Disclaimer: Still not Mine~
.
.
.
Enjoy~
.
.
.
Test 4: Warna Pink itu Sebenarnya Hanyalah Versi Negatif dari Warna Hijau
TAPOPS, detik sekian, menit sekian, jam sekian, hari sekian, minggu sekian, bulan sekian, dan tahun sekian.
"Woy, kok sekian semua sih?!" protes Solar.
Ya mau gimana lagi. Fict ini kan settingnya nggak jelas. Jadinya taruh aja sekian, daripada ditulis XXX, entar ngaco lagi…
"Itu malah bikin makin ga jelas, tahu…" gerutu Solar. Kedua tangannya tampak sibuk membolak-balikkan tiga buah buku dalam waktu yang bersamaan.
"Kelihatannya asapnya sudah hilang…" ucap Taufan sambil mengintip dari lubang kunci.
"Aku bertaruh di luar sana pasti sudah kacau sekali. Kak Thorn dan Kak Blaze juga tiba-tiba menghilang…Kak Ice juga entah di mana…" desah Solar.
"Sudahlah. Kak Taufan bisa kan, periksa keadaan di luar?" pinta Gempa yang juga tidak kalah sibuknya dengan Solar. Pemuda itu sibuk mengartikan bahan-bahan dengan berbagai istilah ilmiah yang ada di catatan Solar.
"Bisa sih...tapi aku takut pergi sendirian. Kalo aku jadi korban terus jatuh cinta sama objek random gimana? Masih untung kalo sama benda mati, tapi kalo aku jatuh cinta sama Fang gimana? Iyuuuh," Taufan mendadak rempong(?).
Wait, Taufan lebih pilih jatuh cinta sama benda mati ketimbang sama Pa-eh Fang?
Padahal Authornya ngarep…
"Ehm!"
Yak! Lanjut!
"Ya sudah, Kak Taufan pergi aja sama siapa gitu…" Solar menyahut tanpa menoleh. Dirinya masih sibuk berkutat dengan buku-buku eksperimennya.
Taufan mendesah, tapi daripada dirinya dianggap nggak guna kemudian dibuang dari cerita ini (eh?), mendingan dia cari partner aja.
Nah, kalian udah tahu kan siapa yang akan dipilih Taufan?
Hayo siapa hayo~~?
Yak, 100!
Jawabannya adalah…
"Kak Hali! Ikut aku, yuk~" Taufan kedip-kedip ala orang cacingan ke arah Halilintar yang sejak chapter sebelumnya masih tetap pada posisinya di sofa dengan wajah kusut bak cucian yang dijemur berminggu-minggu di musim panas.
"Apaan?" Halilintar menyahut ketus. Kelihatannya si doi masih emosi dengan tragedi yang menimpa pacar kesayangannya sodara-sodara.
"Temani aku keluar, yuk. Aku nggak mau sendirian," bujuk Taufan. Karena Halilintar sudah lebih dulu terkena efek dari Love Potion, jadi menurut Taufan aman-aman saja jika menjadikan Halilintar sebagai tamengnya.
Ck,ck,ck…kurang ajar memang.
"Apa untungnya aku membantu orang yang sudah membunuh Bisky?" tangan dilipat, wajah dibuang-eh, maksudnya dialihkan ke arah lain, menunjukkan kalo si doi masih dalam mode ngambek.
Taufan menghela napas.
"Kan aku sudah bilang, Yaya bisa 'menghidupkan' kembali Bisky, Kak. Tapi gara-gara Kak Hali, Yaya masih pingsan. Jadi sambil nunggu Yaya bangun, Kak Hali temenin aku dulu ya, ya, ya~" Taufan kembali kedip-kedip manjah ala MiPer si Selebgram yang sehari dua kali Author stalk akunnya (Solar: "Author, fokus…").
Halilintar tidak menjawab, bahkan tidak bergerak se-inci pun dari posisinya.
Taufan lagi-lagi menghela napas.
Dih, untung cakep. Kalo nggak, dah aku terbangkan ke Gurunda kau…
Wow, Taufan emosi sodara-sodara.
"Ayolah, Kak Hali~ kalo Kak Hali di sini terus Yaya nggak bakalan sadar loh. Lagian kalo dia sadar terus liat Kak Hali, entar dia pingsan lagi. Nanti si Bisky nggak akan hidup-hidup loh," Taufan akhirnya mengaktifkan jurus Bacod no Jutsu yang dipinjamnya dari Pak Lurah di fandom sebelah.
Halilintar akhirnya mendesah, kemudian berbalik menatap Taufan dengan tidak niatnya.
"Ya udah, jangan lama-lama. Lebih dari setengah jam, kau aku buang ke Volcania," Taufan merinding disko. Udah kena pengaruh ramuan cinta, masih aja serem.
Yee…bukan Hali namanya kalo nggak seyem, kan gaees~?
"Ya udah deh. Gem, Sol, kami pergi dulu ya. Yaya dijagain, jangan sampai dia berkeliaran di luar, bahaya," Gempa dan Solar sedikit terpana dengan pesan Taufan tersebut.
