PART 2
Kyuhyun berhenti melangkah membiarkan Sang Pangeran melewatinya dengan sikap angkuhnya. Bukannya Kyuhyun mengalah padanya, namun Kyuhyun muak melihat sikap pongahnya yang berjalan bak putra mahkota. Belum lagi dua kasimnya, Shin Dong Min dan Lee Kwang So, yang selalu ikut ke mana pun ia melangkah.
Shin Dong Min yang mirip mata-mata dan Lee Kwang So yang culas merupakan perpaduan yang menarik. Entah dari mana Sang Pangeran mendapatkan lintah macam mereka berdua.
Kyuhyun harus merapatkan tubuhnya ke dinding saat sebagian besar pengagum Sang Pangeran melewatinya dengan jeritan histeris dan jepretan kamera, macam fans kurang kerjaan. Kalau itu dilakukan di tempat konser atau fansign Kyuhyun merasa tak masalah. Tapi ini di sekolah, tempat yang tak selayaknya semua hal itu terjadi.
Sang Pangeran tentu saja merasa bangga berjalan tegap di antara para pengagumnya. Ia serasa sangat menikmati suasana harian seperti itu. Suasana yang membuat Kyuhyun muak. Mungkin Kyuhyun hanya merasa cemburu, tapi mungkin juga ia merasa benar-benar muak dengan tingkah sok semacam itu.
Kyuhyun menunggu di lobi dan membiarkan rombongan itu lewat. Matanya menatap ke arah lain agar pemandangan yang membuat matanya tercemar polusi pagi ini segera berlalu.
Kyuhyun melonjak kaget saat seseorang menepuk keras bahunya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan cengiran lebar teman sekelasnya terpampang di depannya.
"Mengagetkanku saja kau ini, menyebalkan!" gerutu Kyuhyun pada sang empunya cengiran lebar.
"Apa yang kau lakukan di sini, eoh? Kau tak mau ke kelas? Atau kau lupa di mana kelasmu karena lama tak masuk sekolah?" tanya si nyengir pada Kyuhyun.
Kyuhyun mendecih sambil menunjuk rombongan yang memenuhi lorong sekolah dengan dagunya, lalu menyenderkan punggungnya kembali ke dinding di belakangnya sambil menatap tajam ke arah rombongan yang naik ke lantai dua.
"Ah, Sang Pangeran rupanya. Dia masih membuatmu kesal, ya?" tanya, Cheon Suk Jae, teman Kyuhyun yang memiliki cengiran lebar, bahkan gusi-gusinya sampai terlihat berkilau.
"Ini sudah bukan zaman Dinasti Joseon. Aku heran kenapa dia masih berlagak seperti Putra Mahkota. Ia seperti makhluk zaman Joseon yang tersesat di zaman modern," keluh Kyuhyun, namun matanya tak lepas mengawasi rombongan yang baru saja naik ke lantai atas.
"Bilang saja kau iri," kata Cheon Suk Jae.
"Hah, buat apa aku iri? Tidak ada satu pun yang ada pada dirinya yang ingin kumiliki," jawab Kyuhyun tersinggung.
"Kalau kau tidak iri, berhenti menatapnya seperti itu. Kau seolah-olah ingin mengutuknya dengan tatapanmu itu," kata Cheon Suk Jae mengingatkan.
"Huh, apa aku terlihat seperti itu? Itu bukan karena aku iri, tapi karena aku merasa kesal dengan tingkahnya. Sok seperti artis padahal ia bukan siapa-siapa. Ia sama seperti kita. Ayolah, kita naik, lorongnya sudah mulai aman untuk dilewati!" ajak Kyuhyun pada temannya itu.
Lobi sudah mulai sepi. Tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua juga sudah tak seheboh tadi. Kyuhyun melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya. Ruang kelas Kyuhyun terletak di lantai 2. Kakinya melangkah agak berat menapaki tangga yang menuju lantai dua.
