"Hoammm..." Ai merenggangkan tangannya ke atas, mengendurkan seluruh otot tubuhnya yang terasa kaku. Alarm digitalnya membuat dirinya terlempar dari alam mimpi kembali ke dunia nyata. Mendekati musim dingin, pagi ini matahari terlihat lebih malu untuk muncul ke permukaan bumi daripada kemarin.
Ai mengusap kedua matanya yang terasa seperti dilengketkan oleh sesuatu mengakibatkan dirinya kesulitan dalam membukanya.
Ia berhasil mematahkan satu lapisan yang menahannya untuk melihat dunia, namun pandangannya masih kabur, butuh beberapa waktu lamanya agar menjadi jelas.
Dari sudut matanya, Ai melihat sebuah antena menyembul dari kepala seseorang, membuatnya terkejut setengah mati. 'Kudo-kun? A.. apa yang dia lakukan di sini?!' batin Ai. Awalnya ia berniat untuk menjerit, tapi melihat wajah Conan yang seperti seorang anak kecil polos saat tidur, Ai mengurungkan niatnya tersebut.
Tiba-tiba, Ai merasakan salah satu daerah lehernya berdenyut, seakan habis ditusuk oleh sebuah jarum kecil yang membawanya masuk ke alam mimpi. Ini aneh, biasanya ia tidak pernah tidur senyenyak bayi yang berada dalam gendongan ibunya, tapi kali ini tidurnya bisa dibilang sangat nyenyak, bahkan terbangun untuk sekedar minum air saja rasanya tidak bisa. "Hah? Jangan-jangan..."
Tubuh Conan bergerak sedikit, ia mengangkat kepalanya perlahan. "Hoamm.. Selamat pagi, Haibara... Tumben kau sudah bangun." ucapnya dengan mata yang masih menyipit dan mulut yang terbuka karena menguap.
"Apa yang kau lakukan di sini? Tidur bersama seorang wanita setelah membiusnya?" tanya Ai sedikit marah.
"Tenang, aku tidak melakukan apa pun padamu kok semalam." ucapan Conan berhasil membuat wajah Ai seperti kepiting rebus. Tanpa berpikir, Ai meraih bantalnya dan melemparkannya ke arah Conan.
"Bukan jawaban itu yang kuinginkan! Dasar mesum!" jerit Ai, seluruh wajahnya masih berwarna merah karena malu.
Conan dengan sigap menangkap bantal itu sebelum mengenai wajahnya, ia memasang cengiran lebar di bibirnya.
"Tsk.. Kenapa aku bisa tinggal bersama bocah mesum ini?" Ai menyentuh keningnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa mempedulikan gerutuan Ai, Conan memakai kacamatanya lalu berjalan ke jendela untuk membuka tirai besar yang menghalangi pemandangan di luar.
Matahari perlahan menyembul keluar, hendak menyapa seluruh penghuni negeri sakura, terutama Kota Beika. Sinarnya menerangi setiap sudut yang tidak terhalang oleh sesuatu. "Haibara, kita sarapan di Kafe Poirot saja, bagaimana?" tanya Conan pada Ai yang masih bermuka bantal.
"Detektif terkenal ingin mengajak kencan seorang gadis pengantuk di pagi buta huh?" tanya Ai, ada nada mengejek di dalamnya. Conan menghela napas sebal.
"Tapi boleh juga, soalnya bahan makanan sudah habis, kalau mau masak aku harus belanja dulu." perlahan rasa kesal Conan berubah jadi senang, tanpa ia sadari senyumannya tambah melebar.
"Apa senyum-senyum?" Ai menatap Conan dengan ganas seperti harimau yang ingin memburu mangsanya.
"Ti.. Tidak.." Conan memutar bola matanya ke arah lain, menghindari tatapan monster kecil di depannya.
Dengan mata yang menyipit karena curiga, Ai menurunkan tubuhnya dari kasur empuknya. "Ya sudah, setelah aku beres-beres, kita pergi ke sana. Kamu juga harus membantuku." ucap Ai setelah berdiri tepat di depan Conan, ia menjentikkan jarinya di kening Conan.
"Adaaw..." Conan menyentuh tempat Ai tadi menyentil keningnya, rasanya sakit sekali. Ai hanya terkekeh melihat kelakuan Conan. "Haibara, kau itu terbuat dari apa sih?!"
