Conan hanya terdiam mendengar ucapan Ai. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika ia membalasnya. Ai punya sejuta kata, jika mereka berdua berdebat, sudah pasti Conan yang akan kalah.
"Lagipula, kenapa kamu tidak tinggal di rumahmu sendiri? Apa karena orang itu tidak mau pergi dari rumahmu?" tanya Ai yang berkacak pinggang seraya melihat rumah asli Conan yang terlihat dari sudut jendela beranda.
"Bukan begitu, aku yang memintanya untuk tetap tinggal di sana."
"Kalau kau tidak mau menempati rumahmu sendiri, lebih baik kuledakkan rumahmu dengan bom buatanku nanti."
"Eh?" wajah Conan berubah menjadi pucat, ia lupa kalau gadis kecil ini ilmuwan, bisa saja ia benar-benar akan membuat bom dengan mengandalkan kecerdasannya.
Ai mendekatkan wajahnya sehingga kedua mata mereka beradu. "B-e-r-c-a-n-d-a!" ucapnya dengan terkikik geli, ia tak menyangka detektif hebat di depannya ini mudah sekali percaya dengan ucapannya barusan.
"Walaupun aku selalu berurusan dengan yang namanya zat kimia, tapi aku ini hanya semacam apoteker, aku tidak bisa membuat bom." Ai membalikkan tubuhnya dan kembali menuju beranda diikuti oleh Conan.
"Tapi.. Bukankah orang biasa juga mampu membuat bom? Kau juga pasti bisa."
"Ooh, jadi kau mau aku membuat bom? Baiklah, aku akan membuatnya sekarang juga." ucap Ai seraya melangkahkan kakinya meninggalkan balkon.
"Oee... Bukan itu maksudku!" seru Conan, ia mencegat pundak Ai untuk mencegahnya.
Perlahan tumbuh sebuah senyuman di bibir Ai, itu adalah senyum jahilnya ketika ia berhasil mengusili Conan. "Lagian, aku tidak akan mau membuatnya, bisa-bisa aku dan Hakase jadi korban juga." ucapnya mengejek.
"Sekarang, cepat lepaskan pundakku atau kau akan kulemparkan lagi." Ai menatap tajam Conan membuatnya melepaskan tangannya dari pundak ratu es itu.
esoknya..
"Tidak terasa kita sudah mau lulus SMP ya..." ucap Mitsuhiko memulai pembicaraan saat mereka berlima pulang sekolah bersama.
"Iya, sebentar lagi kita masuk SMA." ujar Ayumi kegirangan.
"Kalian mau masuk SMA mana?" tanya Genta pada yang lain.
"Tentu saja... SMA Teitan!!" jawab Ayumi dan Mitsuhiko serempak, namun tidak dengan duo orang dewasa bertubuh remaja itu.
"Ai-chan, Conan-kun, kalian juga mau masuk SMA Teitan kan?" tanya Ayumi dengan mata berbinar.
'Taku... Rasanya aku ingin langsung kuliah saja, daripada masuk ke sekolah itu lagi.' batin Conan, sebenarnya ia merasa sangat bosan jika harus mengulangi kembali masa SMA-nya yang dulu hilang.
"Se... Sepertinya iya." jawab Conan dengan ragu.
"Asyiiiik!!" seru Ayumi seraya memeluk Conan, Ai yang melihat kejadian itu hanya tersenyum.
"Ada apa Conan? Sepertinya kamu tidak yakin dengan jawabanmu." tanya Genta.
"Tidak, tidak ada."
"Bagaimana denganmu, Haibara-san?" kali ini Mitsuhiko bertanya pada Ai yang sedari tadi hanya terdiam.
"Aku? Sepertinya aku akan melanjutkan sekolahku ke Inggris, soalnya aku ingin kuliah di sana." ketika Ai mengakhiri kalimatnya, ia sudah bisa menebak reaksi ketiga temannya, kecuali Conan.
"Eeh?? Kok gitu?" keluh Ayumi dengan raut wajah yang kecewa karena salah seorang sahabatnya lebih memilih jalan yang berbeda daripada yang lain.
Conan menatap gadis berambut pirang itu dengan lesu, ada rasa terkejut sekaligus sedih di dalam hatinya.
SKIP
"Haibara..." panggil Conan pada gadis yang sedang sibuk belajar di meja yang tergeletak di ruang utama rumah Hakase.
Tangan Ai terhenti ketika partner senasibnya memanggilnya. Perlahan ia memindahkan pandangannya ke Conan.
"Apa?" tanya Ai singkat dengan menengadahkan kepalanya, ia terlihat sama sekali tidak bersemangat.
"Kau... Serius mau ke Inggris?" tanya Conan seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang merupakan kebiasaannya.
"Aku... Tidak tahu..." Ai kembali menatap buku pelajarannya, sebenarnya ia tidak belajar pun juga bukan masalah karena bisa saja ia mengandalkan kecerdasannya, apalagi pelajarannya tidak seimbang dengan usia mereka berdua yang sebenarnya.
"Sebenarnya, aku punya satu alasan tidak bisa meninggalkan tempat ini."
Conan tersenyum senang mendengar ucapan Ai. "Kalau begitu, gak usah pergi saja."
