Disclaimer: Boboiboy Galaxy selalu milik Monsta. Aku mah apah atuh…
Enjoy~
.
.
.
Test 2: Peka dan Kurang Ajar Itu Sebenarnya Adalah Dua Hal yang Tidak Berbeda Jauh
"Huft…aku tidak mengerti, kenapa mereka tidak pernah menyukai biskuitku…" seorang gadis berhijab pink tampak berjalan menyusuri koridor dengan lesu.
Sebuah keranjang berisi berbagai macam biskuit yang tampak lezat tampak dijinjing menggunakan tangan kanannya.
Gadis remaja yang biasa dipanggil Yaya tersebut baru saja selesai membuat biskuit seperti biasa di dapur. Tapi seperti biasa juga, tidak ada yang mau memakan biskuit yang sudah susah payah dibuatnya tersebut.
Bahkan sang komandan kepala kotak yang selalu memakai kacamata dua lapis pun menolak dengan alasan lidahnya sedang cuti hari ini.
Laksamana Tarung?
Iya sih, alien yang kemungkinan hobi nge-gym itu tidak pernah protes dengan rasa biskuitnya, tapi Gopal melarang dirinya memberikan biskuit lagi ke Laksamana karena insiden menyedihkan dimana Laksamana kejang-kejang akibat overdosis micin(?) beberapa minggu yang lalu.
Ish, si Gopal…kalo mau nge-haters bilang aja, napa.
Dan begitulah, sekarang Yaya berjalan dengan muram menyusuri koridor kapal angkasa tersebut.
Duaaarr!
Sebuah suara ledakan membuat Yaya tersentak kaget.
"Asalnya dari…laboratorium Solar?" kaget Yaya.
Karena khawatir, gadis itu pun segera melesat terbang menuju lab yang sesungguhnya letaknya cukup jauh dari lokasinya.
Yah, tapi suara ledakan itu terdengar sampai ke telinganya.
Kira-kira sebesar apa bencana yang terjadi di lab itu kali ini?
.
.
.
"Cantik…"
"Eh?" Yaya sangat terkejut melihat pemuda beriris ruby dihadapannya itu menuturkan sebuah kata sambil tersenyum ala Oppa-Oppa dari Negeri ginseng (Tunggu, memangnya Yaya nonton?).
"Benar-benar cantik," pemuda yang bernama Boboiboy Halilintar tersebut bersuara lagi.
Oke, jantung Yaya berdetak secepat Ying mengayunkan kakinya sekarang.
Apa yang sebenarnya merasuki Halilintar?!
"Kelihatannya…aku jadi menyukaimu…" Halilintar mencondongkan tubuhnya, sehingga otomatis wajah Halilintar juga tampak semakin mendekat ke wajahnya.
Yaya, yang wajahnya sudah sama warna dengan pakaiannya, mulai menutup matanya erat-erat.
"Astaga…dia…d-dia mau ngapain…?!" Yaya menggigit bibirnya.
Bagaimana ini?
Apa benar Halilintar akan melakukan itu?
Benar-benar melakukannya?!
Berarti...apa Halilintar akan menjadi yang pertama…
"Stop! Aku ini mikir apa?!" tubuh Yaya mulai gemetaran.
"Hiks…Mama, kelihatannya putri semata-wayangmu ini akan segera menjadi dewasa. Maafkan aku Mama…aku-"
"Kau mau jadi pacarku?"
"Huh?" Yaya reflek membuka matanya, dan yang saat ini dilihatnya adalah Halilintar, tengah duduk bersila dihadapannya sambil memegang sebuah…
Biskuit?
Tunggu dulu…
Jadi yang tadi Halilintar itu hanya memungut biskuit yang ada di dekatnya saja?
Jadi yang tadi dibilang cantik itu…
"Nggak jadi deh Mama…kayaknya aku memang masih terlalu cepat untuk dewasa…" Yaya nge-batin sambil menatap Halilintar dihadapannya dengan wajah lempeng.