"Aku? Aku terbuat dari baja, puas?!" jawab Ai sembari berlalu meninggalkan Conan yang masih mematung dengan kedua matanya yang berubah menjadi titik besar.
"Se... Seramnya..."
"Hatsyii.."
"Hei, hei, kita jalan bareng dan kamu mau menularkan virus padaku?"
"Bodoh, ini bukan flu, aku merasa hidungku seperti digelitiki oleh sesuatu." Conan mengelus-elus hidungnya, matanya juga sedikit berair karena bersin barusan.
"Ini." Ai mengeluarkan sebuah saputangan miliknya dan mengulurkannya pada Conan.
"Eh? Tidak apa nih?" tanya Conan ragu, matanya menatap saputangan itu sebelum beralih ke wajah gadis yang hendak memberikannya.
"Pakai saja, mumpung aku sedang tidak memerlukannya." jawab Ai dengan ekspresi datar.
"Terima kasih." ucap Conan senang saat menerima saputangan itu.
"Lain kali aku akan membuatmu terus bersin dengan bulu ayam." ucap Ai, entah kenapa dia selalu ingin menjahili Conan.
"O-oi, Haibara, kau jahat." Conan menyipitkan kedua matanya selagi tangannya masih menutupi hidungnya dengan saputangan.
"Oh ya, kita harus pergi ke supermarket untuk membeli keperluan, kamu harus membantuku atau kamu terlarang untuk menumpang di rumah hakase lagi." Ai membuka dompetnya, terlihat beberapa lembar uang yang terdiri dari ¥10.000, ¥5.000 dan ¥1.000.
"Hei, aku tidak menyangka kau punya uang sebanyak itu." ujar Conan yang tak sengaja melihat isi dompet Ai.
"Apa kamu lupa? Hakase baru saja memenangkan lotere bernilai ¥100.000, karena itu ia ingin aku membuat makanan yang spesial saat ia pulang nanti."
"Taku, harusnya dia menyimpan uangnya untuk keperluannya di masa yang akan datang."
"Bagaimana denganmu? Bukannya orangtuamu masih mengirimkan uang padamu?"
Conan menghela napas, menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala. "Iya sih, ¥100.000 untuk satu bulan."
"Dasar sombong." ejek Ai. "Kamu punya uang sebanyak itu tapi malah numpang di rumah orang lain."
"Aku tidak memakai uangku seutuhnya kok, aku menyimpannya untuk membeli sesuatu yang sangat kuinginkan."
"Sesuatu itu apa? Apa jangan-jangan kamu mau membeli beratus-ratus kardus susu yang akan membuat tubuhmu meninggi?"
"Grr.. Haibara, awas kau!" Conan hendak meraih lengan gadis itu untuk mencubitnya, tapi tidak bisa karena Ai lebih cepat untuk menghindarinya.
"Stop! Aku tidak ingin orang-orang melihat kita dengan wajah aneh." Ai mengambil posisi untuk melemparkan tas kecilnya, bersiaga kalau saja detektif berkacamata itu menyerangnya.
"Huh, baiklah..." Conan memasang tampang cemberutnya, membuat Ai merasa gemas dalam hati.
"Ngomong-ngomong, apa yang kau katakan tadi malam itu benar?" tanya Conan dengan hati-hati.
"Apa maksudnya?" di luar dugaan, alis Ai terangkat sebelah, tanda tidak mengerti.
"Semalam kau bilang kalau kau... menyukaiku."
Seluruh tubuh Ai seketika menjadi tegang, termasuk perasaannya. Tapi ia berusaha mengontrol dirinya dan memasang wajah tenangnya sebisa mungkin. "Ooh itu... aku cuma bercanda." sekilas terlihat semburat merah di kedua pipinya, namun ia berhasil menutupinya dengan rambut pirang khas miliknya.
"EEH?!" Conan begitu kecewa mendengar jawaban Ai, ia seperti terjun begitu saja setelah terbang tinggi ke langit menembus sekian dari gumpalan awan tebal.
"Jangan bercanda! Setelah semua itu?"
"Aku tidak bercanda, lagipula untuk apa aku menyukai detektif menyebalkan sepertimu?"
