A/N:

Sebelum mulai, aku ingin bilang sesuatu.

Aku membaca review kalian. Aku terharu banget, ternyata ada juga yang mau baca ff ini :') Terima kasih atas dukungannya.

Cerita ini sebenarnya kubuat dengan konflik yang sederhana. Part pertama mungkin sedikit panjang (4,711 word). Mungkin part pertama saja yang akan panjang seperti ini (mungkin). So, Happy Reading, semoga kalian akan suka.

.

.

.

.

TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

Pagi Luhan dimulai dengan kegiatannya di samping kompor. Suara air mendidih masih mengisi kesunyiannya, bermain bersama tangan spatula yang terbentur dengan permukaan teflon. Matahari hampir meninggi dan Luhan pikir itu tidak akan baik walaupun dingin masih menggerogoti kakinya. Ia lantas membuka satu-persatu rak dapurnya demi menemukan sebotol garam. Menaburkannya pada omelet yang berantakan─dan juga sedikit gosong.

Terkadang Luhan benci suara burung yang sudah bernyanyi di jendela atau gumamaman adiknya yang turun karena protes. Mengkritik menu sarapannya, mengomelinya karena tidak membangunkannya atau yang terakhir mengomentari rasa masakannya. Dan hal kedua sudah di dapatkannya, mengingat adiknya yang kusut sudah tenggelam di meja makan.

Luhan hanya menghela nafasnya. Tak mendengar ocehan apapun selain mengangkat hasil pekerjaannya lalu mengantur semua piring dan susu di atas meja. Ia kadang harus pura-pura tuli dan berbohong bahwa ia butuh ibunya atau seorang istri untuk mengurusi rumahnya sendiri. Karena ia tak akan pernah membayangkan dirinya begitu repot di dapur. Harus membuat dua gelas susu, dan jangan lupakan ia juga harus memasak untuk dua porsi yang salah satunya diperuntukkan untuk adiknya.

"Kenapa kau selalu membuat omelet?" Adiknya kembali melanjutkan keluhannya. Si kecil bersurai hitam itu masih mencebik padanya. Menolak untuk makan, padahal Luhan sudah sangat baik menuangkan saos pedas ke atas omeletnya.

"Karena aku bukan ibumu. Cepatlah makan atau kau akan kelaparan," balas Luhan tak pernah perduli. Ia mencoba memakan omeletnya dengan hati yang tenang. Penuh harap ia bisa meredakan laparnya yang semakin mendera sejak tadi. Tapi nyatanya ia terbatuk-batuk karena rasa asin yang meledak di lidahnya. Perbuatan siapa lagi selain perbuatannya sendiri?

Adiknya menggeleng menatap kakaknya. Lewat mata elangnya pemuda itu lantas menghujami Luhan dengan kutukan paling bodoh yang ia punya. Ia lebih memilih meraih gelas susunya dan meminumnya sampai tak tersisa. Ya, paling tidak kakaknya itu tidak bodoh dalam membuat segelas susu. Jadi ia tidak perlu muntah sebelum pergi ke sekolah. "Itulah mengapa aku tidak suka omeletmu." Sang adik kembali berkomentar, sebelum ia beranjak meninggalkan kakaknya yang tidak berguna.

Luhan berubah masam mendengarnya. Hampir melempar adiknya dengan piring, kalau saja ia tidak ingat bocah tengil berantakan itu adalah anak kesayangan ibunya. "Kenapa tidak kau saja yang memasak, huh?" Luhan masih saja berteriak pada adiknya yang jelas-jelas sudah menghilang. Ia lantas ikut meninggalkan meja tuanya lalu membuang semua hasil jerih payahnya ke tong sampah. Percuma saja baginya, lagi-lagi ia membuang makanan.

"Bocah macam apa yang berani berkomentar seperti itu? Memangnya dia bisa memasak? Dia pikir aku pembantunya?" Tangan Luhan dengan cekatan mencuci semua piring-piring kotor yang menumpuk. Termasuk piring dengan sisa makanan adiknya semalam. "Lagipula pria mana yang mengurusi dapur? Ini pekerjaan wanita, wanitalah yang harusnya pintar memasak." Dengan harga diri tinggi, Luhan meminta dihargai kerja kerasnya. Termasuk hasil masakannya yang seperti racun untuk lambung manusia. Andai Luhan memiliki adik seorang alien, mungkin dengan begitu ia bisa memberi adiknya sepiring masakan tidak bermutu lainnya dan tetap dipuji enak.

"Dan aku bukan wanita," sambung adiknya yang sudah turun dengan seragamnya. Wajahnya masih masam menagih sesuatu dengan salah satu tangannya. "Harusnya kau memberiku lebih kali ini, aku tidak sarapan."

Luhan berdecih. Mengeringkan tangannya yang basah, lalu merogoh saku demi mengambil sisa lembaran-lembaran yang dimilikinya. "Kau selalu meminta lebih, tidakkah kau begitu serakah?"

"Aku sudah bilang aku tidak sarapan," cemoh adiknya menghentakkan kakinya di lantai. Ia tidak menerima uang sedikit, dan Luhan akan selalu frustasi dibuatnya.