.
.
.
Yak, Lanjut.
"K-kenapa Kak Hali malah jatuh cinta sama biskuit?" tanya Taufan tak percaya.
Yaya masih bengong ditempat, sementara Halilintar juga tampak mengelus-ngelus biskuit di tangannya dengan penuh kelembutan.
Tampak aura-aura berwarna pink menguar dari tubuh si pengendali petir.
"Err…jangan-jangan, yang pertama kali dilihat Kak Halilintar itu bukan Yaya, tapi…biskuitnya?" gumam Solar.
"Tunggu, jadi maksudmu Love Potion itu juga berefek pada benda mati?" tanya Gempa.
"Kelihatannya begitu. Kurasa kandungan dalam Love Potion nya terlalu kuat…terlebih lagi, Kak Halilintar terkena satu botol penuh tadi," jawab Solar kikuk.
"Hee? Love Potion? Buat apa Solar membuat begituan?" tanya Blaze dengan wajah tak berdosa sama sekali.
"Lof posion? Makanan kah?" Thorn bertanya antusias, membuat ketiga saudara kembarnya facepalm.
"Ini buat konsumen sih…tapi jika efeknya seperti ini, kayaknya terlalu berbahaya kalo dipasarkan," ucap Solar.
"A-anu…sebenarnya apa yang terjadi?" setelah sadar dari posisi bengong nya, Yaya akhirnya menghampiri kelima Boboiboy yang lain untuk meminta penjelasan.
"Panjang. Pokoknya menurut chapter sebelumnya, Kak Halilintar itu terkena pengaruh Love Potion buatanku, dan karena biskuitmu itu hal pertama yang dilihatnya, makanya Kak Halilintar jadi jatuh cinta sama biskuitmu," jelas Solar.
"Eh? Beneran? Kenapa sampai bisa?" kaget Yaya.
"Noh, tanya sama Blaze," Taufan menunjuk Blaze dengan jempolnya, sedangkan yang ditunjuk malah cengengesan sambil mengetuk-ngetukkan kedua jari telunjuknya.
"Jadi, Solar…bagaimana nih? Apa Kak Halilintar bisa disembuhkan?" tanya Gempa.
"Umm…bisa sih…tapi aku membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan ramuannya. Aku takut proses membuat penawarnya juga akan sama-atau mungkin lebih lama," jawab Solar ragu.
"Memangnya efek Love Potion nya bertahan berapa lama?" tanya Blaze.
"Entahlah. Aku belum melakukan uji coba sama sekali, jadi belum tahu. Tapi kurasa…permanen sampai diberi penawar," Solar tersenyum dengan kakunya.
"Aduh, sekarang gimana, dong?" Gempa mulai khawatir.
"Kita buat saja penawarnya, Solar. Jangan pikirkan masalah waktu, yang penting bisa dulu," saran Taufan yang tumben-tumbennya tidak gesrek.
"Ya sudah. Ayo kita bawa Kak Halilintar ke mesin pemindai untuk uji coba," desah Solar lelah.
"Solar, Kak Hali nya udah pergi loh," ucap Thorn tiba-tiba.
"Hee?" karena terlalu asik berdiskusi, mereka sama sekali tidak sadar pemuda serba merah-hitam tersebut sudah lenyap entah kemana, meninggalkan keranjang beserta biskuit-biskuit yang berhamburan.
Thorn sebenarnya sudah menyadarinya sejak tadi, tapi gumamannya sama sekali tidak di gubris oleh lima orang lainnya.
Enggak apa-apa, Thorn wa tsuyoi.
"Kak Taufan, Yaya, kalian tolong cari Kak Halilintar. Kak Gempa bisa bantu aku meneliti kembali bahan-bahan buat penawar kan?" pinta Solar.
"Oke. Tapi pertama, kita bersihkan dulu deh biskuit-biskuit ku," ucap Yaya.
