, dan Hanji. Hanya mereka yang masih bertahan di antara pasukan-pasukan veteran lain. Semuanya telah tumbang di ekspedisi ke-57 dan tragedi kemunculan titan di Dinding Rose. Salah satunya adalah Mike Zacharius, prajurit terbaik kedua yang mereka miliki. Semua kehilangan ini begitu merugikan, namun tak ada yang dapat disesali. Mereka harus tetap melangkah.

Sinar matahari telah bersinar cerah di ufuk timur. Ia mulai bergerak lebih tinggi, menyinari tanah subur yang mengelilingi bangunan tua yang dijadikan markas oleh para prajurit. Suara teriakan anggota-anggota muda bisa didengar dari kantor sang komandan. Mata beriris hitam kelabu mengamati anak-anak itu--mereka yang sedang ribut membersihkan halaman. Beberapa di antaranya tengah mengumpulkan bilah kayu.

Keceriaan mereka berhasil menutupi semua tragedi yang telah menimpa. Orang-orang awam pasti akan mengira bahwa para remaja yang tengah membersihkan halaman di depan markas Pasukan Pengintai hanyalah remaja biasa, bukan prajurit terlatih yang telah melihat banyak kematian, bukan prajurit terlatih yang telah melihat banyak kegagalan dan merasakan keputusasaan yang mendalam.

Ketenangan semacam ini begitu langka. Mereka hampir tidak pernah mendapatnya.

Mata hitam kelabu masih mengamati--mengabaikan teh tawar yang mulai mendingin. Ia baru mengalihkan pandangan ketika rekan perempuannya mulai membahas bocoran informasi yang mereka dapat.

"Aku mendengarnya ketika mengunjungi Pendeta Nick." Hanji membenarkan letak kacamatanya yang miring. Ia membaca surat yang dikirim Moblit Berner, lelaki yang menjadi anggota regunya. Selama ini ia mengirimkan laporan rutin mengenai perkembangan kondisi tahanan mereka, Pendeta Nick. Namun, tak seperti biasanya, surat yang satu ini tidak hanya membahas tentang kondisi si pendeta, namun juga sesuatu yang lain. Dahi Hanji mengerut samar sebelum ia kembali menatap kedua rekannya. "Yang kudengar sepertinya bukan kesalahan. Polisi Militer sedang mengincar seseorang di bawah tanah."

Nama tempat tersebut segera menarik perhatian Levi. Sudah bertahun-tahun sejak ia meninggalkan tempat itu. Semua rasa sakit telah ia tinggalkan di sana. Dunia bawah tanah hanya akan mengembalikan luka yang masih sering terasa perih. Kenapa pula tiba-tiba mereka harus membahasnya?

Membenarkan posisi duduk, ia pun angkat bicara.

"Siapa?"

Singkat dan jelas. Ia ingin melewatkan diskusi sialan ini. Tapi, sang komandan sudah pasti takkan membiarkan.

Pertanyaan Levi dijawab dengan gelengan oleh Hanji. Ia meletakkan kertas surat itu di atas meja.

"Mereka tidak menyebutkan nama. Yang satu mengolok-olok dengan memanggilnya Jalang, sedangkan yang satu menyebutnya Si Mercenary. Ada juga yang memanggilnya dengan sebutan The Second Ripper. Kau pernah dengar?"

Kilasan memori dua belas tahun lalu berkelebat dalam otak sang kapten regu spesial. Levi termangu cukup lama, seketika membuat dua rekannya bertanya-tanya. Ekspresi stoic di wajahnya selalu tak terbaca. Namun, sekarang ia kelihatan sedang berpikir keras sebelum membuka mulut. Pancaran ragu tercermin di wajahnya. Levi kembali menutup mulut, tidak jadi berbicara. Ia menyesap teh tawarnya yang telah dingin.

Sikap tidak biasa Levi membuat Erwin dan Hanji heran. Sosok tersebut tak pernah ragu. Ia selalu bergerak dengan cepat. Entah itu dalam masalah pertarungan atau masalah remeh lain. Levi tak suka bertele-tele. Ia bukan orang yang sabar.

"Kau tahu orangnya?" tanya Erwin beberapa saat kemudian.

Air muka datar itu masih tetap sama. Yang berbeda adalah pandangan mata yang menjadi lebih kosong dari biasanya. Entah apa yang bernaung di dalam kepala sang kapten regu spesial kala ini. Ia begitu jarang terlihat terganggu oleh sesuatu selain hal yang berkaitan dengan kebenaran dunia mereka.

Sorot mata kosong Levi akhirnya kembali terfokus setelah beberapa saat. Ia mengerling malas pada kedua rekannya.