"Kak Taufan ternyata peduli sama Yaya ya? Keren…"
"Kak Taufan jijay. Kayak protagonist-protagonist shoujo manga aja dah…"
Padahal alasan sebenarnya sih, Taufan ngomong gitu karena kalo Yaya kenapa-kenapa, Bisky tidak bisa 'dihidupkan kembali', yang artinya Taufan juga akan ikut kenapa-kenapa entar…
.
.
.
"Baiklah, sudah cukup,"
"Sai, kau mau kemana?" Sai mengerutkan keningnya, kesal melihat tangannya ditahan oleh Ice yang sejak tadi masih memasang wajah sedatar tembok.
"Aku mau keluar. Untuk urusan mengantar laporan, Shielda sudah terlalu lama," sahut Sai.
"Tapi Sai, di luar kayaknya lagi ada keributan," sahut Ice.
"Kalo begitu tidak seharusnya kita Cuma diam dan bengong di sini kan? Sudah, aku pokoknya harus keluar," setelah menepis tangan Ice, pemuda berperisai hijau itu segera beranjak keluar dari ruang makan dengan tujuan menemui adiknya.
"Huft…padahal posisiku sudah enak…" desah Ice malas kemudian ikut berdiri dari posisinya setelah menghabiskan es cokelat miliknya.
.
.
.
"Oke…kelihatannya aman-aman saja. Tapi mereka pada ke mana ya…?" Taufan memperhatikan setiap sudut koridor dan menemukan kondisi kapal masih stabil, meskipun suasananya jadi jauh lebih sepi daripada biasanya.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Halilintar risih. Pemuda merah itu tampak ogah-ogahan berjalan di belakang Taufan.
"Sudah, sabar. Kita belum tahu apa yang akan menimpa kita nantinya, pokoknya kalo ada apa-apa, Kak Hali lindungi aku ya," sahut Taufan.
"Buat apa aku melindungi orang yang-"
"Ya, ya, ya, aku memang tidak sengaja membunuh Bisky, tapi aku kan udah minta maaf gimana sih," gerutu Taufan.
"Minta maaf saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah, kau tahu?" sahut Halilintar sambil melipat tangannya, masih meminta pertanggung jawaban dari sang adik.
"Iya, iya. Aku juga tahu, Kak~ sudah ah. Kita kan sudah membahas ini," baiklah, daripada mereka berdua emosi dan berakhir membuat kerusuhan di atas kapal, Taufan memutuskan untuk menyudahi saja percakapan ini.
Halilintar memutar matanya, tapi akhirnya juga ikut diam, berusaha percaya bahwa adik absurdnya ini memang benar-benar serius soal menghidupkan kembali pacarnya.
Taufan kembali fokus pada tugasnya. Kedua manik safirnya bergerak-gerak memperhatikan setiap sudut koridor kapal, dan tidak menemukan adanya asap pink yang berkeliaran seperti sebelumnya.
"Semuanya hilang tanpa jejak…?" gumam Taufan tidak mengerti. "Benar-benar seperti sihir…"
"Hey, sebenarnya kau mencari apa sih?" tanya Halilintar yang kelihatannya mulai dilanda kebosanan.
"Diam dulu, Kak. Aku lagi berpikir," sahut Taufan tanpa menoleh.
Kesal, itu yang dirasakan Halilintar sekarang.
"Aku tinggal sekarang nih," ancam Halilintar tiba-tiba.
"Ck, gitu aja ngambek. Aku sedang mencoba mencari jejak dari asap berwaran pink yang membuat Kak-maksudku, kondisi TAPOPS jadi kacau," ucap Taufan lelah.
Sepertinya selain jatuh cinta sama biskuit, Halilintar jadi lebih sensitive dan gampang ngambek sekarang.
Apa itu efek samping dari Love Potion, atau memang Halilintar akan seperti ini jika sedang jatuh cinta?
Au ah. Aku bisa botak jika memikirkannya…
.
.
.
Clash!
Brak!
Trang!
Prang!
Blink(?)!
Di saat yang sama, tepat di depan ruangan Commander, tampak Boboiboy Blaze dan Kapten Kaizo yang terengah-engah setelah saling menangkis serangan satu sama lain selama kurang lebih dua puluh menit.
"Hah…Kapten Kaizo memang tidak bisa diremehkan…" Blaze menyeringai tipis sambil menyeka keringatnya.
"Hmph…kau juga sejak kapan bisa jadi sekuat ini, bocah?" sahut Kaizo yang tak kalah berkeringat.
"Tapi meski begitu…" Blaze mengangkat kedua chakramnya, bersamaan dengan Kaizo yang menghunuskan pedangnya.
Dalam sedetik, kedua laki-laki berbeda usia dan spesies itu langsung melesat dengan tatapan nyalang seperti predator di musim kawin.
"YANG AKAN MENDAPATKAN SHIELDA ADALAH AKUUUUUUU!"
Brak!
