"Huh, aku jadi makan malam sendirian deh." gerutu Conan sambil melahap makan malam buatannya sendiri, padahal ia sangat menantikan untuk makan malam bersama gadis itu, ia ingin tahu pendapatnya tentang masakannya.
Kriing...!! Kriing...!!
Sang putri tidur berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Terlihat secercah cahaya yang menyelinap masuk dari sela-sela gorden kamarnya. Tangannya menggapai sumber suara yang membuatnya terbangun dari tidur lelapnya dan mematikannya.
"Ng? Sudah pagi ya..." Ai bangkit dari posisi tidurnya, sejenak ia gunakan waktunya untuk mengusap kedua matanya. Perhatiannya teralih pada alarm yang ada di kasurnya.
"Jam 8? Waa... Aku telat!!" teriaknya, ia langsung berlari keluar kamarnya menuju kamar mandi. Ia buru-buru menggosok gigi dan mencuci wajahnya.
"Gawat!! Aku belum membereskan buku sama sekali! Aduh bagaimana ini? Aku juga belum buat sarapan lagi!!" Ai mencengkeram rambutnya yang masih acak-acakan.
"Ada apa Haibara? Kenapa kamu berisik sekali?" tanya Conan yang baru saja keluar dari dapur dengan celemek yang tengah dikenakannya.
"Kudo-kun, apa yang kau lakukan?! Cepat siap-siap, 40 menit lagi bel masuk tahu!" Ai tidak menghiraukan pertanyaan Conan. Pikirannya terfokus pada buku-bukunya yang belum ia rapikan.
Conan menatap Ai yang seperti ibu-ibu rempong, berlarian kesana-kemari. Conan melepaskan celemeknya lalu menggantungkannya di samping pintu dapur.
Ketika Ai lewat tepat di depan matanya, Conan segera mencegat lengan Ai. "Apa-apaan ini? Cepat lepaskan, kita bisa terlambat!"
"Tenanglah, Haibara!"
"Bagaimana aku bisa tenang? Aku bahkan belum membereskan kamarku sendiri, sekarang cepat..." perkataan Ai terhenti saat Conan meletakkan telunjuknya tepat di depan bibirnya mungilnya.
"Sudah kubilang, tenang... Karena hari ini adalah hari Sabtu, apa kau lupa?"
Ai terdiam, berusaha mencerna ucapan Conan barusan. Maklum, kalau pikirannya sedang fokus pada suatu hal kadang ia jadi sedikit sulit menangkap maksud perkataan orang-orang yang bicara dengannya. Ai menepuk keningnya. "Aku lupa!! Hari ini kan libur!!" jeritnya dengan wajah yang memerah karena malu.
"Pfftt..." pipi Conan menggembung, berusaha keras menahan tawanya.
"Apa?!" Ai memasang tampang galaknya. Memang sih ia hobi mengerjai Conan, tapi sebagai gantinya ia selalu ditertawakan oleh detektif cilik berkacamata itu.
"AHAHAHAHA!!!!" tawa Conan meledak, membuat wajah Ai semakin berwarna merah.
"Kau lucu sekali Haibara! Tidak kusangka ilmuwan jenius sepertimu bisa lupa hari juga, ahahahaha!!!" ujar Conan masih dengan tawanya. Rasanya Ai ingin sekali mendaratkan telapak tangannya pada wajah Conan, tapi ia mengurungkan niatnya tersebut. Ia teringat semasa SD dulu ia juga pernah ditertawakan oleh Conan dan Mitsuhiko karena coretan 'anak kecil' huruf hiragana 'あ' di pipinya yang tidak bisa dihapus dengan cara biasa.
"Ooh sudahlah, bisakah kau diam?!" Ai melemparkan tatapan membunuhnya lagi, ia sangat malu mengingat kejadian saat itu, tapi Conan masih saja tertawa tanpa mempedulikan tatapan menyeramkan dari seorang Haibara Ai.
Ai menghela napas dan berjalan menjauhi Conan. "Hei, tunggu Haibara! Kau mau ke mana?"
Ai membalikkan tubuhnya yang sudah beberapa meter jaraknya dari Conan. "Aku mau mengurungkan diri di kamar!"
"Lebih baik kita sarapan dulu."
"Sarapan?" bola mata Ai mengarah ke atas. "AAAH!! Aku belum buat sarapan!!!!" Ai segera berlari ke dapur namun dicegat oleh Conan.