Sudah ditolak, sekarang biskuit buatannya malah mengotori ruangan.
Sudah, yang sabar saja, Yaya. Orang sabar jodohnya deket kok.
Eh.
"Terus kami ngapain?" tanya Blaze semangat, sedangkan Thorn masih kedip-kedip polos disamping sang kakak sesama trio pembuat masalah.
Solar menghela napas.
"Kalian…juga bantu cari Kak Halilintar saja sana. Kalo berpencar ketemunya juga bisa cepet," ucap Solar disambut teriakan penuh semangat oleh dua makhluk kekanak-kanakkan tersebut.
.
.
.
"Jadi…kita carinya kemana nih?" tanya Yaya yang saat ini sedang terbang menyusuri koridor disamping Taufan yang duduk santai di atas hooverboard nya.
"Hmm…sebentar, aku pikir dulu…" Taufan memasang pose ala-ala detektif Konon.
Kemungkinan besar Halilintar akan berdiam diri di 'ruang kesendirian', tempat biasa dirinya menyendiri jika sedang tidak mood meladeni kejahilan trio Troublemaker.
Di saat seperti ini, Halilintar seharusnya akan menyendiri bersama 'pacar' barunya bukan?
"Yosh! Ayo ikuti aku, Yaya~" Taufan mempercepat kelajuan hooverboardnya.
"Tunggu, kita mau kemana?" tanya Yaya yang cepat-cepat menyamakan posisinya dengan si topi miring.
"Hahaha, lihat aja deh. Pokoknya ikut aja~" sahut Taufan, mengabaikan raut penasaran dari si gadis hijab yang baru saja menjadi korban PHP *Author diusir*.
.
.
.
"Jadi gimana, Solar?" tanya Gempa.
Solar yang masih membolak-balikkan buku eksperimen terlihat serius dan bingung disaat yang bersamaan.
"Ya ampun…aku sudah melakukan kesalahan besar," gumam si pengendali Cahaya dengan kedua mata membulat.
"A-apa maksudmu?" tanya Gempa lagi.
"Ada sesuatu yang salah dalam kandungan Love Potion yang ku buat, tapi aku masih belum tahu apa itu. Kelihatannya sebelum bisa mengumpulkan bahan penawar, aku masih harus meneliti lagi apa isi Love Potionnya…" jelas Solar masih dengan wajah bingung.
Gempa yang mendengar penjelasan sang adik bungsu hanya menghela napas.
Ya sudahlah. Lagipula ini juga bukan pertama kalinya Solar membuat kekacauan dengan eksperimen-eksperimen anehnya.
"Kalo begitu lakukanlah. Aku akan menemanimu disini-ah, sekalian kamu belum sarapan kan? Akan ku ambilkan makanannya," tukas Gempa.
Solar membalas dengan senyum tipis.
Reaksi Gempa saat ini memang benar-benar typical.
.
.
.
"Jadi…sudah berapa lama kau disini?" Halilintar duduk di hadapan sebuah meja panjang dengan posisi menopang dagunya.
"…"
"Ah…baru disini rupanya? Artinya kau belum tahu ruangan-ruangan disini kan? Mau ku tunjukkan?" Halilintar bersuara lagi, kali ini terdapat sedikit kilatan antusias di matanya.
"…"
"A-ah…bukan, bukan. A-aku bukannya peduli padamu…hanya saja…k-kau…kau cantik…" Halilintar merona seketika kemudian segera memalingkan wajahnya.
"Apakah…" Yaya yang mengintip di balik pintu melongo tak percaya.
"Pfftt…" sementara Taufan yang juga ikutan mengintip, mati-matian menahan tawanya sambil memposisikan ponselnya.
"Kamu ngapain sih?" tanya Yaya risih karena Taufan terus bergetar seperti orang kebelet.
"Wajah Kak Hali sangat precious, jadi harus diabadikan~" sahut Taufan dengan wajah ala Yao Ming.
Yaya sweatdrop.
