Disclaimer: Boboiboy Galaxy milik Monsta, bukan milikku~ *nyanyi*

.

.

.

Scroll~

.

.

.

Test 3: Minta Izin Lari ke Toilet Adalah Hal yang Sangat (Tidak) Disarankan Jika Ikut Kencan Buta


"Dicuri…?" gumam Gempa tak percaya dengan apa yang baru saja dilaporkan oleh sang kakak kedua via telepon.

"T-tapi…perasaan kita tadi kan tetap berada di lab. Sejak kapan ramuannya dicuri?" tanya Solar bingung.

"Ugh…sudahlah, kalian sebaiknya kemari saja. Kami ada di lab ngomong-ngomong, dan ada masalah lain yang harus kalian tahu," sahut Taufan dengan intonasi yang terdengar lelah.

Solar dan Gempa saling pandang.

Apa sudah terjadi sesuatu?

.

.

.

"A-ah…"

Gempa melongo, Solar melepas kacamata kemudian mengucek-ngucek matanya, Blaze ber'heee' ria, sedangkan Thorn masih tetap senyum sambil kedip-kedip unyu.

"Kalian…sebenarnya apa yang terjadi sampai Love Potion berbahaya itu bisa sampai dicuri?" tanya Taufan yang memutuskan untuk mengabaikan reaksi keempat adiknya.

"Anu…kami juga tidak tahu. Padahal kami sama sekali tidak beranjak dari lab sampai Blaze dan Thorn datang memanggil," jawab Gempa canggung.

"Selain itu…" Solar menghela napas, "Bisa tolong jelaskan, apa yang terjadi?" Solar menggelengkan kepala pelan melihat saat ini Taufan dan Halilintar yang berdiri berjejeran.

Ditambah Yaya di tengah, dan masing-masing tangan gadis itu menggandeng satu lengan kedua kembar bertolak belakang tersebut dengan senyum manis terpatri di parasnya.

"Ahahaha…soal itu…" Taufan hanya bisa menggaruk pipinya sambil mengalihkan tatapan ke arah lain, sedangkan Halilintar hanya diam dengan tatapan kosong.

Oke, untuk mengetahui apa yang terjadi, mari kita mundur sedikit di kejadian di ruang kesendirian milik Halilintar~

.

.

.

"Yaya!" teriak Taufan panik.

"Aaaaaa!" Yaya tidak sempat menghindar, dan sinar aneh yang barusan tadi melesat ke arah Yaya tiba-tiba bertransformasi menjadi kepulan asap berwarna pink yang mulai mengelilingi si pengendali gravitasi.

"Hey…asap itu kan…" Taufan tentu saja masih ingat dengan jelas, asap pink itu mirip dengan efek yang diberikan oleh Love Potion racikan adik bungsunya.

"Uh…" mendadak tubuh Yaya melemas, sampai ponsel di tangannya jatuh akibat lemahnya genggaman pada benda persegi tersebut.

Perlahan tubuh gadis pink itu pun ambruk ke lantai.

"Yaya? Oy…kau tidak apa-apa?" tanya Taufan ragu.

Meskipun khawatir, pemuda bertopi miring tersebut tidak berani mendekat karena kepulan asap pink tersebut masih mengelilingi Yaya.

"Ah…" Yaya mengangkat kepalanya, kemudian menatap Halilintar dan Taufan bergantian dengan intens.

"Y-yaya…?" Taufan kembali memanggil.

Hening selama 30 detik…

Sementara Halilintar masih diam di tempat sambil memeluk pacarnya.

"Yaya?" Taufan memberanikan diri bersuara lagi.

"Pa…" Yaya bergumam sangat pelan dengan kepala tertunduk.

"Pa…?" Taufan memiringkan kepala bingung, berpikir apa mungkin itu semacam kode atau bahasa dari planet lain.

"Pangerankuuuu!" Yaya tiba-tiba saja melompat, mencoba menerjang Taufan yang berdiri dua meter dari posisinya.

"Heee? Tunggu…Waaa!" Taufan yang terkejut reflek mundur dengan angin topan kecil yang sudah mengelilingi tubuhnya.

"Eh? Kenapa kamu lari? Sini aku peluk~"

"Tidaaak!"

Bruk, Crack, Duaaar(?)

"OY! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

"HWEEE…MAAAAF KAK HALI!"

.

.

.

"Hee? Jadi…Yaya juga terkena efek Love Potion?!" kaget Solar setelah mendengar penjelasan panjang lebar tapi tidak jelas dari Taufan.

"Begitulah…dan sekarang dia tidak mau melepaskan kami," sahut Taufan pasrah. Tangannya sudah mulai pegal karena daritadi digandeng terus, ngomong-ngomong.

"Yaya terpengaruh Love Potion…lalu yang pertama kali dilihatnya adalah Kak Halilintar dan Kak Taufan?" tanya Gempa memastikan apa benar Yaya jatuh cinta pada dua orang di saat yang bersamaan atau tidak.

