"Haibara!! Haibara!!" Conan berteriak memanggil-manggil gadis pemilik rambut bersurai pirang kemerahan itu. Meskipun sudah mencarinya ke seluruh penjuru rumah, ia tetap tidak bisa menemukannya, padahal ia bukan anak kecil yang kesulitan mencari temannya saat bermain petak umpet.

Hari sudah malam, Ai masih belum terlihat. Padahal tadi Conan melepaskan pengawasannya hanya 10 menit saja saat ia pulang ke rumahnya sendiri di sebelah. Ketika ia kembali ke rumah hakase, gadis itu sudah menghilang. Conan khawatir, sebelum pergi, hakase sudah berpesan padanya untuk benar-benar menjaga Ai dimanapun dan kapanpun.

"Kudo-kun, kalau saja suatu saat nanti aku menghilang, apa yang akan kamu lakukan?"

"Tentu saja aku akan mencarimu hingga ketemu, walau harus ke ujung dunia sekalipun."

'Benar, aku harus mencarinya.' Conan mengepalkan tangannya erat-erat. Ia memutuskan berdiri tepat di pusat rumah hakase.

Conan memejamkan kedua mata birunya, membayangkan setiap tempat yang memungkinkan Ai berada di sana. Ia menggunakan insting detektif nya, meraba tempat yang terlintas di benaknya dalam-dalam. Hasilnya nihil. Ia tidak merasakan apapun.

Beberapa saat kemudian, terbayang Ai sedang menangis tersedu-sedu. Conan bahkan bisa mendengar suara sesenggukannya. Tunggu, apa ini nyata?

Conan membuka kedua matanya, ternyata suara tersebut bukan sekedar bayangannya saja. Conan menelisik asal suara itu, yang tak lama kemudian ia berhasil menemukannya. Suara itu berasal dari atap.

Conan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju atap rumah hakase. Setelah sampai, ia memutuskan untuk tidak langsung muncul di depan mata Ai. Ia menyandarkan punggungnya layaknya cicak.

Dari tempat persembunyiannya, Conan melihat Ai tengah menengadahkan kepalanya. Perhatiannya terpusat pada bulan purnama yang tergantung di langit, menerangi langit malam dengan sinarnya bersama para bintang.

"Kenapa langit tidak pernah tersenyum untukku?" gumam Ai lirih. Air mata kembali menetes dari kedua pipinya, menggambarkan suasana hatinya saat ini.

Seandainya diberi warna untuk melukis di udara, Ai hanya akan memilih hitam walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang akan dilukiskannya. Hitam karena hidupnya yang begitu kelam dan menderita, tanpa seorang pun yang benar-benar mengerti dirinya.

Ai melihat tiga bintang yang saling berdekatan, seperti keluarganya yang telah tiada. Bintang-bintang itu berkelap-kelip, seolah mengajak Ai untuk menyusul mereka dan bermain bersama. "Maaf... aku... aku tidak bisa..." tangisannya kembali pecah namun tertahan, ia tidak ingin seseorang tahu kalau ia sedang menangis.

Ai mengarahkan telunjuknya ke langit dan menggerakkannya ke berbagai arah. "Itu ibu, ayah, dan Akemi-neechan." ucapnya seraya membuat lingkaran kecil yang mengelilingi tiga bintang itu sekaligus.

"Sedangkan aku..." Ai menggeser telunjuknya beberapa senti hingga sampai pada sebuah bintang yang tidak berkumpul dengan kelompoknya. Tidak, lebih tepatnya ia dilempar dari teman-temannya.

Tangan Ai perlahan memberi sebuah lingkaran pada bintang itu, dengan ukuran yang lebih kecil. "Itu aku, benar kan?" ucapnya dengan suara yang bergetar. Selang berapa detik, tangannya terkulai lemas, melepaskan diri dari menggambar di langit.

"Kapan aku bisa menyusul mereka?" tanya Ai terisak.

"Sudah kubilang, jangan lari dari takdirmu, Haibara..." suara Conan membuat Ai tersentak, sejak kapan detektif itu ada di tempat yang sama dengannya?

Ai segera menghapus air matanya dengan cepat sebelum detektif itu mencapai dirinya. Untung saja angin yang berhembus malam itu membantu untuk mengeringkan air mata yang keluar dari sudut matanya yang berwarna ungu permata.

"Aku tidak bilang kalau aku ingin lari dari takdir." ucap Ai dingin ketika detektif itu sudah berdiri tepat di sampingnya. Conan yang sudah terbiasa dengan nada bicara yang dingin dari gadis itu hanya bisa menghela napas.