Halilintar (yang sama sekali tidak sadar dirinya sedang dikuntit) masih curi-curi pandang ke arah sepotong biskuit yang diletakkannya di atas kasur (baca: piring) dengan malu-malu ala gadis yang pertama kali ikut kencan buta.
"Ngomong-ngomong, kita sudah menemukan Halilintar. Sekarang apa?" tanya Yaya pada Taufan yang masih asik-asiknya memotret wajah Halilintar dari setiap sudut.
Ajaibnya, anak itu sama sekali tidak ketahuan.
Yah, Halilintar kan saat ini sedang kasmaran, jadi dunia serasa milik sendiri, yang lain mah cuman nge-kost doang~
"A-aku…ingin mengetahui lebih banyak soal dirimu. B-bukan! Aku bukannya…aku hanya…ugh…" Halilintar gelagapan sendiri dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang semakin memerah.
"Manisnya…" telinga kucing imajiner mendadak keluar dari topi Taufan.
Kedua tangannya terus menekan-nekan ponselnya, tidak mau ketinggalan satu pun ekspresi sang kakak sulung yang benar-benar membuat Author mupeng membayangkannya.
"Ugh…kau membuatku kesulitan berpikir…kenapa sih harus kau…?" gumam Halilintar masih dengan wajah terhalang kedua tangannya.
"Kak Hali bisa bahasa biskuit ya? Eh, memangnya biskuit punya bahasa mereka sendiri?" Taufan menatap heran Halilintar yang terus mengoceh seolah-olah memang sedang bercakap-cakap ria dengan si biskuit.
"Taufan," Yaya yang sudah gregetan akhirnya memberanikan diri melayang mendekati si pengendali angin.
"Ayolah, kita harus membawa Halilintar ke lab sekarang," ucap Yaya.
"Iya, iya. Sebentar dong, Kak Hali juga kelihatannya nggak bakalan kabur," Taufan kali ini merekam aksi sang kakak yang sedang 'berkencan' dengan si biskuit.
"Lihat deh, Yaya. Kalo foto-foto ini dijual…bayangkan saja berapa banyak untung yang akan aku dapatkan," Taufan cengar-cengir sambil memperlihatkan belasan foto yang merupakan wajah Halilintar yang sedang merona dan tersenyum.
Yaya sendiri juga ikut merona melihat ekspresi manis yang jarang ditunjukkan oleh pemuda petir yang biasanya judes tersebut.
"S-sudah ya. Ayo kita segera bawa Halilintar ke lab Solar," ucap Yaya setelah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hee? Tapi aku masih mau~" Taufan mulai merengek.
"Ck, nggak. Tugas kita untuk membawa Halilintar kembali ke laboratorium, jadi harus kita laksanakan," tolak Yaya.
"Hwee…tapi aku suka…" Taufan mulai mengeluarkan air mata alligator(?)nya.
"Tidak, jangan berpikir untuk mengelabuiku. Aku sudah kebal," Yaya masih keukeuh pada pendiriannya.
Entah kenapa situasi percakapan mereka terlihat seperti cerpen-cerpen yang biasa dimuat di majalah sekarang.
"Yaya~"
"Enggak, pokoknya sekarang kita-"
"Ck, berisik! Kalian daritadi ngapain sih?"
Dan percakapan tersebut langsung bubar karena interupsi dari si pemilik topi hitam-merah yang kini menatap tajam ke arah mereka. Di matanya entah kenapa tersirat kalimat 'kalian mau ganggu aku dengan bebeb ku? Ku jadikan kalian bebek panggang!'.
"Oh…eh…hai, Halilintar. Maaf, aku hanya mau menjemput Taufan yang sudah berbuat nakal di ruangan pribadimu, hehehe…" Yaya tertawa garing.
"Taufan?" Halilintar mengerutkan keningnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Sampai bawa-bawa ponsel segala," pertanyaan tersebut berhasil membuat Taufan banjir keringat.