"Dirimu yang putih bersih sangatlah berlawanan dengan diriku yang dilumuri oleh warna hitam pekat, aku tidak pantas jadi secret admirer-mu." lanjut Ai, kepalanya tertunduk. Conan menatapnya lekat-lekat.
"Meskipun Mouri-san meninggalkanmu, masih ada Yoshida-san yang siap mengisi posisi itu di hatimu." Ai menoleh pada Conan, ada kilatan cahaya di matanya, ia menarik satu sudut bibirnya.
"Oi oi, apa maksudmu?" Conan memasang ekspresinya yang biasa ia tunjukkan saat digoda oleh partner terdekatnya itu.
"Yoshida-san menyukaimu dengan tulus, kamu harus menerimanya." senyuman semakin mengembang di bibir Ai, ia tidak mau menghentikan keisengannya. Conan hanya tertawa datar, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Cling.. Cling...
Conan membuka pintu Kafe Poirot, menyebabkan dua lonceng yang terpasang di atas pintu bertubrukan menghasilkan bunyi yang nyaring.
"Selamat pagi, Conan-kun. Lama tidak bertemu." sapa Azusa yang sedang mempersiapkan segala bahan makanan yang hendak disajikan kepada pelanggan.
"Selamat pagi." balas Conan tersenyum.
Ai mengikuti Conan yang sudah lebih dulu mengambil tempat di sebelah jendela. "Kalian mau pesan apa?" tanya Azusa saat ia sudah berada di satu sisi meja yang mereka berdua tempati.
"Loh? Di mana Amuro-san? Apa dia sudah berhenti kerja di sini?"
"Aah, Amuro-san sedang sibuk membuat adonan kue di dapur." jawab Azusa yang sudah membuka tutup pulpennya.
"Aku pesan omurice, sandwich dan air putih saja, kalau kau apa, Haibara?"
"Aku sama saja." balas Ai, perhatiannya terpusat pada kantor Detektif Mouri yang kini seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
*:..。o○ ○o。..:*
"Waah, kapan nih kalian mengikat janji suci?" tanya Amuro tiba-tiba, tangannya sibuk menurunkan hidangan yang dipesan oleh Conan dan Ai.
Baik Conan maupun Ai tersentak, terutama Ai. "A.. Apa maksudmu, Amuro-san?" tanya Conan berpura-pura tidak mengerti.
Amuro tersenyum menyeringai, sebagai orang yang telah mengetahui identitas Conan dan Ai, tentu ia tahu mereka terlibat dalam suatu hubungan romantis sekarang. Ai yang berusaha keras menahan agar rona merah tidak muncul di kedua pipinya segera membuka mulutnya. "Sejak kapan kami punya hubungan spesial?" Ai bertanya balik dengan dingin.
"Dan juga, Amuro-san.. Aku rasa kau salah telah bertanya pada kami." Ai menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Amuro tersenyum lebar. "Baiklah, aku tidak akan bertanya itu lagi, tapi jangan lupa kirimkan undangan untukku, oke?"
Wajah Conan memucat, ia memberi isyarat pada Amuro untuk berhenti membicarakan soal hubungannya dengan Ai sekarang. "Akan kupastikan untuk mengundangmu di hari ulang tahunku." balas Ai sembari menyeruput air putih yang langsung melepaskan dahaganya, kedua matanya memandang Amuro dengan malas.
"Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka Amuro-san masih bekerja di sini dan memakai nama samaran, padahal sekarang sudah tidak perlu untuk menyembunyikan identitasmu lagi bukan?" tanya Conan, setidaknya untuk mengalihkan arah topik pembicaraan.
"Kau benar, tapi orang-orang sepertinya lebih nyaman memanggilku dengan nama itu." jawab Amuro tertawa kecil.
"Dan juga, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang menyenangkan ini, aku ingin terus melihat wajah puas para pelanggan saat memakan hidangan buatanku."
"Lagipula, bagaimana dengan dirimu sendiri dan dia? Kenapa kalian tidak melepaskan identitas palsu kalian? Bukankah lebih nyaman menggunakan identitas yang asli?" Amuro kembali bertanya, kali ini ia berbisik, supaya tidak terdengar oleh Ai yang tengah sibuk memandangi layar ponselnya.