"Aku sudah membuatnya, ayo makan sekarang." ucap Conan, Ai mengangkat salah satu alisnya.
"Benarkah?" Conan menanggapi pertanyaan Ai hanya dengan sebuah anggukan dan senyuman.
Ai tersenyum menyeringai. "Wah, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan buatan detektif terkenal dari timur ini." ucapnya dengan nada mengejek.
Conan menyipitkan kedua matanya. "Terserah apa katamu, yang penting kita cepat makan sebelum makanannya dingin."
"Baiklah, Tuan Holmes zaman Heisei." balas Ai seraya duduk di salah satu kursi . "Tapi aku tidak bisa membiarkanmu mempersiapkan semuanya sendirian, aku akan membantumu mengambil nasi dan lauk-pauknya." Ai baru saja akan berdiri saat Conan menahannya untuk tetap duduk.
"Kau diam saja, kali ini kita tidak perlu banyak aksesoris segala, karena kali ini aku mencoba resep lain."
"Resep?"
"Kau akan tahu nanti, lihat saja." Conan mengedipkan sebelah matanya sebelum meninggalkan Ai yang sedang duduk dalam keadaan bingung menuju dapur.
'Hmmm... aku tidak pernah melihat Kudo-kun memasak sebelumnya, jadi aku ragu apakah masakannya itu tidak 'berbahaya'.' batin Ai seraya membayangkan masakan macam apa yang telah dibuat oleh Conan, karena selama ini yang membuatkan makanannya adalah Ran sebelum Conan tinggal bersamanya di rumah Hakase. Sekarang pun biasanya Ai yang memasak untuk makan mereka bertiga setiap hari, malah kadang-kadang memesan atau beli langsung di kedai makanan terdekat.
Beberapa menit kemudian, Conan keluar dengan membawa dua piring berukuran sedang. Ia meletakkan salah satu piring di hadapan Ai. "Taraa!!"
Kedua mata Ai membulat saat melihat hidangan yang telah tersaji tepat di hadapannya. "Nasi goreng?"
"Bagaimana? Dari aromanya saja sudah sedap kan?" tanya Conan dengan penuh percaya diri. "Aku tidak pernah memasak sebelumnya, tapi aku ingin mencoba membuat selain masakan Jepang, jadi aku memutuskan untuk mencarinya di internet."
"Selain Jepang? Bukannya ini yakimeshi biasa?" tanya Ai seraya mendekatkan wajahnya pada piring tersebut. Hidungnya mengendus-endus aroma yang keluar dari nasi goreng yang ditutupi telur mata sapi.
"Ckckck... Kau tidak akan bisa menilainya hanya dari tampilannya saja, Haibara!" Conan mengoyang-goyangkan jarinya dari kursi yang berhadapan dengan gadis bersurai pirang itu.
Ai menatap hidangannya sejenak, ada sedikit rasa keraguan dalam hatinya. "Ada apa? Cepat makan, kalau sudah dingin tidak enak loh." ucap Conan yang sudah menelan suapan pertamanya.
"Ngg... Tidak ada kok." Ai meraih sendok yang terletak tepat di samping piringnya. Untuk pertama kali, ia mengambil nasi goreng itu hanya 1/2 dari permukaan sendok yang digenggamnya.
"Hei, kau kenapa sih?" tanya Conan yang heran melihat tingkah Ai.
"Aku takut kalau di dalamnya sudah dicampur dengan sesuatu, misalnya racun." jawab Ai, di saat seperti ini pun ia senang sekali menjahili Conan.
"Bodoh, itu tidak mungkin."
Ai masih termangu, uap dari nasi goreng itu sedikit membuat pandangannya kabur, Conan saja sampai melepaskan kacamatanya saat mulai makan tadi.
Dengan perlahan ia melahapnya, meresapi rasanya dan berusaha menilainya.
"Bagaimana?" tanya Conan, ia sudah tidak sabar mendengar pendapat Ai tentang hasil masakan Conan yang baru pertama kali dicobanya dalam hidupnya.
"Hambar." jawab Ai dengan ekspresi datar.
"Eh?" Conan terkejut mendengar jawaban tersebut, padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk membuatnya enak.
"Bercanda!" Ai tersenyum senang, kali ini ia sukses lagi membuat Conan percaya pada kata-katanya.