"Ehh...anu..." Taufan mulai gelagapan.
"Anu apa?" Halilintar mulai menatap Taufan dengan tajam, semakin membuat nyali si topi biru menciut.
Ayolah, Taufan belum mau mati muda.
Apa kata dunia nanti kalo Boboiboy The Movie 2 itu hanya ada enam elemental saja yang muncul?
Halilintar masih menatap Taufan dengan intens, sedangkan yang di tatap semakin gemetaran. Telinga kucing imajinernya pun perlahan-lahan menurun.
"Tunggu, apa-apaan situasi ini…?" Yaya yang berada di 'tengah' kembali sweatdrop.
Tidak, tidak.
Author beneran mau tobat kok~ peace yo Yaya~ *kabur*
"Ya sudah. Kau bisa fotoin aku nggak? Mau ku pasang di Spacebook," ucap Halilintar sambil mengangkat sepotong biskuit yang menjadi 'teman kencan'nya hari ini.
"Ah…fotoin Kak Hali ya," Taufan baru saja mau menghela napas lega, tapi seketika ekor kucing imajinernya naik mendadak.
"HEEE SERIUSAN?!"
.
.
.
"Kak Gempa, menurut Kakak, bahan lazim apa yang biasa dipakai untuk ramuan cinta itu apa?" tanya Solar tiba-tiba sambil mengutak-atik mesin pemindainya.
"Eh? Bahan lazim? Mmm…" Gempa berpikir sebentar.
Jika itu bahan lazim, maksudnya mungkin bumbu dapur?
"Err…gula? Rempah-rempah? Ah…atau segala bahan apapun yang penting baik?" jawab Gempa ragu.
"Ehh…kalo dipakai tiga-tiganya nanti jadinya bukan ramuan, tapi malah makhluk biologis," Solar menyeka keringat yang mulai mengalir di pelipisnya.
"Ah, tapi mungkin jika memakai salah satu ada kemungkinan. Kita coba dengan gula," ucap Solar sambil menepuk-nepuk tangan berbalut sarung tangannya.
Duaarr!
Solar dan Gempa kembali dikejutkan oleh suara ledakan yang (lagi-lagi) berasal dari pintu laboratorium, dan (lagi-lagi) pelakunya adalah orang yang sama.
"Blaze? Ada apa? Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Gempa yang bingung melihat Blaze dan Thorn terlihat sangat panik.
"I-itu…Kak Gempa, Solar...ada...itu...ugh, mending kalian lihat sendiri deh," ucap Blaze dangan napas terengah-engah.
Solar dan Gempa saling pandang, kemudian akhirnya ikut menyusul dua saudara kembar mereka yang kembali berlari menuju suatu tempat, yang sebenarnya sangat dikenali oleh Gempa.
"Mau apa mereka disana?" gumam Solar.
Gempa juga masih merasa bingung, sekaligus cemas.
Apa yang sudah terjadi di kamar yang ditempati oleh dirinya dan Gopal tersebut?
.
.
.
Jepret!
Jepret!
Jepret!
Yaya cengo untuk yang kesekian kalinya di chapter ini.
Memang sih, Halilintar meminta Taufan untuk memotret dirinya bersama 'pacar'nya.
Tapi…
"Kak Hali, muka nya kaku amat sih kayak kanebo kering! Pose nya bisa di ubah, nggak sih?" protes Taufan selaku fotografer gratisan(?) yang mulai risih dengan pose Halilintar yang daritadi terlihat seperti karyawan kantoran yang mau foto KTP.
"Lalu mau mu seperti apa?" tanya balik Halilintar yang juga ikutan kesal.
"Coba pose yang agak santai sedikit, dong. Kalo perlu, yang mesra juga bisa. Kan foto bareng pacar," kali ini, hanya Yaya yang menyadari bagaimana seringaian Taufan begitu mengucapkan kata pacar tersebut.
"Umm…s-seperti ini?" Halilintar dengan canggung menempelkan biskuit tersebut ke pipi kanannya.
