CHAPTER 4

Hari ini Kyuhyun pulang sekolah selepas senja. Perutnya terasa lapar bukan main. Tentu saja ia merasa sangat lapar. Di sekolah tadi ia tak makan siang karena harus menyelesaikan tugas bersama Ryeowook di perpustakaan sekolah.

Dipacunya sepeda cepat-cepat. Hampir saja ia tadi menabrak seorang ahjumma yang mendorong gerobak tteokbokki-nya. Setelah minta maaf dan mendapat bonus ceramah gratis tentang pentingnya berhati-hati di jalan dari Sang Ahjumma, Kyuhyun pun bisa melanjutkan perjalanan dan tiba dengan selamat sampai di rumah.

Sepedanya ia letakkan begitu saja di depan rumah. Ia berlari masuk ke dalam rumah. Tidak seperti biasanya, ia langsung menuju ke meja makan. Perutnya benar-benar tak bisa diajak berkompromi lagi.

"Adakah makan untukku, Eomma? Aku benar-benar kelaparan," tanya Kyuhyun pada eomma-nya yang tengah asyik berkutat dengan panci dan penggorengan di atas kompor yang menyala.

"Tumben, kau langsung makan setelah pulang sekolah. Biasanya kau bersemedi dulu di dalam kamar dan baru keluar makan kalau sudah disuruh," sahut eomma Kyuhyun yang heran dengan tingkahnya yang di luar kebiasaan.

"Aku kelaparan, Eomma. Tadi siang aku tidak sempat makan siang. Masakannya sudah matang belum? Lima menit lagi pun aku bisa pingsan kalau masih harus menunggu," ucap Kyuhyun memelas.

"Ganti baju dulu sana! Cuci tangan dan mukamu juga, baru makan!" ingat eomma Kyuhyun pada anak terkecilnya itu.

"Ayolah, Eomma! Apa Eomma tidak kasihan padaku? Tega sekali Eomma masih menyuruhku ini itu saat aku sudah mau pingsan kelaparan," sanggah Kyuhyun membantah perintah eomma-nya.

"Tuan Muda Cho, kukira kau tak akan pingsan kelaparan kalau hanya pergi ke kamarmu untuk ganti baju. Saat kau turun nanti makanan sudah akan siap. Cepat ganti baju dan cuci tangan sekarang! Eomma tak mau ada bantahan," kata eomma Kyuhyun yang tak mempan dengan tatapan mengiba anaknya itu.

Kyuhyun menggerutu kesal, namun ia tetap melakukan apa yang diperintahkan eomma-nya barusan.

Setelah berganti pakaian dan mencuci tangan secepat kilat, Kyuhyun pun melesat ke ruang makan. Di meja makan eomma-nya telah menyiapkan masakan yang asapnya masih mengepul. Aroma masakan yang harum semakin membuat cacing-cacing di dalam perutnya memberontak liar.

Kyuhyun yang sudah merasa sangat kelaparan dan butuh asupan makanan secepatnya, tanpa malu-malu memindahkan makanan yang ada di atas meja ke atas piringnya. Eomma Kyuhyun sampai heran dengan kelakuan anaknya yang satu itu.

"Kau sanggup menghabiskan semuanya? Bukankah itu terlalu banyak?" tanya eomma Kyuhyun sangsi pada kapasitas perut Kyuhyun.

"Aku sangat kelaparan hari ini, Eomma. Aku jamin makanan ini pasti habis," jawab Kyuhyun di sela-sela kunyahan rakusnya.

"Dan kau nanti pasti tidak makan malam," keluh eomma-nya.

"Aku mau ke kamar setelah ini, Eomma. Para guru memberiku banyak tugas untuk aku selesaikan. Eomma makan malam saja dengan appa dan Siwon hyung," kata Kyuhyun.

"Hyung-mu belum pulang. Appa-mu juga ke luar kota untuk urusan pekerjaan dan dua hari lagi baru pulang," keluh eomma-nya.

Eomma Kyuhyun bukanlah wanita yang mudah mengeluh. Seberat apa pun beban yang harus ditanggungnya, Kyuhyun tak pernah mendengar eomma-nya itu mengeluh. Namun, jika semua anggota keluarganya sibuk melakukan segala urusan dan tak bisa berkumpul bersama, terutama di akhir pekan, eomma-nya itu baru megeluh.

