Ai mengelap keringat yang mengucur dari keningnya, tubuhnya dihempaskan ke atas sofa, rasanya letih sekali. Hakase bilang kalau ia akan sampai di rumah dalam rentang 10 menit. Ai terkejut saat tahu hakase turut mengundang ketiga temannya yang lain, sehingga mau tidak mau ia harus memasak tiga porsi tambahan steak, yang untungnya saja Ai membeli daging lebih, sehingga cukup untuk mereka semua.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh pundak Ai, membuatnya hampir terlompat dari tempatnya duduk. "Kudo-kun..." pekik Ai pelan ketika tahu yang sebenarnya, terlihat wajah Conan yang sedang melemparkan senyum lebar padanya.

"Tenanglah..." bisik Conan, kedua tangannya perlahan mulai memijat pundak Ai, membuat gadis itu sedikit terkejut.

"Kau pasti lelah, istirahatkan dulu dirimu, setidaknya sampai mereka datang." tubuh Ai terasa tegang, tidak menyangka Conan begitu memperhatikannya.

"Ara, sejak kapan detektif tidak peka ini menaruh perhatian pada seorang gadis sepertiku?" sindir Ai, menutupi sifat tsundere-nya.

"Aku? Sudah dari dulu kok." jawab Conan, memang sulit dipercaya tapi itulah kenyataannya. Tiap satu pijatan dari tangan Conan, Ai merasa seperti disetrum oleh suatu perasaan aneh, membuat jantungnya semakin berdetak cepat dan hatinya meleleh.

"Ngomong-ngomong, kapan ujian masuk SMA Kurishiwa dilaksanakan?" tanya Conan, tangannya terus memijat Ai tanpa lelah sedikitpun.

"Kalau kukatakan, kamu pasti akan mengikutiku kan?"

Conan menelan ludah, kalau ia mengatakan yang sejujurnya, Ai pasti akan berlari menghindarinya. "Harusnya kamu bersyukur, aku memutuskan tidak jadi pindah ke Inggris karena memikirkan keadaan hakase jika aku meninggalkannya, dan sekarang kamu bersikeras ingin satu sekolah denganku?" tanya Ai, dari nada bicaranya ia tidak ingin Conan mengikutinya masuk sekolah yang sama dengannya.

"Tapi terserahmu saja lah, aku tidak punya hak untuk melarangmu." Ai menghela napas pasrah, sepertinya memang tidak mungkin baginya untuk hidup terpisah dari detektif itu.

"Katakan padaku, kenapa kau tidak ingin masuk SMA Teitan?"

Ai terdiam sejenak, sebenarnya ia tidak punya niat sedikit pun menjawab pertanyaan yang satu ini, tapi kalau tidak dijawab Conan pasti akan selalu menyerbunya dengan pertanyaan yang sama tanpa mengenal tempat dan waktu. "Sekolah itu... bagiku seperti sekolah yang terkutuk."

"Maksudmu... karena sekolah itu merupakan tempatku belajar bersama Ran dulu?" Ai tersentak, tidak menyangka kalau Conan dengan cepat mengerti maksud yang sengaja Ai sembunyikan.

Kepala Ai tertunduk, rasa bersalah kembali menghantui dirinya. "Ya ampun, Haibara! Sampai kapan kau akan terus memikirkan aku dan Ran? Pikirkan dirimu juga, lagipula ini sudah keputusan kami berdua, bukan salahmu." Conan gemas, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan kali ia mengatakan pada gadis di hadapannya untuk berhenti memikirkan hidup orang lain.

"Tapi..." belum selesai Ai melanjutkan kalimatnya, Conan sudah membekap mulutnya dari belakang dengan kedua tangannya.

"Aku tidak ingin kau berbicara seperti itu lagi, aku ingin kita berdua sama-sama memiliki hidup yang bahagia. Kalau kau terus merasakan penderitaan akibat pemikiranmu yang berlebihan itu, aku juga menderita, Haibara!" perlahan Conan memeluk tubuh kecil Ai dari belakang, membuat Ai merasa seolah jiwanya terlepas dari raganya.

"Karena itu... Kumohon, berhentilah..." bisik Conan pada telinga Ai. Sebuah perasaan hangat merasuki hati gadis kecil itu. Sebenarnya ia merasa malu dengan posisi mereka saat ini, tapi tangannya tidak bisa bergerak untuk melepas pelukan Conan darinya.

