Disclaimer: Sampai Adu Du tumbuh hidung sekali pun, BoBoiBoy dan segala propertinya tetap bukan milik saia

Test 5: Sebelum Berhadapan dengan Seorang Gadis, Pastikan Dulu Resleting Celanamu Sudah Tertutup Atau Belum

Enjoy~


"Hanna, yah…namanya cantik juga," puji Taufan.

"Kita harus menemui gadis ini secepatnya sebelum jumlah korban di atas kapal ini bertambah. Ngomong-ngomong, Kak Thorn tahu di mana Kak Blaze?" tanya Solar.

"Kami sempat terpisah gara-gara pusaran angin dan asap, jadi aku tidak tahu," jawab Thorn.

"Jadi ternyata ini karena Kak Taufan ya," desah Solar, dan Taufan hanya cengengesan sebagai balasan.

"Ya sudah deh. Kak Taufan pergi jemput Ochobot saja sekalian periksa keadaan di luar. Mungkin saja masih ada orang yang tidak terkena efek Love Potion," tukas Gempa.

"Aku ikut, Kak~" Thorn kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Oh iya, Solar…sebaiknya kamu jangan berkeliaran sembarangan," ucap Gempa.

"Memangnya kenapa, Kak?" tanya Solar.

"Karena, jika kamu sampai terkena efek Love Potion, siapa yang akan membuat penawarnya?" sahut Gempa.

"Hmm…jadi secara teknis aku ini harapan satu-satunya untuk menyelamatkan TAPOPS?" hidung Solar mulai memanjang secara imajiner.

"Aku memang hebat~ ya ya, aku tahu aku hebat~" ucapnya dengan dagu terangkat tiga senti. "Saking hebatnya…aku sampai takut dengan kehebatanku sendiri…" gumamnya dengan pose telunjuk dan jempol diletakkan di bawah dagu. Kelihatannya narsisnya kumat lagi.

"Ini semua terjadi juga karena eksperimenmu, tahu. Jadi kepalanya dikecilkan dulu sana," komentar Taufan. Kalo saja Halilintar ada dan melihat kelakuan adik bungsu mereka itu, entah reaksi macam apa yang akan dia tunjukkan.

.

.

.

"Shielda…" sementara itu, tepat di depan ruangan Komander, tampak Kapten Kaizo yang dikenal sebagai Pemberontak Legenda yang paling garang, sangar, dan kejam sejagat dunia BoBoiBoy Galaxy, tengah duduk melantai dengan kepala tertunduk lesu. Tidak henti-hentinya nama Shielda keluar dari bibirnya yang pucat pasi…

Sebentar.

Nggak juga sih. Ini kan bukan drama…

Oke, lanjut!

"Hiks…Ice…kamu…kamu mengkhianatiku hanya untuk seekor tupai? Hiks…sakit…sakhiiit hatiku, Ice!" Shielda juga saat ini tengah duduk melantai sambil menangis ala anak umur lima tahun yang nggak dikasih izin main keluar rumah.

"Aku…aku bukan tupai! Shielda…kau lebih memilih beruang kutub ini ketimbang aku?" tidak jauh beda dengan Kaizo, Blaze juga tampak merana dengan tubuh gemetar.

"Aku...rela jadi beruang kutub kalo itu bisa membuat Kakak mencintaiku juga…aku akan lakukan apapun demi cintaku, Kak Blaze…" Ice masih menempel di bahu Blaze tanpa ada niat sedikit pun untuk melepasnya.

Sesakit ini kah rasanya dikhianati oleh orang yang dicintai…?

Kira-kira itulah yang dipikirkan oleh keempat makhluk yang sedang dibutakan oleh cinta sesaat tersebut.

"Apa-apaan ini? Aku tidak salah kapal kan…?" Sai hanya bisa memasang wajah datar melihat kelakuan adik kembar dan juga rekan-rekan sekapalnya itu.

Bahkan Kapten Kaizo pun bertingkah tak wajar.

Sai mulai berpikir untuk alih profesi menjadi tukang loak(?) saja kalo begini…

"Apa ini? Kalian tampak merana," Koko Ci akhirnya keluar dari ruangan setelah merajuk selama satu chapter kemarin.

"Komander. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Kenapa mereka bersikap aneh begini?" tanya Sai yang sudah mulai risih melihat ke-OOC-an rekan-rekan dan adiknya tersebut.