"Kau pikir mencari uang itu mudah? Berhematlah sedikit," omel Luhan melanjutkan cucian piringnya. Mengabaikan adiknya yang mungkin saja akan menangis meraung seperti tahun lalu─hanya karena tidak bisa membeli mainan baru. Luhan tidak perduli, sangat tidak perduli.

Adiknya mau tak mau mengantongi uang itu. Tidak bisa berbuat banyak meski ia berpikir akan membenturkan kepalanya sendiri dengan piring. "Kau jahat sekali padaku."

"Kalau aku jahat aku sudah menukarmu dengan sekarung beras, bocah. Kita kehabisan beras bulan ini. Berhentilah mengoceh," balas Luhan mengibaskan air dari tangannya. Mencoba berkonsentrasi agar piring-piringnya tidak pecah saat dipindahkan atau minimal mencegah dirinya menderita darah tinggi. Karena sungguh, ia sudah tidak tahan lagi dengan adiknya yang kian hari semakin membuatnya pusing.

"Akan ku laporkan kau pada ibu." Lalu adiknya pun pergi dengan suara pintu yang keras. Luhan pun hampir jantungan menatap pintunya yang malang. Nyaris terlepas. Dan ia tidak bisa mengganti pintunya dalam waktu dekat. Tidak bisa sampai gajinya keluar bulan ini.

e)(o

Hidup Luhan mungkin penuh drama seperti drama murahan pria yang mengalami insiden bangkrut. Tapi Luhan mengetahui bahwa ia bukanlah jenis pria yang bangkrut. Ia hanya korban roda ekonomi yang bergerak setiap waktu. Tidak terlihat dan tidak tahu kapan akan turun atau naik. Luhan hanya pernah duduk di atas, menjadi remaja yang menikmati banyak kesenangan, melakukan apa pun yang ia inginkan, sampai ia sendiri lupa bahwa semua itu bisa direnggut oleh takdir.

Dulu Luhan mungkin siswa yang pintar di kelasnya. Semua guru akan memujinya sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia bagus dalam pelajaran apapun. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan. Tapi hari ini, semua itu berbalik menghujamnya. Ia bukan lagi idola di sekolahnya. Ia hanya berjalan di tempat yang sama dan hanya bisa menyaksikan teman-temannya datang dengan cerita 'indahnya dunia pekerjaan'. Termasuk Baekhyun yang kini sudah duduk di meja café dengan senyum kotak miliknya. Bocah berisik itu nyatanya sudah berkembang menjadi pria berdasi. Menjadi orang kepercayaan pimpinannya yang sudah berganti dua kali. Oh, Luhan segera iri dengan perubahan teman-temannya.

Kadang sahabatnya itu datang dengan pria tinggi berkulit tan ke tempat kerjanya. Sama-sama berdasi. Dan siapapun bisa menebak, mereka adalah rekan kerja yang solid.

"Hai Luhan, ini Jongin. Jongin, ini Luhan." Perkenalan singkat dengan bumbu klasik akhirnya datang dengan sangat konyol. Baekhyun dengan sifat cerewetnya, masih berpidato panjang. Menceritakan lelucon sampai suasana mencair dan pecah sendiri. Luhan yang tertawa terbahak-bahak segera khawatir dengan pekerjaannya, tapi bersyukurlah karena bosnya mau mengerti dan tidak memecat orang sembarangan.

Bulan-bulan berikutnya masih sama di mata Luhan. Baekhyun masih mengganggunya. Masih suka mengunjungi rumahnya dan juga menolongnya kapan pun Luhan membutuhkannya. Ditambah dengan Jongin yang ikut menjadi sahabat barunya. Sampai pada suatu malam, Baekhyun datang dengan wajah muram di sisi pintu rumahnya. Pria itu datang dengan penampilan berantakan, bersama dengan Jongin─seperti biasa. Keduanya bahkan mengaku tengah kabur dari jam lembur yang memilukan. Luhan yang tak tega akhirnya hanya bisa memasukkan dua sahabatnya itu ke dalam rumahnya. Tak lupa mengambilkannya kopi dan mendengarkan banyak cerita.

"Tolong pertimbangkan," mohon Baekhyun dengan wajah putus asa. Ini adalah pertama kalinya Luhan mendengar Baekhyun memohon padanya. Menjadi sekertaris mungkin tidak menjamin bisa melakukan banyak hal. Tidak seperti di bayangan Luhan selama ini. Namun sahabatnya itu seperti tak punya pilihan. Hanya bisa tertekuk meski Luhan tidak terlihat berkuasa untuk menolong.

"Aku tidak bisa, Baek. Aku mungkin bisa membantu yang lain, tapi aku tidak bisa membohongi orang lain." Luhan hanya bisa menggali rasa bersalah. Mau bagaimanapun ia punya hal-hal yang seharusnya ia perimbangkan. Seperti mengurus adiknya atau menjenguk ibunya yang sakit setiap harinya. Terlebih ia tak bisa menambah jam kerjanya dan bekerja seharian tanpa mengurusi adik dan ibunya. "Ini sama sekali bukan tentang harga diri, aku hanya… tidak bisa membohongi banyak orang. Maafkan aku."

