PART 3
Hari sudah semakin siang. Waktu sudah menunjukkan saat tengah hari. Sekarang sudah waktunya anak-anak untuk istirahat siang. Biasanya mereka menggunakan waktu istirahat siang itu untuk makan siang, duduk-duduk di taman, atau ke perpustakaan bagi yang kelewat rajin.
Kim Ryeowook, yang termasuk siswa kelewat rajin, langsung membenahi buku-bukunya yang akan ia bawa ke perpustakaan. Ia harus ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas Biologinya yang belum selesai. Cho Kyuhyun pun mengikuti apa yang dilakukan Ryeowook. Ia membawa buku tugas Biologinya dan juga pulpen. Saat melihat buku-buku yang akan dibawa Ryeowook, Kyuhyun merasa sangat heran.
Kyuhyun melihat Ryeowook membawa setumpuk buku ke perpustakaan. Tentu saja Kyuhyun merasa heran karena mereka hanya akan mengerjakan tugas Biologi saja. Hanya perlu membawa satu buku dan alat tulis saja itu sudah cukup.
"Apa saja yang kaubawa itu, Ryeowook? Kurasa kau tak perlu membawa buku sebanyak itu untuk mengerjakan tugas Biologi," ucap Kyuhyun yang tercengang melihat banyaknya buku yang dibawa Ryeowook.
"Bukan apa-apa, Kyu, buku-buku ini memang aku butuhkan," jawab Ryeowook sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Buku apa saja itu? Apa ada tugas lain selain Biologi?" tanya Kyuhyun.
Satu hal yang perlu dicatat dari seorang Cho Kyuhyun adalah ia tak akan bisa diam kalau belum mendapatkan jawaban yang masuk akal jika sudah merasa penasaran. Ia akan terus mencari tahu jawabannya sampai ia benar-benar merasa puas.
"Tidak ada. Hanya itu tugas untuk hari ini. Para guru tak memberi banyak tugas saat kau pergi. Mereka hanya memberi banyak latihan dan ulangan. Kurasa kau harus mengikuti banyak ulangan susulan," jawab Ryeowook.
"Kalau begitu mengapa kau membawa buku banyak sekali?" tanya Kyuhyun ngotot.
"Ah, tidak ada alasan khusus, Kyu. Aku hanya perlu mencatat beberapa hal dari buku-buku yang ada di perpustakaan," jawab Ryeowook lagi.
Ia mulai merasa tak nyaman karena dikejar Kyuhyun dengan banyak pertanyaan.
"Membuat catatan? Rajin sekali kau," kata Kyuhyun lagi.
Seingatnya ia tak perlu membuat banyak catatan untuk membantunya belajar. Di sekolah ini, catatan dan latihan-latihan dibagikan dalam bentuk lembaran. Kalau ada hal yang kurang lengkap, Kyuhyun cukup browsing melalui internet untuk mencari informasi yang lebih lengkap.
"Kenapa kau tak browsing lewat internet saja?" tanya Kyuhyun lagi. Ia belum puas jika belum mendapatkan jawaban yang menuntaskan rasa ingin tahunya.
"Menggunakan internet butuh biaya, Kyu. Uangku tak cukup kalau untuk browsing di internet," ucap Ryeowook lirih.
Ia sebenarnya tak mau membicarakan hal ini. Ryeowook cukup tahu diri. Ia masuk ke Sajon hanya dengan berbekal otak cerdasnya. Ia sekolah di sini dengan menerima beasiswa penuh. Ia mengenyam pendidikan dengan menggunakan uang donatur sekolah yang sebagian besar memang orang tua dari anak-anak chaebol yang kebetulan juga bersekolah di sini, seperti orang tua Han Kaisoo contohnya.
Maka dari itu, Ryeowook benar-benar harus tahu diri. Ia harus bisa menempatkan dirinya dengan baik di sini. Ia harus paham betul siapa dirinya. Ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa di sekolah ini. Sekali ia membuat masalah, pihak sekolah akan dengan mudah melemparnya keluar dari Sajon.
"Kau bisa memakai internet sekolah kan, Ryeowook. Itu gratis dan semua orang boleh memakainya asalkan untuk keperluan sekolah," kata Kyuhyun lagi.
"Tetap tidak bisa, Kyu. Aku harus browsing pakai apa? Aku tak punya telepon genggam, tablet, atau lap top untuk browsing."
