._o0o_.
Miss H
._o0o_.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : ShikaTema
Genre : Slice of Life, Romance
Happy Read
Barisan antrian manusia tampak memenuhi sebuah gedung seolah-olah manusia tersebut adalah sulur-sulur yang keluar dari pintunya. Kesenangan meliputi wajah dari para manusia yang tengah sabar mengantri untuk mendapatkan sesuatu dari dalam gedung tersebut.
Sebuah dekorasi indah yang berbentuk gerbang dengan tulisan 'Meet & Greet with a Rookie' terpampang di pintu masuk utama dari gedung pencakar langit tersebut. Sementara di dalam sana, terdapat setidaknya 6 buah percabangan yang menuju kearah 6 orang yang sedang asyik membagikan tanda tangannya pada kerumunan manusia didepannya yang dengan senang hati menyodorkan bukunya untuk ditandatangani.
"Arigatou, sensei" Kata seorang anak perempuan berambut pirang panjag. Mata birunya tampak menyiratkan kesenangan yang luar biasa ketika melihat tanda tangan itu sudah terbubuh diatas komik yang baru dibelinya kemaren.
"Douita" Jawab gadis berambut pirang berkucir empat sambil tersenyum kecil melihat senyuman polos gadis tersebut. Sebuah plakat nama bertuliskan 'Sabaku Temari' terpampang di depan gadis tersebut, mengukir namanya menjadi salah seorang mangaka yang popular di Amerika.
"Sensei, apakah sensei sudah menikah?" Tanya seorang anak laki-laki dengan nada polos kearah gadis berkucir empat tersebut. Gadis itu pun hanya bisa tersenyum kecil sambil menyerahkan manga anak tersebut.
"Masih nunggu seseorang"
Shikamaru's POV
Gawat, gawat, gawat, acara meet and greet nya udah hampir selesai. Tak henti-hentinya aku melihat kearah arlojiku yang sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit sore. Aku pun berlarian diantara lalu lalang manusia di stasiun untuk mengejar kereta menuju New York. Kurasa aku masih bisa untuk kesana tepat waktu jika aku mengambil kereta….
"Mohon maaf. Kereta jurusan New York sedang mengalami sedikit masalah sehingga pemberangkatannya akan ditunda…."
Sial, aku benci Amerika.
Kenapa disaat seperti ini mereka harus menunda keberangkatan kereta. Apakah seperti ini pelayanan masyarakat di negara adikuasa? Pelayanan kereta di negaraku jauh lebih bagus.
Tidak, tidak, bukan waktunya untuk mencemooh negara orang, itu tidak akan membuat keretanya bisa balik lagi. Pikir, Shikamaru, apa yang bisa kau lakukan untuk segera sampai kesana. Tanganku mencengkeram erat buku yang sudah kubawa sejak aku berangkat kerja tadi pagi. Apa yang harus kulakukan?
"Hah… Masa bodoh dengan tabunganku nanti" Kataku sambil keluar dari stasiun, mencari sesuatu untuk ditumpangi. Kulihat sebuah taksi berwarna kuning yang tampaknya masih kosong. Aku pun berlari kearah taksi tersebut.
"Hei… Aku akan membayarmu lima kali lipat jika kau bisa mengantarkanku ke New York sebelum jam enam sore" Kataku dengan nada mengancam kearah sopir tersebut. Mata biru sopir itu tampak terkejut ketika jam istirahatnya diganggu olehku. Biarin aja deh.
"Tapi, itu mustahil tuan"
"Coba saja dulu. Cepat jalan, keterlambatan satu menit dari jam enam membuat bayaranmu berkurang satu dollar. Deal?" Tanyaku pada sopir tersebut ketika aku sudah duduk dibelakang kemudinya. Dia tampak tidak mengerti dengan apa yang kukatakan dan hanya menatapku dengan tatapan bingung.
"Jalan saja, baka" Perintahku yang langsung membuat sopir tersebut keder sehingga menginjak pedal gasnya dan melajukan taksinya, meliuk-liuk diantara jalanan sempit yang dipenuhi oleh kendaraan.
-0-
"Ah, sial…" Gumamku didepan gedung yang sudah sepi tersebut. Kulihat arlojiku yang menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Aku pun mengeluarkan beberapa lembar puluhan dollar dan menyerahkannya pada sopir tersebut.
"Jangan bosan-bosan menyetir ya" Kataku dengan nada datar. Aku pun mencoba untuk mencari kesempatan dalam gedung tersebut. Temari sudah pulang belum ya? Masa dia lima menit aja udah tidak ada digedung.
Kakiku melangkah kearah pintu masuk dengan dekorasi yang sudah hampir lepas tersebut. Beberapa petugas EO tampak melepaskan beberapa dekorasi yang menghiasi dinding ruangan, dan mengangkut beberapa meja dan kursi yang digunakan untuk acara meet and greet tadi.