"Aa. Aku sudah ingat."

Senyum Hanji melebar. Ia menepuk kedua tangannya. Memilih untuk mengabaikan reaksi asing Levi. Mencari tahu kehidupan personal kawannya ini hanya akan membahayakannya. Dulu, ia pernah mencoba bertanya banyak hal mengenai asal usul si pria mini, namun yang didapat malah tantangan. Levi mengajaknya sparring. Ia berjanji akan menjawab semua pertanyaan jika Hanji mengalahkannya.

Hanji babak belur dan tidak bisa berjalan seharian penuh. Levi sama sekali tidak peduli dengan perbedaan gender mereka. Ia bahkan sering lupa jika Hanji seorang wanita.

"Bagus! Kita akan menangkap dan menanyainya!"

Erwin tentu saja setuju dengan usulan Hanji. Semakin cepat mereka mendahului Polisi Militer, maka semakin bagus. Selama ini, Erwin telah mencurigai para elit kerajaan yang memanfaatkan kekuatan militer. Ia merasakan kejanggalan sejak kematian ayahnya yang begitu tiba-tiba. Rasa bersalah akan kebodohan masa kecil masih sering membayangi. Inilah mengapa ia begitu ingin menggapai impian untuk mengetahui kebenaran dunia.

Bocoran informasi yang mereka dapat terasa bagaikan angin segar di sela kepelikan yang merundung mereka. Erwin cukup mengenal cara kerja Polisi Militer. Ia yakin kalau mereka tidak akan mengincar seseorang tanpa motif yang jelas.

Sama seperti mereka yang menginginkan Eren dan Historia.

Siapa pun orang ini, ia pasti dianggap penting ataupun berbahaya jika terus dibiarkan berkeliaran. Entah karena kemampuan atau karena informasi yang ia punya. Kedua hal tersebut teramat berharga untuk Pasukan Pengintai.

"Kita akan mengirim lima anggota Skuat Levi untuk menangkapnya. Bagaimana cara kita menemukan dia?"

Keheningan kembali merayapi. Levi masih terlihat berpikir, seolah tengah menimbang-nimbang sesuatu. Hanji dengan rasa penasaran yang tinggi tidak lagi tahan. Ia berujar, "Oi, Levi."

Mata kelabu segera menatap sang wanita berkacamata. Raut wajah bosannya masih tetap tercetak di sana.

"Jebak dia dengan tawaran kerja."

Erwin mengerutkan kedua alis.

"Seperti kau yang dulu?"

Teh tawar dingin disesap Levi sampai habis. Ia kemudian mengangguk.

"Gunakan Skuat Hanji. Anggota skuatku belum terbiasa dengan pertarungan antar manusia. Orang ini, dia takkan segan membunuh. Jika mereka ragu-ragu, nyawa mereka akan terbuang sia-sia."

"Bagaimana dengan kemampuannya?" tanya Erwin lagi.

Levi menajamkan pandangan. Ia menutup mata sekilas sebelum kembali membukanya.

"Serahkan padaku."

oOo

[Tahun 839]

Enam tahun sebelum runtuhnya Dinding Maria.

Langit-langit berupa atap membatasi pandangan. Sampah-sampah berserakan di pinggir-pinggir jalan. Menatap jauh ke depan, bisa dilihat beberapa orang yang tengah duduk menyandar dinding. Kaki mereka terbalut kain. Ikatan tidak rapi menandakan ketergesaan ataupun ketidaktrampilan akan pengobatan.

Asap rokok dan bakar-bakaran terasa menyesakkan. Udara begitu pengap dan lembap. Anjing peliharaan terlihat lesu. Perintah majikan diabaikannya. Di atas sana, burung-burung yang tersesat dari luar terbang dengan linglung. Mereka menabrak berbagai penghalang. Mulai dari dinding bangunan hingga atap-atap tinggi yang tak tertembus.

Tanpa kehadiran orang-orang, tempat ini bagaikan kota mati. Rusak, terbuang, dan tercampakkan. Hidup di bawah kurungan ini bukanlah pilihan. Mereka hanya diharuskan. Meratapi tak pernah menjadi solusi. Itulah yang dipikirkan oleh hampir seluruh warga di dalam sini. Termasuk seorang lelaki dua puluh tahun dengan tinggi yang tak seberapa--berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang terbentuk dengan baik. Rambut hitam bergaya undercut terlihat lepek oleh air. Mulutnya mengumpat pelan akan kesialan yang menimpa. Pakaian yang dikenakan sudah setengah basah. Kedua tangan yang menggengam 3D Maneuver Gear terasa licin.