Eomma tak suka jika waktu akhir pekan, liburan, atau waktu luang dilewatkan begitu saja tanpa berkumpul bersama keluarga kecilnya.

"Siwon hyung ke mana?" tanya Kyuhyun.

"Ia harus membantu appa-mu. Mungkin malam nanti ia baru pulang. Haahh, kapan kau bisa membantu eomma-mu ini, Kyu? Kalau kau lebih besar sedikit saja pasti kau sudah bisa membantu Eomma," ucap eomma Kyuhyun.

"Bukan aku tak mau, tapi Eomma yang selalu melarangku, Eomma ingat?"

"Tentu saja Eomma melarangmu membantu Eomma bekerja. Kau masih SMA. Kalau kau sudah kuliah nanti baru Eomma izinkan untuk membantu pekerjaan Eomma. Untuk sekarang kau cukup sekolah saja," kata eomma Kyuhyun.

Kyuhyun tak menyahuti lagi perkataan eomma-nya itu. Mulutnya sibuk mengunyah dan menelan makanan yang memenuhi piringnya. Ia terlalu asyik mengisi perutnya dengan makanan lezat buatan eomma-nya, sampai-sampai tak menyadari seseorang yang berdiri di sebelahnya sambil mengamati aksinya yang tengah melahap makanan tanpa ampun.

"Kau lapar atau doyan, Kyu?" sapa orang itu sambil menahan tawa.

Kyuhyun melirik kesal orang yang menyapanya tanpa permisi tadi dan kembali meneruskan pekerjaannya memamah makanan yang tadi sedikit tertunda. Hyung-nya duduk di sebelahnya. Sedikit heran dengan cara makannya yang di luar nalar.

"Apa hari pertama sekolahmu begitu berat sampai-sampai porsi makanmu seperti orang yang sudah tiga hari tidak makan?" tanya Siwon, hyung Kyuhyun satu-satunya yang luar biasa baik, namun kadang menyebalkan bagi Kyuhyun.

"Apa karena kuliah sambil bekerja membuat Hyung lupa tata krama tak memberi salam saat masuk rumah?" balas Kyuhyun tajam.

Kyuhyun sebal karena hyung-nya itu sering mengingatkannya untuk berkelakuan baik, namun kadang kala ia sendiri melanggarnya tanpa sadar.

Siwon sudah ingin menjitak kepala batu adiknya itu, tapi ia tak tega melakukannya. Senakal-nakalnya Kyuhyun ia tak akan pernah tega untuk melakukan tindakan secara fisik pada Kyuhyun.

"Kyuhyun tak kesurupan kan, Eomma?" tanya Siwon pada eomma-nya yang membawa semangkuk kimchi dan meletakkanya di atas meja.

"Molla, kaulihat sendiri sajalah kelakuannya hari ini," sahut eomma pada Siwon sambil berlalu ke dapur.

Tak ada waktu santai bagi Kyuhyun. Sekolah di tingkat SMA memang sangat melelahkan. Bukan hanya fisik, namun juga mental dan pikiran. Setelah makan malam dengan rakusnya, Kyuhyun pun masuk ke dalam kamarnya. Bukan untuk tidur, tapi untuk mengerjakan latihan-latihan yang harus ia selesaikan dan ia kumpulkan sebagai nilai tugas.

Bagi sebagian besar siswa sekolah, hal itu sangat melelahkan dan membosankan. Kyuhyun juga merasakan hal yang sama. Bedanya, Kyuhyun sangat tahu apa tugas dan kewajibannya. Ia bukan jenis siswa yang hanya meminta hak tanpa mau menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu.

Sejak kecil ia dididik untuk tidak melalaikan tugas-tugas sekolahnya. Sejak kecil orang tuanya, terutama eomma-nya, sudah mencetaknya menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

Malam mulai larut, namun Kyuhyun masih berkutat menyelesaikan tugas essai bahasa Inggris. Ia agak kesulitan mengerjakan tugas itu karena bahasa bukanlah mata pelajaran yang sangat dikuasainya. Kyuhyun lebih suka Matematika atau Fisika yang dirasanya lebih mudah ia pahami dan ia pelajari.

"Kau masih belum tidur?" ucap sebuah suara mengejutkan Kyuhyun yang sedang berkonsentrasi membuat essai tentang hedonisme.

"Hah, Hyung, kau mengagetkanku saja!" sungut Kyuhyun kesal,"aku masih balum selesai," lanjutnya lagi.