Kyuhyun tak mampu menyahuti perkataan Ryeowook itu. Apa lagi yang bisa Kyuhyun kejar dari seorang Kim Ryeowook. Ryeowook tak punya apa-apa untuk memfasilitasi kebutuhan belajarnya. Ia hanya mampu menyalin hal-hal penting yang tercetak di buku-buku perpustakaan sekolahnya. Terlihat merepotkan, tapi Ryeowook bisa mendapatkan ilmu secara gratis.
"Kau masih mau duduk di situ, Kyu?" tanya Ryeowook membuyarkan lamunan Kyuhyun.
Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Ia segera menyaut buku dan alat tulisnya dari atas meja dan mengejar langkah Ryeowook menuju perpustakaan sekolah.
Perpustakaan sekolah tampak sepi. Hanya ada beberapa siswa yang ada di situ. Tentu saja hal itu terlihat sangat wajar karena perpustakaan bukan tempat favorit para siswa. Yang lain tentu lebih suka berada di kantin, taman, atau lapangan olah raga. Siapa juga yang mau bergelut dengan buku-buku setelah setengah hari mereka habiskan dengan belajar di dalam kelas.
Hanya ada anak-anak yang berambisi mendapatkan peringkat terbaik yang mau menghabiskan waktu di perpustakaan. Mereka membaca buku-buku tebal atau mengerjakan soal-soal latihan di perpustakaan yang sepi.
Bagi Kyuhyun perpustakaan memang bukan tempat favoritnya. Dulu, sebelum ia disibukkan dengan persiapan mengikuti olimpiade, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di lapangan futsal yang terletak di gedung olah raga sekolah. Bermain futsal di lapangan indoor memang menyenangkan. Kyuhyun bisa sampai lupa waktu kalau sudah bermain fustsal bersama Shim Changmin dan Choi Minho, sahabatnya sejak bersekolah di Junior High School.
Sayangnya meskipun bersekolah di tempat yang sama, mereka bertiga tidak sekelas. Namun, mereka masih sering berkumpul bersama walau akhir-akhir ini Kyuhyun jarang ikut berkumpul karena kesibukannya mempersiapkan diri mengikuti Olimpiade Matematika.
Kyuhyun dan Ryeowook memberi salam pada Gong Sunyee, penjaga perpustakaan sekolah yang rambutnya sudah mulai beruban. Meskipun sudah setengah baya, namun ingatannya luar biasa tajam. Beliau selalu bisa menunjukkan letak buku yang dibutuhkan anak-anak dengan tepat. Beliau juga bisa merekomendasikan mana buku-buku yang bagus dan mana yang kurang bermutu.
Kyuhyun dan Ryeowook menuju rak paling belakang di mana buku-buku referensi terletak. Buku-buku referensi ini memang hanya boleh dibaca di perpustakaan dan tidak boleh dibawa pulang. Buku-buku yang ada di rak ini biasanya menjadi jujukan para guru dan siswa untuk mencari sumber acuan yang lengkap dan terpercaya kebenarannya.
Ryeowook dengan tangkas memilah-milah buku yang mereka perlukan. Kyuhyun memandangnya dengan kagum. Ryeowook nyaris seperti asisten Gong Saem, melihat betapa cekatannya ia memilih dan menyisihkan buku yang diperlukannya.
"Kau sering ke sini, Ryeowook? Kulihat kau sama cekatannya dengan Gong Saem saat memilih buku," kata Kyuhyun.
"Aku memang sering ke sini. Hampir setiap hari aku menyempatkan diri ke perpustakaan. Aku bisa membaca dan belajar banyak hal dari buku-buku yang ada di sini," jawab Ryeowook sambil meletakkan buku setebal kamus bersampul hijau tua ke hadapan Kyuhyun.
Kyuhyun mulai membuka-buka buku yang diberikan Ryeowook padanya. Saat menemukan apa yang ia cari, ia langsung menuliskannya di buku tugasnya. Ryeowook pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Kyuhyun. Jari-jarinya dengan cekatan membuka buku dengan judul yang sama dengan yang ia berikan pada Kyuhyun.
"Cha, sudah selesai. Tanganku hampir keriting rasanya," kata Kyuhyun sumringah sambil memijit telapak tangannya.
Ia melirik pada Ryeowook yang masih dengan serius menulis. Ryeowook bahkan tak sadar kalau Kyuhyun sudah menyelesaikan pekerjaannya dan menatap dirinya tajam.