"Cukup! Kalian ini kenapa sih?" sebelum chakram dan pedang itu mengenai wajah satu sama lain, serangan dahsyat tersebut sudah lebih dulu dihalang oleh perisai hijau nan berkilau milik Shielda.
Gadis perisai itu menatap risih ke arah Blaze dan Kaizo yang mendadak jadi sangat OOC, "Kalian kenapa sih? Kalo mau latihan sandiwara, jangan libatkan aku," ucapnya kesal.
"Tidak ada sandiwara diantara kita, Shielda. Cintaku padamu itu suci bagaikan bola salju," sahut Kaizo serius, dan kembali membuat Shielda merinding.
Wait, ucapan Kaizo itu kayak pernah dengar dimanaaa gitu…
"Aku serius mencintaimu, Shielda. Kau itu bunga jiwaku," timpal Blaze, dan malah membuat Shielda tambah merinding.
Ini lagi satu. Kok kata-kata Blaze mirip dengan salah satu judul lagu lawas ya…?
"Heh…sudah kubilang Shielda itu milikku, bocah. Kau sebaiknya pergi dari sini sebelum aku cincang," ucap Kaizo dengan tatapan setajam silet.
"Shielda itu tidak pantas bersama makhluk arogan yang bahkan tidak bisa memperlakukan adiknya dengan baik. Mau jadi apa dunia ini jika Dewi seperti Shielda berakhir dengan alien seperti dirimu?" ucapan Blaze sukses menohok jantung Kaizo dengan pedang imajiner, tapi bukan Kaizo namanya kalo tidak muka tembok.
"Kau memang ngajak berantem ya," gumam Kaizo dengan wajah penuh amarah.
"Heh…akui saja, Kapten tidak pantas bersama Shielda," Blaze kembali menyeringai.
"Cukup! Kalian berdua menjijikkan. Kalo kalian mau bertarung sampai mati ya lakukan saja, tapi aku tidak mau terlibat dengan omong kosong kalian ini!" Shielda yang sudah kehabisan kesabaran langsung menghantamkan perisainya ke arah Blaze dan Kaizo, membuat kedua makhluk itu terpental dengan indahnya.
Shielda mendengkus, otak mereka mungkin memang sedang miring saat ini.
Daripada ikutan miring, lebih baik Shielda pergi saja dari sini.
"Ahahaha…menarik sekali,"
"Hah?" belum sempat Shielda bereaksi, tiba-tiba saja muncul kepulan asap berwarna pink yang perlahan-lahan menjalar ke arahnya.
"A-apa itu…" sayangnya tidak ada yang menjawab pertanyaan Shielda, karena dua laki-laki yang tadi memperebutkannya saat ini masih tepar akibat hantaman perisai yang luar biasa sebelumnya.
.
.
.
"Taufan, waktumu tinggal 15 menit lagi," Halilintar tiba-tiba saja bersuara.
"Iya, iya," sahut Taufan bosan karena Halilintar terus mengingatkannya pasal waktu setiap 5 menit sekali.
"Aku tidak mengerti. Kemana asap Love Potion itu? Kok bisa tiba-tiba hilang…?" gumam Taufan. Sebenarnya bagus jika asap itu menghilang, yang artinya tidak akan korban lagi.
Tapi jika semuanya menghilang secepat ini…bukankah patut dicurigai?
"Kelihatannya ada yang tidak beres…tapi baiklah. Karena sekarang belum ada perkembangan mendingan kita balik ke-"
"Ssst! Jangan bicara," potong Halilintar tiba-tiba.
"Hey, aku kan mau bilang kita bisa segera kembali ke lab-"
"Aku bilang jangan bicara. Ada sesuatu yang akan datang," Halilintar kembali memotong ucapan Taufan. Pemuda merah itu sudah memasang kuda-kudanya, bersiap jikalau ada sesuatu yang akan menyerang secara tiba-tiba.
"Memangnya ada apa sih, Kak?" tanya Taufan.
"Kau tidak dengar? Ada sesuatu di atas kita," ucap Halilintar.
Awalnya Taufan berpikir mungkin otak kakaknya ini mulai error, tapi akhirnya dirinya juga bisa mendengar samar-samar suara benturan dari langit-langit kapal.
"Hey…apa yang terjadi di atas sana…" gumam Taufan, dan tepat setelah itu suara benturan itu menjadi semakin keras sampai akhirnya langit-langit kapal angkasa mulai retak.
"Pokoknya sekarang kita menyingkir!" Halilintar dengan sigap menarik tangan sang adik dan menghindar dengan cepat, hingga akhirnya langit-langit kapal tersebut rubuh dan tercipta lubang yang cukup besar disana.
"Aduh…Probe! Aku kan sudah bilang jangan dorong-dorong!"
"Maaf, Incik Boss. Habisnya aku kan juga mau lihat,"
"Ish…sekarang lihat akibat perbuatanmu!"
"Maaf, Incik Boss…"
"Apa yang…Adu du, Probe, kalian ngapain disini?" kaget Taufan melihat siapa gerangan yang menjadi penumpang gelap di kapal angkasa TAPOPS tersebut.