Dan keduanya hanya bisa mengerti dan pulang dengan mobil yang sepi. Baik Baekhyun maupun Jongin, hanya tidak bisa memaksa, tidak punya hak memohon untuk kehidupan seseorang.

e)(o

Seminggu dari pertemuan terakhir ia dengan Baekhyun dan Jongin malam itu, Luhan akhirnya menemukan segelintir alasan bahwa ia harusnya menerima tawaran mereka. Ibunya harus melakukan operasi di bagian hati, adiknya harus masuk SMA dan ia bukanlah satu-satunya yang memusingkan masalah kebutuhan keluarganya sendiri. Ibunya juga memikirkan itu, tapi Luhan bersih keras mengatakan bisa mengatasinya.

Tawaran Baekhyun dan Jongin hanyalah tawaran kecil baginya. Dan ia akan mendapatkan hadiah yang sangat besar dari tawaran itu. Tidakkah ia bodoh karena menolak kesempatan sebesar itu dengan sok polos mengatakan bahwa ia tidak bisa membohongi orang lain. Benar, alasan murahan. Katakan saja Luhan tidak ingin menyamar menjadi wanita di kehidupan orang lain. Apa salahnya berbohong? Semua manusia melakukannya. Toh mereka yang konglomerat tidak akan mengenal Luhan di kehidupan berikutnya.

Hal yang paling bodoh yang pernah Luhan lakukan adalah menjilat ludahnya sendiri. Ia berlari di tengah hujan. Meninggalkan adiknya yang memekik di lorong rumah sakit karena minta didengarkan. Tapi Luhan mengabaikan semuanya. Ia menaiki bus, mendatangi alamat yang Baekhyun tinggalkan malam itu. Lantas sahabatnya benar, ia akan sangat membutuhkan alamat itu saat berubah pikiran.

Lalu disinilah Luhan, masih berdiri menggigit kuku jarinya. Mendekati cermin besar lalu tercengang menyaksikan betapa menawannya dirinya. Di tubuhnya sudah melekat dress seputih gading, highheels coklat susu, wig panjang yang diurai melewati bahu, atau lipstick yang sudah lebih dulu menghias bibirnya. Kegugupan Luhan di depan cermin agung itu akhirnya menembus atensi Baekhyun yang sedari tadi meneliknya dari ujung ke ujung.

Baekhyun mengusir pelayan-pelayan yang sudah selesai membereskan semua peralatan. Menutup pintu rapat-rapat lalu memasangkan Luhan sebuah cincin yang ia yakini sudah memiliki pasangan di jemari orang lain. "Mulai sekarang kau adalah Oh Sena," gumam Baekhyun yang kemudian menyempatkan diri untuk menyeka bulu mata Luhan yang jatuh.

Luhan masih menatap cincin di jemarinya. Menyentuh tiap ukirannya yang berhiaskan inisial. "Kau yakin semua ini akan berhasil?" tanya Luhan penuh ragu. Ia mungkin bukan orang yang pintar menipu dan juga berbohong. Tapi sedikit tidak, jauh di dalam lubuk hatinya, ia yakin bahwa ia bisa berbohong dengan caraya sendiri.

"Aku akan membantumu," tutur Baekhyun menepuk punggung datar Luhan. Memberinya sedikit kekuatan sebelum Jongin benar-benar datang dengan kekalutan alamiahnya.

Baekhyun tak sempat bertanya pada Jongin mengapa ia bisa sampai begitu cepat dari biasanya. Tapi Luhan sudah lebih dulu diperintahkan Jongin untuk turun ke lantai satu demi sebuah penyambutan kecil. Baekhyun tahu, Jongin bukanlah orang yang tak suka berbelit-belit, tapi ia tahu banyak soal kondisi. Jadi Baekhyun akan berbicara dengan sikapnya. Dan saat itu juga, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk segera turun ke ruang tengah.

Luhan merapikan rambut barunya. Memperbaiki pakaiannya yang kusut, lalu berdiri di samping Baekhyun. Tak lama pintu tempat ia masuk beberapa jam yang lalu dibuka oleh dua orang pelayan rumah. Sosok pria dengan mantel hangat tiba-tiba saja masuk diikuti salah satu kepala pelayannya. Hanya dengan sekali lirikan, pria di belakang punggungnya itu dengan segera membantu melepas mantelnya.

Baekhyun mendekat pada sosok itu, meninggalkan Luhan yang masih tak bergerak di posisinya. Sebagai seseorang yang paling dipercaya, Baekhyun tentu harus menyambut bosnya dengan hangat. "Apa Berlin menyenangkan?" Pria itu mengangguk senang sambil menyerahkan sesuatu pada Baekhyun. Entahlah, apa isi kantung itu, yang jelas sahabatnya itu sudah kepalang senang mengambilnya. Namun saat mata pria itu menangkap kornea Luhan, senyum pria itu tiba-tiba berubah redup.

Luhan masih terpaku pada kedua pupil yang memberat menangkapnya. Hanya beberapa detik, mata lelah itu kemudian menyingkir dari sorotnya. Luhan pun merasakan tubuhnya mulai mendingin kala pria itu mulai bergerak mendekat. Bibirnya pun baru saja kaku untuk sekedar mengucap sesuatu.