"Kau belum selesai?" tanya Kyuhyun sambil mencolek bahu Ryeowook.
Ryeowook yang sedang serius dengan pekerjaannya itu pun menoleh ke arah Kyuhyun karena terkejut.
"Oh, eh, kau sudah selesai? Kalau begitu kau bisa kembali ke kelas, Kyu, atau ke kantin untuk makan siang," jawab Ryeowook.
Ryeowook tadi hampir-hampir melupakan keberadaan Kyuhyun. Tentu saja karena selama ini Ryeowook selalu ke perpustakaan seorang diri. Ia tadi sampai-sampai merasa lupa kalau ia ke perpustakaan bersama seseorang.
"Kau belum selesai?" tanya Kyuhyun heran.
"Belum. Tinggal beberapa lagi," jawab Ryeowook dan kembali menekuni buku-buku yang terhampar di depannya.
"Aneh kalau kau belum selesai. Aku saja sudah selesai masak kau belum selesai. Aku yakin kau tak menulis seperti siput, Ryeowook. Kulihat kau tadi sudah selesai karena kau sudah menutup bukumu yang bersampul kuning itu," kata Kyuhyun. Kyuhyun merasa Ryeowook menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku belum selesai, Kyu. Kalau kau sudah selesai kau bisa makan siang di kantin. Waktu istirahat masih ada dua puluh menit lagi," kata Ryeowook.
"Aku tidak percaya," kata Kyuhyun. Tangannya terulur menggapai buku yang ia kira tadi sudah diselesaikan Ryeowook.
Pandangan Kyuhyun tertegun saat melihat nama yang tertera di sampul buku itu. Kim Chul Sik, itu buku Kim Chul Sik, itu bukan buku Ryeowook. Pantas saja Ryeowook memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tak hanya mengerjakan untuk dirinya sendiri. Ryeowook juga mengerjakan milik orang lain. Kyuhyun yakin Ryeowook mengerjakannya bukan dengan sukarela atau karena dibayar. Ryeowook pasti mengerjakannya karena mendapatkan ancaman dan intimidasi.
Kyuhyun meraih buku-buku yang lain. Ada nama Han Kaisoo, Shin Dong Min, dan Lee Kwang So. Kyuhyun mencibir sinis. Ternyata Sang Pangeran, idola sekolah ini, juga menyuruh Ryeowook mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya ia selesaikan sendiri.
"Kapan Baek Saem memberikan tugas ini, Ryeowook?" tanya Kyuhyun pada Ryeowook yang lagi-lagi menundukkan kepalanya sambil menatap meja di depannya dalam-dalam.
"Se, seminggu yang lalu," jawab Ryeowook takut-takut.
Siapa yang tak merasa takut saat melihat teman yang semula ramah dan memandangmu dengan penuh persahabatan, namun kini tatapan matanya seolah-olah hendak mengulitimu hidup-hidup.
"Kau pasti sudah menyelesaikannya, kan?" tanya Kyuhyun lagi.
"Aku langsung menyelesaikannya hari itu juga," jawan Ryeowook lirih.
Kyuhyun mengepalkan tangannya di atas meja. Ia merasa marah atas kepasrahan Ryeowook menerima perlakuan yang semena-mena seperti itu.
"Kapan mereka memberimu tugas-tugas tambahan seperti ini?" tanya Kyuhyun.
"Kemarin petang sepulang sekolah," jawab Ryeowook yang tak berani menatap Kyuhyun. Ia seperti berhadapan dengan guru BP yang menginterogasi karena melakukan suatu kesalahan fatal.
"Huh, pantas saja, baru hari ini kau kelabakan mengerjakannya! Sini berikan padaku! Biar aku kembalikan buku-buku ini pada yang punya. Enak saja mereka santai-santai sementara kau rela melewatkan waktu istirahat makan siangmu untuk menyelesaikan tugas mereka," ucap Kyuhyun gusar sambil mengumpulkan buku-buku yang belum disentuh Ryeowook.
Ryeowook terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka Kyuhun akan berani berbuat nekad seperti itu. Ryeowook memang tak pernah melihat Kyuhyun dipaksa dan disuruh-suruh oleh penguasa sekolah ini. Ryeowook hanya tahu beberapa anak yang yang mengalami nasib serupa dengan dirinya.
"Jangan, jangan, Kyu, aku mohon jangan lakukan itu!" sergah Ryeowook saat Kyuhyun benar-benar akan beranjak dari kursinya.