Siwon menutup pintu kamar Kyuhyun dan berjalan ke arah adiknya itu. Ia melihat kertas yang berserakan di atas meja belajar adiknya dan melirik laptop yang menyala di sampingnya.

"Apa yang kaukerjakan?" tanya Siwon penasaran.

"Hanya membuat essai tentang hedonisme. Sayangnya dalam bahasa Inggris bukan Korea," keluh Kyuhyun. Matanya tak lepas memandangi laptop yang menyala.

"Kau mencontek dari internet?" tanya Siwon lagi.

"Yak, Hyung, siapa bilang aku mencontek? Aku hanya mencari bahan tulisanku saja. Memangnya aku bisa menulis tentang hedonisme langsung dari pikiranku sendiri tanpa mencari bahan-bahannya terlebih dahulu? Aku belum sejenius itu, tahu!" gerutu Kyuhyun kesal.

Siwon tertawa mendengar ucapan Kyuhyun itu. Ia suka menggoda Kyuhyun. Menurutnya Kyuhyun yang sedang kesal terlihat imut dan menggemaskan. Selama ini adiknya itu terlalu sok dewasa. Seringkali ia merindukan Kyuhyun kecil yang lucu, manja, dan menggemaskan.

"Bagaimana sekolahmu tadi?" tanya Siwon akhirnya.

"Masih seperti dulu. Gedungnya masih tetap sama. Ruangannya juga tidak berubah. Tamannya masih tetap asri dan guru-guru yang mengajar pun masih tetap sama. Tak ada yang berubah," jawab Kyuhyun sekenanya.

"Ck, bukan itu maksudku," decak Siwon gemas,"yang kumaksud itu kau bukan bangunan sekolahmu."

"Oh, aku masih di kelas yang sama. Ikut pelajaran dari pagi sampai sore. Lalu pulang ke rumah. Seperti biasanya juga," jawab Kyuhyun enteng yang bisa membuat orang terkena tekanan darah tinggi karena kesal.

Untung yang disampingnya sekarang seorang Siwon. Kakak yang luar biasa sabar meskipun dianugerahi adik yang luar biasa menjengkelkan macam Kyuhyun.

"Cho Kyuhyun, kau tahu apa maksudku sebenarnya," kata Siwon dalam. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, takut kalau ia benar-benar sampai menggeplak kepala adik kesayangannya itu.

"Ck, kau selalu menanyakan hal yang sama setiap aku pulang sekolah, Hyung. Eomma saja tidak pernah bertanya sedetail itu tentang sekolahku. Kau terlalu cerewet," tukas Kyuhyun kesal. Ia kesal karena mengerjakan essai sambil diinterupsi dengan hal-hal yang tidak penting seperti pertanyaan kakaknya itu.

"Itu wajar, kan. Aku hyung-mu dan kau dongseang-ku. Jadi, sangat wajar kalau aku menanyakan hal-hal seperti itu," kata Siwon tak mau kalah.

"Kalau dulu aku tahu punya hyung secerewet dirimu pasti aku sudah menolaknya mentah-mentah, auch!" seru Kyuhyun kaget.

Siwon yang sudah merasa amat kesal akhirnya benar-benar menggeplak kepala Kyuhyun. Tak terlalu keras, tapi cukup untuk mengembalikan otak Kyuhyun ke tempatnya semula.

"Sakit tahu, Hyung!" teriak Kyuhyun keras,"kalau otakku jadi bodoh gara-gara pukulanmu bagaimana?" tanya Kyuhyun kesal sambil mengusap-usap kepalanya yang sebenarnya tak terlalu sakit.

"Siapa suruh bicara yang tidak-tidak," balas Siwon tak mau kalah.

"Siapa juga yang suruh menggangguku saat aku sedang sibuk. Kapan pekerjaanku selesai kalau kau terus merecokiku, Hyung!" ucap Kyuhyun dongkol.

"Aish, benar juga. Baiklah, kapan kau selesai? Aku sudah ingin mendengar ceritamu tentang sekolahmu hari ini, selengkap-lengkapnya," kata Siwon sambil duduk di pinggiran ranjang Kyuhyun.

Kyuhyun menatap kakaknya itu jengkel. Kakaknya itu sepertinya sedang kerasukan setan ngotot.