"Oh, Boboiboy Taufan dan Boboiboy Halilintar rupanya. Heh, pas sekali," Adu du menyeringai. Dikeluarkannya sebuah pistol yang cukup besar dari belakang bajunya. Heran juga kenapa bisa senjata seperti itu bisa muat di bajunya yang press body(?) tersebut.
"Aku kemari ya suka-suka aku! Tapi karena sekarang aku bertemu kalian, saatnya balas dendam!" seru Adu du dengan wajah ala penjahat, meskipun tidak ada seram-seramnya.
Maklum saja kenapa Adu du dendam. Taufan dan Halilintar yang sedang dibicarakan saat ini.
"Aduh…kenapa harus di saat seperti ini…" Taufan mengurut keningnya, frustasi. Masalah ramuan cinta belum selesai, ini lagi si kepala kotak malah tambah bikin runyam.
"Kak Hali, selesaikan," pinta Taufan dengan sepenuh jiwa.
"Kenapa aku harus melakukannya?" sahut Halilintar ketus.
Oh benar, Taufan hampir saja lupa.
Saat ini kan kakak tercintanya itu lagi kena pelet, dan lagi sakit hati gegara ditinggal mati pacar, dan Halilintar masih menyalahkan Taufan atas insiden tersebut.
Sekarang jika mau Halilintar menuruti ucapannya, Taufan harus punya alasan bagus.
"Umm…Kak Hali, begini…anu…" seketika, lampu bohlam seterang tembakan Solar muncul di atas kepala Taufan.
"Ah, Kak Hali! I-itu, mereka itu suka sama Bisky!" seru Taufan.
"Hah? Siapa Bisky?" belum sempat menembak, perhatian Adu du sudah lebih dulu dialihkan oleh omong kosong Taufan.
"Apa maksudmu?" tanya Halilintar, tidak langsung percaya tentu saja.
"I-iya, mereka suka. Lihat ya, hey Probe! Kau suka dengan biskuit Yaya kan?" ucap Taufan.
"Hah? Oh iya…aku suka! Memang kata orang kayak kertas pasir, tapi bagiku itu sangat enak. Pokoknya aku suka deh," Probe menyahut dengan polosnya, ditambah aksi muter-muter ala ballerina gagal audisi.
"Tuh, udah jelas kan Kak? Mau bukti apa lagi? Ayo hajar!" seru Taufan dengan gaya provokator sejati.
"E-enak katamu…? Jadi begitu rupanya…" Halilintar menatap tajam alien dan robot dihadapannya.
"Memangnya ada apa? Apa itu…masalah?" tanya Probe ragu. Sontak robot ungu segera bersembunyi dibalik punggung bosnya karena ketakutan melihat aura mencekam si pengendali petir.
"Beraninya kalian…" percikan listrik merah tersebut perlahan berubah padat, membentuk tombak yang dulu pernah digunakan Halilintar saat melawan Tengkotak.
"Oy! Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba kau risau hanya karena biskuit, hah?" protes Adu du, berusaha tidak terlihat takut meski kakinya mulai gemetaran.
"'Hanya' kau bilang…?" tatapan mata Halilintar menajam, sukses membuat Adu du merinding. Bagaimana pun juga, Halilintar yang saat ini berhadapan dengan mereka.
"Pusaran halilintar!"
Secepat kilat, Halilintar melompat ke arah Adu du dan Probe, dan dalam sekali serang kedua makhluk luar angkasa tersebut sudah terpental jauh hingga keluar dari kapal angkasa sambil teriak "APA SALAH AKUUUUUUUU…" sampai wujud mereka tidak tampak lagi.
"Wooo! Bravo! Skornya 10!" Taufan berseru bahagia sambil jingkrak-jingkrakkan, dalam hati menertawakan betapa bodohnya kedua musuh lama mereka tersebut dan betapa absurdnya Halilintar sekarang ini.
Setelah berhasil melenyapkan pelaku pelecehan(?) pacarnya, Halilintar mendengkus kesal kemudian menghilangkan tombak raksasanya.
"Kita kembali sekarang," ucap Halilintar mutlak, dan Taufan memilih untuk menurut saja karena dirinya juga tidak mau bernasib sama seperti Adu du dan Probe tadi.
.
.
.
"Bagaimana, Solar?" tanya Gempa setelah mereka berdua selesai merampungkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk membuat penawar.
"Mmm…setengah dari bahan-bahannya bisa disediakan di dalam kapal ini…tapi kita butuh beberapa lagi yang harus dicari di luar. Kita juga sudah kehabisan pemanis…" jawab Solar setelah mengecek lagi buku eksperimennya.
"Di luar ya? Jadi kita harus kemana?" tanya Gempa.
"Salah satu bahannya ada di planet Gurunda. Sebentar, aku masih mencari informasi," jawab Solar tanpa menoleh. Irisnya yang terhalang kacamata jingga tampak meneliti satu per satu tulisan-tulisan yang ada di ponsel pintarnya.