"Kim Luhan, dia setuju untuk bekerja sama dengan kita," tambah Baekhyun penuh harap rencananya akan berjalan sesuai dengan rencana. Dia masih sibuk mengintip hadiahnya di sofa. Tersenyum begitu lebar.

"Senang bertemu denganmu, aku Oh Sehun," sapa pria itu ramah sekaligus tegas di suatu sisi. Tangannya mengayun, hendak berharap disambut. Namun tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan Luhan membalas jabatan tangannya. Pria bernama Oh Sehun itu lalu tersenyum kala mendapatkan jemari Luhan yang terasa kecil di tangannya.

Luhan hanya bisa menangkap kedua bongkah hitam yang menyelaminya bagai sorot ingin tahu itu. Dibalik sunyinya jabatan tangan mereka, sebuah alunan dari ketukan jantung Luhan baru saja mendapatkan segenggam kalut. Entah ia sangat gugup atau sangat ingin berbohong bahwa pria ini benar-benar di luar dugaannya. Ia pun tak mengerti mengapa pria dengan kemeja putih ini bisa menyita banyak atensinya. Menjadikannya pusat orbit kemana pikirannya berotasi tapi tidak benar-benar bisa berfungsi. Entah, Luhan tak tahu benar tentang menilai sebuah kepribadian.

"Ada sesuatu yang harus kukatakan," potong Jongin yang kemudian menginterupsi pria itu untuk melepaskan Luhan. Luhan pun kemudian berubah lega ketika pria pucat itu menggangguk dan lekas menghilang menaiki puluhan anak tangga.

e)(o

Ada suatu waktu ketika Luhan akan bergegas keluar dari kamarnya. Memenuhi panggilan Baekhyun untuk mengajarinya bahasa china, mengurus dapur, halaman, perpustakaan atau mungkin panggilan yang Jongin harus buat karena Sehun terus memanggilnya. Luhan sudah terbiasa dengan semua panggilan konyol dan kondisi ganjil di rumah itu. Hanya saja Luhan akan selalu mengingat beberapa point kontrak yang sudah ditanda tanganinya─tidak akan ikut campur dalam kondisi apapun. Tentu saja. Ia tidak ingin membayar 16 juta dolar karena melanggar kontraknya.

Terakhir kali, Luhan dipanggil karena suatu alasan konyol Sehun, yang minta ditemani mengunjungi beberapa tempat penting dalam jadwalnya. Ia mau tak mau harus mengenakan pakaian mahal, perhiasan dan aksesoris lainnya. Dan yang perlu digaris bawahi adalah semuanya milik wanita. Tentu Luhan selalu mengeluh akan hal itu. Tapi Baekhyun tentu tak akan pernah mendengarnya.

Kini Sehun membuatnya duduk di meja panjang dengan halaman belakang seluas lapangan golf. Dengan hidangan ditata sepanjang meja membentang, pohon-pohon hijau berjejer di ujung dan hamparan bukit dengan danau kecil di tengah mereka. Luhan lupa menyembunyikan etika ketika duduk di salah satu kursinya atau saat seorang pelayan mendekatinya, menaruh sepiring penuh potongan sashimie yang disusun dengan begitu indah. Tentu sudah lama lidah Luhan tidak memakan makanan mahal seperti ini.

Sehun berdehem menatapnya, mencoba memanggilnya agar segera sadar dengan apa yang dilakukannya. Pria itu menjadi sangat baik hati ketika ingin menyadarkannya tentang 'tercengang' adalah hal yang tidak elit di dalam kamus Oh Sena. Luhan hanya bisa mengulum bibirnya dalam tundukan. Mulai meraih gelasnya untuk menelan rasa malunya.

"Bagaimana kabarmu?" sapa pria paruh baya di depan Luhan. Masih dengan sorot lembut dan penuh kesan kebapakan.

"Ne?" refleks Luhan membulatkan kedua matanya. Memasang wajah lugu yang sayangnya terlihat bodoh. Yang kemudian dihadiahi tatapan sinis dari Sehun─yang sampai saat ini tak kunjung berbicara.

Tawa kecil pria paruh baya itu kemudian dihembuskan angin. Ia pun mulai menatap Luhan jenaka, sambil meraih sumpitnya. "Sena sejak kecil tak pernah berubah."

Luhan ingat betul dengan bagiannya dalam sekenario. Ia harus terlihat lebih lucu dan juga tertawa bodoh lebih banyak dibandingkan dengan ayah palsunya. Maka ia tertawa kecil dengan riang dan gembira. Tapi di suatu sisi, tawa Luhan terhenti ketika menyadari Sehun masih menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.

"Apa yang ingin ayah katakan?" tanya Sehun memotong interaksi Luhan dengan ayahnya. Pria itu nampaknya tidak akan perduli dengan perutnya yang meraung lapar. Ia sama sekali acuh dengan makanan mahal di depannya. Berbeda dengan Luhan yang sudah setengah mati menahan tangannya untuk menjuput beberapa hidangan di sekitar.