Pagi ini ia sudah merasa gugup karena kebali ke sekolah setelah sekian waktu tak pernah menginjakkan kakinya di sekolah. Sekarang hatinya berdebar-debar menuju ruang kelasnya sendiri sambil merapalkan mantra agar ia bisa melewati hari ini dengan tenang.
"Ah, Cho Kyuhyun-ssi, lama tidak bertemu denganmu!"
Kyuhyun mengeluh saat sapaan itu terdengar merdu di telinganya ketika kakinya melangkah masuk ke dalam kelas. Kyuhyun tersenyum malas dan membalas sapaan itu.
"Selamat pagi, Han Kaisoo-ssi," jawab Kyuhyun tak kalah formal. Kyuhyun memang selalu menjawab sapaan Sang Pangeran dengan formal. Bukan karena hormat, tapi karena ia sebal dengan tingkahnya.
"Senang berjumpa denganmu lagi, Kyuhyun-ssi. Bagaimana kabar pemenang olimpiade yang sudah mengharumkan nama sekolah kita sampai tingkat internasional ini, eh?" sapa Han Kaisoo yang terdengar menyebalkan di telinga Kyuhyun.
Kyuhyun mengumpat-umpat dalam hati mendengar sapaan Han Kaisoo itu. Sungguh ia ingin menjejalkan sepatunya ke mulut Han Kaisoo. Namun, Kyuhyun berusaha keras supaya keinginannya itu cukup di angan-angannya saja. Jangan sampai menjadi kenyataan atau ia bisa berada dalam masalah besar.
Inilah yang membuat Kyuhyun gugup masuk sekolah hari ini. Ia sekelas dengan Han Kaisoo, Putra Mahkota di sekolah ini. Kyuhyun dan Han Kaisoo tidak memiliki hubungan yang baik. Han Kaisoo suka sekali membuat gara-gara dengannya meskipun hanya secara verbal. Kyuhyun seringkali meratapi nasibnya yang satu ini karena ia harus sekelas dengan Han Kaisoo.
Sejak awal sekolah dimulai hampir setahun yang lalu, atau lebih tepatnya setelah satu sekolah tahu Kyuhyun masuk ke Sajon High School dengan nilai tertinggi, Han Kaisoo sudah mengincarnya.
Awalnya ia mengajak Kyuhyun masuk dalam kelompoknya, namun Kyuhyun menolak. Ia tidak ingin terlibat dengan kelompok apa pun. Kyuhyun hanya ingin sekolah dengan tenang selama tiga tahun dan lulus dengan nilai terbaik. Itu saja. Simple bukan, tapi tidak se-simple kenyataan yang harus dihadapi Kyuhyun setiap hari.
Minggu pertama sekolah, Kyuhyun sudah diseret kelompok Kim Chul Sik ke atap sekolah. Kim Chul Sik, si penguasa sekolah dengan ototnya, bukan otaknya. Ia tentu menghendaki Kyuhyun sebagai salah satu budaknya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang tak akan bisa dikerjakan Kim Chul Sik.
Kyuhyun menolak mentah-mentah gagasan mutlak itu dan sebagai gantinya lengan dan perutnya memar selama seminggu. Untunglah hyung-nya hanya tahu memar di lengannya. Tak sampai tahu memar di perutnya. Masalahnya akan semakin panjang kalau sampai hyung-nya tahu hal itu.
Dan untunglah hal seperti itu tidak terjadi lagi. Setelah mereka tahu Kyuhyun tak mudah ditundukkan, mereka pun memilih sasaran yang lebih lemah dan tentu saja akan menuruti kemauan mereka kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun.
"Aku merasa cerah saat berangkat tadi, Han Kasisoo-ssi, namun tampaknya mendung mulai menghalangi sinar mentari yang cerah," ujar Kyuhyun.
Han Kaisoo menatap keluar jendela untuk melihat apa benar hari ini sedang mendung. Tentu saja tidak karena hari ini langit sedang cerah. Saat ini Seoul sudah memasuki musim gugur. Meskipun sudah musim gugur, namun cuaca hari ini kebetulan sedang cerah. Langit sedang cerah meskipun udara sudah mulai terasa dingin. Jadi, mana mungkin ada mendung menggantung di langit di luar sana.