"Itu karena... kami punya alasan tersendiri."
"Amuro, aku pesan sushi." teriak Kogoro yang entah sejak kapan sudah berada di counter meja depan, memotong pembicaraan di antara mereka berdua.
"Baiklah, silakan tunggu sebentar." ucap Amuro.
"Amuro-san, apa Kogoro-no-ojisan selalu makan di sini?" tanya Conan menarik tali celemek yang terikat di pinggang Amuro.
"Iya, dia pernah mengatakan kalau istrinya sama sekali tidak bisa memasak, makanya dia selalu makan di sini." Conan dan Ai saling bertukar pandang, bingung reaksi apa yang harus mereka keluarkan, mau ketawa tapi kasihan juga.
"Aku khawatir, karena sejak kau pergi dari rumahnya, dia sudah jarang mendapat pekerjaan."
"Mereka tidak berpisah lagi karena telah berjanji pada anaknya itu."
"Oee... Amuro! Mau sampai kapan kau mengobrol dengan dua bocah itu?" tanya Kogoro dengan nada sewot, penampilannya tidak serapi dulu, mungkin karena faktor stress. Ia menyebut Conan dan Ai dengan 'bocah' karena tidak menyadari sama sekali kalau mereka adalah dua orang yang pernah dikenalinya, bahkan salah satunya pernah tinggal seatap dengannya.
"Baik, pesanan anda akan segera datang, Mouri-sensei." Amuro memasang gaya hormatnya, membuat Kogoro tersenyum senang.
"Dia masih memanggilnya 'sensei'." ucap Ai dengan tatapan datar setelah Amuro meninggalkan meja mereka, Conan meresponnya dengan tawa datar tanpa ekspresi yang berarti.
Conan menguap, dirinya telah berdiri selama sekitar satu jam, menemani Ai berbelanja tentunya, dan itu sangat membosankan bagi Conan karena belanja bukanlah kegiatan yang penting baginya. "Ku... Edogawa-kun, menurutmu aku harus memilih yang mana?" tanya Ai sembari menunjukkan dua kotak daging dengan brand yang berbeda pada Conan.
Conan mendekati Ai untuk melihatnya lebih jelas. "Yang ini." Conan menunjuk pada kotak daging yang tertera nama brand 'Nizawa'.
Ai membalikkan bagian depan kotak yang ditunjuk oleh Conan. "Bagus sih, tapi mahal..." Ai membandingkan kedua kotak itu, matanya berpindah-pindah dari satu kotak ke kotak yang lain. "Biasanya aku beli yang mereknya 'Ikeda' karena dagingnya bagus dan murah."
Setelah mempertimbangkan daging mana yang akan ia beli, Ai menaruh kembali daging merek 'Nizawa' ke dalam freezer. "Oi, oi, aku sudah memilihkannya untukmu dan kau malah mengembalikannya?"
"Habisnya mahal sih."
"Ada kualitas ada harga, Haibara! Kau mau membuat steak spesial kan?"
Ai terdiam sejenak, pandangannya kembali berpindah-pindah dari dua kotak daging tadi. "Baiklah, sepertinya sesekali juga boleh." pada akhirnya, Ai mengambil kembali brand daging yang dipilih oleh Conan dan mengembalikan daging yang sudah dimasukkannya ke dalam keranjang.
Conan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, tatapannya tidak berpindah dari gadis setengah Jepang itu. Rasanya tidak masalah ia ikut menemani Ai dalam kegiatan apapun yang menurutnya membosankan, asalkan ia selalu bisa memandanginya. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau Conan membayangkan akan menikahi gadis itu suatu saat nanti, membuat guratan merah jelas terlihat di kedua pipinya.
"Apa yang kau bayangkan?" tanya Ai tajam, wajah mereka berdua sudah sangat dekat tanpa Conan sadari.
Tanpa sempat menjawabnya, Ai memotongnya dengan cepat. "Wajahmu aneh, sudah kuduga kau memikirkan macam-macam." Ai melemparkan death glare-nya.
"Dasar mesum!" ejek Ai lagi.
"Bu-bukan! Ini tidak seperti yang kau pikirkan." ucap Conan membela diri.
"Mesum!"
"Oh, terserahlah!"
**✿❀ ❀✿**