"Tunggu sepuluh menit lagi kalau begitu," kata Kyuhyun akhirnya, mengalah.

Siwon duduk di ranjang Kyuhyun, mengamati seluruh isi kamar adiknya itu. Kamar yang boleh dikatakan berantakan. Tas sekolah yang teronggok di kaki meja belajar, buku-buku yang berserakan di atas meja belajar, kabel-kabel yang entah untuk apa saja yang terserak di rak, dan telepon genggam yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.

Kyuhyun memang begitu, selalu berantakan. Anehnya anak itu tak pernah kesulitan mencari barang-barangnya. Lain sekali dengan Siwon yang suka kerapian dan keteraturan.

Siwon melirik adiknya sekali lagi. Kyuhyun masih asyik menekuni pekerjaan sekolahnya. Adiknya itu memang cerdas dan tak pernah melalaikan tugas-tugas sekolahnya. Ia belajar dan mengerjakan tugasnya tanpa disuruh. Sesekali ia minta bantuan pada Siwon, tapi itu kalau memang Kyuhyun sudah benar-benar merasa kesulitan dan memerlukan bantuannya.

Tampaknya Kyuhyun perlu waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugasnya. Siwon pun mengalihkan perhatiannya pada telepon genggamnya. Ia mengutak-atik telepon genggam putih miliknya itu sambil menunggu Kyuhyun menyelesaikan tugas-tugasnya.

Siwon tengah asyik membaca berita terbaru di belahan bumi bagian selatan saat ia merasakan sisi ranjang yang berseberangan dengannya melesak, tanda ada orang yang menempatinya. Ia menolehkan kepalanya dan melihat adiknya itu tengah berbaring tengkurap dan menatap ke arahnya.

"Semelelahkan itukah sekolahmu hari ini,?" tanya Siwon pada Kyuhyun sambil membelai rambutnya.

"Kau juga pernah SMA kan, Hyung. Mana ada SMA yang tidak melelahkan?" jawab Kyuhyun sambil memejamkan matanya menikmati usapan tangan Siwon pada rambutnya.

Ah, benar juga. Masa-masa bersekolah setingkat SMA memang sangat melelahkan. Berangkat sekolah saat pagi hari dan pulang saat malam menjelang. Belum lagi setumpuk tugas yang harus diselesaikan.

"Kau senang hari ini?" tanya Siwon lagi.

"Tak terlalu," jawab Kyuhyun pendek.

"Kenapa?" tanya Siwon ingin tahu.

"Rasanya aneh masuk sekolah lagi setelah sekian lama tak sekolah. Bukannya aku malas atau semacamnya, mungkin hanya merasa canggung saja," jawab Kyuhyun.

"Tak ada yang mengganggumu, kan atau berniat iseng padamu atau merasa iri mungkin?"

"Siapa yang berani? Aku bisa dua kali lebih iseng dari mereka," sahut Kyuhyun usil.

"Hyung hanya tak suka kalau ada yang macam-macam padamu. Kau tahu maksud Hyung, kan? Hyung ingin kau selalu merasa aman, nyaman, dan baik-baik saja."

"Aku sudah merasa aman, nyaman, sehat, bahagia, dan sentosa, Hyung. Jangan terlalu mengkhawatirkanku! Aku toh baik-baik saja sampai saat ini," sahut Kyuhyun sedikit kesal pada hyung-nya yang selalu merasa cemas dan khawatir yang berlebihan.

"Hyung adalah orang yang perhatian, Kyu. Seharusnya kau bersyukur memiliki hyung sepertiku. Tampan, berwibawa, penuh perhatian, dan penyayang," ucap Siwon yakin dengan kelebihan dirinya sendiri.

Kyuhyun mencibir perkataan hyung-nya itu. Penyayang dan perhatian memang iya, tampan tak perlu diragukan lagi, berwibawa itu yang masih harus dipertanyakan, tapi apa iya orangnya sendiri yang harus mengatakan hal itu.

"Jangan narsis! Lama-lama kau seperti Han Kaisoo, Hyung!" cemooh Kyuhyun.

"Han Kaisoo, siapa dia?" tanya Siwon ingin tahu.

"Han Kaisoo, anak pemilik Hansan Tower. Anak narsis menyebalkan sama sepertimu, Hyung," jawab Kyuhyun kesal. Ia kesal kalau sudah menyangkut segala hal tentang Han Kaisoo.