Ia sudah terbiasa dikejar-kejar Polisi Militer karena pekerjaan kriminal. Misalnya sekarang ini. Polisi Militer sedang mengejarnya karena kembali merampok dagangan bangsawan besar. Farlan sedang mengalihkan perhatian mereka sementara Isabel membantu gerombolan mereka mengambil barang-barang yang berserakan. Ia sendiri ikut mengalihkan perhatian polisi. Semuanya berjalan lancar sampai sebuah tali tersangkut di kakinya dan sebuah galon air bekas cucian tumpah--mengguyurnya sebelum ia sempat mengelak.

Tak pernah sekalipun Levi merasa sesial ini.

Ia berdecih pelan. Siapa pun yang memasang jebakan, ia jelas-jelas bukan orang awam.

"Bocah sialan! Sekarang apa lagi?!"

Seruan dari arah belakang membuat Levi bergerak. Ia menjauhi gang agar tidak perlu berurusan dengan para polisi. Orang-orang yang berlalu-lalang ia gunakan sebagai kamuflase. Mereka selalu tidak peduli dengan apa yang mereka lihat. Kehadiran seseorang mengenakan peralatan 3D Maneuver Gear jelas tidak diabaikan. Levi aman dengan cara membaur.

Mata hitam kelabunya menatap awas sekumpulan polisi yang memunggunginya. Ingatan di dalam kepala berseru bahwa orang-orang inilah yang sedang mengejar ia. Mereka semua basah kuyup, berbeda dengannya yang hanya setengah basah.

Sedang apa mereka?

"Agar kalian wangi bapak-bapak tua!" seru seseorang yang tidak dapat dilihat Levi.

Detik selanjutnya, teriakan kembali terdengar.

"Hei! Jangan kabur!"

Levi kemudian melihat kilas kecoklatan melintas di depannya. Ia tidak sempat melihat. Hanya embusan angin yang dirasakan. Di belakangnya, para polisi mengumpat.

"Gah! Terbuat dari apa dia? Cepat sekali!"

"Sudahlah. Sia-sia saja mengejar. Kita tidak akan menemukannya seperti biasa."

"Bocah Setan! Kenapa dia selalu membuat kita sial? Dia membuat preman pendek itu berhasil kabur lagi!"

Levi berbalik menjauhi para polisi. Ia mengikuti arah di mana bocah yang dimaksud mereka itu pergi. Kedua kaki melangkah lebar menyusuri gang kumuh. Ia menggunakan instingnya untuk menemukan sosok yang ia curigai memasang jebakan air. Selama dua puluh tahun hidup di kawasan ini, tidak pernah sekalipun ia melihat keributan semacam itu. Para polisi hanya sering berurusan dengannya.

Apakah ia melewatkan sesuatu?

Kota Bawah Tanah memang cukup luas. Levi tidak mau repot berkeliling kota suram ini. Ia hidup di pusat kota. Sebuah wilayah yang paling dekat dengan jalur kehidupan di permukaan. Di sini, ia bisa mendapatkan banyak untung karena bisa mencuri barang-barang para pedagang yang masuk dari atas sana. Jika ia tidak tahu sesuatu, maka bisa dipastikan kalau sesuatu itu berada jauh dari jangkauannya.

Si pembuat jebakan air bukan dari wilayah ini.

Kedua kaki berhenti ketika ia mendengar suara gemeresak. Seseorang seperti menabrak tumpukan plastik sampah. Ia hendak berbelok dan melongok guna melihat apa yang terjadi ketika mendengar suara berat seorang pria. Gerakkannya seketika terhenti. Kedua mata melebar, menatap nanar dinding di depannya.

Sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali ia mendengar suara itu.

Kenapa ia membeku seperti ini? Bukankah seharusnya ia menemui sosok tersebut? Kepergiannya masih tidak ia mengerti. Mulutnya mungkin berkata kalau ia sudah tidak lagi peduli. Namun, jauh di dalam sana ia masih menginginkan penjelasan--sebuah alasan mengapa ia ditinggalkan.

Lamunan terpecah kala mendengar percakapan yang tercipta di antara si pria dengan entah siapa.

"Di permukaan kau bisa merasakan udara segar. Pekerjaan di sana juga lebih banyak. Masih tidak mau?"

Pendengaran Levi segara ditajamkan. Punggungnya semakin menempel pada dinding di belakangnya.

Ia mengantisipasi suara seorang lelaki dewasa, bukan suara serak seorang anak perempuan.

"Paman Kenny, aku benar-benar tidak tertarik."