"Isshhh.." Conan memasang wajah kesalnya.
"Ini enak kok, aku kaget kamu bisa membuatnya dengan baik, karena kan sebelumnya bukan kamu yang masak." pujian Ai membuat kedua pipi Conan merona merah.
"Ng? Kenapa mukamu merah begitu? Kamu demam?" tanya Ai yang tak sengaja melihat wajah Conan. Conan langsung menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan wajah merahnya, ia mulai kembali memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Oh ya, rasanya tadi malam aku tertidur deh saat belajar, tapi aku heran, kenapa tiba-tiba aku ada di kamarku sendiri?" tanya Ai setelah menelan suapan keduanya.
Tangan Conan terhenti, matanya menatap Ai dengan tegang. Ai yang melihat Conan seperti itu pun wajahnya jadi memerah. "Hei, jangan bilang kalau..."
"Hehehe, itu benar, maaf ya Haibara, habis aku gak tega membangunkanmu, kamu terlihat sangat lelah." ucap Conan polos.
"Apa kau melihat sesuatu?" tanya Ai dengan malu.
Seolah mengerti maksud pertanyaan Ai, Conan pun langsung menjawabnya. "Aku tidak melihat apa-apa, tenang saja." ucapnya dengan santai.
Wajah Ai semakin memerah karena Conan mengerti maksudnya dengan cepat. "Pervert little brat! Aku bukan anak kecil yang perlu digendong ke kamarnya tahu!"
"Oi, sudah kubilang kan kalau aku tidak melihat apa-apa?" Conan membela dirinya, ia tidak ingin dijuluki sebagai bocah mesum oleh gadis di hadapannya itu.
"Huh..." Ai memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Haibara, hari ini kan libur, ayo kita ke Taman Ueno." ajak Conan setengah memaksa.
"Taman yang dijadikan orang-orang untuk berkencan itu? Tidak mau." ucap Ai menolak ajakan Conan mentah-mentah.
Kali ini Conan harus menelan kekecewaan lagi. "Aku yakin tidak semuanya menjadikan taman itu sebagai tempat untuk berkencan."
"Mungkin begitu, tapi aku tetap tidak mau." kata Ai yang tetap pada pendiriannya.
"Oh ayolah, aku ingin sekali melihat daun momiji yang berguguran di sana."
"Bukannya kau masih bisa melihatnya kalau keluar rumah?"
"Kalau itu mah aku sudah sering melihatnya, aku ingin sesuatu yang berbeda, please..." Conan memohon sambil memasang puppy face-nya.
Melihat Conan yang begitu memohon padanya, hati Ai akhirnya luluh. Mau bagaimana lagi? Conan tahu persis kelemahannya sejak beberapa tahun silam, kalau Ai tidak mau memberikan antidote sementara padanya, ia akan memasang senjata ampuhnya, memohon seperti bayi.
"Baiklah, aku akan menemanimu ke sana." ucap Ai dengan kedua mata yang suntuk.
"Eeh, benarkah??" Conan memandangi Ai tidak percaya, Ai hanya memberikan sekali anggukan sebagai jawabannya.
"Yeaay!!" teriak Conan senang. Diam-diam, Ai memperhatikan Conan dengan sebuah senyuman. Dasar, bocah detektif yang dikenalnya seperti tidak sadar umur saja.
SKIP
"Haibara, bangun! Kita sudah sampai." ucap Conan membangunkan Ai yang tertidur di pundaknya.
"Eh? Sudah sampai?" Dengan mata yang masih berkunang-kunang, Ai mengangkat kepalanya.
Setelah nyawanya terkumpul seutuhnya, Ai terperanjat, ia baru menyadari sesuatu. "Ma... Maafkan aku, aku ketiduran!" ucapnya panik.
"Tidak masalah, yang penting kita tidak kelewatan." balas Conan santai dengan tersenyum lebar. "Ayo kita turun!" Conan menarik tangan Ai keluar bus sebelum bus tersebut melanjutkan perjalanannya.
Ai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dari pintu masuk tamannya saja mereka sudah disambut oleh banyak daun momiji yang berguguran. "Ayo masuk." ajak Conan yang melangkahkan kakinya semakin cepat, tangannya masih menggenggam tangan Ai.