Kyuhyun mencemooh tingkah Kaisoo dengan pandangan mengejek. Kaisoo tak sadar kalau yang dimaksud 'mendung' oleh Kyuhyun adalah dirinya sendiri. Kyuhyun beranjak meninggalkan Kaisoo yang masih belum sadar dari tingkah bodohnya itu.
Kyuhyun mencari tempat kosong untuk duduk. Di sekolah Kyuhyun, memang bebas memilih tempat duduk yang mereka sukai. Biasanya para penguasa itu yang menentukan tempat duduk terlebih dahulu, sisanya baru untuk siswa yang lain. Tentu saja pengecualian untuk Kyuhyun karena ia suka duduk di mana saja asal tidak berdekatan dengan Han Kaisoo dan begundal-begundalnya.
Kyuhyun melihat bangku kosong di sudut depan. Tempat yang strategis karena Han Kaisoo sangat menghindari tempat duduk di bagian depan. Ia lebih suka duduk di belakang dekat dengan jendela supaya bisa leluasa melihat pemandangan di luar kelas saat ia merasa bosan dengan pelajaran.
Kyuhyun meletakkan tasnya di atas bangku. Membuat anak berkaca mata tebal yang sudah duduk di bangku sebelahnya terkejut bukan main.
"Selamat pagi," sapa Kyuhyun pada anak kurus berkaca mata tebal yang sudah duduk di situ.
"Ka..Kau mau duduk di sini, Kyuhyun-ssi?" tanya anak berkaca mata itu dengan gagap.
"Tentu, Ryeowook-ssi," jawab Kyuhyun sambil tersenyum.
Sudah satu setengah semester Kyuhyun mengenal Kim Ryeowook, anak berkaca mata tebal itu, namun anak itu masih memanggilnya dengan embel-embel ssi.
Sewaktu pertama kali mengenal Ryeowook, Kyuhyun sudah merasa kasihan pada Ryeowook yang selalu canggung dan terlihat rendah diri. Sorot matanya seakan mengungkapkan dirinya yang merasa tak percaya diri. Kyuhyun tak mengerti mengapa Ryeowook merasa rendah diri. Seingatnya Ryeowook termasuk dalam lima besar siswa yang meraih predikat nilai terbaik yang masuk ke Sajon tahun ini.
Ryeowook anak yang pandai, namun sayang ia terlalu penyendiri. Ia terlihat seperti anak canggung dan membosankan. Ryeowook tak banyak bicara. Saat diajak bicara pun, ia selalu tergagap-gagap seakan-akan diajak bicara seseorang adalah hal yang tidak lazim dilakukannya.
"Kenapa?" tanya Kyuhyun sambil meletakkan pantatnya ke atas kursi.
"Ti..tidak apa-apa. Kukira kau mau duduk dengan mereka," jawab Ryeowook tanpa memandang Kyuhyun. Ia masih menatap lekat-lekat mejanya.
"Apa di mejamu ada gambar wajahku, Ryeowook?" tanya Kyuhyun. Ia merasa sebal karena lawan bicaranya itu bahkan tak meliriknya sama sekali.
"Huh?" tanya Ryeowook tak mengerti. Ia mengalihkan matanya menatap Kyuhyun.
"Aish, sudahlah, lupakan!" kata Kyuhyun akhirnya. Kyuhyun menatap jendela di sebelahnya. Beberapa anak terlihat berjalan melintasi halaman tengah. Ada juga yang terlihat membuka-buka buku di bangku-bangku taman. Namun, tak lama kemudian anak-anak yang masih berada di luar itu mulai berlarian masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
Bel berbunyi nyaring. Sekolah sudah dimulai. Kim Bong Su, guru Sejarah mulai memasuki ruang kelas. Pelajaran pembuka yang menarik. Menarik untuk membawa mereka ke alam mimpi.