Pandanganku terbentur pada salah satu meja yang masih belum diangkut oleh petugas EO tersebut. Tampaknya seorang gadis berambut pirang masih tampak duduk disana sambil menenggelamkan kepalanya diatas kedua lengannya. Sebuah plakat nama bertuliskan sebuah nama yang sangat kurindukan itu tak urung membuatku menarik sudut bibirku untuk mengulum seulas senyuman lemah. Aku pun melangkahkan kakiku untuk berjalan menuju ke depan meja tersebut.
"Gomenasai, sensei. Aku terlambat, apa aku masih boleh minta tanda tanganmu?" Tanyaku dengan nada lembut pada gadis pirang tersebut. Biji hijau pucat mengintip dari kelopak mata yang tampaknya sudah lelah untuk terbuka tersebut. Tangan yang terlihat lemah itu tampak terangkat sebelum akhirnya menandatangani komik yang kusodorkan didepannya.
"Arigatou" Kataku.
"Douita, lain kali jangan telat ya" Sahut gadis tersebut sambil tersenyum kecil. Ah… Senyuman itu lagi. Kali ini bukan senyuman sedih, tapi senyuman lemah, seperti senyum seorang ibu yang kelelahan karena seharian ini merawat anaknya.
"Ayo dong…. Jangan tersenyum seperti itu. Aku tahu kamu gadis yang kuat, tunjukkan senyum yang bahagia gitu loh" Kataku sambil merendahkan diriku agar bisa sejajar dengan wajahnya.
"Apa maksudmu…" Ucapannya terputus sesaat setelah manik hijau pucat itu menangkap biji hazel milikku. Kulihat biji hijau itu tampak menahan emosi yang sepertinya akan terluap saat biji itu bergetar hebat dan sudah terlihat beberapa bayangan air yang menumpuk disudut matanya.
"Yo, how do you do" Kataku sambil mengangkat tanganku ketika melihat gadis pirang itu sudah hampir menangis. Apa sih yang buat dia menangis? Gadis itu pun tampak mengucek kedua matanya seolah menahan agar air mata itu tidak keluar ditempat yang tidak semestinya.
"Apanya yang how do you do, bukannya harusnya long time no see" Sahutnya sambil mencoba untuk tersenyum bahagia. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan datar nan malas khas dariku mendengar jawabannya.
"Huh… Masih ingat ya ternyata…" Kataku sambil tersenyum lemah. Aku pun membuka komik yang barusan ditandatangani tersebut. Ini hanya pengalih perhatian aja sih, aku tidak mau menatapnya lama-lama. Bukannya dia sudah menjadi miss H? Ah, marganya sudah berubah sehingga dia sekarang pasti sudah menikah dengan orang yang tepat.
Yap… Hyuuga, Hyuuga Neji. Dan dia sekarang menjadi nyonya Hyuuga, Hyuuga Temari.
Meskipun aku sudah mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku sudah melepaskannya, tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkan gejolak rasa geli, sedih, dan menyesal dihatiku ini. Ah… Sialan… Kenapa aku begitu egois dan naif? Dan sekarang aku menyesali keputusanku untuk meninggalkannya lima tahun lalu.
"Style gambarmu sama aja sejak dulu. Aku bisa mengenalinya dalam sekali lihat" Kataku mencoba untuk memecah kesunyian sambil terus menatap komik tersebut untuk mengalihkan pikiranku dari rasa penyesalan yang terus merambat menuju hidung dan mataku. Kenapa harus merasa seperti ini lagi sih? Bukannya aku juga sudah mempunyai calon pilihan Kaa-chan? Aku udah merasa bahwa aku tidak mendapatkannya sehingga… Ah… Aku sepertinya masih berharap pada gadis didepanku ini.
Sial… Apa kau gak bisa menurunkan sikap keras kepala dan egoismu meskipun hanya sedikit, Shikamaru.
"Yah… Mau bagaimana lagi, aku susah nyaman menggambar seperti itu kok. Tapi, ngomong-ngomong apa kau tidak merawat komikmu. Kok bisa jadi kumal gitu?" Tanya Temari.
Tidak merawatnya? Haha, aku tertawa mengejek diriku sendiri. Aku tidak bisa membiarkan komik ini hanya berdiam diri di rak buku milikku, makanya aku bawa terus sampai jadi kumal seperti ini.
"Yah… Maaf deh. Tapi ngomong-ngomong kamu kok belum pulang sih? Masih nunggu jemputan suamimu kah" Tanyaku mengalihkan perhatian. Aku juga penasaran jadi apa Neji sekarang. Apa dia sudah bisa menghilangkan sikap keras kepalanya itu?