"Kita berdua sudah menanggalkan identitas asli kita, kita akan memulai kembali semuanya dari awal." Ai bisa merasakan kacamata Conan yang mengenai rambut belakangnya, sepertinya detektif itu tengah menikmati rasa lembut yang dimiliki oleh rambutnya.

"Huh, berkata seperti itu pun tidak akan mengubah niatku, Kudo-kun!"

"Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau tidak akan meninggalkan ketiga anak itu?"

"Berbeda sekolah bukan berarti aku menelantarkan mereka."

"Mereka siapa?" tanya seseorang yang baru saja memasuki rumah, matanya menatap tajam pada Conan yang memeluk Ai. Conan yang menyadarinya langsung melepaskan dirinya dari Ai.

"Akhirnya sampai!" teriak Ayumi dan Genta, mereka menghambur masuk ke dalam rumah, tubuh mereka berputar-putar saking senangnya.

"Hati-hati, nanti tas kalian terlempar." ucap hakase mengingatkan kedua orang itu.

"Tu-tunggu, untuk apa kalian membawa tas?"

"Kami diizinkan menginap di sini, jadi besok kita akan berangkat ke sekolah bersama." jawab Ayumi seraya meletakkan tasnya di dekat sebuah rak buku, hal yang sama juga dilakukan oleh Genta.

Namun tidak dengan Mitsuhiko, ia malah mendekati Conan, tubuhnya yang lebih tinggi dari Conan membuatnya terlihat seperti ingin mem-bully. "Kenapa kau memeluk Haibara-san?" desis Mitsuhiko marah, rasa cemburu telah membakar dirinya.

"Memangnya salah? Dia teman dekatku, aku memeluknya karena aku tidak ingin dia merasa sedih." jawab Conan santai, ia berusaha untuk tidak terpancing emosi.

"Tapi itu tidak pantas dilakukan oleh anak SMP, apalagi tadi kalian hanya berdua saja di dalam rumah." protes Mitsuhiko. Sejenak Conan memandangi Mitsuhiko sebelum meletakkan salah satu tangannya di atas pundak temannya.

"Mitsuhiko, sudah kubilang kau tidak pantas bersamanya." ucap Conan datar, namun itu cukup menusuk hati Mitsuhiko. "Dan berhenti berpikir yang tidak-tidak."

"APA?!" emosi Mitsuhiko hampir meledak kalau saja Ayumi dan Genta tidak menengahi mereka berdua.

"Tenanglah, kalian berdua!" Ayumi memisahkan mereka dengan kedua tangannya, berdiri tepat di tengah-tengah.

Ai hanya menguap kecil, tidak menghiraukan pertengkaran semibesar yang terjadi di belakangnya. "Sudahlah, ayo kita makan, keburu dingin loh." ucap Ai menjejakkan kakinya di atas lantai, membangkitkan dirinya dari atas sofa.

"Edogawa-kun, terima kasih atas pijatannya." Ai menoleh pada Conan dan tersenyum, membuat bunga-bunga bermekaran di hati pria bertubuh remaja itu.

Tubuh Mitsuhiko terasa panas ketika tahu apa yang dilakukan Conan pada Ai, jelas yang tidak mungkin ia lakukan karena takut dibilang tidak sopan oleh gadis itu.

"Sebelum itu, ayo kita undi di mana tempat duduknya." ucap Ai seraya mengambil sebuah kertas kosong dan spidol dari dalam lemari.

"Aku akan menulis nama kita lalu mengelilingi setiap kursi untuk menaruh satu per satu kertas nama yang ditaruh dalam botol ini dalam keadaan tertutup." Ai mengangkat sebuah botol kosong, menunjukkannya pada keempat temannya yang lain.

Setelah selesai, ia mempersilakan teman-temannya untuk mencari nama masing-masing. 'Lucky!' batin Conan senang saat tahu ia mendapat kursi tepat di samping Ai, sedangkan Mitsuhiko yang mendapat kursi tepat di seberang menatapnya iri, Conan membuat pose 'peace' sebagai ejekan.

"Ara, aku tidak menyangka kita duduk bersebelahan lagi." ucap Ai dengan ekspresi datar, sepertinya ia bosan dengan bocah kacamata yang selalu dilihatnya setiap hari.

"Itu karena memang sudah takdir kita berdua." ucap Conan dengan cengiran lebar.

"Iya saja deh." Ai menarik kursinya lalu duduk dengan malas.