Paman?

Kenny kemudian tertawa.

"Ternyata kau masih punya sopan santun juga, Em. Rachel dan Arata akan senang. Tapi, apakah mereka tetap senang kalau tahu kau tumbuh menjadi apa?"

Terdengar suara hantaman dan benturan sebanyak beberapa kali. Pandangan Levi menyipit ketika mendengar material bangunan yang runtuh, seolah sebuah dinding baru saja ambruk.

"Kau sendiri seorang sampah, Paman! Jangan menyangkutpautkan aku dengan mereka. Aku telah memilih jalan hidupku sendiri! Tindakanku tidak ada kaitannya dengan mereka."

"Oh, jadi kenapa kau tidak bergabung denganku saja? Kemarin aku melihatmu menghabisi bangsawan pelit itu. Tanganmu sudah sama kotornya sepertiku. Kau juga senang membunuh para tikus militer, kan?"

Tidak ada jawaban yang terdengar. Levi sendiri teringat oleh keributan seminggu yang lalu. Sebuah mayat seorang bangsawan yang bersimbah darah. Ia adalah salah satu orang berpengaruh di Bawah Tanah. Barang dagangannya yang berupa komoditi primer telah mendominasi wilayah ini. Ditemukannya sang bangsawan dengan tusukan tepat menghujam jantung tentu saja begitu mengejutkan. Levi dan kawan-kawan mendapat banyak waktu luang untuk merampok akibat kejadian tersebut. Polisi Militer sibuk mengusut kasus sehingga mengabaikan kriminal ugal-ugalan sepertinya.

Levi sering memukuli orang. Mereka semua banyak yang hampir mati. Tapi, belum pernah ada yang benar-benar mati.

Apakah Kenny menginginkan bocah ini karena ia yang mampu membunuh? Berbeda dengan dirinya yang belum pernah merenggut nyawa seseorang sekalipun? Inikah alasan ia ditinggalkan?

"Emma, ini tawaran terakhirku."

"Sebaiknya Paman tidak perlu kembali."

"Tch. Jangan cari aku kalau kau menyesal."

Levi bisa membayangkan Kenny yang beranjak pergi. Ia sendiri masih menatap dinding lekat-lekat. Suara di dalam kepalanya berseru agar ia segera menemui Kenny. Tapi, nyatanya, ia masih berdiri di tempat. Tidak bergerak. Tidak beranjak.

Kepalanya berputar-putar. Kembali mengulang percakapan yang ia dengar dengan tidak sengaja. Mengenai Kenny yang menginginkan orang lain, namun tak lagi peduli padanya. Perasaan asing yang ia rasakan bertahun-tahun lalu tiba-tiba kembali. Perasaan ketika melihat sosok itu membalikkan punggung dan pergi begitu saja.

Hidup selama beberapa tahun bersama Kenny cukup membuat Levi mengenalnya. Ia tahu Kenny bukan orang baik. Ia tahu Kenny adalah pembunuh. Tapi, seburuk apa pun pria itu, ia tetap orang yang telah mengajarinya bertahan hidup. Rasa kecewa dan bingung yang ia rasakan bukan tanpa sebab.

Haruskah ia mengejar masa lalu?

Tanpa pria itu pun ia bisa menjalani hidupnya di tempat kumuh ini.

Jawaban atas keraguannya pun terjawab. Levi kini mengerti kenapa ia sempat gamang. Mendapatkan jawaban pun tidak akan berpengaruh besar pada hidupnya.

Ia mengembuskan napas pelan. Kedua kaki berbalik, hendak melangkah pergi. Tapi, kemudian ia teringat tujuan utamanya kemari.

Ia kembali berbalik dan berjalan ke belokan gang, sama sekali tidak mengantisipasi keberadaan seseorang yang juga sedang berlari dari arah berlawanan. Hidungnya membentur kepala seorang manusia. Ia sedikit terhempas ke belakang sementara orang yang menabraknya jatuh berdebuk ke tanah. Umpatan kasar yang bukan berasal dari mulutnya terdengar. Levi merasakan sengatan sakit di hidungnya. Ia mengernyit samar. Jemari menyentuh hidung--hanya untuk menemukan cairan merah kental beraroma anyir menodai jarinya.

Ia berdecih. Mata kelabu menatap seorang bocah remaja yang jatuh terduduk di tanah. Ia mengenakan celana hitam selutut dan pakaian berwarna merah. Rambutnya dipotong tidak rata. Ada yang pendek, namun ada juga yang panjang. Jalinan kepang kecil-kecil menambah penampilan aneh bocah ini. Wajahnya tampak kumal. Yang membedakan adalah bentuk fisik yang terlihat lebih fit dibanding anak-anak seumurannya.