"Ada apa dengan Han Kaisoo-mu itu?" tanya Siwon penasaran.

Ternyata ada juga suatu hal yang membuat adiknya itu merasa jengkel di sekolah.

"Apa-apaan Han Kaisoo-ku. Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanya anak menyebalkan yang sialnya sekelas denganku. Suka berlagak, sombong, dan semena-mena. Mungkin juga bodoh, hanya saja aku belum bisa membuktikannya," sungut Kyuhyun.

Siwon tertawa mendengar ucapan Kyuhyun itu. Selama ia jadi kakaknya belum pernah ia mendengar Kyuhyun mengeluhkan teman-temannya. Selama ini Kyuhyun hanya mengeluh tentang bangun pagi, sayuran, dan eomma.

"Jangan tertawa, Hyung! Kalau kau sudah bertemu dengannya dan mengenalnya kau akan tahu betapa menyebalkannya dia. Kau tahu Hyung kenapa aku tak makan siang di sekolah hari ini? Itu juga gara-gara dia. Dia seenaknya saja menyuruh-nyuruh teman sebangkuku menyelesaikan tugas Biologi yang harus dikumpulkan hari ini. Temanku itu, Kim Ryeowook, tak berani menolak perintahnya. Ia terlalu lugu dan penakut. Aku sebagai teman yang baik tentu saja harus membantunya," cerita Kyuhyun.

"Dia sudah lama seperti itu?" tanya Siwon.

"Mungkin, aku tak pernah tahu sebelumnya. Aku selama ini kan jarang di kelas. Aku juga baru tahu tadi siang. Padahal, Hyung, setiap hari ia bertingkah seperti pangeran. Di depan guru-guru dan teman-teman yang lain ia bertingkah manis. Memakai topengnya dengan tingkah laku yang membuat siapa saja terpesona padanya padahal di belakang, ia tak lebih dari penjahat busuk. Tapi, aku juga merasa senang karena sudah bisa sedikit memberinya pelajaran tadi," jelas Kyuhyun senang.

"Pelajaran seperti apa?"

"Tugas Biologi yang harus dikumpulkan adalah menulis 100 nama latin tumbuh-tumbuhan. Aku tadi mengerjakan milik Han Kaisoo agar Kim Ryeowook tak terlalu susah meyelesaikan tugas paksaannya itu. Dari 100 nama latin tumbuhan yang aku tulis hanya 30% yang aku jawab dengan benar, sisanya aku tulis semauku. Biar saja ia mendapat nilai D di tugasnya kali ini. Itu pelajaran untuknya supaya dia mau mengerjakan tugas-tugasnya sendiri lain kali," kata Kyuhyun bangga.

"Kim Ryeowook tahu kau memberi Han Kaisoo pelajaran?" tanya Siwon ragu.

"Tentu saja tidak. Dia akan menangis-nangis kalau sampai tahu aku melakukannya. Ia bahkan tadi sempat memohon-mohon padaku saat aku mau mengembalikan buku Han Kaisoo dan menyuruhnya mengerjakan sendiri," jawab Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah, Hyung tahu kau ingin berbuat baik pada temanmu, tapi sudahkah kau memikirkan akibatnya?" tanya Siwon gamang.

"Maksud, Hyung?" tanya Kyuhyun tak mengerti.

"Han Kaisoo hanya tahu bahwa Kim Ryewook yang mengerjakan tugasnya. Ia tak tahu kalau kau sedikit 'membantu' Ryeowook. Kalau sampai ia mendapatkan nilai D apakah menurumu Kim Ryeowook akan baik-baik saja? Kyuhyun-ah, Hyung mengerti maksud baikmu, namun sebelum kau melakukan sesuatu yang menurutmu paling baik sekalipun, sebaiknya kau juga memikirkan apa akibatnya. Mungkin bukan kau yang merasakan langsung akibatnya, tapi siapa tahu temanmu itu nanti yang akan merasakan akibatnya," jelas Siwon panjang lebar.

Kyuhyun tertegun mendengar perkataan hyung-nya itu. Kali ini hyung-nya itu sangat benar. Ia tak memikirkan akibat dari perbuatannya itu. Seharusnya ia berpikir seribu kali sebelum memberi Han Kaisoo pelajaran. Sekarang Kyuhyun merasa takut. Ia takut Ryeowook yang akan menerima akibat dari perbuatannya itu.

TBC