Di seberang, Mitsuhiko dan Ayumi memandangi Conan dan Ai dengan tajam, tidak ingin orang yang mereka sukai direbut. 'Ckck... dasar anak zaman sekarang.' batin Conan membalas tatapan mereka dengan dingin.

"Hakase, cepat atau jatah hakase aku makan!" teriak Genta setengah mengancam, tak lama kemudian hakase sudah muncul kembali dan bergabung bersama mereka.

"Itadakimasu!" ucap mereka serempak. Mereka mulai melahap steak yang dibuat oleh Ai, sang juru masak di rumah hakase.

"Lezat sekali!" ucap hakase, dirinya mendapat porsi yang lebih spesial di antara mereka, sebagai penghargaan dari Ai karena hakase berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 20 kg, walaupun tubuhnya masih terlihat besar karena memang gen dari keluarganya.

"Mou, Hakase curang, aku juga mau." gerutu Genta melirik isi piring hakase.

"Tidak boleh, Kojima-kun! Kau masih kecil, jadi harus lebih memperhatikan kesehatanmu, kalau tidak kau akan jadi seperti hakase." ucap Ai dengan sorot mata tegas.

"Haah, baiklah..." Genta menghentikan niatnya untuk mencomot makanan hakase walau sedikit, jika ia nekat melakukannya, bisa-bisa ia dimarahi habis-habisan oleh Ai yang terkenal dengan karakternya yang menyeramkan.

"A-Ai-kun.. Sindiranmu terlalu mengena."

Conan yang melihat mereka hanya bisa tertawa dalam hati, kalau tidak ia juga akan terkena getahnya.


"Aku ingin tidur di sini." ucap Genta yang sudah menandai tempat untuk tidurnya di ruang utama rumah hakase yang sangat luas dengan menggelar futonnya.

Malam ini mereka berenam berencana untuk tidur bersama-sama. Awalnya Ai menolaknya karena takut ada yang akan masuk angin padahal besok sekolah, tapi Ayumi berhasil membujuknya. "Aku di sini!" ucap Mitsuhiko tidak mau kalah, ia bahkan secepat kilat menggelar futonnya tepat di samping kanan futon milik Ai, Conan yang melihatnya terkejut. Ia segera mengambil tempat di samping kiri Ai.

"Hei, apa-apaan ini? Aku tidak ingin tidur ditengah laki-laki." jerit Ai.

"Aku hanya mau tidur di samping salah satu dari kalian." Ai menyilangkan tangannya di depan dada.

"Jadi sekarang kalian harus janken untuk menentukannya."

Dengan berat hati, mereka berdua pun janken, dan hasilnya... Conan yang menang, ia berteriak kegirangan hingga tanpa sadar memeluk Ai.

"Chotto, Kudo-kun..." bisik Ai membuat Conan tersadar apa yang sedang dilakukannya.

"Ma-maaf, saking senangnya aku jadi..." belum selesai mengucapkan kalimatnya, Conan kembali mendapat tatapan maut dari teman-temannya.

"Hora! Kalian jangan segitunya napa!" protes Conan.

"Jadi Conan-kun yang menang ya..." Mitsuhiko menghela napas kecewa.

Ai merasa iba melihat Mitsuhiko, ia tahu kalau temannya itu menyukainya, sepertinya ia harus memberinya kesempatan kali ini. "Baiklah, Tsuburaya-kun... Kau boleh tidur di samping kananku, sementara itu Edogawa-kun akan tidur di samping kiriku."

Kedua mata Mitsuhiko berbinar. "Eeh? Boleh?" Ai mengangguk.

"Tunggu Haibara! Kau bilang tidak ingin tidur di antara dua laki-laki, tapi kau begitu mudahnya mengatakan seperti itu?!" bisik Conan protes, merasa tersaingi.

"Ara, tidak masalah bukan? Lagipula ia masih anak-anak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Anak-anak katamu? Mereka sudah beranjak remaja."

"Justru aku yang heran dengan dirimu, kau bersikeras untuk tidur di sampingku, seakan tidak menyadari usiamu yang sebenarnya... Bahkan menurutku berbahaya jika kita tidur bersebelahan." balasan Ai membuat Conan melongo, benar juga kata-katanya. Sepertinya Conan sudah berlebihan, ia menganggap Ai lebih dari sekedar teman dekat dan partnernya, padahal mereka tidak menjalin hubungan romantis sama sekali.

.。.:* .。.:*