Levi dapat mengetahuinya ketika melihat anak itu meloncat berdiri. Ia terhenyak ketika melihat dua orang lelaki yang tadi berteriak dari lantai dua bangunan turun dan mengejarnya.

"Bos! Tolong tangkap dia!"

Levi menoleh pada dua lelaki yang mengejar bocah ini. Mereka berdua adalah anak buahnya--orang-orang yang biasa memunguti barang curian setelah ia, Farlan, dan Isabel mengacau.

Mengerling pada anak perempuan itu, Levi segera menarik pakaiannya dari belakang. Ayunan kaki anak tersebut terhenti. Ia menoleh dan menyalak protes.

"Lepaskan! Chibi!"

Sudut mata Levi sedikit berkedut. Ia melayangkan tendangan ke arah perut anak ini, namun sabetan kakinya mampu ditangkis dengan baik oleh target. Benturan tangan di tulang keringnya sangat keras. Levi terpaksa menurunkan kaki dan tidak memaksakan sabetan tadi. Masih berjuang untuk lepas, si anak menekuk lengan dan mengincar leher Levi dengan sikunya. Levi mengelak dengan mudah dan menarik pakaian anak ini sebelum melemparnya. Debu-debu di tanah sedikit berterbangan ketika si anak jatuh berdebuk.

"Ouch! Brutal sekali!"

Dua lelaki di depan sana tersenyum lebar.

"Seperti yang diharapkan dari Bos!"

Anak perempuan itu menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor, seolah tepukan sederhana bisa membersihkan semua noda dengan ajaib. Rasa perih di buku-buku jarinya masih terasa. Warna merah darah terlihat cukup mencolok di sana. Namun, ekspresi wajah si anak sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit. Ia malah terlihat kesal--yang sangat aneh. Mata beriris biru langit menyalak pada dua lelaki yang mengejarnya.

"Aku sudah minta maaf." Ia berseru tidak terima.

Salah satu dari kedua pria melipat kedua tangan di depan dada. Ia menggeleng dan sedikit minggir. Kepalanya mengedik ke arah rumahnya.

"Lihat baik-baik, Bocah Nakal. Kau merusak dinding rumah kami."

"Aku tidak sengaja."

"Kami melihatmu memukul dinding rumah kami dengan sengaja. Kau tahu betapa mahalnya harga sewa sekarang?"

"Mana kutahu. Aku tidur di jalan."

Levi melihat kerusakan yang sedang mereka bicarakan. Sebuah retakan dari cap kepalan tangan. Rambatannya melebar hingga memenuhi sisi dinding tersebut. Kosen kayu jendela yang terkena pukulan telah ambrol. Sedangkan kaca jendelanya pecah berkeping-keping.

Kerusakan yang demikian tidak bisa dikatakan kecil. Levi yang membagikan upah pada dua orang ini tahu kalau jatah mereka tidak akan mampu menutup perbaikan kerusakan itu. Terlalu banyak kebutuhan yang harus diprioritaskan daripada perbaikan rumah.

Mengerling pada si anak yang masih beradu pelototan, Levi segera menarik kerah pakaiannya. Ia teramat ringan sampai-sampai bisa diangkat dengan mudah oleh Levi dengan tenaga yang tidak seberapa. Bola mata birunya teramat jernih. Levi bisa melihat refleksinya sendiri di sana. Meskipun begitu, tidak ada binar hidup yang terpancar. Anak itu seolah mati. Usianya mungkin masih sekitar empat belas. Namun, tidak ada sorot polos di dalamnya. Ia kelihatan seperti prajurit veteran yang telah menghadapi banyak kematian.

Levi terpaku sesaat. Ia baru menarik lamunan kala mendengar seruan bocah tersebut. Ekspresi jengkel di wajahnya cukup menghibur.

"Apa masalahmu?!"

Mata kelabu menatap iris biru langit dengan bosan. Wajah tanpa ekspresinya tidak terbaca. Ia kemudian melayangkan sebuah pukulan keras di rahang si anak perempuan. Pukulan yang teramat tidak disangka, sebab tak ada perlawanan meski Levi tahu bahwa refleks anak ini cukup bagus.

"Rambut dan pakaianku kotor karena jebakan air sialanmu, Bocah Tengik." ]

TBC

a/n

saya di sini pakai asumsi levi join pasukan militer sekitar sepuluh taun dari timeline anime yah alias lima taun sebelum jatuhnya dinding maria, jadi dia join di taun 840. makasih~