"Err…bukan sih," Taufan melirik Halilintar yang masih memasang wajah penuh duka(?), kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

Sebuah benda persegi berwarna pink, yang diketahui adalah ponsel Yaya.

"Ini…adalah yang pertama kali dilihat oleh Yaya," Taufan menunjukkan sebuah foto yang terpampang di ponsel gadis berkekuatan gravitasi tersebut.

"Hee…itu kan…" gumam Blaze.

"Itu foto kita semua kan…?" Gempa menatap bingung foto mereka bertujuh di atas pesawat TAPOPS yang saat ini ada di ponsel Yaya tersebut.

"Jika itu yang pertama kali dilihat Yaya…berarti…"

"Iyep," Taufan membenarkan ucapan Solar.

"Yaya jatuh cinta sama kita bertujuh," ucapnya.

"Hwaa…Gempa, Solar, Blaze, Thorn! Kalian disini juga," Yaya melepaskan gandengan tangannya dari Halilintar dan Taufan, kemudian terbang ke arah empat Boboiboy yang masih berdiam diri di ambang pintu.

"Waa Yaya minta dipeluk ya?" tanya Thorn polos.

"Enggak, enggak, enggak. Ini nggak benar," Gempa dengan cepat mendorong ketiga adiknya, berniat menghindari 'serangan' dari gadis berhijab pink tersebut.

"Mustahil…jadi Yaya beneran jatuh cinta sama kita semua?" entah sudah berapa kali Solar terkejut hari ini, tapi yang jelas fakta yang satu ini benar-benar membuatnya tidak habis pikir dengan efek Love Potionnya.

Heh…aku ternyata sehebat itu ya…

Yah, dan bukan Solar namanya kalo tidak bangga dengan dirinya~

"Ngomong-ngomong, Kak Halilin kenapa? Kok daritadi diam saja?" tanya Blaze.

"Ah…anu…" Taufan kembali merogoh saku jaketnya yang lain, kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil yang sudah terbelah menjadi dua.

"Eh? Biskuit…?" tanya Blaze bingung.

"Ehehehe…waktu tadi Yaya mengejar kami berdua, Kak Hali menjatuhkan biskuitnya…dan aku…tidak sengaja menginjaknya," jelas Taufan sambil tertawa kaku.

"Apa…?" Blaze cengo, sedangkan Taufan cengengesan sambil menggaruk pipinya.

"Pembunuh…" Halilintar bergumam sangat pelan.

"Kau pembunuh…" Halilintar kemudian menatap Taufan dengan mata merahnya yang menajam, dan hal itu tentu saja membuat bulu kuduk Taufan berdiri semua.

"T-tunggu…aku kan nggak sengaja. Lagian Kak Hali juga yang nggak hati…hati…" telinga kucing imajiner kembali mencuat(?) dari topi Taufan begitu melihat tatapan Halilintar terhadap dirinya semakin menggelap.

"Wah, wah…kisah cinta yang tragis…" komentar Solar sambil bertepuk tangan.

"Anu…daripada itu, ini nasibnya Yaya gimana?" tanya Gempa yang masih berusaha melepaskan Thorn yang malah balas memeluk Yaya.

"Bukan hanya Yaya sih…tapi Gopal…dan Kak Halilin juga," sambung Blaze.

"Kita bahkan belum menemukan solusinya, dan sekarang korbannya malah bertambah," desah Solar lelah.

Untuk kali ini, pemuda berkacamata jingga itu benar-benar menyesal dengan eksperimennya.

Tapi aku tidak pernah menyesali kejeniusanku loh ya.

"Ck…" Halilintar yang kesal (atau mungkin ngambek), akhirnya memalingkan wajahnya.

"Kak Hali…?" Taufan bertanya setelah mengumpulkan sisa keberanian yang ada di dalam dirinya.

"Aku tidak mau bicara pada orang yang sudah membunuh Bisky," sahut Halilintar.

"B-bisky…?" Taufan sweatdrop.

Sejak kapan biskuit angker milik Yaya ada namanya?

"Ya udah…Kak Hali tahu, nggak? Bisky bisa dihidupkan kembali loh," ucapan Taufan berikutnya membuat telinga Halilintar berdiri.

"B-beneran?" tapi pemuda berkekuatan petir itu masih enggan menatap mata biru Taufan.

Yah, Tsundere nya kumat sodara-sodara…

Taufan menghela napas lagi.

"Hey, Yaya~ sini deh," begitu mendengar panggilan dari Taufan, Yaya yang masih sibuk memeluk Thorn sambil ber-fangirling ria akhirnya melepaskan diri kemudian melesat menuju Taufan dengan kecepatan yang menyaingi Solar.

"Ya, Darling~?" Yaya memiringkan kepalanya, lengkap dengan senyum manis dan kerlap-kerlip ala komik Jepang disekelilingnya.