"Kalian butuh bantuan~?"
"Hwaa! Y-yaya…?" Gempa hampir saja melempar buku laboratorium ke sembarang arah karena dikejutkan oleh si gadis hijab yang tiba-tiba sudah sadarkan diri. "Sudah bangun rupanya. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Gempa.
"Aww~ Gempa mencemaskan aku~~" bukannya menjawab, Yaya malah nge-blink-blink sambil menari-nari tidak jelas.
Gempa hanya bisa mendesah, dirinya lupa kalo Yaya juga terkena efek ramuan cinta tersebut. Terlebih lagi, Yaya sekarang jatuh cinta sama tujuh orang, kembar pula.
"Sebaiknya kita cepat sebelum ramuan cinta itu mempengaruhi lebih banyak orang. Aku khawatir orang itu tidak hanya berniat menyebarkannya pada TAPOPS saja," gumam Solar.
"Aku tahu," sahut Gempa. Sejujurnya pemuda tanah itu merasa kasihan dengan teman-teman beserta saudara kembarnya yang harus menjadi aneh hanya karena ramuan cinta.
"Aha! Ini dia. Aku rasa aku sudah paham gimana cara membuat penawarnya," ucap Solar semangat setelah mematikan ponsel pintarnya.
"Oh ya? Jadi gimana caranya?" tanya Gempa antusias.
"Kelihatannya kita tidak harus pergi ke Gurunda. Jika ingin mendapatkan langsung bahan untuk membuat penawarnya kita harus-"
"Fyuuh…akhirnya aku menemukan kalian juga," penjelasan Solar terpotong oleh seseorang yang baru saja masuk ke dalam laboratorium sambil menyeka keringatnya.
"T-thorn?" kaget Gempa.
"Kakak darimana saja?" tanya Solar.
"Oh…aku sedikit tersesat tadi. Karena banyak asap aku jadi bingung mau lewat mana. Ehehehe…" Thorn menjawab sambil tertawa imut.
"Asap…?" gumam Gempa.
"Jadi Kak Thorn juga…" Solar kembali terkejut.
"Hai, Thorn~ aku kangen~~" Yaya melambaikan tangannya dengan semangat.
"Hai, Yaya~" Thorn balas melambaikan tangannya, masih dengan senyum imutnya.
"A-anu…Kak Thorn melewati asap yang ada di luar?" tanya Solar.
"Ha'ah. Aku terpisah dari Kak Taufan dan Kak Blaze," jawab Thorn.
"Umm…berarti Thorn sudah terkena…" Gempa berucap dengan ragu, tampak tidak rela(?).
"K-Kak Thorn, sekarang jawab dulu. Kakak sayang sama siapa?" tanya Solar yang juga sama ragu dan tidak rela(?)nya dengan Gempa.
"Sayang?" Thorn tampak berpikir sebentar, kemudian seulas senyum manis kembali menghiasi parasnya.
"Tentu saja aku sayang Solar~" ucapan Thorn yang cerah ceria tersebut membuat Solar keselek.
"M-maksudnya…kok bisa…Author! Aku pikir kau sudah tobat!" protes Solar dengan wajah memerah (entah kenapa).
Lah…Authornya memang dah tobat, tapi ini kan various pair. Harem dan straight saja nggak seru kan~ ufufufufu…
"A-author kampret…" gerutu Solar setengah kesal.
Loh kok Cuma setengah? Entah, tanyakan saja langsung sama Solarnya.
"Aku juga sayang Kak Gempa kok," Thorn kembali bersuara, "Begitu juga dengan Kak Hali, Kak Taufan, Kak Blaze, Kak Ice, Fang, Yaya, Ying, Gopal, pokoknya aku saaayang~ kalian semua~" Gempa dan Solar sukses dibuat melongo.
"T-tunggu jadi kamu…tidak terkena…" Gempa baru sadar, Thorn saat ini memang terlihat normal-normal saja.
"Aku tadi memang menerobos asap pink itu, tapi karena aku takut itu gas beracun makanya aku memakai masker yang dikasih Solar minggu lalu," Thorn dengan polosnya menunjukkan masker ala tukang semprot pestisida yang tadi disimpan di dalam saku celananya (Jangan tanya kenapa bisa muat).
"O-oh…syukurlah kalo gitu…ahahahaha," malu bercampur lega, Gempa hanya bisa tertawa kikuk.
"Author…kau nyebelin, tapi makasih…" Solar ikut-ikutan merasa lega meski tidak seratus persen.
Kenapa? Yah tanya aja sama Solar langsung.
"Hey, ngomong-ngomong mana yang lain? Halilintar dan Taufan, Ice dan Blaze…mereka dimana? Aku kangeeeen~" Yaya kembali berujar dengan centilnya.
"Eh…mereka lagi di luar..."
"My honey bonney sweetie! I'm comiiiiiing~" ucapan Solar kembali dipotong, dan sekarang Yaya dengan kecepatan supersonic sudah terlanjur melesat keluar dari ruangan tersebut.