"Sai…" bukannya menjawab, Koko Ci malah berjalan mendekati Sai. Kaki-kakinya yang pendek dan lambat malah semakin mendramatisir keadaan (setidaknya bagi Author).

"K-komander? Ada masalah?" sekarang perasaan Sai mulai tidak enak.

"Sai! Katakan padaku…" Koko Ci tiba-tiba saja melompat dan menerjang sebelah kaki Sai,hampir membuat pemuda berzirah itu terjungkal kebelakang dengan tidak indahnya.

"Katakan padaku…katakan kalo kau mencintaiku, Sai! Katakan!" Koko Ci mulai meracau.

"M-maksudnya? Komander, apa yang terjadi sih?" tanya Sai sambil menggoyang-goyangkan kakinya, mencoba melepaskan cengkeraman tangan kecil Koko Ci di kakinya.

"Kenapa…kenapa tidak ada satu pun di kapal ini yang mencintaiku? Aku ini…aku ini Komandan kalian, tahu tak! Huuu huuu…" Koko Ci mulai mewek, dan Sai semakin merinding karena suara tangisan Koko Ci yang merdu (merusak dunia) membuat telinganya berdengung.

"Shielda…aku ini kurang apa untukmu sih? Aku memberikan semua cintaku padamu!"

"Shielda…gunung pun akan aku bakar demi dirimu!"

"Ice…aku mencintaimu!"

"Kak Blaze…aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangiku untuk mencintai Kakak…"

"SIAPAPUN! CINTAILAH AKUUUUUU!"

"BERISIK!" Sai mengayunkan kakinya satu kali, dan itu sukses membuat Koko Ci terpental sampai menubruk punggung Ice.

"Bodo amat sama Komander! Aku masih belum mau gila!" teriak Sai dengan wajah semerah topi Blaze sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.

"Aku…aku tidak dicintai…" Koko Ci yang pasrah akhirnya berbaring tengkurap di lantai, bergabung dengan empat anak buahnya yang masih ber-gloomy ria karena putus cinta.

.

.

.

"Mereka kenapa sih? Salah makan ya?" gumam Sai sambil memeluk dirinya sendiri, masih merinding melihat tingkah aneh rekan-rekan beserta komandannya tersebut.

Apalagi pemandangan humu Blaze dan Ice yang entah kenapa membuat perutnya sembelit mendadak.

"Hah…aku cinta padamu…"

"Hahaha, makasih. Aku juga mencintaimu. Kau akan selamanya bersamaku kan?"

"Ya, dengan senang hati. Aku akan selalu bersamamu sampai akhir hayatku,"

Sai menatap datar pemandangan dihadapannya. "Bisakah kalian berdua menjauh? Kalian menghalangi," ucapnya datar pada kedua remaja oriental yang sedang bermesra-mesraan sendiri-sendiri dihadapannya.

"Hiih. Syirik ya? Mentang-mentang nggak punya pasangan," ledek Fang, salah satu dari remaja yang asik pacaran tersebut.

"Iya nih. Kalo iri ya cari pasangan sana," timpal Ying dengan tampang meledek yang belum pernah Sai lihat sebelumnya, mengingat karakter si gadis Cina bukan seperti ini.

"Ngapain aku iri sama kalian? Yang ada aku takjub dengan kenistaan yang sedang kalian buat ini," ucap Sai makin datar.

Fang mendengkus, "Dah lah. Yuk, Yang. Nggak usah pedulikan jones syirik seperti dia," ucapnya sambil memeluk pasangannya.

"Bener tuh, jones. Week," Ying masih memeletkan lidahnya sebelum ikut beranjak pergi sambil mengelus-ngelus pacarnya.

Sai mengurut dahinya. "Melihat yang tadi tidak akan membuat nyawaku berkurang separuh kan? Sebenarnya ada apa dengan orang-orang di atas kapal ini sih?" desahnya lelah.

Siapapun pasti lah akan bereaksi serupa jika melihat ada dua remaja yang saling memeluk dan bermesraan dengan kacamata satu sama lain, kan?

Iyep, saya ulang lagi.

Mereka Bermesraan dengan Kacamata Satu Sama Lain.