Taufan merinding begitu dipanggil dengan nama itu.

Yah…bukannya Taufan nggak suka, tapi melihat Yaya jadi genit begini rasanya benar-benar sama horror nya dengan memakan biskuit perisa apel hijau yang meracuninya tempo hari.

"I-itu…kau bisa membuat biskuit kan? Mau kan, membuatkan beberapa untuk Kak Hali?" pinta Taufan yang akhirnya bisa tersenyum lagi.

"Memangnya Yaya bisa?" tanya Halilintar masih dengan wajah penuh duka nya.

"Tentu saja~ apa sih yang nggak buat Darling sekalian~" sahut Yaya sambil berputar-putar gaje ala ballerina.

"Astagfirullah..." Solar kini bersyukur kacamata nya berwarna jingga.

"Kalo begitu…" Halilintar akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Yaya yang masih sibuk ber-fangirling ria.

"Aku mengandalkanmu," Halilintar memegang kedua tangan Yaya sambil menatap gadis itu dengan serius.

"Eh…?" Yaya (yang ditatap dari jarak yang sangat dekat) oleh Darling nya tersebut hanya bisa membeku di tempat.

"Apa-apaan suasananya…?" gumam Solar sweatdrop.

"Kyaaaaa!" dan tidak butuh waktu lama, akhirnya wajah Yaya pun memerah semerah pedang halilintar sebelum akhirnya gadis itu pingsan dengan asap keluar dari kepalanya.

"Baiklah…I'm out…" ucap Gempa dengan wajah tanpa ekspresi.

"Ahahaha…asik juga ya," Taufan hanya bisa tertawa kaku melihat pemandangan dihadapannya.

"Hey, Solar…lihat apa yang aku temukan," Blaze menunjukkan secarik kertas yang ditemukannya di atas meja eksperimen milik Solar.

"Surat…? Dari siapa?" Solar kemudian meneliti tulisan tangan yang ada di kertas berwarna pink tersebut.

Terima kasih atas anugerah yang anda ciptakan, tuan.
Ciptaanmu sudah aman bersama kami, dan kami janji akan menggunakannya dengan baik.
Demi menciptakan dunia tanpa kebencian, Love Potion ini adalah suatu keajaiban.
Jadi tidak perlu repot mencarinya lagi, semuanya sudah aman.

"Solar…ini kan…" gumam Gempa.

"Ya. Aku yakin mereka yang bertanggung jawab atas semua ini," sahut Solar.

"Tapi untuk apa? Dan lagi, bagaimana cara mereka mencuri Love Potion mu?" tanya Taufan.

"Entahlah…tapi aku yakin sekali orang-orang itu masih ada disini. Buktinya. Gopal dan Yaya juga sudah menjadi korban," ucap Solar.

"Oy Taufan, bagaimana dengan Bisky? Kau janji dia bisa dihidupkan kembali kan?" Halilintar kembali bersuara.

"Ugh…Kak Hali membuat Yaya pingsan, jadi Kakak harus tunggu sampai dia sadar lagi…meskipun itu artinya dia masih akan memburu kita bertujuh sih," sahut Taufan ogah-ogahan.

"Cih…" dan Halilintar hanya mendecih tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Ngomong-ngomong soal bertujuh, dimana Ice?" tanya Gempa.

"Iya juga ya. Sudah dua chapter Kak Ice tidak muncul…" sambung Solar.

"Palingan juga tu anak masih tidur di kamarnya. Sudah, abaikan saja," ucap Blaze acuh.

"Ya sudahlah…sekarang kalian sebaiknya mencari para pelaku yang melakukan ini sebelum hal yang tidak diinginkan lainnya terjadi. Solar dan aku akan tetap tinggal untuk mencari bahan penawarnya," ucap Gempa.

"Oke, dan Kak Hali tolong jaga Yaya ya. Jika dia sudah siuman, maka Bisky juga bisa dihidupkan kembali," ucap Taufan pada Halilintar yang masih diam sambil memandangi 'jasad' Bisky yang sudah terbelah dua.

"Ck…merepotkan…" meski berkata begitu, Halilintar tetap saja menuruti permintaan adiknya.

"Oke, kalo begitu…Blaze, Thorn, ayo kita berangkat," komando Taufan selaku pemimpin tidak resmi dari trio Troublemaker.

"Oke!" sahut Blaze semangat.

"Tapi bagaimana dengan Yaya?" tanya Thorn.

"Sudah, dia aman sama Kak Hali. Lagipula jika mereka berdua keluyuran di luar, malah akan terjadi sesuatu pada mereka," sahut Taufan.

"Kak Taufan tidak cemburu Yaya berduaan sama Kak Hali?"

"Uhuk!" pertanyaan polos dari Thorn tersebut berhasil membuat Solar dan Gempa tersedak ludah mereka sendiri.

"Memangnya itu penting ya?" tanya Solar.