Pelajaran pertama yang membosankan. Guru Kim terus bercerita tetang Dinasti Joseon tanpa memerhatikan anak-anak yang sudah menguap berkali-kali sepagi ini. Dua jam pelajaran yang benar-benar membuat sebagian besar anak terkantuk-kantuk.
Bel ganti pelajaran sontak membuat anak-anak menghela napas lega. Namun, hanya untuk sementara saja karena pelajaran berikutnya masih menanti. Begitulah tingkah pelajar masa kini. Sering mengeluh tentang pelajaran atau tugas-tugas yang harus diselesaikan. Pelajaran yang satu membuat mengantuk, pelajaran yang lain membuat pusing. Tugas yang satu terlalu sulit, tugas yang lain terlalu banyak.
Mungkin budaya hidup instan yang membuat mereka juga berpikir dan bertindak secara instan. Sedikit kesusahan, kesulitan, dan kerja keras dianggap hal yang menyusahkan. Padahal mereka sudah dimudahkan dengan berbagai fasilitas dan kemajuan teknologi. Sayangnya, semua itu bukan membentuk mereka sebagai generasi yang rajin dan pantang menyerah, malahan membuat mereka menjadi generasi yang manja dan malas.
Suasana kelas menjadi sedikit ramai karena guru yang mengajar pelajaran setelah Sejarah belum juga datang. Anak-anak mulai mengobrol dengan teman-teman dekatnya, bahkan tak sedikit yang tertawa cekikikan sambil bergosip.
Kyuhyun memerhatikan Ryeowook yang terlihat sibuk menulis di bukunya, entah apa.
"Ada tugaskah, Ryeowook-ssi? Tugas apa?" tanya Kyuhyun. Wajar jika Kyuhyun menanyakan hal itu karena ia tak tahu tugas apa saja yang harus ia selesaikan selama ia pergi ke Taiwan.
"Tugas Biologi, Kyuhyun-ssi. Jam terakhir nanti harus dikumpulkan," jawab Ryeowook.
"Oh, ya. Ah, aku tidak tahu tugas itu," kata Kyuhyun sambil mengeluarkan buku Biologinya,"tugas apa yang harus dikumpulkan hari ini? Beritahu aku, Ryeo!" tanya Kyuhyun panik.
"Kita harus mencatat 100 nama latin tumbuh-tumbuhan, Kyuhyun-ssi. Hari ini batas akhir pengumpulannya. Aku rasa kau tak perlu panik. Kau baru saja kembali mengikuti olimpiade, Baek Saem pasti akan memberimu tambahan waktu," jawab Ryeowook.
"Aku masih punya waktu menyelesaikannya, Ryeo. Kalau nanti selesai, aku bisa mengumpulkannya hari ini. Dan satu lagi, bisakah kau memanggilku tanpa embel-embel ssi? Kita satu kelas sudah hampir setahun. Kau cukup memanggil namaku saja seperti yang lain," kata Kyuhyun pada Ryeowook.
"Oh, ya, tentu saja, Kyuhyun," jawab Ryeowook malu-malu sambil tersenyum canggung pada Kyuhyun.
Ryeowook meneruskan menulis tugasnya sambil membuka-buka buku paketnya. Hatinya terasa hangat saat mendengar apa yang diucapkan Kyuhyun padanya. Kyuhyun memang teman yang baik, hanya saja Ryeowook masih merasa kaku kalau berhadapan dengan Kyuhyun, bahkan teman-temannya yang lain.
Bukan karena ia tidak mau bergaul, namun ia merasa canggung bergaul dengan teman-temannya yang lain. Ryeowook merasa tidak pantas. Tapi bicara dengan Kyuhyun mau tak mau membuatnya merasa senang. Ia senang jika Kyuhyun bisa menjadi teman baiknya.