"Author, jangan bikin kepalaku tambah puyeng deh…" oh lihat, saking stressnya, Sai kelihatannya berhasil mendapatkan kemampuan merusak dinding keempat juga.

.

.

.

Zraaaassh!

Claaaaaash!

Zaaaaaaaptttt!

Poooooof(?)!

Oke, mungkin sebenarnya empat deret tulisan di atas tidak begitu penting sih yah…

Singkat cerita (karena pada dasarnya fanfik ini tidak bergenre action), Adu Du dan Probe pun terkapar tak berdaya dengan tubuh gosong yang menguarkan aroma yang…sulit dideskripsikan.

Terima kasih pada ketangkasan dan kemampuan bertarung si pengendali petir yang ternyata tidak berkurang meski sedang menjadi bucin biskuit, kedua makhluk luar angkasa tersebut pun kalah dengan (tidak) terhormatnya.

Tapi jangan khawatir, mereka masih utuh kok. Halilintar tidak lah sekejam itu. Lagipula jika mayat mereka bergelimpangan dan mengotori lantai pesawat, pasti dirinya yang akan kena marah kan?

Baiklah, jangan salah fokus.

"Cih…menyusahkan saja," Halilintar mendengkus setelah men'teleportasi'kan pedang halilintarnya ke Isekai(?).

"Hali~" Yaya yang sudah tenggelam dalam dunia fangirlnya langsung memeluk lengan si topi hitam dengan erat. Senyum lebar pun menghiasi paras manis gadis yang seharusnya kalem tersebut.

"Makasih ya, kamu nyelametin aku~ aku sangat bersyukur kamu ada di sini duh. Aku sayang kamu~~" Yaya meracau masih dengan aura serba pink menguar dari tubuh gadis pengendali gravitasi tersebut.

Halilintar mengedip-ngedipkan matanya dengan tampang ala bocah polos untuk sepersekian detik, "Ah! Aku mencarimu ke mana-mana, tahu nggak? Kenapa malah keluyuran nggak jelas sih? Kau hampir saja diterkam si PHO(?) kan!" Halilintar mengomel, dan kelihatannya ucapan Taufan mengenai Adu Du dan Probe ada hati sama pacarnya itu benar-benar dianggapnya serius.

"PHO…? Mereka ingin merusak hubungan kita…?" Yaya salah kaprah, dan semakin mengeratkan pelukannya pada lengan pemuda petir tersebut.

"Sudah, yuk pergi. Kalo kau sampai kenapa-napa, Bisky tak akan bisa diselamatkan. Dan jika itu terjadi…aku benar-benar akan membuang Taufan ke lava Volcania kemudian ikut terjun bersamanya…" Halilintar mendengkus ditambah bisikan pelan di akhir kalimatnya yang sepertinya tidak didengar Yaya yang masih sibuk berfantasi ria mengenai berapa anak yang mau dia kandung jika menikah dengan Halilintar nanti.

"Enggak, enggak, Author~ aku bingung siapa yang harus dapet anak lebih dulu jika aku beneran nikah sama mereka bertujuh~"

Serius, sudah berapa orang yang bisa merusak itu dinding sih?! Author capek nambal(?)nya tahu!

.

.

.

"Kak Taufan," Thorn memanggil dengan nada polosnya.

"Hmm?" Taufan menyahut tanpa menoleh. Saat ini kedua remaja dengan topi miring tersebut sedang dalam perjalanan menuju ruang Power Sphera, tempat di mana para Power Sphera termasuk Ochobot sedang beristirahat.

Bisa dibilang ruangan itu juga satu-satunya tempat yang belum terkontaminasi oleh asap berwarna pink.

"Sebenarnya kenapa Solar mau membuat ramuan cinta?" tanya Thorn.

"Ah…katanya sih permintaan pasar. Entahlah," Taufan menyahut sekenanya sambil was-was memperhatikan sekeliling, takut jika asap pink masih berkeliaran di sekitar situ.

"Kenapa orang-orang ingin ramuan cinta?" tanya Thorn lagi.

"Err…untuk membuat orang yang mereka cintai balas mencintai mereka? Supaya tidak ada perasaan yang bertepuk sebelah tangan?" Taufan menjawab ragu. Sesungguhnya dia sendiri bingung apa kegunaan ramuan cinta yang sebenarnya.