"Thorn...kurasa kamu jangan terlalu sering main dengan Fang," gumam Gempa setengah kesal.

Siapa sih, yang tega jika kepolosan Thorn hilang? *Author jangan curhat*

"Tapi aku kan hanya bertanya," ucap Thorn polos.

"Eh? Cemburu yah…" Taufan meletakkan jempolnya di bawah dagu. Keningnya berkerut, tanda sedang berpikir.

"Mungkin?" sahut Taufan sambil terkekeh pelan.

.

.

.

Dunia ini…sudah tidak punya cinta.

Dunia yang kehilangan kasih sayang, dunia yang kekurangan belas kasih.

Kasihan…

Seandainya saja hal itu bisa diperbaiki…

Seandainya saja kebencian bisa dihapus…

Apa dunia ini bisa menjadi tempat yang lebih baik?

Semua orang…menginginkan dunia yang lebih baik, bukan begitu?

.

.

.

"Ada keperluan apa menghubugiku, Komander?" seorang pemuda yang memiliki gaya rambut mirip seseorang dari fandom sebelah datang menghadap komandannya yang berkepala kotak.

"Kaizo…aku menaruh harapan besar terhadap dirimu…" Komander Koko Ci bergumam pelan, masih dalam posisi membelakangi Kaizo.

"Hmm?" Kaizo yang tidak mengerti, hanya mengerutkan keningnya, menunggu lanjutan kalimat dari si komandan.

"Aku percaya, TAPOPS ada untuk melindungi Power Sphera dan galaksi dari kejahatan…tapi kemudian aku menyadari sesuatu…" ucap Koko Ci.

Kaizo masih gagal paham.

Dirinya tidak dipanggil hanya untuk mendengarkan curhatan dari si kepala kotak itu bukan?

Mentang-mentang jadi komandan, manggil Kaizo sembarangan.

"Kaizo!" jika saja tidak ahli mengendalikan emosinya, Kaizo mungkin sudah terlonjak kaget karena komandan bertubuh kecil tersebut tiba-tiba saja melompat ke arahnya.

"Komander…sebenarnya ada apa? Bisa dijelaskan lebih singkat dan rinci lagi?" tanya Kaizo yang memutuskan untuk sabar.

"Huhuhu…Kaizo…aku…aku…" sekarang Koko Ci malah menangis.

"Komander, apa yang-"

"Kaizo…kau menyayangiku bukan?" Kaizo melongo tampan(?) mendengar pertanyaan aneh dari si komandan yang saat ini menatapnya dengan air mata mengalir deras.

"A-aku…aku ingin dicintai…tapi…tapi kenapa…kenapa tidak ada yang mencintaiku? Apa karena…aku pendek dan berkepala kotak? Hweeeeeee…" belum sempat Kaizo memberikan jawaban, Koko Ci malah seenaknya menyimpulkan dan kini menangis sambil berguling-guling di lantai.

"…"

Jika bukan atasannya, mungkin kepala kotak tersebut sudah tertancap pedang tenaga sekarang.

Oke, itu sadis, wahai kapten yang tampan dan berani.

"Komander…jika anda memanggilku hanya untuk ini, mungkin sebaiknya aku pergi saja. Masih banyak tugas yang harus kulaksanakan," ucap Kaizo datar.

Kakinya baru saja mau melangkah keluar dari ruangan, tapi tangan kecil si komandan sudah terlebih dahulu menahan pergelangan kakinya.

"Bahkan…bahkan kau juga tidak mau mendengarkan keluh kesah komandanmu yang tidak disayangi ini? Kau…kau tega...kau tega, Kaizo…huuuhuuu…" Koko Ci sekarang menangis dengan posisi tengkurap di atas sepatunya.

Kaizo (lagi-lagi) menghela napas.

"Aku jauh-jauh datang ke sini dari misiku di Nebula M78 hanya untuk ini…?" batinnya gondok.

Ngomong-ngomong…jangan tanya Author kenapa Kaizo ada di planet itu. *kabur*

Click!

"…!" Kaizo reflek mengeluarkan pedang tenaga dan menghunuskannya ke belakangnya.

"Hanya perasaanku saja…?" Kaizo menatap waspada sekeliling ruangan tersebut, memastikan jika ada tanda-tanda seseorang disana atau tidak.

"Kaizo…kalo kau berkenan, silahkan hunuskan pedangmu ke arahku. Aku rela mati…asalkan dibunuh orang yang menyayangiku. Hiks..hiks…" gumam Koko Ci putus asa.

"Komander, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa anda bisa jadi begini?" tanya Kaizo risih. Sepatunya sekarang jadi basah dan lengket ngomong-ngomong.

"Hiks…aku hanyalah…alien yang tidak dicintai…" bukannya menjawab, Koko Ci kembali menelungkupkan kepalanya di antara sepatu Kaizo.

Kaizo sudah bingung mau menghela atau menarik napas.