"Aduh…kita benar-benar harus cepat," desah Gempa yang mulai lelah dengan semua ini.
"Ng-ngomong-ngomong…tadi aku mau bilang apa ya?" gara-gara terus-terusan disela, sekarang Solar jadi lupa mau bilang apa tadi.
"Lah…seriusan?" Gempa sweatdrop.
Sejak kapan penyakit lupa ingatan Gempa jadi menular pada adik bungsunya itu?
.
.
.
"Aku rasa aku mulai mengerti…aku sadar sekarang…" Shielda menatap Blaze dan Kaizo (yang baru saja bangkit setelah tepar selama 30 menit) dengan tatapan penuh penyesalan.
"Maaf, aku tidak bisa menerima cinta kalian. Aku…aku sudah mencintai orang lain!"
Jderrr!
Bagaikan disambar hujan halilintar, hati Blaze dan Kaizo teriris dengan indahnya sekarang.
"A-aku…aku mencintai orang ini!" Shielda dengan lantang bersuara, kemudian menggandeng seorang pemuda yang baru saja tiba dilokasi 5 menit yang lalu.
"T-tidak mungkin…" Blaze bergumam dramatis.
"Kenapa…" Kaizo juga tak kalah dramatisnya.
"Maaf, tapi tolong berikan saja cinta kalian sama orang lain. Aku rela…" ucap Shielda yang juga ikut-ikutan dramatis.
"Tidak…aku tidak bisa…" Blaze memasang muka seolah menahan buang air selama setengah jam.
"Dari sekian banyak orang kenapa harus dia…" Kaizo mulai terlihat sekarat(?).
"Anu…" pemuda yang saat ini sedang digandeng Shielda mulai angkat suara dengan ogah-ogahan. "Kalian lagi latihan pentas teater ya? Jika iya, aku pass," ucapnya datar.
"Apa maksudmu, sayang? Ini bukan sandiwara. Kau itu pujaan hatiku," oh lihat, sekarang ucapan Shielda jadi sama konyolnya dengan Kaizo dan Blaze.
"Hah?" pemuda itu merinding seketika. "Sayangnya kau pujaan hatiku, jadi sebaiknya mundur," baiklah, pemuda yang saat ini digandeng oleh Shielda, lebih tepatnya Boboiboy Ice, berucap dengan judesnya.
"T-tapi kenapa? Kenapa kau tidak mau menerima cintaku?" tanya Shielda dramatis.
"Karena…karena…aku sudah mencintai orang lain," gumam Ice dengan wajah penuh pengkhayatan.
"S-siapa orang itu? Kenapa…kenapa dia berani sekali mencuri hati pujaan hatiku?" tanya Shielda dengan perasaan terluka.
"Maafkan aku, Shielda. Sebaiknya kau move on saja…" Ice melepaskan tangan Shielda. Secara perlahan, kedua kaki berbalut sepatu biru muda tersebut melangkah mendekat ke arah dua orang yang saat ini masih terluka hatinya karena ditolak dengan dramatisnya.
"Kak Blaze…Kakak pernah bilang padaku kalo kita akan selalu bersama sampai akhir hayat kita kan," Ice tersenyum manis sambil menggandeng lengan Blaze.
"W-what? Kapan aku bilang begitu…" Blaze mencoba melepaskan genggaman tangan Ice (karena sentuhan itu membuat tangannya jadi dingin).
"Tapi Kakak sudah janji…karena Kakak…aku…aku jadi…punya perasaan lebih…" gumam Ice dengan mata berkaca-kaca.
Blaze yang biasanya mungkin akan langsung luluh, tapi sayang sekali kali ini bukanlah 'Blaze yang biasa'.
"Kenapa…kenapa kau berpaling dariku, Ice…" Shielda jatuh terduduk dengan dramatisnya.
"Apa aku memang tidak pantas menerima cintamu, wahai Shielda…" Kaizo ikut ambruk dengan gaya yang tidak kalah dramatis.
Wait, sudah berapa kali Author menuliskan kata 'dramatis' di scene ini ya?
Bodo ah.
"Apa-apaan ini?" Sai, yang baru saja tiba setelah tadi terhalang asap aneh berwarna pink, hanya bisa sweatdrop dengan situasi penuh drama di hadapannya saat ini.
Kenapa bisa Ice lebih dulu tiba di lokasi tempat Shielda, Kaizo, dan Blaze daripada Sai?
Tentu saja jawabannya karena Sai nyasar, terima kasih pada asap berwarna pink dari Love Potion. Karena takut kenapa-kenapa, Sai pun memutuskan mengambil jalan memutar saja.
Well done, Sai. Dirimu menjadi satu dari sedikit orang yang selamat dari insiden nista ini.
.
.
.
"Yaya kabur?" kaget Taufan begitu mendengar jawaban dari Gempa. Oke, dirinya mulai merinding sekarang, takut dirinya akan diapa-apakan sama Halilintar nantinya.