"Cinta yah…" Thorn tersenyum kecil, "Aku pikir cinta itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya dipaksakan. Cinta itu adalah perasaan kita terhadap sesuatu atau seseorang yang sangat berharga dan berkesan kan? Jika perasaan itu hanya dibuat-buat, bukankah itu sudah bukan cinta lagi?" Taufan seketika terdiam mendengar ucapan sang adik.

Hey, apa yang sedang berada di sampingnya ini benar-benar Thorn, adik super polosnya yang bahkan menyebut bikini itu pakaian bayi yang kebesaran?

"Thorn, dengar…aku rasa tidak semua orang beranggapan seperti itu. Meskipun yah…yang kau katakan itu benar," komentar Taufan.

"Kenapa?" tanya Thorn.

"Well…gimana yah…" Taufan jadi bingung harus berkata apa. Masalahnya, Thorn yang saat ini sedang bertanya.

Jika dia salah bicara, entah apa yang akan terjadi (atau apa yang akan Gempa lakukan nantinya).

"Aku tidak bisa menjelaskannya, dan aku rasa itu lah jawabannya. Setiap orang pemikirannya berbeda-beda, dan kebanyakan orang punya pandangan yang relatif serupa terhadap sesuatu. Yah…sebut saja hal-hal yang sudah jelas. Cinta misalnya," jelas Taufan pada akhirnya.

"Apa Kak Taufan…punya rasa seperti itu kepada seseorang?" tanya Thorn lagi.

Taufan terdiam lagi.

"Kalo soal itu sih…"

Brak!

"Loh, Cikgu Papa?" Taufan dan Thorn cengo di saat yang bersamaan melihat Papa Zola, kapten sekaligus guru mereka dulu, tampak sedang berdiri di tengah koridor tepat menuju ruang Power Sphera.

"Dinda, kamu meragukan cinta Kanda? Kanda rela memberikan apapun jika untuk Dinda. Apapun! Bahkan uang jajan Gopal sekalipun," Papa Zola bersujud dihadapan sebuah rotan yang diketahui sebagai Rotan Keinsyafan yang saat ini juga tergeletak mengenaskan di hadapan si pemilik.

"Jangan hanya diam saja, Dinda! Kamu masih tidak percaya pada Kanda?" Papa Zola masih bermohon-mohon ria terhadap si rotan yang sudah pasti tidak akan memberikan jawaban.

"Hihihi mereka sering cekcok yah," Gopal (yang kebetulan lewat) terkikik dengan rempong(?)nya begitu melihat Papa Zola yang terlibat drama ala-ala FTV dengan isterinya.

"Untung kita selalu langgeng ya, Yang~" Gopal menciumi cermin yang menampilkan bayangan dirinya sendiri dengan penuh cinta dan kasih sayang.

"Anu…Kak Taufan," Thorn memanggil setelah hening selama sepersekian menit.

"Abaikan saja, Thorn. Anggap kita tidak melihatnya," sahut Taufan, masih berusaha tersenyum, sembari menarik tangan sang adik.

Dengan cepat kedua remaja tersebut berjalan melewati Papa Zola yang masih menangis dengan penuh kebenaran di hadapan isteri keduanya dan juga Gopal yang masih bermesraan dengan cermin yang dicopotnya dari kamarnya.

"Kita harus terbiasa dengan mereka semua jika kita memang ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini," gumam Taufan dan Thorn hanya bisa memandangi Cikgu dan kawannya tersebut dengan tatapan super polosnya.

.

.

.

"Bagaimana Solar?" tanya Gempa.

"Aku sudah mencoba mengirimkan surel pada H.E.A.R.T Departement agar mereka mengizinkanku bertemu dengan Hanna. Tapi kelihatannya belum ada respon," jawab Solar.

"Apa…itu harus ya? Kelihatannya Hanna itu orang yang penting ya?" komentar Gempa sembari memperhatikan kedua tangan adiknya yang tidak pernah berhenti membolak-balikkan buku dan ponsel pintarnya.

"Bisa dibilang begitu. Gadis itu adalah salah satu peneliti jenius termuda di departemen itu, terlebih lagi dia sampai dipercaya untuk memegang salah satu Power Sphera," ucap Solar sekenanya.