"Komander…tolong berdiri, sebelum ada yang melihat dan salah paham," oh lihat, sekarang saja ucapan Kaizo sudah ambigu.

Click!

"Oy…siapa pun dan dimana pun kau, keluar lah. Aku bisa meladenimu kapan saja," Kaizo kembali menghunuskan pedangnya ke sembarang arah.

Hening, yang terdengar hanya suara isakan tangis dari Koko Ci yang masih belum bosan berbaring di sepatu Kaizo.

"Ck…" Kaizo mendecih, kelihatannya musuh yang akan dihadapinya adalah tipe pengecut kali ini.

"Baiklah, kalo begitu cara mainmu. Aku akan-"

"Terima kasih…"

"Hah?!" Kaizo reflek menoleh ke belakang, dan saat itu juga sesuatu berwarna pink sudah melesat ke arah dirinya.

Dan kali ini, pemuda yang memiliki kuasa dari Enerbot tersebut tak bisa berbuat banyak karena komandannya masih setia menempel di kakinya.

"Sial…"

Dan itu ucapan terakhir dari Kaizo sebelum seluruh ruangan tertutupi oleh asap berwarna pink.

.

.

.

"Sai…aku akan mengantar laporan ini pada Komander. Kau bisa tunggu di sini kan?" tanya Shielda dengan kedua tangan memegang sebuah berkas yang diketahui adalah laporan dari misi investigasi mereka dari planet Sakaar.

Eh…sekali lagi, jangan tanya Author. *kabur part 2*

"Baiklah. Tapi kau jangan terlalu khawatir, aku hanya terkilir kok," sahut Sai yang menyadari kekhawatiran adiknya.

"Aku tahu. Tapi memapahmu itu merepotkan, apalagi baju zirahmu itu berat. Sudah ya, kau ngobrol saja dengan yang lain disini," sahut Shielda santai sebelum pergi keluar dari ruang makan.

Sai sweatdrop.

"Aku harus ngobrol sama siapa? Disini hanya ada beruang kutub yang sedang hibernasi…" gumam Sai sambil melirik Boboiboy Ice yang tertidur di atas meja makan.

Untung saja Laksamana sedang tidak ada di tempat, jika iya mana mungkin Ice bisa dengan leluasa bermalas-malas ria sampai tidak terlibat dengan insiden di dua chapter sebelumnya kan kan kan?

.

.

.

"Kak…perasaanku tidak enak," gumam Solar tiba-tiba.

Gempa yang sedang sibuk membongkar perlengkapan sains milik Solar seketika menghentikan gerakannya.

"Apa maksudmu?" tanya Gempa.

"Aku…kepikiran dengan isi surat itu. Kelihatannya si pelaku memiliki motifnya sendiri. Maksudku…alien jahat macam apa yang berniat mencuri ramuan cinta ketimbang Power Sphera yang jumlahnya puluhan?" jelas Solar.

"Kamu benar juga. Dia mencuri Love Potion mu, tapi dia menggunakannya di atas kapal ini. Kamu tahu apa maksudnya?" tanya Gempa.

"Entahlah, tapi kemungkinan orang itu adalah seorang Pasifis. Berniat mengambil kekuasaan tanpa kekerasan…" sahut Solar serius.

"Jika dia mengincar TAPOPS…artinya sekarang…" kedua manik emas Gempa membulat.

"Ya. Kita harus menghubungi Kak Taufan dan yang lainnya sekarang," setelah memperbaiki posisi kacamatanya, Solar segera beranjak keluar dari lab.

"Ah…Kak Halilintar, Kakak disini saja bersama Yaya, ya. Kami akan segera kembali," Gempa masih sempat tersenyum pada Halilintar yang duduk di sofa dengan Yaya yang masih pingsan disampingnya, sebelum ikut menyusul Solar keluar.

Halilintar hanya memutar mata bosan. Dipandangnya gadis berhijab pink yang kini terbaring di sofa yang ada disampingnya.

"Bisky…" Halilintar bergumam pelan.

Kelihatannya semenjak 'kematian' pacarnya, Halilintar jadi kehilangan minatnya untuk melakukan apapun.

.

.

.

"Komander Koko Ci sudah kena," ucap Taufan setelah mengintip kehebohan yang terjadi di ruangan komandan. "Bukan Cuma itu, tapi Kapten Kaizo juga…" lanjutnya.

"Eh? Kalo begitu…apa yang harus kita lakukan?" tanya Blaze cemas.

"Ini sulit. Kita tidak tahu dimana si pelaku itu bersembunyi, dan kita juga sama sekali tidak punya petunjuk seperti apa orangnya," sahut Taufan.

"Tapi…jika Kapten Kaizo saja kena…berarti dia memang bukan orang yang bisa diremehkan," ucap Blaze.

"Ngomong-ngomong, Kapten Kaizo jadi suka sama siapa?" tanya Thorn.

"Ah, kalo itu sih sama-"

Duaaar!