"Kau bertanya-tanya kapan kau bisa menyusul keluargamu, itu namanya kau berusaha lari..."

"Aku hanya bertanya pada diriku sendiri, memangnya salah?" Ai membalikkan tubuhnya, berjalan menjauhi Conan. Kini ia bersandar pada dinding, matanya kembali menatap langit malam yang luasnya tidak bisa dijangkau oleh mata seorang makhluk.

"Mmm... tidak sih, cuma aku heran saja kenapa kau menginginkannya."

"Kau tidak akan pernah mengerti, Tuan Detektif." Ai meletakkan telapak tangannya di atas keningnya. Perlahan punggungnya merosot, kini ia terduduk. Hei, rasanya melihat langit sambil duduk jauh lebih menyenangkan daripada berdiri.

"Hidupmu dipenuhi kenikmatan, sedangkan hidupku... hancur seluruhnya, bahkan aku tidak mengenal diriku sendiri."

"Haibara Ai, atau Miyano Shiho, seorang ilmuwan jenius yang merupakan lulusan termuda universitas terkenal di Amerika." ucap Conan seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya, ia mendekati Ai.

Ai memandangi Conan dengan aneh. "Terima kasih sudah memberi tahu siapa aku." ucap Ai menyindir. Bocah kacamata teman dekatnya itu memang ahli dalam mengubah suasana.

Conan mendudukkan dirinya di sebelah Ai, ia menengadahkan kepalanya ke arah langit. "Seperti yang diharapkan dari wanita berusia 25 tahun bertubuh remaja 15 tahun." mendengar celotehan Conan, Ai menoleh padanya dan menatapnya dengan kesal.

"Hee, bukannya kamu juga?" ucapnya meledek.

"Aku ini memang asli remaja berusia 15 tahun kok." pungkas Conan tersenyum lebar hingga giginya yang indah terlihat, ia ingin mengubah mood Ai yang sedang hancur.

"Terserah.., tadi kamu mau ngomong apa?"

"Aku mau bilang kalau kau hebat, kau menemukan sudut yang tepat untuk melihat langit malam yang begitu indah. Jujur saja, aku belum pernah melihat yang seperti ini." entah bohong atau tidak, yang jelas ucapan Conan membuat kedua pipi Ai merona.

"Semua orang bisa, kamu saja yang payah." ucap Ai berdehem, berusaha menutupi rasa tersipunya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar detektif itu? Aku sudah tidak pernah mendengarnya lagi beberapa tahun ini."

"Kalau Kogoro-no-ojisan sih, sepertinya masih sering bertengkar dengan Eri-obasan." Ai mengangkat sebelah alisnya.

"Darimana kamu tahu? Kamu bahkan tidak pernah ke sana lagi."

"Naluri detektif." jawab Conan simpel, membuat Ai mendengus kesal.

"Dasar sok tahu."

Selama beberapa saat terjadi keheningan, hanya ada bunyi jangkrik di sekitar rumah hakase yang berani mengusik suasana sepi malam itu. Tidak ada perbincangan lagi di antara keduanya, entah karena mereka tidak punya 'materi' untuk dibahas atau mereka jadi merasa canggung satu sama lain.

"Anoo, Haibara... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Conan ragu-ragu.

"Boleh, asalkan itu bukan pertanyaan bodoh yang tidak perlu kujawab." ucap Ai tersenyum jahil.

Conan sejenak berpikir, menyusun kata-kata yang tepat untuk pertanyaan yang timbul karena rasa penasaran yang memenuhi hatinya. "Apa kamu punya seseorang yang disukai?"

Degg... Seluruh tubuh Ai terasa tegang mendengar pertanyaan yang Conan lontarkan padanya, tidak menyangka ia akan menanyakan tentang hal itu. "Sudah kukatakan bukan? Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang bodoh."

"Bodoh? Itu sama sekali bukan pertanyaan bodoh, itu sangat penting dalam hidupmu."

"Oh ya? Seberapa penting kah?"

"Apa lebih penting daripada kasih sayang keluarga yang tidak pernah kudapatkan lagi?"

Conan menelan ludahnya, ia berpikir cepat untuk membalas pertanyaan Ai. "Bukan begitu..."

Ai menarik napas pelan hingga oksigen memenuhi paru-parunya lalu mengeluarkannya lagi. "Kalau kamu ingin tahu, tentu saja aku punya, hanya saja..." Ai membuang muka, sebisa mungkin ia tidak melihat Conan, orang yang diam-diam disukainya sejak 8 tahun yang lalu.