"Jadi…sambil menunggu Kak Taufan dan Thorn kembali, apa ada yang bisa kita lakukan?" tanya Gempa lagi. Jika dipikir-pikir, sudah lebih dari dua chapter-ehm, lebih dari empat jam dirinya terjebak di laboratorium ini dan hal itu bukan hal biasa bagi seorang Boboiboy Gempa.

"Kak Gempa ingin keluar?" tanya Solar.

"Well…aku tahu, Kak Taufan itu lebih cepat jika menyangkut masalah transportasi selain kamu dan Kak Halilintar…tapi rasanya aneh saja jika aku tetap di sini tanpa melakukan apapun," jawab Gempa sambil menggaruk pipinya.

Solar terkekeh, "Kak Gempa seperti android yang hanya punya satu program saja deh," ucapnya setengah bercanda.

Iya, setengah. Di beberapa situasi Solar memang sering mempertanyakan apa otak kakak ketiganya itu memang sudah 'diprogram' khusus atau semacamnya

Pasalnya orang seperti Gempa di zaman sekarang itu memang jarang…

"Oke, aku salah fokus," Solar tertawa sambil mengutak-atik ponselnya, mengabaikan Gempa yang menatap bingung ke arah sang adik bungsu yang tiba-tiba merubah raut wajahnya tersebut.

.

.

.

"Ochobot, kau hidup?" tanya Taufan tepat setelah mengangkat si robot kuning dari 'kasur'nya.

"Kau bertanya seolah aku baru saja terkena serangan fatal dari seekor alien merah berkepala kotak saja deh," Ochobot menyahut sweatdrop dan Taufan hanya terkekeh sebagai balasan.

"Kami butuh bantuanmu untuk membawa pesawat ini ke sebuah planet!" ucap Thorn semangat.

"Hah? Maksud kalian…teleportasi? Tapi aku tak bisa melakukan itu jika belum mendapat perintah langsung dari Komandan," sahut Ochobot.

"Ini darurat. Komandan, teman-teman yang lain, serta sebagian besar penghuni pesawat ini termasuk Kapten Kaizo, sedang dalam masalah besar," jelas Taufan.

"Hah? Ada alien yang menyerang?" Ochobot panik seketika.

"Err…tidak juga sih. Kau akan mengerti setelah melihat apa yang terjadi nanti, Ochobot. Untuk sekarang kita harus kembali ke laboratorium Solar sebelum kita ikutan menjadi gila," jelas Taufan yang tanpa menjawab pertanyaan Ochobot berikutnya, sudah langsung melesat keluar dari ruangan Power Sphera tersebut (tentu saja tidak lupa mengunci ruangan itu setelah mereka keluar).

"Seriusan, Taufan. Kau tidak akan menggunakanku untuk trik-trik anehmu itu lagi kan?" tanya Ochobot lagi.

Power Sphera kuning itu tidak akan mungkin lupa hari dimana Taufan memanfaatkan kuasa teleportasinya untuk memindahkan Halilintar (yang mengamuk karena saus Tabasco kesukaannya dijatuhkan oleh Taufan) ke planet Volcania.

Serius, Ochobot trauma selama seminggu dan Halilintar jadi tidak mau bicara dengan Taufan sampai akhirnya adik super jahilnya itu membelikan enam botol Tabasco untuknya. Belinya pakai uang bulanan Taufan sendiri tentu saja.

"Astaga demi Katak Pukau! Aku serius kali ini bukan aku. Banyak hal yang sudah terjadi dan aku pikir banyak juga yang mulai mempertanyakan ke mana kau selama empat chapter ini tahu!" sahut Taufan panik karena mendadak asap pink hasil ramuan cinta Solar muncul di tikungan.

"Aku tidak mengerti kau ini ngomong apa. Eh bentar, apa itu?" tanya Ochobot.

"Itu hasil eksperimen Solar. Jika terkena asap itu, kita bisa jatuh cinta sama apapun yang pertama kali kita lihat," Thorn yang menjawab sambil berayun dari tiang ke tiang dengan menggunakan akar menjalarnya.

"Itu lah yang ingin kami perbaiki. Sekarang pegangan yang erat karena aku tidak mau jatuh cinta pada kalian berdua, oke?" Taufan langsung menaiki hooverboardnya sambil memeluk Ochobot kuat-kuat, menjaga agar bola kuasa kuning tersebut tidak terpental akibat angin yang mengelilingi tubuh si topi biru.