Tawa tuan Oh yang renyah kini redup ditelan matahari. Ia sepenuhnya telah hilang dari pembawaan basa-basi. "Biarkan Kris Wu menikahinya," kata Tuan Oh segera meletakkan sumpitnya. Membatalkan keinginannya untuk menyantap hidangan yang sudah susah payah disiapkan demi menyesuaikan seleranya. Namun Luhan pun segera tahu, bahwa jamuan makan siang ini bukanlah salah satu tujuannya. Dan Sehun tentu sudah sangat mengenal tabiat ayahnya sendiri.

Luhan segera menegakkan kepalanya. Melihat dua tokoh keluarga dalam sekenarionya itu bergantian untuk menemukan titik masalah. Karena demi Tuhan, Luhan hanya orang asing yang berpura-pura menjadi pemeran utama, tapi tak pernah tahu posisinya untuk apa. Dan ia bersumpah, di dalam kontraknya ia tidak pernah menemukan point menikah atau semacamnya.

Raut Sehun berubah mengeras, "Ayah─"

"Sena sudah dewasa, ia akan mengerti," sambung Tuan Oh berusaha setenang mungkin menghadapi putranya. Pria separuh baya itu hanya memotong banyak makanan di piringnya, menghilangkan gaduh dengan sekali kedip. Lantas masih tak mau menatap putranya sendiri.

"Aku sudah bilang, aku punya cara," tekan Sehun menggenggam salah satu tangannya di atas meja. Tampak tak ingin kalah, tapi nyatanya memang sudah dikalahkan oleh kuasa ayahnya. Luhan mungkin dapat melihat kekuatan Sehun yang kokoh saat memimpin di ruang lingkupnya, namun Sehun nyatanya bisa berubah menjadi abu jika bertemu dengan ayahnya sendiri.

Tuan Oh menghela nafasnya, "Dia akan meletakkan ujung pistolnya di kepalamu jika kau tidak menepati janji."

Sehun beranjak dari kursinya. Tangannya yang bebas segera menarik Luhan yang masih terkejut. Tak perduli pada Luhan yang hanya bisa memandangi Tuan Oh dengan tanda tanya besar. Kepala Luhan lalu menunduk untuk meyakinkan pria separuh baya itu, bahwa ia amat sangat menyesal pergi dengan cara yang tidak sopan setelah dijamu sedemikian rupa. Tapi Sehun semakin menyeretnya. Tak membiarkan Luhan berbalik atau menghentikan langkahnya.

"Kaulah yang memulai semua ini, Sehunie. Ayah tidak ingin kau celaka," tutur Tuan Oh yang enggan beranjak menghentikan kepergian putranya. Luhan masih menatap sorot kasih sayang seorang ayah itu. Masih menatapnya sendu meski kakinya sudah melenggang panjang-panjang.

"Aku sudah celaka. Aku celaka karena menjadi putra ayah," gumam Sehun yang nampaknya tak perduli dengan Luhan yang sudah jelas mendengar semua pembicaraannya. Membuatnya mengerti hal yang terjadi atau mungkin membiarkan Luhan menilai baik-buruk kehidupannya tanpa ia harus bercerita.

Sesampainya di mobil, Luhan dilempar ke kursi penumpang. Ia sangat ingin mengatakan sesuatu karena keberatan dan bingung, tapi dengan melihat raut Sehun saat ini malah membuat dirinya bergidik takut. Ia pun hanya bisa menatap lengan-lengan Sehun yang mengendalikan kemudi dengan kasar. Luhan tak punya nyali untuk menatap kembali raut pria itu, sampai Sehun menginjak pedal gas dengan tidak berperasaan.

Luhan hanya memejamkan kedua matanya. Menggenggam erat ikatan sabuk pengamannya. Ia pun menahan dirinya untuk tidak berteriak. Sedangkan Sehun masih diam menggertakkan gigi. Meniti jalan lekat-lekat, sampai harus menerobos lampu lalu lintas. Nyaris sebuah truck besar menabrak mobil yang mereka tumpangi. Tapi tetap, Sehun masih tak gentar membanting setirnya.

Luhan makin kuat memejamkan matanya. Hatinya meneriakkan doa dengan gusar saat membayangkan mobil itu terguling menabrak truck besar. Hampir ia menangis, jika saja mobil itu tidak memutuskan untuk berhenti di tepi sungai dan Sehun masih waras untuk tidak menginjak gas hingga mobil itu tenggelam ke dalam air. Luhan mengambil nafasnya dengan benar. Meraba setiap bagian tubuhnya. Sekali lagi memastikan bahwa ia tidak terluka dan masih memiliki nyawa untuk bertemu ibu dan adiknya.

"Berapa yang harus kubayar?"

Luhan tiba-tiba menoleh pada pria di sampingnya. Ia menyernyit bingung karena ditanyai hal semacam 'harga', bukannya pertanyaan tentang 'apakah kau baik-baik saja?' atau mungkin 'aku sangat menyesal'. Tapi nyatanya Sehun tidak punya hati nurani untuk sekedar memikirkan keselamatan orang lain.