Ai kembali menoleh pada Conan dan menatapnya dengan sedikit rasa marah. "Apa maksudmu?? Kau sepertinya gak suka banget kalau aku pergi dari sini!!" bentak Ai dengan emosinya yang meluap. Beberapa saat kemudian ia tersadar dan berusaha mengontrol emosinya.
"Ma.. maafkan aku.. aku tidak bermaksud membentakmu." Ai memalingkan wajahnya. Tak lama kemudian terlihat bulir-bulir air mata jatuh menuruni kedua pipinya yang lembut, meskipun Ai berusaha menutupinya dari Conan, tetap saja ia bisa melihatnya. Conan sempat terkejut, ia terakhir kali melihat Ai menangis sekitar 7 tahun yang lalu, namun ia segera tersadar kalau Ai tetaplah seorang wanita yang perasaannya sulit ditebak dan bisa berubah sewaktu-waktu.
"Walaupun nantinya aku tidak jadi ke Inggris, aku ingin masuk ke SMA Kurishiwa."
"Kamu tidak mau masuk SMA Teitan??" kedua mata Conan melotot tidak percaya.
Ai langsung menjawab pertanyaan Conan dengan gelengan kepalanya. "Kurasa aku tidak akan mampu untuk bersekolah di sana." ujar Ai dengan suaranya yang parau.
"Apa yang kau katakan, Haibara? Seleksi masuk SMA Teitan tidak sesulit SMA Kurishiwa, kau tahu kan sekolah itu termasuk SMA terfavorit di Jepang? Anak terpintar di angkatan saja tidak cukup, ia harus paling pintar se-prefektur agar bisa masuk ke sana."
"Aku tahu... tapi tidak ada pilihan lain."
"Kamu... ada masalah?" Conan menyentuh salah satu pundak Ai, bukannya tenang, hal itu malah membuat air mata Ai bertambah deras tak terbendung lagi, sepertinya ia sangat berusaha untuk tidak menitikkan air mata, jadinya malah semakin parah.
Conan duduk tepat di sebelahnya, berniat menenangkan gadis bersurai pirang itu walau dia sendiri tidak tahu apa yang tengah dirasakannya. Ia memberanikan diri untuk memeluk Ai sehingga membuat gadis tersebut terkejut dan tangisannya sempat terhenti.
"Aku memang tidak tahu apa pun tentang perasaan perempuan, tapi kau butuh seseorang untuk menumpahkan seluruh curahan hatimu padanya bukan?" mendengar perkataan Conan, tangisan Ai kembali meledak, ia mencengkeram pundak Conan erat-erat, seperti tidak ada lagi tempat untuk berpegangan, apalagi Hakase sedang pergi ke Shizuoka. Conan mempererat pelukannya lagi, berharap agar hati gadis yang kini disukainya itu cepat merasa lega.
Sekitar 30 menit kemudian, tangisan Ai mulai mereda dan akhirnya berhenti. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Conan dan berusaha keras untuk tersenyum. "Terima kasih." ucapnya dengan sebuah senyuman yang tulus. "Sekarang aku harus membuat makan malam dulu." ketika Ai baru saja akan beranjak, Conan langsung menghentikannya.
"Biar aku saja yang membuat makan malam."
Muncul sebuah niat untuk menjahili Conan di pikiran Ai. "Memangnya kau bisa masak?" tanyanya menggoda.
"Oee... jangan meremehkanku." balas Conan, ia lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
Lagi-lagi Ai dibuat senyum olehnya, entah kenapa sejak ia memutuskan hubungannya dengan teman masa kecilnya, ia menaruh perhatian yang besar pada Ai. Seperti yang kalian tahu, Ai menyukai Conan namun ia tidak pernah mau jujur sama orangnya.
Dan kini, Conan juga diam-diam menaruh hati pada Ai tapi sama saja seperti Ai, ia tidak mau jujur pada gadis yang disukainya. Mereka berdua sama-sama memiliki otak yang encer, tapi sayangnya mereka kaku dalam urusan cinta.
ღ ღ ღ ღ ღ
Ketika Conan telah menyelesaikan aktivitas memasaknya, ia segera menyiapkan seluruh peralatan makan, termasuk nasi dan lauk-pauknya. Hari begitu dingin, jadi dia memilih untuk memasak kare yang menurutnya mudah dan tidak butuh waktu terlalu lama. Namun, ketika Conan hendak membangunkan Ai untuk makan malam, ternyata Ai tertidur dengan posisi kepala di atas meja.
'Sepertinya ia kelelahan.' batin Conan dengan tersenyum. Dengan perlahan, Conan mengangkat tubuh Ai dengan kedua tangannya untuk memindahkan gadis setengah jepang itu ke kamarnya. Ia tidak mau kalau Ai sampai terbangun.
'Kalau Haibara terbangun, ia pasti akan memaksaku untuk menurunkannya.'
"Daisuki dayo, Haibara..." bisik Conan. Ia memandangi Ai yang sedang terlelap, wajahnya yang manis saat tidur membuat jantung Conan berdegup kencang.
Ketika sampai di kamar Ai, ia menaruhnya di atas ranjangnya sepelan mungkin lalu menyelimutinya.
Saat Conan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, ia tidak sengaja mendengar sebuah gumaman kecil yang keluar dari mulut kecil Ai. "Kudo-kun..." Conan tersenyum, ia mematikan lampu kamar lalu menutup pintu.
ु ੭ु' ु ੭ु' ु ੭ु'