"Yosh! Thorn, arahkan jalan tercepat menuju laboratorium Solar," perintah Taufan.

"Siap, boss!" Thorn menyahut semangat. Untuk urusan jalan tikus menuju lab Solar memang adalah keahlian Thorn mengingat pemuda polos itu adalah orang yang paling sering mengunjungi Solar yang kebablasan di labnya.

"Sebelah sini, Kak!" Thorn mendadak memutar arahnya, diikuti Taufan yang juga dengan luwesnya membelokkan hooverboardnya, meski Ochobot sempat berteriak panik karena kelihatannya rasa takutnya terhadap ketinggian masih belum sembuh juga.

"Asapnya sering muncul dan hilang secara tiba-tiba. Aku mulai curiga ada seseorang yang memang mengendalikan asap Love Potionnya," gumam Taufan.

"Hah? Love Potion?" Ochobot mendadak berteriak karena suaranya terhalang deru angin.

"Iya. Aku belum bilang ya?" tanya Taufan.

"Kau belum bilang apapun soal itu, Taufan!" protes Ochobot.

"Ya maaf. Namanya juga darurat," sahut Taufan santai.

"Bukan itu maksudku! Jadi sekarang kau butuh aku untuk pergi ke mana?" tanya Ochobot.

"Kata Solar, kita harus pergi ke suatu planet yang disebut RomeRose," jawab Taufan.

"Hah?! Planet itu kan…"

"Kak Taufan, awas di depan!" suara Thorn mendadak menginterupsi, dan Taufan yang sedang tidak memperhatikan jalan pun akhirnya menabrak Thorn yang masih bergelantungan.

Alhasil, kedua remaja bertopi miring ditambah sebuah robot berbentuk bola itu pun terpental dan jatuh menghantam lantai (dan kelihatannya mereka juga menabrak seseorang yang berjalan se arah dengan mereka).

"Aduh…biaya perbaikan Power Sphera itu mahal loh," keluh Ochobot dengan mata berbentuk spiral yang sedikit mirip Emotibot.

"Ouch…setelah jatuh seperti ini…kita tidak akan bertukar tubuh kan? Jika iya akan merepotkan," ucap Taufan ngelantur sambil mengelus kepalanya yang berasap.

"Aku rasa hal semacam itu tidak akan mungkin terjadi hanya karena saling berbenturan ketika terjatuh deh, Kak…" sahut Thorn dengan kepala yang juga mengeluarkan asap.

"Astaga…apa lagi sekarang? Kalian mau menggangguku? Aku hanya ingin sendirian! Mengasingkan diri dari semua kenistaan ini, tahu!" pemuda serba hijau yang mereka hantam sebelumnya, yang ternyata adalah Sai, tampak sangat putus asa sampai ada setitik air menghiasi mata kanannya.

"Loh, Sai? Kau kenapa?" tanya Taufan.

"Harusnya aku yang tanya! Apa yang terjadi dengan tempat ini? Kenapa semua orang menjadi gila dan ada asap berwarna aneh di mana-mana sih?" Sai mulai nge-gas.

"Eh? Asap aneh?" Taufan memutuskan untuk memperhatikan Sai ujung rambut sampai ujung kaki dengan intens. Iya juga ya, Sai terlihat normal dan tidak terlihat dimabuk asmara karena seseorang-atau sesuatu seperti saudara-saudara dan teman-temannya yang lain.

"Apa sih, lihat-lihat? Kalo mau naksir jangan sama aku, bisa kan?" Sai mendelik jijik sambil menggeser tubuhnya menjauh dari si pengendali angin.

"Siapa juga yang naksir dasar kol goreng," sahut Taufan sweatdrop. "Tapi kelihatannya kau belum terkena efek apa-apa dari Love Potion ya?" lanjutnya.

"Love Potion?" beo Sai tidak mengerti.

"Kita jelaskan nanti. Intinya, jangan dekati gumpalan asap berwarna pink yang ada di sana itu. Sebaiknya kau ikuti saja kami ke lab Solar agar kau juga tidak ikut terinfeksi cinta buta seperti yang lainnya, oke?" ucap Taufan cepat, takut asap ramuan cinta tersebut tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Dan kita harus cepat sebelum Love Potion itu mengepung kita," Ochobot (yang akhirnya mulai kembali normal) kembali melayang di samping Taufan.