"Kau gila?" tukas Luhan membenarkan tatanan rambut palsunya. Sangat menggelikan karena ia harus memikirkan penampilannya sebagai seorang wanita di hadapan pria gila sejenis Oh Sehun. Kalau saja ia tahu akan bekerja pada orang seperti Sehun, sampai mati pun ia tak akan pernah mau menerima tawaran ini, sekalipun Baekhyun dan Jongin harus bersujud dengan jaminan nyawanya seperti dua minggu yang lalu. "Kita hampir mati."

Sorot mata Sehun penuh kekosongan. Luhan dapat melirik getaran tangan pria itu menggenggam setirnya. "Berapa yang harus kubayar jika menempatkanmu dalam posisi tadi?"

Luhan terdiam dengan rahang yang membeku. Pupilnya bergerak, tak habis pikir dengan kalimat yang didengar telinganya sendiri.

"Berapa yang harus kubayar?!" ulangnya setengah berteriak.

Luhan telah kehabisan kata-kata. Ia mencoba memejamkan matanya, menahan gumpalan emosi yang nyatanya lebih dulu mencapai puncak kepalanya. "Kau sebaiknya tidak menghargai nyawa orang lain dengan uang."

"Aku sedang bertanya padamu," tegas Sehun menarik kerah pakaian Luhan kasar. Membuat Luhan terseret mendekatinya dengan mata yang hampir keluar.

Luhan berusaha menyingkirkan tangan besar itu darinya. Mencegah pakaiannya rusak, karena itu akan sangat tidak nyaman untuknya. Namun mau sekeras apapun ia bergerak, Sehun masih menyimpan banya kekuatan besar agar dapat menguncinya. "Kau, sialan!" umpat Luhan. Bukan karena ia menyerah, lebih tepatnya ia berubah kesal.

"Kau pikir dengan siapa kau berbicara?" Sehun semakin menarik Luhan ke hadapannya. Mengunci pemuda itu untuk menatap lekat kilatan tajam matanya. "Aku yang membayarmu, aku yang membiarkanmu tinggal di rumahku dan makan dengan uang milikku. Kau seharusnya berhati-hati dengan ucapanmu."

Emosi Luhan sudah meledak. Harga dirinya terasa sudah diinjak-injak. Benar, jika ia dibayar untuk hidup sebagai Sena. Tapi dengan memakai gaun, wig dan menjadi wanita adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Andai Sehun mengerti sesulit apa menjadi orang lain, mungkin ia tak akan mempermasalahkan kehormatan diri seseorang.

Luhan akhirnya merasa kehilangan akal sehat, ketika salah satu tangannya meninju wajah tampan itu. "Kau hanyalah sampah bagiku," kutuk Luhan geram membiarkan kepala Sehun terhantam kaca mobil.

Sehun terlalu sibuk mengatur emosinya, menyentuh darah yang mulai mengalir di sudut bibirnya hingga tersadar bahwa pintu mobilnya kini terbuka. Luhan telah memutuskan untuk keluar dari sana. Membanting pintu dengan keras tanpa rasa penyesalan sama sekali.

e)(o

Langit mulai menggelap ketika Sehun semakin tenggelam dalam meja kerjanya. Pria itu memeriksa beberapa dokumen sambil menikmati kopi yang mulai mendingin di atas meja. Jongin pun masih berkutat dengan laptop andalannya di sofa. Memikirkan diagram dan beberapa angka yang tertera pada layar yang tidak bergerak meski ia memutar otaknya hingga terbelah.

Mengembalikan profit perusahaan yang jatuh bukanlah masalah baru bagi Oh Sehun. Kepalanya yang sederhana tentu punya solusi yang bagus meski membutuhkan waktu seharian dengan memainkan trik. Karyawannya beserta Jongin sama peningnya dengan kepalanya di kursi kerja. Lembur nampaknya akan menjadi salah satu pilihan terbaik untuk saat ini.

Mengabaikan banyak pegawai yang lalu lalang di depan pintu kacanya, kini tibalah saat pintunya dibuka dengan kasar. Baekhyun, sekertarisnya, lebih dahulu masuk dengan wajah penuh frustasi. Pria itu lantas menyugar rambut brunettenya yang kusut lalu mengambil kursi di hadapan Jongin.

"Apa yang terjadi padamu dan Luhan?" tanyanya tanpa babibu membuka sesi interogasi. Tak lupa mengatakan persetan pada semua keadaan yang nampaknya memang tidak tepat. Ia tentu sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya, dan ia mulai gila karena berani membicarakannya di tengah kekalutan─urusan pekerjaan. "Kim Minseok terus menelpon dan mengatakan Luhan menolak untuk makan."

Sehun meletakkan dokumennya. Terlihat tidak ingin diganggu atau semacamnya. "Haruskah kita membahas hal ini?"

Jongin ingin angkat bicara, tapi Baekhyun lebih dulu menginterupsi. Pria mungil itu kini menghempaskan lembaran undangan lucu di atas meja. "Dua hari lagi kalian harus menghadiri pesta dansa dan dia sama sekali tidak tahu cara berdansa. Kau akan membuatnya mati di kamar itu?"

Sehun kembali meraih kopinya. Benar-benar ingin menelan kopi itu beserta dengan gelasnya, kalau bisa. "Katakan padanya untuk berhenti bersikap kekanak-kanakan."