"Kenapa?" tanya Kyuhyun singkat.
"Aku tak keberatan membantu mereka, kok. Itu bukan masalah besar. Aku sudah menyelesaikan tugasku. Jadi, tak masalah kalau aku sedikit membantu mereka," ucap Ryeowook mencoba meyakinkan Kyuhyun.
"Sedikit membantu katamu? Ini bukan sekadar bantuan, Ryeowook, ini sudah pemaksaan. Bahkan, kalau aku boleh bicara lebih kasar lagi, ini sudah termasuk perbudakan. Aku yakin kau tak memperoleh apa-apa dengan melakukan hal ini, bahkan ucapan terima kasih pun tidak kau peroleh. Aku benar, kan?" ucap Kyuhyun emosi.
Sungguh ia membenci hal-hal seperti ini. Memperlakukan orang lain dengan semena-mena hanya karena kau mempunyai uang dan kuasa bukanlah sesuatu yang harus dituruti terus-menerus.
"Kyuhyun, tolong, jangan mempersulitku! Hidupku sudah sulit tanpa kau harus membuatnya lebih sulit lagi. Aku mohon, biarkan aku menyelesaikannya!" mohon Ryeowook pada Kyuhyun. Ia bahkan memegang ujung seragam Kyuhyun takut-takut Kyuhyun akan pergi dari sana dan melemparkan buku-buku itu pada Han Kaisoo dan teman-temannya.
Kyuhyun menatap Ryeowook sedih. Ryeowook sungguh-sungguh menyedihkan. Ia tahu posisi Ryeowook di sini. Ryeowook hanya anak dari keluarga kurang mampu yang, entah beruntung atau bahkan sial, bisa bersekolah di Sajon.
Kyuhyun kembali duduk di kursinya dan meyerahkan buku-buku yang tadi disautnya pada Ryeowook. Ryeowook menerima buku-buku itu dengan tangan gemetar dan kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
"Kau tidak makan siang, Kyu?" tanya Ryewook saat Kyuhyun masih duduk di sampingnya.
"Tidak. Aku sudah tak nafsu makan," jawab Kyuhyun,"kemarikan buku itu, aku akan membantumu!" kata Kyuhyun lagi.
"Oh, tak perlu, Kyu. Aku bisa mengerjakannya sendiri sampai selesai," kata Ryewook buru-buru pada Kyuhyun. Ia merasa tak enak hati karena membuat Kyuhyun repot-repot membantunya.
"Bisa selesai apanya? Kau tahu, waktu istirahat akan usai 15 menit lagi. Masih ada dua buku lagi yang belum kauselesaikan. Kemarikan buku itu!" kata Kyuhyun memaksa. Kyuhyun memang ahli memaksa. Kakak laki-lakinya saja sering dibuatnya tak berkutik kalau Kyuhyun mulai memaksa kakaknya itu untuk menuruti keinginannya.
"Terima kasih, Kyu, kau sudah mau membantuku dan maaf sudah membuatmu repot," ucap Ryewook terharu dan menyerahkan salah satu buku pada Kyuhyun.
"Simpan saja terima kasihmu itu kau bisa menagihnya pada orang-orang yang memaksamu melakukan ini!" jawan Kyuhyun ketus.
"Ah, iya, aku mengerti. Kau bisa melihatnya di buku ini, Kyu, pastikan tidak sama persis urutannya dengan punyamu! Nanti Baek Saem akan mengira kita mengerjakan dengan cara mencontek. Cukup kau acak saja nomornya biar tidak sama persis," kata Ryeowook mengingatkan Kyuhyun.
Kyuhyun mendengus mendengar peraturan Ryeowook itu. Mereka saja tak mau susah-susah mengerjakan sendiri. Sekali waktu biar saja mereka merasakan akibatnya. Tiba-tiba saja muncul ide gemilang di kepala Kyuhyun yang memang penuh dengan ide jahil nan cemerlang. Kyuhyun tersenyum dalam hati. Yah, sekali waktu mereka memang perlu diberi pelajaran.
TBC
Annyeong, readerdeul, Happy New Year. Siapa yang habis libur panjang kaya saya? Setelah libur selama setahun akhirnya saya balik lagi dengan ff ini. Agak pendek daripada yang part 2 kemarin, tapi saya harap isinya masih tetap menghibur seperti yang sebelumnya. R n R ne and happy reading! Deep bow.