"Oke, sebaiknya kita pergi sekarang. Gempa dan Solar juga pasti sedang menunggu kita,"

.

.

.

Planet RomeRose

H.E.A.R.T Departement

"Hannyan, kau sudah membaca surel yang baru saja terkirim di website H.E.A.R.T?" seorang gadis berambut pony tail dengan bandana pink menghiasi kepalanya datang sambil membawa sebuah ponsel pintar.

"Surel? Aku belum mengecek apapun hari ini karena akhir-akhir ini sedang marak kasus 'putus di tengah jalan'," gadis lainnya yang berambut cokelat sebahu menyahut tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang dibacanya.

"Well, kalo begitu kau harus membaca ini. Surel ini bisa dibilang…dikirim dari tempat yang tidak pernah kita sangka," gadis berbanda tersenyum penuh arti sambil menyerahkan ponsel pintarnya.

"Hmm?" gadis yang sebelumnya dipanggil Hannyan, mengambil ponsel tersebut dan mengecek surel yang masuk ke website mereka.

"TAPOPS? Kelompok pelindung Power Sphera yang terkenal itu?" kagetnya.

"Iya kan? Siapa sangka mereka akan mengirimkan surel yang berisi pesan minta tolong?" sang lawan bicara tersenyum lebih lebar.

"Woah, ini sesuatu yang baru. Sebenarnya hari ini aku sibuk tapi mereka meminta waktu untuk bisa bertemu denganku…" gumam gadis itu sambil meletakkan jempolnya di bawah dagu.

"Jika kau bersedia, biar aku yang mengatur pertemuanmu dengan mereka. Bukankah ini sesuatu yang langka?" gadis berbandana pink mengambil ponselnya, bersiap mengirim balasan apapun yang hendak diucapkan oleh gadis yang merupakan atasannya itu.

"Mimmy, apa menurutmu ini penting?" tanya si gadis.

"Mereka tidak akan membuang-buang waktu mereka hanya untuk omong kosong. Apalagi kali ini mereka berniat bertemu denganmu. Aku rasa mereka memilih untuk bertemu dengan seorang Hanna itu bukanlah karena random," jelas Mimmy.

"Kamu berkata begitu seolah aku ini adalah orang penting saja," gadis dengan name tag Hanna di seragamnya tersebut terkekeh pelan.

"Tapi memang begitu kan, kau itu adalah peneliti paling muda dan jenius di departemen ini. Dan aku rasa TAPOPS juga menyadari itu," sahut Mimmy.

"Tapi apa yang membuat mereka ingin bertemu denganku ya? Apa mereka juga punya masalah asmara," gumam Hanna.

"Klien kita tidak selalu orang-orang yang terjebak masalah cinta kan? Jadi bagaimana? Yes or Yes?" Hanna terkekeh pelan mendengar pertanyaan Mimmy yang kelihatannya memang hanya punya satu opsi jawaban.

"Baiklah, segera kirim pesan balasan. Aku yakin mereka pasti sedang tidak ingin aku membuang-buang waktu, apalagi jika tamu kita kali ini adalah para pelindung Power Sphera paling terkenal di seluruh galaksi,"

.

.

.

T B C


Yahoo~~ maafkan saya yang telat update ya semuanya X'D
Sebenarnya rencananya mau update kemaren tapi karena kesibukan di RL datang menghadang…apalagi sekarang udah bulan Ramadhan akhirnya jadi tertunda sampe hari ini deh X'D

Oh iya, maafkan jika masih kurang lucu dan kurang panjang karena yah…satu dan lain hal saya memutuskan fanfict ini tidak akan sepanjang biasanya karena kelihatannya kalo kepanjangan malah mata bisa sakit kan ya, hahahaha #plak

Fanfict ini akan tamat…keknya dua-tiga chapter lagi deh. Jadi saya putuskan untuk tidak bikin panjang-panjang. Oke, saya nggak yakin kapan lagi bisa update tapi untuk fanfiction yang lain akan diusahakan segera menyusul karena…utang tetaplah utang kan? Dan itu harus dilunasin~ XD

Oke, sampai di sini dulu, dan untuk chapter depan bisa dibilang kehebohan yang sesungguhnya baru akan dimulai~ Ohohohoho #heh
Sampai jumpa di eksperimen berikutnya ya~ XD

Review please~