"Waa!" reflek Blaze menendang sebuah bongkahan besi yang mengarah ke arah mereka bertiga dengan tendangan berapi nya.

"A-apa itu…?" kaget Thorn.

"Benda itu tidak berat-berat amat…" ucap Blaze sambil menghentak-hentakkan kakinya.

"Besi itu…" Taufan menatap benda berukuran cukup besar tersebut lamat-lamat, sebelum akhirnya menyadari sesuatu.

"Pengalihan!" ucap Taufan dan disaat yang bersamaan, kepulan asap berwarna pink yang menjalar dari ujung koridor mulai menampakkan diri.

"I-itu…itu Love Potion nya…" ucap Blaze.

"Tapi sejak kapan…" Taufan mundur perlahan.

"M-mereka semakin mendekat…" gumam Thorn sambil menempelkan tubuhnya yang gemetar pada punggung Taufan.

"Ck, pusaran taufan!" Taufan menciptakan angin topan yang cukup besar, dan angin itu sukses menjauhkan kepulan asap tersebut dari posisi mereka.

"Fyuuh…selamat," Taufan menghela napas lega.

"Kak Taufan!" tampak Gempa dan Solar berlari ke arahnya dengan panik.

"Kalian…ada apa? Bagaimana dengan penawarnya?" tanya Taufan.

"Kesampingkan dulu itu. Kak Taufan…sudah melihatnya kan?" tanya balik Solar.

"Ya. Asapnya sudah mulai menyebar. Apa yang terjadi?" Taufan menatap was-was asap-asap yang mulai mendekat.

"Entahlah, tapi kelihatannya orang itu punya rencana sendiri, dan aku yakin Love Potion yang dicurinya itu bukan digunakannya untuk sekedar bermain-main. Ugh, kita harus kembali ke lab sekarang sampai asapnya menghilang," jelas Solar dengan sangat cepat.

"Oh iya, dimana Blaze dan Thorn? Kalian tadi pergi bersama kan?" tanya Gempa.

"Hee? T-tadi mereka ada disini bersamaku kok," Taufan sendiri baru sadar jika tersisa dirinya sendiri di tempat ini.

"Aduh…kita cari mereka nanti. Untuk sekarang, jika kita juga terkena pengaruhnya, maka habis sudah," Solar segera menarik tangan kedua kakaknya kemudian menggunakan lompatan cahaya untuk kembali secepat mungkin ke laboratorium sebelum asap berwarna pink itu semakin menyebar.

.

.

.

Asap berwarna pink mulai menyebar ke seluruh badan kapal, dan hal itu jelasnya mengakibatkan kekacauan di seluruh penjuru kapal.

Di setiap sudut kini bisa ditemui para alien anggota TAPOPS yang saling berpelukan, baik satu sama lain mau pun dengan benda apapun yang dipegangnya.

Salah satu contohnya adalah Papa Zola yang kini berpelukan mesra dengan rotan keinsyafan miliknya.

"Cattus, perkenalkan ini adalah mama keduamu, namanya Roro Rotan(?), dan dia lah yang akan mengajarimu tentang keinsyafan," ucap Papa Zola penuh pengkhayatan, dan Cattus hanya memandang majikannya dengan wajah datar.

"Apa yang terjadi dengan Cikgu Papa?" tanya Ying yang baru saja kembali dari misinya.

"Entahlah. Selain itu, apa yang terjadi sebenarnya di tempat ini?" tanya balik Fang sambil mengunyah donat lobak merah.

"Haiya…mau sampai kapan kau memakan benda itu sih, Fang?" Ying mulai risih dengan kelakuan rekan misinya tersebut.

"Ck…kau diamlah. Orang yang tidak mengerti kenikmatan donat lobak merah mending diam saja," sahut Fang acuh kemudian kembali mengunyah donatnya.

Click!

"Hey, kau dengar itu?" tanya Ying.

"Hmm? Apa?" Fang ikut menerawang ke sekeliling kamar Papa Zola tersebut, masih sambil mengunyah donat.

"Kelihatannya ada yang aneh…" kedua manik safir Ying melebar, "Fang! Dibelakangmu!" teriaknya.

"Apa…?" belum sempat Fang menoleh, kepulan asap berwarna pink sudah lebih dulu mengerubungi kedua remaja oriental tersebut.

"Uhuk…uhuk…apa ini…?" Ying berusaha menghilangkan kepulan asap tersebut dengan mengibaskan tangannya, tapi tidak berhasil.

"Ini kan…eh…?" Fang secara tidak sengaja menatap Ying. Seketika donat-donat miliknya langsung jatuh dengan dramatisnya.

"F-fang…?" Ying pun balas menatap mata Fang.

Dan terjadilah adegan tatap-menatap ala komik Shoujo diantara kedua makhluk berkacamata tersebut selama kurang lebih lima menit.

"Fang…" entah kenapa, Ying sama sekali tidak bisa berkedip.