Blush!
Oke, bukan hanya Yaya kok, si fotografer juga ikutan merona.
Eh…Author, dan (pasti) pembaca sekalian juga merona membayangkannya kan kan kan~
"Syukur ya, Yaya…sekarang ada manusia yang benar-benar menyukai biskuit buatanmu," ucap Taufan sambil terkekeh.
Yaya cemberut. Entah Taufan mencoba menghibur atau malah meledeknya, yang pasti Yaya tidak suka dengan kata-katanya tadi.
"Oke, senyum ya, Kak Hali. Satu, dua, tiga!"
Jepret!
Dan hasil foto yang keluar adalah Halilintar yang tersenyum manis dengan sebelah tangan membentuk pose V dan sebelah tangan lagi menahan biskuit yang menempel di pipinya.
"Ohohoho…ini kalo dijual, kelihatannya satu lembar saja sudah cukup bagiku untuk membeli pesawat pribadi…" batin Taufan dengan wajah ala antagonis sinetron yang sedang menyusun rencana jahat.
"T-terima kasih. Tapi jangan berpikir aku sesenang itu karena sudah berfoto denganmu, ya…" ucap Halilintar sambil mengalihkan pandangannya lagi, sedangkan biskuit di genggamannya masih tetap anteng di posisinya.
"Ahahaha…Kak Hali benar-benar super. Ya sudah, gimana kalo kita nyusul GemGem dan Solar sekarang, Yaya?" ucap Taufan, namun sama sekali tidak digubris oleh si lawan bicara.
Yaya malah saat ini terlihat sedang larut dengan lamunannya sendiri.
"Yaya? Hello? Taufan ke Yaya, ganti? Kau dengar, nggak?" Taufan menjentikkan jarinya berkali-kali dihadapan Yaya, baru lah gadis itu kembali ke dunia nyata.
"A-ah…maaf…ada apa?" tanya Yaya kikuk.
"Haish…tadi kau mengoceh ingin membawa Kak Hali ke lab, sekarang aku sudah mau membawa Kak Hali, dan kau malah bengong," ucap Taufan sambil geleng-geleng kepala.
"Ehehehe…habisnya kau kelamaan. Ya sudah, bagaimana kalo sekarang?" sahut Yaya.
"Oke. Kak Hali, kita ke lab Solar, yuk," panggil Taufan pada si sulung yang masih sibuk bercakap-cakap ria dengan 'pacar'nya.
"Ngapain?" tanya Halilintar tidak senang karena moment kasmarannya diganggu.
"Err…ah, pacarmu itu sakit. Dia harus diperiksa kan ke Solar," ucap Taufan ragu. Oke, baginya itu adalah kebohongan paling konyol yang pernah dia ucapkan.
"Ah…baiklah. Terserah kalian saja…tapi kalo sampai dia kenapa-kenapa, awas saja," ancam Halilintar.
Taufan sweatdrop.
Masa sih Halilintar tega melukai adik-adik kesayangannya hanya karena sepotong biskuit?
"…" sementara Halilintar dan Taufan sibuk berdebat, Yaya mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkannya.
"Oke, kita berangkat sekarang~" ucap Taufan semangat setelah disetujui oleh Halilintar.
"Uhh…aku kenapa sih…" Yaya memandangi sesuatu di ponselnya dengan wajah merona.
Click!
"Hey, kalian mendengarnya?" tanya Halilintar tiba-tiba.
"Mendengar apa?" tanya Taufan yang baru saja mau meluncur menggunakan hooverboardnya.
"Suara itu seperti…pistol…?" gumam Halilintar.
"Hah? Pistol?" Taufan menatap bingung sekelilingnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan seorang sniper disana.
"Tunggu, suara itu…jangan-jangan…" Halilintar sudah memasang kuda-kudanya, 'pacar' kesayangannya sudah diamankan di dalam kantung celananya ngomong-ngomong.
Blaazztt!