Baekhyun hampir menjatuhkan rahangnya. Pria itu terlihat semakin menggemaskan dengan wajah kesalnya sekarang. "Kaulah yang kekanak-kanakan disini. Kau seharusnya memperlakukannya dengan baik."

Sehun kemudian urung menelan kopinya. Ia tersenyum miring menatap Baekhyun yang masih melotot padanya, menggenggam kedua tangannya yang geram hingga kukunya memutih. "Atas dasar apa aku harus melakukannya?" tandas Sehun dengan sangat percaya diri. Ia tentu sangat paham posisi dirinya. Ialah pencipta sekenarionya, maka mengapa ia harus mengambil hati Luhan? Sedangkan Luhan sama saja dengan banyak pekerja kontrak di perusahaannya. Tidak akan lebih, walaupun dia sangat mirip dengan Oh Sena sekalipun.

"Kau membutuhkannya," tegas Baekhyun penuh penekanan. Ia sepenuhnya mencoba untuk menyadarkan Sehun akan posisinya. Masa bodoh kalau ia dipecat hari ini juga. "tanpa dia kau tidak akan bisa duduk disini."

Sehun menurunkan gelas kopinya, tak ingin melemparkan gelas itu ke lantai meski ia sangat kesal. Setelah mengusap wajahnya kasar, pria pucat itu kini mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen untuk mendinginkan api di dalam dirinya. "Kita saling membutuhkan. Seharusnya dia juga memikirkan kontak kerjanya."

Baekhyun beranjak dari kursinya. Ia terlihat tengah memijit keningnya sebentar, mencoba meredam emosinya. Karena baik ia dan Sehun, sama-sama sudah sangat lelah dengan urusan pekerjaan. Maka keduanya berpikir untuk tidak merusak hubungan kerja hanya karena menurutkan emosi. "Berpikirlah sedikit, Oh Sehun, kau membutuhkannya. Rencanamu tidak akan bisa berjalan jika kau terus seperti ini." Baekhyun masih menggenggam ganggang pintu ketika menoleh pada bosnya. Tuturnya memelan ketika menyaksikan Jongin mengangguk padanya, mencoba meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia pergi. "Aku hanya ingin membantumu. Hanya itu. Aku juga hampir selesai, dan aku harap kau izinkan aku pulang cepat hari ini."

Punggung Baekhyun kemudian benar-benar hilang di balik pintu. Dan itu sukses membuat Sehun terdiam di kursinya.

e)(o

Sehun menyandarkan punggungnya pada kursi. Memutar kursi kerjanya hingga ia benar-benar menghadap dinding kaca. Ia tanpa henti menatap lampu-lampu yang menyala di tiap ruas jalan dan gedung. Seakan mencoba menghitungnya demi sebuah proses penyegaran sederhana pada belahan otaknya. Pria dengan kemeja kusut itu lalu ingin menghilang saja dari ruangannya. Sama seperti Jongin yang sudah begitu cepat melesat dengan mobilnya di jalan. Terburu-buru dengan sebuah alasan janji yang tidak bisa diingkari.

Sehun belum memutuskan untuk pulang. Ia masih setia di kursinya sampai pikirannya lega akan reputasi perusahaannya yang sama sekali belum teratasi. Masih mencoba membolak-balikkan kepalanya, tapi entah mengapa sejenak kepalanya sibuk memikirkan kata-kata Jongin─yang terakhir kali. "Luhan bekerja keras untukmu. Dia belajar bahasa China hingga larut malam, belajar etika dan juga belajar memasak di dapurmu."

"Untuk apa dia melakukan itu?" Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Tapi bukankah jawaban Jongin sudah cukup jelas baginya untuk mengerti, mengapa Luhan bisa menandatangani kontraknya?

"Ibunya sakit, rumahnya terlalu tua dan dia punya adik yang harus sekolah. Kau pikir untuk apa dia menerima tawaran menyamar seperti ini, sedangkan imbalan yang kau tawarkan bisa memenuhi semua kebutuhannya?"

Sehun kemudian segera menyambar jasnya. Meraih kunci mobilnya di saku, kemudian turun lewat lift pribadinya. Ponselnya baru saja ia aktifkan. Alisnya sempat mengeriting ketika menemukan banyak panggilan dari Baekhyun. Baginya, sekertarisnya itu tentu bukan orang yang suka meneror, tapi dengan melihat 25 panggilan di ponselnya, ia kemudian harus paham, betapa berartinya Luhan bagi Baekhyun.

"Berpikirlah sedikit, kau membutuhkannya. Rencanamu tidak akan bisa berjalan jika kau terus seperti ini."

Dan Baekhyun sepenuhnya benar, semua ini tentu harus diselesaikannya. Karena semua akan bergantung padanya, apakah membuat sekenarionya berjalan di jalannya, atau ia kehilangan Oh Sena selama-lamanya.

Menimbang banyak hal, Sehun tanpa sadar sudah sampai di pelantara mansionnya. Ia pun disambut oleh salah satu pelayan rumahnya yang membungkuk setelah ia keluar dari mobil. Sehun tak ingin repot-repot berbicara dan segera menyerahkan jasnya untuk dibawa ke ruang cuci. Lalu menyuruh pelayannya itu pergi sebagaimana ia tak suka dilayani secara berlebihan.