"Ah, tunggu, Edogawa-kun, maksudku... Kudo-kun." Conan menoleh pada Ai dan tersenyum.
"Tidak apa, panggil saja aku begitu, lagipula kita sudah mengurus semuanya! Benar kan, Haibara Ai?"
"Eh?"
Conan memperlambat langkahnya, saat mereka telah memasuki taman tersebut, mereka disambut oleh indahnya pemandangan di dalam Taman Ueno yang sangat besar, membuatnya dikenal sebagai salah satu tempat wisata yang bernuansa romantis di Jepang.
Ai menghentikan langkahnya tepat di depan salah satu pohon ginkgo yang sedang menggugurkan daunnya, angin menerpa rambut pirang pendeknya, membuat hatinya terasa sangat nyaman. Walaupun Taman Ueno sangat ramai oleh pasangan muda-mudi, Ai sama sekali tidak terusik dengan itu. Ia memejamkan kedua matanya, menikmati perasaan hangat yang memenuhi ruangan hatinya walaupun lingkungan sekitar terasa dingin.
"Pohon ginkgo ya... aku jadi teringat dengan kisah cinta pertamanya Agasa-hakase." ucap Conan yang tiba-tiba sudah berada tepat di sebelah Ai, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket yang dikenakannya.
Ai membuka matanya dan memandangi Conan. Merasa diperhatikan, Conan menoleh pada Ai hingga kedua mata mereka pun bertemu. Dengan salah tingkah, Ai segera mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Ia tidak ingin Conan melihat wajahnya yang memerah.
Selang beberapa detik, Ai merasakan sesuatu menyentuh tangan kanannya, sesuatu itu membuat tangan Ai menjauh dari tubuhnya. Ternyata sesuatu itu adalah tangan kiri Conan yang memasukkan tangan kanan Ai ke dalam saku jaketnya. Tidak bisa dielakkan lagi, kedua pipi Ai semakin merona, padahal ia sudah berusaha untuk mengontrolnya. "Syukurlah kita datang di saat yang tepat ya." ujar Conan, ia menengadahkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya, tangan kirinya masih menggenggam erat tangan kanan Ai di dalam saku jaketnya.
Ai merasakan jantungnya yang berdegup kencang, ia sangat yakin sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Walaupun begitu, ia merasakan sebuah kenyamanan yang baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau masih memakai nama Edogawa Conan? padahal semuanya sudah baik-baik saja, dan lagi kau pasti lebih nyaman menggunakan nama Kudo Shinichi-mu yang sangat terkenal itu." tanya Ai sedikit ragu.
Conan tersenyum sebelum membuka mulutnya. "Karena... aku tidak mau meninggalkanmu."
Ai terpana mendengar jawaban bocah kacamata di sampingnya. "Kudo Shinichi kini sudah tidak ada dan digantikan oleh Edogawa Conan." lanjutnya.
"Dan Edogawa Conan akan hidup bersama Haibara Ai selamanya."
Terjadi keheningan di antara mereka. Ai bingung bagaimana harus meresponnya. Ia terlalu terkejut dengan pernyataan Conan barusan.
Beberapa saat kemudian sebuah senyuman tersulam di bibir Ai. "Terima kasih sudah menghiburku." ucapnya seraya memandangi tanah yang tengah dipijaknya.
"Huh?"
"Aku tidak menyangka kau mau membawaku ke sini untuk memperbaiki suasana hatiku yang sedang tidak bagus."
Conan terdiam sejenak, walaupun ia sudah bersusah payah memberi Ai kode, gadis itu belum menyadarinya sama sekali, atau mungkin dia hanya pura-pura saja karena tidak ingin sifat tsundere-nya ketahuan. Lagi-lagi Conan menerima kenyataan yang pahit. 'Mungkin memang belum saatnya.' pikirnya.
Akibat terpaan angin, rambut Ai sedikit melambai membuat Ai semakin terlihat cantik di mata Conan. Conan yang melihatnya pun terpesona.
"Sama-sama." balas Conan singkat. Ia meyakinkan dirinya bahwa di masa yang akan datang nanti ia bisa hidup bersama dengan gadis berharganya itu, gadis yang berhasil menaklukkan hatinya. Conan berharap cepat atau lambat giliran ia yang akan menaklukkan hati gadis itu.
ु ੭ु' ु ੭ु' ु ੭ु'