"..!" Halilintar lambat bereaksi, karena sebuah sinar sejenis laser berwarna pink sudah terlanjur muncul dan melesat cepat ke arah mereka.
"Yaya, awas!" teriak Taufan.
"Eh...?" namun sayang sekali, karena masih larut dalam pikirannya, si gadis pemilik nama tidak sempat menghindari serangan tersebut.
.
.
.
"A-apa-apaan ini?" Gempa cengo di ambang pintu melihat situasi di kamarnya sekarang.
"Aku mencintaimu…" Gopal menatap 'sosok' di hadapannya dengan mesra, tidak lupa setangkai bunga mawar entah dari planet mana sudah berada diapitan bibirnya.
"Aku juga, sayang~" sahut lawan bicara dihadapan Gopal.
Sontak mereka pun berpelukan dengan mesranya.
"Ah~ aku jadi ingin menikahimu sekarang~" Gopal mulai masuk ke dunianya.
"Oy…ini sebenarnya kenapa?" tanya Solar dengan wajah antara jijik dan geli.
Yah, siapa juga yang tidak merasa seperti itu melihat seorang manusia gempal sedang berguling-guling di lantai sambil memeluk cermin.
"Saat kami menemukannya, dia memang sudah seperti ini…" jawab Blaze dengan wajah tak kalah geli nya.
"Dilihat dari kondisinya, bisa jadi Gopal juga kena pengaruh dari ramuan buatan Solar itu," sambung Thorn.
"Eh? Love Potion ku? T-tapi…perasaan aku sama sekali belum mengeluarkannya," gumam Solar.
Lepaskan kuasamu, mereka akan tahu, ini dunia kau dan aku yeah~
Pik!
"Halo?" Gempa sedikit terkejut karena tidak biasanya Taufan akan menghubunginya lewat ponsel.
Biasanya itu akan dilakukannya jika situasi sedang genting…
"Gempa, kalian saat ini ada dimana sih? Ah, sudahlah...tolong pasang mode loud speaker. Ada yang harus aku sampaikan," ucap Taufan dari seberang telepon.
"Oh…eh…o-oke," Gempa dengan perasaan campur aduk segera mengaktifkan speakernya.
"Ada apa, Kak Taufan? Kak Halilintar udah ketemu?" tanya Solar.
"Iya, tapi kesampingkan dulu itu. Ada sesuatu yang harus kalian tahu sekarang," sahut Taufan.
"Memangnya ada apa, Kak?" tanya Blaze.
"L-love Potion nya…" Taufan bergumam pelan, meski tentu saja masih bisa didengar oleh keempat saudara kembarnya.
"Kenapa dengan Love Potion nya, Kak Taufan?" tanya Solar tak sabar.
Jeda sejenak…
"Love potion nya…telah dicuri oleh seseorang…" ucap Taufan pelan.
"…"
Hening selama belasan detik.
"Ah~ aku cinta padaku~~" sampai akhirnya suara Gopal menginterupsi para Boboiboy yang sedang mengheningkan cipta.
"HEEEEEEEEEEEE?!"
.
.
.
T B C
Cliffhanger yang klise, ahahahaha #tabok saya rada kasihan sih melihat Hali jadi gitu, apalagi biskuitnya buatan Yaya~ #woy
Ya udah, kalo kalian mau kayak apa foto-foto di chap ini, silahkan hubungi Upan lewat akun Spacebook nya ya semuanya~ tapi jangan tanya saya, saya ga tau nama akunnya apa. #dikeroyok
Ada yang kenal dengan jokes nya? Hahaha, yang dibilang Gempa soal bahan buat ramuan cinta itu saya ambil dari The PowerPuff Girls~ XD
Oke, fict ini akan update (Insya Allah) dengan cepat, biar bisa selesai dengan cepat pula. X'D
Oke, segitu saja, jangan lupa tinggalkan jejak berupa review yo~ Bye bye XD
Review onegaishimau~ XD