"Ying…" Fang sendiri juga sudah tidak mempedulikan donatnya yang sudah tewas di atas lantai.

"Fang…"

"Ying…"

"Fang…"

"Ying…"

"Fang…"

"Ying…"

"Fang…"

"Ying…"

"Oy, mau sampai kapan kalian seperti itu?" ucap Papa Zola yang risih sambil memeluk mesra rotannya.

Deg!

"Tampan…"

"Cantik…"

Seketika wajah keduanya pun berubah warna menjadi merah.

.

.

.

Oke, kita kembali ke ruangan Koko Ci.

"Menikahlah denganku," Shielda menjatuhkan laporannya.

Tidak, dirinya bukannya terpesona, tapi justru melongo melihat Kapten Kaizo kini berjongkok satu kaki dihadapannya sambil menyerahkan setangkai bunga mawar yang diketahui berasal dari Nebula M78 (sejak kapan ada mawar disana?) sambil tersenyum tampan.

"Kapten…anda baik-baik saja?" tanya Shielda datar.

"Tidak pernah lebih baik," Kaizo masih tersenyum, kemudian memegang sebelah tangan Shielda.

"Kau adalah wanita yang tangguh. Aku terpesona dengan keanggunan dan kehebatanmu. Bersama…kita bisa membangun kehidupan yang lebih baik, dan bersama-sama kita juga bisa menyelamatkan dunia," ucap Kaizo panjang lebar, masih dengan senyum sejuta watt nya yang mungkin akan membuat fangirls nya terkena serangan jantung jika melihatnya dari dekat.

Oh, tapi Shielda bukanlah fangirls yang dimaksud tersebut.

"Kapten…kelihatannya kau harus istirahat. Terlalu lama di planet lain membuat kepalamu berubah menjadi bendul," ucap Shielda datar sambil melangkah mundur.

Jujur, tingkah Kaizo saat ini benar-benar membuatnya merinding.

Kaizo terkekeh pelan.

"Itulah yang menarik darimu, Shielda," Kaizo berjalan mendekati Shielda (yang semakin cepat melangkah mundur). Tangannya yang memegang bunga mawar kemudian terulur.

"Pedang dan perisai, bukannya kita cocok satu sama lain?" ucapnya masih dengan senyum tampannya.

Shielda sweatdrop, "Kalo begitu kau juga bisa cocok dengan Sai, Kapten…" gumam Shielda.

Author keselek di belakang panggung ngomong-ngomong…

"Gurauan yang bagus," sekali lagi, Kaizo terkekeh. "Aku jadi semakin menyukaimu…" Kaizo masih tetap berjalan mendekati Shielda.

"Astaga…kerasukan apa orang ini? Apa terlalu sering bertugas diluar angkasa membuat otaknya berubah bentuk?" batin Shielda yang semakin ngeri dan risih dengan tingkah kakak Fang tersebut.

Kaizo semakin mendekat, kemudian kembali menggenggam tangan Shielda.

Shielda sendiri sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Kaizo.

"Nah, sekarang…apa jawabanmu?" kini mulai ada kerlap-kerlip imajiner ditambah latar belakang pink penuh bunga di belakang Kaizo. Pemuda berkekuatan energi tersebut kemudian menyodorkan setangkai mawar yang sejak tadi di pegangnya.

"…" Shielda jadi bingung.

Kelihatannya kapten mereka ini memang sedang kerasukan.

"Kapten, aku-"

Duak!

"Eh?" baru saja dirinya mau memberikan penolakan klise berupa 'kita temanan aja yah' pada kaptennya, sebuah tendangan maut dari sepatu yang diselimuti api yang tepat mengenai perut sang kapten.

Yah, untung saja Kaizo itu kuat dan bergaya, jika tidak, mungkin perutnya sudah terkena asma dadakan(?) sekarang akibat tendangan panas tersebut.

"Kau…" Kaizo menatap tajam ke arah seorang remaja yang kini berdiri di depan Shielda, seolah melindungi gadis itu dari dirinya.

"Heh…tidak semudah itu, Kapten Kaizo~" ucap remaja itu dengan kedua mata yang membara bagaikan bunga api.

"Cih…bocah pengganggu," decih Kaizo.

"B-blaze?" kaget Shielda.

"Jangan khawatir, Shielda. Tak akan kubiarkan Kapten menyentuhmu," Blaze menghela napas, kemudian sepasang chakram berapi sudah siap dimasing-masing tangannya.

"Karena yang bisa memiliki Shielda, hanya aku seorang!" ucapnya sangar.

"Hoo…kau menantangku ya?" Kaizo menyeringai kemudian mengeluarkan pedang tenaganya.

"Baiklah, ayo maju," ucapnya sambil memasang kuda-kuda.

"Heh! Memangnya aku takut!" Blaze melesat cepat ke arah Kaizo sambil menghunuskan chakram api nya.