"Dia mencari kalian. Loh, memangnya nggak ketemu di jalan ya?" tanya Solar.
"Nggak. Kami buru-buru ke sini setelah tadi Kak Hali membuang Adu du dan Probe keluar," jawab Taufan.
"Adu du dan Probe ada disini?" kaget Gempa.
"Tadinya sebelum dilempar sama Kak Hali. Tapi aku punya firasat mereka akan kembali sih," jawab Taufan lagi.
"Terus Kak Halilintarnya mana?" tanya Solar.
"Ehehehe…t-tadi tiba-tiba saja ada asap keluar dari ruang makan, dan reflek aku kabur deh daripada jadi korban. S-sekarang aku jadi nggak tahu Kak Hali ada dimana…" jawab Taufan sambil cengengesan.
"Aduh…berarti sekarang semua korban Love Potion sedang berkeliaran di luar dong?" ucap Solar khawatir.
"M-mereka tidak akan ngapa-ngapain satu sama lain kan…?" tanya Gempa yang sama khawatirnya.
"Palingan mereka hanya akan mesra-mesraan sama objek yang jadi korban ramuan cintanya," sahut Taufan santai.
"Itu sama sekali tidak baik…" komentar Solar facepalm melihat betapa rileksnya sang kakak kedua saat ini.
.
.
.
"Hali, Taufan, Blaze, Ice~~ Kalian dimana? Aku kangen~~" Yaya terlihat jingkrak-jingkrakkan dengan bahagianya sambil bersenandung kecil.
Baiklah, jujur saja Yaya terlihat sangat centil sekarang.
Apa efek ramuan cinta bisa separah itu?
Dan lagi apa Yaya berniat untuk memacari tujuh-tujuhnya?
"Bukan~ Halilintar itu pacarku, Taufan selingkuhanku, Gempa itu calon suamiku, Blaze selingkuhan keduaku, Ice tunanganku, Thorn akan incest denganku, dan Solar itu kekasihku~" Yaya tiba-tiba bersuara, masih sambil bersenandung ria.
Kelihatannya bukan Cuma Solar saja yang bisa merusak dinding keempat sekarang…
Brak!
"Ah!" ketika lagi asik-asiknya menghayal mengenai dirinya dan ketujuh Boboiboy, langit-langit kapal tiba-tiba saja retak dan sekarang ada dua makhluk asing yang mendarat tepat di hadapan Yaya.
"K-kalian siapa…?" tanya Yaya takut-takut.
"Hish! Ini aku, Adu du!" teriak Adu du kesal.
"Dan aku Probe. Ini kisah kami berdua~" sambung Probe.
"Bukan itu, woy!" Adu du berteriak lagi.
"Oh iya…ini kisah kami semua~~" Probe malah menari-nari dihadapan Adu du, membuat alien kepala kotak tersebut langsung melempar cangkir ke arah robot ajudannya tersebut karena daritadi error terus.
"K-kalian mau ngapain? Kalian mau mengajak aku nikah? A-aku sudah punya pacar!" seru Yaya takut.
"Ge'er! Siapa yang mau nikah sama kau, hah? Rasakan ini!" Adu du yang kesal, karena barusan dilempar keluar kapal oleh si pengendali petir, langsung menembak Yaya menggunakan pistol plasmanya.
"Kyaaa!" Yaya reflek menggunakan kekuatan gravitasinya untuk terbang menghindar.
"Heh…kau pikir kau bisa kabur, hah!" Adu du terus menembaki Yaya dengan pistolnya, tapi Yaya tetap saja bisa menghindari semuanya dengan mulus.
"Gara-gara biskuit kau, aku jadi kena imbasnya, tahu tak!" kali ini Adu du menggunakan dua pistol.
"Oh tidak…" dan entah bagaimana, Yaya kali ini sudah ada di titik buta dimana Adu du bisa dengan tepat menembakkan pelurunya.
Alien kepala kotak itu kemudian menyeringai, "Heh…rasakan ini!" Adu du menembakkan dua pistolnya, dan kini empat buah peluru plasma dengan cepat melesat ke arah Yaya.
"Ah…t-tapi aku bahkan belum menikah…" Yaya dengan pasrah hanya menutup mata dan melindungi wajahnya menggunakan kedua lengannya.
Zrassh!
Seharusnya peluru-peluru tersebut berhasil menembus lengannya, kalo saja tidak ada pelindung berwarna kemerahan yang diketahui mengandung listrik ribuan volt muncul dan melindunginya.
"K-kau lagi!" Adu du menggeram, tapi perlahan kedua kakinya melangkah mundur.
"Kalian ini tidak ada kapok-kapoknya ya…" pemuda yang barusan menciptakan pelindung listrik tersebut menatap si alien dan robot ajudannya tersebut dengan mata merah yang terbakar amarah.
"H-habislah kita, Incik Boss…" Probe yang gemetaran kembali bersembunyi di belakang punggung bosnya, meski hal itu sia-sia saja toh tubuhnya lebih lebar daripada si kepala kotak.