Ryeowook juga anak normal seperti yang lainnya. Ia juga butuh berteman dan bersosialisasi. Tapi, keadaan dan latar belakangnya membuatnya harus tahu diri. Ia sebenarnya ingin masuk sekolah negeri saja dengan teman-teman yang setara dengannya. Namun, ayahnya bersikeras memaksanya melanjutkan sekolah di sini. Ayahnya merasa sayang kalau kepandaian Ryeowook tersia-siakan. Ayah Ryeowook tak ingin Ryeowook seperti dirinya, yang hanya bisa bekerja sebagai pegawai kasar. Beliau ingin Ryeowook mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik.
"Haah, yang di buku ini hanya ada sedikit. Tak sampai dua puluh. Rasa-rasanya aku harus menghabiskan istirahat siang ini di perpustakaan. Kau sudah sampai berapa nomor, Ryeowook?" tanya Kyuhyun pada Ryeowook.
"Aku juga kurang banyak," jawab Ryewook.
"Cha, kalau begitu kita selesaikan nanti saja di perpustakaan, bagaimana?" tawar Kyuhyun.
Ryeowook tersenyum dan mengangguk. Rasanya pasti lebih menyenangkan kalau ada teman yang bisa diajak bertukar pikiran dan pendapat. Selama ini Ryeowook selalu mengerjakan tugasnya sendirian. Bisa tidak bisa, paham tidak paham, Ryeowook terpaksa harus mengerjakan tugas-tugasnya di rumah atau perpustakaan.
"Kau harus sering-sering tersenyum, Ryeowook. Kau tahu, wajahmu biasanya kaku seperti robot yang tak punya ekspresi. Kau terlihat manusiawi kalau tersenyum seperti tadi," ucap Kyuhyun.
"Benarkah, aku tak tahu kalau wajahku begitu," jawab Ryeowook tersipu sambil memegang kedua pipinya karena malu.
Kyuhyun mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak melihat kelakuan Ryeowook yang tersipu malu seperti itu. Agak aneh melihat Ryeowook yang tersipu hanya karena Kyuhyun mengatakan ia suka melihatnya tersenyum.
"Aish, kau ini lucu sekali, Ryeo. Jangan bertingkah seperti itu! Kau ini seperti sedang dipuji namjachingu-mu saja. Jangan sampai mereka tahu dan menggosipkanmu yang tidak-tidak," tegur Kyuhyun sambil mengarahkan pandangannya ke arah gadis-gadis yang sedang asyik bergosip ria.
Ryewook mengangguk cepat-cepat dan mengusap pipinya lagi. Ia harus bersikap seperti biasa agar tidak menjadi bahan gossip di sekolahnya.
Sedangkan Kyuhyun masih dengan pandangan tak percaya menatap Ryeowook. Ryeowook yang terlalu polos di tengah dunia yang warna-warni. Ryeowook yang lugu di tengah dunia yang gemerlap. Ryeowook yang baik di tengah dunia yang munafik.
Kyuhyun merasa iba sekaligus kasihan pada Ryeowook. Ryeowook harus jadi orang yang lebih kuat dan optimis. Kyuhyun bisa merasa iba padanya, tapi dunia yang kejam tak akan merasa iba. Semenderita apa pun Ryeowook, dunia akan mengabaikannya.
Keramaian di kelas Kyuhyun mendadak berhenti saat banjang menyuruh mereka diam dan mengerjakan tugas Bahasa Inggris yang harus dikumpulkan nanti. Hari ini guru Bahasa Inggris mereka absen dan sebagai gantinya mereka harus menerjemahkan dua lembar bacaan ke dalam bahasa Inggris.
Anak-anak kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dan mulai mengerjakan tugas mereka. Mereka harus mulai mengerjakan tugas itu sekarang atau kalau tidak mereka tidak akan selesai tepat waktu. Dan percayalah, kalau tugasmu tidak selesai, Lee Min Jung Saem yang cantik akan terlihat seperti nenek sihir yang menyeramkan.
TBC
Annyeong, readerdeul, saya balik lagi dengan Part 2 cerita ini. Moga-moga bisa update cepet seperti cerita saya yang satunya. R n R ya. Gomawo.