Terkadang Sehun menimbang banyak hal tentang pelayan rumahnya yang begitu ramai. Ia mungkin orang yang tak suka keramaian, tapi Sehun benar-benar tak punya kuasa untuk mengurangi pelayan rumahnya. Ayahnyalah yang akan memegang kuasa atas dirinya. Karena suka atau tidak, semua hal yang ia lakukan merupakan bahan laporan untuk ayahnya.

Sehun langsung mengabaikan panggilan pelayannya yang sudah menyiapkan makan malam. Langkahnya ia bawa menuju lorong sayap kiri rumahnya. Menemukan banyak pelayan yang membungkuk atau Baekhyun yang tak sengaja berpapasan dengannya. Tapi kali ini dengan tidak hormat ia dihadiahi tatapan sinis oleh pria mungil itu.

"Dia menyukai susu coklat," tutur Baekhyun yang kemudian memberinya segelas susu di atas nampan, lalu pergi melewatinya begitu saja. Secepat itukah ia diabaikan?

Sehun hanya menghela nafasnya. Langkahnya ia bawa pada potongan-potongan anak tangga yang sepi. Sesampainya, ia berdiri di depan sebuah pintu kamar yang tak jauh dari tangga besar, tangannya yang cukup tertekan membawa nampan kemudian mencoba mengetuk pintu. Mencoba memanggil nama Luhan seperti yang dilakukan penghuni rumahnya seharian ini.

Tapi mungkin Sehun dapat merasakan hatinya dicubit ketika panggilannya tidak diindahkan sama sekali. Sehun berubah kesal, tapi tentu tidak ada sesuatu yang bisa selesai dengan melepaskan kekesalan. Terlebih Baekhyun mungkin saja memilih untuk berhenti membantunya jika ia benar-benar menyeret Luhan dengan kasar setelah ini.

Sehun kembali mengetuk pintu itu. Memanggil nama Luhan berkali-kali sampai tangannya kebas. Tapi sekali lagi ia diabaikan dengan malang. Jangankan dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk, mendapatkan jawaban dari panggilannya saja tidak. Sehun yang kesal akhirnya memutuskan untuk meletakkan nampan itu di lantai. Menahan setengah mati kakinya untuk tidak menggulingkan gelas itu di tangga, lantas membuat panggilan cepat dengan ponselnya.

"Kau yakin Luhan masih hidup atau tidak kabur dari rumah ini? Demi Tuhan, dia mungkin saja bunuh diri dengan melompat dari jendela," tegas Sehun kesal, hampir melubangi telinga Baekhyun di seberang sana.

"Jangan bicara sembarangan! Luhan tidak akan melakukan itu," balas Baekhyun terdengar jauh lebih kesal. Ia mungkin saja sudah mencekik Sehun dengan kedua tangannya jika ia bukan adik Chanyeol. "Dia sangat-sangat waras, berbeda denganmu."

"Kau yakin sudah memeriksa ruang keamanan kalau dia tidak terekam sedang melompat dari jendela?"

Baekhyun berdecih kesal. "Melompat dari lantai dua tidak akan membuatnya mati. Dan tolong bicara yang sopan padaku. Kita berada di luar kantor."

"Itu tak akan terjadi sampai kau menikah dengan hyungku," semprot Sehun menggenggam kepalanya. Ia pun heran mengapa Baekhyun tak pernah mau berbicara dengan baik padanya. Padahal ia membutuhkan sekertaris yang ramah disetiap proyeknya. Bukannya tuan pengomel seperti Baekhyun yang tak mau kalah jika berdebat. Entah, bagaimana kakaknya dulu menghadapi orang seperti Baekhyun hingga bisa jatuh cinta padanya sebegitu mudah.

"Dasar sialan," umpat Baekhyun kemudian memutuskan sambungannya. Membuat Sehun semakin ingin menendang pintu di depannya ini hingga rusak.

Tak punya pilihan, Sehun kembali mengetuk pintu kamar Luhan. Berteriak lebih keras hingga ia sendiri bosan mendengar suaranya diabaikan. Ia kemudian benar-benar menendang pintunya dan membuat keributan─mengabaikan saran Baekhyun untuk tidak mengambil jalan yang salah.

"Luhan, keluar! Aku bisa merusak pintu ini jika aku mau," teriak Sehun sambil menggedor pnitu. Persetan dengan tata karma atau ilmu kesopanan. Dia pemilik dari rumah ini, sedangkan Luhan adalah penumpang, jadi ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Ia juga lelah hari ini, dan ia butuh mandi atau makan. Karena demi Tuhan, ia belum makan sejak siang tadi. "Luhan!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Mungkin ada typo dan beberapa yang berantakan.

Adakah yang mau review lagi di part 1? Aku butuh review kalian untuk kelanjutan ff ini. Semoga part 1 ini tidak mengecewakan dan membunuh ekspektasi kalian pada prologku sebelumnya.

Terima kasih kepada readers yang sudah memfavoritkan, memfollow dan mereview ff ini.

Sampai Jumpa di part selanjutnya.