Shielda kembali melongo.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada orang-orang di atas kapal ini?

"Laki-laki itu memang merepotkan…"

Apa mungkin sebaiknya Shielda pindah fandom saja?

Sementara itu

"Ck…Shielda lama sekali. Apa yang sudah terjadi diluar sana?" Sai mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan tidak sabar.

"Maa, maa, sabarlah Sai. Kalo kau keluar maka game over loh," sahut Ice yang kini sudah duduk disampingnya sambil menopang dagu.

"Kau…sejak kapan kau sudah bangun?" kaget Sai.

"Hmm…diluar terlalu berisik," gumam Ice malas sambil menyeruput es cokelatnya.

"Sejak kapan benda itu ada ditanganmu?" Sai jadi tidak habis pikir mengenai spesies apa sebenarnya Boboiboy Ice ini.

.

.

.

"Seisi kapal sudah kacau," ucap Taufan yang kini sedang mengintip keadaan diluar dari celah pintu.

"Penawarnya juga tidak semudah itu dibuat…" Solar mengurut pelipisnya dengan frustasi.

"Tapi kita harus melakukannya. Jika tidak, TAPOPS bisa dalam bahaya," ucap Gempa cemas.

Solar menghela napas.

Siapa sangka, ramuan cinta itu ternyata bisa menjadi sangat berbahaya?

Aku memang hebat…

Baiklah, Author sudah lelah membaca pikiran Solar…

"Bahan-bahan untuk membuat penawar tidak ada disini…kita harus pergi ke suatu tempat," ucap Gempa yang sedaritadi membaca buku eksperimen Solar.

"Kalo begitu, aku akan pergi menjemput Ochobot setelah asap-asap itu menghilang. Sampai saat itu, siapkan saja apa yang ada didalam lab ini yang bisa digunakan untuk membuat penawar," sahut Taufan.

"Baiklah, dan kita harus pastikan jangan sampai kita ikut terkena pengaruh Love Potion itu. Terutama kamu, Solar," ucap Gempa.

"Semoga saja setelah ini tidak akan ada hal yang merepotkan yang akan terjadi," desah Solar lelah. "Kira-kira masalah konyol ini akan selesai sampai chapter berapa ya…?" gumamnya.

Baiklah, berhenti merusak dinding keempat Solar.

Itu sudah tidak lucu lagi.

.

.

.

"Anu…Incik Boss, untuk apa kita menyusup ke TAPOPS?" tanya Probe yang setia membuntuti boss nya yang kini sedang mengendap-ngendap di dalam kapal.

"Tentu saja untuk beraksi. Pokoknya, kita harus dapatkan setidaknya satu Power Sphera untuk dijual," sahut Adu du, si bos kepala kotak yang merupakan alien labil semenjak tahun 2011.

"Tapi Incik Boss…ada yang aneh dengan TAPOPS," bisik Probe.

"Heh…bukannya bagus? Itu bisa menjadi peluang untuk kita mengambil Power Sphera dan membalas para Boboiboy," sahut Adu du sambil menyeringai.

"Tapi…aku tak yakin asap berwarna pink diluar itu aman, Incik Boss," ucap Probe lagi.

"Ck, jangan bawel ah. Kau kan suka warna pink, lagipula apa bahaya nya asap berwarna pink?" sahut Adu du santai.

"Iya sih…" gumam Probe.

"Sudah, ayo kita turun!"

"Hee? T-tunggu aku, Incik Boss!"

Oke, kelihatannya Solar harus lebih berhati-hati dengan ucapannya.

.

.

.

T B C!


I'm Back~~~ kali ini jadi lebih rame, dan akhirnya si Kaizo muncul. Tapi maaf ya buat para fangirls karena…Kaizo nya jadi OOC. Ahahaha #tebas
Maaf juga jika humornya agak garing kali ini. Saya lagi lemes soalnya…*Kalo gitu ngapain publish*

Oke, saya juga baru ingat kalo Ice nggak muncul selama dua chapter, jadi akhirnya dia dimunculin disini…meski hanya secuil sih dialognya. Daaaan…kenapa bisa ada Blaze x Shielda? Namanya juga random. Tapi tenang, saya KaiShi kok ;) #plak

Kenapa Blaze dan Thorn bisa menghilang?

Apa yang terjadi sebenarnya pada Koko Ci?

Kenapa Kaizo jadi jatuh cinta sama Shielda?

Kenapa Blaze juga jadi love rival nya Kaizo?

Apa Bisky bisa dihidupkan kembali?

Apa FaYi akan berlayar?

Apa yang dilakukan Adu du dan Probe di TAPOPS?

Kenapa Solar ganteng? (Oke ini dibajak Solar)

Semua itu…(mungkin) akan terjawab di chapter berikutnya~ XD
Oke, segini saja yang bisa saya sampaikan sebagai catatan gaje, sampai jumpa lagi di eksperimen yang akan datang semuah~

Review please~