Pemuda bertopi hitam bermotif petir merah tersebut menciptakan sebilah pedang berwarna senada dengan matanya, kemudian menghunuskannya ke arah dua makhluk tersebut dengan emosi membara seperti lava gunung Volcania.
"Kalian berani sentuh dia meski hanya seujung jari, dan aku akan mengubah kalian menjadi butiran debu!" ancamnya dengan wajah seseram mungkin, dan sukses membuat alien kotak dan robot tersebut merinding ketakutan sambil berpelukan.
"H-halilintar…" Yaya tersenyum penuh haru, dimatanya, Halilintar tampak berdiri dengan gagahnya, lengkap dengan latar belakang pink berhias kerlap-kerlip dan juga balon-balon sabun(?) ala komik Jepang khusus perempuan.
Tunggu, kenapa tiba-tiba Halilintar jadi perhatian pada Yaya?
.
.
.
"Baiklah, baiklah. Ini jadi tambah kacau saja. Kak Taufan, apa sekarang Kakak bisa menjemput Ochobot di ruang Power Sphera?" tanya Gempa.
"Bisa sih…tapi kalian sudah memutuskan akan kemana?" tanya Taufan.
"Kelihatannya Solar sudah berhasil menemukan obat penawar untuk apapun yang sudah dia perbuat hari ini," komentar Thorn, masih setia dengan senyumnya.
"Ugh…iya, iya aku memang sudah punya solusinya," Solar kembali menyalakan ponselnya kemudian menunjukkan sebuah gambar planet yang terlihat agak aneh.
"Hey, warnanya lucu," ucap Thorn.
"Ya…seluruh planet berwarna pink?" tanya Taufan.
"Planet ini bernama RomeRose. Mereka terkenal dengan ilmu Romaence mereka," jawab Solar.
"Romaence? Maksudnya?" tanya Gempa.
"Aku belum tahu detailnya, tapi itu semacam…gabungan dari ilmu pengetahuan tentang cinta dan juga sains. Kebetulan kapal ini memang sedang mengarah ke sana, jadi aku bisa menemukan nomor koordinatnya dan memberikannya pada Ochobot," jelas Solar.
"Apa kita bisa mendapatkan solusinya di planet itu?" tanya Taufan.
"Kemungkinan besar…iya. Lagipula aku juga menemukan artikel tentang seseorang penghuni asli planet itu dan sangat mengenal ilmu Romaence," jelas Solar kemudian membuka artikel selanjutnya yang menjelaskan tentang orang yang dimaksudnya, lengkap dengan fotonya.
"Wow…dia cantik juga. Apa dia satu spesies dengan Fang dan Kapten Kaizo?" komentar Taufan begitu melihat foto gadis berambut cokelat yang entah kenapa terlihat mirip manusia bumi tersebut.
Gempa sendiri hanya diam, tapi samar-samar terlihat rona merah muda menghiasi kedua pipinya begitu melihat foto gadis tersebut.
"Gadis ini adalah pemilik Lovebot, Power Sphera cinta. Jadi aku rasa kita bisa menemukan jawaban padanya," Solar membuka foto kedua yang tepat disamping foto si gadis yang menunjukkan sebuah robot yang sepertinya seukuran Ochobot yang berwarna pink dengan gradasi hijau di bagian tangan dan matanya.
"Power Sphera baru? Keren!" komentar Thorn antusias, apalagi warna hijau pada robot bulat tersebut membuatnya salah fokus.
"Oke, sudah jelas kan? Sekarang apa Kak Taufan bisa membawa Ochobot kemari?" tanya Solar.
"Oh, aku ikutan Kak~!" Thorn mengangkat tangannya tinggi-tinggi layaknya anak TK yang lagi ikut karyawisata.
"Oke, aku sudah paham. Ah…ngomong-ngomong, siapa gadis ini?" tanya Taufan sambil tersenyum…jahil?
Solar terkekeh, tangannya kembali membuka foto si gadis berbando tersebut supaya wajahnya bisa terlihat lebih jelas, "Mungkin dia masih seusia kita, tapi dia adalah salah seorang peneliti jenius di planet itu. Oh iya, namanya Hanna, ngomong-ngomong,"
.
.
.
T B C
Hello~ maaf saya telat update fict yang satu ini karena sindrom akhir tahun menyerang XD #plak
Mohon Maaf~
Kok malah makin ngaco ya? Hayo~ apa ada yang mikir kayak gitu? Pasti ada ya, ahahahaha #bangga(?)
Pertanyaan baru muncul, dan sekarang mereka akan bergerak menuju planet baru~ XD
Oh iya, saya berniat munculin Papa Zola, Fang, Ying, Gopal, dan Koko Ci disini…tapi karena sudah terlalu panjang jadi saya undur sampai chapter depan deh. Jangan marah ya, Insya Allah akan update cepet kok #bungkukbungkuk
Oke, segitu saja catatan kali ini, mohon kritik, saran dan komentarnya di kotak review ya~
Sampai jumpa di eksperimen berikutnya~ XD
Review please~