"Hanya saja... cintaku itu tidak akan pernah terbalas." Ai bisa merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat, ia berusaha menahan perih di dalam hatinya. Andai saja ia bisa mendapatkan cinta yang setidaknya bisa sedikit menggantikan posisi keluarganya yang selalu ia rindukan.

Conan terdiam seribu bahasa, pikirannya terbagi menjadi beberapa cabang. "Kalau boleh tahu, siapa dia?" selesai dengan pertanyaannya, perasaan Conan jadi tidak enak. Tidak sepantasnya ia ingin tahu rahasia orang lain, terutama dari seorang wanita.

Ai menoleh padanya, hingga kedua mata mereka saling bertemu. "Itu adalah... kamu." jawab Ai, membuat seluruh tubuh Conan kaku, termasuk otaknya. Bahkan untuk mengedip saja Conan seperti tidak mampu melakukannya. Ia sangat terkejut dengan jawaban yang diterimanya.

"Aku... aku sudah menyukaimu sejak 8 tahun lalu, hanya saja... hanya saja..." Ai terisak, ia sudah tidak sanggup menyimpan perasaan besar yang berharga itu sendirian.

"Kenapa... kenapa kamu tidak pernah menyadarinya?" Ai menatap Conan, membuat bocah detektif itu bisa melihat mata indah Ai yang kini dibanjiri air mata, walaupun hanya diterangi oleh sebuah lampu yang berjarak beberapa meter dari mereka.

"Padahal kalau kamu menyadarinya, aku tidak perlu seperti ini terus." lanjutnya dengan sesenggukan. Napasnya terasa sangat sesak. Ai sangat ingin mengeluarkan seluruh curahan hatinya pada Conan.

Entah kenapa, mulut Conan terasa sangat susah untuk dibuka, padahal ia ingin sekali mengatakan sebuah kejujuran pada gadis di sampingnya, bahwa selama ini ia juga menyukainya.

Butuh 5 menit lamanya untuk Conan agar bisa membuka mulutnya kembali. "Ha.. Haibara, se-sebenarnya aku..."

"Aku... aku juga... menyukaimu.." ungkap Conan pada akhirnya, wajahnya sudah sangat berwarna merah. Ia bisa merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang, seluruh darah yang mengalir di tubuhnya juga memanas.

Tidak ada jawaban. Gadis setengah Jepang itu tidak menanggapi ungkapan perasaannya sama sekali, bahkan suaranya saja sudah tidak terdengar. Poni rambut pirangnya menutupi sebagian wajahnya, apa Ai membencinya karena Conan terlambat menyadari perasaannya itu?

Conan menoleh pada Ai, ia menyingkirkan poni rambut yang menghalangi pandangannya dari wajah cantik seorang gadis yang selalu bersamanya sekarang. Ternyata Ai tertidur dengan wajahnya yang sembab. Walaupun begitu, gurat kemerahan terlihat di kedua pipinya.

Dengan jantung yang masih berdegup kencang, ia mengeluarkan jam biusnya dari saku celananya lalu membidik Ai. Conan dengan sigap menangkap tubuh Ai yang langsung terkulai tidak bertenaga setelah ia membiusnya.

"Maafkan aku, tapi aku tidak akan membiarkanmu tidur di tempat yang dingin seperti ini." bisik Conan lembut.

Setelah memasukkan kembali jam biusnya, ia mengangkat tubuh Ai yang terasa begitu ringan untuk dibawa turun kembali ke dalam rumah. Conan tahu kalau gadis itu akhir-akhir ini jarang makan, kalaupun bertanya ia pasti akan menjawab sedang diet, makanya Conan tidak bisa melakukan apapun, apalagi saat Ai mengatakan kalau Conan tidak memiliki hak apapun untuk memaksanya makan, termasuk hakase yang selama ini merawatnya.

Conan menatap wajah Ai yang begitu teduh, baru kali ini ia menemukan seorang gadis yang memiliki wajah yang mampu membuat siapapun yang menatapnya merasa nyaman.

Merasa kecewa itu pasti, karena Conan lagi-lagi gagal membuat Ai tahu kalau ia memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi Conan tidak khawatir, ia memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama gadis itu, suatu saat nanti ia pasti akan mengungkapkan perasaannya padanya di waktu yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk mereka berdua. Masalahnya... Kapan waktu tersebut akan datang?

︵‿︵‿୨୧‿︵‿︵