"Apa maksudmu, Shikamaru-kun? Aku belum menikah" Eh… Aku pun menurunkan buku yang menutupi wajahku itu untuk melihat ke arah wajah yang menatapku dengan tatapan yang serius sekaligus heran tersebut. Eh… Apa ini sebuah harapan? Tunggu, tunggu dulu, jangan terlalu besar kepala dulu. Bisa jadi dia sudah bertunangan.
Tapi, kan kalo bertunangan aku masih bisa…. Hentikan pikiran bodohmu yang memalukan itu. Apa untungnya merebut calon istri orang lain?
"Oh… Berarti nunggu jemputan tunanganmu ya?" Sahutku tanpa sadar. Tatapan heran itu masih tidak berubah.
"Aku juga belum tunangan" Jawabnya yang langsung membuatku terkejut. Apa ini? Aku pun membuka buku komik yang ditandatangani tadi dan membuka bagian tanda tangan yang dia bubuhkan.
"Lalu, apa maksud dari Miss H yang ini? Kupikir kau sudah ganti marga karena sudah menikah? Bukannya namamu itu Sabaku Temari ya?" Tanyaku dengan nada penasaran. Tatapan heran itu beberapa detik masih tidak berubah, tetapi kemudian seulas senyuman geli terukir di wajah cantiknya.
"Yare-yare, Shikamaru-kun. Aku tahu aku ga bisa menuliskan sesuatu dengan bagus. Tapi, ayolah, apakah tulisanku sejelek itu sampai kau tidak bisa membaca tulisanku dengan benar. Itu N tau, N, bukan H" Jawab Temari. Aku pun kembali melihat kearah tanda tangan tersebut dan meneliti setiap garis yang dia buat. Ini huruf n kecil meskipun garis tengahnya memang agak kebawah dikit sih. Tunggu dulu, N ini artinya apa?
"Benar sekali. Itu adalah marga harapanku, marga Nara" Ucapan Temari tadi begitu lembut meluncur dari bibirnya. Aku tau dia orangnya sangat ceplas-ceplos, tapi tidak kusangka dia bisa mengatakan hal itu dengan lancar di depanku. Aku pun menatap wajah yang sekarang sedang tersenyum tulus kearahku tersebut dengan ekspresi terkejut. Apa yang harus kukatakan sekarang?
Keheningan itu terjadi begitu lama, meskipun kulirik jarum panjang di arlojiku masih belum berpindah. Artinya belum ada semenit kami terdiam, tetapi aku sudah merasa sangat lama karena memikirkan apa yang harus kurespon dengan pernyataan Temari barusan. Gadis itu tampak sedikit bosan dengan keheningan ini sehingga dia pun mengalihkan perhatiannya tanpa merubah ekspresi senangnya.
"Bagaimana denganmu, Shikamaru-kun. Apa kau tidak membawa istrimu kemari?" Pertanyaanku itu menyadarkan pikiranku dari freeze. Ah… Benar juga, bukankah tadi aku sudah membelinya setelah menelepon Kaa-chan tadi. Nanti aku bilang saja bahwa aku menolaknya karena aku tidak mau menyesal lagi.
Tidak akan….
"Tidak, dia bisa berangkat sendiri" Jawabku singkat. Mata hijau itu tampak melirik kearahku sebelum akhirnya menghela nafas pelan sambil mengalihkan pandangannya, menerawang kearah langit senja di ufuk barat.
"Sou ka. Jadi aku yang terlambat ya" Katanya sambil menatap kosong kearah luar. Aku pun hanya menghela nafas pelan mendengar jawaban yang terdengar sedih meskipun diucapkan dengan wajah senang tersebut.
"Dasar… Apa kau masih mau aku mengantarmu, padahal kamu bisa berangkat sendiri" Kataku sambil meletakkan benda yang baru saja kubeli di toko permata tadi pagi setelah aku mengatakan pada Kaa-chan bahwa aku akan menerima perjodohan darinya saat kusadari bahwa Temari sudah menikah.
Gadis itu tampak sedikit terkejut dengan ucapanku dan lebih terkejut lagi dengan apa yang ku berikan padanya. Yap… Itu dua buah cincin dengan huruf S dan T yang terukir di permata yang menghiasinya. Tangan putihnya tampak bergerak untuk menyentuh cincin tersebut, sebelum akhirnya kututup kotak cincin tersebut.
"Ucapkan janji suci terlebih dahulu" Kataku sambil menatap Temari dengan wajah geli. Seulas senyuman tulus terukir di bibirnya yang indah itu. Mata hijau itu tampak mengalihkan pandangannya keatas tanpa menahan senyuman bahagianya.
"Ga ada romantis-romantisnya tau kalo menikah ditempat kayak gini"
FIN
Yeee…. Jadinya Miss N, bukan Miss H….
Saya gam au kalo jadi Miss H hehe….
Thanls for Reading
